Risiko Operasional Perbankan Meningkat Saat Regulasi Melonggar
Risiko operasional perbankan justru meningkat ketika tekanan dari regulator mulai melonggar. Kondisi ini membuat peran manajemen risiko semakin krusial di tengah perubahan lingkungan bisnis global yang makin kompleks.
Dalam beberapa tahun terakhir, regulator perbankan terlihat mengurangi fokus pada pemeriksaan detail terkait praktik manajemen risiko. Pengawasan kini lebih diarahkan pada risiko keuangan dan pelanggaran hukum. Namun, perubahan ini bukan berarti risiko operasional ikut menurun. Sebaliknya, risiko operasional menjadi semakin rumit dan berdampak luas pada bisnis perbankan.
Risiko Operasional Perbankan
Risiko operasional perbankan kini berada di titik penting. Banyak perusahaan mulai mempertanyakan nilai fungsi ini, terutama ketika tekanan regulasi berkurang. Ada kekhawatiran bahwa tim risiko akan dipangkas demi efisiensi. Padahal, keputusan tersebut bisa berbahaya.
Risiko operasional merupakan dasar dari banyak risiko lain, termasuk risiko keuangan dan kepatuhan. Tanpa pengelolaan yang baik, dampaknya bisa menjalar ke berbagai aspek bisnis.
Pelajaran dari krisis keuangan global 2007–2008 menunjukkan bahwa kegagalan operasional bisa memicu krisis besar. Kondisi serupa masih relevan hingga sekarang.
Meski regulasi melonggar, dunia justru menjadi lebih berisiko. Laporan Global Risks 2026 dari World Economic Forum menyoroti berbagai ancaman baru yang sebagian besar bersifat operasional.
Beberapa risiko utama yang kini dihadapi perbankan antara lain:
- Perubahan iklim yang memicu gangguan operasional akibat bencana alam
- Kecerdasan buatan (AI) yang membawa risiko baru dalam proses bisnis
- Serangan siber yang semakin canggih dan sulit dideteksi
- Penipuan digital, termasuk deepfake yang meniru identitas seseorang
- Ketergantungan pada pihak ketiga, terutama layanan cloud
- Geopolitik global yang memengaruhi rantai pasok dan stabilitas pasar
Selain itu, potensi pandemi baru juga masih menjadi ancaman. Bill Gates bahkan memperkirakan peluang pandemi dalam empat tahun ke depan mencapai 10–15 persen. Semua faktor ini membuat risiko operasional perbankan semakin sulit diprediksi.
Meski terlihat sebagai tantangan, kondisi ini sebenarnya membuka peluang. Tim risiko kini memiliki lebih banyak waktu untuk fokus pada strategi, bukan hanya memenuhi tuntutan regulator.
Perusahaan bisa mulai beralih dari sekadar dokumentasi menuju efektivitas nyata. Fokusnya bukan lagi “apakah aturan sudah ada”, tetapi “apakah sistem benar-benar bekerja saat krisis”.
Teknologi seperti AI juga mulai dimanfaatkan untuk:
- Mengidentifikasi risiko baru lebih cepat
- Menguji efektivitas kontrol internal
- Memprediksi potensi kerugian
- Menyusun skenario krisis
Namun, teknologi tidak bisa berjalan sendiri. Tetap dibutuhkan profesional risiko yang berpengalaman untuk mengambil keputusan.
Di tengah perubahan ini, manajemen risiko harus lebih aktif terlibat dalam pengambilan keputusan bisnis. Peran tersebut mencakup:
- Menguji risiko dari produk atau layanan baru
- Mengingatkan manajemen jika ada kelemahan kontrol
- Menentukan batas risiko yang bisa diterima perusahaan
- Terlibat dalam perencanaan strategi bisnis
Risiko operasional perbankan tidak berkurang meski tekanan regulator menurun. Justru, kompleksitasnya semakin tinggi dan berdampak luas.
Artikel ini telah diterbitkan oleh PRMIA, dengan judul Managing Operational Risk in the New Regulatory Climate. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Obligasi Konversi Berbasis Iklim Bisa Tekan Biaya Energi
Obligasi konversi berbasis iklim mulai dilirik sebagai cara baru untuk mempercepat transisi energi dengan biaya lebih efisien. Instrumen ini dinilai mampu menurunkan harga listrik sekaligus menarik lebih banyak investasi ke sektor energi bersih.
Selama ini, harga energi fosil seperti minyak dan gas sering bergejolak. Dampaknya terasa ke inflasi, biaya produksi, hingga daya beli masyarakat. Di sisi lain, energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin justru semakin murah.
Masalahnya, sistem pembiayaan dan kebijakan belum bergerak secepat perkembangan teknologi. Akibatnya, biaya transisi energi masih terasa mahal di banyak negara.
