Artikel

Artikel2021-01-27T19:01:07+07:00

Manajemen Risiko Perbankan Tak Lagi Sama, AI Jadi Andalan Bank

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Manajemen risiko perbankan kini mengalami perubahan besar seiring tekanan teknologi dan regulasi yang makin kuat. Bank tidak lagi hanya fokus pada risiko kredit, tetapi juga harus menghadapi ancaman siber, perubahan iklim, hingga risiko pihak ketiga.

Laporan terbaru McKinsey menunjukkan, fungsi manajemen risiko di bank global tetap stabil dari sisi jumlah tenaga kerja dan biaya. Namun, di balik stabilitas itu, terjadi pergeseran besar dalam cara bank mengelola risiko.

Perubahan Fokus dalam Manajemen Risiko Perbankan

Selama beberapa tahun terakhir, bank mulai mengalihkan perhatian dari risiko kredit ke risiko operasional dan pasar. Hal ini terlihat dari penurunan tenaga kerja di area risiko kredit, yang sebagian digantikan oleh otomatisasi.

Sebaliknya, tim yang menangani risiko operasional justru meningkat cukup signifikan. Risiko seperti serangan siber, kebocoran data, hingga gangguan sistem kini menjadi perhatian utama.

Selain itu, bank juga mulai memperkuat pengawasan terhadap risiko non-keuangan. Ini termasuk risiko terkait teknologi, kepatuhan, hingga lingkungan dan sosial.

Teknologi dan AI Mulai Mendominasi

Peran teknologi dalam manajemen risiko perbankan semakin besar. Sekitar 70 persen bank sudah mulai menggunakan kecerdasan buatan (AI) dalam berbagai fungsi, seperti penilaian kredit dan deteksi penipuan.

Penggunaan AI membantu bank bekerja lebih cepat dan efisien. Proses yang sebelumnya memakan waktu lama kini bisa dilakukan secara otomatis.

Meski begitu, ada beberapa tantangan yang masih dihadapi. Kualitas data yang buruk, masalah privasi, dan risiko penyalahgunaan menjadi hambatan utama dalam penerapan AI.

Regulator di berbagai negara juga meningkatkan pengawasan terhadap bank. Di Eropa, misalnya, bank harus memenuhi standar yang lebih tinggi dalam pengelolaan risiko iklim dan pelaporan data.

Perubahan Cara Kerja dan Organisasi

Untuk menjawab tantangan ini, banyak bank mulai merombak struktur organisasinya. Mereka membangun pusat layanan bersama dan pusat keunggulan untuk meningkatkan efisiensi.

Beberapa bank juga memindahkan sebagian operasional ke luar negeri untuk menekan biaya. Namun, fungsi yang sensitif seperti hubungan dengan regulator tetap dipertahankan di dalam negeri.

Selain itu, bank mulai mengandalkan otomatisasi dan AI untuk menggantikan pekerjaan rutin. Tenaga kerja manusia kemudian dialihkan ke tugas yang membutuhkan analisis dan pengambilan keputusan.

Ke depan, ukuran tim bukan lagi penentu utama keberhasilan. Produktivitas dan efektivitas menjadi faktor yang lebih penting dalam manajemen risiko perbankan.

Bank yang unggul biasanya memiliki sistem yang lebih sederhana, penggunaan teknologi yang optimal, serta pembagian tugas yang jelas. Mereka juga mampu menggabungkan kekuatan teknologi dengan penilaian manusia. Kombinasi ini dinilai penting untuk menghadapi risiko yang semakin kompleks.

Pada akhirnya, perubahan ini mendorong bank untuk tidak hanya mengelola risiko, tetapi juga membangun ketahanan bisnis. Bank yang mampu beradaptasi lebih cepat akan memiliki posisi yang lebih kuat di tengah persaingan yang ketat.

Artikel ini telah diterbitkan oleh McKinsey, dengan judul Global Risk Productivity Survey: Four Themes Shaping Risk Management. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Perusahaan Butuh Risk Professional 2026 dengan Skill Ini

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Risk professional 2026 menjadi topik yang semakin banyak dibahas karena perubahan besar dalam dunia kerja dan bisnis. Perusahaan kini tidak lagi mencari tenaga manajemen risiko yang hanya fokus pada kepatuhan, tetapi juga yang mampu memahami dinamika bisnis dan teknologi.

Tekanan risiko datang dari berbagai arah. Ancaman siber meningkat, penggunaan kecerdasan buatan makin luas, dan tuntutan terhadap aspek lingkungan serta tata kelola ikut menguat. Kondisi ini membuat peran risk professional berubah lebih strategis.

Jika sebelumnya fokus pada pelaporan dan kontrol, kini risk professional dituntut terlibat dalam pengambilan keputusan.

