Risiko Global 2024: Sorotan Laporan World Economic Forum
Dalam laporan terbarunya, World Economic Forum mengungkapkan analisis mendalam terkait risiko global pada tahun 2024. Laporan ini tidak hanya memperlihatkan kondisi dunia saat ini, tetapi juga memberikan pandangan untuk jangka pendek dan panjang, bertujuan memberikan pedoman kepada para pengambil keputusan dengan visi yang seimbang.
Dunia saat ini masih merasakan dampak ketegangan pasca pandemi COVID-19 dan perang Rusia-Ukraina. Meski terdapat episodik pergolakan, sistem global tetap menunjukkan ketangguhan yang mengesankan. Terlepas dari ketidakpastian, resesi yang diantisipasi tidak terjadi. Meskipun demikian, konflik politik dan kekerasan di beberapa wilayah menjadi sorotan perhatian dunia.
Laporan menyoroti empat pandangan risiko tinggi untuk dekade mendatang, menegaskan urgensi kerjasama global dalam menghadapi tantangan masa depan. Hasil survei menunjukkan pandangan negatif dalam jangka pendek, dengan kecenderungan memburuk dalam jangka panjang. Respon terhadap pandemi dan perang Rusia-Ukraina menciptakan gambaran dunia yang penuh ketidakpastian.
Cuaca ekstrem mendominasi sebagai risiko utama, diikuti oleh tantangan informasi seperti misinformasi dan disinformasi. Polaritas sosial dan politik juga menjadi perhatian serius. Tindakan respons terhadap pandemi dan perang memiliki potensi menciptakan krisis ekonomi dan dampak perubahan iklim yang dapat dirasakan dalam beberapa tahun mendatang.
Meskipun sektor keuangan, teknologi, dan real estat tampaknya memiliki risiko rendah, laporan tetap menekankan untuk tidak mengabaikan potensi dampak di sektor-sektor tersebut. Dengan sistem global yang melemah, sebuah goncangan kecil saja bisa menjadi batas keberlanjutan. Risiko ekonomi dan konflik bersenjata diperkirakan akan memberikan dampak signifikan dalam dua tahun mendatang. Faktor risiko seperti inflasi yang sulit diprediksi menjadi tantangan dalam menjaga stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi.
Dalam rangkuman ini, laporan WEF menegaskan bahwa risiko global tahun 2024 menyoroti tantangan pasca-pandemi dan ketegangan geopolitik yang memerlukan kerjasama global dan pemahaman mendalam terhadap risiko jangka panjang.
Artikel ini telah diterbitkan oleh World Economic Forum, dengan judul The Global Risks Report 2024 19th Edition.
Pandangan Pemimpin Ekonomi Januari 2024: Menghadapi Risiko Global
Tinjauan awal tahun 2024 dari pemimpin ekonomi mencerminkan ketidakpastian tinggi yang melibatkan kondisi global yang lemah, perpecahan geopolitik yang meningkat, dan peran krusial kecerdasan buatan (AI) dalam arus ekonomi global.
- Kondisi Global yang Masih Lemah
Pandangan mayoritas pemimpin ekonom (56%) menyoroti proyeksi pelemahan kondisi global dalam setahun mendatang. Meskipun demikian, terdapat ketidakpastian signifikan, dengan 43% pemimpin ekonom yang tetap optimis terhadap stabilitas atau penguatan kondisi ekonomi. Divergensi pandangan ini mencerminkan kompleksitas dan ambiguitas dalam prospek ekonomi global yang diperumit oleh sejumlah faktor termasuk gejolak politik dan ketidakpastian kebijakan.
- Perpecahan Geopolitik Menambah Ketidakpastian
Dalam menghadapi tantangan global, hampir tujuh dari sepuluh pemimpin ekonom (69%) memperkirakan bahwa perpecahan geopolitik akan menjadi pendorong utama ketidakpastian ekonomi tahun ini. Konsensus kuat (86%) menyatakan bahwa peristiwa geopolitik akan memperkuat blok geoekonomi dan meningkatkan ketidaksetaraan global. Tingginya ekspektasi akan meningkatnya volatilitas di pasar saham (80%) menjadi sorotan utama, menciptakan tantangan tambahan bagi stabilitas ekonomi global.