Pemerintah selama ini mengandalkan kontrak jangka panjang untuk menjaga harga listrik tetap stabil. Skema ini memberi kepastian bagi investor dan melindungi konsumen dari lonjakan harga.
Hasilnya cukup signifikan. Biaya listrik dari energi angin dan surya turun tajam, bahkan lebih dari 70% dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, kebutuhan listrik kini meningkat pesat. Pertumbuhan pusat data, kendaraan listrik, dan industri berbasis listrik mendorong konsumsi energi lebih tinggi.
Di sisi lain, biaya teknologi energi bersih terus turun. Sayangnya, kontrak lama tidak cukup fleksibel untuk mengikuti penurunan ini. Konsumen pun belum sepenuhnya menikmati harga yang lebih murah.
Obligasi Konversi Berbasis Iklim Jadi Alternatif
Obligasi konversi berbasis iklim hadir sebagai solusi baru. Instrumen ini memungkinkan perusahaan membiayai proyek energi bersih dengan cara yang lebih adaptif.
Perusahaan menerbitkan obligasi untuk proyek seperti pembangkit listrik tenaga surya atau angin. Investor menerima imbal hasil seperti obligasi pada umumnya.
Namun ada fitur tambahan. Jika biaya teknologi turun sesuai target, obligasi bisa dikonversi menjadi saham atau memberi keuntungan ekstra bagi investor.
Skema ini menguntungkan kedua pihak. Investor mendapat potensi imbal hasil lebih tinggi. Perusahaan bisa mengurangi beban utang saat konversi terjadi.
Dengan beban keuangan yang lebih ringan, perusahaan bisa kembali berinvestasi pada proyek energi baru dengan biaya lebih rendah.
Dampak ke Harga Listrik dan Ekonomi
Penurunan biaya modal berpengaruh langsung ke harga listrik. Ketika biaya produksi turun, harga energi juga bisa ikut turun.
Kondisi ini membantu menekan inflasi dan meringankan beban rumah tangga. Industri juga diuntungkan karena biaya operasional menjadi lebih rendah.
Kebutuhan investasi global untuk transisi energi diperkirakan sangat besar, mencapai lebih dari USD 9 triliun per tahun hingga 2050. Setiap penurunan biaya pembiayaan akan membuka lebih banyak peluang proyek.
Meski menjanjikan, obligasi konversi berbasis iklim tidak bisa berjalan sendiri. Dukungan kebijakan tetap dibutuhkan. Pemerintah perlu memperbarui aturan, termasuk kontrak listrik, agar lebih fleksibel mengikuti penurunan biaya teknologi.
Transisi energi tidak hanya soal teknologi. Sistem keuangan juga berperan besar dalam menentukan kecepatannya.
Obligasi konversi berbasis iklim menunjukkan bahwa inovasi finansial bisa menjadi kunci. Instrumen ini membuka peluang agar transisi energi berjalan lebih cepat dan lebih murah.
Jika dimanfaatkan dengan tepat, perubahan ini bukan sekadar upaya menekan emisi, tetapi juga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi baru.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Garp, dengan judul A Smarter Path to Net Zero: Combining Financial Engineering With Energy Policy Innovation. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Risiko Bisnis 2026: Ancaman Siber Hingga Geopolitik Menguat
Risiko bisnis 2026 menjadi perhatian utama banyak perusahaan di seluruh dunia. Ancaman yang dihadapi tidak lagi berdiri sendiri, tetapi saling terkait dan bergerak cepat.
Dari serangan siber hingga ketegangan geopolitik, perusahaan dituntut lebih siap dalam mengelola risiko. Perubahan ini membuat peran manajemen risiko semakin strategis, bukan sekadar fungsi pendukung.
Risiko Bisnis 2026 Didominasi Ancaman Siber dan AI
Ancaman siber masih menjadi risiko terbesar pada 2026. Data dari Allianz Risk Barometer menunjukkan 42% responden global menempatkan risiko siber sebagai ancaman utama.
Serangan digital makin kompleks. Penggunaan cloud, kerja jarak jauh, dan transformasi digital memperluas celah keamanan. Di sisi lain, adopsi kecerdasan buatan (AI) yang cepat justru membuka risiko baru.
Serangan berbasis AI mulai meningkat. Penyalahgunaan data juga makin sulit dikendalikan. Banyak perusahaan belum memiliki sistem pengawasan yang memadai.
Selain itu, risiko dari AI sendiri naik drastis. Dari posisi ke-10 pada 2025, kini menjadi salah satu risiko terbesar di 2026. Masalahnya beragam, mulai dari keputusan otomatis yang keliru, kualitas data, hingga dampak pada tenaga kerja.
Beberapa laporan global bahkan menyebut hingga 60% pekerjaan di negara maju bisa terdampak AI. Ini menambah tekanan bagi perusahaan untuk beradaptasi.
