Artikel

Artikel2021-01-27T19:01:07+07:00

Membangun Organisasi yang Kuat: Tips Manajemen Risiko yang Penting untuk Bisnis

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Dalam dunia bisnis yang selalu berubah, perusahaan dihadapkan pada banyak risiko yang bisa mempengaruhi kegiatan operasional, keuntungan, dan kesuksesan mereka secara keseluruhan. Untuk menghadapi tantangan ini, penting bagi bisnis untuk memiliki strategi manajemen risiko yang baik yang bisa mengidentifikasi, menilai, dan mengurangi risiko.

Berikut adalah beberapa tips dan praktik terbaik untuk manajemen risiko dalam bisnis, yang bertujuan untuk memperkuat kemampuan perusahaan dalam menghadapi situasi sulit dan tidak pasti.

  1. Bangun Kerangka Manajemen Risiko yang Jelas

Membangun kerangka kerja yang jelas akan membantu perusahaan dalam mengidentifikasi tujuan, peran, tanggung jawab, dan proses yang diperlukan untuk mengelola risiko dengan baik.

  1. Kenali dan Nilai Risiko

Identifikasi dan penilaian risiko adalah langkah awal yang penting. Ini membantu perusahaan untuk memahami risiko yang mereka hadapi dan mengembangkan strategi untuk mengatasi risiko tersebut.

  1. Terapkan Strategi Mitigasi Risiko

Setelah risiko diidentifikasi, langkah selanjutnya adalah mengembangkan dan menerapkan strategi untuk mengurangi dampaknya. Ini bisa termasuk langkah-langkah untuk melindungi aset perusahaan dan reputasi mereka.

  1. Pantau dan Evaluasi Risiko secara Berkala

Manajemen risiko adalah proses berkelanjutan yang memerlukan pemantauan dan evaluasi terus-menerus. Ini memastikan bahwa strategi yang diterapkan tetap efektif dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

  1. Budayakan Kesadaran Risiko

Penting untuk membangun budaya di perusahaan yang mendorong karyawan untuk secara aktif mengidentifikasi dan melaporkan risiko potensial. Komunikasi terbuka dan pendekatan proaktif sangat diperlukan dalam hal ini.

  1. Manfaatkan Teknologi dan Analitika Data

Teknologi dan analitika data dapat membantu perusahaan dalam mengidentifikasi dan mengelola risiko dengan lebih efisien. Ini memungkinkan mereka untuk tetap berada di depan risiko yang muncul.

  1. Investasi dalam Pelatihan dan Pendidikan

Melalui investasi dalam pelatihan, perusahaan dapat memastikan bahwa karyawan mereka memiliki keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk berkontribusi dalam upaya manajemen risiko.

  1. Ulasan dan Perbaikan Teratur

Praktik manajemen risiko perlu secara teratur ditinjau dan diperbaiki agar tetap relevan dengan perubahan lingkungan bisnis dan risiko yang muncul.

Dengan menerapkan strategi ini, perusahaan dapat membangun ketangguhan mereka dan berhasil menghadapi ketidakpastian di pasar. Prioritaskan manajemen risiko sebagai bagian penting dari strategi bisnis untuk memastikan kesuksesan jangka panjang.

Artikel ini telah diterbitkan oleh ERMA, dengan judul Building a Resilient Organization: Effective Risk Management Strategies for Businesses. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Ancaman Risiko Pihak Ketiga yang Muncul dalam Perbankan

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Di tengah transformasi digital yang terus berlangsung, perbankan menghadapi tantangan baru terkait dengan risiko pihak ketiga. Dua faktor utama yang muncul sebagai penyebab risiko ini adalah perjanjian material perangkat lunak atau Software Bill of Materials (SBOM) dan dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap keamanan siber.

SBOM menjadi faktor risiko pertama yang memerlukan perhatian serius dari bank-bank. SBOM merujuk pada inventarisasi rinci dari komponen perangkat lunak, sejenis daftar bahan yang menyusun suatu produk perangkat lunak tertentu. Semakin kompleks perangkat lunak, semakin sulit juga memahami risiko potensial yang terkandung di dalamnya.

