OJK Tekankan Pentingnya Penguatan Peran Profesi Manajemen Risiko di Sektor Jasa Keuangan
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menekankan pentingnya meningkatkan integritas dan kompetensi dalam bidang manajemen risiko di sektor jasa keuangan. Hal ini disampaikan dalam Kick Off Meeting Profesi Manajemen Risiko Sektor Jasa Keuangan (SJK) Tahun 2024 di Jakarta pada 15 Maret 2024.
Ketua Dewan Audit OJK, Sophia Wattimena, merangkap Anggota Dewan Komisioner, menyoroti perlunya penguatan peran profesi manajemen risiko di tengah perkembangan industri jasa keuangan dan perekonomian yang cepat. Risiko-risiko seperti cybersecurity, business continuity, dan human capital menjadi sorotan utama di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia.
Sophia juga mencatat beberapa tantangan risiko yang dihadapi sektor jasa keuangan pada tahun 2024, termasuk berakhirnya kebijakan stimulus Covid-19, penguatan permodalan lembaga keuangan, dan penerapan standar akuntansi baru. Selain itu, penerapan hukum Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU PPT) serta pendanaan senjata pemusnah massal menjadi perhatian khusus seiring keanggotaan Indonesia di Financial Action Task Force (FATF).
OJK sebagai regulator berkomitmen untuk menguatkan sektor jasa keuangan melalui berbagai kebijakan, termasuk fungsi Governance, Risk, and Compliance (GRC). Kolaborasi dengan pemangku kepentingan, termasuk profesi manajemen risiko, akan ditingkatkan untuk memperkuat kompetensi di bidang GRC dan teknologi informasi.
Ketua Umum Indonesia Risk Management Professional Association (IRMAPA), Charles R. Vorst, menekankan pentingnya mengacu pada standar praktik terbaik dunia ISO 31000 untuk membangun praktik manajemen risiko yang efektif dan sehat, dengan peran serta aktif dari para pimpinan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh OJK, dengan judul OJK Dorong Penguatan Peran Profesi Manajemen Risiko. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Perubahan Iklim: Tantangan dan Peluang untuk Semua
Tahun 2023 menjadi tahun terpanas yang pernah ada, menunjukkan dampak perubahan iklim pada komunitas dunia. Antara tahun 2011 dan 2020, suhu di seluruh dunia naik rata-rata 1,1 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 1850-1900.
Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) tahun 2023 menyatakan bahwa perubahan iklim telah menyebabkan cuaca ekstrem di seluruh dunia, dengan kerugian yang semakin meningkat seiring kenaikan suhu global.
Tren ini juga menyebabkan peningkatan bencana alam. Pada 9 bulan pertama tahun 2023, tercatat 239 bencana alam secara global, meningkat 214% dari tahun 1970.
Dampak perubahan iklim bukan hanya berupa statistik, tetapi juga mempengaruhi kelompok paling rentan. 2,2 miliar orang terpapar risiko banjir, 89% di antaranya tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Selain itu, panas ekstrem dan kekeringan menjadi ancaman serius, terutama bagi ekonomi dan komunitas di Global Selatan. Kesenjangan antara emisi tinggi dari Global Utara dan beban panas ekstrem di Global Selatan menimbulkan pertanyaan tentang keadilan iklim.
Dalam menghadapi risiko iklim, perusahaan harus mempertimbangkan dampak pada manusia, bukan hanya kerusakan pada aset fisik. Penting untuk memahami risiko fisik, transisi, dan adaptasi manusia dalam rantai pasokan, serta dampaknya pada model operasi dan produktivitas.
Mengatasi dampak perubahan iklim pada manusia harus memperhatikan dampaknya pada individu dan bisnis secara global.
Perubahan iklim menjadi risiko sosial. Dampak potensial pada lingkungan, kesehatan, dan keselamatan masyarakat harus diperhitungkan oleh organisasi. Beberapa organisasi sudah mempertimbangkan ancaman seperti penyebaran penyakit yang terkait dengan iklim.
