Mengelola Risiko Merger dan Akuisisi di Tengah Gejolak Ekonomi
Dalam menghadapi risiko di tengah ketidakstabilan ekonomi, peran dewan direksi menjadi sangat penting. Khususnya dalam situasi merger dan akuisisi selama resesi, dewan direksi harus menghadapi ketidakpastian, mempertimbangkan faktor krusial dalam transaksi, serta mengelola risiko strategis, keuangan, regulasi, dan talenta.
Perusahaan dapat menghadapi tiga pilihan selama resesi: tumbuh, bertahan, atau mengalami kegagalan. Dewan harus melakukan pengawasan strategis dan menilai transaksi sebagai peluang untuk membeli atau menjual.
- Risiko Strategis
Pengawasan aktif dewan direksi dalam mengevaluasi peluang merger dan akuisisi atau pelepasan aset selama resesi sangat penting. Identifikasi target strategis atau pihak yang mungkin mengakuisisi memberikan kesempatan untuk pertimbangan yang matang sebelum terjebak dalam situasi yang tidak diinginkan.
- Risiko Keuangan
Dalam situasi ini, penilaian valuasi dan harga sangat krusial. Dewan di kedua belah pihak harus meminta analisis skenario dan pembaruan valuasi secara teratur selama negosiasi. Proforma keuangan di bawah skenario stres dan sinergi dapat membantu mengidentifikasi potensi kerugian.
- Risiko Regulasi
Tinjauan regulasi terhadap transaksi merger dan akuisisi semakin meluas dalam durasi, cakupan, dan kedalaman. Proses yang teratur dapat mengurangi risiko regulasi dan litigasi.
- Risiko Talenta
Risiko integrasi bakat perlu diperhatikan oleh dewan dan tim manajemen. Kesesuaian budaya perusahaan menjadi penyebab utama kegagalan integrasi.
Dewan dan tim manajemen perlu mempertimbangkan kondisi krisis, termasuk pandemi COVID-19 dan masa depan kerja. Keputusan terkait merger dan akuisisi harus bersifat strategis dan tidak hanya reaktif terhadap pasar dan lingkungan makro.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Oliver Wyman, dengan judul Risk Considerations Amid Economic Volatility pada Desember 2022. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
5 Tren Energi Utama yang Dihadapi Pemimpin Industri
Industri energi mengalami transformasi yang signifikan, dipengaruhi oleh perubahan ekonomi dan ketidakpastian global. Menurut para ahli Grant Thornton yang berbicara di Energy Symposium 2022, pandangan investor terhadap industri ini semakin membaik.
Berikut 5 tren utama yang dihadapi pemimpin industri energi, bersama dengan pandangan ahli Grant Thornton:
- Tantangan Kondisi Ekonomi
Pandangan Hilary Penrod, Partner dan Direktur Praktik Profesional Grant Thornton: “Pandangan komunitas investasi terhadap eksplorasi dan produksi minyak telah meningkat. Dengan peningkatan permintaan untuk energi bersih dan target emisi nol, perusahaan diharapkan akan mendiversifikasi operasi mereka, meningkatkan akuisisi dan pelepasan secara strategis.”
- Inisiatif dan Persyaratan Pelaporan ESG
Pandangan John Friedman, Managing Director ESG & Sustainability Services Grant Thornton: “Environmental, Social, and Governance (ESG) kini menjadi pembeda bagi investor, pelanggan, dan calon karyawan. Fokus pada kepatuhan terhadap peraturan yang berkembang dapat memberikan wawasan tentang area di mana perusahaan dapat berkomunikasi tentang keunikan mereka.”
- Ancaman Keamanan Siber yang Meningkat
Pandangan Johnny Lee, Pemimpin Praktik Nasional – Teknologi Forensik Grant Thornton: “Peningkatan kompleksitas dan komoditisasi pasar kriminal siber telah menyebabkan peningkatan serangan. Organisasi perlu memperlakukan keamanan siber sebagai kategori risiko perusahaan sehingga dapat memulihkan diri dari serangan.”
