Mengapa Penilaian Risiko Penting: Menjaga Kesuksesan di Tengah Ketidakpastian
Di dunia yang cepat dan tak terduga saat ini, kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengelola risiko dengan efektif telah menjadi sangat penting bagi individu, bisnis, dan organisasi di berbagai sektor. Penilaian risiko, proses mengevaluasi ancaman dan kerentanan potensial, memainkan peran penting dalam mengurangi ketidakpastian dan menjaga kesuksesan.
Berikut beberapa poin penting mengapa penilaian risiko harus menjadi bagian integral dari proses pengambilan keputusan dalam bisnis.
- Mengidentifikasi Ancaman Potensial
Penilaian risiko memungkinkan individu dan organisasi untuk mengidentifikasi dan memahami ancaman potensial yang dapat menghambat kemajuan atau menimbulkan kerusakan. Dengan melakukan analisis menyeluruh, risiko dapat diidentifikasi di berbagai area seperti operasional, keuangan, lingkungan, hukum, dan reputasi. Pendekatan proaktif ini memungkinkan deteksi dini dan alokasi sumber daya yang tepat untuk mengelola dan mengurangi risiko tersebut secara efektif.
- Prioritas Risiko
Tidak semua risiko sama dalam hal dampak dan kemungkinan terjadinya. Penilaian risiko membantu dalam memprioritaskan risiko berdasarkan tingkat keparahan dan kemungkinan terjadinya. Hal ini memungkinkan individu dan organisasi untuk fokus pada upaya dan sumber daya pada risiko paling kritis, memastikan bahwa langkah-langkah pencegahan dan rencana kontingensi tersedia untuk mengatasi mereka dengan memadai.
- Pengambilan Keputusan yang Informatif
Dengan memasukkan penilaian risiko ke dalam proses pengambilan keputusan, individu dan organisasi dapat membuat pilihan yang lebih informatif. Penilaian risiko memberikan wawasan berharga tentang konsekuensi potensial dan kemungkinan berbagai opsi, memungkinkan para pengambil keputusan untuk menimbang risiko terhadap manfaat yang potensial. Pendekatan pengambilan keputusan yang informatif ini membantu untuk meminimalkan hasil negatif yang tidak terduga dan memaksimalkan peluang kesuksesan.
- Meningkatkan Kesiapan
Penilaian risiko memfasilitasi perencanaan dan kesiapan yang efektif. Dengan mengidentifikasi risiko dan kerentanan potensial, individu dan organisasi dapat mengembangkan strategi yang kokoh untuk menangani kontingensi. Ini termasuk membuat rencana tanggap darurat, mendirikan sistem cadangan, dan menerapkan langkah-langkah pencegahan untuk meminimalkan dampak risiko saat mereka muncul. Kesiapan membangun ketahanan dan memastikan respons yang cepat, meminimalkan gangguan dan kerugian potensial.
- Meningkatkan Kepercayaan Pemangku Kepentingan
Pemangku kepentingan, termasuk investor, pelanggan, karyawan, dan mitra, mengandalkan organisasi untuk mengelola risiko dengan tepat. Melakukan penilaian risiko dan menunjukkan pendekatan proaktif menanamkan kepercayaan di antara pemangku kepentingan. Ini menunjukkan komitmen organisasi untuk memastikan kesejahteraan pemangku kepentingan dan melindungi reputasinya di hadapan krisis potensial.
- Kepatuhan dengan Regulasi
Di banyak industri, badan regulasi mengharuskan organisasi untuk melakukan penilaian risiko dan menerapkan praktik manajemen risiko. Mematuhi regulasi ini penting untuk kepatuhan hukum dan menghindari sanksi. Penilaian risiko membantu organisasi mengidentifikasi kesenjangan dalam kepatuhan dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan regulasi, memastikan operasi yang lancar dan mengurangi risiko hukum dan keuangan potensial.
