Press Release: Webminar Internasional IRMAPA | Dunia AI Yang Penuh Abu-Abu

//Press Release: Webminar Internasional IRMAPA | Dunia AI Yang Penuh Abu-Abu

Press Release: Webminar Internasional IRMAPA | Dunia AI Yang Penuh Abu-Abu

Penulis: Alfian Zata Thirafi, Sarah Puspitasari & Aprilia Kumala

Editor: Sekretariat IRMAPA

Gelaran acara webinar internasional IRMAPA pada tanggal 31 Maret 2021 lalu meninggalkan banyak ilmu dari narasumber yang hadir. Salah seorang narasumber yang hadir adalah Peter Verhezen dari Verhezen & Associates. Beliau merupakan seorang konsultan manajemen risiko sekaligus visiting profesor di Universitas Antwerp dan Antwerp Management School di Belgium sejak tahun 2013. Dalam sesinya, Peter menjabarkan paparannya bertajuk “The Good, the Bad, and the Ugly of Artificial Intelligence and Digital Economy” atau berarti “Kebaikan, Kekurangan, dan Keburukan Kecerdasan Buatan dan Ekonomi Digital”.

Bagaimana penggunaan/pengaplikasian AI dilakukan
Dua pendekatan AI terdiri dari bagian pertama augmentation, yaitu session power dari manusia dengan tugas harian asisten virtual, analisis data, software solutions, dan pengurangan eror, serta bagian kedua automation, yaitu adanya robot yang mampu menghadapi tugas berulang.

AI berusaha meniru fungsi kerja otak melalui Convolutional Neutral Network (CNN) sebagai machine learning-nya, yaitu teknik yang terinspirasi dari cara manusia menghasilkan persepsi visual dengan cara mendeteksi dan mengenali objek pada sebuah image. Kapasitas digital mesin (AI) vs manusia ini, jika dibandingkan, akan menunjukkan keunggulan mesin, di mana ia mampu menunjukkan hasil yang lebih baik daripada manusia dalam grafisnya. Pada tahun 2014, implikasi mesin bahkan menunjukkan tingkat keakuratan yang jauh lebih baik.

AI sangat berguna untuk keperluan bisnis, tetapi juga memiliki batasan
Pertama-tama, perlu diingat bahwa komputer adalah sebuah mesin yang pada dasarnya mencari data dan mengikuti pattern yang ada. Dia bekerja dalam hitungan statistik untuk menemukan korelasi terbaik. Perbedaannya dengan otak manusia adalah kemampuannya menemukan pattern korelasi (otak manusia tidak bisa melakukan ini).

Keuntungan kecerdasan buatan yang dihasilkan adalah kemampuannya untuk digunakan di bidang visual and speech recognition, kesehatan, kendaraan otonomi, pemulihan bencana, serta pemberdayaan finansial yang lebih baik. Di sisi lain, manusia bisa saling berkomunikasi mengenai penemuan dan pemahaman mereka melalui bahasa—sesuatu yang tak bisa dilakukan oleh mesin ataupun komputer.

Sisi gelap AI dan pengendaliannya
Apa saja sisi gelap dari kecerdasan buatan?

Yang pertama adalah bias yang besar. Bias ini termasuk pada bagaimana data recognition yang dihasilkan bisa bersifat kontroversial. Apakah data ini sudah mewakili seluruh jumlah populasi? Yang kedua adalah masalah keadilan yang juga belum bisa dipastikan. misalnya keadilan data yang digunakan. Yang ketiga adalah kemungkinan data berubah menjadi tidak etis, misalnya digunakan untuk blackmail dan fake news.

Lalu, bagaimana cara mengontrol sisi gelap dari AI atau kecerdasan buatan? Dalam proses digital, hal paling penting yang tidak boleh dilupakan adalah adanya keamanan siber sebagai garda utama menghadapi ancaman yang sekiranya mampu merusak aset-aset tertentu, seperti data, karyawan/manusia, infrastruktur, dan aplikasi.


-o0o-

By |2021-04-12T18:33:02+07:00April 13th, 2021|Berita|Comments Off on Press Release: Webminar Internasional IRMAPA | Dunia AI Yang Penuh Abu-Abu

About the Author: