Artikel

Artikel2021-01-27T19:01:07+07:00

Lingkup Fungsi Pemimpin Risiko

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Perubahan dalam lingkungan risiko saat ini bergerak dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ancaman-ancaman yang baru muncul kian sulit untuk diatasi. Studi Manajemen Risiko Global Accenture 2019 menemukan bahwa para pemimpin risiko (risk leader) kini menghadapi tantangan yang lebih tinggi.

Sebanyak 72 persen orang dalam survei Accenture menyebutkan adanya risiko baru yang kompleks dan saling berhubungan. Risiko-risiko ini memberi tiga tantangan teratas, yaitu 1) risiko teknologi yang mengganggu; 2) pelanggaran data; dan 3) risiko operasional.

Dalam menghadapi risiko-risiko ini, perubahan yang cepat harus dilakukan. Sejumlah solusi perlu dipersiapkan oleh para risk leader dalam menghadapi ancaman utama.

Beberapa solusi yang dapat dilakukan terbagi atas beberapa poin sebagai berikut:

  1. Berubah menjadi digital untuk menghadapi ancaman digital
  • Teknologi dapat meningkatkan efisiensi, tetapi juga memberikan konsekuensi tak terduga
  • Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dapat digunakan
  1. Memanfaatkan dorongan dari teknologi pintar (smart technology)
  • Pembelajaran mesin (machine learning/ML) memberikan kesiapan risiko yang lebih baik
  • Hanya 10 persen yang menerapkan ML ke kumpulan data (dataset)
  1. Menambahkan nilai (value) dari data
  • Terdapat nilai potensial dalam sumber data baru
  • Sebanyak 57 persen responden berencana menggunakan data pemasaran untuk mengelola risiko
  1. Berkolaborasi untuk menyusun kesiapan risiko yang lebih baik
  • Kolaborasi berarti mitigasi risiko yang lebih baik

Pemimpin risiko mungkin tidak akan sepenuhnya memegang kendali. Maka, yang direkomendasikan untuk dilakukan para risk leader adalah pendefinisian faktor-faktor dalam kontrol fungsi risiko dan menetapkan aset yang harus dilindungi. Hal ini dilakukan demi mengantisipasi, menilai, dan memitigasi seluruh ancaman baru yang mungkin muncul.

Artikel ini telah diterbitkan oleh Accenture, dengan judul Sektor Jasa Keuangan Terjaga Stabil di Tengah Divergensi Perekonomian Global pada 3 Desember 2019. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

OJK: Sektor Jasa Keuangan Nasional Terjaga Stabil

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Berdasarkan Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 27 Juni 2023, sektor jasa keuangan (SJK) nasional dinilai tetap terjaga stabil dengan permodalan yang kuat dan likuiditas yang memadai.

Lebih lanjut, kinerja perekonomian nasional juga mendapat penilaian yang relatif lebih baik dibandingkan negara-negara lain. Hal ini didukung oleh resiliensi sektor keuangan, seperti yang disebutkan dalam laporan Article IV Consultation oleh International Monetary Fund (IMF).

OJK, sementara itu, mendukung transisi yang baik (smooth) dari era pandemi melalui normalisasi kebijakan secara bertahap (targeted). Cara ini dilakukan agar tidak menimbulkan guncangan (cliff effect) dan akan ditempuh secara terukur sehingga tidak menimbulkan moral hazard. Di sisi lain, OJK juga meminta perbankan dan perusahaan pembiayaan untuk membentuk pencadangan yang memadai untuk mengantisipasi berbagai ketidakpastian.

Perkembangan Pasar Modal

Penegakan hukum di bidang pasar modal didukung dengan sejumlah kebijakan berikut.

  • Hingga Juni 2023, OJK telah mengenakan sanksi administratif atas pemeriksaan kasus di pasar modal kepada 24 pihak.
  • OJK  mengenakan sanksi administratif terhadap kasus PT Kresna Asset Management (PT KAM).
  • OJK mengenakan sanksi terhadap kasus PT Millenium Capital Management (MCM).

Perkembangan Sektor Perbankan

Fungsi intermediasi yang terjaga dan permodalan yang memadai menopang berjalannya perbankan di Indonesia meski ada pelemahan ekonomi mitra dagang utama, kebijakan hawkish di negara maju, tingginya tensi geopolitik, serta kecenderungan penurunan harga komoditas utama penopang ekspor. Untuk itu, OJK akan terus menjaga ketahanan perbankan terhadap sejumlah tekanan. Beberapa di antaranya adalah kondisi makro ekonomi, geopolitik, cyber-attack, termasuk penguatan digital maturity dan digital resiliency.

Perkembangan Sektor Industri Keuangan Nonbank (IKNB)

Beberapa langkah penegakan ketentuan di sektor IKNB dilakukan adalah sebagai berikut.

  1. OJK mencabut izin usaha PT Asuransi Jiwa Kresna (Kresna Life) pada 23 Juni 2023 karena RBC Kresna Life tetap tidak memenuhi ketentuan minimum yang disyaratkan.
  2. OJK telah memintaaction plan pemenuhan ekuitas minimum kepada 33 fintech P2P lending yang belum memenuhi ketentuan.
  3. OJK telah melakukan supervisory actiondengan melakukan monitoring terhadap delapan perusahaan pembiayaan (PP) yang belum memenuhi ketentuan ekuitas minimum sesuai POJK Nomor 35/POJK.05/2018.

Perkembangan Edukasi dan Pelindungan Konsumen

Peran Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) terus didukung oleh OJK sebagai forum koordinasi akselerasi perluasan akses keuangan regional. Tujuannya, hal ini dapat menunjang pemerataan literasi dan inklusi keuangan nasional.

Arah Kebijakan

Sejumlah langkah kebijakan yang terukur ditempuh oleh OJK demi menjaga stabilitas sektor keuangan. Diharapkan, SJK menjadi katalis positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Kebijakan OJK meliputi kebutuhan untuk

  1. menjaga stabilitas sistem keuangan,
  2. mendukung penguatan SJK dan infrastruktur pasar,
  3. memperkuat tata kelola OJK,
  4. mendorong literasi dan inklusi keuangan,
  5. memperkuat pelindungan konsumen, serta
  6. menangani lembaga jasa keuangan (LJK) dalam perhatian khusus.

