Membangun Ketahanan Organisasi: Kesejahteraan Karyawan di Industri Kesehatan
Studi menyoroti risiko kehilangan pekerja dan pendapatan sebesar $300 miliar per tahun dalam pergantian akibat tingkat stres tinggi di tempat kerja, terutama dalam industri kesehatan yang rentan terhadap kelelahan. Ditambah isu kesehatan mental yang semakin memburuk akibat pandemi.
Ketahanan, sebagai kemampuan untuk bertahan melalui stres, tidak hanya berkaitan dengan individu atau tim, melainkan juga melibatkan pendekatan holistik untuk membangun lingkungan yang mendukung pertumbuhan di tengah perubahan.
Fokus pada pentingnya ketahanan organisasi mencakup dampak positifnya pada keterlibatan, kinerja, dan retensi karyawan. Studi Gallup menyoroti bahwa tingkat stres tinggi dapat mempengaruhi keterlibatan karyawan. Sebaliknya, tingkat ketahanan yang tinggi meningkatkan dedikasi karyawan terhadap misi dan tujuan organisasi, mempertahankan bakat terbaik, dan meningkatkan pengalaman pasien.
Tenaga kerja yang tangguh juga memiliki peran signifikan dalam perawatan pasien. Mereka terlibat lebih baik dengan pasien dan keluarga, menciptakan pengalaman berpusat pada konsumen yang positif, dan menghasilkan hasil perawatan yang lebih baik.
Stres di tempat kerja dapat menyebabkan penurunan produktivitas, kecelakaan kerja, absensi tinggi, dan penurunan pendapatan. Namun, jika tenaga kerja mengelola stres dengan baik, dapat meminimalkan dampak negatif pada kinerja, dan meningkatkan loyalitas pasien.
Pemimpin dapat menerapkan strategi untuk membangun ketahanan organisasi:
- Bangun Lingkungan yang Tepat: Pemimpin perlu menciptakan lingkungan kerja yang aman secara psikologis, di mana karyawan merasa nyaman untuk berbagi ide tanpa takut akan konsekuensi. Keamanan psikologis memicu kreativitas dan inovasi di antara tim.
- Ajukan Pertanyaan yang Tepat: Pemimpin dapat mendorong ketahanan dengan berkomunikasi secara teratur, menanyakan pertanyaan yang relevan untuk mengidentifikasi kebutuhan karyawan dan mengambil tindakan berdasarkan masukan tersebut.
- Komunikasikan Tujuan Perubahan: Dukungan terhadap perubahan meningkat ketika karyawan memahami alasan di baliknya. Komunikasi yang terbuka tentang tujuan perubahan mempercepat adaptasi dan adopsi perilaku baru.
- Dukung Karyawan dalam Membangun Ketahanan Pribadi dan Profesional: Dorong karyawan untuk mengelola waktu istirahat, cuti pribadi, dan manfaatkan program bantuan karyawan. Pemimpin juga harus memastikan bahwa tugas administratif tidak membebani tenaga kesehatan, memungkinkan mereka untuk fokus pada peran utama mereka.
- Pahami Tenaga Kerja: Pemimpin perlu mengenal tenaga kerja mereka dengan baik, memahami motivasi, dan faktor-faktor yang memengaruhi keputusan karier. Pendekatan tersegmentasi membantu personalisasi dukungan untuk meningkatkan ketahanan.
Dalam menghadapi ketidakpastian dan perubahan yang konstan, pemimpin di industri kesehatan perlu mengambil pendekatan holistik untuk membangun ketahanan organisasi dan individu, memastikan kesinambungan, kinerja optimal, dan kesejahteraan karyawan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh HURON dengan judul Building Organizational Resilience. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Manajemen Risiko Likuiditas Dana: Meneropong Era Perubahan Regulasi Global
Setelah periode volatilitas pasar pada musim semi 2020 dan stres pasar pada 2022, regulator mulai memperhatikan manajemen risiko likuiditas dana. Regulator berharap para pengelola dana telah melakukan evaluasi mendalam terhadap kerangka dan kontrol manajemen likuiditas, serta menerapkan perbaikan yang diperlukan.
