Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Allianz Risk Barometer 2026 menempatkan risiko siber dan kecerdasan buatan (AI) sebagai ancaman terbesar bagi perusahaan global pada tahun depan. Laporan ini menunjukkan dunia usaha menghadapi tekanan baru dari serangan digital, gangguan rantai pasok, hingga konflik geopolitik.

Laporan dari Allianz Commercial tersebut melibatkan 3.338 responden dari 97 negara dan wilayah. Responden berasal dari kalangan manajemen risiko, broker, perusahaan asuransi, hingga pelaku industri global.

Risiko siber berada di posisi pertama dengan 42% suara responden. Sementara AI naik drastis ke posisi kedua dengan 32%, setelah tahun sebelumnya masih berada di peringkat ke-10.

Allianz Risk Barometer 2026 Soroti Ancaman Siber

Allianz menyebut risiko siber menjadi ancaman nomor satu selama lima tahun berturut-turut. Ancaman ini mencakup ransomware, kebocoran data, hingga gangguan layanan digital.

Perusahaan kini semakin bergantung pada layanan cloud dan sistem digital pihak ketiga. Ketika satu layanan terganggu, dampaknya bisa meluas ke rantai pasok dan operasional bisnis.

Allianz juga mencatat 90% responden berencana meningkatkan investasi perlindungan siber untuk menghadapi ancaman baru berbasis AI.

AI Jadi Risiko Baru Dunia Bisnis

Kenaikan AI menjadi salah satu temuan utama dalam laporan tahun ini. Allianz menilai banyak perusahaan mulai melihat AI sebagai sumber risiko operasional, hukum, dan reputasi.

Risiko AI meliputi kesalahan sistem otomatis, penyalahgunaan data, deepfake, hingga disinformasi. Banyak perusahaan juga dinilai belum siap menerapkan tata kelola AI secara matang.

Meski begitu, 44% responden percaya AI masih memberi manfaat lebih besar dibanding risikonya. Sementara 19% responden menilai AI justru membawa risiko lebih besar.

Untuk menghadapi perubahan ini, perusahaan mulai fokus pada pelatihan ulang dan peningkatan keterampilan tenaga kerja.

Gangguan Rantai Pasok Dan Konflik Global Meningkat

Gangguan bisnis dan rantai pasok berada di posisi ketiga risiko global dengan 29% suara responden. Konflik geopolitik, perang dagang, dan perubahan tarif dinilai menjadi pemicu utama tekanan terhadap rantai distribusi global.

Menariknya, hanya 3% responden yang menilai rantai pasok perusahaan mereka sangat tangguh menghadapi krisis. Selain itu, risiko politik dan kekerasan naik ke posisi ketujuh. Perang, kerusuhan sipil, dan proteksionisme perdagangan menjadi kekhawatiran yang makin besar bagi dunia usaha global.

Risiko Iklim Masih Membayangi

Bencana alam dan perubahan iklim tetap masuk daftar risiko utama bisnis global. Allianz mencatat kerugian akibat bencana alam pada 2025 diperkirakan mencapai lebih dari US$100 miliar untuk tahun keenam berturut-turut.

Gangguan rantai pasok akibat cuaca ekstrem juga menjadi perhatian utama perusahaan. Mulai dari banjir, badai, hingga kebakaran hutan kini berdampak langsung terhadap produksi dan distribusi barang.

Allianz menilai perusahaan perlu membangun strategi ketahanan bisnis yang lebih terintegrasi. Risiko siber, AI, geopolitik, dan perubahan iklim kini saling terhubung dan dapat memicu gangguan secara bersamaan.

Artikel ini telah diterbitkan oleh Allianz Commercial  dengan judul Allianz Risk Barometer 2026. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.