Artikel

Artikel2021-01-27T19:01:07+07:00

Risiko versus Ketidakpastian: Pelajaran dari Keruntuhan Dealer Kripto FTX

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Dalam lanskap keuangan yang selalu berubah, keruntuhan dari dealer kripto raksasa internasional FTX memperlihatkan perbedaan antara risiko dan ketidakpastian. Prosedur kebangkrutan mengungkapkan potensi aktivitas kriminal, kelalaian regulasi, dan optimisme yang tidak tepat dalam kemampuan industri kripto untuk mengatur dirinya sendiri. 

Susunan dan regulasi FTX pun menjadi perhatian. Kasus ini menyoroti perlunya memeriksa regulasi yang ada untuk bank dan kemungkinan penerapannya pada entitas kripto.

Kebangkrutan FTX menimbulkan pertanyaan tentang kecukupan regulasi yang ada. Berbeda dengan institusi keuangan tradisional yang diatur oleh peraturan seperti Securities Act of 1934 atau regulasi lainnya, entitas kripto seperti FTX beroperasi dalam lingkungan yang kurang diatur. Regulasi yang kurang ketat telah memungkinkan praktik seperti pemberian pinjaman dana pelanggan kepada afiliasi perdagangan mereka sendiri tanpa jaminan, seperti yang terlihat dalam kasus FTX.

Risiko investor yang muncul akibat keruntuhan FTX mencakup risiko pasar dan risiko operasional, yang sulit dinilai. Perspektif teoritis dan kerangka penelitian sedang dijelajahi untuk memahami risiko ini dengan lebih baik. Sementara kripto menawarkan peluang unik, sifat evolusinya dan potensi gangguan pasar yang signifikan memerlukan pemeriksaan cermat terhadap kerangka regulasi untuk melindungi investor.

Insiden FTX menjadi peringatan bagi industri kripto dan regulator. Seiring pertumbuhan pasar kripto dan integrasinya dengan sistem keuangan tradisional, kerangka regulasi yang kuat menjadi penting. Menemukan keseimbangan yang tepat antara mendorong inovasi dan memastikan perlindungan investor tetap menjadi tantangan kunci bagi dunia kripto yang terus berkembang.

Artikel ini telah diterbitkan oleh PRMIA, dengan judul Risk versus Uncertainty pada Februari 2023. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Mengarungi Risiko Geopolitik: Inspirasi dari Google, Intel, dan Pfizer

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Dalam dunia bisnis yang selalu berubah, risiko geopolitik menjadi sorotan utama. Seperti konflik Rusia-Ukraina, hubungan antarnegara yang tegang, aturan internet yang ketat, dan persaingan di Eropa, perusahaan-perusahaan kini berada dalam situasi sulit. Masalahnya, semakin rumit dengan adanya informasi palsu yang membuat perusahaan-perusahaan harus berusaha lebih keras untuk menavigasi risiko dengan sukses.

Dalam sebuah wawancara baru-baru ini, eksekutif dari Google, Intel, dan Pfizer berbicara dengan Ziad Haider, direktur risiko geopolitik global McKinsey. Mereka berbagi pengalaman mereka menghadapi risiko saat ini dan apa yang diantisipasi pada tahun 2023.

Konflik Rusia-Ukraina menjadi ujian besar, terutama bagi Pfizer, perusahaan farmasi. Meskipun diizinkan untuk berdagang dengan Rusia, Pfizer memilih untuk mendonasikan keuntungannya untuk membantu Ukraina. Sedangkan Intel, perusahaan semikonduktor, menekankan betapa pentingnya memiliki ketahanan dalam berbagai hal, termasuk dalam proses manufaktur, rantai pasok, dan penelitian dan pengembangan.

Masalah besar lainnya muncul dari hubungan antara China dan Amerika Serikat. Bagi Intel, perusahaan ini harus berpikir keras bagaimana tetap bersaing di pasar China sambil melindungi diri dari tindakan pemerintah AS yang mungkin terjadi.

Tantangan dari pandemi COVID-19 juga masih ada. Pfizer, yang terlibat dalam produksi vaksin, menyoroti pentingnya perusahaan berada di garis depan untuk memberikan informasi dan memastikan keadilan dalam distribusi sumber daya.