Kesimpulannya, untuk membangun masa depan yang adil dan kuat, perubahan iklim harus dihadapi sebagai risiko sosial. Hanya dengan mengatasi dimensi sosial perubahan iklim, kita bisa menuju dunia yang berkelanjutan dan inklusif untuk semua.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Mercer, dengan judul Mitigating the impacts of climate change pada 15 Januari 2024. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Kerangka Risiko Asuransi untuk Adaptasi Perubahan Iklim
BCG telah mengembangkan kerangka untuk memimpin industri dalam mengatasi dampak perubahan iklim pada sektor asuransi. Industri ini menghadapi krisis ganda, yaitu krisis profitabilitas bagi perusahaan asuransi dan krisis keterjangkauan bagi pelanggan. Penyesuaian pada model bisnis asuransi yang sudah ada dan langkah-langkah baru sangat diperlukan untuk menyebarkan kesadaran akan risiko.
Cuaca ekstrem menjadi krisis eksistensial bagi pemilik properti dan perusahaan asuransi. Kerugian akibat lebih dari 1.000 peristiwa cuaca ekstrem dalam beberapa tahun terakhir mencapai lebih dari $1 triliun.
Industri asuransi global menghadapi lonjakan klaim untuk bencana alam, terutama di California dan Florida, dengan peningkatan 54% dibandingkan rata-rata 10 tahun terakhir dan 115% dibandingkan rata-rata 30 tahun terakhir pada tahun 2022.
Proyeksi ke depan memperlihatkan kondisi yang semakin buruk. Menurut Swiss Re, kerugian akibat peristiwa terkait cuaca diperkirakan akan meningkat 35% hingga 120% di berbagai negara seperti Australia, Kanada, Perancis, Jerman, Jepang, Inggris, dan AS pada tahun 2040. Industri asuransi dihadapkan pada krisis profitabilitas dan keterjangkauan yang mengkhawatirkan.
BCG menawarkan kerangka terpadu untuk mengelola risiko berbasis iklim, menekankan tahapan utama dalam rantai nilai risiko dan kesiapan iklim perusahaan. Pada tahap-tahap tertentu, perusahaan dapat mengimplementasikan inisiatif yang melibatkan tiga set utama pemangku kepentingan: kapabilitas perusahaan asuransi, layanan pelanggan, dan kerjasama ekosistem.
Perusahaan asuransi perlu meningkatkan kapabilitas mereka dalam pengelolaan risiko, mengadopsi model prediktif yang kuat, dan meningkatkan pemahaman akan risiko iklim. Pelayanan pelanggan harus membangun kesadaran dan rencana mitigasi risiko yang efektif di tingkat individu dan komunitas.
Kolaborasi dengan pembuat kebijakan dan regulator diperlukan untuk menyesuaikan aturan ekosistem dengan realitas iklim saat ini dan mendukung proyek-proyek infrastruktur adaptasi iklim.
Semua pihak terlibat bersama dalam masalah ini dan kerjasama lebih lanjut serta pertukaran informasi diperlukan untuk menyesuaikan industri asuransi dengan lingkungan baru. Beberapa langkah konkret dapat diambil oleh industri ini untuk membantu setiap kelompok pemangku kepentingan, termasuk perbaikan model prediktif, peningkatan investasi dalam riset pencegahan, dan advokasi untuk pelatihan pemerintah terkait isu iklim.
Industri asuransi memiliki kapasitas dan motivasi untuk memimpin perubahan, tetapi harus segera beradaptasi dengan realitas iklim baru untuk menciptakan masa depan yang lebih aman dan tangguh.
Artikel ini telah diterbitkan oleh BCG, dengan judul An Insurance Risk Framework for Climate Adaptation pada 4 Desember 2023. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Manajemen Risiko Model dan Algoritmik di Lembaga Keuangan
Risiko model dan algoritmik telah mengalami evolusi yang signifikan dalam lingkungan keuangan, memerlukan pendekatan manajemen risiko model yang kokoh. Penerapan suatu kerangka manajemen risiko model yang efektif sangat penting, terutama dalam menghadapi kompleksitas model yang semakin meningkat.
