Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

 

Investasi AI yang terlalu hati-hati justru bisa menjadi risiko bagi perusahaan. Perusahaan yang terlalu lama menahan belanja teknologi berpotensi tertinggal dari pesaing yang lebih agresif memanfaatkan kecerdasan buatan (AI).

Riset Boston Consulting Group (BCG) menunjukkan perusahaan yang lebih serius berinvestasi pada AI cenderung lebih siap menghadapi perubahan bisnis. Kelompok perusahaan tersebut rata-rata mengalokasikan 1,7 persen pendapatan untuk AI. Angka itu lebih dari dua kali lipat dibandingkan perusahaan yang tertinggal, yakni 0,8 persen.

Investasi AI Mulai Menjadi Penentu Daya Saing

Perusahaan dengan integrasi AI yang lebih dalam sudah merasakan dampak terhadap kinerja bisnis. Penghematan biaya mereka tercatat tiga kali lebih besar dibandingkan perusahaan lain.

Perusahaan tersebut juga mencatat margin keuntungan 60 persen lebih tinggi. Selain itu, tingkat pengembalian modal yang ditanamkan atau return on invested capital (ROIC) mencapai 2,7 kali lebih tinggi.

Data tersebut memperlihatkan perubahan cara perusahaan melihat AI. Teknologi ini mulai diposisikan sebagai bagian dari infrastruktur bisnis, bukan sekadar proyek percobaan.

Namun, investasi AI bukan berarti perusahaan harus menghamburkan anggaran untuk berbagai alat dan proyek. Fokus tetap diperlukan agar dana mengalir ke penggunaan AI yang memiliki dampak nyata.

AI Perlu Masuk ke Proses Bisnis Utama

Perusahaan yang lebih siap menghadapi masa depan mulai menempatkan AI sebagai bagian dari kemampuan utama bisnis. Area seperti pengadaan, layanan pelanggan, pengembangan perangkat lunak, dan fungsi pendukung menjadi sasaran investasi.

Pendekatan tersebut berbeda dari strategi menyebarkan anggaran kecil ke banyak proyek. Perusahaan perlu memilih area yang bisa menghasilkan perubahan besar.

Investasi juga perlu mencakup perubahan cara kerja. Nilai transformasi AI berasal dari sekitar 10 persen algoritma, 20 persen teknologi dan data, serta 70 persen manusia, proses, dan perubahan perilaku.

Artinya, membeli perangkat lunak AI saja belum cukup. Perusahaan juga perlu menyiapkan karyawan, menyederhanakan proses, memperkuat tata kelola, dan mengubah struktur organisasi jika diperlukan.

Penghematan Biaya Bisa Membiayai Investasi AI

Belanja AI yang agresif bukan berarti perusahaan harus meninggalkan disiplin biaya. Salah satu pendekatan yang disarankan adalah mencari penghematan dari pos bisnis lain.

Perusahaan dapat mengoptimalkan pengadaan, mengurangi pengeluaran eksternal, menyederhanakan struktur organisasi, dan membuat proses operasional lebih efisien.

Langkah tersebut berpotensi menghasilkan penghematan 5 persen hingga 25 persen dalam tiga sampai 12 bulan pertama. Dana yang berhasil dihemat kemudian dapat digunakan untuk membiayai transformasi berbasis AI.

Strategi tersebut menciptakan siklus yang saling menguatkan. Penghematan membiayai AI, lalu AI membantu menghasilkan efisiensi baru yang dapat membuka ruang investasi berikutnya.

Jangan Menunggu Perhitungan ROI Terlalu Sempurna

Tantangan lain muncul ketika perusahaan terlalu lama menunggu perhitungan keuntungan yang sangat rinci sebelum meningkatkan investasi AI.

Pendekatan tersebut memang terlihat hati-hati. Namun, pasar dan teknologi berubah cepat sehingga perhitungan yang dibuat hari ini belum tentu relevan beberapa bulan kemudian.

Perusahaan yang lebih maju cenderung mengambil keputusan berdasarkan penggunaan yang sudah terbukti memberikan hasil. Mereka kemudian mengalihkan anggaran ke proyek dengan dampak terbesar.

Strategi ini bukan berarti perusahaan boleh berinvestasi tanpa batas. Manajemen tetap perlu memantau hasil dan menghentikan proyek yang tidak memberikan manfaat.

Perbedaannya terletak pada kecepatan mengambil keputusan. Perusahaan tidak harus mengetahui seluruh keuntungan sejak awal untuk mulai bergerak.

Risiko Terbesar Bisa Berasal dari Kurang Investasi

Perdebatan mengenai AI selama ini sering berfokus pada besarnya biaya teknologi. Namun, risiko bagi perusahaan bisa muncul ketika investasi AI terlalu kecil dan terlalu lambat. Ketika pesaing sudah mengubah proses bisnis menggunakan AI, perusahaan yang masih berkutat dengan proyek uji coba berisiko kehilangan momentum.

Karena itu, investasi AI perlu diarahkan pada perubahan bisnis yang lebih luas. Perusahaan harus menyiapkan teknologi, manusia, proses, dan tata kelola secara bersamaan.

AI memang membutuhkan modal. Namun, biaya terbesar bagi sebagian perusahaan bisa jadi bukan uang yang dikeluarkan untuk AI, melainkan kesempatan yang hilang karena terlalu lama menunggu.

Artikel ini telah diterbitkan oleh BCG dengan judul The Cost of Caution with AI Investments. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.