Artikel

Artikel2021-01-27T19:01:07+07:00

Mengukur Risiko Siber dalam Merger dan Akuisisi

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Dalam merger dan akuisisi (M&A), pencapaian nilai biasanya menjadi perhatian utama. Namun, risiko siber adalah kenyataan yang harus dihadapi. Mengingat regulasi privasi data dan undang-undang wajib mengungkapkan pelanggaran keamanan siber, paparan risiko siber berpotensi memengaruhi valuasi pasca-merger secara signifikan. Saat menghitung nilai akuisisi potensial, perusahaan penerima harus mempertimbangkan biaya risiko siber sebagai bagian dari strategi kesepakatan.

Pada tahun 2016, sebuah penyedia layanan telekomunikasi berbasis di Inggris didenda secara besar-besaran ketika database pelanggan yang mereka akuisisi sebelumnya diretas. Pada tahun 2017, harga akuisisi Verizon terhadap bisnis internet Yahoo turun sebesar USD 350 juta setelah Yahoo mengungkapkan tiga pelanggaran data masif yang mengorbankan lebih dari 1 miliar akun pelanggan.

Pelaku ancaman mengincar aktivitas M&A karena menawarkan potensi imbalan jangka pendek dan jangka panjang. Dalam operasi transisi, data bernilai tinggi seringkali rentan. Ketika perusahaan yang tercatat di bursa saham terlibat, liputan media yang dihasilkan dapat memperburuk risiko. Di saat yang sama, pelaku ancaman mengambil kesempatan untuk menyerang.

Pengawasan keamanan siber selama aktivitas M&A sangat penting. Namun, ada beberapa alasan mengapa perusahaan menunda atau mengabaikan keterlibatan ahli keamanan selama M&A. Dalam beberapa kasus, ini terkait dengan kurangnya pengalaman dalam siklus M&A yang kompleks. Dalam kasus lain, ada keinginan untuk membatasi jumlah orang yang mengetahui tentang merger yang akan datang.

Solusinya tidaklah sederhana, tetapi perusahaan memiliki opsi. Berikut langkah-langkah proaktif yang dapat diambil tim keamanan untuk mengurangi risiko keamanan siber sepanjang siklus M&A:

Langkah Pra-Akuisisi

  1. Melibatkan Ahli Keamanan Siber: Pastikan ahli keamanan siber merupakan anggota kunci dalam tim M&A, bahkan sejak tahap perencanaan strategis.
  2. Pemahaman Tujuan Bisnis: Pahami akuisisi dalam konteks tujuan bisnis dan objektif merek perusahaan, serta bagaimana keamanan akan mendukung tujuan tersebut.
  3. Evaluasi Ketahanan Keamanan: Tinjau dan nilai ketahanan keamanan dari target akuisisi. Temukan informasi tentang serangan sebelumnya, insiden, dan publikasi terkait keamanan.
  4. Perencanaan Peraturan dan Kepatuhan: Identifikasi persyaratan peraturan dan kepatuhan yang berlaku dan bagaimana akuisisi akan memengaruhi model teknologi dan keamanan perusahaan.

Langkah Akuisisi

  1. Pemeriksaan Keamanan Terperinci: Selama tahap pemeriksaan, lakukan pemeriksaan keamanan yang mendalam terhadap sistem informasi, kebijakan, dan kerentanannya dari target akuisisi.
  2. Penerjemahan Temuan ke Dalam Nilai: Terjemahkan temuan keamanan siber menjadi nilai-nilai kuantitatif yang dapat digunakan dalam negosiasi dan penentuan harga akuisisi.
  3. Monitor Media: Pantau liputan media untuk mengukur minat publik dan ancaman potensial terhadap keamanan siber selama proses akuisisi.
  4. Evaluasi Biaya Akuisisi: Selain biaya dasar akuisisi, pertimbangkan biaya terkait manajemen risiko siber seperti keamanan layanan dasar dan yang lebih kompleks.
  5. Keterlibatan Pihak Ketiga: Pertimbangkan untuk melibatkan pihak ketiga yang ahli dalam manajemen risiko merek dan keamanan siber.

 

Langkah Integrasi Pasca-Akuisisi

  1. Pembaruan Model Keamanan: Perbarui model keamanan yang telah ditetapkan selama proses pemeriksaan dengan temuan baru dari kegiatan penilaian.
  2. Monitoring Keamanan Tingkat Tinggi: Pertahankan tingkat pemantauan keamanan yang tinggi di kedua perusahaan selama fase integrasi, karena paparan media dapat meningkatkan ancaman.
  3. Pertahankan Kontrol: Pertahankan kontrol keamanan yang ketat karena sering kali ada kecenderungan untuk meremehkan protokol keamanan saat jaringan digabungkan.
  4. Antisipasi Dampak pada Tenaga Kerja: Antisipasi dampak akuisisi pada tenaga kerja, termasuk karyawan dan mitra yang mungkin terpengaruh oleh kesepakatan.
  5. Mengoptimalkan Resiliensi Keamanan: Manfaatkan proses M&A untuk meningkatkan resiliensi keamanan dan efisiensi operasional dengan menyederhanakan operasi keamanan.