Regulasi internet yang semakin ketat juga menjadi masalah besar, terutama bagi Google yang beroperasi secara global. Mereka harus menjalankan bisnis sesuai aturan setiap negara, yang seringkali berbeda-beda. 

Para pemimpin bisnis menekankan betapa pentingnya tetap terinformasi, terutama di tengah informasi yang bertentangan. Frustrasi muncul karena berita yang bias, sehingga mereka berupaya mendapatkan informasi langsung dan akurat.

Penting juga untuk terus beradaptasi dengan peran pemerintah yang semakin besar dalam membentuk kebijakan. Perusahaan harus cakap dalam menavigasi lanskap geopolitik yang kompleks. Yang tak kalah penting, masukan dari karyawan membantu perusahaan memahami risiko dengan lebih baik. Google, sebagai contoh, mendapatkan wawasan berharga dari karyawan di wilayah yang langsung terkena dampak risiko geopolitik.

Para eksekutif mengidentifikasi hubungan antara China dan AS, disinformasi, dan regulasi internet sebagai risiko utama untuk tahun depan. Manajemen risiko geopolitik memerlukan pendekatan yang komprehensif, termasuk ketahanan, keterlibatan strategis, dan keberlanjutan dalam mendapatkan informasi. Pelajaran dari Google, Intel, dan Pfizer memberikan panduan berharga bagi perusahaan-perusahaan lain yang berusaha untuk bertahan dan tumbuh di tengah perubahan yang tak terelakkan ini.

Artikel ini telah diterbitkan oleh McKinsey, dengan judul How three global companies navigate geopolitical risk to build resilience. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Risiko ESG dan Asuransi yang Berkaitan Erat

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Industri asuransi global, dengan nilai mencapai USD 6 triliun dalam premi dan USD 36 triliun dalam aset pada 2021, kini menghadapi tantangan baru terkait perubahan iklim. Dalam beberapa dekade, risiko fisik seperti banjir, badai, dan kebakaran semakin meningkat, menciptakan tekanan tambahan pada industri ini.

Laporan terbaru dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC) menyatakan bahwa dampak perubahan iklim lebih parah dari yang diperkirakan, tetapi masih ada harapan jika tindakan diambil dengan cepat. Industri asuransi memiliki peran kunci dalam menghadapi tantangan ini, terutama dalam mengelola risiko ESG (Environmental, Social, and Governance) yang semakin relevan.

Tantangan utama bagi perusahaan asuransi adalah memahami dan mengelola risiko terkait iklim. Risiko fisik, transisi, dan litigasi semakin meresahkan, dan perlu langkah-langkah strategis untuk mengurangi dampaknya. Task Force on Climate-related Financial Disclosures (TCFD) telah memberikan panduan untuk meningkatkan pelaporan informasi keuangan terkait iklim, dan perusahaan asuransi dapat mengikuti pedoman ini untuk mengidentifikasi risiko dan peluang yang dihadapi.

Beberapa langkah yang dapat diambil oleh perusahaan asuransi untuk mengelola risiko ESG dan terkait iklim melibatkan pemahaman mendalam terhadap paparan risiko di seluruh basis klien mereka. Evaluasi risiko ESG dapat membantu mengidentifikasi risiko dan peluang, memberikan visibilitas yang lebih baik terhadap potensi dampak, dan memungkinkan pengambilan keputusan underwriting yang lebih baik.

Langkah selanjutnya adalah memeriksa dengan cermat paparan dasar klien, terutama terhadap industri yang mungkin meningkatkan risiko terkait iklim. Pertanyaan strategis tentang keberlanjutan terhadap lingkungan perlu diajukan, dan perusahaan asuransi harus mempertimbangkan apakah tetap berada di industri tertentu masih sesuai dengan nilai dan tujuan mereka.

Menerapkan kerangka risiko ESG yang kuat, seperti yang diusulkan oleh TCFD, dapat membantu perusahaan asuransi dalam manajemen risiko terkait iklim. Ini mencakup langkah-langkah seperti meningkatkan kesadaran dan edukasi tentang risiko iklim di seluruh organisasi, mengembangkan rencana strategi risiko iklim, dan memastikan bahwa risiko iklim menjadi bagian integral dari proses investasi.