Pentingnya manajemen risiko model semakin menonjol seiring dengan pertumbuhan volume data dan kemajuan teknologi, termasuk pengenalan kecerdasan buatan (AI) dan mesin pembelajaran. Model dan algoritma menjadi inti dari setiap operasi lembaga keuangan, dari desain produk hingga manajemen risiko, kepatuhan, dan audit internal.
Namun, dengan meningkatnya keterlibatan pengguna dalam pengembangan model, terutama melalui cloud computing dan algoritma sumber terbuka, risiko model pun meningkat. Generasi baru model ini sering kali tidak tunduk pada sistem pengujian dan struktur pengelolaan yang sama seperti model tradisional.
Faktor-faktor Risiko
Demokratisasi pengembangan model dalam lembaga keuangan menyebabkan peningkatan kecepatan inovasi, tetapi juga membawa risiko operasional, regulator, keuangan, atau reputasi yang lebih tinggi. Faktor-faktor risiko utama mencakup bias manusia, kekurangan teknis, kelemahan penggunaan, dan kelemahan keamanan.
Kerangka Manajemen Risiko Model yang Kokoh
Pentingnya manajemen risiko model melibatkan pemahaman mendalam terhadap model, termasuk asumsi di baliknya, serta dampaknya pada tingkat organisasi. Kerangka manajemen risiko model yang efektif harus mencakup lima pilar kunci:
- Organisasi dan Tata Kelola: Kehadiran fungsi manajemen risiko model, disetujui oleh dewan dan melapor kepada Chief Risk Officer, yang menilai dan mengelola risiko model dan algoritmik.
- Manajemen Siklus Hidup Model: Memantau semua tahap siklus hidup model, mulai dari pengembangan, dokumentasi, klasifikasi, validasi, hingga pemeliharaan inventaris secara berkelanjutan.
- Kerangka Kontrol Model: Validasi awal sebelum implementasi dan tinjauan terus-menerus terhadap model dan algoritma yang memiliki tingkat risiko tertinggi.
- Penilaian dan Kuantifikasi Risiko Model: Penilaian dan kuantifikasi risiko model dan algoritmik dengan menggunakan teknik kualitatif dan kuantitatif.
- Proses dan Teknologi Manajemen Risiko Model: Implementasi proses dan teknologi yang tepat untuk mendukung manajemen model tradisional atau berbasis AI.
Penting untuk tidak hanya fokus pada kepatuhan, tetapi juga menanamkan budaya tata kelola model dalam organisasi. Kerangka manajemen risiko model harus memberikan panduan, standarisasi, dan saluran komunikasi yang jelas, menghasilkan efisiensi jangka panjang dalam pengembangan model dengan peningkatan tata kelola.
Risiko model dan algoritmik dapat berdampak signifikan pada reputasi, keuangan, dan kepatuhan lembaga keuangan. Dengan menerapkan kerangka manajemen risiko model yang kokoh, lembaga keuangan dapat mengoptimalkan manfaat model sambil mengurangi risiko yang terkait.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Deloitte, dengan judul The Evolution of Model and Algorithmic Risk. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Mengapa Risiko Pihak Ketiga Sangat Penting dalam Keamanan Siber
Keamanan siber sebuah perusahaan diibaratkan sebagai pahlawan super yang bisa melawan penjahat di Marvel Cinematic Universe. Namun, kebenarannya mungkin jauh dari itu. Alat, teknologi, proses, atau sumber daya manusia telah dimanfaatkan sebaik mungkin untuk melindungi jaringan organisasi, tetapi keamanan yang tidak dapat ditembus masih belum dapat tercapai. Akar permasalahannya? Pihak ketiga.