Langkah-langkah ini membantu perusahaan untuk mengelola risiko siber yang mungkin muncul selama proses akuisisi dan merger, serta memastikan bahwa keamanan tetap menjadi prioritas selama transisi.

Artikel ini telah diterbitkan oleh IBM Institute for Business Value, dengan judul Assessing cyber risk in M&A. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Risiko dan Manfaat Kemajuan Teknologi

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Selain dampak perubahan iklim dan tantangan geopolitik dan geoekonomi yang semakin meningkat, percepatan laju perkembangan teknologi telah menjadi salah satu faktor utama yang membentuk lingkungan bisnis dalam beberapa tahun terakhir.

Agenda Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) tahun ini di Davos mengakui hal ini dengan mengusung tema “Mengatasi Tantangan Utama Industri Saat Ini dalam Konteks Sistem Baru untuk Memanfaatkan Teknologi Terdepan untuk Inovasi dan Ketahanan Sektor Swasta”.

Perkembangan teknologi dalam setahun terakhir memang menggembirakan, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran. Meskipun kecerdasan buatan dan otomatisasi telah mengganggu berbagai industri selama bertahun-tahun, laju perubahan meningkat pada tahun 2022 dengan dirilisnya ChatGPT oleh OpenAI ke publik. Sebagai contoh kecerdasan buatan generatif, bersama dengan penghasil gambar seperti Dall-E, chatbot ini mengesankan semua orang.

Belum jelas jenis tugas apa yang dapat diambil alih oleh alat-alat seperti ini dari manusia – baik sebagian maupun seluruhnya – atau bagaimana tepatnya mereka akan memengaruhi keterampilan yang dibutuhkan oleh orang-orang yang pekerjaannya melibatkan kata-kata atau gambar. Namun yang jelas, terobosan lebih lanjut dalam kecerdasan buatan generatif akan memiliki dampak besar pada evolusi bentuk tenaga kerja modern, dan perusahaan-perusahaan perlu seimbangkan risiko dan manfaatnya.

Kemajuan teknologi pada tahun lalu sudah menunjukkan potensi besar dalam membantu mengurangi perubahan iklim. Kemajuan teknologi juga memungkinkan perusahaan untuk memenuhi komitmen lingkungan. Sementara krisis energi pada tahun 2022 menyebabkan penggunaan bahan bakar fosil lebih banyak dalam jangka pendek. Hal ini memberikan dorongan baru dalam pengembangan energi terbarukan.

Tahun lalu terdapat sejumlah terobosan yang menjanjikan. Sebutlah metode baru untuk mengubah air menjadi hidrogen dan memproduksi hidrogen terbarukan dalam skala besar. Selanjutnya, ada kemajuan dalam efisiensi panel surya dan momen penelitian yang berpotensi signifikan dalam energi fusi.

Dalam konteks global yang penuh tantangan, terobosan-terobosan ini memberikan dasar optimisme. Selain itu, muncul momentum untuk membentuk jenis kolaborasi yang dibutuhkan dalam upaya mendorong transisi hijau ke depan.

Pada bulan November 2022, Forum Ekonomi Dunia berjanji menyumbangkan USD 12 miliar untuk mendukung teknologi hijau. Gerakan ini bertujuan untuk menggunakan komitmen permintaan untuk merangsang pengembangan teknologi baru, dan mempercepat laju skalanya. Fokusnya adalah pada industri berat – seperti baja, aluminium, dan semen – dan transportasi jarak jauh, sektor-sektor yang bersama-sama bertanggung jawab atas 30% emisi global.

Teknologi baru menciptakan risiko baru serta peluang baru. Contohnya, tahun 2022 menyaksikan peningkatan tajam serangan siber oleh negara-negara terhadap infrastruktur penting negara lain. Biaya tahunan dari kejahatan siber juga terus tumbuh, dan diproyeksikan akan mencapai lebih dari USD 10,5 triliun pada tahun 2025.

Laporan Risiko Global yang baru diterbitkan menilai risiko siber tinggi baik jangka pendek maupun jangka panjang. Perusahaan harus mencoba untuk memanfaatkan potensi inovasi sambil melindungi kekayaan intelektual dan data mereka, dan juga berkolaborasi dengan kolega, perusahaan asuransi, dan pemerintah untuk menjaga keamanan sistem secara keseluruhan. Kesadaran tentang keamanan siber perlu menjadi bagian integral dari ketahanan.

Artikel ini telah diterbitkan oleh Marsh, dengan judul The risks and Rewards of Frontier Technologies. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Peran Kunci Dewan Direksi dalam Mengatasi Serangan Siber pada Rantai Pasokan

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Serangan siber yang sukses pada rantai pasokan merupakan ancaman serius yang dapat merusak bisnis yang telah mapan. Dewan direksi memiliki peran penting dalam membantu manajemen menghadapi tantangan ini. Meskipun pertanyaannya sama, jawabannya akan berbeda untuk perusahaan publik, swasta, atau berbagai ukuran bisnis. Berikut tiga aspek kunci yang perlu diperhatikan oleh dewan direksi.