- Perbaikan Berkelanjutan
Penilaian risiko bukanlah kegiatan sekali waktu tapi proses yang berkelanjutan. Melakukan peninjauan dan pembaruan secara teratur memungkinkan organisasi untuk beradaptasi dengan perubahan keadaan dan risiko yang muncul. Ini mendorong budaya perbaikan berkelanjutan, di mana pelajaran dari pengalaman masa lalu dimasukkan ke dalam strategi manajemen risiko masa depan, memupuk ketahanan dan adaptabilitas.
Pentingnya penilaian risiko tidak bisa dianggap remeh dalam lingkungan yang kompleks dan dinamis saat ini. Ini menyediakan dasar bagi manajemen risiko yang efektif, memungkinkan individu dan organisasi untuk mengidentifikasi, memprioritaskan, dan mengurangi ancaman potensial.
Dengan merangkul penilaian risiko sebagai bagian integral dari proses pengambilan keputusan, organisasi dapat meningkatkan kemampuan mereka untuk menavigasi ketidakpastian, menjaga kepentingan mereka, dan menangkap peluang kesuksesan di dunia yang selalu berubah.
Artikel ini telah diterbitkan oleh ERMA, dengan judul The Importance of Risk Assessment: Safeguarding Success Amidst Uncertainty. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Peran Dewan dalam Pengelolaan Risiko Siber
Dalam hal keamanan siber organisasi, dewan direksi dan para pejabat memiliki tanggung jawab yang terus berkembang. Perlindungan bagi investor, deposan, konsumen, pasien, dan karyawan pun menjadi prioritas bagi otoritas federal dan negara bagian, termasuk Komisi Sekuritas dan Bursa (Securities and Exchange Commission atau SEC), Komisi Perdagangan Federal (Federal Trade Commission atau FTC), Departemen Jasa Keuangan New York (New York’s Department of Financial Services atau NYDFS), jaksa agung California, serta otoritas-otoritas lain di Amerika Serikat dan seluruh dunia.
Regulasi yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga ini, seperti SEC dan NYDFS, akan menetapkan standar keamanan siber yang harus dipenuhi oleh manajer dan direktur perusahaan. Ini menegaskan bahwa keamanan siber bukan lagi tanggung jawab semata dari departemen teknologi informasi, melainkan menjadi kewajiban fidusia dewan untuk mengawasi program keamanan siber secara lebih ketat.
Untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang keamanan siber, dewan memiliki beberapa opsi. Mereka dapat merekrut anggota dewan yang ahli di bidang tersebut atau melibatkan konsultan eksternal yang kompeten dalam keamanan siber. Pelatihan mengenai dasar-dasar keamanan siber juga dapat diintegrasikan ke dalam laporan perusahaan, menunjukkan komitmen serius dari perusahaan dan dewan terhadap tata kelola siber.
Manajemen Risiko Siber dan Asuransi Perlindungan
Manajemen risiko siber juga menjadi fokus utama, dengan perlunya rencana yang disusun sebelum dan setelah terjadinya insiden terkait keamanan siber. Dewan dan manajemen senior harus secara teratur meninjau strategi pengelolaan risiko siber organisasi, sambil mempertimbangkan aspek-aspek seperti asuransi.
Ketika membuat klaim asuransi terkait insiden siber, organisasi perlu memperhatikan beberapa hal, termasuk memberitahukan semua polis yang relevan kepada perusahaan asuransi tepat waktu, berkonsultasi dengan penasihat hukum, dan mempertimbangkan panduan hukum terkait pembayaran dalam kasus ransomware.
Tidak ada organisasi yang kebal terhadap risiko siber, tetapi dengan tata kelola siber yang baik, organisasi dapat mengurangi paparan risiko dan menjadi lebih tangguh dalam menghadapi insiden siber. Oleh karena itu, penting bagi anggota dewan dan manajemen senior untuk terus memperbarui pengetahuan mereka tentang risiko siber, menerapkan strategi tata kelola yang kuat, dan bekerja sama dengan pemangku kepentingan untuk mengatasi tantangan ini.