Dengan mengidentifikasi risiko dan peluang terkait ESG dan iklim, perusahaan asuransi dapat menggunakan data yang ditingkatkan untuk membuat keputusan underwriting yang lebih baik, meningkatkan tata kelola risiko, dan memposisikan diri secara kompetitif di tengah perubahan iklim yang semakin kompleks.

Perubahan iklim bukan hanya ancaman, tetapi juga peluang bagi industri asuransi untuk menunjukkan kepemimpinan dan berkontribusi pada pembangunan yang berkelanjutan.

Artikel ini telah diterbitkan oleh ESG Risk Guard, dengan judul ESG and Insurance: A Critical Relationship. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Manajemen Risiko ESG: Memadukan Kepatuhan, Risiko, dan Keberlanjutan Perusahaan

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Majalah Financier Worldwide menyoroti keberlanjutan perusahaan dan manajemen risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social and governance/ESG). Meskipun kepatuhan, manajemen risiko, dan keberlanjutan perusahaan dianggap sebagai disiplin terpisah, kini isu-isu ESG menuntut penyelarasan lebih lanjut di antara ketiganya.

Beberapa peristiwa terkini, seperti pengunduran diri CEO DWS Group dan denda terhadap BNY Mellon oleh SEC AS terkait kelalaian ESG, menekankan pentingnya koordinasi antara kepatuhan, manajemen risiko, dan keberlanjutan. Ketiga fungsi ini perlu diajak bicara bersama, walaupun konsolidasi penuh tidak disarankan. Prioritas dan atribut unik setiap area harus dipahami untuk mencapai kepaduan.

Keberlanjutan perusahaan kini lebih terhubung dengan kepatuhan dan manajemen risiko. Hal ini mencerminkan pergeseran fokus perusahaan pada keberlanjutan sebagai isu strategis utama. Terlibat dalam keberlanjutan memungkinkan manajemen risiko dan kepatuhan untuk menangani isu-isu luas, tidak hanya mitigasi risiko, tetapi juga peluang.

Meskipun kolaborasi dapat memperkuat kepatuhan, manajemen risiko, dan keberlanjutan, keberlanjutan perusahaan mungkin mendapat manfaat terbesar. Kepatuhan dapat memupuk budaya tindak lanjut, manajemen risiko membawa pemikiran ‘risiko ketidakberlanjutan’, sementara keberlanjutan fokus pada analisis materialitas dan mempertimbangkan peluang, bukan hanya risiko.

Perusahaan perlu mengidentifikasi area keselarasan, mendengarkan pemangku kepentingan, dan melibatkan pemimpin untuk memajukan kolaborasi ini. Fasilitasi koordinasi antara ketiga fungsi dapat dilakukan melalui harmonisasi, dan organisasi dapat mengadopsi perubahan struktural, pelatihan lintas fungsi, dan kebijakan tata kelola baru untuk mencapai keselarasan yang baru.

Keselarasan yang tetap mempertahankan sinergi antara independensi kepatuhan, manajemen risiko, dan keberlanjutan perusahaan, akan membantu perusahaan untuk lebih siap menghadapi masa depan.

Artikel ini telah diterbitkan oleh Financier Worldwide, dengan judul Managing ESG Risks: Align Compliance, Risk and Corporate Sustainability pada Agustus 2022. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Bagaimana ESG Berkembang menjadi Manajemen Risiko

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Environmental, social, and governance (ESG) atau Lingkungan, Sosial, Tata Kelola telah berkembang dari konsep tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan gerakan lingkungan menjadi suatu usaha yang kompleks. Dalam perkembangannya, ESG tidak hanya memperhitungkan dampak organisasi pada masyarakat dan lingkungan, tetapi juga mengidentifikasi risiko yang muncul dari perubahan iklim dan perubahan sikap terhadap isu-isu ESG.