Di sisi lain, risiko keamanan siber, meskipun bukan topik baru, semakin meningkat signifikansinya. Kemajuan baru-baru ini dalam kedewasaan AI telah memperkenalkan paradigma unik di mana AI dapat digunakan untuk melancarkan serangan yang rumit sekaligus digunakan sebagai alat untuk pertahanan siber.

Dengan kedua faktor risiko ini semakin berkembang, penting bagi bank-bank untuk berinvestasi sekarang juga. Langkah awal yang direkomendasikan termasuk mendirikan visi baru untuk ketahanan siber, mengadopsi model pembagian SBOM yang efektif, dan menyesuaikan perjanjian vendor yang ada dengan pertimbangan SBOM.

Dengan mengatasi tantangan ini secara tepat waktu, bank-bank dapat lebih siap menghadapi risiko-risiko yang muncul dan melindungi operasi mereka untuk masa depan.

Artikel ini telah diterbitkan oleh Kearney pada 27 Juli 2023, dengan judul What Are The Emerging Third-Party Risks That Banks Should Consider?. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Memperkuat Organisasi: Strategi Manajemen Risiko yang Efektif untuk Bisnis

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Di dunia yang terhubung seperti sekarang ini, bisnis menghadapi berbagai risiko yang bisa mengganggu operasi. Namun, seringkali bisnis tidak menyadari sepenuhnya risiko-risiko ini atau memilih untuk mengabaikannya. Namun, seperti yang kita lihat dari beberapa peristiwa terbaru, risiko-risiko ini bisa muncul tiba-tiba dan menyebabkan kerugian yang besar bahkan bagi bisnis yang sudah siap.

Dalam artikel yang diterbitkan di Intelligent Risk pada Mei 2023, terdapat berbagai faktor yang membuat risiko-risiko ini semakin rumit dan menawarkan strategi untuk mengelola risiko dengan efektif. Adalah dua faktor utama yang membuat risiko-risiko ini semakin berbahaya bagi bisnis: ketidaktahuan dan kesengajaan untuk tidak melihat.

Ketidaktahuan seringkali karena kurangnya pemahaman tentang bagaimana risiko-risiko ini saling terkait. Misalnya, bisnis mungkin tidak menyadari bahwa ketegangan antara negara-negara di wilayah yang jauh bisa mempengaruhi operasi mereka, seperti yang dialami oleh produsen roti di Asia Tenggara saat konflik Rusia-Ukraina memengaruhi harga gandum. 

Sementara itu, kesengajaan untuk tidak melihat terjadi ketika bisnis menyadari risiko-risiko ini tetapi memilih untuk mengabaikannya, berpikir bahwa risiko tersebut sangat kecil untuk terjadi. Namun, seperti yang terjadi pada krisis COVID-19 yang mengganggu rantai pasokan global, kelalaian semacam itu bisa berdampak besar.

Untuk mengelola risiko-risiko ini, bisnis harus mengambil langkah-langkah proaktif, termasuk:

  1. Identifikasi: Bisnis harus benar-benar memahami risiko-risiko yang mereka hadapi, dengan mengambil pelajaran dari bisnis lain dan mendapatkan saran dari ahli.
  1. Diversifikasi: Setelah mengidentifikasi risiko-risiko tersebut, bisnis harus mengurangi risiko dengan melakukan diversifikasi, seperti yang dilakukan Apple dengan merencanakan rantai pasokan mereka.
  1. Persiapan: Bisnis harus mempersiapkan diri dengan mengatasi kerentanan yang mungkin ada, menggunakan teknologi seperti pemantauan jarak jauh dan sistem komunikasi canggih.
  1. Implementasi Cepat: Solusi untuk risiko-risiko ini harus diterapkan dengan cepat untuk mencegah kerusakan yang lebih besar.