Proses Pengadilan

Hingga 23 Juni 2023, OJK telah menyelesaikan total 104 perkara. Jumlah ini terdiri atas 82 perkara perbankan, 5 perkara pasar modal, dan 17 perkara IKNB.

Selain itu, terdapat pula perkara yang telah diputus oleh pengadilan, yaitu sebanyak 89 perkara, termasuk 71 perkara yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap (in kracht), 2 perkara dalam proses banding, dan 16 perkara dalam tahap kasasi.

Artikel ini telah diterbitkan oleh OJK, dengan judul Sektor Jasa Keuangan Terjaga Stabil di Tengah Divergensi Perekonomian Global pada 4 Juli 2023. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Penetapan Konteks dalam Manajemen Risiko Strategis – Memahami Perbedaan Antara ‘Teks’ Versus ‘Konteks’

Bacaan 5 menit bagi praktisi manajemen risiko senior

Oleh: Dr. F. Antonius Alijoyo

Bagi para profesional bidang manajemen risiko yang mendalami Standar Nasional Indonesia SNI:ISO 31000 Pedoman Manajemen Risiko, tentunya paham bahwa langkah pertama dalam proses manajemen risiko adalah penetapan konteks. Terkait dengan hal tersebut, penulis menuangkan hasil diskusi singkat di bawah ini.

‘Orang dapat membaca dan bahkan menghapal teks, tetapi sering masih buta konteks dalam memahami risiko yang dihadapi oleh organisasi’ … ucapan tersebut disampaikan oleh seorang profesional senior ke penulis di konferensi internasional manajemen risiko di awal tahun 2023. Lanjut beliau: ‘Alhasil, penanganan atau implementasi manajemen risiko menjadi sekedar kepatuhan terhadap regulasi dan berorientasi pada masa lalu; hal ini menjadi hambatan tersendiri dalam penanganan risiko – terutama risiko strategis yang membutuhkan pemahaman konteks organisasi dan berorientasi ke depan serta bersifat dinamis.

Penulis kemudian menanyakan apakah pernyataan dan observasi beliau tentang hal ini spesifik di sektor, fungsi, atau jenjang tertentu. Jawaban beliau sangat lugas yaitu ‘hampir di semua sektor, industri, dan berbagai jenjang dalam suatu organisasi’. Kemudian, beliau menambahkan ‘bahkan di jenjang senior misalkan eselon satu atau sederajat di sektor publik dan di tingkat direksi serta dewan komisaris di sektor perusahaan’.

Perbincangan ini sejalan dengan pengamatan penulis bahwa memang masih banyak para praktisi melihat, memaknai dan menjalankan penerapan manajemen risiko entitas mereka terbatas sebagai pemenuhan kepatuhan, bersifat administratif serta tenggelam dalam banyak penanganan operasional yang tidak terlalu bernilai tambah. Juga sering didapatkan bahwa penerapan manajemen risiko tersebut lebih diarahkan demi kebutuhan dan tujuan pelaporan yang dituntut oleh regulator. Dalam hal ini, mereka akan terdorong untuk sekedar gugur kewajiban (Check list attitude) dan kehilangan tujuan sejati manajemen risiko yaitu ‘menciptakan dan melindungi nilai organisasi’ yang membutuhkan kesesuaiannya dengan empat dimensi konteks sebagaimana disarankan dalam SNI ISO 31000 Standar Manajemen Risiko, yaitu:

  • Konteks Eksternal
  • Konteks Internal
  • Konteks Manajemen Risiko
  • Konteks Penetapan Kriteria Risiko

Sementara pembaca dapat mendalami bagaimana penetapan konteks dalam SNI ISO 31000 melalui link berikut:

Penulis meneruskan perbincangan di atas dengan satu pertanyaan ke beliau ‘apa saran Bapak untuk memampukan dan sekaligus mendorong praktisi memahami konteks risiko sehingga pengambilan keputusan dan tindakan mereka dalam mengelola risiko menjadi efektif’?.

Sebelum menjawab, beliau tersenyum dan kemudian berkata ‘kembali ke faktor manusia, kompeten atau tidak yaitu punya pengetahuan memadai (knowledge), keterampilan cukup (skill), dan sikap mental yang positif dan berintegritas (attitude)’. Untuk ke arah sana, sebaiknya hindarkan tiga hal yang dapat menghambat cara pikir dan cara pandang seseorang yaitu: pertama: Zona nyaman (Comfort Zone) yang tidak mau keluar dari zona nyaman dan enggan berubah, kedua: ketidakberdayaan (helpless mentality) yang memberikan justifikasi negatif untuk tidak melakukan hal-hal baru dan progresif misal ‘Belum memiliki pengalaman’ atau ‘tidak punya waktu’, serta yang ketiga atau terakhir: memilih jalan atau cara mudah (Easy Way) sehingga dapat tergelincir ke dalam godaan potong kompas, dan atau tidak membangun budaya sadar dan tangguh terhadap risiko’.

Saya mengucapkan terimakasih kepada beliau dan berharap apa yang disampaikan dapat menular kepada para praktisi dan pengambil keputusan di berbagai organisasi. Beliau yang saya kenal lebih dari 25 tahun dan sudah memiliki prestasi dan kompetensi di tingkat dunia dan hampir di segala bidang, selalu rendah hati untuk belajar, membuka hati dan pikiran sehingga tidak pernah lepas dari konteks untuk memaknai fenomena strategis dan dinamis. Pengertian teks diperlukan, tetapi pemaknaan konteks dibutuhkan agar penerapan manajemen risiko dapat efektif, terutama penanganan risiko strategis.