Artikel ini telah diterbitkan oleh RM Magazine pada 1 Juni 2023, dengan judul The Board’s Role in Cyberrisk Management. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Keberlanjutan Perusahaan: Manajer Risiko dan Auditor Internal Harus Bekerja Lebih Dekat dengan Dewan Direksi
Tata kelola yang solid adalah kunci utama bagi kesuksesan jangka panjang perusahaan di era modern ini. Dalam lingkungan bisnis yang semakin memperhatikan keberlanjutan, penting bagi perusahaan untuk tidak hanya memasukkan prinsip-prinsip ini ke dalam operasional mereka, tetapi juga untuk memastikan bahwa tujuan strategis terkait keberlanjutan terwujud.
Namun, dengan evolusi regulasi seperti CSRD (Corporate Sustainability Reporting Directive), ESRS (European Single Reporting Standard), dan inisiatif serupa lainnya, terjadi pergeseran paradigma. Perusahaan harus kembali meninjau cara mereka mengelola risiko, audit internal, dan tata kelola secara menyeluruh.
Perusahaan sekarang harus secara cermat mempertimbangkan dampak lingkungan dan sosial dari kegiatan operasional mereka, dari produksi hingga produk dan layanan yang mereka tawarkan. Hal ini mendorong dewan direksi untuk mengubah pendekatan mereka. Bahkan perusahaan kecil yang terlibat dalam rantai nilai perusahaan besar harus mengungkapkan secara jujur risiko ESG (Environmental, Social, and Governance) yang mereka hadapi.
Dalam konteks ini, peran manajer risiko dan auditor internal semakin vital. Mereka tidak hanya harus mengidentifikasi dan mencegah praktik greenwashing, tetapi juga memastikan bahwa perusahaan benar-benar memperhatikan dampak ESG secara menyeluruh. Melalui pertanyaan-pertanyaan kritis dan dukungan aktif dalam proses peninjauan perusahaan, mereka berkontribusi pada pondasi keberlanjutan perusahaan.
Perlindungan bagi dewan juga menjadi prioritas. Mereka harus memastikan bahwa mereka memahami sepenuhnya dampak ESG dalam model bisnis perusahaan dan menggunakan informasi eksternal secara menyeluruh. Keselarasan dalam penggunaan bahasa dan pemahaman tentang rantai nilai membantu dewan dalam mencapai tujuan keberlanjutan.
Kerjasama erat antara manajer risiko, auditor internal, dan dewan adalah kunci dalam memastikan perusahaan dapat memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman mereka secara optimal. Mereka harus memiliki pemahaman yang sama tentang risiko dan peluang keberlanjutan, serta membangun budaya perusahaan yang memprioritaskan manajemen risiko di semua tingkatan.
Kesimpulannya, perusahaan harus beralih dari sekadar “melaporkan” menjadi “bertindak” dalam hal keberlanjutan. Ini menuntut kerjasama antar profesi di dalam perusahaan. Manajer risiko, auditor internal, dan dewan harus bekerja bersama-sama, memanfaatkan keahlian mereka untuk membangun ketahanan perusahaan. Mereka harus memanfaatkan peluang dari perubahan menuju praktik ramah lingkungan, dan mematuhi standar keberlanjutan dengan pendekatan yang terintegrasi.
Artikel ini telah diterbitkan oleh FERMA, dengan judul Corporate Sustainability: Risk Managers and Internal Auditors must work closer with Boards of Directors. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Menuju Keberlanjutan: Tantangan dan Peluang dalam Perbankan Ritel
Perubahan iklim adalah salah satu tantangan utama di zaman kita, dan perusahaan serta individu di semua sektor dihadapkan pada tindakan untuk memerangi dampaknya. Bahkan, bank ritel tidak terkecuali dari tuntutan untuk berkontribusi pada keberlanjutan global. Sebuah survei yang dilakukan terhadap 1.000 nasabah bank Belanda memberikan gambaran yang menarik tentang pandangan mereka terhadap keberlanjutan dalam konteks perbankan ritel.
Kesimpulan utama survei ini menyoroti bahwa keberlanjutan telah menjadi pendorong utama dalam perpindahan nasabah dari satu bank ke bank lain. Kepuasan nasabah terhadap layanan perbankan secara keseluruhan tergolong tinggi, tetapi keberlanjutan semakin menjadi faktor penentu dalam loyalitas nasabah. Faktanya, sebagian nasabah cenderung untuk beralih bank karena alasan keberlanjutan, dan bank-bank yang dipandang paling berkelanjutan mendapat keuntungan dari persepsi positif ini.
