Analisis Risiko Proyek untuk Menghadapi Perubahan Iklim
Beberapa organisasi saat ini sedang dalam proses memulai dan merencanakan proyek-proyek besar untuk mengatasi risiko iklim dan energi, untuk mengurangi emisi karbon dan konsumsi air, atau untuk beralih sebagian atau seluruhnya ke sumber energi terbarukan.
Namun, kegagalan umum yang ditemukan dalam evaluasi awal proyek-proyek tersebut berkaitan dengan kebingungan dalam mengidentifikasi dan menilai berbagai jenis risiko yang berdampak pada keberhasilan proyek.
Pentingnya identifikasi dan penilaian risiko untuk proyek ini, yang memerlukan investasi awal besar dengan peluang kegagalan tinggi, harus dilakukan dengan memperhatikan tahapan berbeda di mana risiko muncul.
Kategori Risiko Proyek
Proyek dapat dinilai secara menyeluruh dengan mengidentifikasi dan mengkategorikannya pada tahapan pemodelan, pendanaan, atau realisasi jadwal investasi dan pengembalian. Meskipun risiko-risiko ini terpisah, dampak simultan mereka memerlukan identifikasi dan penilaian individual untuk merumuskan respons yang sesuai pada setiap tahap.
Risiko Pemodelan
Pada tahap pemodelan, risiko terkait dengan gagasan proyek harus diidentifikasi. Proyek yang tidak memberikan nilai intrinsik tidak layak dievaluasi lebih lanjut. Tahap ini mencakup penilaian aliran nilai, kepastian, dan kontrol untuk mencegah optimisme atau pesimisme berlebihan.
Risiko Pendanaan
Risiko pendanaan terkait dengan bagaimana nilai proyek disampaikan kepada pemberi dana. Keberlanjutan dan optimalisasi respons terhadap fluktuasi biaya modal memerlukan analisis sensitivitas dan pemahaman yang baik tentang proporsi pendanaan.
Risiko Realisasi Jadwal
Risiko terkait dengan jadwal investasi dan pengembalian harus dikendalikan untuk memastikan nilai proyek sesuai dengan rencana. Teknik manajemen proyek diperlukan untuk mengendalikan perbedaan antara rencana dan kenyataan.
Identifikasi dan kategorisasi risiko pada masing-masing tahap memungkinkan evolusi respons yang lebih baik, meningkatkan pemahaman risiko, dan memastikan kesuksesan proyek yang lebih besar.
Artikel ini telah diterbitkan oleh PRMIA Intelligent Risk, dengan judul Digging into Project Risks Aimed at Climate Change pada Februari 2023. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Mengukur Kapasitas Risiko untuk Inisiatif Strategis
Saat ini, manajemen risiko korporat berkembang menjadi manajemen portofolio risiko holistik, dengan tujuan menghilangkan risiko yang tidak diinginkan untuk memberikan ruang bagi pengambilan risiko yang cerdas pada inisiatif bisnis strategis dengan hasil tinggi.
Pertanyaan-pertanyaan menantang muncul dalam mengelola risiko secara holistik, termasuk sejauh mana kapasitas risiko organisasi dan bagaimana menilai seberapa besar pengambilan risiko yang wajar.
Langkah pertama adalah mengidentifikasi ambang batas metrik keuangan kritis organisasi, seperti keterikatan pada peringkat kredit korporat minimum atau kepatuhan pada perjanjian utang keuangan.
Langkah kedua adalah menentukan fluktuasi metrik keuangan historis untuk memperkirakan ketidakpastian masa depan. Pendekatan umum adalah dengan mengukur variabilitas dalam data laporan keuangan historis.
Langkah ketiga adalah melibatkan pembangunan skenario model stokastik kasus dasar untuk hasil bisnis. Model ini memanfaatkan fluktuasi yang diestimasi dari metrik keuangan masa depan, memberikan distribusi yang masuk akal dari hasil bisnis di sekitar estimasi titik proyeksi.