Risiko bisnis 2026 juga dipengaruhi kondisi global yang tidak stabil. Ketegangan antarnegara kini berdampak langsung ke dunia usaha. Laporan Global Risks dari World Economic Forum menyebut konflik ekonomi antarnegara berpotensi memicu krisis global dalam dua tahun ke depan. Dampaknya terasa pada rantai pasok, kebijakan perdagangan, hingga regulasi lintas negara. Perusahaan multinasional menghadapi tantangan lebih besar dalam menjaga operasional tetap stabil.
Di sisi lain, kondisi ekonomi juga belum sepenuhnya pulih. Inflasi, potensi krisis keuangan, dan ketidakpastian kebijakan moneter masih membayangi. Pasar menjadi lebih sensitif. Perubahan kecil dalam kebijakan atau sentimen investor bisa langsung memicu gejolak. Perusahaan perlu lebih disiplin dalam mengelola keuangan. Cadangan likuiditas dan uji ketahanan bisnis menjadi langkah penting untuk menghadapi skenario terburuk.
Selain faktor teknologi dan ekonomi, risiko sosial juga ikut meningkat. Polarisasi masyarakat, penyebaran informasi palsu, dan turunnya kepercayaan publik bisa berdampak pada reputasi perusahaan. Masalah ini sering dianggap sepele, padahal efeknya bisa panjang. Konflik internal karyawan atau tekanan dari publik bisa mengganggu operasional.
Sementara itu, risiko lingkungan seperti cuaca ekstrem memang sedikit turun dalam jangka pendek. Namun, dalam jangka panjang tetap menjadi ancaman serius. Perusahaan perlu mulai memasukkan faktor sosial dan lingkungan ke dalam strategi risiko. Ini bukan lagi isu tambahan, tetapi bagian dari keberlanjutan bisnis.
Risiko bisnis 2026 menunjukkan satu hal jelas: pendekatan lama sudah tidak cukup. Risiko kini saling terhubung dan berubah cepat. Perusahaan perlu memperkuat sistem deteksi dini, memperjelas tanggung jawab pengelolaan risiko, dan meningkatkan koordinasi antar tim.
Artikel ini telah diterbitkan oleh ERMA, dengan judul The Top Risks Rising in 2026: What Risk Leaders Must Anticipate Now. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Praktik Dasar Manajemen Risiko Perusahaan Melemah Saat Fokus ke Ancaman Baru
Praktik dasar manajemen risiko perusahaan sering terabaikan saat bisnis terlalu fokus pada ancaman baru seperti keamanan siber dan AI. Akibatnya, risiko lama yang sudah dikenal justru mulai dilupakan.
Laporan Allianz Risk Barometer 2026 menyebut risiko siber dan AI sebagai kekhawatiran utama perusahaan global. Banyak pimpinan langsung fokus ke sana. Tapi tanpa sadar, dasar pengelolaan risiko jadi melemah.
Masalah ini tidak langsung terlihat. Biasanya dimulai dari hal kecil. Audit ditunda, pelatihan dilewatkan, atau kebijakan tidak diperbarui. Lama-lama, ini bisa jadi risiko besar.
Praktik Dasar Manajemen Risiko Perusahaan Mulai Melemah
Praktik dasar manajemen risiko perusahaan adalah fondasi dalam mengelola risiko. Isinya hal sederhana seperti kepatuhan, pengawasan, dan prosedur kerja. Banyak perusahaan mengira ini akan berjalan sendiri. Padahal tidak.
Ketika sumber daya dialihkan untuk menghadapi risiko baru, tugas lama sering kali tidak mendapat perhatian yang sama. Bahkan muncul tekanan tidak tertulis untuk “melakukan lebih banyak dengan sumber daya yang lebih sedikit”.
Dalam beberapa kasus, perusahaan masih memiliki dokumen kebijakan yang lengkap. Namun praktik di lapangan sudah berbeda. Prosedur hanya menjadi formalitas, bukan lagi kebiasaan kerja sehari-hari.
Akibatnya, pengawasan menurun. Prosedur hanya jadi formalitas. Di atas kertas terlihat rapi, tapi praktiknya tidak berjalan.
Cara Menjaga Praktik Dasar Manajemen Risiko Perusahaan
Perusahaan perlu menjaga kembali fondasi ini. Beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Memetakan ulang kontrol yang ada
Perusahaan perlu mengecek apakah kebijakan yang tertulis benar-benar dijalankan. Banyak proses yang bergantung pada kebiasaan individu, bukan sistem yang jelas.
Dengan memetakan ulang kontrol, perusahaan bisa melihat area yang tumpang tindih atau justru tidak memiliki penanggung jawab.
- Menentukan penanggung jawab yang jelas
Setiap risiko harus memiliki pemilik yang jelas. Tanpa itu, banyak tugas penting akan terabaikan.
Misalnya, siapa yang bertanggung jawab atas kepatuhan vendor atau pembaruan kebijakan. Jika tanggung jawab hanya dibagi tanpa kejelasan, risiko justru semakin besar.
