Optimisasi Kinerja Bisnis melalui Perencanaan yang Disesuaikan dengan Risiko
Perencanaan yang disesuaikan dengan risiko, atau yang biasa dikenal dengan risk-adjusted planning, adalah cara yang digunakan oleh perusahaan untuk mengelola risiko yang terkait dengan kegiatan operasional mereka. Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat memasukkan faktor risiko ke dalam proses perencanaan mereka, sehingga dapat membuat keputusan yang lebih baik dan mengoptimalkan kinerja mereka di tengah ketidakpastian.
Risiko dalam konteks bisnis bisa datang dari berbagai sumber, seperti fluktuasi pasar, perubahan aturan, gangguan operasional, dan kejadian luar biasa seperti bencana alam. Risk-adjusted planning membantu perusahaan mengidentifikasi risiko-risiko ini, mengevaluasi dampaknya, dan mengembangkan strategi untuk mengelolanya lebih baik.
Salah satu cara yang umum digunakan dalam risk-adjusted planning adalah analisis skenario. Dengan cara ini, perusahaan mempertimbangkan berbagai skenario yang mungkin terjadi di masa depan dan mengevaluasi dampaknya. Dengan mempertimbangkan skenario-skenario tersebut, perusahaan dapat membuat keputusan yang lebih adaptif terhadap perubahan.
Risk-adjusted planning juga melibatkan penggunaan model matematika dan statistik untuk mengukur risiko secara lebih sistematis. Dengan menggunakan model ini, perusahaan dapat memahami risiko yang mereka hadapi dan mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk mengatasinya.
Penting untuk dicatat bahwa risk-adjusted planning bukan tentang menghindari risiko sepenuhnya, tetapi tentang mengelolanya dengan bijaksana. Dalam dunia bisnis yang penuh ketidakpastian, risiko adalah bagian dari permainan, dan perusahaan yang sukses adalah mereka yang dapat mengelola risiko tersebut dengan baik.
Penggunaan risk-adjusted planning sangat penting bagi perusahaan dalam menghadapi lingkungan bisnis yang dinamis dan tidak pasti. Dengan mempertimbangkan semua risiko secara keseluruhan dan mengintegrasikannya dalam perencanaan, perusahaan dapat menentukan seberapa besar risiko yang dapat mereka tanggung dan membuat rencana bisnis yang tahan krisis.
Selain itu, perencanaan yang disesuaikan dengan risiko membantu perusahaan mengelola risiko dengan lebih efisien, sehingga lebih banyak dana untuk investasi dan pertumbuhan. Dengan demikian, perusahaan dapat lebih tenang menghadapi krisis masa depan dan siap bertindak saat kondisi memungkinkan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Roland Berger, dengan judul Risk-adjusted planning. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Transformasi Risiko Strategis: Menyelami Era Baru Bisnis
Perubahan mendalam tengah terjadi di dunia bisnis, memperlihatkan pergeseran paradigma dalam cara perusahaan menghadapi risiko strategis. Dalam sebuah survei yang melibatkan 300 eksekutif global, pandangan mereka tentang risiko strategis terungkap mengalami transformasi signifikan.
Risiko strategis telah menempati posisi sentral dalam fokus bisnis di seluruh dunia. Survei ini mengungkapkan bahwa sebagian besar perusahaan (81%) kini secara eksplisit dan aktif mengelola risiko strategis, dengan pengelolaan yang konsisten di wilayah dan industri. Tidak hanya berfokus pada risiko yang mungkin mengakibatkan kegagalan strategi tertentu, perusahaan juga menangani risiko apapun yang dapat mempengaruhi posisi dan kinerja jangka panjang mereka.
Risiko strategis, yang didefinisikan sebagai risiko yang berdampak langsung pada sasaran strategis perusahaan, mulai mendapat perhatian serius. Para eksekutif melihatnya bukan hanya sebagai potensi kegagalan, tetapi juga sebagai peluang untuk menciptakan nilai yang optimal.