Selain itu, survei juga mengungkapkan bahwa kesadaran akan keberlanjutan semakin meningkat di kalangan nasabah, dengan mayoritas percaya bahwa individu dapat membuat perbedaan dalam memerangi perubahan iklim. Hal ini menegaskan pentingnya peran bank dalam membantu nasabah mereka meningkatkan kesadaran dan mengambil tindakan konkret dalam mendukung keberlanjutan.
Dalam konteks perbankan ritel Belanda, bank seperti ASN Bank dan Triodos terlihat sebagai pemimpin dalam hal keberlanjutan, dengan kebijakan dan praktik yang mendukung lingkungan. Namun, tantangan di depan masih besar, dan bank-bank perlu terus bergerak maju dengan mengintegrasikan keberlanjutan dalam semua aspek layanan mereka.
Tindakan untuk meningkatkan upaya keberlanjutan termasuk peningkatan portofolio produk, kesadaran nasabah akan jejak karbon mereka sendiri, integrasi keberlanjutan dalam produk pinjaman, hingga pengembangan program pemasaran digital yang ditargetkan.
Dengan demikian, transformasi keberlanjutan dalam layanan perbankan ritel bukan hanya menjadi kebutuhan, tetapi juga peluang untuk memperkuat keterlibatan dengan nasabah yang sudah ada, menarik pelanggan baru, dan pada akhirnya, memberikan kontribusi positif bagi lingkungan dan masyarakat secara keseluruhan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Roland Berger, dengan judul Retail banking survey: Sustainability and retail banking. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Perbedaan Antara Keamanan IT dan Keamanan Siber dalam Era yang Terhubung Secara Permanen
Sebelum internet mengambil alih segalanya, konsep “siber” adalah hal yang masih baru. “Keamanan IT” telah menjadi perhatian utama bagi organisasi dan individu, bertujuan untuk mencegah manipulasi data dan sistem oleh pihak ketiga yang tidak sah. Namun, fokus ini tidak hanya pada informasi dan data, tetapi juga meliputi perlindungan terhadap pusat data fisik.
Sebelum era smartphone dan cloud computing, keamanan IT terutama difokuskan pada manajemen aset, kontrol akses, manajemen perubahan, pemeliharaan sistem, dan pencadangan dan pemulihan bencana.
Namun, dengan perubahan fundamental dalam cara IT disediakan dan dikonsumsi, terutama dengan kaburnya batas antara sistem hosted dan on-premise, serta meningkatnya pembaruan over the air dan bekerja dari rumah selama pandemi COVID, titik-titik lemah yang dapat dimanfaatkan oleh pihak jahat telah berkembang secara eksponensial.
Menurut Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris (National Cyber Security Centre atau NCSC), peran keamanan siber adalah melindungi perangkat yang digunakan oleh semua orang, serta layanan yang diakses baik secara online maupun di tempat kerja, dari pencurian, kerusakan, dan akses tidak sah terhadap informasi pribadi yang disimpan di perangkat tersebut.
NCSC menetapkan empat tujuan untuk keamanan siber yang baik, yang meliputi manajemen aset, identitas dan kontrol akses, keamanan sistem, dan jaringan dan sistem yang tangguh.
Perbandingan antara definisi “lama” tentang keamanan IT dan definisi “baru” tentang keamanan siber menunjukkan sedikit perbedaan dalam sifat aktivitasnya, tetapi perbedaan besar dalam konteks di mana aktivitas tersebut dilakukan.
Dalam pandangan ini, siber adalah suatu vektor serangan, yang merupakan cara menyerang sistem dan orang melalui internet, baik secara langsung maupun melalui kompromi orang melalui rekayasa sosial.