- Membuat jadwal evaluasi rutin
Evaluasi berkala membantu menjaga disiplin. Perusahaan bisa meninjau data insiden, kepatuhan, hingga tren risiko secara rutin.
Langkah ini juga penting saat perusahaan mengadopsi teknologi baru. Tanpa evaluasi, risiko lama bisa tertutup oleh sistem baru dan tidak terdeteksi.
Banyak perusahaan terjebak dalam pola pikir bahwa risiko baru lebih penting daripada risiko lama. Padahal keduanya harus dikelola bersamaan.
Ancaman seperti AI dan keamanan siber memang penting. Namun risiko operasional, kepatuhan, dan proses internal tetap menjadi fondasi. Jika fondasi ini lemah, perusahaan akan lebih rentan terhadap gangguan bisnis.
Artikel ini telah diterbitkan oleh RM Magazine, dengan judul Strengthening Risk Hygiene in the Face of New and Emerging Threats. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Risiko Harga Komoditas Naik, Perusahaan Hadapi Tekanan Baru
Risiko harga komoditas mulai menekan banyak perusahaan di seluruh dunia. Kenaikan harga bahan baku dan kelangkaan material membuat biaya produksi sulit dikendalikan.
Laporan terbaru dari Aon menyebutkan, risiko harga komoditas menempati posisi keenam dalam daftar risiko global pada 2025. Posisi ini diperkirakan akan naik ke peringkat keempat pada 2028.
Kondisi ini menunjukkan tekanan belum akan mereda dalam waktu dekat.
Risiko Harga Komoditas Dipicu Banyak Faktor
Risiko harga komoditas dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan. Ketegangan geopolitik menjadi salah satu pemicu utama yang mengganggu rantai pasok global.
Selain itu, cuaca ekstrem juga ikut memperparah situasi. Banjir, kekeringan, dan badai membuat produksi bahan baku terganggu.
Kekurangan tenaga kerja di sejumlah sektor ikut memperlambat distribusi. Akibatnya, pasokan tersendat dan harga naik.
Di sisi lain, kebijakan tarif perdagangan membuat biaya impor bahan baku semakin mahal. Dampaknya langsung terasa pada sektor manufaktur dan konstruksi.
Kenaikan risiko harga komoditas tidak hanya terjadi di satu sektor. Industri energi, misalnya, sempat mengalami lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik dan pemangkasan produksi.
Sementara itu, sektor logam dan mineral menghadapi tantangan berbeda. Kelangkaan bahan seperti tembaga dan rare earth membuat biaya produksi energi terbarukan ikut naik.
Di sektor pangan, harga komoditas masih bergerak tidak stabil. Gangguan rantai pasok dan perubahan cuaca membuat pasokan sulit diprediksi.
Kondisi ini membuat banyak perusahaan harus menyesuaikan strategi agar tetap bertahan.
Survei global menunjukkan hampir setengah perusahaan pernah mengalami kerugian akibat risiko ini dalam 12 bulan terakhir. Angkanya mencapai 47 persen.
Meski begitu, sekitar 60 persen perusahaan mengaku sudah memiliki rencana untuk menghadapi risiko tersebut.
Masalahnya, hanya sebagian kecil yang benar-benar menghitung dampak finansialnya secara detail. Artinya, masih banyak perusahaan yang belum siap menghadapi gejolak pasar.
Strategi Menghadapi Risiko Harga Komoditas
Perusahaan mulai mencari cara untuk mengurangi dampak risiko harga komoditas. Salah satu langkah yang banyak dilakukan adalah diversifikasi pemasok.
Dengan tidak bergantung pada satu sumber, risiko gangguan pasokan bisa ditekan.
Selain itu, beberapa perusahaan mulai menggunakan instrumen lindung nilai atau hedging. Cara ini membantu menjaga biaya tetap stabil meski harga pasar berfluktuasi.
Pemanfaatan data dan analisis juga semakin penting. Dengan pemantauan real-time, perusahaan bisa mengambil keputusan lebih cepat saat risiko muncul.
Di sisi lain, solusi asuransi dan transfer risiko mulai dilirik. Meski tidak langsung menutup risiko harga, pendekatan ini bisa mengurangi dampak kerugian lanjutan.
Risiko harga komoditas diperkirakan tetap menjadi tantangan besar dalam beberapa tahun ke depan. Perubahan iklim, konflik global, dan ketidakpastian ekonomi masih akan memengaruhi pasar.
Perusahaan yang mampu beradaptasi lebih cepat punya peluang lebih besar untuk bertahan. Sementara yang lambat merespons berisiko tertinggal di tengah persaingan yang makin ketat.
Situasi ini membuat manajemen risiko tidak lagi jadi pilihan, tetapi kebutuhan utama bagi dunia usaha.