Oleh karena itu, perlu diwaspadai kekeliruan yang dapat terjadi bahwa konteks dilihat sama dengan teks, yaitu rujukan tertulis (teks) yang kemudian mentah-mentah diambil sebagai lingkaran konteks organisasi. Hal ini dapat menyebabkan organisasi kehilangan arah dan tujuan penerapan manajemen risiko karena tidak selaras lagi dengan konteks organisasi tersebut. Misal adanya penetapan kendali risiko tertentu yang sudah ketinggalan jaman dan bersifat administratif yang harus dilakukan sebelum tindakan operasional tertentu dijalankan (catatan: yang pada masanya efektif karena administratif menjadi prasyarat sebelum tindakan operasional dilakukan), tetap dipakai padahal operasional organisasi sudah harus menyesuaikan dengan konteks eksternal mereka misal beroperasi di jaringan internasional dan terkait dengan jejaring internet berbasis data dan ‘blockchain’ yang memungkinkan dan bahkan diharapkan adanya tindakan serentak antara keputusan administratif dengan operasional dan sekaligus dengan pelacakan audit.

Sebagai penutup, penulis mensitir pernyataan di bawah ini:

  • Context refers to factors acting upon composers and responders that impinge on meaning. Context and text are in a symbiotic relationship in the production of meaning. To understand context we need to look beyond the text and consider the world in which it was produced and the worlds of its reception.
  • Textual analysis focuses on the text itself whereas contextual analysis focuses on the surrounding conditions and environment in which the text was written. When one analyzes a piece of text using textual analysis they ask questions about the text itself.

Mudah-mudahan artikel ini bermanfaat.

By |

Prediksi Kejahatan Siber (dan Keamanan) untuk Tahun 2023

Oleh: B. Pradipta & Sekretariat IRMAPA

Pelaku ancaman terus beradaptasi dengan teknologi, praktik, dan bahkan undang-undang privasi data terbaru—dan hal ini kembali lagi kepada organisasi untuk tetap selangkah lebih maju dengan menerapkan tindakan dan program keamanan siber yang kuat.

Berikut adalah gambaran bagaimana kejahatan dunia maya akan berkembang pada tahun 2023 dan apa yang dapat Anda lakukan untuk mengamankan dan melindungi organisasi Anda di tahun mendatang.

Peningkatan serangan rantai pasokan digital

Dengan meningkatnya modernisasi dan digitalisasi rantai pasokan yang cepat muncul risiko keamanan siber. Gartner memperkirakan bahwa pada tahun 2025, 45% organisasi di seluruh dunia akan mengalami serangan terhadap rantai pasokan perangkat lunak mereka—ini meningkat tiga kali lipat dari tahun 2021. Sebelumnya, jenis serangan ini bahkan tidak mungkin terjadi karena rantai pasokan tidak terhubung ke internet. Namun saat ini, rantai pasokan perlu diamankan dengan benar.

Pengenalan teknologi baru di sekitar rantai pasokan perangkat lunak ini memungkinkan adanya celah keamanan yang belum teridentifikasi, tetapi penting untuk diungkap guna melindungi organisasi Anda di tahun 2023.

Sehingga apabila ada rantai pasokan perangkat lunak yang baru maka sangat penting untuk mengintegrasikan konfigurasi keamanan siber yang diperbarui. Selain itu, juga perlu mempersiapkan sumber daya manusia yang memiliki pengalaman dengan rantai pasokan digital untuk memastikan langkah-langkah keamanan diterapkan dengan benar.

Serangan siber khusus seluler sedang meningkat

Tidak mengherankan bahwa dengan meningkatnya penggunaan ponsel cerdas di tempat kerja, perangkat seluler menjadi target yang lebih besar untuk serangan siber. Organisasi perlu melakukan tindakan pencegahan ekstra untuk mencegah serangan yang dimulai dari frontliner dengan mengimplementasikan perangkat lunak yang membantu memverifikasi identitas pengguna. Menurut World Economic Forum’s 2022 Global Risks Report, 95% insiden keamanan siber disebabkan oleh kesalahan manusia. Fakta ini sendiri menekankan perlunya prosedur perangkat lunak yang mengurangi kemungkinan kesalahan manusia dalam hal verifikasi.

Gandakan keamanan cloud

Karena semakin banyak perusahaan yang memilih aktivitas berbasis cloud, keamanan cloud—teknologi, kebijakan, atau layanan apa pun yang melindungi informasi yang disimpan di cloud—harus menjadi prioritas utama di tahun 2023 dan seterusnya. Seiring dengan perkembangan teknologi, penjahat siber juga menjadi lebih canggih dan mengembangkan taktik mereka, yang artinya keamanan cloud sangat penting karena Anda lebih sering mengandalkannya di organisasi Anda.

Perlindungan paling andal terhadap kejahatan siber berbasis cloud adalah filosofi zero trust. Prinsip utama di balik zero trust adalah memverifikasi semuanya secara otomatis—dan pada dasarnya tidak mempercayai siapa pun tanpa semacam otorisasi atau pemeriksaan. Tindakan keamanan ini sangat penting untuk melindungi data dan infrastruktur yang disimpan di cloud dari serangan siber.

Ransomware-as-a-Service akan tetap ada

Dengan meningkatnya ancaman ransomware, muncul peningkatan penggunaan Ransomware-as-a-Service (RaaS). Fenomena yang berkembang ini adalah ketika penjahat ransomware menyewakan infrastruktur mereka kepada penjahat siber atau kelompok lain. Kit RaaS mempermudah pelaku ancaman untuk menyebarkan serangan mereka dengan cepat dan terjangkau, yang merupakan kombinasi berbahaya untuk memerangi siapa pun yang memimpin protokol dan prosedur keamanan siber. Untuk meningkatkan perlindungan terhadap pelaku ancaman yang menggunakan RaaS, perlu koordinasi dengan end-user. Sehingga penting untuk memastikan end-user mendapatkan pelatihan agar mereka dapat menjaga keamanan dari serangan ransomware. Pastikan prosedur keamanan siber Anda didokumentasikan dengan jelas dan dipraktikkan secara teratur sehingga pengguna dapat tetap awas dan waspada terhadap pelanggaran keamanan.