Setelah membangun model dasar, skenario tambahan dapat ditambahkan untuk mengevaluasi inisiatif strategis yang mungkin bersaing. CEO dan CFO dapat menggunakan model ini untuk membuat keputusan informasi dalam situasi yang memerlukan tindakan cepat, seperti penawaran di lelang merger dan akuisisi.
Dalam perencanaan inisiatif strategis, skenario tambahan dapat memberikan wawasan tentang tindakan mitigasi yang memberikan ruang kapasitas risiko yang cukup. Penting untuk mengidentifikasi risiko yang tidak seimbang untuk dieliminasi, seperti eksposur mata uang asing dan komoditas, yang mungkin tidak terkait dengan bisnis inti perusahaan.
Dengan mengukur kapasitas risiko organisasi dan menambahkan skenario untuk inisiatif strategis, perusahaan dapat mengambil risiko secara cerdas sesuai dengan batas toleransi risiko. Jika ruang kapasitas risiko tidak tersedia, langkah-langkah mitigasi dapat dilakukan untuk menciptakan portofolio risiko yang sesuai dengan pengambilan risiko strategis yang berkeuntungan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh ERMA, dengan judul How to Measure Risk Capacity for Strategic Initiatives. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Blockchain dalam Energi: Menuju Solusi yang Berkelanjutan
Saat sistem energi global berada dalam krisis yang mendalam, pencarian solusi untuk mencapai emisi net-zero di masa depan menjadi tugas penting bagi umat manusia. Teknologi blockchain, dasar dari mata uang kripto seperti Bitcoin dan Ethereum, menawarkan potensi besar untuk memperbaiki sektor energi dengan meningkatkan efisiensi transaksi, keamanan, dan mendorong desentralisasi, termasuk dalam energi terbarukan.
Meski memiliki potensi positif yang signifikan, penerapan blockchain dalam sektor energi tidak lepas dari tantangan. Konsumsi energi tinggi dan risiko konsentrasi kendali menjadi beberapa hambatan yang perlu diatasi. Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan tata kelola dan regulasi blockchain di sektor energi agar pemanfaatannya dapat dilakukan secara bertanggung jawab.
Laporan World Economic Forum mencatat variasi yang cukup besar antar blockchain dalam hal jejak karbon dan intensitas energi. Mekanisme konsensus, jenis blockchain, dan tumpukan teknologi turut memengaruhi dampak energi. Meskipun komunitas blockchain telah membuat kemajuan dalam mengukur konsumsi energinya, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mempersiapkan regulasi yang akan datang.
Penggunaan blockchain di sektor energi berpotensi merevolusi industri dengan menciptakan sistem untuk mengelola produksi, distribusi, dan konsumsi energi. Perdagangan energi terbarukan secara peer-to-peer dan dukungan terhadap teknologi baru seperti kendaraan listrik dan baterai pintar untuk penyimpanan energi adalah beberapa manfaat yang bisa dihasilkan.
Namun, penting untuk mempertimbangkan dampak energi dari blockchain secara menyeluruh untuk menghindari potensi kerusakan lingkungan. Laporan World Economic Forum merangkum visi komunitas blockchain untuk mengukur konsumsi energi di berbagai proyek dan memberikan saran untuk pengembangan masa depan komunitas blockchain:
- Memberikan prinsip panduan dan perangkat bagi perusahaan, regulator, dan startup untuk memanfaatkan potensi blockchain guna mencapai tujuan net-zero.
- Menguraikan pendekatan potensial terhadap penilaian dampak terpadu yang mempertimbangkan perspektif lingkungan, sosial dan ekonomi, untuk mempersiapkan perusahaan dan solusi blockchain untuk regulasi yang akan datang.
- Mengilustrasikan penerapan blockchain yang efektif untuk masalah permintaan dan pasokan energi dan investasi, menuju pencapaian solusi net-zero sepenuhnya.