Risk Professional 2026 Butuh Skill yang Lebih Luas

Dalam tren risk professional 2026, kemampuan analisis tetap menjadi dasar utama. Namun, pendekatannya kini lebih berbasis data. Risk professional harus mampu membaca data dan mengubahnya menjadi insight yang berguna.

Pemahaman terhadap teknologi juga menjadi kebutuhan penting. Risiko digital seperti serangan siber dan kesalahan penggunaan AI semakin sering terjadi. Tanpa pemahaman ini, sulit bagi perusahaan untuk mengantisipasi potensi masalah.

Kemampuan berpikir kritis juga menjadi sorotan. Banyak risiko muncul dalam kondisi yang tidak pasti. Situasi seperti ini membutuhkan penilaian yang tajam, bukan sekadar mengikuti prosedur.

Komunikasi Menentukan Dampak Risiko

Risk professional 2026 juga dituntut memiliki kemampuan komunikasi yang kuat. Risiko yang sudah dianalisis tidak akan berdampak jika tidak dipahami oleh manajemen.

Karena itu, kemampuan menyederhanakan isu kompleks menjadi sangat penting. Risk professional harus bisa menjelaskan risiko dalam bahasa bisnis, bukan bahasa teknis.

Selain itu, kemampuan memengaruhi keputusan juga menjadi nilai tambah. Mereka perlu mendorong manajemen agar mengambil langkah yang tepat tanpa menghambat pertumbuhan bisnis.

Adaptasi dan Pemahaman Bisnis Jadi Kunci

Perubahan cepat membuat risk professional 2026 harus lebih adaptif. Skill yang relevan hari ini bisa cepat usang jika tidak diperbarui.

Kemampuan belajar hal baru menjadi penting. Terutama terkait teknologi, regulasi, dan tren industri.

Di sisi lain, pemahaman bisnis juga menjadi pembeda. Risk professional perlu memahami model bisnis perusahaan agar bisa mengaitkan risiko dengan strategi.

Perubahan risk professional 2026 menunjukkan pergeseran peran yang cukup signifikan. Kini, mereka tidak hanya menjaga perusahaan dari risiko, tetapi juga membantu menemukan peluang.

Perusahaan membutuhkan risk professional yang mampu melihat gambaran besar. Mereka diharapkan bisa memberikan pandangan yang seimbang antara risiko dan pertumbuhan.

Artikel ini telah diterbitkan oleh CRMS Indonesia, dengan judul Skill Risk Professional yang Paling Dicari di Era Risiko 2026. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Strategi Pengendalian Biaya Jadi Kunci Hadapi Tekanan Perdagangan Global

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Strategi pengendalian biaya kini menjadi fokus utama perusahaan di tengah tekanan perdagangan global yang makin berat. Kenaikan tarif impor, biaya kepatuhan, dan ketidakpastian geopolitik membuat banyak pelaku bisnis harus memutar strategi agar tetap bertahan.

Dalam beberapa waktu terakhir, biaya operasional meningkat di banyak sektor. Tarif impor di sejumlah negara melonjak tajam dan berdampak luas ke berbagai produk. Di sisi lain, biaya tambahan seperti kepatuhan regulasi ikut menambah beban perusahaan.

Kondisi ini membuat perusahaan tidak bisa lagi mengandalkan efisiensi biasa. Mereka perlu pendekatan yang lebih menyeluruh agar tetap kompetitif.

Strategi Pengendalian Biaya Bukan Sekadar Pangkas Anggaran

Strategi pengendalian biaya bukan hanya soal memotong pengeluaran. Perusahaan perlu melihat ulang cara mereka mengelola rantai pasok, operasional, hingga strategi penjualan.

Perusahaan yang lebih siap biasanya sudah memiliki sistem yang kuat sejak awal. Mereka tidak menunggu tekanan datang, tetapi membangun struktur biaya yang lebih tahan terhadap perubahan.

Salah satu langkah penting adalah memperbaiki rantai pasok. Bukan hanya memindahkan produksi, tetapi juga mengatur ulang jaringan pemasok agar lebih fleksibel.

Dengan memiliki lebih dari satu pemasok, risiko gangguan bisa ditekan. Meski ada tambahan biaya di awal, langkah ini membantu menghindari kerugian yang lebih besar di kemudian hari.

Selain rantai pasok, teknologi juga menjadi bagian penting dalam strategi pengendalian biaya. Banyak perusahaan mulai menggunakan sistem digital untuk mengelola perdagangan dan kepatuhan.

Teknologi ini membantu memantau perubahan tarif, mengelola dokumen, dan memastikan proses berjalan sesuai aturan. Dengan sistem yang lebih rapi, risiko kesalahan dan denda bisa ditekan.

Penggunaan artificial intelligence (AI) juga mulai meningkat. Namun, belum semua perusahaan merasakan dampaknya.