Saat perusahaan memanfaatkan layanan pihak ketiga, ekosistem digital mereka berkembang dan terkait erat. Koneksi-koneksi baru ini memberikan celah lebih banyak bagi penyerang untuk meretas organisasi. Metode populer yang terus digunakan adalah melalui malware, yang memanfaatkan pihak ketiga sebagai pintu masuk ke jaringan perusahaan. Mari kita telaah beberapa contoh nyata dari risiko ini:
- Pada Juni 2019, LabCorp dan Quest Diagnostics mengalami pelanggaran data dari pihak ketiga, mengakibatkan terbukanya 7,7 juta dan 11,9 juta catatan masing-masing. Peretas berhasil memanfaatkan sistem American Medical Collection Agency, pihak ketiga yang digunakan oleh kedua perusahaan tersebut.
- Pada Juni 2017, perusahaan perangkat lunak perpajakan Ukraina, MEDoc, mengalami retas. Server mereka menyebarkan pembaruan perangkat lunak berbahaya kepada klien, menciptakan wabah NotPetya. Hampir semua perusahaan dengan kantor di Ukraina terpengaruh oleh pembaruan jahat ini karena banyak yang bergantung pada MEDoc untuk keperluan akuntansi pajak.
- Pada 2013, pengecer Target mengalami retas ketika vendor HVAC-nya, Fazio Mechanical Services, memiliki kredensial karyawan yang diretas. Penyerang menggunakan akun ini untuk mengakses layanan web Target yang diperuntukkan bagi vendor.
Sayangnya, sumber daya dari pihak ketiga merupakan infrastruktur yang dapat dimanfaatkan dan umumnya berada di luar kendali tim keamanan organisasi. Sebab pemasok dan vendor pihak ketiga beroperasi di luar cakupan keamanan siber internal, sulit untuk mengetahui apakah materi atau sistem yang terhubung dengan jaringan perusahaan sudah terpengaruh.
Mengatasi risiko dari pihak ketiga saat ini memerlukan lebih banyak visibilitas dan koordinasi daripada sebelumnya. Berikut adalah langkah-langkah untuk mengurangi dan melindungi jaringan:
- Berpikir seperti penyerang dan antisipasi motivasi serta tindakan mereka. Identifikasi data dan properti berharga yang mungkin menjadi sasaran.
- Dapatkan visibilitas yang lebih dalam ke dalam jaringan di seluruh rantai pasokan digital dan fisik.
- Perbaiki infeksi dan terus pantau ekosistem digital untuk rentang kerentanan dan gangguan baru.
Intinya, mengatasi tantangan ini mungkin memerlukan cara pandang baru terhadap keamanan. Sementara itu, pihak ketiga tetap menjadi tempat subur untuk meluncurkan serangan dan menyebarkan malware. Meningkatkan visibilitas risiko pihak ketiga melalui layanan keamanan terkelola dapat membantu perusahaan menjadi lebih tangguh dan menghemat biaya.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Booz Allen, dengan judul Why Third Party Risk Matters in Cybersecurity. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Tren Keamanan Siber Strategis Teratas untuk 2023
Tren Keamanan Siber terus berkembang, dan Gartner telah mengidentifikasi tren-tren teratas yang memengaruhi strategi perusahaan pada tahun 2023 dan seterusnya. Berikut beberapa tren utama yang perlu diwaspadai.
Tren Keamanan Siber Teratas untuk 2023
- Manajemen Eksposur Ancaman (Threat Exposure Management): Pendekatan sistematis untuk terus meningkatkan prioritas pengoptimalan keamanan siber.
- Kekebalan Kain Identitas (Identity Fabric Immunity): Penerapan sistem kekebalan digital pada sistem identitas untuk meminimalkan cacat dan kegagalan.
- Validasi Keamanan Siber (Cybersecurity Validation): Menggabungkan teknik, proses, dan alat untuk menguji potensi eksploitasi ancaman dan respons sistem perlindungan.
- Konsolidasi Platform Keamanan Siber (Cybersecurity Platform Consolidation): Mengurangi kompleksitas, menyederhanakan operasi, dan membuat karyawan lebih efisien dengan menggunakan lebih sedikit vendor.
