Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Tata kelola AI kini menjadi isu penting di level eksekutif, seiring makin luasnya penggunaan kecerdasan buatan di perusahaan. Teknologi ini tidak lagi sekadar eksperimen, tetapi sudah dipakai untuk pengambilan keputusan, otomatisasi proses, hingga meningkatkan layanan pelanggan.

Perubahan ini membuat pimpinan perusahaan harus berpikir ulang. Fokusnya bukan lagi apakah AI perlu digunakan, tetapi bagaimana memastikan penggunaannya aman, terkontrol, dan sesuai tujuan bisnis.

Risiko AI Kini Masuk Risiko Perusahaan

Penggunaan AI membawa dampak langsung ke berbagai aspek bisnis. Mulai dari laporan keuangan, kepatuhan regulasi, hingga reputasi perusahaan.

Masalahnya, risiko AI sering kali tidak terlihat di awal. Misalnya keputusan yang dihasilkan AI sulit dijelaskan, atau muncul bias yang merugikan kelompok tertentu. Ada juga risiko kebocoran data dan penyalahgunaan informasi.

Karena itu, risiko AI tidak bisa dianggap sebagai urusan tim teknologi saja. Risiko ini menyentuh seluruh organisasi dan perlu diawasi di tingkat manajemen.

Dari Uji Coba ke Sistem yang Terstruktur

Banyak perusahaan memulai AI dari proyek kecil. Biasanya berupa uji coba di satu divisi. Pendekatan ini memang cepat, tetapi tidak bisa dipakai dalam jangka panjang. Saat penggunaan AI makin luas, perusahaan butuh sistem yang lebih rapi.

Di sinilah tata kelola AI menjadi penting. Perusahaan perlu menetapkan siapa yang bertanggung jawab atas sistem AI, bagaimana proses persetujuan dilakukan, serta bagaimana kinerja AI dipantau.

Tanpa struktur yang jelas, penggunaan AI justru bisa menimbulkan masalah baru.

Tata Kelola AI Bukan Penghambat Inovasi

Ada anggapan bahwa aturan akan memperlambat inovasi. Namun dalam praktiknya, tata kelola justru membantu perusahaan bergerak lebih pasti.

Dengan aturan yang jelas, perusahaan bisa mengurangi ketidakpastian. Risiko bisa diidentifikasi lebih awal, sehingga keputusan bisnis jadi lebih terarah.

Tata kelola AI juga sebaiknya tidak berdiri sendiri. Perusahaan bisa menggabungkannya dengan sistem yang sudah ada, seperti manajemen risiko dan kontrol internal.

Pendekatan ini membuat proses lebih konsisten tanpa menambah beban baru.

Peran Penting Pimpinan dan Dewan

Penggunaan AI tidak bisa dilepas begitu saja ke tim teknis. Pimpinan bisnis tetap harus bertanggung jawab atas keputusan yang dihasilkan AI.

Artinya, setiap penggunaan AI harus jelas pemiliknya. Selain itu, tim risiko, hukum, dan keamanan perlu dilibatkan sejak awal.

Dewan direksi juga mulai memberi perhatian lebih pada isu ini. Mereka ingin tahu bagaimana AI digunakan, apa risikonya, dan bagaimana perusahaan mengendalikannya.

Tetap Butuh Peran Manusia

Meski AI bisa meningkatkan efisiensi, peran manusia tetap penting. Keputusan akhir tidak bisa sepenuhnya diserahkan ke mesin.

Perusahaan perlu menentukan kapan AI harus ditinjau manusia. Selain itu, kinerja AI harus terus dipantau agar tidak menyimpang dari tujuan awal.

Langkah ini juga penting untuk kebutuhan audit dan evaluasi di masa depan.

AI Harus Dikendalikan

Penggunaan AI akan terus berkembang dan menjadi bagian inti bisnis. Namun tanpa tata kelola AI yang kuat, manfaatnya bisa berubah menjadi risiko.

Perusahaan yang mampu mengelola AI dengan baik akan lebih siap menghadapi tekanan regulasi dan persaingan pasar. Mereka juga lebih dipercaya oleh pelanggan dan mitra.

Pada akhirnya, AI bukan hanya soal teknologi. Ini soal bagaimana perusahaan mengelola risiko dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Artikel ini telah diterbitkan oleh ISACA, dengan judul Responsible AI: From Emerging Technology to Executive Governance Imperative. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.