Dari awalnya sebagai konsep yang bagus untuk dimiliki, ESG telah menjadi keharusan di dunia bisnis. Pemangku kepentingan dan investor kini menuntut tingkat transparansi yang lebih besar dalam operasi bisnis global, dan badan regulasi mulai memperkenalkan kerangka kerja dan standar untuk pengungkapan ESG. Di era ESG, tidak hanya dampak lingkungan dan sosial perusahaan yang diukur, tetapi juga identifikasi dan pengelolaan risiko terkait iklim, sosial, dan tata kelola perusahaan.

Manajemen risiko di era ESG menjadi semakin penting. Laporan Risiko Global 2022 Forum Ekonomi Dunia menunjukkan bahwa lima ancaman global teratas terkait dengan iklim. Dengan perhatian dunia yang semakin terfokus pada isu-isu iklim, terdapat kesadaran bersama bahwa risiko iklim sekarang dianggap sebagai risiko bisnis yang signifikan.

Task Force on Climate-Related Financial Disclosures (TCFD) berperan penting dalam mengangkat kesadaran akan dampak iklim pada bisnis. Konsep double materiality menggarisbawahi bahwa dampak organisasi pada iklim atau lingkungan dapat bersifat material, dan dampak terkait iklim melibatkan lingkungan dan aspek sosial.

Risiko ESG terbagi dalam tiga pilar utama, yaitu lingkungan, sosial, dan tata kelola. Risiko lingkungan mencakup transisi ke masa depan yang lebih hijau dan risiko fisik yang timbul dari perubahan iklim. Risiko sosial mencakup kondisi kerja, keamanan, hak asasi manusia, keberagaman, kesetaraan, dan inklusi. Sementara risiko tata kelola mencakup isu-isu seperti praktik anti-suap dan korupsi.

Skandal ESG semakin sering terjadi, menyoroti perlunya perusahaan untuk mengelola isu-isu ini dengan serius. Contoh skandal seperti emisi Volkswagen dan tumpahan minyak Deepwater Horizon menjadi peringatan bagi merek-merek yang belum mengambil risiko ESG secara serius. Selain itu, semakin banyak perusahaan yang dijatuhi denda karena praktik greenwashing. Greenwashing adalah upaya perusahaan untuk meningkatkan citra ramah lingkungan dengan cara yang menyesatkan atau palsu.

Perusahaan juga dihadapkan pada risiko eksternal yang berkaitan dengan faktor-faktor lingkungan. Merek-merek yang bergantung pada sumber daya yang rentan, seperti air untuk produksi serat kapas, dapat menghadapi pasokan yang terbatas jika terjadi kekeringan. Harga karbon di masa depan juga dapat menjadi risiko finansial bagi perusahaan yang tidak mempertimbangkan emisi karbon mereka.

Dalam menghadapi risiko ESG, manajemen risiko menjadi kunci. Identifikasi risiko yang bersifat material untuk operasi perusahaan adalah langkah pertama, diikuti dengan upaya mencegah atau mengurangi dampak potensial dari risiko ini melalui perencanaan dan manajemen yang efektif.

Faktor risiko ESG seharusnya diintegrasikan ke dalam pengambilan keputusan dan manajemen risiko perusahaan. Perusahaan yang cerdas tidak hanya berusaha mengatasi risiko sebagai bagian dari ESG, tetapi juga menyelaraskan kerangka manajemen risiko dan keputusan mereka dengan strategi ESG. Ini bukan hanya kegiatan kepatuhan, melainkan investasi untuk bisnis jangka panjang yang berkelanjutan.

Melalui identifikasi dan evaluasi terus-menerus terhadap risiko ESG yang bersifat material, perusahaan dapat memahami dampaknya pada kegiatan operasional mereka dan menyusun strategi untuk mengelolanya. Manajemen risiko ESG bukan hanya baik untuk kepatuhan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi bisnis.

Artikel ini telah diterbitkan oleh Equilibrium, dengan judul How ESG Has Evolved into Risk Management and How You Can Prepare pada 30 November 2022. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Memahami Risiko ESG yang Berdampak pada Bisnis dan Masyarakat Global

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Environmental, social, and governance (ESG) yang melibatkan lingkungan, sosial, dan tata kelola, memiliki dampak signifikan terhadap berbagai aspek bisnis. Salah satu fokus utama adalah pada manajemen risiko, yang mencakup identifikasi, pengelolaan, dan pengurangan risiko-risiko yang muncul.