Regulator kini berfokus pada Dana Pasar Uang (Money Market Funds/MMFs) dan Dana Terbuka (Open-Ended Funds/OEFs), mengantisipasi perkembangan lebih lanjut setelah pekerjaan yang signifikan telah dilakukan, terutama pada Dana Terbuka. Para pengelola dana dihimbau untuk tetap memantau perkembangan regulasi untuk memahami arah kebijakan yang akan diambil.
Sejumlah pertanyaan strategis muncul untuk perusahaan, termasuk pemahaman terhadap temuan regulator, evaluasi langkah-langkah kebijakan yang dipertimbangkan, dan potensi dampaknya pada portofolio dana. Dalam menghadapi ekspektasi regulator yang terus berkembang, transparansi dan ketaatan terhadap pedoman menjadi kunci.
Rekomendasi dari Financial Stability Board (FSB) dan International Organization of Securities Commissions (IOSCO) menjadi pusat perhatian dalam mengatur manajemen risiko likuiditas dalam Dana Terbuka. Meskipun temuan positif dalam implementasi regulasi di yurisdiksi besar, masih terdapat kekurangan terkait perhitungan risiko likuiditas, ketersediaan data, dan asumsi likuiditas aset. Oleh karena itu, langkah-langkah tambahan diharapkan dari yurisdiksi dan pengelola dana untuk meningkatkan implementasi rekomendasi.
Pemeriksaan FSB terhadap rekomendasi mereka sendiri, yang mencakup pengurangan ketidakcocokan likuiditas struktural, peningkatan adopsi alat manajemen likuiditas, dan peningkatan keterbukaan kepada investor, menunjukkan bahwa pandangan pembuat kebijakan global belum sepenuhnya sejalan. Perbedaan ini menciptakan landasan untuk diskusi lebih lanjut mengenai arah kebijakan global.
Di tingkat regional dan nasional, regulator terus melanjutkan inisiatif mereka sendiri:
– Di Uni Eropa, tinjauan masih berlanjut dengan potensi pengenalan pelaporan regulasi yang diharmonisasi.
– Di Inggris, manajemen likuiditas dana tetap menjadi prioritas pengawasan, dengan uji stres yang direncanakan oleh Bank of England.
– Regulator Prancis menekankan peningkatan ketersediaan alat manajemen likuiditas di dana Prancis melalui panduan, persyaratan pengungkapan, dan pendekatan terkoordinasi terhadap berbagai alat.
Di tingkat internasional, langkah-langkah selanjutnya untuk manajemen risiko likuiditas dana sudah tergambar jelas. Meskipun implementasi regulasi telah menghasilkan temuan positif, perbaikan terus dilakukan untuk mengatasi kekurangan dan memastikan konsistensi global.
Manajer dana disarankan untuk secara cermat meninjau temuan dari IOSCO dan FSB, mempertimbangkan proposal kebijakan FSB, dan mengadopsi pendekatan yang konsisten terhadap perubahan regulasi. Dengan potensi penekanan pada isu manfaat di sektor non-bank, manajer dana perlu mempersiapkan diri untuk tantangan mendatang dalam lingkungan yang terus berkembang.
Artikel ini telah diterbitkan oleh KPMG, dengan judul Fund Liquidity Risk Management. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Tantangan Fungsi Kepatuhan dalam Lanskap Risiko Global
Dalam sebuah laporan, Boston Consulting Group (BCG) mengungkapkan hasil riset terkini mengenai fungsi kepatuhan (compliance) dan peran pentingnya dalam menghadapi tantangan risiko global. Berikut adalah sorotan utama dari laporan tersebut:
- Kompleksitas Lingkungan Regulasi Global
Dalam beberapa tahun terakhir, lingkungan regulasi global mengalami peningkatan intensitas, terutama dalam konteks ketatnya sanksi dan tindakan penegakan hukum. Hal ini terjadi di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi yang terus berkembang.
- Transformasi Signifikan dalam Fungsi Kepatuhan
BCG menyoroti bahwa organisasi kepatuhan perlu mengalami transformasi yang signifikan untuk dapat mengelola dan menanggapi berbagai risiko kepatuhan yang terus berkembang dan bervariasi.