- Perubahan Lanskap Regulasi
Pandangan Michael Osina, Mitra Layanan Pajak Grant Thornton: “Perusahaan minyak dan gas tradisional menghadapi dampak dari berbagai faktor, termasuk perubahan atmosfer seputar regulasi pelaporan keuangan baru, perundang-undangan pajak baru, dan fokus yang bergeser ke sektor energi terbarukan.”
- Tantangan Perekrutan dan Pemeliharaan Tenaga Kerja
Pandangan Eric Gonzaga, Mitra Pengelola Nasional, Layanan Sumber Daya Manusia Grant Thornton: “Manajemen SDM menjadi isu utama yang harus dihadapi oleh semua perusahaan energi. Pemimpin energi perlu memastikan bahwa mereka memiliki tenaga kerja yang terlibat dan sejalan dengan misi serta strategi perusahaan.”
Artikel ini telah diterbitkan oleh Grant Thornton dengan judul 5 Key Energy Trends for Industry Leaders to Address. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
OJK Dorong Penguatan Tata Kelola dan Manajemen Risiko Bank
Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menghadiri pertemuan Basel Committee on Banking Supervision (BCBS) di Hong Kong pada 22 – 23 Maret 2023. Rae menyoroti pentingnya penguatan tata kelola dan manajemen risiko bank di tengah tekanan global terkini terhadap sektor perbankan.
BCBS menilai kondisi makroekonomi global yang sangat dinamis saat ini, dengan meningkatnya inflasi global dan respons suku bunga di berbagai negara. Rae menekankan perlunya kembali pada praktek perbankan yang sehat, dengan menjaga keseimbangan manajemen aset dan kewajiban, rasio modal yang memadai, serta ketersediaan likuiditas yang aman.
Dalam konteks ini, Dian Ediana Rae memberikan gambaran bahwa perbankan Indonesia relatif solid, dengan rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 25,93 persen pada Januari 2023. Hal ini jauh di atas rata-rata global, dengan sekitar 85 persen dari modal masuk dalam klasifikasi modal inti (Tier 1 capital; CET 1).
Rae juga menyebutkan bahwa likuiditas perbankan Indonesia terjaga dengan baik, tercermin dalam Liquidity Coverage Ratio (LCR) dan Net-Stable Funding Ratio (NSFR) yang masing-masing mencapai 238,22 persen dan 134,58 persen. Perbandingan ini menunjukkan kinerja lebih baik dibandingkan perbankan Amerika dan Eropa.
Mengambil pelajaran dari kegagalan Sillicon Valley Bank (SVB) di Amerika Serikat, BCBS menekankan pentingnya kecukupan rasio modal dan likuiditas. Meskipun diakui bahwa biaya modal dan likuiditas dianggap mahal, Rae mengingatkan bahwa kekurangan modal dan likuiditas dapat berakibat pada kerugian yang lebih besar dan dapat memicu efek rembetan global.
Dian Ediana Rae mengajak perbankan Indonesia untuk terus memperkuat tata kelola, manajemen risiko, dan prinsip kehati-hatian. Stress testing dan pemantauan terhadap aset dan liabilitas bank, termasuk risiko konsentrasi, dianggap perlu untuk menjaga ketahanan perbankan.
OJK berkomitmen untuk memperkuat koordinasi dengan Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) guna menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Artikel ini telah diterbitkan oleh OJK dengan judul Hadiri Pertemuan Basel, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Minta Bank Perkuat Tata Kelola dan Manajemen Risiko pada 27 Maret 2023. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Risiko Data Tersisa: Tantangan WFH dalam Keamanan Data
Analisis forensik oleh A&M mengungkap bahaya kurangnya pembuangan data yang memadai bagi individu dan bisnis. Penggunaan perangkat milik sendiri dan kerja jarak jauh (work from home/WFH) semakin membingungkan batas antara penggunaan perangkat pribadi dan bisnis, meningkatkan kekhawatiran tentang keamanan data dan manajemen aset TI.