- Kecerdasan Buatan Menjadi Sorotan
Dalam mengatasi dinamika kompleks ini, pemimpin ekonom menekankan peran krusial kecerdasan buatan (AI) dalam merespons tantangan ekonomi. Terdapat optimisme terkait potensi manfaat AI di ekonomi berpendapatan tinggi, termasuk peningkatan efisiensi produksi (79%) dan inovasi (74%). Meskipun demikian, terdapat ketidakpastian mengenai dampak AI terhadap ketidaksetaraan dan kepercayaan, dengan hampir tujuh dari sepuluh pemimpin ekonom (74%) meyakini bahwa generative AI akan mempercepat laju inovasi di ekonomi berpendapatan tinggi.
Sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang bervariasi dan harapan positif dalam menanggulangi masalah inflasi, pandangan pemimpin ekonomi menggarisbawahi perlunya respons adaptif dan kolaboratif di tengah ketidakpastian global. Meskipun terdapat potensi positif melalui kemajuan AI, risiko dan tantangan yang kompleks memerlukan strategi yang cermat.
Dalam keseluruhan, pandangan pemimpin ekonomi memberikan pemahaman mendalam tentang dinamika kompleks yang akan mempengaruhi ekonomi global pada tahun 2024. Tantangan yang dihadapi memerlukan kewaspadaan dan kerjasama global untuk menciptakan solusi inovatif yang dapat merespons dengan efektif terhadap risiko dan peluang yang ada.
Artikel ini telah diterbitkan oleh World Economic Forum, dengan judul Chief Economists Outlook.
Pandangan Risiko 2024: Sepuluh Skenario Risiko Kritis yang Menghadang Ekonomi Global
Tahun 2024 membawa berbagai tantangan serius yang dapat mengguncang fondasi ekonomi global. Dalam pandangan risiko ini, The Economist Intelligence Unit mengidentifikasi sepuluh skenario kritis yang dapat mempengaruhi kestabilan ekonomi dunia.
Skenario 1: Pengetatan Kebijakan Moneter Global Berlanjut
Dengan probabilitas sedang dan dampak tinggi, pengetatan kebijakan moneter global yang berlanjut dapat memicu resesi global dan meningkatkan volatilitas keuangan. Kebijakan tinggi inflasi yang diterapkan sejak awal 2022 dapat memicu peningkatan suku bunga, berpotensi merusak permintaan konsumen dan investasi.
Skenario 2: Perlombaan Subsidi Teknologi Hijau Menjadi Perang Dagang Global
Dengan probabilitas sedang dan dampak tinggi, perlombaan subsidi teknologi hijau dapat memicu perang dagang global. Inisiatif besar dari ekonomi Barat untuk mendorong investasi dalam teknologi bersih dapat meningkatkan ketegangan perdagangan dengan China, memengaruhi rantai pasokan dan harga teknologi hijau.
Skenario 3: Gangguan Rantai Pasokan Global akibat Perubahan Iklim
Dengan probabilitas tinggi dan dampak sedang, kejadian cuaca ekstrem yang dipicu oleh perubahan iklim dapat mengganggu rantai pasokan global. Keterkaitan antar negara dalam rantai pasokan membuat industri seperti pertanian, pertambangan, dan manufaktur rentan terhadap gangguan ini.
Skenario 4: Aksi Industri Menyebar, Mengganggu Produktivitas Global
Dengan probabilitas tinggi dan dampak sedang, ketidakpuasan terhadap harga komoditas global, gangguan rantai pasokan, dan inflasi dapat memicu aksi industri yang meluas. Protes dan mogok besar-besaran dapat merambat ke berbagai sektor dan negara, mempengaruhi pertumbuhan ekonomi global.