Aspek Pertama: Perlindungan, Pembebasan Tanggung Jawab, Kerjasama, dan Pemberian Informasi yang Bermakna

Perusahaan harus memiliki perlindungan dasar dalam kontrak dengan vendor dan pemasok kunci serta memastikan pembebasan tanggung jawab yang bermakna. Selain itu, pihak vendor harus memiliki klausul pemberitahuan untuk memberitahu perusahaan secara cepat tentang insiden yang melibatkan mereka. Dewan direksi dapat mendorong tim manajemen risiko untuk meningkatkan ketentuan-ketentuan ini dalam kontrak dan memastikan mereka efektif dalam menghadapi insiden.

Aspek Kedua: Mengenal Kemampuan dan Mengambil Tindakan yang Dapat Dilakukan

Dewan direksi harus menilai kemampuan organisasi dalam menguji pembaruan perangkat lunak dan memahami perubahan kode yang terjadi. Organisasi dengan departemen IT yang kuat mungkin mampu melakukan ini, tetapi yang lain mungkin perlu bergantung pada pihak ketiga. Poin kunci di sini adalah memastikan bahwa organisasi dapat mengukur perubahan kode secara kontekstual dan menentukan apakah perubahan tersebut wajar dalam pembaruan perangkat lunak.

Aspek Ketiga: Asuransi untuk Risiko yang Tersisa

Dewan direksi dapat bekerja sama dengan tim manajemen risiko dan broker asuransi untuk mengeksplorasi opsi asuransi untuk risiko yang tidak dapat diatasi. Pasar asuransi siber yang dinamis menawarkan produk-produk baru yang dapat mencakup risiko ini. Mungkin juga memungkinkan untuk membuat polis asuransi yang sesuai dengan kebutuhan spesifik perusahaan.

Dewan direksi memiliki peran unik dalam memberikan pengawasan terhadap strategi mengatasi serangan siber pada rantai pasokan. Mereka dapat membawa praktik-praktik terbaik dari berbagai industri dan membantu organisasi menemukan pendekatan yang seimbang.

Artikel ini telah diterbitkan oleh Grant Thornton, dengan judul A Board’s Response to Supply Chain Cyberattacks. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Geopolitik dan Serangan Ransomware Menjadi Sorotan Utama dalam Daftar Risiko Siber

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Pada tanggal 23 November 2022, Allianz melaporkan bahwa geopolitik dan serangan ransomware merupakan perhatian utama dalam daftar risiko siber bagi bisnis global. Selain itu, bisnis juga mengungkapkan kekhawatiran terhadap serangan yang didukung oleh pemerintah terhadap perusahaan, infrastruktur, dan rantai pasokan akibat perang di Ukraina dan ketegangan politik global lainnya.

Scott Sayce, kepala global siber di Allianz Global Corporate and Specialty, mengatakan bahwa lanskap risiko siber saat ini tidak memungkinkan adanya relaksasi. Serangan ransomware dan penipuan phishing tetap menjadi ancaman yang aktif, ditambah dengan potensi perang siber hibrida.

Meskipun jumlah serangan siber global mengalami penurunan sebesar 23 persen selama paruh pertama tahun 2022, Eropa justru mengalami peningkatan jumlah serangan tersebut. Bisnis dan organisasi diperkirakan akan mengeluarkan sekitar $30 miliar untuk mengatasi kerugian akibat serangan ransomware selama tahun ini.

Manajer risiko telah meningkatkan upaya untuk mengatasi ancaman ini. Laporan dari Swiss Re menyebutkan bahwa perusahaan, perusahaan asuransi, dan otoritas publik telah meningkatkan upaya manajemen risiko. Selain itu, asosiasi industri dan perusahaan asuransi telah bekerja sama untuk mengklarifikasi cakupan kebijakan asuransi tradisional terkait dengan risiko siber senyap, yang merupakan risiko yang tidak secara eksplisit dicakup maupun dikecualikan oleh kebijakan asuransi.

Peningkatan penggunaan asuransi sebagai perlindungan dari kerugian akibat serangan siber semakin umum dilakukan oleh manajer risiko. Namun, harga premi asuransi semakin meningkat, dan cakupan kebijakan semakin berkurang. Hal ini terungkap dalam survei Advisen-Zurich.

Michelle Chia, kepala tanggung jawab profesional dan siber di Zurich North America, menyatakan bahwa banyak pemimpin bisnis kesulitan mengukur dampak ancaman siber terhadap biaya asuransi, ketentuan kebijakan, dan pemilihan risiko. Dalam upaya melindungi bisnis mereka dari para peretas, beberapa langkah telah diambil. Zurich menemukan bahwa lebih dari setengah perusahaan telah meninjau manajemen vendor IT mereka, sementara 62 persen meningkatkan pelatihan karyawan dalam hal siber. Meskipun sebagian besar dari mereka menyatakan memiliki rencana tanggap insiden siber, hanya 60 persen yang menguji rencana tersebut secara berkala.