Lingkungan kerja hibrid ini membawa tantangan baru, termasuk kesulitan memantau staf yang bekerja virtual dan kebutuhan memastikan data dihapus dengan aman. Selain itu, risiko kehilangan atau pencurian peralatan TI meningkat, yang menjadi penyebab utama pencurian data.
Kegagalan dalam membuang peralatan TI yang tidak terpakai dengan benar dapat mengakibatkan pelanggaran data, merugikan keuangan perusahaan, dan merusak reputasi. Bagi individu, risiko pencurian identitas dapat menyebabkan kerugian finansial dan tekanan emosional serius.
Pada paruh pertama 2022, tim A&M membeli enam komputer melalui eBay di Inggris dan melakukan analisis forensik. Ribuan dokumen, termasuk informasi pribadi dan data bisnis, dipulihkan dari komputer-komputer ini.
Analisis berhasil memulihkan 5.875 dokumen pengguna, sebagian besar berisi informasi pribadi dan beberapa data bisnis. Temuan mencakup 366 file dengan kata kunci terkait pekerjaan, menyoroti risiko penggunaan data yang tidak benar di lingkungan bisnis.
Analisis menunjukkan bahwa data yang tersisa di komputer bekas dapat menjadi sumber risiko tinggi, terutama jika tidak dihapus sepenuhnya. A&M memberikan rekomendasi praktis untuk mengatasi risiko ini:
- Penegakan Ketat Kebijakan Keamanan Data
Perusahaan perlu memastikan kepatuhan staf terhadap kebijakan keamanan data dan memberikan pelatihan yang memadai.
- Penerapan dan Pemeliharaan Kebijakan Penghapusan Data yang Aman
Perusahaan harus memahami data yang mereka miliki dan menerapkan kebijakan penghapusan yang mencakup kontrol teknis dan organisasional.
- Penyesuaian Kebijakan dengan Realitas Bisnis Baru
Kebijakan penghapusan data harus diperbarui untuk menyesuaikan lingkungan WFH, termasuk penanganan perangkat saat karyawan meninggalkan perusahaan.
- Penghapusan Data yang Aman
Penghapusan data harus dilakukan secara forensik untuk mencegah pemulihan oleh pihak yang tidak berwenang.
- Audit Pihak Ketiga untuk Penghapusan Data yang Aman
Perusahaan harus memastikan bahwa penyedia teknologi pihak ketiga mengikuti prosedur penghapusan data yang aman.
Dengan kelanjutan tren kerja jarak jauh, kepatuhan terhadap kebijakan penghapusan data yang aman menjadi kunci. Langkah-langkah ini tidak hanya melindungi dari pelanggaran hukum, tetapi juga dari risiko keuangan dan reputasi yang serius.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Alvarez and Marsal, dengan judul The Risk of Leftover Data: A Recovery Study pada 26 September 2022. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Pandangan Pemimpin Ekonomi Januari 2024: Menghadapi Risiko Global
Tinjauan awal tahun 2024 dari pemimpin ekonomi mencerminkan ketidakpastian tinggi yang melibatkan kondisi global yang lemah, perpecahan geopolitik yang meningkat, dan peran krusial kecerdasan buatan (AI) dalam arus ekonomi global.
- Kondisi Global yang Masih Lemah
Pandangan mayoritas pemimpin ekonom (56%) menyoroti proyeksi pelemahan kondisi global dalam setahun mendatang. Meskipun demikian, terdapat ketidakpastian signifikan, dengan 43% pemimpin ekonom yang tetap optimis terhadap stabilitas atau penguatan kondisi ekonomi. Divergensi pandangan ini mencerminkan kompleksitas dan ambiguitas dalam prospek ekonomi global yang diperumit oleh sejumlah faktor termasuk gejolak politik dan ketidakpastian kebijakan.