 

  1. Risiko Lingkungan

Risiko ini melibatkan isu-isu seperti perubahan iklim, keamanan air, limbah, polusi, deforestasi, dan kehilangan biodiversitas. Keunikan risiko ini seringkali terletak pada kurangnya data historis dan sifat non-linear dari risiko iklim.

 

  1. Risiko Sosial

Melibatkan perlakuan perusahaan terhadap orang, termasuk ketidaksetaraan, keragaman, hubungan karyawan, kesehatan & keselamatan, dan kondisi kerja. Risiko sosial dapat memiliki dampak finansial dan juga menciptakan masalah sosial serta merugikan reputasi perusahaan.

 

  1. Risiko Tata Kelola

Menyangkut tata kelola perusahaan, termasuk remunerasi eksekutif, keberagaman dan struktur dewan, donasi dan lobi politik, suap, serta kebijakan & standar. Risiko ini berkaitan erat dengan transparansi dan integritas perusahaan.

 

Ketika risiko ESG terwujud, konsekuensinya dapat sangat mahal. Contoh meliputi bencana lingkungan seperti ledakan rig minyak Deepwater Horizon, banjir di Thailand, krisis air minum di Flint, Michigan, dan skandal emisi Volkswagen.

 

ESG Risk Guard menekankan bahwa risiko ESG tidak hanya mempengaruhi perusahaan secara individu tetapi juga membawa dampak sistemik pada keuangan global. Bank sentral dan regulator keuangan global menyadari bahwa perubahan iklim menjadi sumber risiko bagi stabilitas sistem keuangan.

 

Manajemen risiko ESG ditempatkan sebagai bagian integral dari bisnis, bukan sebagai proyek terpisah. Framework risiko iklim, termasuk dari Task Force on Climate-related Financial Disclosure (TCFD), memberikan panduan pada Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, serta Metrik dan Target yang perlu dipertimbangkan.

 

Selain risiko, ESG Risk Guard menyoroti peluang yang dapat ditemukan melalui penilaian risiko ESG menyeluruh. Ini mencakup peningkatan pendapatan, pengurangan biaya operasional, pengurangan intervensi regulasi dan biaya hukum, serta peningkatan keterlibatan dan produktivitas karyawan.

 

ESG Risk Guard menyimpulkan bahwa bisnis harus secara serius memahami dan menanggapi tantangan dan peluang ESG, mengingat dampaknya yang meluas pada semua aspek bisnis dan masyarakat global.

 

Artikel ini telah diterbitkan oleh ESG Risk Guard, dengan judul All About ESG Risks. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Manajemen Risiko ESG: Menuju Keberlanjutan Jangka Panjang

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Manajemen risiko ESG (environmental, social and governance), yang mencakup lingkungan, sosial, dan tata kelola, adalah kunci untuk membantu organisasi tetap kuat secara finansial dan operasional dalam jangka panjang. Ketahanan di sini berarti kemampuan untuk mengatasi perubahan dan masalah yang mungkin muncul. Biasanya, usaha untuk mencapai ketahanan lebih fokus pada bagian operasional dan keuangan agar bisa memenuhi keinginan para pemegang saham dan pihak-pihak terkait.

Dengan pemahaman yang semakin berkembang tentang pengaruh faktor ESG, organisasi perlu menjadi lebih terbuka dan mengembangkan ‘ketahanan keberlanjutan’. Ini bukan hanya untuk melindungi diri dari dampak buruk faktor ESG, tapi juga untuk mengambil keuntungan dari peluang yang bisa muncul. Bagian manajemen risiko dalam organisasi juga perlu mempertimbangkan risiko ESG saat menganalisis dampaknya terhadap ketahanan mereka.

Metode manajemen risiko sekarang lebih banyak fokus pada faktor-faktor eksternal yang bisa berpengaruh besar pada organisasi. Konsep ‘materialitas ganda’ membawa pemahaman bahwa dampak ESG pada organisasi bisa bersifat material, dan sebaliknya, organisasi juga bisa memiliki dampak material pada keberlanjutan di luar.