Artikel ini telah diterbitkan oleh AON, dengan judul Commodity Price Risk and Material Scarcity: An Escalating and Complex Risk. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Risiko AI di Perbankan Meningkat, Bank Mulai Ubah Strategi
Risiko AI di perbankan kini menjadi perhatian para pemimpin risiko di industri keuangan. Perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan dan meningkatnya kejahatan siber membuat bank harus mengubah cara mereka mengelola risiko.
Survei ProSight 2026 CRO Outlook menunjukkan, 74% kepala manajemen risiko (CRO) menempatkan risiko siber dan teknologi sebagai lima risiko terbesar. Angka ini menggambarkan tekanan yang terus meningkat di sektor perbankan.
Teknologi baru memang membuka peluang. Namun, di saat yang sama, risiko yang muncul juga semakin kompleks.
Risiko AI di Perbankan Mendorong Lonjakan Penipuan
Salah satu dampak terbesar dari risiko AI di perbankan adalah meningkatnya potensi penipuan. Dalam survei tersebut, kejahatan finansial menjadi risiko terbesar kedua yang dihadapi bank.
Sekitar 32% responden mengaku khawatir AI akan digunakan untuk melakukan penipuan. Teknologi seperti deepfake membuat penipuan semakin sulit dideteksi.
Pelaku kejahatan kini bisa memanfaatkan AI untuk meniru suara atau wajah seseorang. Ini membuka celah baru dalam sistem keamanan bank.
Selain itu, penggunaan agen AI oleh nasabah juga menambah titik rawan baru. Interaksi antara manusia dan mesin menjadi celah yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan.
Di tengah risiko tersebut, bank tetap bergerak cepat mengadopsi AI. Sebanyak 54% bank sudah menggunakan AI dalam operasional mereka.
Bahkan, 48% bank berencana menggunakan AI untuk manajemen risiko dalam dua tahun ke depan.
Penggunaan AI di perbankan mencakup berbagai fungsi. Mulai dari verifikasi nasabah (Know Your Customer), pencegahan pencucian uang, hingga analisis kredit dan kepatuhan regulasi. Namun, langkah ini belum sepenuhnya diimbangi dengan sistem pengawasan yang matang.
Meski adopsi AI meningkat, hanya 12% bank yang merasa memiliki kerangka tata kelola AI yang sangat matang. Banyak bank masih dalam tahap membangun sistem persetujuan dan pengawasan AI. Tujuannya agar penggunaan teknologi ini tetap aman dan terkendali.
Perubahan juga akan semakin besar dengan hadirnya agen AI. Ini adalah sistem AI yang bisa bertindak sendiri tanpa campur tangan manusia. Model ini berpotensi mengubah cara bank berinteraksi dengan nasabah. Namun, risikonya juga lebih sulit dikendalikan.
Untuk menghadapi risiko yang makin kompleks, bank mulai membentuk tim lintas fungsi. Tim ini menggabungkan keahlian di bidang siber, fraud, dan kepatuhan. Fokus utamanya adalah mendeteksi ancaman lebih cepat dan merespons dengan tepat.
Salah satu langkah yang mulai banyak dilakukan adalah membangun tim khusus untuk mengawasi ancaman dari dalam organisasi atau insider threat. Tim ini menggunakan alat pemantauan dan panduan tindakan untuk mencegah potensi pelanggaran sejak dini.
Risiko AI di perbankan tidak lagi sekadar isu teknologi. Ini sudah menjadi bagian dari strategi bisnis dan pengelolaan risiko.
Artikel ini telah diterbitkan oleh ProSight, dengan judul Cyber Risk and AI Are Reshaping the CRO Agenda. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Strategi Menghadapi Tarif Impor Agar Bisnis Tetap Bertahan
Strategi menghadapi tarif impor kini jadi perhatian utama pelaku bisnis global. Kenaikan tarif dan kebijakan perdagangan yang berubah cepat membuat banyak perusahaan kesulitan menjaga keuntungan.
Laporan terbaru dari Oliver Wyman menyebutkan, 89% CEO perusahaan besar melihat tarif sebagai risiko serius bagi bisnis mereka. Angka ini naik tajam dibanding tahun sebelumnya. Dampaknya terasa langsung, mulai dari margin keuntungan yang tertekan hingga pengelolaan stok yang makin rumit.
Perusahaan tidak bisa lagi mengandalkan cara lama. Mereka perlu pendekatan baru yang lebih fleksibel dan cepat beradaptasi.
Strategi Menghadapi Tarif Impor dari Sisi Harga
Penyesuaian harga jadi langkah paling cepat untuk merespons kenaikan tarif. Banyak perusahaan kini langsung menaikkan harga atau menambah biaya tambahan ke pelanggan.
Survei menunjukkan, sekitar 76% produsen dan peritel mempercepat kenaikan harga setelah tarif diberlakukan. Waktu respons kini jauh lebih singkat dibanding sebelumnya.