Skenario 5: Tiongkok Berusaha Mencaplok Taiwan
Dengan probabilitas rendah tapi dampak sangat tinggi, upaya Tiongkok untuk mencaplok Taiwan dapat memicu pemisahan global yang mendadak. Meskipun kemungkinannya kecil, potensi konflik regional dan pemutusan rantai pasokan global adalah ancaman serius.
Skenario 6: Perubahan dalam Pemerintahan AS Merusak Aliansi Global
Dengan probabilitas sedang dan dampak sedang, perubahan dalam pemerintahan AS dapat menyebabkan pergeseran tiba-tiba dalam kebijakan luar negeri. Ini dapat menguji aliansi global dan memunculkan ketidakpastian dalam hubungan internasional.
Skenario 7: Kegagalan Kebijakan Stimulus di Tiongkok
Dengan probabilitas rendah tapi dampak tinggi, kegagalan kebijakan stimulus di Tiongkok dapat menghasilkan peningkatan kontrol negara dan penurunan prospek pertumbuhan. Kebijakan stimulus yang ekstensif dapat menyebabkan ketidakpastian pasar dan mengurangi kepercayaan investor.
Skenario 8: Perang Israel-Hamas Meningkat menjadi Konflik Regional
Dengan kemungkinan sangat rendah tapi dampak tinggi, konflik antara Israel dan Hamas dapat berkembang menjadi konflik regional. Ini dapat memengaruhi pasokan minyak dan memperpanjang tekanan inflasi global.
Skenario 9: Kecerdasan Buatan Mengganggu Pemilihan dan Kepercayaan Politik
Dengan probabilitas sedang dan dampak rendah, peningkatan penggunaan kecerdasan buatan dalam pemilihan umum dapat mengganggu proses demokrasi dan merusak kepercayaan pada institusi politik.
Skenario 10: Perang Ukraina-Rusia Meluas menjadi Konflik Global
Dengan kemungkinan sangat rendah tapi dampak sangat tinggi, perang Ukraina-Rusia dapat meluas menjadi konflik global. Eskalasi yang melibatkan kekuatan nuklir dapat memiliki dampak serius terhadap ekonomi dan kemanusiaan global.
Dalam identifikasi sepuluh skenario kritis ini, The Economist Intelligence Unit memperlihatkan kompleksitas dan kerentanan dalam lingkungan global yang terus berubah. Sebagai pemangku kebijakan, pelaku bisnis, dan warga dunia, memahami dan mengantisipasi berbagai kemungkinan hasil dari skenario-skenario ini menjadi kunci dalam membangun ketahanan dan kelangsungan di tengah ketidakpastian. Sembari berusaha mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, kolaborasi antarnegara dan adaptasi terhadap perubahan yang tidak terduga menjadi esensial untuk merentangkan jaringan kestabilan global.
Artikel ini telah diterbitkan oleh World Economic Forum, dengan judul Risk outlook in 2024.
Evolusi Perusahaan Asuransi: Dari “Tanpa Kertas” menjadi Penyedia Jasa Risiko Berkelas
Selama ini, industri asuransi mengaitkan transformasi digital dengan menjadi “tanpa kertas.” Pada tahun 2018, dua tahun sebelum pandemi, hanya 12% eksekutif asuransi yang mengutamakan transformasi digital yang sebenarnya—bergerak menuju data dan proses yang sepenuhnya terdigitalisasi, dengan alur kerja cerdas melibatkan sistem di dalam perusahaan asuransi dan mitra ekosistem. Namun, pada tahun 2022, angka ini diproyeksikan melonjak menjadi 64%.
Sekarang, perusahaan asuransi tidak hanya meluncurkan produk-produk yang lebih luas, tetapi juga cepat memasuki lini bisnis baru, memberikan saran dan layanan yang lebih baik. Digitalisasi tidak hanya mendukung distribusi baru, tetapi juga menciptakan kelas produk risiko yang benar-benar baru. Saat perusahaan asuransi memperluas portofolionya, mereka bertransformasi menjadi semacam “penyedia jasa risiko”—sumber daya berharga yang paham tentang berbagai risiko, mampu memberikan saran dan layanan risiko personal yang sulit untuk disaingi.