Organisasi per, fokus pada ketahanan keberlanjutan menjadi isu yang perlu diutamakan . Bagaimana caranya manajemen risiko bisa berkembang untuk memperhitungkan faktor ESG, termasuk materialitas ganda? Dan bagaimana pengelolaan risiko ESG yang baik bisa digunakan sebagai strategi untuk mencapai ketahanan keberlanjutan?

Dalam langkah awal, identifikasi risiko ESG penting dilakukan. Banyak organisasi lebih fokus pada risiko lingkungan, khususnya yang terkait dengan perubahan iklim. Namun, risiko sosial (seperti hak pekerja, inklusivitas, kesetaraan, kesehatan dan keselamatan) dan risiko tata kelola (kebijakan kepemimpinan, kontrol internal, kebijakan pajak, hak pemegang saham) masih dalam tahap pengembangan.

Penting juga untuk mengukur risiko ESG dengan menanamkan risiko material ke dalam metrik risiko tradisional. Ada berbagai metode, baik kuantitatif maupun kualitatif, yang bisa digunakan. Faktor lingkungan umumnya dapat diukur dengan data kuantitatif karena banyak perusahaan yang bisa mengumpulkan data dengan lebih mudah.

Setelah risiko ESG diidentifikasi dan diukur, organisasi bisa membangun kerangka manajemen risiko dan pemantauan. Ada beberapa metode untuk mengelola risiko ESG dan memantau ketahanan keberlanjutan jangka panjang. Salah satu metode yang maju adalah analisis skenario, yang telah diterapkan oleh beberapa organisasi. Analisis skenario membantu membentuk gambaran bisnis masa depan. Batas waktu perencanaan perlu diperpanjang setidaknya 10 tahun untuk skenario ESG.

Pada akhirnya, hasil dari analisis risiko ESG harus diukur dan disematkan dengan cara yang sama seperti ketahanan risiko keuangan tradisional. Langkah-langkah manajemen juga harus diterapkan untuk memastikan kepatuhan terhadap ketentuan risiko yang disepakati. Meskipun bidang ketahanan keberlanjutan masih baru, organisasi harus aktif menjelajahi cara untuk mengintegrasikan manajemen risiko ESG dalam strategi mereka, sehingga mereka tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh melalui perubahan, menciptakan nilai jangka panjang, dan membangun ketahanan yang berkelanjutan. 

Artikel ini telah diterbitkan oleh Be | Shaping the Future, dengan judul ESG Risk Management – an Enabler for Long Term Sustainable Resilience. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Lima Pilar Utama yang Perlu Diterapkan dalam Manajemen Risiko SDM

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Dalam dunia bisnis yang terus berubah, manajemen risiko sumber daya manusia (SDM) telah menjadi aspek penting untuk memastikan ketahanan organisasi dan manusia. Sebuah laporan Risiko SDM untuk tahun 2022 menyoroti 25 risiko SDM teratas melalui lima pilar kunci, menekankan perlunya tindakan proaktif untuk melindungi SDM dan bisnis.

  1. Kesehatan dan Keselamatan

Laporan tersebut menekankan bahwa 87% organisasi mengidentifikasi risiko kesehatan dan keselamatan sebagai ancaman terbesar bagi bisnis mereka. Ini termasuk kekhawatiran tentang penyakit menular, pandemi, penyakit jantung, kanker, masalah kesehatan mental, dan kelelahan tenaga kerja. Investasi dalam manfaat yang mengatasi risiko kesehatan penting untuk meningkatkan ketahanan manusia dan bisnis.

  1. Tata Kelola dan Keuangan

Manajemen kompensasi, manfaat SDM, dan rencana pensiun menduduki peringkat kedua sebagai ancaman terbesar bagi bisnis. Faktor-faktor seperti administrasi yang adil, biaya manfaat yang meningkat, dan penyelarasan program personalia dengan persyaratan regulasi menjadi tantangan. Pengawasan efektif terhadap reward (penghargaan kepada karyawan) sangat penting untuk menghindari kesalahan dan melindungi reputasi organisasi.