Penting untuk mempertimbangkan dengan cermat dampak energi dari blockchain dan memastikan bahwa pengembangan solusi tidak hanya memberikan manfaat, tetapi juga tidak menimbulkan kerusakan lebih lanjut pada lingkungan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh World Economic Forum dengan judul Guidelines for Improving Blockchain’s Environmental, Social and Economic Impact. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Strategi Tata Kelola Organisasi dan Manajemen Risiko: Kunci Kesuksesan Startup
Tata kelola organisasi dan risiko yang efektif adalah strategi kunci bagi kesuksesan startup. Banyak startup gagal karena manajemen organisasi yang buruk dan kurangnya tindakan pencegahan yang memadai. Oleh karena itu, memiliki infrastruktur tata kelola dan risiko yang tepat sejak awal sangat penting untuk mendukung kesuksesan jangka panjang.
Tata kelola dan manajemen risiko yang efektif dalam suatu organisasi akan mengikuti prinsip-prinsip dasar seperti akuntabilitas, keberlanjutan, dan pengelolaan sumber daya. Prinsip-prinsip ini akan memberikan dukungan pada proses dokumentasi yang jelas terkait dengan aspek-aspek berikut:
- Peran, tanggung jawab, dan pengaturan organisasi untuk pendiri, manajemen, dan semua staf startup.
- Proses aktivitas bisnis yang krusial, termasuk rekrutmen, pembiayaan, dan pengembangan bisnis.
- Pengelolaan konflik kepentingan dan sistem informasi organisasi.
- Hubungan antara investor dan pemegang saham.
- Penggunaan sumber daya yang tepat untuk mendukung manajemen risiko, termasuk Sumber Daya Manusia (SDM), hukum, kepatuhan, teknologi, dan keuangan.
- Tindakan korporatif yang melibatkan modal saham.
- Kinerja direksi sebagai pihak utama yang menjaga budaya serta keberlanjutan startup.
Implementasi strategi tata kelola dan risiko yang tepat pada startup membawa beberapa manfaat konkret, termasuk meningkatkan kepercayaan investor, meningkatkan ketepatan waktu dan kualitas pengambilan keputusan, mengurangi risiko hukum dan peraturan, serta meningkatkan tata kelola operasional.
Setiap startup membutuhkan kerangka tata kelola dan manajemen risiko yang sesuai dengan karakteristik bisnis mereka. Strategi yang tepat akan membantu startup meraih kesempatan berkembang secara maksimal di masa depan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh CRMS, dengan judul Strategi Tata Kelola Organisasi dan Risiko untuk Startup. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Peningkatan Adopsi Kecerdasan Buatan di Australia
Australia, meskipun tengah berada dalam revolusi global data dan analitika, masih menemui kendala dalam mengadopsi kecerdasan buatan (AI) secara luas. Perusahaan dan lembaga pemerintah di Australia belum sepenuhnya memanfaatkan potensi AI untuk mendapatkan nilai dari investasi.
AI, dengan penggunaan analitika canggih termasuk pembelajaran mesin, merupakan kekuatan utama yang akan mengubah berbagai industri dalam dekade mendatang. Investasi global sekitar US$93,5 miliar pada tahun 2022 menunjukkan besarnya potensi AI. Survei menunjukkan bahwa 84% perusahaan merasa AI memberikan keunggulan kompetitif.
AI membawa potensi transformasi dalam empat aspek utama: optimisasi, personalisasi, otomatisasi, dan operasi berbasis prediksi. Contohnya, Woolworths menggunakan algoritma AI untuk personalisasi stok di setiap toko, sementara Endeavour Energy memanfaatkan visi komputer AI untuk memantau aset secara real-time.