- Perpecahan Geopolitik Menambah Ketidakpastian
Dalam menghadapi tantangan global, hampir tujuh dari sepuluh pemimpin ekonom (69%) memperkirakan bahwa perpecahan geopolitik akan menjadi pendorong utama ketidakpastian ekonomi tahun ini. Konsensus kuat (86%) menyatakan bahwa peristiwa geopolitik akan memperkuat blok geoekonomi dan meningkatkan ketidaksetaraan global. Tingginya ekspektasi akan meningkatnya volatilitas di pasar saham (80%) menjadi sorotan utama, menciptakan tantangan tambahan bagi stabilitas ekonomi global.
- Kecerdasan Buatan Menjadi Sorotan
Dalam mengatasi dinamika kompleks ini, pemimpin ekonom menekankan peran krusial kecerdasan buatan (AI) dalam merespons tantangan ekonomi. Terdapat optimisme terkait potensi manfaat AI di ekonomi berpendapatan tinggi, termasuk peningkatan efisiensi produksi (79%) dan inovasi (74%). Meskipun demikian, terdapat ketidakpastian mengenai dampak AI terhadap ketidaksetaraan dan kepercayaan, dengan hampir tujuh dari sepuluh pemimpin ekonom (74%) meyakini bahwa generative AI akan mempercepat laju inovasi di ekonomi berpendapatan tinggi.
Sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang bervariasi dan harapan positif dalam menanggulangi masalah inflasi, pandangan pemimpin ekonomi menggarisbawahi perlunya respons adaptif dan kolaboratif di tengah ketidakpastian global. Meskipun terdapat potensi positif melalui kemajuan AI, risiko dan tantangan yang kompleks memerlukan strategi yang cermat.
Dalam keseluruhan, pandangan pemimpin ekonomi memberikan pemahaman mendalam tentang dinamika kompleks yang akan mempengaruhi ekonomi global pada tahun 2024. Tantangan yang dihadapi memerlukan kewaspadaan dan kerjasama global untuk menciptakan solusi inovatif yang dapat merespons dengan efektif terhadap risiko dan peluang yang ada.
Pandangan Risiko 2024: Sepuluh Skenario Risiko Kritis yang Menghadang Ekonomi Global
Tahun 2024 membawa berbagai tantangan serius yang dapat mengguncang fondasi ekonomi global. Dalam pandangan risiko ini, The Economist Intelligence Unit mengidentifikasi sepuluh skenario kritis yang dapat mempengaruhi kestabilan ekonomi dunia.
Skenario 1: Pengetatan Kebijakan Moneter Global Berlanjut
Dengan probabilitas sedang dan dampak tinggi, pengetatan kebijakan moneter global yang berlanjut dapat memicu resesi global dan meningkatkan volatilitas keuangan. Kebijakan tinggi inflasi yang diterapkan sejak awal 2022 dapat memicu peningkatan suku bunga, berpotensi merusak permintaan konsumen dan investasi.
Skenario 2: Perlombaan Subsidi Teknologi Hijau Menjadi Perang Dagang Global
Dengan probabilitas sedang dan dampak tinggi, perlombaan subsidi teknologi hijau dapat memicu perang dagang global. Inisiatif besar dari ekonomi Barat untuk mendorong investasi dalam teknologi bersih dapat meningkatkan ketegangan perdagangan dengan China, memengaruhi rantai pasokan dan harga teknologi hijau.
Skenario 3: Gangguan Rantai Pasokan Global akibat Perubahan Iklim
Dengan probabilitas tinggi dan dampak sedang, kejadian cuaca ekstrem yang dipicu oleh perubahan iklim dapat mengganggu rantai pasokan global. Keterkaitan antar negara dalam rantai pasokan membuat industri seperti pertanian, pertambangan, dan manufaktur rentan terhadap gangguan ini.
Skenario 4: Aksi Industri Menyebar, Mengganggu Produktivitas Global
Dengan probabilitas tinggi dan dampak sedang, ketidakpuasan terhadap harga komoditas global, gangguan rantai pasokan, dan inflasi dapat memicu aksi industri yang meluas. Protes dan mogok besar-besaran dapat merambat ke berbagai sektor dan negara, mempengaruhi pertumbuhan ekonomi global.
