Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Manajemen risiko bank kini bergerak ke arah yang lebih cepat karena lembaga keuangan menghadapi perubahan bisnis, teknologi, dan ancaman baru dalam waktu bersamaan.

Selama bertahun-tahun, manajemen risiko di bank sering dipahami sebagai pekerjaan mencatat risiko, menjaga kerangka kerja, dan memastikan tata kelola berjalan. Cara lama itu kini dinilai belum cukup.

Laporan riset ProSight Financial Association menyebut fungsi enterprise risk management atau ERM di bank mulai bergeser. Dulu, ERM lebih mirip “pembuat peta” yang mendokumentasikan risiko. Kini, perannya mulai berubah menjadi “navigator” yang membantu manajemen mengambil keputusan lebih cepat.

Riset tersebut disusun dari survei terhadap bank kategori I hingga IV. ProSight juga melibatkan kelompok kerja berisi perwakilan dari lebih dari 25 lembaga keuangan di Amerika Utara.

Manajemen Risiko Bank Tidak Lagi Sekadar Mencatat Risiko

Perubahan utama terlihat dari tuntutan terhadap fungsi risiko. Bank kini membutuhkan sistem yang bisa membantu membaca dampak bisnis, bukan sekadar membuat daftar potensi masalah.

Dalam praktik lama, tim ERM biasanya menjadi pengawas lini kedua. Mereka membantu proses identifikasi risiko, menentukan batas selera risiko, dan menyiapkan kerangka untuk isu baru seperti iklim serta penggunaan kecerdasan buatan.

Namun, tekanan bisnis membuat peran itu melebar. Tim risiko kini diminta bekerja lebih efisien, lebih terukur, dan lebih dekat dengan kebutuhan pengambilan keputusan.

ProSight mencatat terlalu banyak lapisan pemeriksaan bisa memperlambat keputusan. Dokumentasi yang berlebihan juga dapat membuat hasil kerja ERM kurang berguna bagi pimpinan bank.

Masalah lain muncul ketika risiko tidak dipilah berdasarkan tingkat kepentingannya. Akibatnya, semua isu bisa terlihat sama mendesak, padahal dampaknya berbeda.

Kecerdasan buatan atau AI mulai dilihat sebagai alat penting dalam manajemen risiko bank. Teknologi ini dapat membantu bank membaca pola, membuat simulasi skenario, dan menemukan titik rawan lebih cepat.

Generative AI, misalnya, disebut berpotensi membantu tim risiko melihat kemungkinan gangguan sebelum benar-benar terjadi. Teknologi ini juga dapat membantu menyusun analisis berbasis probabilitas.

Bagi bank, kemampuan melihat risiko lebih awal menjadi semakin penting. Gangguan teknologi, serangan siber, perubahan regulasi, dan tekanan ekonomi bisa muncul bersamaan.

Meski begitu, penggunaan AI bukan berarti bank boleh mengabaikan kehati-hatian. ProSight menekankan fungsi ERM tetap perlu menjaga disiplin, ketelitian, dan konsistensi.

Artinya, teknologi hanya menjadi alat bantu. Keputusan tetap perlu berpijak pada penilaian manusia, data yang kuat, dan pemahaman terhadap arah bisnis bank.

Strategi, Teknologi, Dan Risiko Makin Sulit Dipisahkan

Avani Parekh, Senior Vice President dan Executive Risk Advisor di TD Bank, mengatakan bank sedang memasuki masa ketika strategi, teknologi, dan risiko makin sulit dipisahkan.

Pernyataan itu menggambarkan tantangan baru industri keuangan. Keputusan bisnis kini hampir selalu membawa konsekuensi teknologi dan risiko.

Misalnya, saat bank memperluas layanan digital, peluang pertumbuhan bisa meningkat. Namun, risiko keamanan data dan fraud juga ikut naik. Karena itu, manajemen risiko bank perlu hadir sejak awal dalam perumusan strategi. Fungsi risiko tidak cukup hanya memeriksa keputusan setelah rencana bisnis dibuat.

Kim Persaud, Managing Director dan Head of ERM Strategy, Risk Frameworks, and Engagement di Citigroup, memberi pesan serupa. Menurutnya, perubahan fungsi risiko akan lebih mudah diterima bila sesuai dengan arah dan identitas organisasi. Ia mengingatkan, meniru praktik perusahaan lain mungkin terlihat mudah. Namun, perubahan akan lebih kuat bila berangkat dari tujuan strategis masing-masing bank.

Bagi industri perbankan, pesan besarnya cukup jelas. Manajemen risiko bank tidak lagi hanya bertugas menemukan ancaman. Fungsinya juga membantu organisasi bergerak di tengah ketidakpastian dengan lebih jernih dan lincah.

Artikel ini telah diterbitkan oleh ProSight, dengan judul How Banks Are Rethinking ERM for a Faster-Moving World. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.