Dalam era siber ini, tiga area signifikan dimana model keamanan IT tradisional berbeda dari pandangan siber adalah fokus pada keamanan data, perluasan perlindungan terhadap sistem dan infrastruktur dari dunia luar, dan pembangunan proses dan prosedur untuk mendeteksi peristiwa keamanan siber secara proaktif.
Perbedaan utama antara keamanan siber dan keamanan IT tradisional adalah perlunya mempertimbangkan dampak dunia yang selalu aktif dan terhubung secara permanen terhadap orang, sistem, dan data, serta membangun proses baru yang melindungi aset dengan kokoh dan penuh perhitungan.
Oleh karena itu, langkah kedepannya adalah fokus pada menjalankan dasar-dasar keamanan IT dengan baik, mengingat bahwa keamanan siber menambahkan lapisan aktivitas dan kompleksitas, yang memerlukan manajemen yang lebih baik terhadap sistem, data, dan orang yang terpapar.
Dengan teknologi terus berkembang, prinsip-prinsip dasar keamanan IT tetap menjadi landasan penting dalam menghadapi tantangan keamanan siber di era modern yang terhubung secara permanen.
Artikel ini telah diterbitkan oleh ISACA, dengan judul Cyber Versus IT Security in a Permanently Connected World. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Keamanan Siber: Melindungi Sektor Keuangan dan Nasional
Dunia sedang berada di persimpangan yang penting saat ini. Di satu sisi, Amerika Serikat, serta sekutu dan mitranya, sepakat untuk memperkuat aturan dalam sistem internasional. Ini adalah langkah penting untuk menjaga dunia tetap aman dan bebas. Namun, di sisi lain, pemerintahan otoriter seperti Rusia dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) mencoba untuk menciptakan alternatif yang suram. Mereka ingin memperluas pengaruh mereka di dunia.
Revolusi industri keempat, yang menggabungkan dunia fisik, digital, dan biologis, membawa peluang besar. Namun, juga membawa risiko. Bagaimana pemerintahan otoriter memanfaatkan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan komputasi kuantum memiliki dampak yang serius bagi keamanan nasional dan ekonomi Amerika Serikat.
Negara-negara seperti Rusia dan RRT menggunakan serangan siber sebagai alat kekuatan. Mereka mencuri data dan menyebabkan kerusakan melalui serangan siber. Ini menjadi masalah serius bagi Amerika Serikat, terutama ketika lembaga keuangan menjadi sasaran.
Saat ini, pemilik dan operator infrastruktur kritis harus siap menghadapi ancaman siber. Ancaman semacam ini mungkin tidak langsung menyebabkan perang, tetapi dapat berdampak besar. Tidak mengherankan jika banyak orang Amerika khawatir tentang serangan siber, terutama yang datang dari negara seperti RRT dan Rusia.
Apa yang harus dilakukan sekarang? Ada beberapa langkah kunci yang perlu diambil:
- Melindungi data penting di cloud dari serangan siber.
- Perbaiki kelemahan dalam sistem dan pastikan akses terhadap data hanya diberikan kepada yang berhak.
- Gunakan teknologi keamanan untuk melindungi data dengan lebih baik.
- Pertimbangkan ancaman masa depan seperti komputer kuantum dan siapkan strategi untuk menghadapinya.
Dengan mengambil langkah-langkah ini, sektor keuangan dan keselamatan nasional dapat tetap aman dan terlindungi di dunia yang semakin terhubung secara digital.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Booz Allen, dengan judul Financial Sector Cybersecurity is National Security. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Menavigasi Ancaman Alam: Strategi Bank Menghadapi Risiko Iklim
Di tengah ketidakpastian ekonomi dan gejolak likuiditas, bank-bank harus menghadapi risiko baru, yaitu kekuatan destruktif alam. Angin kencang, banjir, dan bahaya lainnya menjadi ancaman serius terhadap aset properti dan produktivitas bisnis dalam portofolio bank. Untuk memahami risiko dan tren yang menyertainya, Bain & Company melakukan analisis data melalui kemitraan strategis dengan firma analisis risiko iklim, Jupiter Intelligence.