  1. Percepatan Digitalisasi

Akselerasi menuju digitalisasi membawa risiko baru, termasuk keamanan siber, privasi data, dan dampak otomatisasi pada pekerjaan. Laporan tersebut mengungkapkan bahwa 85 juta pekerjaan mungkin menjadi usang pada tahun 2025, menekankan pentingnya perencanaan tenaga kerja dan pelatihan ulang untuk mengikuti perkembangan teknologi.

  1. Praktik Bakat

Manajemen risiko SDM dalam praktik bakat melibatkan peningkatan nilai proposisi SDM, penanganan risiko terkait pekerjaan virtual, zona waktu yang berbeda, dan kontrak kerja yang bervariasi. Fokus dengan apa yang paling berharga bagi SDM sangat penting untuk mengamankan bakat masa depan dan memupuk lingkungan kerja yang positif.

  1. Lingkungan dan Sosial

Organisasi semakin merasa tekanan dari pelanggan, investor, SDM, dan regulator untuk memastikan keuntungan perusahaan tidak membawa kerugian lingkungan dan sosial. Faktor risiko SDM terkait termasuk pencapaian target lingkungan, perbaikan kondisi kerja, dan mendorong keragaman, persamaan, dan inklusi. Mendukung SDM yang mengalami kejadian buruk dalam kehidupan pribadi kini juga dipandang penting dalam mengelola risiko SDM. Selain itu, perlu untuk menerapkan perspektif ESG pada investasi, kondisi kerja, dan tunjangan SDM.

Laporan tersebut juga mengidentifikasi hambatan untuk mengatasi risiko terkait SDM, termasuk kesulitan mengubah perilaku pribadi, kompleksitas organisasi, dan kekurangan sumber daya terampil. Ini menekankan perlunya pendekatan proaktif terhadap manajemen risiko, mendorong organisasi untuk mengidentifikasi, merencanakan, dan mencegah potensi masalah.

Sebagai kesimpulan, laporan Risiko SDM untuk tahun 2022 berfungsi sebagai panduan komprehensif bagi organisasi untuk menavigasi lanskap kompleks dalam mengelola risiko yang terkait dengan aset terpenting mereka – SDM. 

Artikel ini telah diterbitkan oleh Mercer, dengan judul People Risk 2022. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Memanfaatkan Kekuatan Data untuk Manajemen Risiko dalam Industri Konstruksi

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Industri konstruksi perlu lebih efektif dalam menggunakan berbagai sumber data untuk memperkaya wawasan risiko sektor. Dengan melakukannya, perusahaan dapat meningkatkan pengawasan risiko dan menekan biaya asuransi.

Data menjadi kunci utama dalam mengelola risiko secara lebih efektif di seluruh sektor ekonomi. Big data, analitik prediktif, algoritma, kecerdasan buatan, dan pembelajaran mesin adalah kata kunci dari ilmu data yang sedang berkembang pesat dalam ekonomi saat ini. Memanfaatkan berbagai data dalam setiap sektor industri dapat mengurangi risiko, meningkatkan produktivitas, profitabilitas, keberlanjutan, dan menjaga keamanan.

Industri konstruksi memiliki tantangan lebih besar dibanding sektor lain dalam mengorganisir data untuk mengelola risiko. Setiap proyek baru seringkali melibatkan desain baru, lokasi baru, serta pemangku kepentingan baru, dan kondisi luar yang berbeda. 

Sayangnya, sektor konstruksi belum memiliki stabilitas pengumpulan data seperti sektor manufaktur, yang membuat produk serupa berulang kali. Konstruksi harus mengandalkan berbagai sumber data dan menggabungkan data tersebut untuk menghasilkan nilai pengambilan keputusan sebagaimana yang sudah dimanfaatkan sektor manufaktur.