Poin Penting
- Lonjakan Pendapatan: Perusahaan asuransi yang mengadopsi pendekatan “penyedia jasa risiko” melihat lonjakan pendapatan tahunan hampir setengah miliar dolar.
- Lebih dari Penawaran Tradisional: Menawarkan berbagai produk dan layanan menjadi kebutuhan. Perusahaan asuransi menjelajahi produk nontradisional, mulai dari asuransi berbasis perilaku hingga produk risiko mikro dan terkait risiko.
- Perubahan Fokus: Banyak perusahaan asuransi beralih dari fokus berbasis produk untuk memberikan prioritas pada “pengalaman risiko.”
- Harapan: 60% perusahaan asuransi mengantisipasi bahwa produk dan layanan nontradisional pada akhirnya akan menghasilkan pendapatan sebanding dengan penawaran tradisional. Sekitar seperempat percaya bahwa produk tradisional akan tergantikan.
Menjadi Penyedia Jasa Risiko:
Menjadi penyedia jasa risiko memerlukan dasar yang kuat melibatkan teknologi cloud, kecerdasan buatan (AI), dan teknologi terkoneksi seperti Internet of Things (IoT). Bersama dengan standar terbuka, ini membantu mengurangi utang teknis dan masalah warisan yang telah menghantui industri ini selama beberapa dekade.
Perusahaan asuransi terkemuka mengalokasikan lebih dari setengah dari anggaran IT mereka untuk teknologi dan kemampuan yang berhubungan langsung dengan pelanggan. Investasi ini memberikan hasil baik secara kuantitatif maupun kualitatif, memberikan tingkat pertumbuhan hingga 3 kali lipat, pemahaman pelanggan yang lebih baik, dan kepuasan pelanggan yang meningkat.
Artikel ini telah diterbitkan oleh IBM, dengan judul Becoming a Risk Concierge. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Mengenali Bendera Oranye dalam Lanskap ESG M&A
Dalam dunia merger dan akuisisi (M&A) yang terus berkembang, perhatian utama saat ini tertuju pada faktor Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG). Bukan lagi hal yang hanya diperhatikan oleh aktivis dan regulator, pertimbangan ESG kini menjadi bagian integral dari proses pengecekan M&A. Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi pergeseran mendalam dalam lanskap M&A, dengan pertimbangan ESG yang semakin dominan.
Double Materiality: Keuangan dan Dampak Sosial
Konsep kunci yang muncul dalam perubahan ini adalah “double materiality,” yang mencakup materialitas keuangan dan dampak. Pergeseran paradigma ini mengakui tanggung jawab perusahaan untuk memperhitungkan dampaknya pada masyarakat, sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB. Dalam M&A, double materiality menjadi alat untuk menilai risiko dan peluang terkait strategi, operasi, produk, layanan, dan rantai nilai perusahaan.
Bendera Oranye ESG: Mengenali Risiko dalam M&A
Para dealmaker yang menyesuaikan diri dengan lanskap ESG yang berkembang, harus waspada terhadap enam “bendera oranye” kritis yang menjadi potensi risiko:
- Pemasaran Tidak Etis: Meneliti inkonsistensi antara pesan pemasaran dan kenyataan, serta dampak sanksi regulasi terhadap biaya transaksi.
- Risiko Reputasi: Pentingnya mematuhi regulasi, target internal, dan harapan pemangku kepentingan untuk menghindari perhatian negatif dan kerugian pendapatan.
- Risiko Tinggi dalam Rantai Pasokan: Menangani risiko baru dalam rantai pasok global akibat konflik, ketegangan perdagangan, dan peristiwa iklim.
- Karyawan yang Tidak Terlibat: Pentingnya keterlibatan karyawan dalam mengesahkan kredensial ESG perusahaan.