Skenario 5: Tiongkok Berusaha Mencaplok Taiwan
Dengan probabilitas rendah tapi dampak sangat tinggi, upaya Tiongkok untuk mencaplok Taiwan dapat memicu pemisahan global yang mendadak. Meskipun kemungkinannya kecil, potensi konflik regional dan pemutusan rantai pasokan global adalah ancaman serius.
Skenario 6: Perubahan dalam Pemerintahan AS Merusak Aliansi Global
Dengan probabilitas sedang dan dampak sedang, perubahan dalam pemerintahan AS dapat menyebabkan pergeseran tiba-tiba dalam kebijakan luar negeri. Ini dapat menguji aliansi global dan memunculkan ketidakpastian dalam hubungan internasional.
Skenario 7: Kegagalan Kebijakan Stimulus di Tiongkok
Dengan probabilitas rendah tapi dampak tinggi, kegagalan kebijakan stimulus di Tiongkok dapat menghasilkan peningkatan kontrol negara dan penurunan prospek pertumbuhan. Kebijakan stimulus yang ekstensif dapat menyebabkan ketidakpastian pasar dan mengurangi kepercayaan investor.
Skenario 8: Perang Israel-Hamas Meningkat menjadi Konflik Regional
Dengan kemungkinan sangat rendah tapi dampak tinggi, konflik antara Israel dan Hamas dapat berkembang menjadi konflik regional. Ini dapat memengaruhi pasokan minyak dan memperpanjang tekanan inflasi global.
Skenario 9: Kecerdasan Buatan Mengganggu Pemilihan dan Kepercayaan Politik
Dengan probabilitas sedang dan dampak rendah, peningkatan penggunaan kecerdasan buatan dalam pemilihan umum dapat mengganggu proses demokrasi dan merusak kepercayaan pada institusi politik.
Skenario 10: Perang Ukraina-Rusia Meluas menjadi Konflik Global
Dengan kemungkinan sangat rendah tapi dampak sangat tinggi, perang Ukraina-Rusia dapat meluas menjadi konflik global. Eskalasi yang melibatkan kekuatan nuklir dapat memiliki dampak serius terhadap ekonomi dan kemanusiaan global.
Dalam identifikasi sepuluh skenario kritis ini, The Economist Intelligence Unit memperlihatkan kompleksitas dan kerentanan dalam lingkungan global yang terus berubah. Sebagai pemangku kebijakan, pelaku bisnis, dan warga dunia, memahami dan mengantisipasi berbagai kemungkinan hasil dari skenario-skenario ini menjadi kunci dalam membangun ketahanan dan kelangsungan di tengah ketidakpastian. Sembari berusaha mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, kolaborasi antarnegara dan adaptasi terhadap perubahan yang tidak terduga menjadi esensial untuk merentangkan jaringan kestabilan global.
Risiko Global 2024: Sorotan Laporan World Economic Forum
Dalam laporan terbarunya, World Economic Forum mengungkapkan analisis mendalam terkait risiko global pada tahun 2024. Laporan ini tidak hanya memperlihatkan kondisi dunia saat ini, tetapi juga memberikan pandangan untuk jangka pendek dan panjang, bertujuan memberikan pedoman kepada para pengambil keputusan dengan visi yang seimbang.
Dunia saat ini masih merasakan dampak ketegangan pasca pandemi COVID-19 dan perang Rusia-Ukraina. Meski terdapat episodik pergolakan, sistem global tetap menunjukkan ketangguhan yang mengesankan. Terlepas dari ketidakpastian, resesi yang diantisipasi tidak terjadi. Meskipun demikian, konflik politik dan kekerasan di beberapa wilayah menjadi sorotan perhatian dunia.