Masalahnya, AI sering hanya dijadikan alat tambahan. Padahal, manfaat terbesar muncul ketika perusahaan mengubah proses kerja secara menyeluruh.

Jika diterapkan dengan tepat, AI bisa mempercepat pekerjaan, meningkatkan akurasi, dan menekan biaya operasional.

Penyesuaian Harga Jadi Pilihan Sulit

Tekanan biaya juga berdampak langsung ke strategi penjualan. Banyak perusahaan mulai menyesuaikan harga produk untuk menjaga margin.

Kenaikan tarif dan biaya bahan baku membuat harga lama sulit dipertahankan. Karena itu, perusahaan perlu lebih fleksibel dalam menentukan harga.

Selain itu, penggunaan data menjadi semakin penting. Dengan analisis yang tepat, perusahaan bisa fokus pada produk yang paling menguntungkan dan pasar yang masih berkembang.

Meski strategi sudah jelas, tantangan terbesar ada pada pelaksanaannya. Banyak perusahaan masih ragu bergerak karena kondisi global yang belum stabil.

Padahal, menunda keputusan bisa membuat perusahaan tertinggal. Perusahaan yang bergerak lebih cepat biasanya punya peluang lebih besar untuk bertahan.

Investasi juga tetap dibutuhkan, terutama di bidang teknologi, analitik, dan kepatuhan. Tidak semua biaya harus ditekan, karena ada pengeluaran yang justru penting untuk mendukung pertumbuhan.

Artikel ini telah diterbitkan oleh BCG, dengan judul As Trade Gets Tougher, Companies Turn to Cost Discipline. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Tata Kelola AI Jadi Prioritas, Perusahaan Tak Bisa Lagi Asal Pakai

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Tata kelola AI kini menjadi isu penting di level eksekutif, seiring makin luasnya penggunaan kecerdasan buatan di perusahaan. Teknologi ini tidak lagi sekadar eksperimen, tetapi sudah dipakai untuk pengambilan keputusan, otomatisasi proses, hingga meningkatkan layanan pelanggan.

Perubahan ini membuat pimpinan perusahaan harus berpikir ulang. Fokusnya bukan lagi apakah AI perlu digunakan, tetapi bagaimana memastikan penggunaannya aman, terkontrol, dan sesuai tujuan bisnis.

Risiko AI Kini Masuk Risiko Perusahaan

Penggunaan AI membawa dampak langsung ke berbagai aspek bisnis. Mulai dari laporan keuangan, kepatuhan regulasi, hingga reputasi perusahaan.

Masalahnya, risiko AI sering kali tidak terlihat di awal. Misalnya keputusan yang dihasilkan AI sulit dijelaskan, atau muncul bias yang merugikan kelompok tertentu. Ada juga risiko kebocoran data dan penyalahgunaan informasi.

Karena itu, risiko AI tidak bisa dianggap sebagai urusan tim teknologi saja. Risiko ini menyentuh seluruh organisasi dan perlu diawasi di tingkat manajemen.

Dari Uji Coba ke Sistem yang Terstruktur

Banyak perusahaan memulai AI dari proyek kecil. Biasanya berupa uji coba di satu divisi. Pendekatan ini memang cepat, tetapi tidak bisa dipakai dalam jangka panjang. Saat penggunaan AI makin luas, perusahaan butuh sistem yang lebih rapi.

Di sinilah tata kelola AI menjadi penting. Perusahaan perlu menetapkan siapa yang bertanggung jawab atas sistem AI, bagaimana proses persetujuan dilakukan, serta bagaimana kinerja AI dipantau.

Tanpa struktur yang jelas, penggunaan AI justru bisa menimbulkan masalah baru.

Tata Kelola AI Bukan Penghambat Inovasi

Ada anggapan bahwa aturan akan memperlambat inovasi. Namun dalam praktiknya, tata kelola justru membantu perusahaan bergerak lebih pasti.

Dengan aturan yang jelas, perusahaan bisa mengurangi ketidakpastian. Risiko bisa diidentifikasi lebih awal, sehingga keputusan bisnis jadi lebih terarah.

Tata kelola AI juga sebaiknya tidak berdiri sendiri. Perusahaan bisa menggabungkannya dengan sistem yang sudah ada, seperti manajemen risiko dan kontrol internal.

Pendekatan ini membuat proses lebih konsisten tanpa menambah beban baru.

Peran Penting Pimpinan dan Dewan

Penggunaan AI tidak bisa dilepas begitu saja ke tim teknis. Pimpinan bisnis tetap harus bertanggung jawab atas keputusan yang dihasilkan AI.

Artinya, setiap penggunaan AI harus jelas pemiliknya. Selain itu, tim risiko, hukum, dan keamanan perlu dilibatkan sejak awal.

