Perubahan aturan dan kebijakan menjadi salah satu risiko terbesar bagi dunia usaha pada 2025. Regulasi kini berada di peringkat keempat risiko global dan memengaruhi banyak sektor, mulai dari lingkungan, teknologi, hingga ketenagakerjaan.
Di tengah perubahan yang cepat, perusahaan harus mampu menyesuaikan diri agar tetap patuh aturan sekaligus menjaga keberlangsungan bisnis.
Saat ini, kebijakan pemerintah terus berubah seiring perkembangan teknologi, situasi politik global, dan tuntutan masyarakat. Perubahan ini berdampak langsung pada:
- Cara perusahaan beroperasi
- Strategi investasi
- Pengelolaan risiko
- Pengambilan keputusan bisnis
Perusahaan juga harus menyeimbangkan penggunaan teknologi baru dengan kewajiban mematuhi aturan yang terus berkembang.
Tiga Area Regulasi yang Paling Berdampak
1. Lingkungan dan Keberlanjutan
Aturan tentang emisi karbon dan energi bersih terus berubah. Contohnya, Uni Eropa menyesuaikan target netral karbon karena kondisi pasar kendaraan listrik yang melambat.
Perubahan mendadak ini membuat perusahaan bingung dalam menentukan arah investasi. Karena itu, strategi yang fleksibel sangat dibutuhkan.
2. Teknologi, AI, dan Data
Penggunaan kecerdasan buatan dan data digital semakin luas. Namun, aturan tentang privasi dan keamanan data juga makin ketat.
Di Eropa, aturan AI baru mulai berlaku sejak 2025 dan memberi sanksi besar bagi perusahaan yang melanggar. Di Amerika dan China, kebijakan data juga terus diperbarui.
Perusahaan harus aktif memantau perkembangan ini agar tidak terkena masalah hukum.
3. Transparansi Gaji
Banyak negara mulai mewajibkan perusahaan membuka informasi gaji dan memastikan kesetaraan upah.
Sayangnya, sebagian besar perusahaan belum siap. Hanya sekitar 19 persen yang merasa sudah patuh aturan. Padahal, mulai 2026, perusahaan di Uni Eropa wajib melaporkan selisih gaji jika melebihi batas tertentu.
Jika diabaikan, risiko yang muncul antara lain denda, rusaknya reputasi, dan sulit menarik talenta.
Tingkat Kerugian dan Kesiapan Perusahaan
Perubahan regulasi terbukti berdampak besar:
- 29 persen perusahaan mengalami kerugian
- Hanya 48 persen yang punya rencana menghadapi risiko
- Hanya 12 persen yang sudah menghitung dampaknya secara serius
Ini menunjukkan banyak perusahaan masih belum siap.
Strategi Mengelola Risiko Regulasi
Agar lebih siap, perusahaan perlu melakukan beberapa langkah berikut:
1. Memantau Perubahan Aturan
Bentuk tim khusus atau bekerja sama dengan ahli untuk memantau kebijakan terbaru secara rutin.
2. Menggunakan Pendampingan Hukum
Konsultan dan ahli hukum membantu memahami aturan yang rumit dan menyesuaikannya dengan kondisi perusahaan.
3. Aktif dalam Organisasi Industri
Bergabung dalam asosiasi bisnis membantu perusahaan ikut menyuarakan kepentingannya dalam penyusunan kebijakan.
4. Melatih Karyawan
Karyawan perlu memahami aturan yang berlaku melalui pelatihan dan komunikasi yang jelas.
5. Menyiapkan Rencana Darurat
Perusahaan perlu membuat skenario risiko dan melindungi diri melalui asuransi atau strategi transfer risiko.
Studi Kasus: Transparansi Gaji di Uni Eropa
Sebuah perusahaan farmasi multinasional menghadapi aturan baru tentang kesetaraan gaji. Dengan bantuan konsultan, perusahaan:
- Menata ulang struktur jabatan
- Menganalisis kesetaraan upah
- Mengidentifikasi potensi risiko
- Memperbaiki sistem penggajian
Hasilnya, perusahaan lebih siap menghadapi aturan dan menjaga kepercayaan karyawan.
Dengan strategi yang tepat, risiko bisa ditekan dan peluang bisnis tetap terbuka.
Artikel ini telah diterbitkan oleh AON, dengan judul Navigating Regulatory and Legislative Change. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.