- Transformasi Model Operasi Keamanan (Security Operating Model Transformation): Mendistribusikan teknologi dan pekerjaan analitik untuk memperluas pengambilan keputusan risiko siber.
- Keamanan Terpisah (Composable Security): Menyatukan kontrol keamanan ke dalam pola arsitektural dan menerapkannya pada tingkat modular.
- Desain Keamanan Berpusat pada Manusia (Human-Centric Security Design): Memberikan prioritas pada pengalaman karyawan dan mengurangi perilaku tidak aman.
- Peningkatan Manajemen Manusia (Enhancing People Management): Memfokuskan pada taktik manajemen bakat berpusat pada manusia untuk menarik dan mempertahankan talenta.
- Peningkatan Pengawasan Dewan (Increasing Board Oversight): Menuntut anggota dewan memperhatikan keamanan siber sebagai bagian dari aktivitas pengawasan mereka.
Tren keamanan siber tahun 2023 menekankan pentingnya fokus pada aspek manusia. Richard Addiscott, Analis Senior Direktur Gartner, mengatakan bahwa pemimpin keamanan dan manajemen risiko harus mempertimbangkan kembali investasi mereka melintasi teknologi, struktural, dan elemen berorientasi manusia. Dengan memahami dan mengikuti tren ini, perusahaan dapat meningkatkan kesiapan mereka menghadapi tantangan keamanan siber di masa depan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Gartner, dengan judul Top Strategic Cybersecurity Trends for 2023 pada 19 April 2023. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Analisis Risiko Proyek untuk Menghadapi Perubahan Iklim
Beberapa organisasi saat ini sedang dalam proses memulai dan merencanakan proyek-proyek besar untuk mengatasi risiko iklim dan energi, untuk mengurangi emisi karbon dan konsumsi air, atau untuk beralih sebagian atau seluruhnya ke sumber energi terbarukan.
Namun, kegagalan umum yang ditemukan dalam evaluasi awal proyek-proyek tersebut berkaitan dengan kebingungan dalam mengidentifikasi dan menilai berbagai jenis risiko yang berdampak pada keberhasilan proyek.
Pentingnya identifikasi dan penilaian risiko untuk proyek ini, yang memerlukan investasi awal besar dengan peluang kegagalan tinggi, harus dilakukan dengan memperhatikan tahapan berbeda di mana risiko muncul.
Kategori Risiko Proyek
Proyek dapat dinilai secara menyeluruh dengan mengidentifikasi dan mengkategorikannya pada tahapan pemodelan, pendanaan, atau realisasi jadwal investasi dan pengembalian. Meskipun risiko-risiko ini terpisah, dampak simultan mereka memerlukan identifikasi dan penilaian individual untuk merumuskan respons yang sesuai pada setiap tahap.
Risiko Pemodelan
Pada tahap pemodelan, risiko terkait dengan gagasan proyek harus diidentifikasi. Proyek yang tidak memberikan nilai intrinsik tidak layak dievaluasi lebih lanjut. Tahap ini mencakup penilaian aliran nilai, kepastian, dan kontrol untuk mencegah optimisme atau pesimisme berlebihan.
Risiko Pendanaan
Risiko pendanaan terkait dengan bagaimana nilai proyek disampaikan kepada pemberi dana. Keberlanjutan dan optimalisasi respons terhadap fluktuasi biaya modal memerlukan analisis sensitivitas dan pemahaman yang baik tentang proporsi pendanaan.
Risiko Realisasi Jadwal
Risiko terkait dengan jadwal investasi dan pengembalian harus dikendalikan untuk memastikan nilai proyek sesuai dengan rencana. Teknik manajemen proyek diperlukan untuk mengendalikan perbedaan antara rencana dan kenyataan.
Identifikasi dan kategorisasi risiko pada masing-masing tahap memungkinkan evolusi respons yang lebih baik, meningkatkan pemahaman risiko, dan memastikan kesuksesan proyek yang lebih besar.