- Transaksi Transformatif yang Tidak Terjadi: Pentingnya menyeimbangkan kompromi kompleks antara isu-isu sosial, ekonomi, dan lingkungan.
- Pengungkapan Nonfinansial yang Tidak Memadai: Fokus pada masalah kelanjutan seputar transparansi data yang dilaporkan dan validitas pengungkapan.
Metrik ESG tidak lagi sekadar istilah modis; mereka menjadi pemicu nilai dalam M&A. Para dealmaker yang mengintegrasikan ESG dalam proses pengambilan keputusan dapat membuka nilai dan berkontribusi pada masa depan yang lebih berkelanjutan. Dengan mengatasi bendera oranye yang diidentifikasi, perusahaan dapat berhasil menavigasi lanskap ESG, menciptakan transaksi yang tangguh dan bermakna.
Dalam dunia dinamis M&A, memahami dan menavigasi pertimbangan ESG bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan bagi mereka yang ingin berhasil dalam lanskap bisnis yang terus berubah.
Artikel ini telah diterbitkan oleh PWC, dengan judul Will ESG Factors Create or Destroy Value in Your Next Deal? Six Orange Flags for Dealmakers. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Lima Tantangan bagi Bank dalam Mengembangkan Manajemen Risiko
Dewasa ini, bank berada di tengah perjalanan transformasi risiko selama 15 tahun, menavigasi tantangan dan peluang yang ditawarkan oleh inovasi teknologi. Penelitian tahunan ke-8 mengenai manajemen risiko global oleh EY, bekerja sama dengan Institute of International Finance (IIF), menyelami fokus utama dan tantangan bagi bank selama tiga fase perjalanan transformasi risiko.
Tiga Temuan Utama:
- Transformasi Digital Menyeluruh: Setelah merampingkan struktur dan proses, bank harus mendorong transformasi digital di seluruh perusahaan, mulai dari pelanggan hingga operasional.
- Fungsi Manajemen Risiko harus Berinovasi dan Menjadi Pendorong Pertumbuhan: Fungsi manajemen risiko harus bertransformasi menjadi pendorong inovasi dan pertumbuhan, memanfaatkan teknologi untuk mencapai tujuan tersebut.
- Keamanan Siber Mengatasi Regulasi sebagai Prioritas Utama Dewan dan CRO: Keamanan siber kini menjadi perhatian utama dewan dan Chief Risk Officers (CRO), menggantikan perhatian pada masalah regulasi.
Tahapan Transformasi Risiko 15 Tahun:
- Fase Pertama: Memulihkan (Restore): Fase ini terjadi setelah krisis keuangan, berlangsung selama lima hingga enam tahun.
- Fase Kedua: Merasionalkan (Rationalize): Fase saat ini, di mana bank merasionalkan operasional dan mengoptimalkan proses.
- Fase Ketiga: Merevitalisasi (Reinvent): Fase terakhir yang akan datang, menandai perubahan dalam pendekatan risiko.
Lima Tantangan bagi Bank:
- Mengelola Risiko yang Muncul dan Peningkatan Persaingan: Perhatian pada risiko geopolitik, sosial, dan lingkungan meningkat, sementara persaingan semakin intens. Keamanan siber menjadi risiko teratas bagi dewan dan CRO.
- Memimpin Transformasi Digital Manajemen Risiko: Bank harus mengimplementasikan teknologi baru di seluruh perusahaan untuk mencapai perubahan mendasar. Fungsi manajemen risiko harus berubah untuk memantau profil risiko dan mengaktifkan inovasi dengan cara yang lebih pintar, cepat, dan efisien.
- Operasionalisasi Model Tiga Garis Pertahanan: Penting untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi manajemen risiko. Keahlian dalam analitika tingkat lanjut, risiko model, dan area kunci lainnya akan diperlukan.
- Mengelola Risiko Nonfinansial dengan Biaya Efektif: Meskipun kerangka kerja risiko perilaku sudah ada, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk membuktikan efektivitas dan meningkatkan efisiensi biaya.