Laporan menyoroti empat pandangan risiko tinggi untuk dekade mendatang, menegaskan urgensi kerjasama global dalam menghadapi tantangan masa depan. Hasil survei menunjukkan pandangan negatif dalam jangka pendek, dengan kecenderungan memburuk dalam jangka panjang. Respon terhadap pandemi dan perang Rusia-Ukraina menciptakan gambaran dunia yang penuh ketidakpastian.
Cuaca ekstrem mendominasi sebagai risiko utama, diikuti oleh tantangan informasi seperti misinformasi dan disinformasi. Polaritas sosial dan politik juga menjadi perhatian serius. Tindakan respons terhadap pandemi dan perang memiliki potensi menciptakan krisis ekonomi dan dampak perubahan iklim yang dapat dirasakan dalam beberapa tahun mendatang.
Meskipun sektor keuangan, teknologi, dan real estat tampaknya memiliki risiko rendah, laporan tetap menekankan untuk tidak mengabaikan potensi dampak di sektor-sektor tersebut. Dengan sistem global yang melemah, sebuah goncangan kecil saja bisa menjadi batas keberlanjutan. Risiko ekonomi dan konflik bersenjata diperkirakan akan memberikan dampak signifikan dalam dua tahun mendatang. Faktor risiko seperti inflasi yang sulit diprediksi menjadi tantangan dalam menjaga stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi.
Dalam rangkuman ini, laporan WEF menegaskan bahwa risiko global tahun 2024 menyoroti tantangan pasca-pandemi dan ketegangan geopolitik yang memerlukan kerjasama global dan pemahaman mendalam terhadap risiko jangka panjang.
Akselerasi Tindakan Bisnis untuk Adaptasi Perubahan Iklim
Dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin sering dan intens, penting bagi bisnis untuk mengelola risiko ini dan memahami peluang kolaborasi. Melalui laporan bersama dengan World Economic Forum, PwC menjelajahi risiko dan peluang terkait dampak perubahan iklim, serta menyajikan kerangka kerja yang dapat membantu bisnis mengembangkan pendekatan mereka terhadap adaptasi iklim.
Meskipun mitigasi—upaya pengurangan atau pencegahan emisi gas rumah kaca—telah menjadi fokus utama bisnis dalam mengatasi perubahan iklim, perencanaan adaptasi iklim—upaya untuk mengurangi dampak negatif perubahan iklim dan memanfaatkan peluang—tetap menjadi tantangan.
Adaptasi perubahan iklim menjadi suatu keharusan bagi bisnis untuk menghindari kerugian ekonomi akibat perubahan iklim, berinovasi dalam menciptakan pertumbuhan pendapatan, penghematan biaya, dan keberlanjutan, serta melindungi masyarakat dan ekosistem lokal tempat perusahaan beroperasi.
Dampak perubahan iklim sudah mewarnai kehidupan sehari-hari dan mengubah dinamika bisnis. Kenaikan suhu global, perubahan pola cuaca, dan perubahan iklim lainnya tidak hanya menjadi ancaman, tetapi telah menjadi kenyataan yang memerlukan tanggapan cepat. Negara-negara berkembang, yang sering kali lebih rentan terhadap perubahan iklim, menghadapi tantangan ekonomi dan sosial yang nyata.
Sementara upaya mitigasi seperti pengurangan emisi tetap menjadi fokus utama, pentingnya adaptasi tidak boleh diabaikan. Dunia usaha memiliki peran kunci dalam mengatasi tantangan ini. Bisnis dapat menjadi kekuatan penggerak untuk melibatkan masyarakat dan pemerintah dalam upaya adaptasi.
Kasus bisnis untuk adaptasi perubahan iklim mencakup tiga elemen krusial. Pertama, bisnis perlu memahami dampak perubahan iklim pada kinerja mereka. Kedua, melihat peluang baru yang muncul akibat perubahan iklim dapat membuka jalan bagi inovasi dan pertumbuhan bisnis. Terakhir, pemahaman terhadap cara tindakan adaptasi pemerintah dan komunitas dapat mempengaruhi operasi bisnis menjadi kunci dalam merancang strategi adaptasi.