Analisis Risiko Fisik yang dilakukan oleh bank-bank mengungkap sejumlah temuan kunci:
Tinjauan Cepat
Langkah ini menyoroti bahwa kebakaran hutan, kekeringan, dan berbagai bencana iklim lainnya dapat mengancam portofolio pinjaman bank. Penurunan nilai aset properti dan dampak negatif terhadap profitabilitas bisnis hipotek menjadi risiko yang patut diperhitungkan.
Namun, dengan mengambil langkah-langkah tepat, bank dapat meningkatkan stabilitas keuangan mereka, mempertahankan kepercayaan pelanggan, dan mematuhi standar regulasi yang semakin ketat.
Tren dan Risiko Fisik
Tahap ini menyoroti bahwa perilaku iklim telah mengalami peningkatan signifikan sejak pertengahan abad terakhir, seiring dengan meningkatnya emisi karbon dioksida dan suhu global. Regulator keuangan global semakin menekankan pentingnya akuntabilitas dalam mengukur risiko fisik, sesuai dengan tuntutan Otoritas Perbankan Eropa. Namun, masih ada gap besar dalam integrasi risiko fisik oleh sebagian besar bank, meskipun adanya tuntutan dari Task Force on Climate-Related Financial Disclosure.
Paparan Risiko Fisik
Bagian ini menunjukkan bahwa pengukuran risiko telah menjadi lebih canggih dan terpercaya, terutama dengan adopsi data dan alat analisis dari Jupiter Intelligence. Analisis ini menyoroti peningkatan risiko fisik di berbagai negara, dengan persentase wilayah yang terpapar risiko tinggi yang meningkat secara signifikan. Bahkan, di beberapa negara seperti Jerman dan Brasil, proyeksi menunjukkan peningkatan yang drastis pada tahun-tahun mendatang.
Dampak pada Portofolio Hipotek
Hal ini menggambarkan bahwa risiko alam dapat memiliki konsekuensi serius terhadap portofolio hipotek bank. Studi kasus di Italia menunjukkan bahwa sebagian besar lokasi telah terpapar risiko alam, dan proyeksi menunjukkan peningkatan yang lebih lanjut pada masa depan.
Dalam menghadapi risiko iklim, bank-bank telah merumuskan strategi yang komprehensif:
Taktik Pertahanan
Pengenalan batas Loan-to-Value, penyesuaian segmen pelanggan, perlindungan kredit, dan penyesuaian harga di wilayah yang sangat terpapar. Langkah-langkah ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan operasional bersih portofolio hipotek.
Taktik Ofensif
Peningkatan diskon pada aset berisiko rendah, memperjuangkan asuransi perlindungan kredit, dan menawarkan asuransi perlindungan risiko iklim. Ini diharapkan dapat menambahkan pendapatan operasional bersih bank.
Penawaran Baru
Pengembangan produk keuangan baru dan memberikan saran kepada klien untuk membantu mereka mengatasi perubahan iklim. Langkah-langkah ini diharapkan dapat membuka peluang baru dan menambah pendapatan operasional bersih.
Tantangan yang dihadapi oleh bank dalam mengintegrasikan risiko fisik ke dalam proses perencanaan strategis dan kredit mereka sangatlah besar. Namun, analisis ini menunjukkan bahwa dengan mengadopsi taktik defensif dan ofensif yang tepat, serta menciptakan peluang baru dalam bisnis, bank dapat meningkatkan stabilitas keuangan mereka dan mendapatkan kepercayaan pelanggan serta regulator.
Meskipun risiko iklim membawa tantangan yang signifikan, hal itu juga membawa peluang inovasi yang unik dalam sektor perbankan. Bank-bank yang ambisius dan responsif terhadap perubahan dapat memanfaatkan situasi ini untuk meningkatkan stabilitas keuangan mereka dan memimpin dalam respons terhadap perubahan iklim.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Bain & Company, dengan judul Fires, Floods, and Loans: How Banks Can Deal with Increasing Climate Risks. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Peran Perusahaan dengan Aset Captive dalam Manajemen Risiko ESG
Ketika kita membicarakan masa depan bisnis, kita tak bisa mengabaikan pentingnya faktor-faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola (Environmental, Social, and Governance/ESG). Ini adalah fondasi yang mendasari keberlanjutan perusahaan di dunia yang semakin kompleks ini. Dan di tengah tekanan untuk menangani risiko ini, perusahaan dengan aset captive, yang bisa kita lihat sebagai bentuk perusahaan asuransi internal, muncul sebagai pemain yang menonjol.