Dewan direksi juga mulai memberi perhatian lebih pada isu ini. Mereka ingin tahu bagaimana AI digunakan, apa risikonya, dan bagaimana perusahaan mengendalikannya.

Tetap Butuh Peran Manusia

Meski AI bisa meningkatkan efisiensi, peran manusia tetap penting. Keputusan akhir tidak bisa sepenuhnya diserahkan ke mesin.

Perusahaan perlu menentukan kapan AI harus ditinjau manusia. Selain itu, kinerja AI harus terus dipantau agar tidak menyimpang dari tujuan awal.

Langkah ini juga penting untuk kebutuhan audit dan evaluasi di masa depan.

AI Harus Dikendalikan

Penggunaan AI akan terus berkembang dan menjadi bagian inti bisnis. Namun tanpa tata kelola AI yang kuat, manfaatnya bisa berubah menjadi risiko.

Perusahaan yang mampu mengelola AI dengan baik akan lebih siap menghadapi tekanan regulasi dan persaingan pasar. Mereka juga lebih dipercaya oleh pelanggan dan mitra.

Pada akhirnya, AI bukan hanya soal teknologi. Ini soal bagaimana perusahaan mengelola risiko dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Artikel ini telah diterbitkan oleh ISACA, dengan judul Responsible AI: From Emerging Technology to Executive Governance Imperative. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Risiko AI Generatif Meningkat, Perusahaan Hadapi Ancaman Baru

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Risiko AI generatif kini menjadi perhatian banyak perusahaan di tengah penggunaan teknologi kecerdasan buatan yang semakin luas. Teknologi ini memang membantu meningkatkan efisiensi bisnis, tetapi juga membuka celah risiko baru yang tidak bisa dianggap sepele.

Laporan dari Aon menyebutkan, penggunaan AI generatif sudah memicu berbagai insiden serius. Salah satunya adalah penipuan yang memanfaatkan teknologi ini untuk meniru suara dan wajah eksekutif perusahaan. Dalam satu kasus, pelaku berhasil menipu perusahaan hingga kerugian mencapai jutaan dolar.

Selain itu, gangguan teknologi seperti insiden CrowdStrike menunjukkan bagaimana kegagalan satu sistem bisa berdampak luas ke operasional bisnis dan rantai pasok.

Risiko AI Generatif Semakin Kompleks

Risiko AI generatif tidak hanya datang dari satu sisi. Ada beberapa jenis ancaman yang kini mulai muncul seiring adopsi teknologi ini.

Pertama, serangan siber berbasis AI. Pelaku kejahatan kini memanfaatkan AI untuk membuat serangan lebih cepat dan sulit dideteksi. Mereka bisa membuat malware baru atau menjalankan penipuan dengan teknik rekayasa sosial yang lebih meyakinkan.

Kedua, penggunaan AI tanpa pengawasan. Banyak perusahaan mulai bereksperimen dengan AI tanpa melalui proses pengujian dan pengamanan yang memadai. Praktik ini sering disebut sebagai “shadow AI”. Akibatnya, celah keamanan makin besar dan mudah dimanfaatkan.

Ketiga, dampak yang tidak disengaja. AI bisa menghasilkan informasi yang bias atau tidak akurat. Jika digunakan dalam layanan pelanggan atau keputusan bisnis, hal ini bisa merusak reputasi perusahaan.

Perusahaan Perlu Perkuat Manajemen Risiko

Menghadapi risiko AI generatif, perusahaan perlu memperkuat manajemen risiko secara menyeluruh. Tim risiko harus memahami bagaimana AI digunakan di dalam organisasi, termasuk potensi dampaknya.

Langkah pertama adalah meningkatkan koordinasi dengan tim teknologi. Perusahaan perlu memetakan penggunaan AI yang sedang berjalan maupun yang masih dalam tahap rencana. Dari situ, risiko bisa diidentifikasi lebih awal.

Langkah berikutnya adalah bekerja sama dengan mitra eksternal, seperti vendor dan perusahaan asuransi. Saat ini, banyak polis asuransi belum secara jelas mengatur risiko AI. Karena itu, perusahaan perlu mengevaluasi apakah perlindungan yang dimiliki sudah cukup.

Kasus gangguan CrowdStrike menjadi pelajaran penting. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perusahaan yang menggunakan layanan tersebut, tetapi juga oleh pihak lain dalam ekosistem bisnis. Ini menunjukkan pentingnya perlindungan risiko yang mencakup seluruh rantai pasok.

Risiko AI generatif juga berkaitan dengan komunikasi perusahaan kepada publik. Banyak perusahaan mulai menyebut AI sebagai bagian dari strategi bisnis mereka.