Bersiap untuk undang-undang privasi data semakin ketat

Kami tidak dapat berbicara tentang keamanan siber pada tahun 2023 tanpa menyebutkan undang-undang privasi data. Dengan undang-undang privasi data baru yang akan berlaku di beberapa negara bagian selama tahun depan, sekaranglah waktunya untuk menilai prosedur dan sistem Anda saat ini untuk memastikannya sesuai. Undang-undang privasi data sering kali mengharuskan perubahan pada cara perusahaan menyimpan dan memproses data, dan menerapkan perubahan baru ini dapat membuka risiko tambahan bagi Anda jika tidak diterapkan dengan hati-hati. Pastikan organisasi Anda mematuhi protokol keamanan siber yang tepat, termasuk zero trust, seperti yang disebutkan di atas.

Artikel ini telah diterbitkan oleh ERM Academy, dengan judul Cybercrime (and Security) Predictions for 2023. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

3 Implikasi Utama Invasi Rusia ke Ukraina bagi Pemimpin Audit dan Risiko

Oleh: B. Pradipta & Sekretariat IRMAPA

Invasi Rusia ke Ukraina telah mengundang kecaman global, terkhusus untuk fungsi risiko dan audit, putaran cepat sanksi ekonomi dan tindakan legislatif lainnya terhadap Rusia. Lanskap risiko telah digambar ulang dalam semalam. Dengan demikian, tim risiko dan audit harus bergerak cepat untuk memastikan organisasi mereka mematuhi langkah-langkah terbaru.

Untuk membantu Anda merespons, pakar Gartner telah mengidentifikasi 3 tindakan utama yang harus dilakukan:

  1. Audit harus memastikan cakupan risiko yang memadai

Saat situasi terungkap, dokumentasikan setiap proses atau perubahan kontrol. Dengan cara ini, tim Anda siap memberi saran kepada pimpinan tentang pentingnya menetapkan kembali kontrol saat sudah aman untuk melakukannya.

Ian Beale, Wakil Presiden, Penasihat di Gartner menyampaikan, “Dalam situasi yang bergerak cepat seperti ini, mungkin perlu melibatkan semua pihak untuk memastikan perlindungan risiko yang memadai. Audit harus bermitra dengan manajemen risiko untuk mendukung identifikasi dan respons risiko serta bekerja dengan fungsi lini pertama untuk mengidentifikasi area di mana audit dapat menyumbangkan keahliannya, seperti analisis, penelitian, dan pelaporan.”

Anda perlu menjadi fleksibel sehingga Anda dapat menyesuaikan pekerjaan yang direncanakan dan ruang lingkup setiap tugas untuk memastikan fokus pada waktu yang tepat pada topik yang tepat.

Juga menilai kembali latihan perencanaan skenario untuk memastikan mereka tetap mempertimbangkan faktor-faktor yang relevan dan terus mendukung rencana bisnis jangka panjang dan pendek.

  1. Tim risiko harus meningkatkan frekuensi pelaporan frontline

“Lanskap risiko berubah hampir setiap hari karena semakin banyak tindakan terhadap Rusia yang diberlakukan,” kata Beale. “Tingkatkan komunikasi dengan pemangku kepentingan tentang risiko dan peristiwa yang muncul dan bagaimana kaitannya dengan risiko utama perusahaan. Kirimkan laporan risiko frontline lebih sering dari biasanya agar pembuat keputusan tetap mengikuti situasi risiko dan upaya respons.”

Mengumpulkan dan mengkomunikasikan informasi tentang risiko yang muncul dan keadaan baru yang dapat memengaruhi risiko yang teridentifikasi dalam daftar risiko perusahaan. Memberikan update sementara atas perubahan profil risiko organisasi dan status upaya mitigasi.

Juga, siapkan laporan “pendalaman mendalam” risiko perputaran cepat untuk komite risiko eksekutif dan dewan direksi. Pastikan untuk mencatat invasi Rusia ke Ukraina dalam laporan risiko yang ada untuk menyoroti risiko baru dan lebih besar.

Pastikan untuk meninjau kembali asumsi risiko utama untuk memastikannya masih sesuai dengan realitas operasional. Dari sana, tetapkan indikator risiko utama yang akan memicu eskalasi risiko dan aktivitas respons jika dilanggar.

  1. Mengkoordinasikan respons dan aktivitas krisis

“Kecepatan munculnya risiko baru karena invasi Rusia ke Ukraina berpotensi mengalahkan kemampuan fungsi jaminan individu untuk merespons,” kata Beale. “Untuk memastikan respons krisis yang efektif dan efisien, fungsi penjaminan harus mengoordinasikan dan menyelaraskan aktivitas mereka.”

Sangat penting untuk berkolaborasi di seluruh fungsi jaminan saat menginventarisasi perubahan risiko akibat invasi Rusia ke Ukraina. Jangan lewatkan kesempatan untuk memformalkan pembagian informasi dengan mengidentifikasi metrik yang dilacak di berbagai fungsi.

Idealnya, fungsi penjaminan bekerja menuju database risiko tunggal, kontrol, masalah, dan rencana tindakan yang mencakup masukan dari semua fungsi penjaminan internal. Hal ini dapat memicu laporan bersama kepada dewan dan komite eksekutif dengan pandangan tunggal dan komprehensif tentang risiko yang dihadapi organisasi.

Penting untuk dicatat bahwa meskipun aksi perusahaan mungkin sesuai dengan hukum, ada risiko signifikan yang terkait dengan persepsi publik atas aksi yang mungkin dilihat sebagai usaha untuk mendapatkan keuntungan dari konflik.

Tindakan ini perlu mulai diambil oleh beberapa pemimpin audit dan risiko secara lebih luas untuk menggerakkan organisasi mereka menjadi lebih tangguh. Ini termasuk mendobrak silo antara fungsi jaminan dan membangun budaya perusahaan yang dapat memprediksi, menyerap, bereaksi, dan memulihkan dari gangguan besar. Gangguan dapat berasal dari bencana alam, konflik di masa depan, atau perubahan pasar besar, yang mana pun dapat memengaruhi pelanggan, kolega, pemasok, atau pendanaan.