- Tema Utama dalam Kepatuhan
Keamanan Siber (Cybersecurity): Diidentifikasi sebagai topik kunci paling relevan, dengan 62% responden mengakui pentingnya keamanan siber dalam konteks kepatuhan.
Etika Bisnis (Business Ethics): Mengikuti keamanan siber, dengan 52% responden menempatkannya sebagai salah satu topik utama.
Digitalisasi dan Analitika Data: Meskipun dianggap sebagai topik kunci, 52% responden mengakui bahwa organisasi mereka belum sepenuhnya maju dalam perjalanan digital.
- Tantangan dan Fokus Masa Depan
Geopolitik Meningkat dalam Agenda: Dengan kompleksitas lanskap sanksi yang semakin meningkat, sanksi dan kepatuhan perdagangan menjadi salah satu topik kunci, naik 15 peringkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Digitalisasi Menghadapi Hambatan: Meskipun dianggap sebagai topik kunci, 52% responden menyatakan bahwa organisasi mereka belum terlalu maju dalam perjalanan digital mereka.
Peran Regulator dalam ESG: Sebanyak 58% responden menyatakan bahwa regulator memiliki dampak terbesar pada upaya ESG mereka.
- Strategi Kepatuhan yang Komprehensif
Strategi kepatuhan yang komprehensif termasuk mendefinisikan mandat kepatuhan untuk berbagai jenis risiko dan memastikan peran kepatuhan sesuai dengan tuntutan.
- Menarik Bakat yang Tepat
Dengan 68% responden menyatakan “menarik bakat” sebagai tantangan utama. Perusahaan perlu memiliki strategi sumber daya manusia yang bijaksana dan sesuai dengan perubahan kebutuhan tenaga kerja.
Perusahaan yang berhasil mengadaptasi dan mengintegrasikan strategi kepatuhan yang holistik akan mendapatkan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Dengan membangun kepatuhan yang efektif, perusahaan dapat meningkatkan daya tarik bakat, meningkatkan reputasi, dan bertindak dengan tanggung jawab di tengah tantangan bisnis yang dinamis.
Artikel ini telah diterbitkan oleh BCG dengan judul Compliance Functions Face Pressure to Transform in Escalating Global Risk Landscape pada 29 November 2022. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Risiko versus Ketidakpastian: Pelajaran dari Keruntuhan Dealer Kripto FTX
Dalam lanskap keuangan yang selalu berubah, keruntuhan dari dealer kripto raksasa internasional FTX memperlihatkan perbedaan antara risiko dan ketidakpastian. Prosedur kebangkrutan mengungkapkan potensi aktivitas kriminal, kelalaian regulasi, dan optimisme yang tidak tepat dalam kemampuan industri kripto untuk mengatur dirinya sendiri.
Susunan dan regulasi FTX pun menjadi perhatian. Kasus ini menyoroti perlunya memeriksa regulasi yang ada untuk bank dan kemungkinan penerapannya pada entitas kripto.
Kebangkrutan FTX menimbulkan pertanyaan tentang kecukupan regulasi yang ada. Berbeda dengan institusi keuangan tradisional yang diatur oleh peraturan seperti Securities Act of 1934 atau regulasi lainnya, entitas kripto seperti FTX beroperasi dalam lingkungan yang kurang diatur. Regulasi yang kurang ketat telah memungkinkan praktik seperti pemberian pinjaman dana pelanggan kepada afiliasi perdagangan mereka sendiri tanpa jaminan, seperti yang terlihat dalam kasus FTX.
Risiko investor yang muncul akibat keruntuhan FTX mencakup risiko pasar dan risiko operasional, yang sulit dinilai. Perspektif teoritis dan kerangka penelitian sedang dijelajahi untuk memahami risiko ini dengan lebih baik. Sementara kripto menawarkan peluang unik, sifat evolusinya dan potensi gangguan pasar yang signifikan memerlukan pemeriksaan cermat terhadap kerangka regulasi untuk melindungi investor.
Insiden FTX menjadi peringatan bagi industri kripto dan regulator. Seiring pertumbuhan pasar kripto dan integrasinya dengan sistem keuangan tradisional, kerangka regulasi yang kuat menjadi penting. Menemukan keseimbangan yang tepat antara mendorong inovasi dan memastikan perlindungan investor tetap menjadi tantangan kunci bagi dunia kripto yang terus berkembang.
