Penulis: Dr Ir Budi Purwanto ME, QCRO
Kepala Divisi Akuntansi dan Keuangan, Departemen Manajemen FEM IPB; anggota Tim MR IPB

Artikel IRMAPA pada 3 Oktober 2019, telah membahas konsep TERINTEGRASI sebagai prinsip pertama manajemen risiko (https://irmapa.org/prinsip-01-manajemen-risiko-sni-iso-31000-terintegrasi/). Artikel itu menjelaskan mengapa manajemen risiko (MR) merupakan bagian integral dari semua aktivitas organisasi, mengapa MR yang efektif pada prinsipnya perlu ‘terintegrasi’.  Melanjutkan hal itu, artikel ini akan membahas konsep serupa tetapi tidak sama namun berhubungan, yaitu INTEGRASI sebagai pilar pertama di antara lima komponen kerangka kerja MR.

Kerangka kerja MR pada dasarnya bertujuan untuk membantu organisasi dalam mengintegrasikan  MR ke dalam aktifitas dan fungsi signifikan (SNI ISO 31000:2018 Kerangka Kerja Pengertian Umum).  Efektivitas MR bergantung pada terintegrasinya MR ke dalam tata kelola organisasi, termasuk pengambilan keputusan.  ‘Terintegrasi’ dan ‘integrasi’ merupakan dua konsep penting, serupa tetapi tak sama, berbeda namun saling terkait dalam MR.  Serupa karena keduanya terkait dengan keterpaduan, namun berbeda, sebagai prinsip ‘terintegrasi’ menjelaskan  mengapa keterpaduan merupakan elemen filosofis penting, dan sebagai kerangka kerja, ‘integrasi’ menjelaskan bagaimana keterpaduan yang merupakan komponen penting sebagai salah satu pilar penyangga berjalannya proses MR dibangun dan dikembangkan. ‘Integrasi’ merupakan komponen pertama yang menjadi dasar bagi desain, implementasi, evaluasi dan perbaikan dalam kerangka kerja MR.

 

Integrasi MR: bagaimana?

Prinsip ‘terintegrasi’ dalam MR telah memberikan panduan yang menyediakan landasan dan pedoman untuk dipertimbangkan dalam menyusun kerangka kerja dan proses-proses, menjadikan MR sebagai bagian integral dari semua aktivitas organisasi; namun bagaimana integrasinya dibentuk, pengintegrasiannya diselenggarakan dan penerapannya dilakukan?

MR merupakan bagian integral dari semua aktivitas organisasi.  MR merupakan bagian tak terpisahkan dan bergantung pada struktur dan konteks organisasi yang pada gilirannya bergantung pada tujuan, sasaran dan kompleksitas organisasi. Selanjutnya, MR juga, pada ujungnya, berfokus dan berorientasi pada visi, misi dan tujuan organisasi.  Tiap aktivitas dan tiap orang dalam organisasi menjadi bagian dari MR dan sekaligus menjadi bagian dari aktivitas dan fungsi untuk mencapai visi, misi dan tujuan organisasi.

Integrasi MR ke dalam organisasi merupakan bagian tak terpisah dalam tata kelola, struktur dan proses-proses organisasi.  Tata kelola memandu dan mengendalikan arah organisasi, hubung-hubungan eksternal dan internalnya, serta peran, proses dan praktik yang diperlukan untuk mencapainya.  MR juga merupakan bagian tak terpisah dalam pemanduan dan pengendalian arah organisasi.  Ketika organisasi menjurus pada situasi terlalu berisiko, tata kelola akan memitigasinya. Ketika organisasi mengarah pada perilaku risk averse, melemah dan terlalu takut pada risiko, tata kelola akan mengeksplorasi, mengeksploitasi dan membiayai peningkatan pengambilan aktivitas berisiko.  Integrasi MR merupakan bagian tak terpisahkan dari tata kelola organisasi.

Struktur manajemen menerjemahkan arahan tata kelola menjadi strategi dan sasaran untuk mencapai tingkat hasil yang diinginkan dari kinerja berkelanjutan dan nilai jangka panjang organisasi.  Struktur manajemen mengembangkan susunan organ-organ untuk menjalankan fungsi-fungsi organisasi, baik organ yang berbantung pada pusat (organ struktural) maupun organ yang bersifat otonom (organ fungsional).  Kerangka kerja pengambilan keputusan dan penetapan sasaran-sasaran serta perumusan strategi organisasi maupun pada tingkat organ struktural dan organ fungsional, tidak terlepas dari kerangka kerja MR.  Komponen-komponen desain, implementasi, evaluasi dan perbaikan dalam pencapaian sasaran dan kinerja organisasi sekaligus juga merupakan kerangka kerja MR.  Integrasi merupakan pilar dasar yang menyatukan kerangka kerja organisasi dan kerangka kerja MR.