Keuntungan finansial AI dapat mencakup pengurangan biaya operasional sekitar 15–30%, dan peningkatan pendapatan 6–10%. Selain itu, implementasi AI melaporkan peningkatan budaya dan kolaborasi, dengan 78% tim yang mengimplementasikan AI melaporkan kolaborasi yang lebih baik.
Dalam konteks pelanggan yang semakin aktif secara digital, AI dapat memberikan pengalaman pelanggan yang personal dan membedakan suatu perusahaan. Adopsi e-commerce yang terus meningkat dan kebutuhan pelanggan untuk pengalaman yang unggul membuat AI menjadi perbedaan signifikan di pasar.
Meskipun potensi AI besar, perusahaan sering kali menghadapi tantangan dalam mengimplementasikannya. Untuk mempercepat proses menuju implementasi yang sukses dan nilai yang berkelanjutan, beberapa langkah kunci perlu diambil, seperti komitmen dan ketekunan kepemimpinan, akses ke bakat berkualitas, fleksibilitas tata kelola lintas fungsional, pemantauan kemajuan, dan pembangunan platform teknologi dan data yang berfokus pada bisnis.
Dewan dan eksekutif di Australia sering merasa ragu-ragu untuk mengadopsi AI secara ambisius karena kekhawatiran akan risiko terhadap data pelanggan dan reputasi. Untuk mengatasi ini, diperlukan pendekatan AI yang bertanggung jawab dengan fokus pada etika, keadilan, dan transparansi. Kepercayaan pelanggan dapat dibangun dengan uji kepercayaan yang sederhana dan manajemen data yang rumit tapi penting.
Penting bagi perusahaan Australia untuk mengatasi dua hambatan utama dalam mengadopsi AI: mengatasi tantangan implementasi dengan memperhatikan faktor keberhasilan kunci dan mengelola risiko serta membangun kepercayaan dengan mengadopsi pendekatan AI yang bertanggung jawab.
Dalam menghadapi revolusi data dan analitika global, Australia memiliki peluang besar untuk mengejar ketertinggalannya dalam mengadopsi kecerdasan buatan. Dengan langkah-langkah konkret dan fokus pada faktor keberhasilan serta kepercayaan pelanggan, perusahaan Australia dapat mengubah potensi menarik AI menjadi kenyataan yang memberikan nilai dan keunggulan kompetitif.
Artikel ini telah diterbitkan oleh BCG dengan judul Accelerating Australia’s AI Adoption pada 11 Mei 2023. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Pertumbuhan Hijau: Membuka Peluang Keberlanjutan untuk Bank Ritel
Sebuah survei terbaru oleh McKinsey menunjukkan adanya permintaan konsumen yang signifikan dan terus berkembang untuk produk keuangan yang terkait dengan iklim di antara konsumen Amerika. Namun, konsumen memerlukan lebih banyak edukasi dan panduan untuk membuat keputusan pembelian yang terinformasi, dan penyedia harus membedakan diri dari yang lain. Tawaran umum tentang lingkungan, sosial, dan tata kelola tidak cukup untuk memenangkan persaingan di lanskap yang berubah ini.
Berikut adalah lima wawasan dari survei dan implikasinya bagi lembaga keuangan:
- Permintaan untuk produk keuangan berkelanjutan sangat kuat dan luas, dan tidak terbatas pada segmen tertentu. Hampir 40 persen konsumen AS melaporkan minat untuk mendaftar ke produk keuangan terkait iklim. Mayoritas dari mereka melihat ini sebagai perubahan perilaku yang potensial, dengan dua dari tiga orang bersedia mengalokasikan lebih dari 40 persen tabungan atau pengeluaran kartu kredit bulanan mereka untuk produk perbankan ritel hijau.
