Unduh Panduan Perencanaan BCM COVID-19 dari IRMAPA

Penulis: Charles R. Vorst, MM., CERG, ERMCP, QCRO, QRGP, CCGO, CGOP – Ketua IRMAPA.

Penyebaran virus corona di Indonesia belakangan ini telah membuat beberapa istilah viral di masyarakat, seperti pembatasan sosial (social distancing), kerja dari rumah (work from home), karantina wilayah (lockdown), dan kini pembatasan sosial berskala besar (disingkat PSBB, atau big scale social distancing). Semua istilah ini berkaitan erat dengan upaya yang ditujukan untuk menekan laju penyebaran virus corona di Indonesia di mana satu benang merah yang menghubungkan empat istilah ini adalah masyarakat melakukan pembatasan pergerakan dan aktivitas di luar rumah.

Terlepas dari efektif tidaknya hal tersebut dapat dijalankan secara konsisten oleh seluruh komponen masyarakat, maupun pandangan pro dan kontra yang terbentuk, artikel ini ingin memaparkan mengapa isolasi mandiri dan berdiam di rumah, dalam hal ini yang dimaksud adalah tempat tinggal, merupakan sebuah upaya yang patut untuk dilakukan ketika memang memungkinkan untuk dijalankan, bukan hanya untuk mendukung PSBB, melainkan tentunya untuk mencegah penularan virus corona terhadap diri kita. Hal ini setidaknya penting untuk menjadi perhatian bagi seluruh individu  yang berdomisili di wilayah yang menunjukkan data statistik peningkatan jumlah kasus positif COVID-19 yang tinggi di Indonesia.

 

Penyebaran yang tidak terduga

Katakanlah ada seorang individu bernama X. Hari ini X hendak bertemu dengan Y. Di perjalanan X berjumpa dengan Z. Setelah kira-kira 14 hari kemudian, X menunjukkan gejala positif terinfeksi virus corona. Semua Y dalam kurun 14 hari ke belakang masih memungkinkan untuk ditelusuri dan kemudian dipantau. Namun bagaimana dengan Z? Siapa yang mampu mengidentifikasi seluruh Z yang berpapasan dengan X dalam kurun 2 minggu ke belakang? Jangankan Z, katakanlah hari ini adalah hari Senin, apakah Anda masih mengingat secara jelas dengan siapa saja Anda berinteraksi di hari Selasa minggu lalu, atau di hari Kamis 2 minggu lalu? Dan silakan tambahkan situasi bahwa Anda sedang meriang atau demam ketika mencoba mengingat-ingat hal semacam ini. Kalau Anda tidak mau berdiam diri di rumah, berapa banyak Y dan Z yang ingin Anda hasilkan dalam sehari?

 

Sebanyak-banyaknya namun ada batasnya

Seorang kawan pernah berargumentasi tentang mengapa kita tidak perlu takut dengan virus corona. Jika dibandingkan dengan angka kematian yang disebabkan oleh penyakit atau peristiwa mematikan lainnya, persentase kematian yang disebabkan oleh COVID-19 jauh lebih kecil. Dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia pun jumlah kasus positif COVID-19 terbilang sangat kecil. Bahkan penelitian medis juga menyampaikan bahwa penderita COVID-19 dapat sembuh dengan sendirinya (self-healing disease).

Argumentasi seperti ini sekilas terdengar valid untuk menjadi alasan bagi kita tetap beraktivitas di luar rumah. Namun, sebenarnya bukan daya mematikan virus corona yang perlu kita khawatirkan. Mari kita perhatikan grafik berikut.