Perusahaan tidak hanya meningkatkan fokus pada pengelolaan risiko strategis, tetapi mereka juga mengubah cara melakukannya. Hampir semua responden (94%) telah mengubah pendekatan mereka terhadap manajemen risiko strategis dalam tiga tahun terakhir. Perubahan ini mencakup perluasan dari pendekatan kuantitatif ke pendekatan kualitatif yang lebih luas, yang memungkinkan integrasi data ‘soft’ untuk menghadapi tantangan seperti regulasi, media, atau reputasi.
Integrasi manajemen risiko dengan strategi bisnis juga menjadi tren yang semakin berkembang. Sebagian besar perusahaan (61%) sekarang yakin bahwa program manajemen risiko mereka mendukung pengembangan dan pelaksanaan strategi bisnis mereka dengan baik. Namun, masih ada ruang untuk peningkatan, dengan hanya sedikit perusahaan yang menilai program manajemen risiko mereka sebagai sangat baik.
CEO, dewan direksi, dan komite risiko memainkan peran kunci dalam mengawasi risiko strategis. Mereka bertanggung jawab untuk menetapkan pendekatan terhadap strategi manajemen risiko dan memastikan keberlangsungan dan keberhasilan perusahaan.
Reputasi muncul sebagai risiko utama yang dihadapi oleh perusahaan di berbagai sektor. Tren ini mencerminkan perubahan dalam persepsi risiko dari waktu ke waktu, dengan reputasi yang menjadi sorotan utama saat ini.
Teknologi baru menjadi faktor kunci dalam mengubah model bisnis. Dari media sosial hingga big data, perusahaan harus beradaptasi dengan cepat untuk menghadapi ancaman dan memanfaatkan peluang yang muncul.
Dalam mengatasi tantangan ini, perusahaan harus mengadopsi pendekatan yang lebih sistematis dan berkelanjutan dalam memantau dan mengelola risiko. Mereka perlu melihat ke luar struktur perusahaan mereka untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas dan mengintegrasikan pembelajaran dari perusahaan dan industri lain.
Dengan terus mengembangkan strategi yang adaptif dan responsif, perusahaan dapat menghadapi masa depan dengan percaya diri di tengah lingkungan bisnis yang semakin kompleks dan dinamis. Melalui eksplorasi yang terus menerus, mereka dapat memanfaatkan setiap peluang yang muncul dan mengelola setiap risiko dengan efektif.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Deloitte, dengan judul Exploring Strategic Risk. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Langkah-Langkah Praktis Menuju Kemajuan ESG: Panduan bagi Produsen dalam Menghadapi Tantangan
Dalam era bisnis yang terus berubah, banyak produsen merasa khawatir bahwa mengadopsi inisiatif Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (Environment, Social, and Governance atau ESG) akan mengikat sumber daya, meningkatkan biaya, atau mengikat mereka dalam komitmen yang sulit untuk dipertahankan. Namun, ada berita baik: progres dalam hal ESG mungkin telah dilakukan lebih banyak daripada yang dipikirkan, dan langkah-langkah selanjutnya untuk menciptakan nilai dan mengurangi risiko dengan ESG mungkin lebih mudah daripada yang diperkirakan.
- Mengidentifikasi Tujuan Anda
Langkah pertama adalah menetapkan apa yang ingin Anda capai dengan meninjau regulasi yang relevan dan memahami harapan dari pelanggan dan pemangku kepentingan lainnya. Selanjutnya, evaluasi kondisi saat ini dengan mempertimbangkan kebijakan, proses, staf, data, dan metrik yang ada. Jangan lupakan faktor-faktor di luar ESG yang juga dapat mendukung tujuan bisnis Anda.
- Temukan Pemimpin Anda
Tidak ada jawaban yang pasti tentang siapa yang harus memimpin inisiatif ESG di organisasi manufaktur. Pemimpin ESG harus sesuai dengan tema inisiatif dan memiliki akses ke percakapan tingkat tinggi serta kekuasaan untuk bekerja dengan tim yang tepat.