- Menjaga Ketahanan dan Melindungi dari Risiko Siber: Bank harus memikirkan ulang apa yang menyusun ketahanan operasional. Peningkatan kualitas data dan pemetaan alur proses perlu ditingkatkan.
Seiring bank bergerak dari tengah ke fase ketiga perjalanan transformasi risiko, mereka akan beralih dari eksplorasi ke implementasi penggunaan teknologi baru secara menyeluruh. Ini akan menantang fungsi manajemen risiko untuk mengubah cara mereka memantau profil risiko bank, mendorong inovasi, dan menggunakan teknik baru untuk menjadi lebih pintar, lebih cepat, dan lebih efisien secara biaya.
Artikel ini telah diterbitkan oleh EY, dengan judul Five Challenges for Banks as They Evolve Risk Management. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Why Do We Call “(Risk) Response” Not “ (Risk) Reaction”?
It comes across my interest in the meaning and differences between “Reacting” vs. “Responding” and its use in the risk management terminology, particularly about “Risk Response or Risk Responding” versus “Risk Reaction or Risk Reacting.”
Let us start with the two observable differences between reacting and responding in general:
A reaction is instantaneous, while a response takes time to develop and deliver. The difference between them is whether or not we consider different alternatives. With a reaction, we say or do the first thing that comes to mind, contrasting to a response, where we consider several possibilities and then select which words or actions will be the most beneficial.
A reaction probably looks irrational and over-the-top to others, whereas a response will seem a lot more sensible. An excellent way to determine the difference between a reaction and a response is whether our action contributed to a positive outcome or not.
Picking up the description above between reaction versus response, we could see why we should use risk response rather than risk reaction in managing an organization’s or personal risks. Risk response refers to a cognitive exercise to find viable options in dealing with risks and determine which one to opt for and act on to a positive outcome.
In order to have a good and effective risk response, we need to understand the context of risk management, which should align with the external and internal organization’s and/or individual’s context. The contexts are then driven down to the risk assessment process, which consists of three sub-processes, i.e., risk identification, risk analysis, and risk evaluation. This ultimately leads to the risk treatment process in which risk response takes a critical role.
Without those steps above, we will end up just in a simple risk reaction mode, which could create panic when we deal with risk and create a bigger risk and/or a more serious problem than it is supposed to be. Why is it the case? That is due to no preparation, which could fail us to determine the possible options that would give the most positive outcome. Consequently, such a failure will cause the failure of the organization or individual in achieving the organization’s and/or individual’s goals or objectives.
Hope this short article is helpful.
Dr. Antonius Alijoyo is the founder of CRMS Indonesia and a senior lecturer in some universities, including IPB, UNPAR, and STMIK LIKMI.
ORCID: 0000-0002-5624-873X, SCOPUS Author ID: 57257965900
Artikel ini juga diterbitkan dan di publikasi pada https://crmsindonesia.org/publications/why-do-we-call-risk-response-not-risk-reaction/
Navigasi Risiko Lingkungan dan Iklim
Dalam beberapa tahun terakhir, lembaga keuangan global berada di bawah tekanan untuk meningkatkan kegiatan lingkungan, sosial, dan tata kelola (Environment, Social, Governance/ESG) serta keberlanjutan. Risiko iklim, terutama terkait perubahan iklim fisik dan transisi, menjadi perhatian utama yang mendorong bank dan perusahaan asuransi merencanakan langkah-langkah baru.
Huruf “E” dalam ESG, yang menyoroti aspek lingkungan, menjadi tantangan besar bagi eksekutif keuangan. Bankir dan investor juga harus memahami dan memenuhi persyaratan serta harapan ESG, yang turun hingga ke pelanggan mereka.
Pemerintah dan regulator di seluruh dunia memperkenalkan aturan pelaporan bagi perusahaan di berbagai sektor. Securities and Exchange Commission (SEC) Amerika Serikat, misalnya, mewajibkan perusahaan publik melaporkan risiko iklim, sementara Uni Eropa dengan Corporate Sustainability Reporting Directive (CSRD)-nya mempengaruhi lebih dari 50.000 perusahaan mulai tahun 2024.