Artikel ini telah diterbitkan oleh Gartner, dengan judul 3 Key Implications of Russia’s Invasion of Ukraine for Audit and Risk Leaders. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Empat Kunci Utama Strategi Keberlanjutan yang Sukses

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Untuk periode yang signifikan di tahun 2020, pandemi virus corona mematikan roda penggerak utama dalam ekonomi dunia. Emisi gas rumah kaca (GRK) untuk tahun ini diperkirakan sekitar 8% lebih rendah dari tahun 2019 – penurunan terbesar yang pernah tercatat. Namun untuk menjaga kenaikan suhu global di bawah 1,5°C – titik di mana perubahan iklim dapat berubah dari merusak menjadi bencana – PBB mengatakan bahwa kita perlu mencapai pengurangan semacam ini setiap tahun dari sekarang hingga tahun 2030. Ini pemikiran yang serius. Ini bisa menjadi tahun yang menentukan bagi keberlanjutan global.

BlackRock mengatakan 88% indeks berkelanjutan mengungguli indeks non-berkelanjutan dalam empat bulan pertama tahun 2020. Peter Bakker, presiden dan CEO Dewan Bisnis Dunia untuk Pembangunan Berkelanjutan, mengatakan. “Sepuluh tahun yang lalu, keberlanjutan adalah tentang tanggung jawab sosial perusahaan. Selama lima tahun terakhir, ini tentang bagaimana mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam strategi bisnis inti. Lima tahun ke depan adalah tentang bagaimana kami mengintegrasikannya ke dalam kapitalisme.”

Kelestarian lingkungan mencakup serangkaian topik, mulai dari emisi karbon hingga hilangnya keanekaragaman hayati. Kolaborasi antara PBB, WWF dan LSM lainnya, Science Based Target Initiative (SBTi) membantu perusahaan mengurangi emisi. Dikatakan bahwa aksi iklim yang berani dapat menghasilkan keuntungan ekonomi global sebesar $26 triliun dan menciptakan 65 juta pekerjaan baru selama 12 tahun ke depan: Perubahan tidak harus menjadi pilihan antara ekonomi dan lingkungan kita. Membangun keseimbangan yang tepat bisa menjadi tantangan terberat yang pernah dihadapi umat manusia.

Untuk memecahkan teka-teki keberlanjutan, bisnis harus memahami empat kunci utama:

  1. Ukur jejak kaki Anda

Untuk memahami perubahan apa yang dibutuhkan, perusahaan harus memahami dampak lingkungan mereka. Secara tradisional, itu berfokus pada operasi bisnis sendiri. Myles McCarthy, direktur Carbon Trust, yang bekerja dengan bisnis, pemerintah, dan organisasi di seluruh dunia untuk menurunkan emisi karbon mereka, mengatakan, “Kita perlu melihat emisi di seluruh rantai nilai untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap dan menangani area yang bertanggung jawab atas emisi terbesar.”

  1. Sesuaikan operasi Anda

Berbekal pengetahuan yang lebih besar dan target yang realistis, bisnis dapat mulai menyesuaikan operasinya. Dengan cara perusahaan menggunakan energi, air, dan bahan baku secara lebih efisien. Alihkan sumber energi ke energi terbarukan, pertimbangkan untuk menghentikan armada kendaraan bertenaga bensin secara bertahap, mendaur ulang sebanyak mungkin.

  1. Rencanakan perubahan jangka panjang

Jalan menuju keberlanjutan mungkin panjang dan menantang bagi beberapa bisnis. Itulah mengapa perusahaan merasa sulit untuk beradaptasi dengan perubahan. Jadi, tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya memerlukan tingkat perencanaan yang belum pernah terjadi sebelumnya, kerjasama dan adaptasi.

  1. Berkomunikasi secara transparan

Kesadaran akan masalah keberlanjutan di antara pelanggan, karyawan, investor, dan regulator terus meningkat. Dalam masalah keberlanjutan, perusahaan harus memahami jejak mereka, menggunakan pengetahuan itu untuk menyesuaikan operasi mereka, merencanakan perubahan jangka panjang, dan berkomunikasi dengan jelas dan jujur ​​kepada karyawan, pelanggan, dan investor.

Artikel ini telah diterbitkan oleh Roland Berger, dengan judul Four Key Elements of a Successful Sustainability Strategy. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Risiko yang Muncul, Peluang Konvergen

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Risiko yang muncul adalah risiko yang belum teridentifikasi, tidak aktif untuk waktu yang lama, atau terkait dengan acara yang dijadwalkan, seperti pemilihan, di mana waktunya diketahui tetapi hasilnya tidak. Dalam kasus-kasus ini, risikonya belum mempengaruhi perusahaan secara material. Risiko yang muncul sulit untuk diukur, tetapi perusahaan masih harus bersiap untuk kemungkinan hasil dan memitigasi paparan risiko.

Apa pun jenis risikonya, proses manajemen melibatkan identifikasi, penilaian, mitigasi, pemantauan, dan pelaporan. Proses ini seringkali merupakan pekerjaan yang sangat manual, dan seringkali melibatkan pengumpulan tim untuk mengumpulkan data, meninjau laporan berita, membuat dan mengeksplorasi skenario, serta membuat proyeksi.

Sekarang ada sistem berbasis web yang menerapkan kecerdasan buatan (AI) ke pendekatan perencanaan skenario untuk mengidentifikasi risiko yang muncul. Aplikasi cerdas terus memantau berbagai sumber dunia nyata, seperti media sosial, berita, dan blog, untuk mengidentifikasi kekuatan pendorong utama munculnya risiko.

Sistem ini menggabungkan pengetahuan domain pakar manusia dengan penalaran dan perencanaan mesin untuk menghasilkan berbagai kemungkinan skenario. Teknologi ini dapat mengurangi waktu perencanaan skenario dari beberapa minggu menjadi hanya beberapa hari atau jam.