- Wujudkan Inisiatif Anda
Sebagian besar produsen akan membutuhkan inisiatif ESG yang didorong oleh tim fungsional lintas, seringkali dengan dukungan dari sponsor C-level. Dalam mewujudkannya, Anda perlu merumuskan apa yang ingin Anda capai, menegaskan prioritas yang ingin Anda tekankan, dan jenis komitmen yang ingin Anda buat.
Meskipun ESG terkadang terasa menakutkan, dengan menemukan tema yang sejalan dengan nilai-nilai dan kekuatan Anda, prosesnya dapat menjadi lebih mudah dan memuaskan daripada yang Anda bayangkan.
Dengan pendekatan yang tepat, implementasi ESG bahkan bisa menjadi bagian dari proses bisnis yang normal dan menghasilkan penghematan energi serta peningkatan profil biaya. Itulah prioritas bagi setiap bisnis.
Dengan panduan ini, produsen memiliki landasan praktis untuk menghadapi tantangan ESG dengan percaya diri dan memanfaatkan peluang yang ada di tengah perubahan yang dinamis dalam lingkungan bisnis.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Grant Thornton pada 22 Mei 2023, dengan judul Manufacturers Can Point to ESG Progress. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Mengelola Risiko Pemasok: 5 Komponen Penting untuk Keberhasilan
Dalam era globalisasi dan ketidakpastian yang semakin kompleks, perusahaan-perusahaan di seluruh dunia semakin menyadari pentingnya pengelolaan risiko pemasok untuk memperkuat keberlangsungan rantai pasok mereka. Dalam upaya untuk mengatasi tantangan ini, perlu adanya pemahaman yang mendalam tentang komponen-komponen kunci yang membangun kemampuan pengelolaan risiko pemasok yang efektif. Berikut lima aspek penting yang harus dipertimbangkan dalam merancang strategi pengelolaan risiko pemasok.
- Pemahaman Terhadap Risiko
Langkah pertama dalam pengelolaan risiko pemasok adalah memahami sumber risiko yang mungkin muncul dari berbagai aspek, termasuk keamanan siber, masalah operasional, dan faktor-faktor keberlanjutan lingkungan. Tanpa pemahaman yang kuat tentang sumber risiko ini, perusahaan akan kesulitan mengidentifikasi dan mengatasi ancaman potensial terhadap rantai pasok mereka.
- Analisis Data
Analisis data yang teliti adalah kunci untuk memprediksi, mengidentifikasi, dan memprioritaskan risiko pemasok dengan lebih efektif. Dengan memanfaatkan teknik-teknik analisis data yang canggih, perusahaan dapat mengambil langkah-langkah pencegahan yang sesuai sebelum risiko tersebut menjadi nyata.
- Perencanaan Tindakan
Setelah risiko diidentifikasi, langkah selanjutnya adalah merencanakan tindakan mitigasi yang tepat. Hal ini melibatkan penentuan tingkat risiko yang dapat diterima serta pengembangan strategi untuk mengurangi risiko tersebut.
- Pelaksanaan Tindakan
Langkah terakhir adalah menerapkan rencana tindakan yang telah disusun dengan cermat. Ini mencakup dokumentasi keputusan yang diambil dan pelacakan hasilnya untuk memastikan efektivitas langkah-langkah yang diambil.
- Budaya yang Sadar Risiko
Selain mengadopsi pendekatan proaktif dalam mengelola risiko, perusahaan juga perlu membangun budaya yang mendorong kesadaran akan risiko di seluruh organisasi. Dengan mendorong partisipasi dari semua tingkatan organisasi, perusahaan dapat memaksimalkan efektivitas strategi pengelolaan risiko pemasok mereka.