Penting bagi bisnis untuk mengakui dan mengatasi risiko-risiko ini dengan serius. Dengan mengambil langkah-langkah proaktif dan mengadopsi teknologi yang tepat, bisnis dapat bertahan di tengah perubahan yang cepat di dunia saat ini.

Artikel ini telah diterbitkan oleh PRMIA pada Mei 2023, dengan judul Risk Enhancing Factors. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Manajemen Risiko Manusia Membutuhkan Lebih dari Pelatihan Kesadaran

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Di zaman sekarang yang penuh dengan teknologi, kita harus waspada terhadap bahaya siber yang mengintai. Organisasi harus memperkuat perlindungan mereka agar tidak terkena serangan. Meskipun teknologi sangat membantu, kesadaran tentang keamanan informasi juga sangat penting.

Menurut laporan tahun 2023, sebanyak 74% dari serangan siber melibatkan manusia, menunjukkan bahwa kita harus serius menghadapi risiko yang ditimbulkan oleh perilaku manusia. Organisasi harus mengambil langkah-langkah untuk mengurangi risiko tersebut, sama seperti mereka menghadapi risiko lainnya.

Langkah pertama dalam memperkuat keamanan siber adalah dengan menilai risiko secara menyeluruh. Dengan memahami kelemahan dan dampak yang mungkin terjadi, organisasi bisa memprioritaskan langkah-langkah untuk mengurangi risiko tersebut. Melibatkan tim keamanan dan menggunakan informasi tentang ancaman adalah bagian penting dari proses ini.

Strategi untuk mengurangi risiko harus lebih dari sekadar memberi tahu. Karyawan harus diberi pengetahuan dan keterampilan untuk mengidentifikasi dan menanggapi ancaman. Pelatihan yang terus-menerus melalui sesi pelatihan reguler dan webinar memastikan bahwa kita tetap waspada terhadap ancaman yang berkembang.

Membangun budaya di mana keamanan adalah prioritas sangatlah penting. Setiap orang di organisasi harus merasa bertanggung jawab untuk menjaga keamanan. Kita harus mendorong karyawan untuk melaporkan perilaku yang mencurigakan dan memberikan penghargaan atas praktik keamanan yang baik.

Melacak aktivitas karyawan dan menginvestasikan waktu, bakat, dan dana dalam program keamanan sangatlah penting. Perangkat lunak untuk memantau karyawan dan penilaian rutin membantu kita mendeteksi dan mengatasi masalah keamanan dengan cepat. Memiliki anggaran yang memadai juga diperlukan untuk menjalankan program keamanan dengan baik.

Di dunia di mana serangan siber menjadi ancaman yang nyata, kita semua memiliki peran penting dalam melindungi informasi. Dengan meningkatkan kesadaran tentang risiko, membangun budaya keamanan, dan melibatkan semua orang dalam usaha melawan ancaman siber, kita bisa menciptakan masa depan digital yang lebih aman bagi semua orang.

Artikel ini telah diterbitkan oleh ISACA, dengan judul Managing Human Risk Requires More Than Awareness Training. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Kepatuhan dan Pentingnya ESG dalam Bisnis

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Pemerintah dan masyarakat telah memperhatikan bagaimana bank dan perusahaan keuangan menghadapi tantangan lingkungan, sosial, dan tata kelola atau environmental, social and governance (ESG). Pimpinan perusahaan sudah berusaha keras memikirkan cara agar bisnis mereka lebih peduli terhadap ESG. Namun, peran kepatuhan dalam memastikan bahwa perusahaan mengikuti aturan ESG masih belum begitu jelas.

ESG melibatkan hal-hal besar seperti lingkungan, sosial, dan tata kelola dalam bisnis. Setelah Konferensi Pihak-Pihak Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2015, banyak negara berjanji untuk menggunakan uang dan sistem keuangan global untuk membantu masalah iklim. Ini menghasilkan banyak aturan baru yang harus diikuti oleh perusahaan-perusahaan di seluruh dunia.

Namun, alasan bisnis juga menjadi faktor penting. Survei tahun 2021 menunjukkan bahwa banyak pelanggan akan berhenti membeli dari perusahaan yang tidak peduli dengan lingkungan, karyawan, atau komunitas di mana mereka beroperasi.