Artikel ini telah diterbitkan oleh PRMIA, dengan judul Risk versus Uncertainty pada Februari 2023. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Mengarungi Risiko Geopolitik: Inspirasi dari Google, Intel, dan Pfizer
Dalam dunia bisnis yang selalu berubah, risiko geopolitik menjadi sorotan utama. Seperti konflik Rusia-Ukraina, hubungan antarnegara yang tegang, aturan internet yang ketat, dan persaingan di Eropa, perusahaan-perusahaan kini berada dalam situasi sulit. Masalahnya, semakin rumit dengan adanya informasi palsu yang membuat perusahaan-perusahaan harus berusaha lebih keras untuk menavigasi risiko dengan sukses.
Dalam sebuah wawancara baru-baru ini, eksekutif dari Google, Intel, dan Pfizer berbicara dengan Ziad Haider, direktur risiko geopolitik global McKinsey. Mereka berbagi pengalaman mereka menghadapi risiko saat ini dan apa yang diantisipasi pada tahun 2023.
Konflik Rusia-Ukraina menjadi ujian besar, terutama bagi Pfizer, perusahaan farmasi. Meskipun diizinkan untuk berdagang dengan Rusia, Pfizer memilih untuk mendonasikan keuntungannya untuk membantu Ukraina. Sedangkan Intel, perusahaan semikonduktor, menekankan betapa pentingnya memiliki ketahanan dalam berbagai hal, termasuk dalam proses manufaktur, rantai pasok, dan penelitian dan pengembangan.
Masalah besar lainnya muncul dari hubungan antara China dan Amerika Serikat. Bagi Intel, perusahaan ini harus berpikir keras bagaimana tetap bersaing di pasar China sambil melindungi diri dari tindakan pemerintah AS yang mungkin terjadi.
Tantangan dari pandemi COVID-19 juga masih ada. Pfizer, yang terlibat dalam produksi vaksin, menyoroti pentingnya perusahaan berada di garis depan untuk memberikan informasi dan memastikan keadilan dalam distribusi sumber daya.
Regulasi internet yang semakin ketat juga menjadi masalah besar, terutama bagi Google yang beroperasi secara global. Mereka harus menjalankan bisnis sesuai aturan setiap negara, yang seringkali berbeda-beda.
Para pemimpin bisnis menekankan betapa pentingnya tetap terinformasi, terutama di tengah informasi yang bertentangan. Frustrasi muncul karena berita yang bias, sehingga mereka berupaya mendapatkan informasi langsung dan akurat.
Penting juga untuk terus beradaptasi dengan peran pemerintah yang semakin besar dalam membentuk kebijakan. Perusahaan harus cakap dalam menavigasi lanskap geopolitik yang kompleks. Yang tak kalah penting, masukan dari karyawan membantu perusahaan memahami risiko dengan lebih baik. Google, sebagai contoh, mendapatkan wawasan berharga dari karyawan di wilayah yang langsung terkena dampak risiko geopolitik.
Para eksekutif mengidentifikasi hubungan antara China dan AS, disinformasi, dan regulasi internet sebagai risiko utama untuk tahun depan. Manajemen risiko geopolitik memerlukan pendekatan yang komprehensif, termasuk ketahanan, keterlibatan strategis, dan keberlanjutan dalam mendapatkan informasi. Pelajaran dari Google, Intel, dan Pfizer memberikan panduan berharga bagi perusahaan-perusahaan lain yang berusaha untuk bertahan dan tumbuh di tengah perubahan yang tak terelakkan ini.
Artikel ini telah diterbitkan oleh McKinsey, dengan judul How three global companies navigate geopolitical risk to build resilience. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Risiko ESG dan Asuransi yang Berkaitan Erat
Industri asuransi global, dengan nilai mencapai USD 6 triliun dalam premi dan USD 36 triliun dalam aset pada 2021, kini menghadapi tantangan baru terkait perubahan iklim. Dalam beberapa dekade, risiko fisik seperti banjir, badai, dan kebakaran semakin meningkat, menciptakan tekanan tambahan pada industri ini.
