Penulis: Charles R. Vorst, MM., BCCS, CERG, ERMCP, QCRO, QRGP, CCGO, CGOP – Sekretaris Jenderal IRMAPA.

Tanggal 23 – 24 April 2019 menjadi sebuah tanggal penting bagi IRMAPA di mana untuk pertama kalinya IRMAPA menyelenggarakan call for paper & international conference dengan judul Internasional Conference on Risk Management as an Interdisciplinary Approach (ICRMIA). Adapun ICRMIA yang pertama ini diselenggarakan bersamaan dengan 6th Annual Conference on Industrial and System Engineering (ACISE), di Semarang, Jawa Tengah. Joint conference yang berlangsung di salah satu hotel bintang lima di Semarang ini terselenggarakan berkat kerja sama antara IRMAPA dengan Universitas Diponegoro, dan berhasil mengumpulkan lebih dari 120 academic research paper dari para akademisi dan mahasiswa S3 dari berbagai universitas dalam dan luar negeri di mana ± 50 di antaranya adalah mengenai manajemen risiko.

Kegiatan ACISE & ICRMIA di atas merupakan salah satu inisiatif IRMAPA untuk menjadi wadah bagi seluruh profesional bidang manajemen risiko, termasuk di dalamnya para akademisi di Indonesia. Telah menjadi sebuah misi tersendiri bagi IRMAPA untuk meningkatkan minat dan perhatian di lingkungan universitas terhadap pengembangan manajemen risiko sebagai sebuah disiplin ilmu, dengan harapan bahwa akan semakin banyak pemikiran, inovasi, serta para pelaku profesi manajemen risiko di Indonesia yang dihasilkan universitas guna memenuhi tuntutan kebutuhan yang semakin meningkat baik di tanah air maupun luar negeri.

Adapun tema yang diusung dalam joint conference ACISE & ICRMIA adalah “Risk Engineering in Industry 4.0: protecting and Creating Value in Industrial and System Engineering”. Tema ini sangat relevan dengan situasi di mana Indonesia yang sedang bersiap diri dalam menyongsong era Industri 4.0 (atau disingkat I4.0). Sebagai sebuah bangsa, kesiapan akan I4.0 tentunya menjadi penentu apakah kehadiran I4.0 akan dinilai sebagai peluang besar bagi pengembangan industri dan perekonomian Indonesia, ataukah sebaliknya dianggap sebagai risiko yang besar. Dalam hal ini, IRMAPA berupaya untuk berkontribusi dalam membangun kesiapan bangsa terhadap I4.0 melalui apa yang bisa IRMAPA kerjakan, salah satunya adalah melalui penyelenggaraan joint conference di atas.

Acara yang ikut didukung oleh CRMS Indonesia ini menampilkan keynote dari Menristekdikti yang diwakili oleh Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat, Prof. Ocky Karna Rdjasa, M.Sc., Ph.D, yang kemudian dilanjutkan dengan panel dari para pembicara dalam dan luar negeri pada plenary session setiap harinya, di antaranya, Prof. Dr. Bambang Prasetyo, Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN), serta Dr. Antonius Alijoyo, selaku Ketua Umum IRMAPA, yang kemudian dilanjutkan dengan pembahasan paper dalam braekout session oleh para pemakalah dan scientific reviewer board yang terdiri dari berbagai akademisi dalam dan luar negeri. Pada sesi breakout, tersedia juga satu kelas workshop setiap harinya yang membahas topik-topik manajemen risiko seperti standar internasional ISO 31000:2018 serta Risk & Control Self-Assessment sebagai practical tool dalam penerapan manajemen risiko di mana penulis terlibat sebagai fasilitator workshop.

Beberapa poin penting berikut yang penulis dapat sarikan dari seluruh diskusi selama konferensi berlangsung adalah sebagai berikut:

  1. Sebagai sebuah tren, I4.0 merupakan sebuah keniscayaan yang muncul dari perkembangan teknologi yang tengah berlangsung secara eksponensial dewasa ini. Tren ini diyakini oleh banyak ahli membawa berbagai kebaikan dan kemudahan bagi perkembangan peradaban manusia;
  2. Sebagai sebuah perubahan, I4.0 hadir dengan membawa ketidakpastian, di mana bagi dunia usaha dan industri, kegagalan dalam mengantisipasi risiko yang muncul dari ketidakpastian dapat berujung pada disrupsi;
  3. Tidak hanya ketidakpastian, gelombang perubahan I4.0 juga dapat menciptakan situasi VUCA (volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity) ketika perkembangan teknologi I4.0 tidak dibarengi dengan kesiapan sumber daya insani untuk memanfaatkan teknologi tersebut;
  4. Menjadi sebuah pekerjaan rumah yang besar bagi Indonesia sebagai sebuah bangsa untuk menyiapkan dunia usaha dan industri menyambut I4.0 agar tidak terombang-ambing dalam VUCA dan menjadi ‘korban’ disrupsi. Dalam hal ini, membangun kesiapan di atas tidak dapat hanya dilakukan oleh pemerintah, melainkan juga membutuhkan kerja sama dari para pelaku usaha dan industri berupa inisiatif-inisiatif terobosan dan inovasi;
  5. Terkait dengan poin di atas, diperlukan perubahan mindset para pimpinan puncak organisasi untuk tidak membiarkan manajemen organisasi terjebak dalam zona nyaman, serta berkomitmen untuk membangun kultur pembelajaran dan inovasi di tiap lini organisasi;
  6. Tidak kalah penting juga adalah senantiasa meningkatkan kapasitas manajemen risiko organisasi agar inovasi dan terobosan yang berlangsung di lingkungan organisasi berjalan dengan risiko yang diambil secara terukur;
  7. Pemanfaatan berbagai teknik asesmen risiko yang tersedia dalam ISO 31010, melengkapi berbagai kajian yang dijalankan oleh manajemen organisasi dalam menentukan inovasi dan terobosan, menjadi pilihan sangat masuk akal bagi seluruh jajaran manajemen organisasi.

Akhir kata, besar harapan IRMAPA bahwa ICRMIA dapat terlaksanakan secara berkala, di mana melalui acara ini ‘terbit’ berbagai pemikiran inovasi dan terobosan dalam hal pemanfaatan manajemen risiko dalam meningkatkan ketangguhan organisasi dan industri di Indonesia.

acis
– Salah satu sesi plenary ACISE & ICRMIA yang menampilkan Ketua Umum IRMAPA. –

 

Liputan mengenai acara ACISE & ICRMIA juga tersedia di: https://www.undip.ac.id/language/id/archives/11397.