Rupiah melemah tajam dan membuat tekanan terhadap pasar Indonesia makin berat. Investor disebut mulai kehilangan kepercayaan setelah sejumlah kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dinilai menambah risiko bagi pasar keuangan.
Rupiah tercatat berada di level Rp18.190 per dolar AS. Posisi ini disebut sebagai rekor terendah. Sepanjang tahun ini, rupiah sudah turun sekitar 8 persen. Sejak perang Iran pecah, pelemahannya mencapai sekitar 7 persen.
Tekanan terhadap rupiah ikut menyeret pasar saham dan obligasi. Pasar saham Indonesia disebut menjadi yang terlemah di dunia pada 2026, dengan penurunan lebih dari 42 persen.
Rupiah Melemah Dan Kepercayaan Investor
Pelemahan rupiah kini bukan hanya dipicu tekanan global. Sejumlah investor menilai pasar juga khawatir terhadap arah kebijakan pemerintah.
Tan Altundag, manajer investasi ekuitas negara berkembang di Pictet Asset Management, mengatakan Indonesia sedang mengalami krisis kepercayaan. Ia menyoroti tanda bahaya dari sisi tata kelola yang membuat investor ragu.
Menurut dia, rupiah di kisaran Rp18.000 per dolar AS menggerus imbal hasil riil investor asing. Pelemahan mata uang juga bisa mendorong inflasi, memperketat kondisi keuangan, dan menekan pertumbuhan ekonomi.
Tekanan tetap terjadi meski Bank Indonesia sudah menaikkan suku bunga 50 basis poin pada Mei. Cadangan devisa Indonesia juga turun sekitar US$12 miliar sepanjang tahun ini karena digunakan untuk menjaga stabilitas rupiah.
Arus modal asing ikut menunjukkan tekanan. Investor asing mencatat jual bersih saham sebesar US$3,2 miliar hingga akhir Mei. Kepemilikan asing di surat utang pemerintah juga turun ke 12,6 persen, mendekati level terendah dalam hampir 20 tahun.
Investor menyoroti agenda belanja besar pemerintah, termasuk program makan bergizi gratis untuk jutaan anak sekolah. Program ini menjadi salah satu janji utama Prabowo.
Pasar khawatir ruang fiskal Indonesia makin sempit. Tekanan energi global bisa membuat subsidi bahan bakar makin mahal. Di sisi lain, pemerintah tetap mengejar target pertumbuhan tinggi.
Kebijakan lain yang disorot adalah rencana pengambilalihan ekspor komoditas oleh negara melalui Danantara. Investor juga memperhatikan perubahan aturan terkait Bank Indonesia.
Undang-undang baru disebut memberi parlemen kewenangan lebih besar untuk mengarahkan bank sentral. Mandat Bank Indonesia juga diperluas dengan tambahan fokus pada pertumbuhan sektor riil.
Bagi pasar, perubahan ini bisa memunculkan kekhawatiran atas independensi bank sentral. Bank sentral yang independen penting untuk menjaga suku bunga dan stabilitas mata uang dari tekanan politik jangka pendek.
Tekanan pasar juga terlihat dari risiko peringkat utang Indonesia. Moody’s dan Fitch telah memangkas prospek peringkat utang Indonesia menjadi negatif. Keduanya menyoroti kredibilitas kebijakan yang menurun.
S&P menyatakan peringkat Indonesia akan bergantung pada kemampuan pemerintah memperkuat bantalan fiskal. Jika peringkat utang turun, biaya pinjaman negara bisa naik.
John Woods, kepala investasi Asia di Lombard Odier, menyebut ada lingkaran tekanan yang mulai terbentuk. Arus keluar asing dapat terus menekan rupiah, likuiditas, dan harga aset.
Jika tekanan berlanjut, agenda infrastruktur dan pertumbuhan pemerintah bisa melambat. Pasar kini menunggu langkah yang lebih jelas, transparan, dan mampu memulihkan kepercayaan investor.
Artikel ini telah diterbitkan oleh The Jakarta Post dengan judul Prabowo’s Populist Policies Propel A ‘Doom-Loop’ In Indonesian Markets. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.