Manajemen keberlangsungan bisnis semakin penting bagi perusahaan yang ingin tetap beroperasi saat cuaca ekstrem makin sering terjadi. Menurut laporan Marsh, sekitar 75% perusahaan pernah mengalami gangguan operasional, aset, atau tenaga kerja akibat banjir, gelombang panas, kekeringan, dan cuaca ekstrem lainnya.
Gangguan tersebut juga berdampak pada rantai pasok, pelanggan, hingga infrastruktur penting. Namun, banyak perusahaan masih belum memiliki rencana yang benar-benar siap menghadapi risiko iklim.
Manajemen Keberlangsungan Bisnis
Manajemen keberlangsungan bisnis merupakan proses yang membantu perusahaan tetap beroperasi atau pulih lebih cepat saat terjadi krisis.
Marsh menilai banyak rencana yang ada belum memperhitungkan perubahan iklim. Selain itu, analisis risiko iklim sering dibuat oleh satu tim, sementara penyusunan rencana pemulihan dikerjakan tim lain. Akibatnya, informasi penting tidak tersampaikan dengan baik.
Tiga Langkah Meningkatkan Ketahanan
- Memetakan Risiko Iklim
Data mengenai banjir, gelombang panas, kekeringan, atau kebakaran hutan perlu diterjemahkan menjadi dampak nyata terhadap operasional perusahaan.
Misalnya, curah hujan tinggi bukan sekadar angka dalam laporan cuaca. Hujan lebat bisa membuat armada logistik tidak dapat beroperasi, pemasok menghentikan pengiriman, atau fasilitas produksi terpaksa tutup selama beberapa minggu.
Selain itu, perusahaan juga perlu memperhitungkan kondisi di luar lingkungan bisnisnya sendiri. Gangguan terhadap pemasok, jaringan listrik, transportasi, maupun pelanggan dapat memengaruhi proses bisnis meski aset perusahaan tidak mengalami kerusakan langsung.
- Menguji Skenario Krisis
Banyak perusahaan memang rutin mengadakan simulasi bencana. Namun, simulasi tersebut sering kali terlalu ringan karena hanya mengikuti kapasitas penanganan yang sudah dimiliki perusahaan.
Padahal kondisi sebenarnya bisa jauh lebih rumit. Sebagai contoh, banjir dapat terjadi bersamaan dengan lumpuhnya gudang perusahaan logistik utama dan penutupan akses jalan selama beberapa hari. Situasi seperti ini perlu dimasukkan dalam latihan agar perusahaan mengetahui titik lemah rencana pemulihannya.
- Meninjau dan Menyelaraskan Rencana
Perusahaan juga perlu meninjau dan menyelaraskan rencana keberlangsungan bisnis di seluruh unit kerja. Banyak organisasi masih membuat rencana pemulihan secara terpisah. Padahal bencana akibat perubahan iklim dapat menyerang beberapa lokasi sekaligus.
Berbeda dengan kebakaran pabrik atau serangan siber yang biasanya hanya berdampak pada satu lokasi atau sistem tertentu, cuaca ekstrem dapat meluas ke satu wilayah. Kondisi ini membuat banyak perusahaan berebut sumber daya pemulihan pada waktu yang sama.
Misalnya, kontraktor darurat, jalur distribusi alternatif, hingga lokasi cadangan bisa digunakan oleh banyak perusahaan secara bersamaan. Akibatnya, solusi yang sebelumnya dianggap tersedia ternyata tidak dapat dimanfaatkan ketika krisis benar-benar terjadi.
Karena itu, perusahaan perlu melakukan pengujian menggunakan berbagai skenario dengan tingkat keparahan yang berbeda. Pendekatan ini membantu perusahaan menemukan kelemahan yang selama ini tidak terlihat.
Manajemen keberlangsungan bisnis bukan pengganti strategi adaptasi iklim. Perusahaan tetap perlu memperkuat aset, memperbaiki operasional, dan mengelola risiko melalui asuransi. Namun, ketika gangguan tidak dapat dihindari, manajemen keberlangsungan bisnis menjadi pegangan agar operasional tetap berjalan dan proses pemulihan berlangsung lebih cepat.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Marsh dengan judul Map, Model, Manage: How Business Continuity Plans Can Drive Climate Resilience. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.