Tantangan Umum dan Cara Mengatasinya
Beberapa tantangan umum yang dihadapi oleh organisasi dalam mengelola risiko pemasok, di antaranya adalah kesulitan dalam menerjemahkan risiko pemasok menjadi dampak bisnis yang jelas, kurangnya kejelasan dalam protokol tindakan, keterbatasan sumber daya internal dan keahlian, ketersediaan data risiko pemasok, dan pola pikir reaktif dalam mengelola risiko. Dengan memahami dan mengatasi tantangan ini, serta menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan risiko pemasok yang efektif, perusahaan dapat mengurangi risiko, meningkatkan ketahanan, dan membangun keunggulan kompetitif dalam rantai pasok mereka.
Dengan memperhatikan lima komponen penting ini dan mengatasi tantangan-tantangan yang dihadapi, perusahaan dapat membangun kemampuan pengelolaan risiko pemasok yang efektif. Hal ini tidak hanya akan membantu mereka mengamankan rantai pasok mereka dari ancaman potensial, tetapi juga memungkinkan mereka untuk mencapai pertumbuhan dan inovasi yang berkelanjutan di masa depan. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk memprioritaskan pengelolaan risiko pemasok sebagai bagian integral dari strategi bisnis mereka.
Artikel ini telah diterbitkan oleh KEARNEY pada 1 Februari 2022, dengan judul The Five Crucial Components of Supplier Risk Management. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Pengaruh Integrasi ESG dan GRC terhadap Kelangsungan Bisnis
Kelangsungan bisnis rupanya dipengaruhi peran penting integrasi antara lingkungan, sosial, dan tata kelola (Environmental, Social, and Governance atau ESG) serta tata kelola, risiko dan kepatuhan (Governance, Risk, and Compliance atau GRC). Pengaruh keduanya menghasilkan manfaat tersendiri bagi bisnis yang berjalan. Secara umum, integrasi ESG dan GRC menjadi sebuah kesatuan yang kuat sekaligus berkelanjutan.
Sejumlah manfaat yang diberikan oleh integrasi ESG dan GRC dapat dijelaskan sebagai berikut.
- Mendorong identifikasi risiko dan peluang
Secara spesifik, identifikasi yang dihasilkan dari proses integrasi ini berhubungan dengan isu lingkungan dan sosial yang dapat memengaruhi operasional perusahaan. Dengan adanya identifikasi tersebut, perusahaan dapat mengambil langkah tepat dalam mengurangi terjadinya risiko serta memanfaatkan peluang.
- Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas perusahaan
Regulasi dan standar yang relevan akan membantu perusahaan dalam membangun reputasi yang kuat dan terpercaya. Hal ini juga akan meminimalkan risiko hukum dan pinalti yang kemungkinan dapat merugikan bisnis.
Penggabungan ESG dan GRC menghasilkan rencana bisnis masa depan yang berkelanjutan. Integrasi keduanya akan mendorong proses identifikasi, pengukuran, dan pengelolaan risiko secara efektif.
Di samping itu, integrasi juga berdampak terhadap modal dan investasi. Investor cenderung akan lebih tertarik bergabung untuk memberikan investasi kepada bisnis yang berkomitmen dalam faktor-faktor ESG.
Keunggulan lain yang diberikan oleh integrasi ESG dan GRC adalah reputasi yang unggul dalam pasar. Pendekatan integrasi keduanya akan mampu mendorong perusahaan dalam menghadapi tuntutan dan permintaan konsumen dalam bidang sosial dan lingkungan. Dengan demikian, keunggulan lain pun tercipta: pelanggan dapat dipertahankan, loyalitas merek meningkat, dan persaingan pasar dapat dimenangkan.