Dalam sebuah penelitian yang baru-baru ini dilakukan oleh Marsh, sebuah perusahaan yang sangat dihormati dalam industri asuransi, ditemukan bahwa perusahaan-perusahaan dengan aset captive cenderung memiliki skor ESG yang lebih tinggi daripada mereka yang tidak memiliki. Ini adalah temuan yang menarik, yang menunjukkan bahwa ada hubungan kuat antara manajemen risiko dan kinerja ESG.
ESG Risk Rating, alat evaluasi yang diluncurkan oleh Marsh pada Maret 2022, menjadi landasan untuk memahami peran perusahaan dalam hal ini. Alat ini memungkinkan perusahaan untuk menilai kinerja ESG mereka dan mengidentifikasi risiko yang mereka hadapi. Dengan demikian, dapat membantu perusahaan dalam memahami sejauh mana integrasi ESG dalam operasi mereka.
Begitu banyak yang bisa dipelajari dari perusahaan-perusahaan dengan aset captive. Mereka terbukti lebih cakap dalam mengelola risiko sosial, terutama dalam hal karyawan dan keberagaman, serta dalam membangun hubungan yang berkelanjutan dengan pelanggan mereka. Ini menandakan bahwa di dalam perusahaan dengan aset captive, manajemen risiko dan sumber daya manusia berjalan seiring, menciptakan sinergi yang kuat dalam mendukung tujuan ESG.
Kehadiran perusahaan dengan aset captive menunjukkan bahwa ada cara untuk melangkah lebih maju dalam manajemen risiko ESG. Dengan memanfaatkan proses dan protokol yang telah ada, mereka mampu memitigasi risiko dengan lebih baik dan menjadi pembeda dalam pasar yang semakin kompetitif. Penilaian risiko ESG membantu mereka dalam mengevaluasi kinerja mereka dan berkomunikasi dengan pemangku kepentingan dengan lebih efektif.
Kesimpulannya, langkah-langkah yang diambil oleh perusahaan dengan aset captive membawa manfaat yang jelas dalam upaya mereka untuk menjadi lebih baik dalam manajemen risiko ESG. Ini adalah langkah yang dapat diikuti oleh semua perusahaan yang berkomitmen untuk mencapai keberlanjutan jangka panjang di tengah dinamika bisnis yang terus berubah.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Marsh pada 6 Januari 2023, dengan judul Companies With A Captive Have Higher Than Average ESG Risk Rating Scores. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Uni Eropa Mewajibkan Laporan Keberlanjutan Lebih Detail untuk Perusahaan
Uni Eropa (UE) telah mengambil langkah penting untuk memastikan perusahaan memberikan laporan keberlanjutan yang lebih rinci. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam hal dampak lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan.
Pada November 2022, UE menyetujui direktif baru yang dikenal sebagai Corporate Sustainability Reporting Directive (CSRD). Direktif ini memperbarui aturan sebelumnya yang berkaitan dengan pelaporan non-keuangan perusahaan di UE. Mulai berlaku sejak 5 Januari 2023, negara-negara anggota diberi waktu hingga 16 Juni 2024 untuk mengubah undang-undang nasional mereka sesuai dengan CSRD.
CSRD menetapkan persyaratan pelaporan berbeda untuk perusahaan berdasarkan ukuran dan jenisnya. Perusahaan besar dan entitas kepentingan publik akan mulai menyampaikan laporan keberlanjutan mereka pada tahun 2025 untuk tahun keuangan yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2024. Sementara perusahaan kecil dan menengah diberikan periode transisi dua tahun untuk mempersiapkan pelaporan mereka.
