Penulis : Winsky

Artikel ini merupakan seri ke-dua dari empat seri artikel dari Webminar Padjajaran Accounting Business Series (PABS) di mana empat pembicara memberikan paparan dan pandangan masing-masing yaitu Dr. Antonius Alijoyo, Dr. Nanang Herawanto, Dr. Nanny Dewi dan Dr. Tetet Fitrijanti. Seri ini merupakan pemahaman terhadap paparan dan pandangan Dr. Nanang Herawanto selaku Kepala Bank Indonesia Perwakilan Jawa Barat.

Beliau memaparkan, dalam perkembangan ekonomi global, COVID-19 sudah bukan lagi menjadi sebuah kekhawatiran namun sudah menjadi kenyataan akan adanya penurunan pertumbuhan perekonomian yang menuju ke arah negative termasuk di Indonesia. Namun diperkirakan pada tahun 2021 pertumbuhan ekonomi dunia akan mengalami peningkatan kembali, dengan diperkuat oleh dampak positif kebijakan yang ditempuh di banyak negara pada tahun 2020.

Namun dalam jangka pendeknya, untuk mengatasi dampak penurunan pertumbuhan ekonomi tersebut, semua negara yang termasuk dalam G20 (20 negara terbesar) melakukan kebijakan ultra akomodatif – yaitu dengan memastikan likuiditas perekonomian tetap berjalan. Pemerintah juga meluncurkan kebijakan fiscal yang sifatnya akomodatif untuk menginject likuiditas termasuk Bank Indonesia.

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 diprakirakan melambat pada triwulan II dan III. Sejalan dengan prospek kontraksi ekonomi global dan juga dampak ekonomi dari upaya pencegahan COVID-19. Perkonomian diperkirakan kembali membaik mulai triwulan IV 2020 dan secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi tahun 2020 diperkirakan dapat menuju 2,3% dan akan meningkat lebih tinggi pada tahun 2021.

Salah satu kontributor dalam perekonomian Indonesia adalah perekonomian Jawa Barat yang berkontribusi sekitar 13%. Namun, perekonomian Jawa Barat juga mengalami penurunan yang salah satunya disebabkan karena adanya kebijakan social distancing dan pemberlakuan PSBB – sehingga menurunkan aktivitas ekonomi di berbagai sektor dan menyebabkan income pun menurun.

Melihat situasi ini, maka perlu adanya stimulus kebijakan untuk ikut serta mendukung pertumbuhan ekonomi Jawa Barat.  Beberapa stimulus kebijakan yang dapat diberikan dalam rangka menjaga daya tahan dan mempercepat recovery perekonomian Jawa Barat adalah :

  1. Menopang turunnya daya beli masyarakat yang anjlok akibat pembatasan kegiatan dan PHK
  2. Mengoptimalkan upaya screening dan medical mengingat wabah yang berkepanjangan berakibat pada penurunan pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan yang tinggi
  3. Mengoptimalkan distribusi barang dengan memastikan pasar tetap berjalan efektif dan terjaga higienitasnya, serta optimalisasi peran pengendalian inflasi daerah
  4. Mengurangi potensi kebangkrutan usaha melalui upaya keringanan pajak dan insentif lainnya
  5. Sinergi inisiatif bantuan yang bersumber dari non pemerintan (CSR, Baznas, lembaga wakaf & amil zakat, asosiasi, dll) dan penggunaannya lebih dititikberatkan pada aspek kesehtan dan penanggulangan wabah
  6. Terus mengoptimalkan komunikasi untuk menjaga ekspektasi masyarakat tetap positif

 

Oleh karena itu, para pelaku usaha sebaiknya melakukan beberapa rekomendasi untuk mengahadapi situasi COVID-19 seperti :

  1. Di masa pandemic COVID-19 memanfaatkan peluang bisnis yang ada, melalui :
    • Menggunakan teknologi informasi
    • Transaksi digital
    • Layanan penyampaian produk hingga ke rumah-rumah pengguna
    • Switching produk industry APD dan alat kesehatan
  1. Bangun atau adaptasikan bisnis (produk, layanan) sesuai pergeseran yang terjadi (the new economic era) setelah pandemic COVID-19, antara lain:
    • Stay at home lifestyle : online shopping, food delivery, self care, zoomable workplace
    • Back to the Bottom of the Pyramid: contact free lifestyle, low trust society, jamu dan obat- obatan herbal, constantly fear customer,
    • Go Virtual: Online home schooling, cloud lifestyle, tele-medicine, flexible working hour
    • Emphatic Society: The rise of empathy and solidarity, more positive parenting, more religious

 

Mudah-mudahan artikel ini bermanfaat. Salam.