Berdasarkan dampak-dampak positif dan penting yang telah dijabarkan di atas, perusahaan sebaiknya mulai memprioritaskan integrasi antara ESG dan GRC. Hal ini semata-mata demi membangun strategi bisnis yang dapat memastikan kelangsungan dan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh CRMS, dengan judul Bagaimana Integrasi ESG dan GRC Mempengaruhi Kelangsungan Bisnis?. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Business Continuity Management: Minimalkan Risiko dan Pastikan Keberlanjutan
Setiap organisasi pasti memiliki prioritas untuk menghadapi kemungkinan gangguan, khususnya di tengah kondisi ketidakpastian. Dalam hal ini, business continuity management (BCM) muncul sebagai solusi strategis untuk menekan terjadinya kemungkinan risiko serta memastikan keberlanjutan organisasi.
Dalam era modern saat ini, organisasi akan menghadapi serangkaian risiko yang terus berkembang. Cakupan risiko ini cukup luas, mulai dari serangan siber hingga krisis ekonomi global. Untuk itu, organisasi memerlukan langkah-langkah proaktif untuk mengidentifikasi, menilai, dan mengatasi potensi gangguan.
Dalam hal ini, BCM diperlukan. Namun, perlu dicatat bahwa BCM bukanlah rencana darurat. Sistem manajemen ini merupakan serangkaian prosedur dan protokol yang terintegrasi dan memiliki tugas untuk memastikan bisnis dapat terus berjalan dengan gangguan yang berjumlah sangat sedikit.
Dalam praktiknya, BCM memiliki pilar-pilar utama sebagai berikut.
- Analisis dampak bisnis
BCM mencakup langkah awal identifikasi fungsi kritis dari sebuah bisnis, yang disertai dengan potensi kerugian dari setiap gangguan yang dihadapi.
- Penilaian risiko
BCM mencakup evaluasi kemungkinan ancaman-ancaman yang ada, yang kemudian dapat dimanfaatkan organisasi untuk memprioritaskan sumber daya dan upaya secara lebih efektif.
- Strategi dan rencana pemulihan
BCM mengembangkan rencana pemulihan operasi bisnis setelah terjadinya gangguan serta menetapkan strategi untuk mengurangi dampak jangka panjang.
- Pendidikan, latihan, dan simulasi
BCM mendorong adanya latihan atau simulasi darurat untuk memastikan kesiapan dan efektivitas rencana yang telah dibuat.
Dengan adanya BCM, strategi bisnis sebuah organisasi menjadi lebih kuat. Pasalnya, organisasi bisa mendapatkan kepercayaan lebih dari para pemangku kepentingan, pelanggan, dan karyawan. Hal ini dapat menjadikan organisasi lebih unggul dibandingkan para pesaing.
Secara umum, BCM bukan hanya menghasilkan rencana persiapan bisnis dalam menghadapi kondisi krisis, melainkan juga menyusun fondasi pertumbuhan bisnis di tengah kondisi yang tidak pasti. Dalam era saat ini yang memberikan banyak tantangan, adanya perhatian lebih dalam pengadaan BCM merupakan sebuah langkah cerdas dan bijak dari organisasi demi menjadikan diri lebih tangguh dalam hal ketahanan, keberlanjutan, dan kesuksesan jangka panjang.
Artikel ini telah diterbitkan oleh CRMS, dengan judul Business Continuity Management: Meminimalisir Risiko dan Memastikan Keberlanjutan di Tengah Ketidakpastian. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Menghadapi Tantangan AI Pihak Ketiga: Meningkatkan Kesiapan Organisasi melalui Program RAI
Kemajuan dalam bidang kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah membawa dampak yang signifikan pada berbagai aspek kehidupan, terutama dalam dunia bisnis. Namun, dengan pertumbuhan yang cepat ini, muncul pula sejumlah tantangan yang perlu diatasi, terutama bagi organisasi dengan program Responsibilitas dalam Kecerdasan Buatan atau Responsibility in Artificial Intelligence (RAI) yang bertujuan untuk mengembangkan alat dan sistem AI secara internal.
Dalam realitas saat ini, sebagian besar organisasi mengandalkan alat AI pihak ketiga, tanpa mengembangkan solusi AI secara internal. Ini menimbulkan risiko karena kegagalan AI dari teknologi pihak ketiga dapat menyebabkan dampak yang signifikan. Oleh karena itu, evaluasi solusi eksternal secara proaktif menjadi kunci untuk mengantisipasi dan mencegah kegagalan tersebut.