Secara keseluruhan, geopolitik dan serangan ransomware saat ini mendominasi perhatian dalam risiko siber bagi bisnis global. Meskipun tantangan ini semakin kompleks, upaya telah diambil untuk mengelolanya, baik dalam hal manajemen risiko maupun perlindungan asuransi.

 

Artikel ini telah diterbitkan oleh Enterprise Risk Mag, dengan judul Geopolitics and Ransomware Attacks Top Cyberrisk Concerns. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

 

By |

MANAJEMEN RISIKO RANTAI PASOK KEAMANAN SIBER: STRATEGI MELAWAN ANCAMAN RANSOMWARE

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Manajemen risiko rantai pasok keamanan siber semakin penting bagi perusahaan. Adopsi pusat data awan dan layanan perangkat lunak mengalami pertumbuhan. Ketergantungan pada rantai pasok global dan kompleks juga meningkat. Hal ini membawa berbagai kerentanan potensial yang bisa dimanfaatkan oleh penjahat siber. Berikut beberapa strategi kunci untuk mengidentifikasi dan mengurangi risiko dalam rantai pasok, terutama risiko ransomware.

Penting untuk memahami rantai pasok teknologi informasi perusahaan. Ini termasuk mengidentifikasi pemasok, subkontraktor, dan mitra lain yang memproses, mengirim, atau menyimpan data untuk produk dan layanan perusahaan. Setelah peta rantai pasok terbentuk, langkah berikutnya adalah mengenali risiko potensial yang ada di setiap komponen. Ini termasuk risiko eksternal seperti bencana alam, serta risiko internal seperti pergantian karyawan atau pelanggaran data.

Perusahaan perlu melakukan penilaian risiko dengan mengumpulkan dan menganalisis data dari berbagai sumber, seperti kontrak pemasok, kebijakan asuransi, dan laporan kepatuhan. Setelah risiko teridentifikasi, langkah selanjutnya adalah mengembangkan strategi untuk menguranginya. Ini melibatkan implementasi proses atau teknologi untuk mengurangi kemungkinan gangguan rantai pasok siber atau menetapkan rencana cadangan jika gangguan terjadi.

Selain langkah proaktif, memiliki rencana tanggap bencana juga penting untuk antisipasi saat terjadi gangguan dalam rantai pasok. Berkomunikasi secara jelas dengan para pemangku kepentingan seperti karyawan, pelanggan, dan pemegang saham juga krusial agar mereka memahami situasi dan langkah-langkah penanggulangannya.

Ransomware kini menjadi risiko besar bagi perusahaan yang bergantung pada pihak ketiga. Serangan ransomware pada sistem vendor dapat mengganggu aliran barang dan layanan, menyebabkan kerugian finansial dan reputasi perusahaan. Untuk mengurangi risiko ini, perusahaan harus melakukan penelitian cermat saat memilih vendor, mengevaluasi praktik keamanan mereka, dan meminta mereka untuk membuktikan ketangguhan siber secara rutin.

Selain itu, perusahaan juga harus memiliki strategi manajemen risiko lainnya, seperti rencana tanggap bencana, komunikasi alternatif, cadangan data dan sistem yang kuat, serta pembaruan rutin perangkat lunak untuk melindungi dari ancaman baru.

Kesimpulannya, manajemen risiko rantai pasok adalah aspek penting bagi perusahaan. Dengan memahami rantai pasok dan mengidentifikasi risiko, perusahaan dapat mengurangi dampak gangguan. Melalui langkah-langkah proaktif dan rencana tanggap bencana yang jelas, perusahaan dapat tetap beroperasi secara efektif dalam menghadapi tantangan.

Artikel ini telah diterbitkan oleh ISACA, dengan judul Ransomware Looms Large on Third-Party Risk Landscape. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Mengarungi Risiko Global: Pandangan Masa Depan, Kesiapan, dan Tindakan Bersama dalam Era Ketidakpastian

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Dalam waktu yang terus bergejolak, dunia berada pada persimpangan penting. Saat kita memasuki era pertumbuhan rendah, investasi minim, dan kolaborasi terbatas, keputusan yang kita buat hari ini akan mendefinisikan lanskap risiko yang akan datang. Sangat penting bahwa respons kita terhadap krisis saat ini tidak mengalihkan perhatian dari perspektif jangka panjang kita.

Peristiwa-peristiwa baru-baru ini, seperti pandemi COVID-19 dan tantangan biaya hidup yang meningkat, secara perlahan merusak hasil ekonomi, pendidikan, dan kesehatan di sebagian populasi yang semakin melebar. Jurang yang semakin besar antara negara maju dan berkembang memperparah fenomena ini. Selain itu, peristiwa-peristiwa ini bersilangan dengan sejumlah risiko lingkungan dan geopolitik – termasuk perubahan iklim, penurunan ekosistem, dan konflik multibidang – yang menambah ancaman terhadap keamanan dan stabilitas sosial di seluruh dunia.

