Pada Selasa, 30 Juni 2026, Webinar Bedah Buku Governansi: Manajemen Risiko, Kepatuhan, dan Akuntansi Menuju Keberlanjutan Organisasi diselenggarakan secara daring melalui Zoom pada pukul 09.00—11.00 WIB.

Kegiatan ini digelar untuk mengupas isi buku Governansi edisi 2026 karya Prof. Mardiasmo, yang membahas keterkaitan tata kelola (governance), manajemen risiko, kepatuhan, dan akuntansi sebagai satu kesatuan menuju keberlanjutan organisasi. Webinar ini diselenggarakan atas kolaborasi IRMAPA bersama WAY Academy, MRPN Center, dan Komite Nasional Kebijakan Governansi (KNKG).

Webinar ini menghadirkan Prof. Mardiasmo (Ketua Umum KNKG) dan Dr. Waluyo (praktisi bidang GRC) sebagai narasumber. Sambutan dalam acara ini disampaikan oleh Direktur WAY Academy Fitri Sawitri. Pada webinar ini, diskusi dipandu oleh Victor Riwu Kaho, Sekretaris Jenderal Asosiasi GRK Indonesia, selaku moderator.

Prof. Mardiasmo: Esensi Buku Governansi dan Pengembangannya

Disampaikan oleh Prof. Mardiasmo, akuntansi memegang peran sentral dalam mewujudkan good governance, baik melalui perwujudan transparansi dan akuntabilitas publik maupun sebagai penggerak (engine of reform) pembangunan ekonomi Indonesia yang inklusif. Ia juga memaparkan tiga pilar utama governansi, yaitu negara (menciptakan regulasi yang sehat dan penegakan hukum yang konsisten), dunia usaha (menerapkan good corporate governance untuk meningkatkan produktivitas nasional), serta masyarakat (melakukan kontrol sosial dan berpartisipasi aktif demi mewujudkan effective governance). 

Masa depan organisasi akan ditentukan oleh konvergensi GRC (governance, risk, and compliance) dan ESG (environmental, social, governance) ke dalam model bisnis inti, serta ketahanan (resilience). Hal ini berlaku sebagai syarat mutlak sebelum organisasi dapat mencapai keberlanjutan yang bermakna melalui integrasi ESG ke dalam enterprise risk management (ERM).

Dalam paparannya, Prof. Mardiasmo menekankan bahwa tuntutan pasar abad ke-21 mengharuskan organisasi beralih ke pelaporan yang komprehensif dan terintegrasi. Ia turut memaparkan evolusi audit internal melalui four lines model—manajemen, kepatuhan/risiko, audit internal, hingga BPKP. Model ini mentransformasikan peran audit dari “polisi kepatuhan” menjadi penasihat strategis yang menanamkan intelijen risiko ke dalam DNA bisnis. Ia juga menjelaskan mengenai dua bab baru yang ditambahkan pada buku Governansi edisi 2026, yaitu Bab 6 dan Bab 10.

Bab 6 membahas ketahanan melalui GRC terintegrasi yang mencakup tiga dimensi ketahanan (operasional dan digital, rantai pasok, serta finansial); siklus implementasi GRC empat tahap (pelajari, selaraskan, jalankan, tinjau); peran teknologi; serta integrasi ESG ke dalam kerangka ERM berbasis model COSO. 

Bab 10 membahas masa depan GRC terintegrasi. Bab ini menguraikan transisi dari model silo yang menimbulkan audit fatigue menuju kerangka kerja terintegrasi. Transisi ini didukung teknologi seperti robotic process automation dan AI/machine learning. Pada bab ini, disebutkan bahwa peran profesional GRC dapat bertransformasi menjadi strategic advisor yang menyatu dalam budaya dan proses bisnis organisasi.

Dr. Waluyo: Konsep GRC Terintegrasi Menuju Principled Performance

Dr. Waluyo mendefinisikan ulang GRC bukan sekadar ‘departemen’, melainkan ‘kapabilitas terintegrasi’ yang bertumpu pada tiga pilar: reliably achieve objectives (mencapai tujuan secara andal), address uncertainty (membaca dan mengelola ketidakpastian), dan act with integrity (bertindak dengan integritas). Ketiga pilar ini didukung kapabilitas terintegrasi berupa people, process, technology, dan information

Dalam pemetaan strategisnya, Dr. Waluyo memposisikan PUGKI 2021 sebagai kerangka normatif (“the what”) yang menjadi payung tata kelola korporat di Indonesia. Sementara itu, keluarga standar ISO diposisikan sebagai perangkat operasional (“the how”) yang menjalankan prinsip tersebut secara terukur, berorientasi pada proses, kontrol, dan continual improvement (PDCA), serta menyediakan parameter evaluasi, sertifikasi, dan auditabilitas. 

Dr. Waluyo memaparkan tiga pilar penggerak utama GRC, yaitu ISO 37000 (tata kelola) sebagai pemberi arah strategis dan panduan kepemimpinan etis, ISO 31000 (risiko) sebagai metodologi penilaian dan manajemen ketidakpastian, serta ISO 37301 (kepatuhan) sebagai pemastian pemenuhan kewajiban regulasi dan komitmen sukarela. Ekosistem ini diperluas dengan standar pendukung: ISO 37001 (manajemen anti-penyuapan), ISO 37002 (whistleblowing management system/WBMS), ISO 37003 (pengendalian fraud), ISO 37004 (model kematangan), ISO 37005 (indikator tata kelola), ISO/TS 37008 (investigasi internal), dan ISO 37009 (benturan kepentingan) yang berperan sebagai sensor, pelindung, dan katalis perbaikan spesifik.

Dr. Waluyo menegaskan bahwa tanpa data akuntansi yang andal, GRC berisiko hanya menjadi narasi formalitas tanpa bukti. Ia menyoroti financial control sebagai garis pertahanan utama integritas dan menjelaskan bagaimana data transaksi akuntansi dapat berfungsi sebagai sistem peringatan dini. Ia menutup paparannya dengan menjelaskan peran ganda akuntansi: sebagai basis kepatuhan (ISO 37301) sekaligus basis keputusan strategis (ISO 31000). Menurutnya, sinergi antara PUGKI, standar ISO, dan akuntansi menghasilkan ekosistem tata kelola berbasis bukti (evidence-based) yang bermuara pada principled performance—kinerja organisasi yang tinggi, beretika, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada seluruh pemangku kepentingan.

Secara umum, webinar ini diselenggarakan untuk mengupas berbagai konsep, pemikiran, dan praktik penerapan governansi. Melalui sesi bedah buku dan diskusi interaktif bersama Prof. Mardiasmo dan Dr. Waluyo, peserta memperoleh wawasan mengenai tantangan, peluang, dan strategi implementasi GRC serta akuntansi dalam membangun organisasi yang tangguh, akuntabel, dan berkelanjutan.