Laporan terbaru dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC) menyatakan bahwa dampak perubahan iklim lebih parah dari yang diperkirakan, tetapi masih ada harapan jika tindakan diambil dengan cepat. Industri asuransi memiliki peran kunci dalam menghadapi tantangan ini, terutama dalam mengelola risiko ESG (Environmental, Social, and Governance) yang semakin relevan.
Tantangan utama bagi perusahaan asuransi adalah memahami dan mengelola risiko terkait iklim. Risiko fisik, transisi, dan litigasi semakin meresahkan, dan perlu langkah-langkah strategis untuk mengurangi dampaknya. Task Force on Climate-related Financial Disclosures (TCFD) telah memberikan panduan untuk meningkatkan pelaporan informasi keuangan terkait iklim, dan perusahaan asuransi dapat mengikuti pedoman ini untuk mengidentifikasi risiko dan peluang yang dihadapi.
Beberapa langkah yang dapat diambil oleh perusahaan asuransi untuk mengelola risiko ESG dan terkait iklim melibatkan pemahaman mendalam terhadap paparan risiko di seluruh basis klien mereka. Evaluasi risiko ESG dapat membantu mengidentifikasi risiko dan peluang, memberikan visibilitas yang lebih baik terhadap potensi dampak, dan memungkinkan pengambilan keputusan underwriting yang lebih baik.
Langkah selanjutnya adalah memeriksa dengan cermat paparan dasar klien, terutama terhadap industri yang mungkin meningkatkan risiko terkait iklim. Pertanyaan strategis tentang keberlanjutan terhadap lingkungan perlu diajukan, dan perusahaan asuransi harus mempertimbangkan apakah tetap berada di industri tertentu masih sesuai dengan nilai dan tujuan mereka.
Menerapkan kerangka risiko ESG yang kuat, seperti yang diusulkan oleh TCFD, dapat membantu perusahaan asuransi dalam manajemen risiko terkait iklim. Ini mencakup langkah-langkah seperti meningkatkan kesadaran dan edukasi tentang risiko iklim di seluruh organisasi, mengembangkan rencana strategi risiko iklim, dan memastikan bahwa risiko iklim menjadi bagian integral dari proses investasi.
Dengan mengidentifikasi risiko dan peluang terkait ESG dan iklim, perusahaan asuransi dapat menggunakan data yang ditingkatkan untuk membuat keputusan underwriting yang lebih baik, meningkatkan tata kelola risiko, dan memposisikan diri secara kompetitif di tengah perubahan iklim yang semakin kompleks.
Perubahan iklim bukan hanya ancaman, tetapi juga peluang bagi industri asuransi untuk menunjukkan kepemimpinan dan berkontribusi pada pembangunan yang berkelanjutan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh ESG Risk Guard, dengan judul ESG and Insurance: A Critical Relationship. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Manajemen Risiko ESG: Memadukan Kepatuhan, Risiko, dan Keberlanjutan Perusahaan
Majalah Financier Worldwide menyoroti keberlanjutan perusahaan dan manajemen risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social and governance/ESG). Meskipun kepatuhan, manajemen risiko, dan keberlanjutan perusahaan dianggap sebagai disiplin terpisah, kini isu-isu ESG menuntut penyelarasan lebih lanjut di antara ketiganya.
Beberapa peristiwa terkini, seperti pengunduran diri CEO DWS Group dan denda terhadap BNY Mellon oleh SEC AS terkait kelalaian ESG, menekankan pentingnya koordinasi antara kepatuhan, manajemen risiko, dan keberlanjutan. Ketiga fungsi ini perlu diajak bicara bersama, walaupun konsolidasi penuh tidak disarankan. Prioritas dan atribut unik setiap area harus dipahami untuk mencapai kepaduan.
Keberlanjutan perusahaan kini lebih terhubung dengan kepatuhan dan manajemen risiko. Hal ini mencerminkan pergeseran fokus perusahaan pada keberlanjutan sebagai isu strategis utama. Terlibat dalam keberlanjutan memungkinkan manajemen risiko dan kepatuhan untuk menangani isu-isu luas, tidak hanya mitigasi risiko, tetapi juga peluang.