Beberapa prinsip umum dapat memperkuat kesiapan di berbagai bidang:

  1. Memperkuat Identifikasi Risiko dan Prediksi: Pendekatan sistematis untuk mengidentifikasi dan memprediksikan perkembangan, risiko, dan peluang di masa depan sangat penting. Metode seperti pemindaian horizon dan perencanaan skenario, yang memanfaatkan data kualitatif dan kuantitatif, dapat membantu meramalkan tren-tren yang muncul. Menerima perbedaan pendapat para ahli dan membedakan antara risiko dan ketidakpastian adalah aspek penting dari proses ini.
  2. Kalibrasi Nilai Risiko “Masa Depan”: Mengatasi mengatasi krisis-krisis mendesak adalah hal yang krusial. Sumber daya dan perhatian tidak boleh dialihkan dari risiko global yang mendasari bencana lokal atau yang mungkin muncul di luar kerangka waktu kepemimpinan saat ini.
  3. Berinvestasi dalam Kesiapan Risiko Multi-Domain: Mengatasi risiko terkait dan ketergantungan antara sistem-sistem kritis memerlukan analisis yang canggih. Pandangan sistemik, seperti peran Pejabat Risiko Nasional dan Ketahanan, penting dalam memastikan prediksi risiko komprehensif, mitigasi, dan manajemen krisis.
  4. Memperkuat Kesiapan dan Kerja Sama Respons: Kolaborasi lintas sektor, melibatkan pemerintah, bisnis, dan masyarakat sipil, penting untuk kesiapan yang efektif. Kemitraan antara swasta dan pemerintah dapat menjembatani kesenjangan dalam inovasi, pendanaan, tata kelola, dan pelaksanaan langkah-langkah mitigasi risiko.

Risiko global membutuhkan pendekatan ganda yang menyelaraskan manajemen krisis dengan ramalan jangka panjang. Sebagai contoh, setelah pandemi COVID-19, pemerintah harus menstabilkan sistem perawatan kesehatan sambil sekaligus mengatur lingkungan penyebaran penyakit zoonosis, mengatur penelitian fungsi gain, dan memantau permintaan sintesis di laboratorium biologi untuk mencegah wabah masa depan dari penyebaran alami, kecelakaan, dan ancaman.

Mengakui sifat saling terkait dari risiko global, memperkuat upaya ketahanan di berbagai bidang kritis bermanfaat dalam segala skenario. Walaupun tantangan seperti perubahan iklim, ancaman siber, dan ketidakpastian pangan mungkin tampak berbeda, efeknya dapat saling terkait, mengharuskan kesiapan yang holistik.

Kerja sama internasional mutlak diperlukan untuk mengatasi risiko global yang melampaui kepemilikan individu. Sementara krisis-krisis terbaru telah memicu introspeksi, penting untuk menghidupkan kembali proses multilateral dan organisasi untuk mengatasi risiko global yang muncul secara efektif.

Di dalam pemandangan risiko yang kompleks, keseimbangan antara kesiapan nasional dan kolaborasi global sangat penting. Para pemimpin harus merangkul kompleksitas, bertindak dengan visi seimbang untuk membentuk masa depan bersama yang lebih tangguh dan makmur, yang melampaui siklus terus-menerus dari krisis.

Laporan ini telah diterbitkan oleh World Economic Forum, dengan judul The Global Risks Report 2023. Laporan selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Menjaga Kendali Kritis dalam Ketidakpastian Staf (Staffing Uncertainties)

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Covid-19 dianggap sebagai peristiwa black swan, yaitu kejadian yang berada di luar kondisi normal dan memiliki sejumlah konsekuensi. Sejumlah universitas di Amerika Serikat melewatinya dengan menerapkan perubahan operasional demi melindungi siswanya dan tetap memenuhi tujuan pendidikan.

Dalam keadaan dengan kendala sumber daya yang parah, organisasi/perusahaan perlu memprioritaskan pekerjaan yang berdampak pada operasi dan mempertahankan tingkat kepegawaian. Namun, pekerjaan-pekerjaan tertentu kerap kali terhenti karena berbagai alasan, misalnya cuti, pensiun dini, atau perampingan staf. Efek dari hal ini muncul dari waktu ke waktu, terutama jika pekerjaan yang tidak diprioritaskan justru memengaruhi kepatuhan dan keuangan (pengendalian data). Untuk itu, para pemimpin perlu memastikan adanya sistem pengendalian yang kuat untuk mengurangi risiko.

Beberapa pertimbangan pengendalian kepatuhan dan keuangan adalah sebagai berikut.

Sistem Pengendalian Internal (SPI) yang Efektif

Sistem pemantauan internal didokumentasikan dengan prosedur pengendalian utama untuk memastikan berjalannya kinerja. Beberapa kerangka kerja memberikan panduan penilaian dan mitigasi risiko ketidakpatuhan, termasuk standar yang ditetapkan oleh Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission (COSO), Standards for Internal Control in the Federal Government (atau dikenal sebagai Green Book), Uniform Guidance and Compliance Supplement, dan American Institute of Certified Public Accountants (AICPA).