 

 

Sebanyak-banyaknya kapasitas fasilitas kesehatan, lengkap dengan peralatan dan perlengkapan medis yang tersedia untuk menangani penyebaran virus corona, tetap jumlahnya ada batasnya. Itu belum bicara mengenai jumlah tenaga medis yang jumlahnya lebih terbatas lagi. Bahkan ketika upaya untuk meningkatkan kapasitas telah dilakukan oleh pemerintah dengan dibantu secara bergotong royong bersama pihak swasta, tetap jumlahnya ada batasnya. Dan kalau ini masih belum cukup penting bagi Anda, silakan tambahkan pertimbangan bahwa kapasitas ini berbeda-beda di tiap daerah di Indonesia. Bila jumlah penderita yang membutuhkan pertolongan medis melampaui kapasitas kemampuan yang ada untuk bisa memberikan pelayanan medis kepada mereka yang membutuhkan maka silakan bayangkan apa yang terjadi selanjutnya. Jangankan sampai ada penderita yang terbengkalai, ada penderita yang harus mengantre saja untuk mendapatkan pertolongan medis yang dibutuhkan, entah karena tidak tersedianya fasilitas kesehatan yang dapat menampung, atau tidak tersedianya peralatan/perlengkapan medis yang dapat digunakan, atau tidak tersedianya tenaga medis yang dapat melayani, besar kemungkinan sudah dapat menimbulkan kegaduhan dan kepanikan di jagat dunia maya dan nyata di Indonesia. Dengan pemberitaan media yang gencar, ditambah bumbu hoax dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, serta kecepatan ujung jari kita meneruskan berita dari media sosial satu ke media sosial lainnya, hal di atas dapat berujung pada kekacauan. Dengan berdiam diri di rumah, kita bersama-sama mencoba melandaikan kurva biru pada ilustrasi di atas agar ujungnya tidak melebihi garis biru, apalagi yang kelabu. Anda tentunya tidak menginginkan kekacauan terjadi di kota Anda, bukan?

 

Apa salah orang bengong

Agar tertular, Anda cukup duduk di meja kerja Anda, lalu ada satu sontoloyo di ruangan yang sama, bersin sembari lupa menutup mulut dan hidung. Seisi ruangan mungkin ada yang mengomel, mungkin ada yang tertawa sembari menggelengkan kepala, ada pula yang tidak menggubris kejadian tersebut seperti Anda (mungkin saat itu Anda sedang “nge-hang” karena lelah dengan pekerjaan yang seperti tidak ada habisnya). Tidak ada yang istimewa pikir Anda, sampai beberapa pekan kemudian Anda sah menyandang gelar PDP (pasien dalam pengawasan).

Mungkin Anda termasuk golongan yang percaya bahwa virus corona tidak dapat ditularkan lewat udara (airborne). Sangat wajar, apalagi penelitian terakhir yang Anda baca menyatakan demikian. Toh, Anda hanya perlu bersikap biasa-biasa saja dalam menggunakan kedua tangan untuk menyentuh benda-benda yang umum dan lazim Anda jumpai di sekitar. Tanpa Anda sadari, pada benda-benda tersebut mungkin telah menunggu “oleh-oleh istimewa” yang menunggu untuk Anda bawa serta. Yang terjadi kemudian adalah mulai dari gejala pertama timbul hingga Anda harus terbaring dengan infus di ranjang, mungkin Anda tetap tidak berhasil menuntaskan rasa penasaran tentang kapan tepatnya momen spesial perjumpaan Anda dengan virus yang sudah menjangkiti Anda tersebut.

Namun bila memang penularannya semudah itu, mengapa jumlah penderita yang terjangkiti tetap terbilang kecil dibandingkan dengan total populasi yang ada? Bersyukurlah karena sebagai manusia tubuh kita dibekali dengan sistem imunitas. Sistem imunitas ini yang banyak membantu kita mencegah virus corona yang telah masuk ke dalam tubuh untuk selanjutnya berkembang biak dengan leluasa. Tantangannya di sini adalah sistem imunitas kita tidak berada pada satu kondisi konstan/stabil. Imunitas tubuh kita dapat menurun hanya karena kita sedang kelelahan, dan bukan kelelahan seperti sehabis pindahan rumah yang dimaksud di sini. Cukup lelah karena rapat-rapat sepanjang hari di kantor, lelah karena harus melewati jalanan macet ketika pulang kerja, atau lelah karena kurang tidur sehabis menyaksikan acara TV semalam. Tanpa pola hidup sehat, lelah seperti itu sudah cukup membuat tubuh Anda lulus seleksi alam sebagai tempat berkembang biak virus corona.