Teknologi ini berpotensi mengubah manajemen risiko secara radikal dari taktis dan defensif menjadi strategis, oportunistik, dan proaktif. Dengan menggunakan AI, CRO dan tim risiko dapat mengelola risiko secara lebih efektif dan efisien di seluruh perusahaan. Dengan AI, risiko dapat diidentifikasi dan dinilai pada tingkat yang lebih dalam dengan wawasan yang lebih luas, seperti pada tingkat negara atau bisnis, yang mungkin lebih dekat dengan letak risiko.

Sistem risiko berbasis AI dapat memindai media sosial dan sumber berita yang lebih tradisional untuk mengidentifikasi masalah “tren” dan mendorong pengguna untuk memilih risiko tertentu berdasarkan informasi baru. Misalnya, jika “resesi” adalah masalah yang sedang tren, risiko spesifik yang ditandai mungkin mencakup kemungkinan penurunan investasi asing, suku bunga yang lebih rendah, atau inflasi yang lebih tinggi.

Sistem ini juga memungkinkan skenario yang dipilih pengguna meskipun tidak sedang tren. Berdasarkan risiko yang dipilih, sistem AI dapat menghasilkan berbagai skenario. Faktor penting lainnya adalah bahwa orang sering datang ke tugas manajemen risiko dengan bias yang kuat, yang dapat mewarnai penilaian risiko akhir. Sistem AI menawarkan analisis berbasis fakta yang tidak memihak.

Para CRO dapat segera mulai menerapkan AI untuk manajemen risiko di seluruh perusahaan mereka:

  • Mengidentifikasi risiko yang muncul paling baik dilakukan sedekat mungkin dengan masalah.
  • Tunjuk atau rekrut pejabat dengan keahlian domain tertentu dan kecenderungan untuk menerima ide-ide baru. Para pejabat ini dapat membantu “melatih” sistem AI tentang mekanisme dan skenario di bidang keahlian mereka.
  • Bekerja dengan semua unit bisnis dan fungsi untuk memutuskan seberapa sering menilai risiko yang muncul.

Mengidentifikasi risiko yang muncul bukanlah usaha yang statis. Tantangan dan peluang adalah menggunakan manajemen risiko sebagai alat strategis di seluruh perusahaan.

 

Artikel ini telah diterbitkan oleh IBM, dengan judul Emerging Risk, Converging Opportunity. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Kecerdasan Buatan Membawa Revolusi dalam Distribusi Asuransi

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan personalisasi membawa revolusi pada distribusi asuransi. Perusahaan asuransi yang cepat menangkap peluang dapat meningkatkan keuntungan mereka melalui penghematan biaya dan keuntungan efisiensi dan memenangkan pangsa pasar.

Mengapa AI Sangat Berharga dalam Distribusi?

Melalui personalisasi berbasis data, AI dapat membuat penawaran pelanggan yang tepat melalui saluran yang paling tepat. Ini memaksimalkan penyerapan, meningkatkan pendapatan dan pangsa pasar. Selain itu, memungkinkan perusahaan asuransi untuk mengidentifikasi saluran yang paling hemat biaya dan mengurangi biaya distribusi.

Teknologi tersebut dapat mengoptimalkan berbagai macam proses dalam distribusi. Setidaknya, pada tiga bidang: membantu agen menemukan tindakan terbaik berikutnya, perolehan prospek, dan dukungan penjualan umum.

Personalisasi menggunakan AI juga membantu memecahkan masalah lama yang dihadapi oleh banyak perusahaan asuransi yang mendistribusikan melalui agen atau broker: produktivitas agen yang stagnan.

Adalah sebuah solusi untuk perusahaan asuransi di Singapura yang pertumbuhannya telah stabil dan membutuhkan permulaan. Perusahaan diperkenalkan dengan “mesin yang selalu belajar” yang menghasilkan kombinasi prospek, agen, dan produk yang paling tepat sambil memberikan poin pembicaraan yang dipersonalisasi kepada agen. Ini menantang secara teknis, dengan 300 juta catatan diproses untuk membuat model. Namun, hasilnya dramatis: produktivitas advisor melonjak 25%, yang pada gilirannya menambahkan 5 hingga 6 poin persentase ke pertumbuhan bisnis.

Saat perusahaan asuransi Belgia beralih ke distribusi bertenaga AI, perusahaan mendapatkan banyak manfaat, termasuk mesin personalisasi baru dan analitik canggih. Hasilnya adalah peningkatan pendapatan sebesar €20 juta.

Sementara perusahaan asuransi di Turki, BCG membantu merancang dan menerapkan proses bisnis yang didukung AI untuk memaksimalkan upselling dan cross-selling dengan mencocokkan pelanggan, agen, dan produk yang tepat. Hasilnya: perusahaan asuransi mendapatkan peningkatan 30% dalam penjualan produk.

Kemampuan AI yang kuat membantu perusahaan asuransi membangun keunggulan kompetitif dan ketahanan dengan membangun wawasan pelanggan yang mendalam dan memanfaatkan kumpulan nilai baru.

Perusahaan asuransi global yang berbasis di Amerika Utara melampaui peningkatan dramatis dalam kasus penggunaan individual. Hal ini bertujuan untuk memelihara hubungan yang lebih dalam dengan klien dan mengembangkan strategi inovatif yang ditingkatkan untuk setiap kasus penggunaan, menciptakan keuntungan jangka panjang yang dapat dipertahankan.

Meskipun demikian, penting untuk menyadari bahwa ada tantangan nyata yang harus diatasi. Untuk sebagian besar transformasi AI, hanya 30% upaya yang melibatkan tugas teknis seperti membangun platform data dan mengembangkan serta meningkatkan kinerja algoritme. Sebanyak 70% dari usaha difokuskan pada perubahan manajemen.