Selain itu, setidaknya terdapat lima langkah yang dapat dilakukan dengan tujuan membangun SPI yang efektif.

  • Pertama, perhatikan pengendalian utama. Hal ini berkontribusi terhadap integritas data keuangan dan operasi. Dokumentasi pengendalian yang terdistribusi dan terpusat penting untuk dilakukan.
  • Kedua, manfaatkan teknologi. Selama pandemi, sejumlah organisasi melaksanakan kerja jarak jauh. Ketergantungan yang besar pada proses manual berganti dengan otomatisasi.
  • Ketiga, tinjau peran dan tanggung jawab. Risiko ketidakpatuhan dapat dikurangi dengan mendefinisikan peran secara jelas. Hal ini dilakukan tidak hanya untuk efektivitas, tetapi juga efisiensi.
  • Keempat, menetapkan program pemantauan. Elemen penting dari SPI adalah verifikasi berkelanjutan. Langkah pemantauan ini diharapkan dapat memastikan pengendalian utama berjalan dengan baik.
  • Kelima, melakukan pengendalian dengan bijaksana. Dokumentasi pengendalian harus selalu diperbarui selagi prosedurnya ditingkatkan. Hal ini bertujuan untuk memenuhi perubahan kebutuhan.

Artikel ini telah diterbitkan oleh Huron, dengan judul Strategies for Maintaining Critical Controls During Staffing Uncertainties. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Bagaimana Rantai Pasokan Industri Produk Kesehatan Terjaga dari Krisis Covid-19

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Industri produk kesehatan memiliki tugas untuk mendorong berjalannya ekonomi global selama pandemi 2020. Pada tahap pertama pandemi, misalnya, alat pelindung diri (APD) didistribusikan. Diagnostik polymerase chain reaction (PCR) pun menjadi penting, seperti halnya berbagai terapi. Vaksin terus dikembangkan untuk menyelamatkan nyawa.

Menurut Travis McIntosh, Manajer Produk Praktik Industri di Chubb Insurance, Covid-19 menciptakan peningkatan permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk produk-produk manufaktur, seperti laptop dan monitor untuk orang-orang yang bekerja dari rumah. Di sisi lain, kapasitas dan ketersediaan input manufaktur harus dikurangi akibat tidak adanya tenaga kerja. Inilah yang menyebabkan krisis rantai pasokan global.

Sementara itu, industri produk kesehatan rupanya mampu menghadapi tantangan tersebut. Alasannya, rantai pasokan industri ini memiliki pengawasan regulasi. Artinya, industri produk kesehatan memiliki standar yang wajib dipatuhi dengan jaminan kualitas, seperti yang ditentukan oleh Good Manufacturing Practice dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) atau ISO 13485.

Di samping itu, pada industri farmasi dan bioteknologi, terdapat tingkat outsourcing dan transfer teknologi manufaktur yang tinggi. Hal ini memunculkan kebutuhan vendor dan penyedia layanan dalam industri tersebut, yang juga disertai dengan kebutuhan sertifikasi dan audit ulang oleh regulator.

Bisnis di luar industri ilmu hayati menciptakan keadaan normal baru (new normal) dalam manajemen pasokannya melalui enam area utama.

  • Pertama, rencana pemulihan bencana. Hal ini menunjukkan pentingnya rencana resmi untuk setiap bisnis.
  • Kedua, kesadaran risiko. Bukan hanya bencana alam, risiko geopolitik dan potensi di dunia maya juga perlu dipertimbangkan.
  • Ketiga, inventarisasi. Pemahaman komponen dan tingkat inventaris diperlukan agar bisnis tetap memadai.
  • Keempat, pemeriksaan mitra. Hal ini mencakup lokasi dan sumber produk mitra
  • Kelima, asuransi. Pastikan program transfer risiko sesuai dengan tujuan.
  • Keenam, kesigapan. Setiap bisnis dan perusahaan harus memiliki skenario bencana tiruan untuk menguji rencana pemulihan bencana.

 

Artikel ini telah diterbitkan oleh Strategic Risk, dengan judul Supply Chain Lessons from The COVID-crisis. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Risiko Keamanan Data dari Teknologi AI

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kian meluas di bidang profesional. AI menggunakan data dari pengguna untuk mempelajari pola perilaku, memprediksi tren masa depan, serta membuat dan meniru karya. Meski dianggap bermanfaat, AI rupanya dapat menghadapkan penggunanya pada risiko kehilangan kekayaan intelektual dan data lainnya.

Kebijakan Perusahaan terhadap AI

Pada Maret lalu, Samsung mengalami kebocoran informasi sensitif perusahaan. Sejumlah karyawan tanpa sengaja melanggar kerahasiaan perusahaan saat menggunakan ChatGPT untuk mengoptimalkan urutan pengujian dalam pengidentifikasian kesalahan dalam chip; menulis presentasi; dan menulis catatan rapat.