Namun, pernyataan yang berlebihan bisa berujung masalah. Di beberapa negara, otoritas mulai menindak perusahaan yang dianggap melebih-lebihkan kemampuan AI mereka. Hal ini bisa berdampak pada kepercayaan investor dan harga saham.

Karena itu, manajemen perlu memastikan bahwa setiap klaim terkait AI sesuai dengan kondisi sebenarnya di lapangan.

Penggunaan AI generatif diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Teknologi ini menawarkan banyak peluang, tetapi juga membawa risiko yang terus berkembang.

Perusahaan yang mampu memahami risiko AI generatif sejak awal akan lebih siap menghadapi perubahan. Sebaliknya, perusahaan yang mengabaikan aspek ini berpotensi menghadapi kerugian yang lebih besar di masa depan.

Artikel ini telah diterbitkan oleh AON, dengan judul The Role of Risk Management in the Age of Generative Artificial Intelligence. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

AI dalam Manajemen Risiko Mengubah Cara Perusahaan Mengelola Risiko

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

AI dalam manajemen risiko mulai mengubah cara perusahaan mengenali dan mengelola berbagai potensi ancaman bisnis. Teknologi kecerdasan buatan membantu organisasi membaca data dalam jumlah besar dan menemukan pola risiko yang sebelumnya sulit terlihat.

Banyak perusahaan kini memanfaatkan AI untuk mendukung proses pengambilan keputusan. Teknologi ini membantu tim risiko bekerja lebih cepat dan lebih akurat ketika menilai potensi masalah yang bisa mempengaruhi bisnis.

Laporan KPMG Future of Risk Survey menunjukkan bahwa teknologi AI akan menjadi alat penting bagi fungsi manajemen risiko dalam tiga hingga lima tahun ke depan. Sebanyak 98 persen responden menyebut percepatan digital seperti AI dan analitik data membantu mereka meningkatkan kemampuan memantau dan mengurangi risiko.

AI dalam Manajemen Risiko Mengubah Proses Tradisional

Selama bertahun-tahun, banyak perusahaan mengelola risiko dengan cara manual. Tim risiko biasanya mengandalkan spreadsheet, laporan statis, dan analisis berdasarkan data masa lalu. Pendekatan tersebut sering memakan waktu lama. Risiko baru juga sering terlambat terdeteksi karena perubahan bisnis terjadi sangat cepat.

AI dalam manajemen risiko menawarkan pendekatan berbeda. Sistem berbasis kecerdasan buatan mampu membaca data secara otomatis dan memantau indikator risiko secara langsung. Teknologi ini dapat memberi sinyal lebih awal ketika muncul potensi masalah. Perusahaan juga bisa menerima rekomendasi analisis yang membantu pimpinan mengambil keputusan lebih cepat.

AI Membantu Identifikasi Hingga Pelaporan Risiko

Penggunaan AI dapat diterapkan pada berbagai tahap pengelolaan risiko perusahaan.

Pada tahap identifikasi risiko, AI membantu menemukan potensi ancaman baru. Sistem dapat memetakan hubungan antara proses bisnis, kontrol internal, dan area yang memiliki kerentanan.

Pada tahap penilaian risiko, AI menganalisis data untuk menentukan tingkat risiko dengan lebih akurat. Proses yang sebelumnya memerlukan banyak perhitungan manual kini bisa dilakukan secara otomatis.

AI juga membantu proses pemantauan risiko secara berkelanjutan. Tim manajemen risiko dapat melihat perubahan indikator secara real time. Selain itu, proses pelaporan risiko menjadi lebih cepat. Informasi dapat disusun secara otomatis sehingga tim risiko bisa fokus pada analisis dan strategi mitigasi.

Walau membawa banyak manfaat, penggunaan AI dalam manajemen risiko juga menimbulkan tantangan baru. Salah satu isu yang sering dibahas adalah bias algoritma. Sistem AI bisa menghasilkan analisis yang tidak akurat jika data yang digunakan tidak seimbang.

Risiko lain berkaitan dengan privasi data. Penggunaan data dalam jumlah besar harus diikuti pengawasan yang ketat agar tidak melanggar aturan perlindungan informasi. Karena itu, banyak perusahaan tetap menempatkan manusia dalam proses pengawasan. AI digunakan sebagai alat bantu analisis, bukan pengganti keputusan manusia.

Artikel ini telah diterbitkan oleh KPMG, dengan judul AI is Helping Revolutionize Risk Management. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Dampak Cuaca Ekstrem Terhadap Harga Asuransi di Pasar Global

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Dampak cuaca ekstrem terhadap harga asuransi kini menjadi perhatian utama pelaku bisnis global, meski pasar asuransi sedang berada dalam fase melunak atau soft market. Tren peningkatan kejadian cuaca ekstrem akibat perubahan iklim mulai memberi sinyal tersembunyi terhadap premi, kapasitas, dan ketersediaan perlindungan asuransi di berbagai sektor.