Risiko finansial akibat perubahan iklim menjadi kenyataan yang harus dihadapi bisnis. Oleh karena itu, investasi dalam strategi adaptasi bukan hanya langkah etis, tetapi juga masuk akal secara finansial untuk kelangsungan bisnis jangka panjang. Bisnis yang memahami dan mengelola risiko ini dapat melindungi aset mereka dari kerugian yang tidak perlu.
Adaptasi bukan hanya tentang menghindari risiko, tetapi juga menciptakan peluang bisnis baru. Bisnis dapat mengembangkan produk, layanan, dan model bisnis yang mendukung adaptasi, menciptakan nilai tambah, dan berkontribusi pada ekonomi iklim baru yang berkelanjutan.
Kesimpulannya, pelaku bisnis perlu memfokuskan tindakan mereka pada tiga pilar utama untuk mendorong strategi adaptasi iklim:
- Meningkatkan Ketahanan:
Menilai dampak risiko perubahan iklim pada bisnis dan mengambil langkah-langkah untuk beradaptasi dan membangun ketahanan, terutama melalui kerja sama dengan pemasok dan komunitas yang terhubung dengan rantai nilai untuk meningkatkan ketahanan bisnis.
- Manfaatkan Peluang:
Memanfaatkan produk, layanan, dan model bisnis yang membantu bisnis, komunitas, dan ekosistem beradaptasi serta membangun ketahanan. Selain itu, mengejar peluang adaptasi yang berkontribusi pada efisiensi, keberlanjutan, dan mitigasi perubahan iklim.
- Bentuk Hasil Kolaboratif:
Berpartisipasi dalam upaya kolaboratif dengan pemerintah, komunitas, dan sektor lainnya untuk mencapai hasil yang lebih baik. Bentuk hasil kolaboratif ini dapat mendorong tindakan adaptasi perubahan iklim dan menyumbang pada proyek-proyek transformatif untuk membangun ketahanan komunitas dan ekosistem.
Kesimpulannya, pelaku bisnis wajib terlibat dalam upaya adaptasi perubahan iklim. Dengan menggabungkan pemahaman akan risiko dan peluang, bisnis dapat bukan hanya menjadi pemangku kepentingan dalam melindungi lingkungan, tetapi juga membangun pondasi bisnis yang kuat untuk masa depan yang berkelanjutan. Melalui kolaborasi dan tindakan konkret, dunia usaha dapat memainkan peran vital dalam menjaga keseimbangan planet dan kesejahteraan manusia.
Artikel ini telah diterbitkan oleh PwC dengan judul Accelerating Business Action on Climate Change Adaptation. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Memahami dan Mengelola Risiko dalam Penggunaan Algoritma
Dengan semakin banyaknya penggunaan algoritma kompleks dan sistem pembelajaran mesin, risiko terkait algoritma menjadi perhatian utama. Risiko ini muncul ketika kita menggunakan analisis data dan algoritma perangkat lunak berbasis teknologi kognitif dalam situasi pengambilan keputusan otomatis dan semi-otomatis.
Deloitte telah menciptakan cara untuk memahami area-area yang berisiko dan faktor-faktor yang menyebabkan risiko dalam penggunaan algoritma. Risiko-risiko ini dapat timbul pada tahap pengumpulan data, desain algoritma, dan keputusan yang dihasilkan.
Pengumpulan Data: Risiko-risiko termasuk adanya bias dalam data pelatihan, data yang kurang lengkap atau tidak relevan, sampel data yang tidak mencukupi, cara pengumpulan data yang tidak sesuai, dan ketidaksesuaian antara data yang digunakan untuk melatih algoritma dengan data aktual saat digunakan.
Desain Algoritma: Risiko-risiko meliputi logika yang bias, asumsi atau penilaian yang keliru, teknik pemodelan yang tidak sesuai, kesalahan dalam pengkodean, dan pola palsu dalam data pelatihan.