Artikel ini telah diterbitkan oleh PRMIA Intelligent Risk, dengan judul Digging into Project Risks Aimed at Climate Change pada Februari 2023. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Mengukur Kapasitas Risiko untuk Inisiatif Strategis
Saat ini, manajemen risiko korporat berkembang menjadi manajemen portofolio risiko holistik, dengan tujuan menghilangkan risiko yang tidak diinginkan untuk memberikan ruang bagi pengambilan risiko yang cerdas pada inisiatif bisnis strategis dengan hasil tinggi.
Pertanyaan-pertanyaan menantang muncul dalam mengelola risiko secara holistik, termasuk sejauh mana kapasitas risiko organisasi dan bagaimana menilai seberapa besar pengambilan risiko yang wajar.
Langkah pertama adalah mengidentifikasi ambang batas metrik keuangan kritis organisasi, seperti keterikatan pada peringkat kredit korporat minimum atau kepatuhan pada perjanjian utang keuangan.
Langkah kedua adalah menentukan fluktuasi metrik keuangan historis untuk memperkirakan ketidakpastian masa depan. Pendekatan umum adalah dengan mengukur variabilitas dalam data laporan keuangan historis.
Langkah ketiga adalah melibatkan pembangunan skenario model stokastik kasus dasar untuk hasil bisnis. Model ini memanfaatkan fluktuasi yang diestimasi dari metrik keuangan masa depan, memberikan distribusi yang masuk akal dari hasil bisnis di sekitar estimasi titik proyeksi.
Setelah membangun model dasar, skenario tambahan dapat ditambahkan untuk mengevaluasi inisiatif strategis yang mungkin bersaing. CEO dan CFO dapat menggunakan model ini untuk membuat keputusan informasi dalam situasi yang memerlukan tindakan cepat, seperti penawaran di lelang merger dan akuisisi.
Dalam perencanaan inisiatif strategis, skenario tambahan dapat memberikan wawasan tentang tindakan mitigasi yang memberikan ruang kapasitas risiko yang cukup. Penting untuk mengidentifikasi risiko yang tidak seimbang untuk dieliminasi, seperti eksposur mata uang asing dan komoditas, yang mungkin tidak terkait dengan bisnis inti perusahaan.
Dengan mengukur kapasitas risiko organisasi dan menambahkan skenario untuk inisiatif strategis, perusahaan dapat mengambil risiko secara cerdas sesuai dengan batas toleransi risiko. Jika ruang kapasitas risiko tidak tersedia, langkah-langkah mitigasi dapat dilakukan untuk menciptakan portofolio risiko yang sesuai dengan pengambilan risiko strategis yang berkeuntungan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh ERMA, dengan judul How to Measure Risk Capacity for Strategic Initiatives. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Blockchain dalam Energi: Menuju Solusi yang Berkelanjutan
Saat sistem energi global berada dalam krisis yang mendalam, pencarian solusi untuk mencapai emisi net-zero di masa depan menjadi tugas penting bagi umat manusia. Teknologi blockchain, dasar dari mata uang kripto seperti Bitcoin dan Ethereum, menawarkan potensi besar untuk memperbaiki sektor energi dengan meningkatkan efisiensi transaksi, keamanan, dan mendorong desentralisasi, termasuk dalam energi terbarukan.
Meski memiliki potensi positif yang signifikan, penerapan blockchain dalam sektor energi tidak lepas dari tantangan. Konsumsi energi tinggi dan risiko konsentrasi kendali menjadi beberapa hambatan yang perlu diatasi. Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan tata kelola dan regulasi blockchain di sektor energi agar pemanfaatannya dapat dilakukan secara bertanggung jawab.
Laporan World Economic Forum mencatat variasi yang cukup besar antar blockchain dalam hal jejak karbon dan intensitas energi. Mekanisme konsensus, jenis blockchain, dan tumpukan teknologi turut memengaruhi dampak energi. Meskipun komunitas blockchain telah membuat kemajuan dalam mengukur konsumsi energinya, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mempersiapkan regulasi yang akan datang.