Amy Barnes, Head of Energy & Power sekaligus Head of Climate & Sustainability Strategy di Marsh Risk, mengungkapkan bahwa kekhawatiran ini bukan lagi bersifat spekulatif. Dalam survei yang dilakukan saat COP30, sebanyak 60% responden menyatakan bahwa keterjangkauan dan ketersediaan asuransi sudah menjadi isu mendesak. Angka ini diproyeksikan meningkat menjadi 74% pada 2030.

Dalam presentasi TED terbarunya, Barnes menegaskan, “Asuransi hanya berfungsi selama cuaca ekstrem masih menjadi risiko. Ketika itu menjadi hampir pasti, asuransi menjadi tidak terjangkau dan berpotensi tidak tersedia.” Pernyataan ini menyoroti perubahan mendasar dalam persepsi risiko industri asuransi global.

Dampak Cuaca Ekstrem Terhadap Harga Asuransi Mulai Terlihat

Analisis Guy Carpenter menunjukkan bahwa perubahan tahunan rata-rata kerugian global yang diasuransikan akibat perubahan risiko fisik terkait iklim diproyeksikan sekitar 1% dari perspektif bahaya murni. Meski terlihat kecil secara global, beberapa pasar menunjukkan sinyal iklim yang jauh lebih kuat.

Dalam jangka pendek, faktor seperti variabilitas cuaca alami, urbanisasi, inflasi, perubahan tenaga kerja, serta peningkatan eksposur sering kali memiliki dampak lebih besar dibandingkan faktor bahaya iklim itu sendiri. Namun demikian, sinyal iklim dalam penetapan harga asuransi mulai terasa, terutama di pasar properti residensial.

Di sektor komersial, dampaknya tidak terlihat. Perlu analisis untuk memahami bagaimana tren cuaca ekstrem memengaruhi struktur program asuransi perusahaan.

Pasar asuransi secara historis bergerak dalam siklus keras (hard market) dan lunak (soft market). Saat ini, pasar global cenderung melunak. Dalam kondisi ini, perusahaan asuransi biasanya lebih fleksibel dalam underwriting risiko terkait cuaca ekstrem.

Namun situasinya akan berbeda ketika pasar kembali mengeras. Lokasi atau aset yang terdampak iklim berpotensi mengalami lonjakan premi, peningkatan retensi, hingga pembatasan cakupan. Di titik ini, organisasi yang tidak siap akan menghadapi tekanan biaya signifikan.

Strategi Mengantisipasi Kenaikan Harga Asuransi

Kondisi pasar yang relatif lunak saat ini justru menjadi peluang strategis. Perusahaan dapat menginvestasikan penghematan premi untuk memperkuat ketahanan (resilience) terhadap risiko iklim.

Menurut US Chamber of Commerce, “setiap US$1 yang diinvestasikan dalam ketahanan dan kesiapsiagaan menghasilkan penghematan jangka panjang dan biaya yang terhindarkan sebesar US$13.” Ini menunjukkan bahwa investasi pada adaptasi bukan hanya soal asuransi, tetapi juga keberlanjutan operasional dan perlindungan aset.

Ada empat langkah strategis yang direkomendasikan:

  1. Memanfaatkan analitik iklim dan strategi adaptasi

Pemodelan kerugian di bawah berbagai skenario iklim membantu perusahaan memahami performa program asuransi mereka di masa depan.

  1. Rekayasa risiko berbasis kesadaran perubahan iklim

Evaluasi eksposur aset secara menyeluruh dapat meningkatkan kualitas risiko dan memperkuat posisi negosiasi dengan penanggung.

  1. Mengintegrasikan ketahanan dalam proses penempatan asuransi

Perusahaan perlu menunjukkan peningkatan kualitas risiko melalui pemodelan bencana alam yang lebih canggih.

  1. Menggunakan solusi transfer risiko alternatif

Opsi seperti captive insurance dan produk parametrik semakin dilirik sebagai lini pertahanan pertama terhadap kenaikan kerugian akibat cuaca ekstrem.

Dampak cuaca ekstrem terhadap harga asuransi menunjukkan bahwa perubahan iklim telah menjadi faktor struktural dalam manajemen risiko korporasi. Perusahaan yang proaktif membangun ketahanan akan lebih siap menghadapi siklus pasar berikutnya.

Artikel ini telah diterbitkan oleh Marsh, dengan judul The silent signal: How extreme weather can impact pricing in a soft market. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

AI Memperjelas Proses Merger dan Akuisisi Manajemen Aset

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

AI dalam Merger dan Akuisisi manajemen aset semakin penting di tengah gelombang konsolidasi industri wealth dan asset management global. Perusahaan tidak lagi hanya mengejar skala aset kelolaan, tetapi juga mencari keunggulan khusus seperti pengelolaan indeks, manajemen collateralized loan obligation, dan integrasi data alternatif untuk memperkuat proposisi kepada klien.