Cara terbaik yang diharapkan dilakukan perusahaan adalah dengan memberi tahu karyawan secara eksplisit mengenai penggunaan AI yang bisa dan tidak bisa diterima di tempat kerja. Aturan yang jelas ini mencakup edukasi mengenai data apa saja yang bisa dan tidak bisa dimasukkan ke dalam alat layanan AI.

Isu-isu yang perlu dipertimbangkan adalah keamanan model AI, kerentanan yang mungkin dimiliki, kemungkinan paparan data, tindakan untuk otentikasi dan otorisasi, serta pencatatan dan pemantauan yang sesuai. Isu-isu inilah yang kemudian dapat menjadi pertanyaan-pertanyaan untuk persiapan mitigasi risiko, evaluasi keterampilan karyawan, keamanan siber internal perusahaan, dan deteksi ancaman yang akan datang.

 

Peran Manajer Risiko

Manajer risiko berperan penting dalam peningkatan keamanan siber dan risiko data terhadap AI. Tata kelola data yang kuat juga diperlukan, yaitu dengan mengembangkan kebijakan dan prosedur secara komprehensif atas penyimpanan dan pemrosesan data yang aman. Perusahaan harus melakukan enkripsi data sensitif, menerapkan kontrol akses, dan melakukan audit secara rutin. Di samping itu, perusahaan harus mempromosikan budaya kesadaran keamanan serta mengenali teknik rekayasa sosial dan potensi pelaporan kerentanan.

Dalam membangun tata kelola, perusahaan disarankan membangun kerangka kerja risiko keamanan siber. Kolaborasi juga perlu dilakukan oleh manajer risiko di seluruh perusahaan dengan melibatkan pakar keamanan siber, pakai AI, hingga tim hukum dan kepatuhan. Tujuannya adalah untuk mencapai pemahaman bersama mengenai risiko AI dan perlindungan yang sesuai.

 

Fokus Keamanan Data

Peningkatan risiko dunia maya dipercaya bukan merupakan kesalahan AI, melainkan karena buruknya pengelolaan risiko. Dalam hal keamanan, banyak perusahaan berada pada kondisi yang lebih buruk dibandingkan enam bulan yang lalu saat terjadi mitigasi risiko data perusahaan dan pelanggan.

Teknologi AI memang berkembang dengan cepat. Kurangnya kontrol keamanan yang memadai tentu meningkatkan risiko bagi perusahaan. Itu sebabnya, perusahaan dan tenaga profesional perlu bertindak cepat dalam memahami risiko dan menentukan kontrol yang sesuai. Di samping itu, tata kelola risiko perlu bersifat cukup fleksibel agar lebih adaptif saat ancaman baru muncul.

 

Artikel ini telah diterbitkan oleh The Risk Management Society, dengan judul Managing Data Security Risks of AI Technology oleh Neil Hodge pada 1 Agustus 2023.

By |

Apakah Strategi Risiko Dewan Anda Hari Ini Sesuai dengan Risiko Hari Esok?

Oleh: B. Pradipta & Sekretariat IRMAPA

Pandemi COVID-19 telah meningkatkan risiko yang sudah ada di mana-mana, termasuk serangan keamanan siber, gangguan rantai pasokan, dan ancaman eksternal lainnya. Sehingga manajemen risiko yang kuat sangat penting untuk ketahanan perusahaan dalam lingkungan yang tidak pasti ini, bahkan manajemen risiko menjadi prioritas utama dalam agenda dewan. Menurut EY Global Board Risk Survey EY 2021, hampir 8 dari 10 dewan direksi percaya bahwa manajemen risiko yang lebih baik akan sangat penting dalam memampukan organisasi mereka melindungi dan membangun nilai dalam lima tahun ke depan.

Meski begitu, banyak anggota dewan kurang percaya diri dengan kemampuan organisasi mereka dalam mengelola risiko. Hanya 18% responden survei percaya bahwa tanggap bencana dan perencanaan kontinjensi organisasi mereka sangat efektif, sementara hanya 13% percaya bahwa organisasi mereka sangat efektif dalam menanamkan aktivitas risiko dan kepatuhan.

Jelas, ada ruang yang signifikan untuk perbaikan. Dewan memiliki kesempatan untuk membingkai ulang pendekatan manajemen risiko perusahaan mereka untuk dunia pasca-pandemi. Mereka dapat melakukan pengawasan risiko yang berhasil dan mendorong hasil risiko yang lebih efektif dalam tiga cara utama.

Lebih fokus pada risiko yang muncul dan atipikal

Dewan dan manajemen mungkin secara teratur memantau dan menangani risiko tradisional, seperti perubahan peraturan, penurunan permintaan, dan peningkatan biaya pinjaman, tetapi mereka perlu lebih memperhatikan risiko yang tidak lazim dan muncul. Hanya 39% dalam survei yang disebutkan di atas mengatakan bahwa perusahaan mereka dapat mengelola risiko tersebut secara efektif, yang mungkin termasuk ancaman yang berkaitan dengan teknologi baru atau risiko iklim.