Laporan keberlanjutan yang diminta oleh CSRD harus mencakup informasi mengenai risiko-risiko utama yang dihadapi oleh perusahaan, langkah-langkah yang diambil untuk mengatasi risiko tersebut, dan bagaimana perusahaan berencana untuk berkontribusi pada keberlanjutan dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Informasi ini harus bersifat kualitatif dan kuantitatif, memberikan gambaran yang jelas tentang dampak perusahaan terhadap lingkungan, masyarakat, dan tata kelola.
Perusahaan yang tidak dapat memberikan informasi tertentu tentang rantai nilai mereka akan mendapatkan pengecualian parsial selama tiga tahun pertama setelah CSRD berlaku. Namun, mereka harus menjelaskan upaya yang telah dilakukan untuk memperoleh informasi tersebut.
Proses pengembangan standar untuk laporan keberlanjutan sedang berlangsung di bawah bimbingan European Financial Reporting Advisory Group (EFRAG). Standar pertama diharapkan akan diterbitkan pada Juni 2023, dengan standar tambahan untuk perusahaan kecil dan menengah dijadwalkan pada Juni 2024.
Langkah-langkah ini menunjukkan komitmen UE untuk mempromosikan praktik bisnis yang berkelanjutan dan bertanggung jawab di seluruh wilayahnya. Dengan adanya laporan keberlanjutan yang lebih rinci dan terperinci, diharapkan akan ada peningkatan pemahaman dan kesadaran tentang dampak perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat, serta upaya untuk meningkatkan kinerja keberlanjutan di masa depan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Mercer pada 11 Januari 2023, dengan judul EU Requires Enhanced Corporate Sustainability Disclosures. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Mengapa Setiap Perusahaan Harus Memperkuat Manajemen Risiko
Ekonomi global telah mengalami masa stabilitas dan pertumbuhan setelah krisis keuangan pada tahun 2008. Namun, dua tahun terakhir membawa perubahan besar. Harga komoditas yang tidak stabil, gangguan pada rantai pasokan, serta meningkatnya risiko siber dan data menimbulkan tantangan baru bagi organisasi.
Pendekatan tradisional dalam manajemen risiko, di mana risiko diatasi satu per satu setelah kerusakan terjadi, tidak cukup efektif lagi. Pendekatan ini mungkin berhasil untuk risiko individual, tetapi tidak cukup kuat untuk menghadapi risiko yang melibatkan seluruh organisasi.
Perusahaan-perusahaan harus beralih ke pendekatan manajemen risiko yang lebih mutakhir, dengan memperjelas kepemilikan risiko, meningkatkan transparansi, dan menerapkan strategi yang komprehensif.
Risiko-risiko di dunia saat ini muncul dengan cepat, saling terhubung, dan bisa memperparah satu sama lain. Oleh karena itu, perusahaan harus menggunakan pendekatan yang holistik, proaktif, dan didasarkan pada pemahaman yang baik tentang risiko. Namun, ada beberapa kesenjangan yang menghambat efisiensi manajemen risiko, seperti kurangnya representasi risiko di tingkat dewan direksi dan keterbatasan dalam mengukur risiko.
Untuk mengatasi hal ini, perusahaan dapat menunjuk seorang Chief Risk Officer (CRO) atau pemimpin yang bertanggung jawab atas risiko keseluruhan organisasi. Mengukur risiko dengan tepat juga penting, karena deskripsi yang kurang jelas dapat menghambat pengambilan keputusan yang efektif.
Selain itu, budaya yang sadar risiko juga sangat penting. Manajemen, dewan direksi, dan pemilik perusahaan harus mempromosikan manajemen risiko sebagai bagian dari keputusan sehari-hari.
Perlu diakui bahwa persepsi risiko dan standar etika bisa berbeda di berbagai wilayah. Oleh karena itu, pendekatan yang inklusif dan beragam diperlukan. Meskipun tidak mungkin untuk menghilangkan risiko sepenuhnya, meningkatkan transparansi dan kesiapan dapat membantu perusahaan menghadapi kesulitan dengan lebih baik.
Artikel ini telah diterbitkan oleh OliverWyman, dengan judul Why Every Company Should Strengthen Its Risk Management. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.