- Penawaran hijau adalah peluang bisnis bagi lembaga keuangan, bukan pemberian. Banyak produk keuangan hijau dirancang dan dijual sebagai penawaran “pemberian”—misalnya, diskon pinjaman untuk kendaraan listrik atau imbalan lebih tinggi pada kartu kredit. Namun, risiko dari pendekatan ini adalah bahwa produk pemberian cenderung tidak berkembang menjadi bisnis yang menarik karena kurang menguntungkan secara finansial. Namun, penelitian menunjukkan bahwa dalam banyak kasus, konsumen bersedia membayar lebih untuk produk keuangan terkait iklim, terutama dalam konteks tabungan, investasi, dan saran pribadi, asalkan produk tersebut memberikan dampak yang dapat diukur atau dapat dibuktikan.
- Konsumen berharap mendapatkan saran dan dukungan dari mitra keuangan mereka. Konsumen sering merasa kewalahan dan bingung dalam beralih ke gaya hidup yang lebih berkelanjutan. Mereka dibanjiri dengan penawaran, tetapi tidak memiliki akses mudah ke saran teknis dan keuangan berkualitas tentang cara atau apakah mengadopsi tawaran-tawaran ini ke dalam hidup mereka. Inilah tempat di mana bank-bank berada dalam posisi baik untuk melayani pelanggan mereka.
- Konsumen perlu mendapatkan edukasi—mereka mungkin belum memiliki pandangan yang kuat tentang produk hijau yang paling cocok untuk kebutuhan mereka. Sementara minat konsumen terhadap produk keuangan terkait iklim adalah nyata, pemahaman konsumen tentang produk-produk tersebut—jenis produk, dampak, manfaatnya, dll.—sangat rendah. Lembaga keuangan perlu mendidik pelanggan tentang proposisi nilai iklim dan keuangan dari produk mereka.
- Konsumen belum membedakan antara bank-bank dalam topik iklim, memberikan peluang bagi bank untuk mengklaim diri sebagai kredibel, inovatif, dan pemimpin dalam pasar ini. Meskipun telah dilakukan upaya hijau selama lebih dari lima tahun, termasuk tagihan tanpa kertas dan kampanye tanggung jawab sosial, lembaga keuangan belum berhasil membuktikan diri sebagai mitra kredibel dalam transisi iklim. Diperlukan langkah-langkah segera untuk mendefinisikan dan menyampaikan merek iklim yang menarik dan dapat diakses untuk mendukung ambisi produk dan layanan mereka.
Sejumlah lembaga keuangan sudah mulai berpikir kreatif untuk menangkap peluang hijau. Beberapa langkah yang dapat diambil oleh lembaga keuangan untuk segera memanfaatkan peluang ini antara lain:
– Temukan kecocokan pasar produk dengan mengidentifikasi kebutuhan pelanggan yang nyata yang dapat dilayani dengan cara yang unik dengan produk keuangan—dan cepat melakukan uji coba untuk memahami ketidaksesuaian antara minat yang dinyatakan konsumen dan perilaku sebenarnya.
– Identifikasi langkah-langkah yang diperlukan untuk membangun, meluncurkan, dan memperluas produk-produk iklim—termasuk pertimbangan data, teknologi, operasional, penjaminan, risiko, pemasaran, dan penjualan.
– Rancang model operasional organisasi untuk mendukung produk baru ini, termasuk ketergantungan pada “inti” (misalnya, teknologi, distribusi, dan risiko).
– Tentukan penanda kesuksesan dalam dua hingga tiga tahun pertama (sebelum sebagian besar produk baru mencapai titik impas).
Perubahan kebijakan, insentif yang berkembang, dan penurunan biaya teknologi dengan cepat memiliki potensi untuk mengubah cara hidup masyarakat. Sekarang, lebih dari sebelumnya, lembaga keuangan berada dalam posisi baik untuk bermitra dengan konsumen dalam perjalanan dekarbonisasi mereka dan dapat memperoleh manfaat strategis dan keuangan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh McKinsey, dengan judul Green Growth: Unlocking Sustainability Opportunities for Retail Banks pada 21 April 2023. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
OJK: Stabilitas Keuangan Terjaga di Tengah Ketidakpastian Global
Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 3 Mei 2023 menyimpulkan bahwa stabilitas sektor jasa keuangan di Indonesia tetap terjaga di tengah ketidakpastian global. Meskipun berbagai gejolak seperti eskalasi tensi geopolitik, permasalahan perbankan AS, dan tingkat inflasi global masih menjadi potensi kerentanan, sektor keuangan Indonesia mampu mempertahankan stabilitasnya.