Atau mungkin Anda berpikir, “tentu saja tertular, mengapa tidak menggunakan pelindung diri?” Tentu APD (alat pelindung diri) akan sangat membantu dalam mencegah penularan virus corona, namun hanya jika APD yang digunakan merupakan APD yang memenuhi persyaratan/uji klinis untuk mencegah potensi penyebaran virus corona. Sehingga bila Anda tidak bisa memastikan bahwa sistem imunitas tubuh Anda selalu dalam kondisi prima, atau senantiasa menggunakan APD yang andal, lebih baik Anda di rumah karena hanya dengan bengong, dan berlaku tidak hati-hati, sudah cukup berpotensi membuat Anda tertular di tempat umum.

 

Penutup

Bagi para dokter dan tenaga medis, seluruh perangkat pemerintah dan para abdi negara, para relawan, serta seluruh komponen masyarakat yang tetap harus bertugas, bekerja, atau mungkin mencari nafkah di luar rumah, apalagi mereka yang tinggal di berbagai wilayah penyebaran virus corona, tetaplah berhati-hati, jaga kesehatan, beristirahatlah yang cukup, dan senantiasa lindungi diri dari risiko penularan. Namun bagi Anda yang tidak perlu keluar rumah, diamlah di rumah. Apalagi ketika ada anggota keluarga selain Anda yang tinggal di rumah. Kehidupan anggota keluarga kita pasti akan ikut terdampak bila kita jatuh sakit, apalagi jika sampai mereka ikut tertular.

Bagi manajemen puncak dan penentu kebijakan di suatu organisasi, siapkan dan terapkan tindakan pemulihan bisnis dengan menerapkan manajemen kelangsungan usaha (atau dikenal juga dengan nama business continuity management, disingkat BCM), dan temukan cara agar sebanyak mungkin karyawan dapat beraktivitas tanpa harus keluar rumah. Sehubungan dengan hal ini, IRMAPA, bersama dengan CRMS Indonesia dan Proxsis Consulting Group, merilis panduan perencanaan BCM yang dapat diunduh pada sub-judul artikel ini di atas.

Mudah-mudahan pemanfaatan panduan ini dapat membantu mengatasi hambatan terhadap kegiatan operasional organisasi ketika Anda menginstruksikan para karyawan untuk tidak dulu ke tempat kerja dan mulai bekerja dari rumah masing-masing. Apalagi kini telah terbit PP No. 21 tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di mana dalam pasal 4 ayat 1.a. dan c. disampaikan bahwa pembatasan sosial berskala besar paling sedikit meliputi peliburan sekolah dan tempat kerja serta pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum. Pada akhirnya, semakin disiplin kita ikut mematuhi PP ini, semakin cepat pula penyebaran virus corona dapat tertangani, dan dengan demikian semakin cepat juga kita dapat bersama-sama kembali beraktivitas untuk memulihkan perekonomian.

Melalui artikel ini penulis hendak mengingatkan kembali bahwa kita sebagai masyarakat perlu mendukung segala upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk menurunkan tingkat penularan virus corona di bumi Indonesia dengan segala cara yang kita bisa. Bila kita punya pilihan untuk tinggal di rumah, berdiamlah di rumah. Bila kita belum bisa melaksanakan sepenuhnya, setidaknya upayakan untuk membatasi pergerakan dan aktivitas di luar rumah, baik dari jarak, jam, atau hari kita beraktivitas di luar rumah, mana pun yang memungkinkan. Namun bila memang pilihan-pilihan ini bukan milik kita, lindungi diri, berhati-hati, dan waspada saat beraktivitas di luar rumah agar secara kolektif kita bisa segera mengakhiri bencana darurat corona di Indonesia. Terakhir, penulis juga hendak berbagi protokol keluar & masuk rumah setelah beraktivitas di luar dari klikdokter® pada bagian bawah artikel. Semoga protokol ini bermanfaat bagi mereka yang mau tidak mau harus beraktivitas di luar rumah dan semoga artikel ini bermanfaat untuk banyak orang.

 

Salam “Indonesia Sehat”..! Salam “Turn Back Corona”..!