Grant Thornton menilai bahwa penggunaan kecerdasan buatan (AI) dan analitik lanjutan membantu tim Merger dan Akuisisi mengidentifikasi pendorong nilai dan risiko sejak awal. Di tengah persaingan ketat, termasuk meningkatnya transaksi yang didukung private equity, pendekatan berbasis data menjadi kunci untuk memenangkan target sekaligus menjaga kualitas keputusan.

AI dalam Merger dan Akuisisi Manajemen Aset Percepat Analisis

Ronan Curran dari Grant Thornton Advisors LLC mengatakan bahwa volume data dalam transaksi saat ini jauh lebih besar dibandingkan satu dekade lalu. Menurutnya, AI memungkinkan tim memproses data dalam jumlah besar sekaligus fokus pada faktor utama seperti retensi penasihat, pertumbuhan organik, kompleksitas integrasi teknologi, dan preferensi klien.

Sagar Bansal dari Grant Thornton | Stax menambahkan bahwa pembeli kini lebih selektif. Mereka mencari perusahaan dengan kekuatan khusus, bukan sekadar yang terbesar. AI memungkinkan analisis data mentah dari sistem internal untuk menjawab pertanyaan penting, seperti tingkat retensi penasihat terbaik dan konsentrasi pendapatan.

Uji Tuntas Keuangan dan Integrasi Lebih Akurat

John Cristiano menjelaskan bahwa analitik data kini memungkinkan tim mengakses detail buku besar dan transaksi secara menyeluruh dalam periode eksklusivitas yang terbatas. Hal ini membantu mengidentifikasi anomali pendapatan, struktur biaya yang tidak efisien, dan risiko tersembunyi sebelum transaksi ditandatangani.

Pada tahap integrasi, AI membantu memetakan sistem teknologi, struktur organisasi, dan kualitas data sejak awal. Ross Sheridan menekankan bahwa memahami tantangan integrasi lebih dini akan menghasilkan nilai yang lebih besar setelah akuisisi berlaku.

Dengan proyeksi peningkatan Merger dan Akuisisi dalam lima tahun ke depan, pemanfaatan AI menjadi strategi penting agar transaksi lebih cepat, akurat, dan menghasilkan nilai berkelanjutan.

Artikel ini telah diterbitkan oleh Grant Thornton, dengan judul AI Brings Clarity to Asset Management M&A. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Transisi Energi Melambat Jelang 2030, Dunia Terancam Gagal Capai Target Net Zero

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Transisi energi global memasuki fase krusial menjelang 2030, namun laju pengembangan teknologi rendah karbon dinilai belum cukup untuk mencapai target net zero pada 2050. Evaluasi terbaru pada 2025 menunjukkan bahwa meski investasi energi bersih terus meningkat, implementasinya masih tertinggal dibanding ambisi yang telah ditetapkan sejak Perjanjian Paris lebih dari satu dekade lalu.

Saat ini, sekitar 77 persen ekonomi dunia telah memiliki target net zero, baik dalam bentuk usulan maupun regulasi resmi. Namun, kurang dari 15 persen teknologi rendah emisi yang dibutuhkan untuk mencapai target 2050 telah benar-benar diterapkan. Angka ini hanya naik beberapa persen dibanding dua tahun sebelumnya.

Transisi Energi dan Tantangan Menuju Target 2030

Transisi energi tidak hanya soal komitmen, tetapi juga soal realisasi proyek di lapangan. Analisis terhadap sembilan teknologi dekarbonisasi utama di China, Eropa (Uni Eropa, Norwegia, Swiss, dan Inggris), serta Amerika Serikat menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah tersebut belum berada di jalur yang tepat untuk memenuhi target teknologi bersih 2030.

Secara global, emisi karbon justru meningkat 9 persen sejak 2015 hingga 2024, atau bertambah sekitar 3,3 gigaton. Kenaikan ini dipicu oleh pertumbuhan populasi, industrialisasi, peningkatan pendapatan, serta permintaan energi baru seperti pusat data. Meski demikian, terdapat perkembangan positif dari sisi intensitas karbon: emisi CO2 per unit PDB menurun, yang berarti dunia semakin efisien dalam menghasilkan nilai ekonomi dengan emisi lebih rendah.

China mencatat kenaikan emisi sebesar 21 persen dalam periode tersebut, seiring pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi. Namun, China juga menjadi pemimpin dalam pembangunan energi terbarukan. Kapasitas gabungan angin dan surya telah mencapai sekitar 1,2 terawatt, melampaui target 2030 lebih cepat dari jadwal. Meski begitu, untuk selaras dengan ambisi net zero 2060, China diperkirakan membutuhkan 3,4 terawatt pada 2030.