Kepala AI dan data di H&M Group, Linda Leopold, menekankan pentingnya program AI yang bertanggung jawab yang mencakup baik alat AI internal maupun pihak ketiga. Prinsip etika harus diterapkan sama, tidak peduli dari mana sistem AI berasal.
Tantangan utama bagi program RAI saat ini adalah semakin lebarnya kesenjangan antara pemimpin dan non-pemimpin dalam adopsi teknologi AI. Meskipun ekosistem solusi AI pihak ketiga semakin berkembang, risiko yang harus diatasi juga semakin kompleks. Banyak organisasi mengalokasikan sumber daya internal untuk AI yang bertanggung jawab, tetapi hal ini tampaknya menurun seiring dengan tren PHK yang lebih luas di industri.
Peraturan baru yang berkaitan dengan AI juga semakin meningkat, baik di tingkat nasional maupun internasional. Hal ini menuntut organisasi untuk memperhatikan peraturan tersebut dalam penggunaan AI, terutama dalam konteks penggunaan alat AI pihak ketiga. Ketidakpatuhan terhadap peraturan dapat mengakibatkan sanksi yang serius bagi organisasi.
Keterlibatan CEO dalam program RAI menjadi kunci dalam mengidentifikasi dan mengatasi risiko yang ada serta memastikan kesiapan organisasi dalam menghadapi perubahan regulasi dan teknologi AI yang terus berkembang. Organisasi dengan CEO yang aktif dalam upaya RAI cenderung mendapatkan manfaat bisnis yang lebih besar daripada yang tidak.
Dengan adanya risiko yang semakin besar terkait dengan penggunaan AI dan peraturan yang semakin ketat, organisasi harus meningkatkan investasi mereka dalam program RAI. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk menggandakan dan memperkuat upaya RAI guna menghadapi tantangan yang semakin kompleks di masa depan.
Kesimpulannya, menjadi organisasi yang bertanggung jawab dalam penggunaan AI menjadi lebih penting daripada teknologi AI itu sendiri. Program RAI yang matang dan berfokus pada evaluasi risiko, kepatuhan terhadap peraturan, dan keterlibatan CEO menjadi kunci dalam menghadapi tantangan AI pihak ketiga dan memastikan keberhasilan organisasi di era AI yang berkembang pesat.
Artikel ini telah diterbitkan oleh BCG pada Juni 2023, dengan judul Building Robust RAI Programs as Third-Party AI Tools Proliferate. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Perkembangan GRC dalam 5 Tren Terkini
Perkembangan bisnis mendorong munculnya beragam risiko. Sumber-sumber risiko tersebut datang dari berbagai pihak, misalnya pemasok, ancaman siber, dan kepatuhan lingkungan. Oleh sebab itu, pendekatan holistik dari segi tata kelola, risiko dan kepatuhan (Governance, Risk, and Compliance atau GRC) akan sangat diperlukan melalui berbagai prinsip dan tren berikut.
- Ketahanan Menghadapi GRC
Ketahanan diperlukan untuk meminimalkan dampak risiko. Hal ini dapat dilakukan dengan menjalankan integrasi manajemen risiko di seluruh organisasi. Tujuan dari proses ini adalah untuk menghasilkan pandangan komprehensif terhadap bisnis yang berlangsung.
- Perkembangan Peran Chief of Information (CIO)
CIO kini menjadi pusat kebutuhan organisasi untuk mendukung inti bisnis. Hal ini meliputi pemasaran, penjualan, pengembangan produk, dan keuangan. Peran CIO dapat memaksimalkan upaya transformasi digital tanpa mengabaikan fokus organisasi terhadap masalah teknologi informasi (TI).