Jadi, agar merespons keinginan masyarakat, perusahaan keuangan harus berkomitmen pada ESG. Ini berarti mereka harus mempertimbangkan ESG di hampir semua bagian bisnis mereka dan secara teratur memberitahu orang tentang kemajuan mereka.

Meskipun banyak pemimpin perusahaan telah memikirkan cara meningkatkan ESG, seringkali, peran kepatuhan dalam memastikan perusahaan mengikuti aturan diabaikan. Mengapa ini terjadi, dan apakah ini masuk akal?

Tantangan Besar dalam Mengikuti ESG

Peran kepatuhan dalam ESG sangat penting, terutama menghadapi tantangan utama seperti:

  1. Aturan yang semakin banyak dan rumit: aturan baru tentang ESG muncul dengan cepat, sulit untuk mengikuti semuanya. Banyak orang yang disurvei tahun 2021 mengatakan bahwa kurangnya aturan yang jelas dan kompleksitas aturan adalah hal utama yang membuat sulit untuk memajukan ESG.
  1. Masalah dalam hal sosial dan tata kelola: masalah sosial dan tata kelola juga penting, dan aturannya bisa berbeda di berbagai negara.
  1. Aturan yang berbeda-beda: setiap negara memiliki aturan ESG yang berbeda, membingungkan bagi perusahaan-perusahaan yang beroperasi di banyak negara.
  1. Susahnya menerapkan aturan: aturan ESG memengaruhi hampir semua bagian bisnis. Memprioritaskan dan mengelola risiko ESG membutuhkan kerja sama yang luas di seluruh perusahaan.

Selain aturan-aturan wajib, banyak perusahaan juga membuat janji sukarela. Namun, karena tekanan dari pemerintah untuk memberitahu orang tentang kemajuan mereka dan untuk mencegah praktik penipuan hijau (greenwashing), peran kepatuhan semakin penting.

Peran Kepatuhan dalam ESG

Meskipun kepatuhan bukan pemilik program ESG, mereka sudah memiliki pengalaman dalam mengikuti aturan di banyak negara.

Kepatuhan bisa membantu perusahaan dalam memilih strategi untuk mengatasi risiko dan menghilangkan risiko yang bisa menyebabkan kerugian finansial dan reputasi.

Ini penting bagi kepatuhan untuk terlibat sekarang. Aturan semakin ketat, jadi mengelola risiko dan reputasi akan menjadi semakin penting.

Mengajak kepatuhan untuk ikut serta dalam pembicaraan tentang ESG adalah langkah yang baik. Dengan pengalaman mereka dalam mengelola risiko dan kemampuan mereka dalam memahami aturan yang rumit, kepatuhan bisa menjadi mitra yang baik bagi perusahaan keuangan dalam mencapai tujuan ESG mereka.

Artikel ini telah diterbitkan oleh Protivi, dengan judul What Role Should Compliance Play in ESG?. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Mengupas Ilmu Keamanan Siber: Tantangan dan Prospek di Masa Depan

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Dalam era digital yang semakin maju, keamanan siber menjadi perhatian utama karena ancaman yang terus berkembang. Untuk menghadapi tantangan ini, pendekatan ilmiah yang lebih terstruktur dibutuhkan. Dokumen pertama yang dikenal luas tentang Ilmu Keamanan Siber diterbitkan oleh MITRE Corporation pada November 2010.

Keamanan siber adalah cabang dari ilmu komputer yang bergantung pada berbagai bidang ilmu, termasuk matematika, fisika, dan ilmu sosial. Selain itu, keamanan siber juga menggunakan analogi dari bidang penelitian lain seperti epidemiologi, ekonomi, dan kedokteran klinis.

Ada beberapa konsep dalam ilmu komputer yang relevan dengan keamanan siber:

Model checking: Membangun dan memvalidasi model algoritma untuk memeriksa kebenaran spesifikasi tersebut.