Keputusan yang Dihasilkan: Risiko-risiko melibatkan interpretasi yang salah terhadap output yang dihasilkan, penggunaan hasil yang tidak sesuai, dan mengabaikan asumsi dasar.
Risiko dapat disebabkan oleh beberapa faktor mendasar:
Bias Manusia: Bias kognitif dari pengembang atau pengguna model dapat menyebabkan hasil yang kurang akurat. Selain itu, kurangnya pengawasan dan keselarasan nilai organisasi dengan perilaku karyawan dapat menghasilkan hasil yang tidak diinginkan.
Kekurangan Teknis: Ketidakakuratan teknis atau kurangnya konsep yang matang dalam pengembangan, pelatihan, pengujian, atau validasi algoritma dapat mengakibatkan hasil yang tidak benar.
Kesalahan Penggunaan: Kesalahan dalam menerapkan algoritma, mengintegrasikannya dengan operasi, atau penggunaan oleh pengguna akhir dapat menghasilkan keputusan yang tidak sesuai.
Kekurangan Keamanan: Pihak yang bermaksud baik atau jahat dapat mendapatkan akses ke data input, desain algoritma, atau hasilnya dan memanipulasinya untuk menghasilkan hasil yang disengaja.
Dengan bertambahnya jumlah data, otomatisasi proses, dan pengambilan keputusan oleh algoritma, sangat penting untuk memastikan bahwa algoritma Anda bekerja sebagaimana mestinya dan mencapai hasil bisnis yang diinginkan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Deloitte dengan judul Managing Algorithmic Risks. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Mendorong Keberlanjutan Bisnis melalui Transformasi Rantai Pasok
Rantai pasok, atau supply chain, memegang peran krusial dalam menjaga keberlanjutan dan mengembangkan bisnis. Di tengah ketidakpastian, perusahaan kini berusaha membangun jaringan rantai pasok digital yang adaptif untuk mendorong pertumbuhan dan keuntungan. Chief Supply Chain Officers (CSCO) berhadapan dengan lingkungan yang penuh gangguan.
Sebanyak 61% CSCO telah mengadopsi teknologi baru, metode kerja inovatif, dan kecerdasan buatan untuk memperbarui proses inti mereka. Sementara itu, 60% memiliki rencana investasi dalam bidang tersebut dalam dua tahun mendatang.
Dengan menempatkan data dan kecerdasan buatan sebagai pusat transformasi, perusahaan dapat membangun jaringan rantai pasok pintar yang memberikan visibilitas baru pada operasi End-to-End (E2E), meningkatkan ketangguhan, dan mengurangi risiko keberlanjutan secara keseluruhan.
Untuk mengatasi kompleksitas dalam transformasi rantai pasok, beberapa solusi dapat diterapkan:
- Rantai Pasok yang Tangguh: Membangun jaringan rantai pasok yang aman, responsif, dan dapat mengantisipasi gangguan, perubahan pasar, dan permintaan pelanggan.
- Rantai Pasok Berorientasi Pelanggan: Membangun jaringan rantai pasok yang mampu memprediksi permintaan dan memberikan produk, layanan, dan pengalaman yang dipersonalisasi.
- Sumber Daya dan Pengadaan: Merevitalisasi proses pengadaan dari awal hingga akhir untuk meningkatkan profitabilitas dan menciptakan basis pasokan yang lebih berkelanjutan dan tangguh.
Dalam menghadapi tantangan ketidakpastian, transformasi jaringan rantai pasok digital telah menjadi langkah krusial bagi perusahaan dalam menjaga dan mengembangkan bisnis. Untuk mengatasi kompleksitas dalam transformasi ini, langkah-langkah seperti membangun rantai pasok yang tangguh, berorientasi pelanggan, dan merevitalisasi sumber daya dan pengadaan menjadi kunci utama.
Dengan menerapkan solusi di atas, perusahaan dapat mengatasi ketidakpastian dengan membentuk rantai pasok yang adaptif, responsif, dan berkelanjutan untuk masa depan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Accenture dengan judul Supply Chain Management and Operations. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.