Ekonomi Indonesia Solid dan Berkembang:
Data terkini menunjukkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,03% YoY pada triwulan I 2023, meningkat dari 5,01% YoY pada triwulan IV 2022. Inflasi terkendali selama Ramadan dan Hari Raya, dengan langkah antisipatif pemerintah terhadap harga bahan pangan. Sektor manufaktur terus berkembang selama 20 bulan berturut-turut, dan neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus meskipun sempit.
Pasar Modal dan Obligasi:
Pasar saham mengalami kenaikan pada April 2023, dengan IHSG menguat sebesar 1,62% MTD. Pasar obligasi juga mengalami penguatan. Industri reksa dana mencatatkan penurunan Nilai Aktiva Bersih (NAB), sedangkan penghimpunan dana di pasar modal tetap tinggi.
Sektor Perbankan:
Kredit perbankan tumbuh sebesar 9,93% YoY, didorong oleh kredit investasi. Dana Pihak Ketiga (DPK) melandai, terutama pada simpanan giro. Likuiditas industri perbankan tetap dalam level yang memadai, dengan risiko kredit dan restrukturisasi Covid-19 yang terus menurun. Permodalan perbankan masih solid.
Sektor IKNB (Industri Keuangan Non-Bank):
Pendapatan premi sektor asuransi terkontraksi, terutama pada asuransi jiwa. Perusahaan pembiayaan mencatat pertumbuhan aset, dan FinTech P2P lending masih tumbuh.
Edukasi dan Perlindungan Konsumen:
OJK meningkatkan upaya dalam literasi dan keuangan, serta perlindungan konsumen. Pada April 2023, OJK telah melaksanakan 332 kegiatan edukasi keuangan dan mengakselerasi penanganan pinjaman online ilegal.
Kebijakan OJK:
OJK mengambil langkah-langkah kebijakan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, memperkuat sektor jasa keuangan, dan meningkatkan tata kelola. OJK juga memperhatikan ketidakpastian global dan mengantisipasi dampaknya melalui berbagai kebijakan proaktif.
Dengan berbagai langkah ini, OJK optimis bahwa stabilitas sektor keuangan dapat terus terjaga, mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, dan melindungi kepentingan konsumen di tengah ketidakpastian global.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan dengan judul Resiliensi Sektor Jasa Keuangan Terjaga di Tengah Berlanjutnya Ketidakpastian Global pada 5 Mei 2023. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Menghadapi Risiko Siber: Jalan Menuju Kesederhanaan Bisnis
Dalam pertemuan dewan, CIO perusahaan global membahas perlunya melindungi data dan sistem perusahaan. Meskipun ada dorongan untuk investasi, keamanan terabaikan dalam akuisisi perusahaan di wilayah dengan risiko siber tinggi. Keberadaan CIO memungkinkan perubahan pendekatan akuisisi, mengintegrasikan perusahaan baru ke dalam infrastruktur yang lebih aman.
Pemimpin yang serius tentang keamanan siber perlu menyederhanakan kompleksitas korporat. Pertanyaan tentang risiko siber, transparansi kemitraan eksternal, dan keamanan proses warisan IT perlu diajukan dalam percakapan strategis.
Kompleksitas operasi, sistem, dan jejak perusahaan telah meningkat, diperparah oleh digitalisasi cepat dan ekosistem mitra baru. Arsitektur teknologi organisasi sering terdiri dari lapisan sistem warisan yang rentan. Keamanan siber semakin berisiko akibat adopsi solusi digital dari tantangan bisnis COVID-19.