Penggunaan blockchain di sektor energi berpotensi merevolusi industri dengan menciptakan sistem untuk mengelola produksi, distribusi, dan konsumsi energi. Perdagangan energi terbarukan secara peer-to-peer dan dukungan terhadap teknologi baru seperti kendaraan listrik dan baterai pintar untuk penyimpanan energi adalah beberapa manfaat yang bisa dihasilkan.
Namun, penting untuk mempertimbangkan dampak energi dari blockchain secara menyeluruh untuk menghindari potensi kerusakan lingkungan. Laporan World Economic Forum merangkum visi komunitas blockchain untuk mengukur konsumsi energi di berbagai proyek dan memberikan saran untuk pengembangan masa depan komunitas blockchain:
- Memberikan prinsip panduan dan perangkat bagi perusahaan, regulator, dan startup untuk memanfaatkan potensi blockchain guna mencapai tujuan net-zero.
- Menguraikan pendekatan potensial terhadap penilaian dampak terpadu yang mempertimbangkan perspektif lingkungan, sosial dan ekonomi, untuk mempersiapkan perusahaan dan solusi blockchain untuk regulasi yang akan datang.
- Mengilustrasikan penerapan blockchain yang efektif untuk masalah permintaan dan pasokan energi dan investasi, menuju pencapaian solusi net-zero sepenuhnya.
Penting untuk mempertimbangkan dengan cermat dampak energi dari blockchain dan memastikan bahwa pengembangan solusi tidak hanya memberikan manfaat, tetapi juga tidak menimbulkan kerusakan lebih lanjut pada lingkungan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh World Economic Forum dengan judul Guidelines for Improving Blockchain’s Environmental, Social and Economic Impact. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Strategi Tata Kelola Organisasi dan Manajemen Risiko: Kunci Kesuksesan Startup
Tata kelola organisasi dan risiko yang efektif adalah strategi kunci bagi kesuksesan startup. Banyak startup gagal karena manajemen organisasi yang buruk dan kurangnya tindakan pencegahan yang memadai. Oleh karena itu, memiliki infrastruktur tata kelola dan risiko yang tepat sejak awal sangat penting untuk mendukung kesuksesan jangka panjang.
Tata kelola dan manajemen risiko yang efektif dalam suatu organisasi akan mengikuti prinsip-prinsip dasar seperti akuntabilitas, keberlanjutan, dan pengelolaan sumber daya. Prinsip-prinsip ini akan memberikan dukungan pada proses dokumentasi yang jelas terkait dengan aspek-aspek berikut:
- Peran, tanggung jawab, dan pengaturan organisasi untuk pendiri, manajemen, dan semua staf startup.
- Proses aktivitas bisnis yang krusial, termasuk rekrutmen, pembiayaan, dan pengembangan bisnis.
- Pengelolaan konflik kepentingan dan sistem informasi organisasi.
- Hubungan antara investor dan pemegang saham.
- Penggunaan sumber daya yang tepat untuk mendukung manajemen risiko, termasuk Sumber Daya Manusia (SDM), hukum, kepatuhan, teknologi, dan keuangan.
- Tindakan korporatif yang melibatkan modal saham.
- Kinerja direksi sebagai pihak utama yang menjaga budaya serta keberlanjutan startup.
Implementasi strategi tata kelola dan risiko yang tepat pada startup membawa beberapa manfaat konkret, termasuk meningkatkan kepercayaan investor, meningkatkan ketepatan waktu dan kualitas pengambilan keputusan, mengurangi risiko hukum dan peraturan, serta meningkatkan tata kelola operasional.
Setiap startup membutuhkan kerangka tata kelola dan manajemen risiko yang sesuai dengan karakteristik bisnis mereka. Strategi yang tepat akan membantu startup meraih kesempatan berkembang secara maksimal di masa depan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh CRMS, dengan judul Strategi Tata Kelola Organisasi dan Risiko untuk Startup. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.