- Pengawasan Ketat terhadap Pihak Ketiga
Kebutuhan dukungan pihak ketiga (vendor) akan meningkat bagi organisasi untuk menjalankan manajemen fasilitas dan dukungan teknis lainnya. Namun, relasi dengan pihak ketiga tersebut rupanya dapat meningkatkan kerentanan organisasi.
Dengan demikian, organisasi perlu melaksanakan penyaringan, menyusun prioritas, dan menjalankan pemantauan berkelanjutan.
- Peningkatan Regulasi ESG
Pemantauan dan pelaporan organisasi dalam bidang lingkungan, sosial, dan tata kelola (Environment, Social, and Governance atau ESG) diperlukan sebagai bagian dari GRC. Hal ini bersifat krusial untuk mencegah risiko ketertinggalan.
- Peningkatan Risiko dari Sistem Kerja Hibrida
Kondisi sistem kerja hibrida menuntut adanya inovasi yang mendalam untuk menjaga keamanan data dan mengelola sumber daya manusia dengan efektif. Dalam menghadapi tantangan ini, beberapa faktor menjadi sorotan utama:
Pertama, tantangan manajemen talenta memerlukan organisasi untuk memilih pemimpin yang tepat. Pemimpin tersebut harus memiliki kemampuan untuk menciptakan hubungan yang seimbang antara semua sumber daya manusia dalam organisasi.
Kedua, hambatan dalam mewujudkan keragaman, kesetaraan, dan inklusi (Diversity, Equity, and Inclusion atau DEI) membutuhkan pendekatan yang cermat. Pemimpin harus mampu menganalisis data dari berbagai kelompok SDM, baik yang bekerja di kantor maupun jarak jauh, untuk mengidentifikasi masalah dan mengimplementasikan strategi yang adil bagi semua pihak.
Ketiga, ancaman siber menjadi perhatian penting dalam konteks sistem kerja jarak jauh. Meskipun demikian, sistem kerja hibrida juga bisa memberikan peluang untuk meningkatkan keamanan siber organisasi melalui pembaruan praktik dan kebijakan terkait keamanan.
Terakhir, manajemen risiko harus menjadi prioritas utama. Organisasi perlu fokus pada pengelolaan risiko untuk memastikan perlindungan terhadap budaya ketahanan yang mendukung kemajuan DEI dan juga untuk mencapai efisiensi tim secara keseluruhan. Dengan memperhatikan faktor-faktor ini, organisasi dapat mengoptimalkan sistem kerja hibrida mereka dengan lebih baik.
Artikel ini telah diterbitkan oleh CRMS, dengan judul 5 Tren GRC: Bagaimana Tata Kelola, Risiko, dan Kepatuhan akan Berkembang?. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Menghadapi Risiko Likuiditas dalam Portofolio Derivatif OTC
Risiko likuiditas adalah salah satu aspek krusial dalam dunia keuangan yang memerlukan pemahaman dan manajemen yang matang dari lembaga keuangan. Dalam konteks ini, muncul pendekatan yang lebih maju dalam menghitung risiko likuiditas pada pembiayaan derivatif, memberikan peluang bagi lembaga keuangan untuk memahami risiko tersebut dengan lebih baik daripada menggunakan metode historis yang umum digunakan.
Pendekatan historis, sering kali diterapkan oleh regulator, cenderung mengandalkan data aliran kas masa lalu. Namun, kelemahan pendekatan ini adalah kurang representatif terhadap kondisi pasar saat ini serta ketergantungannya pada periode historis tertentu yang mungkin tidak mencakup peristiwa penting.
Sebagai alternatif yang lebih canggih, ada pendekatan yang melihat ke depan, yaitu berdasarkan profil eksposur kredit lawan dari portofolio derivatif OTC (Over-the-Counter). Pendekatan ini, yang dikenal sebagai Advanced Method for Additional Outflows (AMAO), menggunakan model eksposur masa depan untuk mengevaluasi risiko kredit lawan. Dengan demikian, lembaga keuangan dapat memperkirakan potensi kebutuhan dana operasional dengan lebih akurat.