Meskipun kolaborasi dapat memperkuat kepatuhan, manajemen risiko, dan keberlanjutan, keberlanjutan perusahaan mungkin mendapat manfaat terbesar. Kepatuhan dapat memupuk budaya tindak lanjut, manajemen risiko membawa pemikiran ‘risiko ketidakberlanjutan’, sementara keberlanjutan fokus pada analisis materialitas dan mempertimbangkan peluang, bukan hanya risiko.
Perusahaan perlu mengidentifikasi area keselarasan, mendengarkan pemangku kepentingan, dan melibatkan pemimpin untuk memajukan kolaborasi ini. Fasilitasi koordinasi antara ketiga fungsi dapat dilakukan melalui harmonisasi, dan organisasi dapat mengadopsi perubahan struktural, pelatihan lintas fungsi, dan kebijakan tata kelola baru untuk mencapai keselarasan yang baru.
Keselarasan yang tetap mempertahankan sinergi antara independensi kepatuhan, manajemen risiko, dan keberlanjutan perusahaan, akan membantu perusahaan untuk lebih siap menghadapi masa depan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Financier Worldwide, dengan judul Managing ESG Risks: Align Compliance, Risk and Corporate Sustainability pada Agustus 2022. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Bagaimana ESG Berkembang menjadi Manajemen Risiko
Environmental, social, and governance (ESG) atau Lingkungan, Sosial, Tata Kelola telah berkembang dari konsep tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan gerakan lingkungan menjadi suatu usaha yang kompleks. Dalam perkembangannya, ESG tidak hanya memperhitungkan dampak organisasi pada masyarakat dan lingkungan, tetapi juga mengidentifikasi risiko yang muncul dari perubahan iklim dan perubahan sikap terhadap isu-isu ESG.
Dari awalnya sebagai konsep yang bagus untuk dimiliki, ESG telah menjadi keharusan di dunia bisnis. Pemangku kepentingan dan investor kini menuntut tingkat transparansi yang lebih besar dalam operasi bisnis global, dan badan regulasi mulai memperkenalkan kerangka kerja dan standar untuk pengungkapan ESG. Di era ESG, tidak hanya dampak lingkungan dan sosial perusahaan yang diukur, tetapi juga identifikasi dan pengelolaan risiko terkait iklim, sosial, dan tata kelola perusahaan.
Manajemen risiko di era ESG menjadi semakin penting. Laporan Risiko Global 2022 Forum Ekonomi Dunia menunjukkan bahwa lima ancaman global teratas terkait dengan iklim. Dengan perhatian dunia yang semakin terfokus pada isu-isu iklim, terdapat kesadaran bersama bahwa risiko iklim sekarang dianggap sebagai risiko bisnis yang signifikan.
Task Force on Climate-Related Financial Disclosures (TCFD) berperan penting dalam mengangkat kesadaran akan dampak iklim pada bisnis. Konsep double materiality menggarisbawahi bahwa dampak organisasi pada iklim atau lingkungan dapat bersifat material, dan dampak terkait iklim melibatkan lingkungan dan aspek sosial.
Risiko ESG terbagi dalam tiga pilar utama, yaitu lingkungan, sosial, dan tata kelola. Risiko lingkungan mencakup transisi ke masa depan yang lebih hijau dan risiko fisik yang timbul dari perubahan iklim. Risiko sosial mencakup kondisi kerja, keamanan, hak asasi manusia, keberagaman, kesetaraan, dan inklusi. Sementara risiko tata kelola mencakup isu-isu seperti praktik anti-suap dan korupsi.
Skandal ESG semakin sering terjadi, menyoroti perlunya perusahaan untuk mengelola isu-isu ini dengan serius. Contoh skandal seperti emisi Volkswagen dan tumpahan minyak Deepwater Horizon menjadi peringatan bagi merek-merek yang belum mengambil risiko ESG secara serius. Selain itu, semakin banyak perusahaan yang dijatuhi denda karena praktik greenwashing. Greenwashing adalah upaya perusahaan untuk meningkatkan citra ramah lingkungan dengan cara yang menyesatkan atau palsu.
