Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

 

Merger dan akuisisi di sektor kesehatan tidak berhenti setelah transaksi resmi ditutup. Proses integrasi setelah kesepakatan justru menjadi tahap penting untuk memastikan nilai bisnis dan tujuan strategis dari transaksi bisa tercapai.

Huron Consulting Group menilai integrasi yang berjalan lambat dapat menjadi risiko tersembunyi bagi rumah sakit dan sistem kesehatan. Kondisi tersebut membuat organisasi hasil merger tetap berjalan seperti dua entitas berbeda.

Akibatnya, manfaat yang diharapkan dari transaksi bisa tertunda. Biaya operasional dapat meningkat karena adanya pekerjaan dan sistem yang masih berjalan secara terpisah.

Merger dan Akuisisi Membutuhkan Integrasi yang Jelas

Rumah sakit dan organisasi kesehatan biasanya melakukan merger dan akuisisi dengan tujuan tertentu. Misalnya, memperluas akses layanan, meningkatkan kualitas, memperkuat kondisi keuangan, atau mendapatkan skala bisnis yang lebih besar.

Namun, penutupan transaksi bukan akhir dari proses. Integrasi menjadi tahap ketika kedua organisasi mulai menyatukan orang, sistem, layanan, serta cara mengambil keputusan.

Integrasi yang lambat sering tidak terlihat sebagai sebuah kegagalan. Layanan kepada pasien tetap berjalan dan laporan keuangan tetap dibuat.

Masalahnya muncul secara perlahan. Pengambilan keputusan menjadi lebih lama. Standar kerja berbeda. Biaya tetap tinggi karena terdapat duplikasi pekerjaan.

Kondisi tersebut juga dapat memicu kelelahan di tingkat pimpinan dan menurunkan kepercayaan antara organisasi lama yang bergabung.

Tiga Area yang Menentukan Keberhasilan Integrasi

Integrasi yang tertunda berkaitan dengan tiga area utama:

Pertama, budaya organisasi. Setiap rumah sakit dapat memiliki cara berbeda dalam mengambil keputusan dan menjalankan pekerjaan. Satu organisasi mungkin terbiasa dengan keputusan formal melalui agenda dan dokumentasi. Organisasi lain bisa lebih mengandalkan komunikasi informal dan hubungan antarorang.

Perbedaan tersebut bisa menjadi masalah jika tidak diselaraskan. Rapat dapat berulang tanpa keputusan yang jelas. Pekerjaan menjadi lambat dan keputusan lama kembali diperdebatkan.

Kedua, tata kelola. Struktur komite atau dewan bersama belum tentu membuat integrasi berjalan efektif. Masalah muncul ketika tidak ada pihak yang benar-benar memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan. Pimpinan akhirnya lebih banyak menghabiskan waktu untuk berkoordinasi daripada menjalankan strategi.

Ketiga, teknologi dan data. Sistem teknologi yang belum terintegrasi dapat membuat organisasi kesulitan melihat kinerja secara utuh. Rumah sakit yang masih menggunakan beberapa sistem rekam medis elektronik, misalnya, dapat mengalami kesulitan dalam menyeragamkan data dan standar layanan.

Sistem keuangan yang berbeda juga menyulitkan perbandingan biaya dan kinerja antarunit. Pelaporan yang tidak seragam kemudian membuat pimpinan kesulitan mengambil keputusan berdasarkan data yang sama.

Dampak Integrasi yang Berjalan Lambat

Dampak dari integrasi yang tertunda biasanya tidak langsung terasa. Kerugiannya menumpuk selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.

Salah satu dampaknya adalah manfaat sinergi dari merger dan akuisisi tidak tercapai sesuai target. Biaya juga dapat meningkat karena organisasi masih mempertahankan proses dan sistem yang tumpang tindih.

Pimpinan kemudian menghadapi beban tambahan untuk menyelesaikan masalah yang belum kunjung tuntas. Hubungan antara organisasi lama juga berpotensi semakin renggang.

Masalah tersebut dapat menghambat langkah strategis berikutnya. Modal, waktu pimpinan, dan tenaga organisasi masih terserap untuk menyelesaikan pekerjaan dari transaksi sebelumnya.

Karena itu, integrasi yang lambat tidak bisa dianggap sekadar masalah waktu. Setelah pola kerja yang terpisah terbentuk, perubahan dapat menjadi semakin sulit dilakukan.

Lima Langkah Menjaga Momentum Integrasi

Untuk memastikan nilai merger tercapai, perusahaan disarankan mengambil lima langkah utama:

  1. Menetapkan Visi Jelas: Mengomunikasikan alasan dan tujuan merger kepada seluruh karyawan dan tenaga medis.
  2. Mengutamakan Entitas Gabungan: Mengambil keputusan berdasarkan kepentingan bersama, bukan kepentingan entitas lama.
  3. Menerapkan Praktik Teruji: Menggunakan kerangka kerja integrasi yang sudah terbukti efektif.
  4. Alokasi Tim Khusus: Menyediakan sumber daya dan tim khusus untuk mengawal proses integrasi agar tidak mengganggu operasional harian.
  5. Kejelasan Kewenangan: Mempertegas struktur keputusan untuk mempercepat eksekusi di lapangan.

Artikel ini telah diterbitkan oleh Huron dengan judul Delayed Integration: The Hidden Risk Undermining Health System M&A Value. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.