Proses estimasi dalam pendekatan ini melibatkan generasi skenario, simulasi eksposur, agregasi, dan manajemen risiko. Dengan mengadopsi pendekatan ini, lembaga keuangan dapat merespons perubahan kondisi pasar dengan lebih efektif, meningkatkan daya tanggap dan ketepatan dalam pengelolaan risiko likuiditas.
Kesimpulannya, penting bagi lembaga keuangan untuk menerima dan mengadopsi pendekatan yang lebih maju dalam mengelola risiko likuiditas dalam portofolio derivatif OTC. Dengan demikian, mereka dapat lebih siap menghadapi tantangan yang kompleks dan beragam di dunia keuangan yang selalu berubah.
Artikel ini telah diterbitkan oleh PRMIA pada Mei 2023, dengan judul A Better Way of Calculating Derivative Funding Liquidity Risk. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Pentingnya Kepatuhan sebagai Keunggulan Kompetitif bagi Bank
Di dunia perbankan yang kompetitif, ada satu kunci sukses yang mungkin terlewatkan: kolaborasi. Ya, benar sekali. Ketika tim kepatuhan dan strategi saling bekerja sama, dampaknya bisa sangat besar. Ini adalah cerita tentang bagaimana kolaborasi antara kedua tim ini telah membantu bank-bank meraih keunggulan dalam persaingan yang semakin sengit dan perubahan yang cepat dalam ekonomi dan geopolitik.
- Melayani Pelanggan dengan Lebih Baik: Ketika tim kepatuhan dan bisnis bergandengan tangan, pengalaman pelanggan bisa menjadi lebih baik. Mereka menyelaraskan proses kepatuhan dengan kebutuhan pelanggan. Hasilnya, pelanggan merasa lebih puas dan bank menjadi lebih efisien.
- Investasi yang Cerdas: Dengan bantuan tim kepatuhan, bank bisa menilai risiko dan memahami bagaimana kepatuhan memengaruhi investasi baru dalam teknologi atau produk yang sedang berkembang. Ini memastikan bahwa bank tetap mematuhi aturan sambil tetap mendapatkan keuntungan dari investasi yang menjanjikan.
- Tangguh Menghadapi Masalah: Dengan mengintegrasikan kepatuhan ke dalam rencana strategis mereka, bank bisa lebih tangguh menghadapi perubahan geopolitik yang cepat. Mereka bisa menyesuaikan diri lebih cepat dan mengurangi risiko kehilangan uang atau didenda karena melanggar aturan.
- Lebih Efisien dalam Bekerja: Kolaborasi antara tim kepatuhan dan strategi juga membuat bank-bank lebih produktif. Mereka bisa menyederhanakan proses dan menghilangkan tumpang tindih yang tidak perlu. Akibatnya, bank bisa lebih menguntungkan dan berkembang lebih baik.
- Mengambil Langkah yang Tepat dalam M&A: Tim kepatuhan membantu bank membuat keputusan yang lebih baik saat melakukan merger atau akuisisi. Mereka bisa memberikan wawasan tentang risiko kepatuhan yang terkait dengan bisnis baru yang ingin dibeli. Dengan begitu, bank bisa mengambil langkah yang tepat.
Kolaborasi antara tim kepatuhan dan strategi bukan hanya tentang memenuhi aturan. Ini tentang membuat bank lebih kuat dan lebih mampu bersaing. Dengan bekerja sama, bank-bank bisa lebih sukses dalam melayani pelanggan, membuat investasi yang cerdas, menghadapi perubahan yang cepat, menjadi lebih efisien, dan mengambil langkah yang tepat dalam merger atau akuisisi. Itulah keajaiban dari kolaborasi!
Artikel ini telah diterbitkan oleh McKinsey pada 14 Juni 2023, dengan judul The Case For Compliance As A Competitive Advantage For Banks. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.