Perusahaan di semua sektor harus mengumpulkan, menganalisis, dan mengungkapkan data keberlanjutan dan ESG secara lebih terstruktur dan dapat diaudit. Aspek-aspek penting melibatkan:
- Emisi: Perusahaan harus melaporkan emisi karbon dan gas rumah kaca dari seluruh rantai nilai, mulai dari produksi hingga pembuangan produk.
- Materialitas Ganda: Tanggung jawab sosial perusahaan perlu diperluas untuk menilai dampak perusahaan pada lingkungan dan sebaliknya.
- Perspektif dan Strategi ke Depan: Perusahaan harus proaktif melaporkan bagaimana emisi dan perubahan iklim akan memengaruhi mereka, serta strategi untuk mengurangi dampak tersebut.
- Net Zero dan Keselarasan dengan Perjanjian Paris: Beberapa kerangka kerja mendorong perusahaan untuk mengungkapkan strategi dekarbonisasi dan rencana mencapai jejak karbon neto nol pada 2050.
- Standarisasi dan Verifikasi: Investor membutuhkan standar pelaporan seragam untuk membandingkan eksposur perusahaan terhadap ESG. Pelaporan juga harus diaudit secara eksternal.
Climate-Related Financial Disclosures (TCFD), yang awalnya sukarela, telah menjadi standar de facto untuk pelaporan iklim. Fokusnya pada manajemen risiko iklim dan pengukuran. Hal ini mempengaruhi perubahan pada kerangka kerja pelaporan yang sudah ada.
Perusahaan, terutama yang bukan lembaga keuangan, harus meningkatkan manajemen risiko terhadap ancaman fisik dan transisi yang dapat merugikan. Analisis skenario menjadi kunci untuk mengukur dampak perubahan iklim pada kinerja masa depan.
Gelombang baru dalam pengungkapan ESG, risiko iklim, dan keberlanjutan mendorong perusahaan untuk meningkatkan pemahaman mereka terhadap risiko yang dihadapi. Investasi dalam kemampuan baru pun membantu perusahaan meramalkan dampak peristiwa terkait iklim dan membuat keputusan yang tepat dalam menghadapi ketidakpastian di masa depan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh ERMA, dengan judul Navigating the ESG and Climate Risk Landscape. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Keberhasilan CISO di Masa Depan: Menggali 7 Prioritas GRC untuk Keamanan Dunia Maya
Chief Information Security Officer (CISO) memiliki peran krusial dalam menjaga strategi keamanan dunia maya dan melindungi data serta sistem organisasi dari berbagai ancaman. Pada tahun 2023, CISO memiliki 7 prioritas GRC yang sangat relevan untuk menghadapi tantangan dunia siber dan manajemen risiko.
- Perspektif yang Memprioritaskan Bisnis
Chief Information Security Officer (CISO) di tahun 2023 harus aktif membangun hubungan yang kuat dengan para pemimpin bisnis. Ini diperlukan untuk memahami risiko secara mendalam dan memastikan bahwa strategi keamanan informasi yang diterapkan sejalan dengan tujuan strategis organisasi.
- Mengelompokkan Risiko Berdasarkan Kekritisan Bisnis
Prioritas utama CISO adalah memprioritaskan risiko berdasarkan dampaknya terhadap kekritisan bisnis. Penilaian risiko yang berkala diperlukan untuk menjaga relevansi program risiko dan memastikan ketahanan organisasi terhadap ancaman yang terus berkembang.
- Rencana Berkesinambungan untuk Mengelola Risiko
CISO perlu mengembangkan rencana manajemen risiko jangka pendek dan jangka panjang. Rutin melakukan review dan pembaruan setiap 3 bulan diperlukan agar rencana tersebut tetap efektif dan responsif terhadap perubahan lingkungan.