Pemimpin dapat menilai seberapa rumit bisnis mereka dengan mempertimbangkan Teorema Coase: apakah biaya kompleksitas lebih besar daripada manfaat bekerja sama di dalam perusahaan? Untuk mengatasi kerumitan, pemimpin perlu memastikan langkah-strategis tidak menambah risiko dan menyadari bahwa membuat teknologi informasi perusahaan lebih sederhana mungkin memerlukan perubahan dasar dalam struktur.
Menanggulangi Kompleksitas dalam Tiga Area:
- Model Bisnis: Perusahaan harus lebih dari sekadar perbaikan. Pemimpin perlu mempertimbangkan model bisnis dan mengidentifikasi otonomi keputusan digital yang dapat memengaruhi kompleksitas dan keamanan.
- Mitra Eksternal: Tantangan melibatkan ekosistem dan rantai pasokan memerlukan transparansi yang lebih besar. Mengurangi kompleksitas dapat membangun kepercayaan dengan mengurangi jumlah mitra dan meningkatkan pemantauan keamanan.
- Sistem Internal: Proses dan sistem internal perlu diinspeksi untuk melihat kompleksitas dan risiko. Pemimpin harus mengenali kebutuhan perubahan fundamental dalam sistem warisan untuk menjaga keseimbangan antara keamanan dan kompleksitas.
Meskipun mencapai penyederhanaan tidak mudah, manfaatnya melampaui keamanan siber. Pemimpin yang siap mengambil tindakan disengaja, melibatkan tim manajemen, dan berinvestasi dalam perubahan pola pikir akan menciptakan blueprint yang lebih baik untuk perusahaan yang dapat diamankan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh PWC dengan judul Simplifying Cybersecurity pada 17 Februari 2021. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Peran Kunci Pemimpin Hukum dalam Menghadapi Tantangan Keberlanjutan
Isu keberlanjutan semakin menimbulkan risiko hukum, regulasi, dan reputasi, menuntut peran kunci dari departemen hukum. Kompleksitas lanskap keberlanjutan, mencakup isu lingkungan, sosial, dan tata kelola. Pergeseran dari komitmen sukarela menjadi implementasi menempatkan tekanan besar pada perusahaan untuk mengatasi masalah lingkungan dan sosial.
Sebagai respons, EY Law dan Harvard Law School Center melakukan studi melibatkan 1.000 Pemimpin Departemen Hukum dan Chief Legal Officers dari 20 negara dan 12 industri. Studi ini bertujuan untuk memahami bagaimana departemen hukum beradaptasi dengan pentingnya isu keberlanjutan.
Temuan Utama:
- Perubahan Sikap Publik: Pemimpin Departemen Hukum melaporkan bahwa perubahan sikap publik merancang profil risiko organisasi mereka, tetapi kepemimpinan seringkali tidak sepenuhnya memahami implikasinya.
- Ekspansi Fokus ke Risiko Reputasi: Risiko reputasi terkait keberlanjutan mendorong departemen hukum untuk melibatkan diri lebih luas dalam area yang sebelumnya dikelola oleh fungsi bisnis lainnya.
- Keterlibatan yang Meningkat: Departemen hukum semakin terlibat dalam pengambilan keputusan sehari-hari dan berkolaborasi lintas fungsi bisnis.
- Tantangan Utama dalam Keberlanjutan: Menyampaikan saran kepada pimpinan mengenai harapan publik yang melebihi kewajiban hukum dan regulasi.
- Harapan Pekerjaan: Departemen hukum memperkirakan peningkatan yang signifikan dalam beban kerja terkait dengan isu lingkungan, sosial, dan keselamatan karyawan dalam tiga tahun mendatang.
- Tantangan Sumber Daya: Kurangnya keahlian dan anggaran menjadi hambatan utama dalam mendukung inisiatif keberlanjutan.