Namun, menaikkan harga tidak bisa dilakukan sembarangan. Perusahaan perlu mempertimbangkan posisi di pasar dan daya beli pelanggan. Jika salah langkah, konsumen bisa beralih ke pesaing.
Karena itu, strategi harga harus terus diperbarui. Tim penjualan dan pemasaran perlu aktif memantau kondisi pasar dan menyesuaikan harga secara berkala.
Beberapa perusahaan bahkan mulai menciptakan model harga baru. Contohnya seperti sistem langganan atau paket layanan untuk menjaga pelanggan tetap loyal.
Mengatur Stok Agar Arus Kas Tetap Aman
Selain harga, pengelolaan stok juga jadi bagian penting dalam strategi menghadapi tarif impor. Dalam banyak industri, persediaan barang bisa menyerap lebih dari 70% arus kas.
Masalah muncul ketika perusahaan menyimpan terlalu banyak stok. Biayanya tinggi, apalagi saat tarif membuat harga barang naik.
Sebaliknya, jika stok terlalu sedikit, perusahaan bisa kehilangan penjualan karena barang tidak tersedia.
Perusahaan perlu menyeimbangkan keduanya. Mereka harus memastikan stok cukup untuk memenuhi permintaan, tapi tetap efisien dari sisi biaya.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain memperbaiki perencanaan permintaan, mengatur ulang jalur distribusi, dan memantau stok secara real-time.
Salah satu perusahaan kimia bahkan berhasil meningkatkan tingkat pemenuhan pesanan hingga 40% dan menurunkan stok 25% dalam waktu sembilan bulan dengan strategi ini.
Mengubah Strategi Pasokan dari China
Banyak perusahaan selama ini bergantung pada China sebagai pusat produksi. Namun tarif tinggi memaksa mereka mencari alternatif.
Ada tiga pilihan utama. Pertama, memindahkan produksi ke negara lain seperti di Asia Tenggara. Biaya tenaga kerja memang lebih murah, tapi produktivitas sering lebih rendah dan waktu pengiriman lebih lama.
Kedua, bekerja sama dengan pemasok lokal di negara baru. Biayanya bisa lebih murah, tapi kemampuan produksi belum tentu setara.
Ketiga, tetap bertahan di China dengan risiko tarif tinggi yang bisa mencapai 45% hingga 60%.
Melihat kondisi ini, banyak perusahaan mulai menggabungkan beberapa pendekatan sekaligus. Produk dengan volume besar dipindahkan ke luar China, sementara produk yang lebih kompleks tetap diproduksi di sana. Langkah ini dinilai lebih fleksibel dan bisa menekan risiko.
Perubahan kebijakan tarif bisa terjadi kapan saja. Perusahaan yang lambat beradaptasi berisiko kehilangan daya saing. Strategi menghadapi tarif impor perlu dijalankan secara bersamaan dari sisi harga, stok, dan pasokan. Ketiganya saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan.
Dalam jangka pendek, perusahaan bisa mulai dengan penyesuaian harga dan efisiensi stok. Dalam jangka panjang, mereka perlu membangun rantai pasok yang lebih kuat dan fleksibel.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Oliver Wyman, dengan judul A Three-Part Framework For Tackling Tariff Uncertainty. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Risiko Persaingan Bisnis Meningkat, Perusahaan Terancam Tertinggal
Risiko persaingan bisnis semakin meningkat dan menjadi ancaman nyata bagi perusahaan di seluruh dunia. Tekanan pasar yang makin ketat membuat banyak perusahaan kesulitan menjaga posisi mereka di tengah perubahan cepat.
Laporan terbaru dari Aon menyebutkan, risiko ini menempati posisi kelima dalam daftar risiko global pada 2025. Bahkan, dalam beberapa tahun ke depan, risikonya diperkirakan naik ke posisi tiga besar.
Persaingan yang makin tajam tidak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor besar yang mendorong kondisi ini.
Risiko Persaingan Bisnis Dipicu Teknologi dan Talenta
Perubahan teknologi menjadi salah satu pendorong utama risiko persaingan bisnis. Kehadiran kecerdasan buatan, otomatisasi, hingga digitalisasi membuat cara perusahaan bersaing ikut berubah.
Perusahaan yang lambat beradaptasi berpotensi tertinggal. Sementara itu, pesaing yang lebih cepat memanfaatkan teknologi bisa menekan biaya dan meningkatkan efisiensi.
Selain teknologi, perebutan tenaga kerja berkualitas juga makin ketat. Banyak perusahaan mencari talenta di bidang data dan AI. Namun, jumlah tenaga ahli masih terbatas.
Akibatnya, perusahaan yang gagal menarik dan mempertahankan talenta akan kesulitan berkembang.
Tekanan Geopolitik Tambah Kompleks Persaingan
Faktor lain yang memperbesar risiko persaingan bisnis adalah kondisi geopolitik. Banyak negara mulai memindahkan rantai pasok ke dalam negeri atau wilayah yang lebih dekat.
