Industri asuransi menghadapi risiko asuransi yang semakin kompleks, mulai dari bencana alam, serangan siber, hingga dampak penggunaan kecerdasan buatan (AI). Kondisi tersebut membuat perusahaan asuransi perlu mengubah cara mengelola portofolio agar pertumbuhan bisnis tetap menguntungkan.
Laporan McKinsey yang diterbitkan 22 April 2026 menyoroti tekanan yang dihadapi segmen asuransi komersial untuk perusahaan dengan pendapatan antara 20 juta euro hingga 200 juta euro. Segmen pasar menengah ini dinilai penting karena memiliki peluang pertumbuhan dan cross-selling yang besar.
Namun, perusahaan di segmen tersebut juga memiliki tingkat kematangan manajemen risiko yang beragam. Proses internal yang kurang terstruktur dapat membuat perusahaan lebih rentan terhadap gangguan operasional maupun risiko yang dapat diasuransikan.
Risiko Asuransi Makin Beragam
Salah satu tekanan terbesar berasal dari margin bisnis yang semakin menyempit. Praktik penetapan harga yang kurang akurat dan minimnya penggunaan data membuat perusahaan asuransi kesulitan menilai risiko secara tepat.
Tekanan tersebut semakin besar karena meningkatnya kerugian akibat bencana alam. Kerugian akibat bencana alam secara global mencapai 260 miliar dolar AS pada 2025. Perusahaan menengah juga bisa sangat terdampak karena operasional mereka sering terkonsentrasi di wilayah tertentu.
Banjir, kebakaran hutan, dan gempa bumi dapat memicu kerugian besar dalam waktu singkat. Masalahnya, banyak perusahaan menengah belum memiliki sistem pencegahan risiko yang memadai.
Risiko asuransi juga berkembang melalui ancaman siber, terutama penipuan melalui email bisnis dan ransomware. Penggunaan AI membawa persoalan baru terkait kualitas data, privasi, regulasi, dan akuntabilitas. Gangguan rantai pasok juga semakin mudah menyebar akibat keterhubungan bisnis global.
Masalah Pengelolaan Risiko Asuransi
Terdapat sejumlah kelemahan dalam pengelolaan portofolio asuransi segmen menengah. Salah satunya adalah proses underwriting yang masih terfragmentasi.
Banyak portofolio masih dinilai berdasarkan kasus per kasus. Pendekatan tersebut membuat perusahaan sulit melihat gambaran risiko secara menyeluruh.
Masalah lain adalah rendahnya visibilitas risiko pada tingkat portofolio. Perusahaan asuransi dapat kesulitan mengetahui konsentrasi risiko berdasarkan wilayah, industri, atau jenis bahaya.
Penggunaan data dalam proses underwriting juga belum maksimal. Padahal, perusahaan memiliki banyak data internal dan eksternal yang dapat membantu menentukan harga serta kualitas risiko.
McKinsey menyarankan empat langkah untuk memperbaiki kondisi tersebut. Pertama, perusahaan perlu melakukan pemeriksaan terhadap portofolio dan membagi risiko berdasarkan karakteristiknya.
Kedua, perusahaan perlu melakukan perbaikan sistematis pada proses perpanjangan polis. Kebijakan yang tidak menguntungkan dapat dievaluasi, dihentikan, atau disesuaikan harganya.
Ketiga, perusahaan perlu memiliki batas risiko yang jelas ketika menerima bisnis baru. Batas tersebut dapat dibuat berdasarkan wilayah, industri, jenis risiko, dan segmen nasabah.
Keempat, perusahaan harus memantau hasil kebijakan secara berkala. Data dari proses tersebut kemudian digunakan untuk memperbaiki keputusan berikutnya.
Teknologi Bisa Bantu Pengelolaan Portofolio
Teknologi AI generatif dan AI berbasis agen juga dinilai dapat membantu perusahaan asuransi bekerja lebih cepat. Teknologi tersebut dapat mendukung proses underwriting, meningkatkan ketepatan penilaian risiko, dan menekan biaya operasional.
Namun, teknologi bukan satu-satunya solusi. Perusahaan tetap membutuhkan kerangka manajemen risiko yang terstruktur agar data dan teknologi dapat digunakan untuk mengambil keputusan yang tepat.
Pendekatan tersebut berpotensi memberikan dampak besar terhadap profitabilitas. Perusahaan asuransi dapat meningkatkan hasil underwriting bruto sebesar 30 persen hingga 50 persen melalui pengelolaan portofolio yang lebih disiplin.
Peningkatan tersebut dapat dilakukan melalui pengurangan polis yang terus merugi, pengalihan risiko dengan eksposur tinggi, serta perbaikan profitabilitas pada polis yang masih memiliki peluang untuk diperbaiki.
Artikel ini telah diterbitkan oleh McKinsey dengan judul Midmarket insurance: Managing Growth in A Complex Environment. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.