- Memantau Persyaratan Kepatuhan Global Terus-Menerus
Implementasi sistem manajemen kepatuhan yang efisien akan membantu CISO memantau keamanan organisasi secara global. Investasi pada sumber daya berkualitas dan konsultan kepatuhan menjadi kunci untuk tetap terupdate terhadap perubahan regulasi.
- Memberikan Perhatian Terhadap ESG
Pemangku kepentingan organisasi semakin memperhatikan Environmental, Social, and Governance (ESG). CISO harus memastikan integrasi data ESG ke dalam manajemen risiko untuk penilaian dampak dan kinerja keberlanjutan organisasi.
- Menemukan Sumber Daya yang Tepat
Dalam menghadapi ancaman keamanan siber, CISO perlu menemukan tim profesional TI yang dilatih khusus. Implementasi GRC harus sebanding dengan kebutuhan operasional organisasi agar dapat menjaga keamanan secara efektif.
- Menjadi Pengawal GRC yang Gesit
CISO harus responsif terhadap tuntutan bisnis yang kompetitif. Pengembangan soft skill melalui organisasi profesional dan pendidikan berkelanjutan menjadi kunci untuk menghadapi perubahan peran yang dinamis.
Menghadapi tantangan GRC yang semakin kompleks, CISO yang memfokuskan perhatian pada ketujuh prioritas ini akan membawa organisasi menuju keberhasilan di masa depan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh CRMS Indonesia, dengan judul CISO: Mari Bersiap Tangani 7 Prioritas GRC Ini di Tahun 2023. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Menuju Rantai Pasok yang Tangguh: Strategi Menghadapi Perubahan Bisnis
Dalam dunia bisnis yang terus berubah, konsep rantai pasok yang fleksibel menjadi semakin vital. Penting untuk melakukan pergeseran dari kecepatan ke ketangguhan dalam manajemen rantai pasok, terutama dalam menghadapi gangguan besar seperti pandemi COVID-19.
Tradisionalnya, rantai pasok bergantung pada data historis dan hubungan. Namun, di tengah kondisi ekonomi yang tidak terduga seperti pandemi, perencanaan berdasarkan data warisan sering kali tidak sesuai dengan realitas saat ini.
Meskipun perubahan adalah konstan dalam manajemen rantai pasok, hanya 21% responden dalam survei “Weathering the Storm” dari Gartner menyatakan bahwa jaringan rantai pasok mereka saat ini “sangat tangguh.”
Perencanaan bisnis terintegrasi menjadi kunci keberhasilan. Hal ini melibatkan pengembangan dan menghubungkan berbagai kompetensi perusahaan, seperti strategi teknologi, tata kelola data, dan struktur tim. Pendekatan ini mencakup perencanaan strategis, operasional, dan taktis untuk memberikan visibilitas waktu nyata dan keberlanjutan rantai pasok secara keseluruhan.
Perencanaan Strategis:
Rencana strategis yang jelas menjadi langkah awal menuju kesuksesan rantai pasok. Ini memberikan dasar untuk keputusan keuangan, serta pengembangan produk dan layanan di masa depan.
Perencanaan Operasional:
Perencanaan operasional, sebagai bagian dari pendekatan bisnis terintegrasi, melibatkan evaluasi dan penyesuaian berkelanjutan terhadap proses bisnis untuk mendukung ketangguhan.
Perencanaan Taktis:
Saat terjadi gangguan, perencanaan taktis memungkinkan penyesuaian cepat terhadap rencana skenario sebelumnya. Ini memerlukan pengembangan kematangan analitis perusahaan untuk mengecilkan siklus ulasan dan diversifikasi sumber data.
Kunci Menuju Ketangguhan:
Agilitas rantai pasok melibatkan cara pandang yang berbeda, perencanaan yang terintegrasi, dan pengambilan keputusan real-time dengan memanfaatkan data yang beragam. Dengan mengadopsi pendekatan ini dan beradaptasi dengan kondisi terkini, organisasi dapat membangun ketangguhan dan melindungi diri dari gangguan masa depan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh HURON, dengan judul From Agility to Resilience: Supply Chain Sustainability. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.