Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Transisi energi global memasuki fase krusial menjelang 2030, namun laju pengembangan teknologi rendah karbon dinilai belum cukup untuk mencapai target net zero pada 2050. Evaluasi terbaru pada 2025 menunjukkan bahwa meski investasi energi bersih terus meningkat, implementasinya masih tertinggal dibanding ambisi yang telah ditetapkan sejak Perjanjian Paris lebih dari satu dekade lalu.

Saat ini, sekitar 77 persen ekonomi dunia telah memiliki target net zero, baik dalam bentuk usulan maupun regulasi resmi. Namun, kurang dari 15 persen teknologi rendah emisi yang dibutuhkan untuk mencapai target 2050 telah benar-benar diterapkan. Angka ini hanya naik beberapa persen dibanding dua tahun sebelumnya.

Transisi Energi dan Tantangan Menuju Target 2030

Transisi energi tidak hanya soal komitmen, tetapi juga soal realisasi proyek di lapangan. Analisis terhadap sembilan teknologi dekarbonisasi utama di China, Eropa (Uni Eropa, Norwegia, Swiss, dan Inggris), serta Amerika Serikat menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah tersebut belum berada di jalur yang tepat untuk memenuhi target teknologi bersih 2030.

Secara global, emisi karbon justru meningkat 9 persen sejak 2015 hingga 2024, atau bertambah sekitar 3,3 gigaton. Kenaikan ini dipicu oleh pertumbuhan populasi, industrialisasi, peningkatan pendapatan, serta permintaan energi baru seperti pusat data. Meski demikian, terdapat perkembangan positif dari sisi intensitas karbon: emisi CO2 per unit PDB menurun, yang berarti dunia semakin efisien dalam menghasilkan nilai ekonomi dengan emisi lebih rendah.

China mencatat kenaikan emisi sebesar 21 persen dalam periode tersebut, seiring pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi. Namun, China juga menjadi pemimpin dalam pembangunan energi terbarukan. Kapasitas gabungan angin dan surya telah mencapai sekitar 1,2 terawatt, melampaui target 2030 lebih cepat dari jadwal. Meski begitu, untuk selaras dengan ambisi net zero 2060, China diperkirakan membutuhkan 3,4 terawatt pada 2030.

Sebaliknya, emisi di Eropa turun 18 persen dan di Amerika Serikat turun 8 persen sejak 2015, sebagian berkat kebijakan seperti sistem perdagangan emisi Uni Eropa dan regulasi pembangkit listrik di AS. Namun, penurunan di Eropa juga dipengaruhi oleh melemahnya output industri, yang berpotensi memindahkan, bukan menghilangkan emisi.

Dari sisi teknologi, energi surya menjadi pendorong utama transisi energi. Pada 2024, kapasitas energi terbarukan global naik 15 persen atau 585 gigawatt, dan penjualan kendaraan listrik meningkat 25 persen menjadi sekitar 17 juta unit. Biaya panel surya yang semakin murah membuat adopsinya meluas, termasuk untuk atap rumah dan sektor komersial.

Sebaliknya, angin lepas pantai dan hidrogen hijau tertinggal dari target 2030. Banyak proyek ditunda atau dibatalkan akibat inflasi biaya, kenaikan suku bunga, dan ketidakpastian regulasi. Sistem penyimpanan energi baterai berkembang cepat, tetapi kapasitas yang direncanakan masih belum cukup untuk memenuhi target.

Perlambatan transisi energi dipengaruhi tiga faktor utama: pergeseran fokus kebijakan, kenaikan biaya proyek, dan ketidakpastian geopolitik. Sejak 2020, sejumlah negara meninjau ulang komitmen iklimnya. Kenaikan suku bunga juga meningkatkan biaya pembiayaan proyek energi bersih hingga 10–20 persen.

Dengan waktu kurang dari lima tahun menuju 2030, percepatan implementasi teknologi rendah karbon menjadi kunci. Tanpa langkah konkret dalam waktu dekat, target net zero 2050 akan semakin sulit dicapai.

Artikel ini telah diterbitkan oleh McKinsey, dengan judul Tracking the energy transition: Where are we now?. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.