Kriptografi: Mengamati komunikasi untuk menemukan pesan-pesan dalam kehadiran lawan.

Teori tipe: Menggunakan logika matematika untuk memperkuat keamanan perangkat lunak.

Randomisasi: Mengacak jalur data dan variabel program untuk membangun pertahanan terhadap serangan.

Tantangan dalam mendefinisikan keamanan siber termasuk lawan yang cerdas dan adaptif, absennya hukum universal, serta kemajuan teknologi yang terus berkembang. Namun, dengan pendekatan ilmiah yang tepat, keamanan siber dapat dianggap sebagai ilmu yang memiliki metodologi yang ketat.

Para peneliti keamanan disarankan untuk belajar dari berbagai disiplin ilmu, berkolaborasi dalam penelitian mereka, dan bekerja sama dengan stakeholder lainnya. Dengan demikian, penelitian keamanan siber dapat menghasilkan solusi yang lebih efektif dalam menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks.

Artikel ini telah diterbitkan oleh ISACA, dengan judul The Science of Cybersecurity and its Future Challenges. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Masa Depan Bisnis dengan 5G: Hasil Survei dan Tantangan

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Para pemimpin bisnis saat ini sedang berada di ambang era baru dengan kemunculan teknologi jaringan 5G. Dalam menghadapi janji-janji yang tidak dapat disangkal dari 5G, seperti konektivitas masif untuk Internet of Things (IoT), pengurangan latensi, dan keandalan ultra, banyak yang bertanya-tanya apakah ini adalah langkah yang tepat untuk bisnis mereka. 

Dalam sebuah survei terbaru, Protiviti mengeksplorasi persepsi dan tantangan terkait dengan adopsi 5G.

Kasus Penggunaan Nirkabel Tetap Memimpin

Hasil survei menunjukkan bahwa investasi awal dalam 5G terutama terjadi pada perangkat seperti ponsel pintar dan tablet, serta peningkatan infrastruktur jaringan dengan fokus pada pengalaman pelanggan dan keterlibatan karyawan. Terutama, IoT/OT memimpin dalam adopsi awal, dengan penggunaan 5G sebagai backhaul internet untuk router nirkabel tidak bergerak.

Manfaat yang Dirasakan

Para eksekutif mengakui manfaat utama 5G, termasuk peningkatan kecepatan dan latensi yang berdampak pada pengalaman pelanggan dan keterlibatan karyawan. Selain itu, konektivitas besar-besaran untuk perangkat IoT menjanjikan data yang lebih kuat untuk analisis tingkat lanjut, memungkinkan otomatisasi yang lebih baik dari berbagai proses bisnis.

Tantangan dalam Adopsi

Meskipun potensi besar 5G, adopsinya tidaklah tanpa tantangan. Biaya dan integrasi dengan infrastruktur dan sistem yang ada menjadi hambatan utama. Selain itu, biaya perangkat dan teknologi yang masih mahal serta ketersediaan produk dan teknologi menjadi pertimbangan penting dalam memutuskan waktu yang tepat untuk berinvestasi.

Pandangan ke Masa Depan

Meskipun masih ada ketidakpastian seputar 5G, aplikasinya di berbagai sektor bisnis sudah menjadi hal yang diberikan. Dengan adanya peningkatan jaringan pribadi 5G, banyak manfaat yang diharapkan dapat diwujudkan, meskipun hal ini juga membawa tantangan baru dalam pengelolaan dan pemeliharaan jaringan.

Dalam gambaran keseluruhan, hasil survei dan analisis dari Protiviti memberikan pandangan yang komprehensif tentang bagaimana 5G akan berdampak pada perusahaan dan apa yang dapat dilakukan organisasi untuk mempersiapkan diri menghadapinya. Meskipun masih ada beberapa hambatan yang harus diatasi, 5G menjanjikan perubahan besar dalam cara bisnis dijalankan dan pengalaman pengguna yang disajikan.