Langkah ini memang memberi keuntungan bagi pemain lokal. Namun, di sisi lain, kondisi ini membuat rantai pasok global jadi lebih rumit.
Keterbatasan akses terhadap bahan baku, energi, dan pasar juga bisa menghambat pertumbuhan perusahaan.
Meski sebagian perusahaan mengaku sudah siap menghadapi tekanan persaingan, kenyataannya risiko ini tetap terjadi.
Dalam survei tersebut, sekitar 43% responden mengaku mengalami kerugian dalam 12 bulan terakhir akibat persaingan yang meningkat.
Di sisi lain, hanya 44% perusahaan yang sudah menyiapkan strategi khusus untuk menghadapi risiko ini. Angka ini menunjukkan masih ada celah antara kesiapan dan realitas di lapangan.
Untuk menghadapi risiko persaingan bisnis, perusahaan perlu bergerak lebih cepat dan fleksibel.
Salah satu langkah penting adalah berani berinovasi. Perusahaan yang aktif mengembangkan teknologi baru cenderung lebih siap menghadapi perubahan pasar.
Selain itu, penguatan sumber daya manusia juga tidak kalah penting. Perusahaan perlu fokus pada pengembangan keterampilan karyawan, bukan hanya perekrutan.
Keamanan data juga menjadi perhatian. Saat persaingan makin digital, risiko serangan siber ikut meningkat. Perusahaan perlu melindungi sistem mereka agar tidak kehilangan kepercayaan pelanggan.
Di sisi lain, menjaga loyalitas pelanggan juga menjadi kunci. Konsumen kini punya banyak pilihan, sehingga pengalaman dan kualitas layanan menjadi penentu.
Artikel ini telah diterbitkan oleh AON, dengan judul Increasing Competition Is Intensifying Risk for Organizations. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Risiko Generative AI di Sektor Keuangan Meningkat, Ini 8 Ancamannya
Risiko generative AI di sektor keuangan mulai menjadi perhatian serius bagi bank dan perusahaan asuransi. Lonjakan penggunaan teknologi ini memicu banyak permintaan implementasi, tetapi di sisi lain juga membawa potensi masalah baru yang tidak bisa diabaikan.
Laporan terbaru menunjukkan tim risiko dan kontrol di lembaga keuangan kini kewalahan menghadapi banyaknya penggunaan generative AI. Untuk mengatasinya, sejumlah perusahaan mulai mengelompokkan risiko agar lebih mudah dikendalikan dan dimitigasi.
Delapan Risiko Generative AI di Sektor Keuangan
Ada delapan jenis risiko utama yang sering muncul dalam penggunaan generative AI di sektor keuangan.
Pertama, risiko integritas data. Pengelolaan data yang lemah bisa membuat data tidak akurat atau bahkan bocor. Ini bisa berdampak pada keputusan bisnis yang keliru.
Kedua, kesalahan model atau “halusinasi AI”. Model AI bisa menghasilkan informasi yang salah jika tidak diawasi dengan baik. Masalah ini sering muncul karena kurangnya transparansi dalam sistem.
Ketiga, risiko dari pihak vendor. Kerja sama dengan penyedia teknologi bisa bermasalah jika tidak diawasi. Pelanggaran kontrak atau layanan yang tidak optimal bisa mengganggu operasional.
Keempat, integrasi teknologi yang tidak maksimal. Banyak perusahaan kesulitan menggabungkan AI dengan sistem lama mereka. Akibatnya, proses bisnis jadi tidak efisien.
Kelima, risiko keamanan informasi. Akses yang terlalu luas ke sistem AI bisa membuka celah kebocoran data. Ini menjadi ancaman serius, terutama bagi data nasabah.
Keenam, risiko hukum dan regulasi. Penggunaan AI harus mengikuti aturan yang berlaku. Selain itu, bias dalam data pelatihan juga bisa memicu masalah hukum.
Ketujuh, risiko reputasi. Kesalahan AI bisa merusak kepercayaan publik. Sekali kepercayaan hilang, dampaknya bisa panjang bagi perusahaan.
Kedelapan, risiko strategi. Perusahaan yang lambat mengadopsi AI bisa tertinggal. Namun, adopsi tanpa arah juga bisa merugikan.
Cara Perusahaan Mengatasi Risiko AI
Perusahaan keuangan mulai mengambil langkah untuk mengurangi risiko generative AI di sektor keuangan. Salah satu cara utama adalah memperkuat tata kelola data.
Mereka juga membentuk tim lintas fungsi yang melibatkan IT, risiko, dan bagian pengadaan. Tujuannya untuk memastikan semua aspek penggunaan AI terkontrol.
Selain itu, perusahaan mulai menerapkan pengawasan ketat terhadap model AI. Setiap penggunaan harus melalui pengujian dan evaluasi sebelum diterapkan.