Data Adalah Fondasi

Perusahaan asuransi memiliki pengalaman selama berabad-abad dalam memanfaatkan data dalam penjaminan emisi, klaim, dan penetapan harga. Namun, bagi sebagian besar perusahaan asuransi, data dalam sistem mereka belum siap digunakan untuk penggunaan AI. Sebab data yang terkumpul tidak konsisten dan kualitas data dapat bervariasi secara substansial.

Solusinya adalah membangun fondasi digital baru yang dibangun menggunakan arsitektur modular berbasis cloud.

Perubahan Manajemen: Tantangan yang Nyata

Perubahan manajemen sangat penting dalam proyek AI mana pun, tetapi taruhannya sangat tinggi ketika digunakan dalam distribusi asuransi. Tantangannya adalah bahwa fungsi ini—yang sangat penting bagi bisnis perusahaan asuransi—biasanya dilakukan oleh advisor, agen, atau pialang dari luar.

Setiap sistem baru harus mendapat dukungan kelompok. Namun, beberapa dari mereka mungkin sangat skeptis terhadap perubahan. Mungkin mereka memiliki cara kerja sendiri dan beragam sikap terhadap teknologi. Bisa juga mereka menganggap beberapa perubahan tidak bermanfaat bagi mereka.

Mungkin juga agen enggan membagikan data yang diperlukan untuk keberhasilan proyek AI karena beberapa alasan. Salah satunya adalah ketakutan tentang perubahan dalam pembagian nilai antara mereka dan perusahaan asuransi—yang merugikan mereka.

Pola pikir agen dapat diubah menjadi keuntungan jika proses baru yang digerakkan oleh AI diimplementasikan dengan hati-hati. Agen memiliki mentalitas kewirausahaan dengan insentif keuangan yang kuat; mereka akan sangat mengadopsi cara kerja dan alat baru jika ini menghasilkan penjualan atau produktivitas tambahan.

Sejak awal proyek, penting untuk menunjukkan bahwa agen akan diberdayakan—bukan digantikan—oleh AI.

 

Artikel ini telah diterbitkan oleh BCG, dengan judul Smart Insurers Are Using AI to Power Distribution. Are You? pada 4 Januari 2023. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

3 Cara Perusahaan Konstruksi Memitigasi Risiko Proyek dan Meningkatkan Ketahanan

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Saat industri konstruksi membuat komitmen di tahun 2023 dan seterusnya, banyak negara memperluas anggaran konstruksi dan belanja infrastruktur utama. Hal ini akan memulai banyak proyek terencana dan kritis.

Namun, industri ini masih belum pulih dari dampak guncangan global, termasuk pandemi dan konflik di Ukraina, yang telah mengganggu masyarakat, rantai pasokan, dan perekonomian. Sekarang hampir setiap jenis proyek konstruksi — baik perumahan, komersial, industri, atau infrastruktur — terkena dampak tingkat inflasi tertinggi dalam lebih dari 30 tahun dan krisis tenaga kerja yang signifikan.

Meskipun ada optimisme tentang proyek baru dan pertumbuhan di masa depan, dalam jangka pendek hingga menengah, industri ini diperkirakan akan tetap dalam keadaan tak menentu.

Pertemuan risiko yang mempengaruhi industri konstruksi

Perusahaan konstruksi beroperasi dalam lanskap risiko yang sulit. Ketidakpastian harga saat ini secara signifikan mengganggu asumsi yang sebelumnya digunakan untuk memperkirakan biaya material. Akibatnya, sangat sulit untuk menganggarkan dan memperkirakan kemungkinan untuk proyek baru.

Realitas saat ini juga memengaruhi kepercayaan pemilik dalam memilih kontraktor umum dan mekanisme pengiriman yang tepat untuk proyek mereka di tengah meningkatnya kekhawatiran gagal bayar kontrak karena penetapan harga yang lebih tinggi, keterlambatan material, dan kekurangan pekerja terampil.

Terlepas dari banyaknya tantangan, industri dan para pemangku kepentingannya telah terbukti tangguh ketika menghadapi tingkat inflasi yang tinggi serta ketidakpastian biaya dan pasokan.

Sekarang industri memiliki akses ke data, informasi, dan perangkat yang lebih baik. Kemudahan ini berguna untuk membantu mereka memitigasi risiko dan membangun strategi ketahanan. Mengingat, dewasa ini semakin sulit untuk menetapkan dan mempertahankan anggaran proyek dan memenuhi jadwal yang telah ditetapkan.

Perusahaan konstruksi harus fokus pada tiga tindakan berikut.

  1. Tinjau kontrak dan mekanisme pengiriman

Keputusan strategis yang dibuat pada awal kontrak seringkali merupakan keputusan yang paling penting ketika dihadapkan pada tantangan, apakah perselisihan kontrak tentang peran dan tanggung jawab, pembengkakan biaya, wanprestasi kontraktor/subkontraktor, atau force majeure. Pada saat-saat seperti ini, penting untuk meningkatkan komunikasi dan mengusahakan kejelasan dalam perjanjian, dengan mengingat hal-hal berikut.

  • Satu ukuran tidak cocok untuk semua. Mulailah dengan pandangan baru pada kontrak daripada secara refleks menggunakan kembali kata-kata dari perjanjian sebelumnya.
  • Perhatikan baik-baik mekanisme pengiriman proyek yang Anda pilih, yang akan disertakan dalam kontrak Anda.
  • Sempurnakan kata-kata kontrak Anda untuk mengurangi risiko perselisihan, termasuk yang mungkin timbul dari kenaikan biaya, kekurangan tenaga kerja, dan gangguan rantai pasokan.
  1. Mengembangkan dan menerapkan sistem manajemen risiko proyek

Proyek konstruksi, terutama yang besar, membutuhkan keterlibatan berbagai subkontraktor di berbagai tahap. Keseluruhan proyek akan bergantung pada subkontraktor tertentu yang memiliki bahan yang dibutuhkan. Selain itu, personel terampil untuk melaksanakan pekerjaan selama tenggat yang diberikan. Hal tersebut dibutuhkan supaya proyek tetap berada di jalurnya.