Artikel ini telah diterbitkan oleh Proviti, dengan judul At a Crossroad: Weighing the Realities and Risks of 5G. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Mengelola Risiko Geopolitik untuk Pertumbuhan Bisnis yang Berkelanjutan

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Dalam era globalisasi yang dipenuhi dengan ketidakpastian geopolitik, pemimpin perusahaan harus mengambil langkah-langkah bijaksana untuk mengelola risiko politik dan memanfaatkan peluang pertumbuhan baru. Terlepas dari sektor atau lokasi kantor pusat, strategi yang tepat dalam menghadapi risiko politik dapat membuka pintu bagi peluang pertumbuhan yang signifikan.

 

Dalam sebuah artikel yang dipublikasikan oleh EY, ditemukan bahwa perusahaan-perusahaan memiliki profil risiko politik yang berbeda-beda. Ada empat profil utama: mitigator pasif, perusahaan yang siap menghadapi risiko, manajer aktif, dan entitas yang terpapar risiko. Masing-masing dari profil ini memiliki tantangan dan peluang unik tergantung pada tingkat eksposur mereka terhadap risiko politik dan kemampuan mereka dalam mengelola risiko tersebut.

 

Misalnya, bagi mitigator pasif, diversifikasi bisnis mereka membantu mengurangi eksposur terhadap risiko politik, tetapi mereka seringkali kurang memiliki pendekatan strategis dalam mengelola risiko politik. Di sisi lain, perusahaan yang siap menghadapi risiko memiliki kemampuan yang kuat dalam mengintegrasikan risiko politik ke dalam strategi bisnis mereka, memberikan mereka kepercayaan untuk mengeksplorasi pasar baru yang strategis.

 

Penting bagi perusahaan untuk memahami profil risiko politik mereka sebelum membuat perubahan strategis. Dengan memahami tingkat eksposur mereka dan kemampuan mereka dalam mengelola risiko politik, perusahaan dapat mengoptimalkan strategi global mereka dan meraih peluang pertumbuhan di tengah ketidakpastian geopolitik.

 

Perusahaan ditantang untuk memahami dampak geopolitik pada bisnis dan mengelola risiko ini secara efektif. Dengan langkah-langkah yang tepat, perusahaan dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang dalam era globalisasi yang baru.

 

Artikel ini telah diterbitkan oleh EY, dengan judul Why a level head is needed to deal with geopolitical risk. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

4 Tren Penting dalam Keamanan Siber

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Dalam dunia yang terus berubah dengan cepat, kemajuan teknologi, konflik geopolitik, dan inovasi baru yang gelap menyebar di antara berbagai pelaku buruk. Sebagai hasilnya, pemerintah, bisnis, dan warga di seluruh dunia menghadapi risiko siber yang signifikan.

Empat tren ini kemungkinan akan mendominasi diskusi keamanan siber dalam beberapa bulan dan tahun mendatang.

  1. Serangan Siber Akibat Konflik Geopolitik

Konflik seperti invasi Rusia ke Ukraina tidak hanya meningkatkan kekerasan fisik, tetapi juga menciptakan lonjakan serangan siber. Ini menunjukkan bahwa ketegangan geopolitik dapat menghasilkan ancaman digital yang serius bagi bisnis dan individu di seluruh dunia.

  1. Ancaman dari Kecerdasan Buatan Generatif

Kemajuan dalam kecerdasan buatan, seperti ChatGPT, memungkinkan pembuatan konten palsu yang sangat meyakinkan. Ini bisa digunakan oleh penjahat siber untuk menyebarkan phishing dan disinformasi dengan lebih efektif, meningkatkan risiko bagi semua orang yang menggunakan internet.

  1. Regulasi Keamanan Siber yang Ketat

Pemerintah semakin menyadari pentingnya melindungi infrastruktur kritis dari serangan siber. Regulasi baru mungkin akan mewajibkan perusahaan untuk memperkuat sistem keamanan mereka, yang akan mempengaruhi cara bisnis beroperasi.