Rekomendasi dan Tindakan
- Definisikan Peran dengan Jelas: Pemimpin Departemen Hukum perlu mendefinisikan peran departemen hukum dalam keberlanjutan serta membentuk kemitraan, tujuan, dan kerangka tata kelola.
- Tingkatkan Kesadaran Pemimpin Bisnis: Edukasi pimpinan organisasi tentang risiko lingkungan dan sosial serta memastikan kesesuaian dengan tujuan keberlanjutan.
- Kelola Tantangan Bersaing: Kembangkan kerangka kerja untuk mengatasi tantangan memadukan tujuan keuangan dan keberlanjutan.
- Fleksibilitas Operasional: Bangun model operasional yang memberikan fleksibilitas, skala, dan keahlian yang diperlukan untuk mengelola beban kerja keberlanjutan.
- Strategi Sumber Daya yang Tepat: Pilih strategi sumber daya yang sesuai dengan keadaan dan tantangan departemen hukum.
- Perluas Manajemen Risiko: Tingkatkan upaya manajemen risiko untuk mencakup risiko reputasi dan risiko non-hukum terkait keberlanjutan.
Meskipun dihadapkan pada tantangan yang kompleks, peran kunci Pemimpin Hukum dalam memimpin transformasi keberlanjutan menjadi semakin krusial. Dengan menetapkan prioritas yang tepat, mengatasi hambatan dengan efektif, dan mengelola sumber daya secara bijak, organisasi dapat memperkuat fondasi mereka untuk meraih kesuksesan di masa depan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh EY dengan judul The General Counsel Imperative: How the Law Department is Key in Unlocking Your Sustainability Strategy pada 6 April 2022. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Pemanfaatan Kecerdasan Buatan dalam Evaluasi Risiko
Risiko adalah seberapa besar dampak yang mungkin terjadi pada suatu organisasi oleh peristiwa tertentu, ditambah seberapa mungkin peristiwa itu terjadi. Evaluasi risiko melibatkan pemikiran hati-hati tentang ancaman dan kelemahan untuk menilai dampak buruk yang mungkin terjadi. Analisis kualitatif dan kuantitatif diperlukan dalam proses ini.
Evaluasi risiko sangat penting untuk manajemen risiko yang efektif. Untuk meningkatkan akurasi, kita dapat memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) karena kemampuannya dalam mengelola dan menginterpretasi data dengan cepat.
Teknologi AI dapat mendeteksi, menganalisis, dan merespons ancaman dengan cepat, membantu mengurangi kesalahan dalam mengidentifikasi risiko. AI juga dapat membantu mengukur risiko dengan lebih akurat dan memberikan konteks pada kerentanan, serta membantu dalam analisis data tak terstruktur.
AI dapat memprediksi risiko di masa depan dengan menganalisis pola terkait insiden masa lalu. Hal ini juga membantu meningkatkan transparansi antara proses bisnis dan risiko, serta membantu auditor dalam analisis menyeluruh.
Penggunaan AI dalam evaluasi risiko memungkinkan pengukuran otomatis dan peningkatan akurasi dalam prediksi hasil yang diharapkan. Hal ini juga memungkinkan pengawasan kontrol yang lebih inovatif dan proaktif.
Langkah pertama dalam mengintegrasikan AI adalah mengidentifikasi risiko yang perlu dinilai dan menentukan jenis data yang diperlukan. Penggunaan AI harus terus dievaluasi dan disesuaikan sesuai kebutuhan.
Dengan adopsi terus-menerus dari teknologi AI, evaluasi dan manajemen risiko akan menjadi lebih dinamis dan efisien, membantu pengambilan keputusan yang lebih baik di berbagai lembaga dan organisasi.
Artikel ini telah diterbitkan oleh ISACA dengan judul Can AI Be Used for Risk Assessments oleh Adeline Chan pada 28 April 2023. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.