Sektor konstruksi dapat memanfaatkan beberapa contoh sumber data berikut:

  1. Data Proyek – data internal dan eksternal tentang proyek itu sendiri.
  2. Data Desain – semua data yang terkumpul dalam proses desain dalam format kertas dan digital.
  3. Data Pra-Konstruksi – data yang terkumpul antara fase desain dan konstruksi, termasuk data proses pengadaan dan data sub kontraktor/pemasok.
  4. Data Konstruksi – data yang utamanya terkumpul menggunakan teknologi manajemen proyek dan teknologi solusi titik (data permintaan informasi, data cacat, data keamanan, dll.).
  5. Data Internet of Things (IoT) – terkait dengan teknologi manajemen proyek, ini adalah data yang diberikan secara real-time dari lokasi proyek menggunakan teknologi IoT.
  6. Data Keuangan – data terkait dengan keuangan pekerjaan.
  7. Data Pasca-Konstruksi – data di luar konstruksi memberikan wawasan besar tentang kualitas desain dan produksi.
  8. Data Cuaca – cuaca memainkan peran signifikan dalam sektor konstruksi.
  9. Data Asuransi – data klaim yang diajukan ke sektor asuransi.

Dengan mengembangkan platform data yang tergabung, perusahaan konstruksi dapat memastikan kesiapan optimal untuk menghadapi risiko dan berada dalam posisi yang jauh lebih baik untuk menjalankan proyek di masa depan secara produktif dan menguntungkan.

Artikel ini telah diterbitkan oleh AON, dengan judul The Power of Data to Unlock Risk Insight. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Uji Stres Iklim ECB 2022: Menyoroti Tantangan dan Peluang

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Uji Stres Iklim The European Central Bank (ECB) 2022 yang dilakukan pada bulan Juli memberikan hasil yang dapat dikelola bagi sektor perbankan sambil menyoroti berbagai tantangan dalam manajemen risiko iklim di masa depan. Dalam rangkuman hasil, beberapa poin utama mencakup:

  1. Kartu Skor Keseluruhan

Dari 104 bank yang diuji, hanya 1 bank yang mendapat nilai hijau, sementara 36 bank mendapat nilai kuning, 53 jingga, dan 14 merah. Dari 41 bank yang melakukan Modul 3, 70% mendapat nilai jingga dan 25% merah. Tantangan utama termasuk ketersediaan data, teknik pemodelan, dan kurangnya integrasi risiko iklim dalam kerangka kerja strategis.

  1. Dampak Kerugian Kuantitatif

Kerugian transisi jangka pendek sebesar €70 miliar untuk 41 bank teratas, jauh lebih rendah dibandingkan dengan kerugian kredit sebesar €308 miliar pada Capital Stress Test 2021. Meskipun dapat dikelola, ragam hasil menunjukkan tingkat ketidakpastian pemodelan yang tinggi.

  1. Pembelajaran dari Latihan

Latihan ini dianggap sebagai langkah pembelajaran yang akan membatasi dampak modal. Meskipun tidak langsung memengaruhi modal, hasilnya akan memengaruhi penilaian kualitatif selama proses Supervisory Review and Evaluation Process (SREP).

  1. Fokus Bank pada Peluang Bisnis Iklim

Bank sekarang cenderung memfokuskan strategi keberlanjutan mereka pada lima aspek iklim sebagai peluang bisnis. Strategi ini melibatkan lebih dari sekadar kepatuhan terhadap peraturan, melibatkan berbagai inisiatif untuk memanfaatkan peluang bisnis transisi iklim.

  1. Perbandingan dengan Uji Stres Inggris

Dalam membandingkan Uji Stres Iklim ECB 2022 dengan Uji Stres Bank of England 2021, terdapat perbedaan signifikan dalam cakupan, tujuan, skenario, dan dampak utama. ECB menyoroti pentingnya integrasi risiko iklim dalam rencana bisnis jangka tiga tahun, sementara Inggris menekankan temuan kualitatif untuk manajemen risiko iklim.

Secara keseluruhan, hasil Uji Stres Iklim ECB menggambarkan kesenjangan yang cukup besar antara risiko iklim bank dan kemampuan uji stres. Bank perlu terus meningkatkan kerangka kerja uji stres iklim mereka dan memperhatikan dampak terkait secara keseluruhan, termasuk integrasi dalam strategi bisnis, penetapan target, manajemen risiko, dan kinerja. Perkembangan ini menjadi kunci bagi perbankan untuk bersiap menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang dalam menghadapi perubahan iklim global.

Artikel ini telah diterbitkan oleh A&M, dengan judul ECB Climate Stress Test 2022 pada 1 Agustus 2022. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |
Go to Top