Sebaliknya, emisi di Eropa turun 18 persen dan di Amerika Serikat turun 8 persen sejak 2015, sebagian berkat kebijakan seperti sistem perdagangan emisi Uni Eropa dan regulasi pembangkit listrik di AS. Namun, penurunan di Eropa juga dipengaruhi oleh melemahnya output industri, yang berpotensi memindahkan, bukan menghilangkan emisi.

Dari sisi teknologi, energi surya menjadi pendorong utama transisi energi. Pada 2024, kapasitas energi terbarukan global naik 15 persen atau 585 gigawatt, dan penjualan kendaraan listrik meningkat 25 persen menjadi sekitar 17 juta unit. Biaya panel surya yang semakin murah membuat adopsinya meluas, termasuk untuk atap rumah dan sektor komersial.

Sebaliknya, angin lepas pantai dan hidrogen hijau tertinggal dari target 2030. Banyak proyek ditunda atau dibatalkan akibat inflasi biaya, kenaikan suku bunga, dan ketidakpastian regulasi. Sistem penyimpanan energi baterai berkembang cepat, tetapi kapasitas yang direncanakan masih belum cukup untuk memenuhi target.

Perlambatan transisi energi dipengaruhi tiga faktor utama: pergeseran fokus kebijakan, kenaikan biaya proyek, dan ketidakpastian geopolitik. Sejak 2020, sejumlah negara meninjau ulang komitmen iklimnya. Kenaikan suku bunga juga meningkatkan biaya pembiayaan proyek energi bersih hingga 10–20 persen.

Dengan waktu kurang dari lima tahun menuju 2030, percepatan implementasi teknologi rendah karbon menjadi kunci. Tanpa langkah konkret dalam waktu dekat, target net zero 2050 akan semakin sulit dicapai.

Artikel ini telah diterbitkan oleh McKinsey, dengan judul Tracking the energy transition: Where are we now?. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Reformasi Pasar Modal untuk Tarik Investor Global

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Analis pasar menilai reformasi pasar modal Indonesia sangat penting untuk menjaga kepercayaan investor dan meningkatkan daya saing di tingkat global. Pembenahan ini dinilai menjadi kunci agar pasar saham Indonesia semakin kuat, transparan, dan dipercaya.

Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI), David Sutyanto, menyatakan dukungannya terhadap delapan langkah reformasi yang digagas Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).

Menurutnya, reformasi ini bertujuan memperkuat fondasi pasar modal agar lebih likuid, terbuka, dan berintegritas. Dengan tata kelola yang baik, kepercayaan investor dalam dan luar negeri bisa semakin meningkat.

David menekankan bahwa kualitas informasi dan tata kelola perusahaan sangat penting dalam membangun kepercayaan pasar. Jika informasi terbuka dan pengelolaan perusahaan baik, harga saham akan terbentuk secara lebih adil dan efisien.

Ia menyebut reformasi ini sebagai momentum penting untuk meningkatkan kualitas pasar modal Indonesia.

Delapan Agenda Utama Reformasi

Regulator mendorong delapan agenda utama, antara lain:

  • Meningkatkan jumlah saham yang beredar di publik (free float)
  • Memperjelas kepemilikan saham melalui sistem Ultimate Beneficial Ownership (UBO)
  • Memperbaiki keterbukaan data kepemilikan
  • Mendorong demutualisasi bursa
  • Memperkuat penegakan aturan dan sanksi
  • Meningkatkan kualitas pengurus perusahaan terbuka
  • Memperdalam pasar dari sisi permintaan dan infrastruktur
  • Memperkuat kerja sama antar pelaku pasar

Langkah-langkah ini dinilai sejalan dengan standar internasional.

Meski mendukung penuh, David mengingatkan agar reformasi dilakukan secara bertahap dan proporsional. Tujuannya agar perlindungan investor tetap terjaga tanpa mengganggu aktivitas perdagangan.

Aturan juga perlu diterapkan secara konsisten dan adil agar hasilnya maksimal.

PAEI menegaskan komitmennya untuk terus mendukung regulator melalui riset dan data. Dengan kerja sama yang baik, reformasi bisa berjalan efektif dan menciptakan pasar modal yang adil, efisien, dan berkelanjutan.

Reformasi pasar modal menjadi langkah penting untuk memperkuat posisi Indonesia di mata investor global. Dengan tata kelola yang baik, transparansi tinggi, dan aturan yang jelas, pasar modal Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional.

Artikel ini telah diterbitkan oleh Kompas, dengan judul Analis Efek: Reformasi Pasar Modal Kunci Daya Saing Investor Global. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |
Go to Top