Sementara banyak perusahaan memiliki sistem manajemen risiko perusahaan, hanya sedikit yang telah menetapkan sistem manajemen risiko proyek. Sistem ini dapat memperkuat kepercayaan keuangan dan pemangku kepentingan lainnya dalam suatu proyek dan membantu proyek tetap pada jalurnya melalui identifikasi risiko dan aksi mitigasi.

Sistem manajemen risiko proyek juga dapat mengidentifikasi masalah kinerja subkontraktor sejak dini dan membantu pemilik dan kontraktor mengatasi tantangan secara aktual, baik dengan bekerja sama dengan subkontraktor untuk mengatasi masalah tersebut atau mengidentifikasi penggantinya. Pendekatan mana pun dapat membantu mengurangi risiko gangguan proyek yang memicu penundaan yang memakan lebih banyak biaya.

  1. Ambil langkah-langkah untuk meminimalkan klaim

Klaim bisa saja dikaitkan dengan desain yang salah, pengerjaan yang buruk, dampak bencana alam, penundaan, atau subkontraktor. Hal ini dapat memengaruhi likuiditas perusahaan secara signifikan. Perusahaan harus fokus untuk mencoba mengurangi potensi klaim dengan mengidentifikasi masalah sejak dini dan menanganinya secara tepat waktu melalui sistem manajemen risiko proyek atau cara lain.

Jika klaim tidak dapat dihindari, penting untuk berfokus pada pengurangan biaya dan waktu pemrosesan agar pekerjaan dapat dilanjutkan. Perusahaan dapat menggunakan pembandingan klaim yang efektif untuk membantu menentukan praktik terbaik dalam menangani klaim dan mengidentifikasi peluang penghematan biaya. Penting juga untuk mengidentifikasi penyebab kerugian dan mengatasi masalah tersebut untuk mengurangi risiko tantangan serupa di masa mendatang.

Lanskap risiko geopolitik, ekonomi, dan sosial saat ini memberikan tekanan yang meningkat pada perusahaan konstruksi. Itulah alasan mengapa perusahaan konstruksi membutuhkan rencana manajemen risiko yang kuat. Tujuannya, membantu mereka mengidentifikasi risiko yang berkembang dan muncul serta mengambil tindakan untuk mengatasinya.

Risiko bisa menjadi lebih saling terkait dan kompleks. Itulah alasan mengapa kontraktor harus mencari pendekatan yang lebih kolaboratif dengan pemilik proyek yang memungkinkan risiko untuk dibagi dan proyek bergerak maju hingga berhasil diselesaikan.

Artikel ini telah diterbitkan oleh Marsh, dengan judul 3 Ways Construction Companies Can Mitigate Project Risk And Improve Resilience pada 12 Juni 2022. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Keharusan Bisnis Berbagi Informasi Siber untuk Pertahanan Kolektif

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Keamanan siber profesional hampir secara universal mendukung peningkatan berbagi informasi. Namun, berbagi informasi tidak akan pernah mudah. Sebab membutuhkan sumber daya yang berkelanjutan, komitmen dan dukungan.

Untuk memastikan tingkat keamanan siber yang tepat, kerja sama antara sektor publik dan swasta sangat penting. Keamanan siber tidak dapat ditangani semata-mata sebagai masalah teknis, justru harus dikelola sebagai risiko bisnis yang material. Sebab dampak yang bisa ditimbulkan dari insiden dunia maya adalah risiko utama.

Ancaman dunia maya saat ini dapat menimbulkan risiko eksistensial untuk perusahaan, mengganggu infrastruktur secara nasional atau global, bahkan menimbulkan korban jiwa.

Adapun tiga langkah kunci untuk menutup celah penyerang siber:

  1. Menjadikan berbagi informasi sebagai hak prerogatif pemimpin bisnis
  2. Mengelola masalah kepatuhan dan peraturan
  3. Mendefinisikan “berbagi” pada tataran praktis

Ketiga langkah ini harus dilaksanakan secara bersama-sama untuk mencapai berbagi informasi yang benar-benar produktif.

Agar perusahaan memiliki peluang berhasil mempertahankan diri, mereka harus menerima dan mengadopsi filosofi pertahanan kolektif. Berbagi informasi bukanlah hal baru, dan terbukti bukan masalah kompetitif.

Menanggapi potensi serangan siber yang berpotensi mengganggu operasional, para CEO mengakui tiga fakta utama:

  1. Musuh semakin canggih dan sangat kolaboratif.
  2. Meskipun investasi signifikan telah dilakukan, bank-bank tertinggal lebih jauh.
  3. Itu berarti status quo tidak dapat diterima.

Untuk memastikan keberhasilan dalam berbagi informasi siber ini, sangat penting untuk organisasi terlibat dalam kolaborasi dan memenuhi persyaratan. Adapun persyaratannya adalah sebagai berikut.

  • Memastikan aturan berbagi informasi
  • Menjaga kerahasiaan, melalui penggunaan perjanjian kerahasiaan
  • Mematuhi persyaratan peraturan yang ada
  • Mendefinisikan siapa yang menerima data dan apa yang diperbolehkan mereka terima
  • Menentukan cara penyediaan yang paling aman

Lalu ada empat langkah yang perlu diperhatikan dari berbagi informasi:

  • Memastikan kesiapan perusahaan
  • Mengidentifikasi mitra
  • Memahami apa yang harus dibagikan
  • Melindungi privasi

Untuk membuat program ini berhasil, perusahaan harus menerima dan mengadopsi pertahanan kolektif; berbagi informasi siber adalah inti dari strategi pertahanan kolektif.

Seperti prioritas bisnis lainnya, kesuksesan program ini bergantung pada dukungan aktif dan keterlibatan pemimpin bisnis. Berbagi informasi dunia maya adalah hak prerogatif bisnis. Hal ini membutuhkan preferensi untuk kolaborasi dan tindakan cepat oleh semua organisasi.

 

Artikel ini telah diterbitkan oleh World Economic Forum, dengan judul The Business Imperative of Cyber Information Sharing for Our Collective Defence pada November 2022. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |
Go to Top