Untuk menghadapi risiko yang muncul secara lebih efektif, dewan harus melihat risiko melalui perspektif jangka panjang — idealnya mempertimbangkan jangka waktu lebih dari lima tahun. Perspektif jangka panjang sangat penting karena banyak risiko mungkin hanya berdampak kecil hari ini tetapi dapat meningkat dalam 5-10 tahun ke depan. Saat ini dewan menghabiskan sedikit waktu untuk melihat risiko strategis jangka panjang karena kendala waktu dan kurangnya keahlian. Oleh karena itu, mereka perlu memfokuskan kembali waktu mereka dan mendiversifikasi keahlian anggota mereka serta memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi waktu yang dihabiskan untuk tugas-tugas rutin.

Manfaatkan data dan teknologi untuk mengelola risiko perusahaan

Penggunaan teknologi secara menyeluruh untuk mengidentifikasi dan mengelola risiko merupakan pendorong utama manajemen risiko. Teknologi otomatisasi, misalnya, dapat digunakan untuk menangani tugas-tugas manual, sehingga memungkinkan profesional risiko untuk fokus pada prioritas yang lebih bernilai tambah. Pengumpulan dan pemantauan data dapat dilakukan secara otomatis secara real time, memungkinkan potensi risiko untuk ditandai lebih cepat daripada menggunakan pendekatan manual murni. Selain otomatisasi, memanfaatkan artificial intelligence (AI) dapat membantu membaca, meninjau, dan memvalidasi pelaporan keuangan. Dengan teknologi AI juga dapat membantu menganalisis data yang sangat banyak dalam waktu yang jauh lebih singkat.

Dewan harus mengamanatkan fungsi risiko untuk memanfaatkan otomatisasi baru, AI, dan alat pelaporan untuk memantau dan mengelola risiko. Untuk investasi dalam teknologi, perusahaan memerlukan alokasi anggaran yang cukup serta keselarasan dengan keseluruhan strategi teknologi dan data organisasi.

Dewan juga harus mengarahkan manajemen untuk meningkatkan cakupan dan kedalaman pelaporan risiko. Pelaporan risiko yang efektif berwawasan ke depan dan prediktif, dan mencakup risiko yang muncul dan atipikal, antara lain. Ketika dilakukan dengan benar, itu bisa menjadi pendorong yang kuat untuk manajemen risiko yang efektif.

Menyelaraskan budaya perusahaan dengan strategi 

Budaya perusahaan yang selaras dengan tujuan organisasi sangat penting untuk melindungi dan menciptakan nilai. Jika tidak, risiko meningkat dan nilai tidak tercapai. Faktanya, ketidakselarasan antara budaya dan strategi adalah tantangan terbesar terkait tenaga kerja dalam manajemen risiko. Budaya juga penting dalam manajemen risiko perusahaan, yang memengaruhi cara organisasi mengidentifikasi dan mengelola risiko.

Jelas, penting untuk mengalokasikan waktu yang cukup untuk membahas budaya di tingkat dewan. Namun survei menemukan bahwa 27% dewan tidak pernah atau jarang mendiskusikan budaya yang dibutuhkan untuk mendukung strategi organisasi mereka. Ini perlu diubah. Dewan dapat mengatur budaya dan bekerja dengan manajemen untuk menentukan, menerapkan, dan mengukur budaya perusahaan yang selaras dengan strategi organisasi, sehingga memperkuat manajemen risiko.

Untuk mencapai hal ini, dewan harus meninjau bagaimana manajemen mengartikulasikan budaya yang diinginkan organisasi dan berupaya menutup kesenjangan yang ada. Itu juga harus mempertimbangkan menyelaraskan kompensasi eksekutif dengan perilaku dan budaya perusahaan yang diinginkan dan menilai apakah ada hubungan yang jelas antara penghargaan dan perilaku yang diinginkan.

Dewan juga dapat memanfaatkan analitik tren budaya, pembandingan dengan orang lain, survei sikap risiko, dan kesadaran risiko. Tinjauan berkala terhadap metrik budaya dalam organisasi, seperti survei pulsa karyawan, wawancara masuk dan keluar karyawan, serta survei relevan lainnya, harus dilakukan.

Karena lingkungan risiko dalam bisnis menjadi semakin kompleks, dewan perlu mendorong organisasi mereka untuk melakukan semua upaya untuk mengidentifikasi, memitigasi, mengelola, dan bahkan mengantisipasi ancaman baru. Dewan dapat membingkai ulang pendekatan organisasi mereka terhadap manajemen risiko dengan mengkatalisasi perubahan melalui penekanan pada budaya dan teknologi, sambil mengadopsi perspektif jangka panjang dalam mengelola risiko.

Artikel ini telah diterbitkan oleh EY, dengan judul Is Your Board Risk Strategy Today Fit for The Risks of Tomorrow? pada 27 Januari 2023. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |
Go to Top