Untuk vendor, proses seleksi kini lebih ketat. Perusahaan memastikan mitra teknologi memiliki standar keamanan dan layanan yang jelas.
Di sisi keamanan, sistem akses diperketat. Teknologi seperti cloud privat mulai digunakan untuk melindungi data sensitif.
Langkah lain yang dilakukan adalah menyiapkan strategi komunikasi. Ini penting untuk menjaga kepercayaan publik jika terjadi masalah.
Meski berbagai langkah sudah dilakukan, risiko tidak bisa dihilangkan sepenuhnya. Namun, perusahaan bisa menguranginya hingga level yang bisa diterima.
Pendekatan yang terencana dinilai lebih efektif dibandingkan penanganan kasus per kasus. Perusahaan yang menyiapkan strategi sejak awal cenderung lebih siap menghadapi perkembangan AI.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Bain, dengan judul Generative AI in Financial Services: Eight Risks and How to Overcome Them. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Manajemen Risiko Perbankan Tak Lagi Sama, AI Jadi Andalan Bank
Manajemen risiko perbankan kini mengalami perubahan besar seiring tekanan teknologi dan regulasi yang makin kuat. Bank tidak lagi hanya fokus pada risiko kredit, tetapi juga harus menghadapi ancaman siber, perubahan iklim, hingga risiko pihak ketiga.
Laporan terbaru McKinsey menunjukkan, fungsi manajemen risiko di bank global tetap stabil dari sisi jumlah tenaga kerja dan biaya. Namun, di balik stabilitas itu, terjadi pergeseran besar dalam cara bank mengelola risiko.
Perubahan Fokus dalam Manajemen Risiko Perbankan
Selama beberapa tahun terakhir, bank mulai mengalihkan perhatian dari risiko kredit ke risiko operasional dan pasar. Hal ini terlihat dari penurunan tenaga kerja di area risiko kredit, yang sebagian digantikan oleh otomatisasi.
Sebaliknya, tim yang menangani risiko operasional justru meningkat cukup signifikan. Risiko seperti serangan siber, kebocoran data, hingga gangguan sistem kini menjadi perhatian utama.
Selain itu, bank juga mulai memperkuat pengawasan terhadap risiko non-keuangan. Ini termasuk risiko terkait teknologi, kepatuhan, hingga lingkungan dan sosial.
Teknologi dan AI Mulai Mendominasi
Peran teknologi dalam manajemen risiko perbankan semakin besar. Sekitar 70 persen bank sudah mulai menggunakan kecerdasan buatan (AI) dalam berbagai fungsi, seperti penilaian kredit dan deteksi penipuan.
Penggunaan AI membantu bank bekerja lebih cepat dan efisien. Proses yang sebelumnya memakan waktu lama kini bisa dilakukan secara otomatis.
Meski begitu, ada beberapa tantangan yang masih dihadapi. Kualitas data yang buruk, masalah privasi, dan risiko penyalahgunaan menjadi hambatan utama dalam penerapan AI.
Regulator di berbagai negara juga meningkatkan pengawasan terhadap bank. Di Eropa, misalnya, bank harus memenuhi standar yang lebih tinggi dalam pengelolaan risiko iklim dan pelaporan data.
Perubahan Cara Kerja dan Organisasi
Untuk menjawab tantangan ini, banyak bank mulai merombak struktur organisasinya. Mereka membangun pusat layanan bersama dan pusat keunggulan untuk meningkatkan efisiensi.
Beberapa bank juga memindahkan sebagian operasional ke luar negeri untuk menekan biaya. Namun, fungsi yang sensitif seperti hubungan dengan regulator tetap dipertahankan di dalam negeri.
Selain itu, bank mulai mengandalkan otomatisasi dan AI untuk menggantikan pekerjaan rutin. Tenaga kerja manusia kemudian dialihkan ke tugas yang membutuhkan analisis dan pengambilan keputusan.
Ke depan, ukuran tim bukan lagi penentu utama keberhasilan. Produktivitas dan efektivitas menjadi faktor yang lebih penting dalam manajemen risiko perbankan.
Bank yang unggul biasanya memiliki sistem yang lebih sederhana, penggunaan teknologi yang optimal, serta pembagian tugas yang jelas. Mereka juga mampu menggabungkan kekuatan teknologi dengan penilaian manusia. Kombinasi ini dinilai penting untuk menghadapi risiko yang semakin kompleks.
Pada akhirnya, perubahan ini mendorong bank untuk tidak hanya mengelola risiko, tetapi juga membangun ketahanan bisnis. Bank yang mampu beradaptasi lebih cepat akan memiliki posisi yang lebih kuat di tengah persaingan yang ketat.
Artikel ini telah diterbitkan oleh McKinsey, dengan judul Global Risk Productivity Survey: Four Themes Shaping Risk Management. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.