Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Risiko El Nino menjadi perhatian dunia usaha karena cuaca kering dapat menekan produksi, logistik, energi, hingga harga pangan. Indonesian Business Council atau IBC menilai perusahaan perlu bersiap lebih awal sebelum gangguan iklim berubah menjadi masalah operasional.

Peringatan ini muncul setelah prakiraan iklim global menunjukkan peluang El Nino meningkat dalam beberapa bulan ke depan. Organisasi Meteorologi Dunia atau WMO memperkirakan ada peluang 80 persen El Nino terjadi pada Juni hingga Agustus 2026.

Peluang tersebut bahkan diperkirakan berada di kisaran 90 persen atau lebih untuk berlanjut setidaknya sampai September hingga November 2026. Sebagian besar model prakiraan juga melihat potensi El Nino mencapai intensitas sedang. Ada pula kemungkinan kondisinya menjadi kuat atau sangat kuat.

Risiko El Nino Perlu Diantisipasi Dunia Usaha

Bagi Indonesia, risiko El Nino bukan hanya urusan cuaca. Dampaknya bisa masuk ke rantai bisnis harian, terutama bagi sektor yang bergantung pada air, pasokan pangan, energi, dan distribusi barang.

Curah hujan yang menurun dapat membuat musim kemarau lebih panjang. Kondisi ini bisa menekan hasil pertanian, mengganggu pasokan bahan baku, dan menaikkan biaya produksi.

Sektor yang perlu lebih waspada antara lain pertanian, makanan dan minuman, energi, logistik, manufaktur, serta barang konsumsi. Jika pasokan terganggu, dampaknya bisa sampai ke harga jual dan ekspektasi inflasi.

Principal Policy and Program IBC Rebekka Angelyn mengatakan prakiraan El Nino memberi waktu bagi pelaku usaha dan pembuat kebijakan untuk bersiap.

“Prakiraan El Nino memberi ruang bagi perusahaan dan pembuat kebijakan untuk meninjau paparan risiko, memperkuat rencana cadangan, dan berkoordinasi di sektor pangan, air, energi, logistik, serta rantai pasok, terutama bagi bisnis yang melibatkan petani kecil dalam rantai pasoknya sebelum kondisi menjadi lebih mengganggu,” kata Rebekka.

Perusahaan Diminta Cek Rantai Pasok

IBC menilai perusahaan perlu mulai menguji ketahanan rantai pasok. Langkah ini penting agar perusahaan tahu titik mana yang paling rentan saat cuaca kering berlangsung lebih lama.

Perusahaan juga perlu mengamankan kebutuhan air dan energi. Dua hal ini menjadi kunci bagi kegiatan produksi, terutama di sektor manufaktur, pangan, dan komoditas.

Selain itu, perusahaan disarankan meninjau kembali stok barang. Inventori yang terlalu tipis bisa membuat bisnis mudah terganggu ketika pasokan bahan baku terlambat.

Koordinasi dengan pemasok juga perlu diperkuat. Perusahaan harus mengetahui apakah mitra pasoknya memiliki rencana mitigasi saat produksi terdampak kekeringan.

Dampak Ekonomi Bisa Berlangsung Lama

El Nino merupakan fenomena iklim berulang yang dipicu oleh kenaikan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik ekuator. Di Indonesia, fenomena ini sering dikaitkan dengan penurunan curah hujan dan periode kering yang lebih panjang.

Dampak El Nino tidak langsung hilang ketika cuaca kembali normal. Riset di jurnal Science menemukan bahwa setelah El Nino besar pada 1982-1983 dan 1997-1998, ekonomi negara tropis, termasuk Indonesia, masih terdampak sampai beberapa tahun kemudian. Lima tahun setelah kejadian itu, nilai ekonomi mereka tercatat lebih dari 10 persen lebih rendah dibandingkan jika El Nino tidak terjadi.

Pengalaman terbaru juga memberi peringatan. El Nino 2023–2024 sempat memengaruhi produksi pertanian di Asia Tenggara. Dampaknya ikut menekan pasar pangan dan komoditas utama.

Karena itu, IBC mendorong pemerintah, dunia usaha, dan lembaga ilmiah memperkuat koordinasi sejak dini. Persiapan lebih awal dinilai dapat mengurangi gangguan operasional dan melindungi sektor yang paling rentan.

Bagi pelaku usaha, risiko El Nino perlu dibaca sebagai bagian dari manajemen kelangsungan bisnis. Semakin cepat perusahaan memetakan risiko, semakin besar peluang untuk menjaga produksi, pasokan, dan biaya tetap terkendali.

Artikel ini telah diterbitkan oleh Indonesian Business Council (IBC) dengan judul IBC Highlights Business Readiness as El Niño Risks Build. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.