Perusahaan juga dihadapkan pada risiko eksternal yang berkaitan dengan faktor-faktor lingkungan. Merek-merek yang bergantung pada sumber daya yang rentan, seperti air untuk produksi serat kapas, dapat menghadapi pasokan yang terbatas jika terjadi kekeringan. Harga karbon di masa depan juga dapat menjadi risiko finansial bagi perusahaan yang tidak mempertimbangkan emisi karbon mereka.
Dalam menghadapi risiko ESG, manajemen risiko menjadi kunci. Identifikasi risiko yang bersifat material untuk operasi perusahaan adalah langkah pertama, diikuti dengan upaya mencegah atau mengurangi dampak potensial dari risiko ini melalui perencanaan dan manajemen yang efektif.
Faktor risiko ESG seharusnya diintegrasikan ke dalam pengambilan keputusan dan manajemen risiko perusahaan. Perusahaan yang cerdas tidak hanya berusaha mengatasi risiko sebagai bagian dari ESG, tetapi juga menyelaraskan kerangka manajemen risiko dan keputusan mereka dengan strategi ESG. Ini bukan hanya kegiatan kepatuhan, melainkan investasi untuk bisnis jangka panjang yang berkelanjutan.
Melalui identifikasi dan evaluasi terus-menerus terhadap risiko ESG yang bersifat material, perusahaan dapat memahami dampaknya pada kegiatan operasional mereka dan menyusun strategi untuk mengelolanya. Manajemen risiko ESG bukan hanya baik untuk kepatuhan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi bisnis.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Equilibrium, dengan judul How ESG Has Evolved into Risk Management and How You Can Prepare pada 30 November 2022. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Memahami Risiko ESG yang Berdampak pada Bisnis dan Masyarakat Global
Environmental, social, and governance (ESG) yang melibatkan lingkungan, sosial, dan tata kelola, memiliki dampak signifikan terhadap berbagai aspek bisnis. Salah satu fokus utama adalah pada manajemen risiko, yang mencakup identifikasi, pengelolaan, dan pengurangan risiko-risiko yang muncul.
- Risiko Lingkungan
Risiko ini melibatkan isu-isu seperti perubahan iklim, keamanan air, limbah, polusi, deforestasi, dan kehilangan biodiversitas. Keunikan risiko ini seringkali terletak pada kurangnya data historis dan sifat non-linear dari risiko iklim.
- Risiko Sosial
Melibatkan perlakuan perusahaan terhadap orang, termasuk ketidaksetaraan, keragaman, hubungan karyawan, kesehatan & keselamatan, dan kondisi kerja. Risiko sosial dapat memiliki dampak finansial dan juga menciptakan masalah sosial serta merugikan reputasi perusahaan.
- Risiko Tata Kelola
Menyangkut tata kelola perusahaan, termasuk remunerasi eksekutif, keberagaman dan struktur dewan, donasi dan lobi politik, suap, serta kebijakan & standar. Risiko ini berkaitan erat dengan transparansi dan integritas perusahaan.
Ketika risiko ESG terwujud, konsekuensinya dapat sangat mahal. Contoh meliputi bencana lingkungan seperti ledakan rig minyak Deepwater Horizon, banjir di Thailand, krisis air minum di Flint, Michigan, dan skandal emisi Volkswagen.
ESG Risk Guard menekankan bahwa risiko ESG tidak hanya mempengaruhi perusahaan secara individu tetapi juga membawa dampak sistemik pada keuangan global. Bank sentral dan regulator keuangan global menyadari bahwa perubahan iklim menjadi sumber risiko bagi stabilitas sistem keuangan.
Manajemen risiko ESG ditempatkan sebagai bagian integral dari bisnis, bukan sebagai proyek terpisah. Framework risiko iklim, termasuk dari Task Force on Climate-related Financial Disclosure (TCFD), memberikan panduan pada Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, serta Metrik dan Target yang perlu dipertimbangkan.
Selain risiko, ESG Risk Guard menyoroti peluang yang dapat ditemukan melalui penilaian risiko ESG menyeluruh. Ini mencakup peningkatan pendapatan, pengurangan biaya operasional, pengurangan intervensi regulasi dan biaya hukum, serta peningkatan keterlibatan dan produktivitas karyawan.
