Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

 

Risiko operasional data center kini semakin dipengaruhi ketersediaan listrik, air, dan tenaga kerja terampil. Ketiga faktor tersebut mulai menentukan lokasi, pembangunan, hingga kemampuan data center menjaga operasional.

Permintaan data center terus meningkat karena pertumbuhan kecerdasan buatan (AI), cloud, dan infrastruktur digital. Investasi infrastruktur digital bahkan berpotensi mencapai US$10 triliun pada 2030.

Namun, ekspansi data center menghadapi sejumlah kendala. Pengembang harus memperhitungkan pasokan listrik, akses air, sistem pendingin, tenaga kerja, rantai pasok, dan keamanan siber sejak tahap awal.

Listrik Jadi Faktor Utama Data Center

Ketersediaan listrik kini menjadi salah satu hambatan terbesar pembangunan data center. Kebutuhan listrik data center global akan tumbuh 165% hingga 2030.

Di Amerika Serikat, data center diproyeksikan menggunakan sekitar 11% kebutuhan listrik pada 2030. Kondisi ini membuat akses listrik ikut menentukan lokasi dan kecepatan pembangunan fasilitas.

Sejumlah operator mulai menggunakan pembangkit di lokasi, baterai, dan sistem listrik hibrida. Namun, sistem tersebut juga menambah risiko baru, seperti gangguan baterai, sistem kontrol, dan pendinginan.

Kebutuhan Air Terus Meningkat

Air juga menjadi persoalan penting karena data center membutuhkan sistem pendingin. Penggunaan air data center secara global diperkirakan mencapai 560 miliar liter per tahun.

Angka tersebut berpotensi meningkat menjadi 1,2 triliun liter pada 2030. Fasilitas data center berukuran besar bahkan dapat menggunakan hingga 5 juta galon air per hari.

Karena itu, operator perlu mempertimbangkan ketersediaan air sejak memilih lokasi. Penggunaan kembali air dan pengurangan konsumsi juga semakin penting.

Kekurangan SDM Bisa Ganggu Operasional

Ketersediaan tenaga kerja terampil menjadi tantangan lain. Sebanyak 58% operator data center kesulitan menarik dan mempertahankan tenaga kerja berkualifikasi.

Kekurangan tenaga ahli dapat meningkatkan risiko kesalahan dan memperpanjang waktu pemulihan saat terjadi gangguan. Masalah ini juga dapat memengaruhi pembangunan karena data center bergantung pada kontraktor, pemasok, dan penyedia layanan lainnya.

Keamanan Siber Ikut Menjadi Risiko

Sistem listrik, baterai, pendinginan, dan perangkat kontrol data center semakin terhubung secara digital. Kondisi tersebut membuat keamanan siber menjadi bagian dari risiko operasional.

Serangan siber dapat mengganggu sistem penting dan memengaruhi kemampuan fasilitas mempertahankan operasional. Ketergantungan pada kontraktor dan penyedia layanan pihak ketiga juga menambah potensi risiko.

Listrik, air, dan tenaga kerja perlu direncanakan secara terpadu. Ketiganya saling berkaitan dan dapat memengaruhi kemampuan data center beroperasi secara stabil.

Pertumbuhan industri data center masih memiliki prospek besar. Namun, kemampuan membangun fasilitas saja tidak cukup. Operator perlu memastikan ketersediaan sumber daya, tenaga ahli, dan sistem keamanan. 

Artikel ini telah diterbitkan oleh Aon dengan judul People, Power and Water are Defining Digital Infrastructure Operational Risks. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.