  1. Peningkatan Pengawasan Risiko Siber oleh Perusahaan

Pengelolaan risiko siber menjadi semakin penting bagi perusahaan, dengan dewan dan eksekutif memainkan peran kunci dalam memastikan perlindungan yang memadai terhadap serangan siber. Pelatihan dan pembaruan kebijakan akan menjadi kunci untuk menghadapi tantangan ini.

Dengan meningkatnya ketegangan geopolitik dan risiko teknologi baru, perusahaan harus memprioritaskan keamanan siber untuk melindungi bisnis dan karyawan mereka dari ancaman yang ada dan yang akan datang.

Artikel ini telah diterbitkan oleh OliverWyman pada Juni 2023, dengan judul 4 Trends Driving Cybersecurity Today. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Mengatasi Dampak Bencana: 7 Langkah untuk Menjamin Kelangsungan Bisnis Pasca Topan

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Saat musim topan 2022 masih berlangsung, organisasi diharapkan segera mengambil langkah-langkah persiapan menghadapi potensi dampak dari topan atau badai tropis terhadap karyawan dan operasional bisnis mereka. Penting bagi perusahaan untuk meninjau ulang rencana manajemen krisis, komunikasi krisis, tanggap darurat, dan rencana kontinuitas bisnis yang ada saat ini, serta melakukan pembaruan yang diperlukan untuk meningkatkan strategi ketangguhan.

Selain itu, kesiapan untuk mengaktifkan rencana-rencana tersebut dengan tepat guna membantu karyawan dan bisnis sebelum, selama, dan sesudah krisis juga menjadi hal yang sangat penting.

Dalam melaksanakan tugas tersebut, perhatian terfokus pada tujuh area tindakan kritis berikut:

  1. Manajemen Krisis

Terapkan rencana manajemen krisis dan aktifkan tim manajemen krisis dengan cepat dan efisien. Langkah ini memungkinkan pemahaman awal terhadap potensi dampak dari topan atau badai tropis terhadap karyawan, operasional, properti, dan infrastruktur. Selain itu, membantu dalam pengambilan keputusan kebijakan/strategi untuk mengelola potensi dampak, seperti izin cuti dibayar bagi karyawan atau pemindahan operasional ke lokasi lain, jika memungkinkan.

  1. Tanggap Darurat

Lakukan langkah-langkah untuk melindungi karyawan dan aset fisik. Hal ini krusial terutama jika karyawan dan properti berada di dekat area yang terdampak badai. Memastikan karyawan mengikuti arahan dari pihak berwenang setempat dan memberikan pembaruan secara berkala kepada eksekutif senior dan tim tanggap adalah prioritas.

  1. Bantuan Kemanusiaan

Siapkan bantuan kemanusiaan bagi karyawan dan keluarga mereka pasca bencana. Ini termasuk bantuan fisik, sosial, emosional, dan finansial, serta memastikan informasi jelas tentang bantuan yang tersedia dan memberikan tautan ke sumber daya eksternal.

  1. Kontinuitas Bisnis

Rencana harus mencakup proses untuk melanjutkan fungsi bisnis kritis yang terganggu, termasuk identifikasi pemasok alternatif di luar wilayah terdampak.

  1. Komunikasi Krisis

Informasikan semua pihak tentang upaya untuk melanjutkan operasi, pastikan memiliki daftar kontak yang diperbarui untuk karyawan, dan berbagai alat komunikasi.

  1. Teknologi Informasi/Pemulihan Bencana

Fokus pada pemulihan jaringan, aplikasi, dan sumber data untuk mendukung kelangsungan operasi.

  1. Kembali Bekerja

Perbarui karyawan tentang rencana pembukaan kembali lokasi dan fasilitas komunikasi dua arah.

Pemulihan dari bencana membutuhkan waktu dan usaha, tetapi dengan langkah-langkah ini, organisasi dapat meminimalkan dampaknya dan lebih cepat melanjutkan operasi normal.

Artikel ini telah diterbitkan oleh Marsh pada 28 September 2022, dengan judul Recovering From A Hurricane: 7 Steps to Ensure Business Continuity. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |
Go to Top