ESG Risk Guard menyimpulkan bahwa bisnis harus secara serius memahami dan menanggapi tantangan dan peluang ESG, mengingat dampaknya yang meluas pada semua aspek bisnis dan masyarakat global.
Artikel ini telah diterbitkan oleh ESG Risk Guard, dengan judul All About ESG Risks. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Manajemen Risiko ESG: Menuju Keberlanjutan Jangka Panjang
Manajemen risiko ESG (environmental, social and governance), yang mencakup lingkungan, sosial, dan tata kelola, adalah kunci untuk membantu organisasi tetap kuat secara finansial dan operasional dalam jangka panjang. Ketahanan di sini berarti kemampuan untuk mengatasi perubahan dan masalah yang mungkin muncul. Biasanya, usaha untuk mencapai ketahanan lebih fokus pada bagian operasional dan keuangan agar bisa memenuhi keinginan para pemegang saham dan pihak-pihak terkait.
Dengan pemahaman yang semakin berkembang tentang pengaruh faktor ESG, organisasi perlu menjadi lebih terbuka dan mengembangkan ‘ketahanan keberlanjutan’. Ini bukan hanya untuk melindungi diri dari dampak buruk faktor ESG, tapi juga untuk mengambil keuntungan dari peluang yang bisa muncul. Bagian manajemen risiko dalam organisasi juga perlu mempertimbangkan risiko ESG saat menganalisis dampaknya terhadap ketahanan mereka.
Metode manajemen risiko sekarang lebih banyak fokus pada faktor-faktor eksternal yang bisa berpengaruh besar pada organisasi. Konsep ‘materialitas ganda’ membawa pemahaman bahwa dampak ESG pada organisasi bisa bersifat material, dan sebaliknya, organisasi juga bisa memiliki dampak material pada keberlanjutan di luar.
Organisasi per, fokus pada ketahanan keberlanjutan menjadi isu yang perlu diutamakan . Bagaimana caranya manajemen risiko bisa berkembang untuk memperhitungkan faktor ESG, termasuk materialitas ganda? Dan bagaimana pengelolaan risiko ESG yang baik bisa digunakan sebagai strategi untuk mencapai ketahanan keberlanjutan?
Dalam langkah awal, identifikasi risiko ESG penting dilakukan. Banyak organisasi lebih fokus pada risiko lingkungan, khususnya yang terkait dengan perubahan iklim. Namun, risiko sosial (seperti hak pekerja, inklusivitas, kesetaraan, kesehatan dan keselamatan) dan risiko tata kelola (kebijakan kepemimpinan, kontrol internal, kebijakan pajak, hak pemegang saham) masih dalam tahap pengembangan.
Penting juga untuk mengukur risiko ESG dengan menanamkan risiko material ke dalam metrik risiko tradisional. Ada berbagai metode, baik kuantitatif maupun kualitatif, yang bisa digunakan. Faktor lingkungan umumnya dapat diukur dengan data kuantitatif karena banyak perusahaan yang bisa mengumpulkan data dengan lebih mudah.
Setelah risiko ESG diidentifikasi dan diukur, organisasi bisa membangun kerangka manajemen risiko dan pemantauan. Ada beberapa metode untuk mengelola risiko ESG dan memantau ketahanan keberlanjutan jangka panjang. Salah satu metode yang maju adalah analisis skenario, yang telah diterapkan oleh beberapa organisasi. Analisis skenario membantu membentuk gambaran bisnis masa depan. Batas waktu perencanaan perlu diperpanjang setidaknya 10 tahun untuk skenario ESG.
Pada akhirnya, hasil dari analisis risiko ESG harus diukur dan disematkan dengan cara yang sama seperti ketahanan risiko keuangan tradisional. Langkah-langkah manajemen juga harus diterapkan untuk memastikan kepatuhan terhadap ketentuan risiko yang disepakati. Meskipun bidang ketahanan keberlanjutan masih baru, organisasi harus aktif menjelajahi cara untuk mengintegrasikan manajemen risiko ESG dalam strategi mereka, sehingga mereka tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh melalui perubahan, menciptakan nilai jangka panjang, dan membangun ketahanan yang berkelanjutan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Be | Shaping the Future, dengan judul ESG Risk Management – an Enabler for Long Term Sustainable Resilience. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.