 

Integrasi kerangka kerja dalam proses MR dan proses manajemen

Kerangka MR bertujuan membantu organisasi dalam mengintegrasikan MR ke dalam aktivitas dan fungsi signifikan, sejak desain, implementasi, sampai evaluasi dan perbaikan.  Aktivitas dan fungsi ini pada gilirannya akan menjadi pilar-pilar penyangga bagi proses MR yang akan dijalankan oleh organisasi.  Integrasi, dengan demikian, juga akan menjadi pilar penyangga proses-proses MR dan melekatkannya dalam proses-proses organisasi. Proses organisasi, sejak perencanaan, pengorganisasian, pengarahan sampai dengan pengendalian, merupakan proses dinamis dan berulang.  Demikian juga proses MR, komunikasi, perancangan, penilaian, perlakuan, pemantauan dan pelaporan, juga merupakan proses berulang dan dinamis, membutuhkan penyesuaian dengan kebutuhan dan budaya organisasi; penyelenggaraan keduanya agar efektif membutuhkan elemen integrasi sebagai kerangka kerjanya.

Dalam proses perencanaan program dan proyek untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi, misalnya, integrasi MR ke dalamnya merupakan bagian tak terpisahkan dalam struktur berulang aktivitas-aktivitas yang disusun.  Perancangan program dan proses pencapaiannya, serta perancangan MR termasuk perlakuannya, untuk menjamin penciptaan dan perlindungan nilai dalam susunan aktivitas yang ditrencanakan untuk mencapai sasaran dan tujuan.  Integrasi MR dalam perencanaan merupakan contoh integrasi kerangka kerja MR dalam proses organisasi.

Proses pengalokasian sumberdaya organisasi, juga tidak terlepas dari MR.  Sumberdaya organisasi selalu terbatas untuk dapat mencukupi semua kebutuhan dalam mencapai tujuan organisaasi. Efektifitas alokasi merupakan salah satu kunci keberhasilannya; dan untuk memastikan alokasi sumberdaya yang dilakukan memaksimumkan nilai yang diciptakan serta melindungi nilai yang telah dikapitalisasi, peran MR sangat penting. MR dapat mengidentifikasi, mengukur dan mengevaluasi, serta menyarankan perlakuan agar alokasi sumberdaya diarahkan untuk sebesar-besarnya penciptaan dan perlindungan nilai dari alokasi sumberdaya yang diputuskan dan akan dilakukan.

Pemimpinan dan pengendalian, merupakan dua proses organisasi penting setelah perencanaan dan pengorbanisasian yang keseluruhannya dalam organisasi merupakan proses dinamis dan berulang.  Peran pemimpinan dan pengendalian organisasi, juga tidak lepas dari peran MR.  Kepemimpinan dan komitmennya, bahkan merupakan inti dari semua komponen kerangka kerja MR.  Integrasi MR dengan pemimpinan dan pengendalian  merupakan keniscayaan agar proses organisasi efektif.  Pemimpin dan pengendali organisasi baik di puncak maupun di organ-organ struktural dan fungsional, selain berperan organisasi bergerak, berjalan dan melaju menuju tujuan dan sasaran yang dikehendaki organisasi, juga sekaligus perlu memastikan risiko organisasi berada dalam kadar dan komposisi yang tepat.  Pemimpin dan pengendali perlu menetapkan sasaran dan strategi organisasi dalam mencapai tujuan, dan demikian pula pemimpin dan pengendali perlu menetapkan selera dan menyusun kebijakan risiko.  Pemimpin dan pengendali perlu menggerakkan dan mengkordinasi aktivitas organisasi, demikian pula pemimpin dan pengendali perlu membanguin dan menyesuaikan kerangka kerja MR.  Pemimpin dan pengendali perlu melakukan alokasi sumberdaya untuk pencapaian tujuan dan sasaran, pemimpin dan pengendali juga perlu melakukan alokasi sumberdaya untuk MR.  Integrasi MR dan organisasi merupakan kerangka kerja pemimpin dan pengendali dalam menjalankan peran dan fungsi dalam organisasi.

Integrasi sebagai suatu kerangka kerja juga menyatukan atau tepatnya menterpadukan MR dengan proses organisasi.  Ini pada gilirannya akan menjadi pilar sandaran bagi penyelenggaraan proses manajemen risiko.

 

Penutup

Keterpaduan merupakan konsep penting dalam MR SNI ISO 31000:2018. MR pada prinsipnya terintegrasi atau merupakan bagian integral dari organisasi, dan ’integrasi’ sebagai salah satu komponen kerangka kerja menterpadukan MR dalam berbagai aspek organisasi, baik tata kelola, struktur organisasi, proses manajemen, maupun proses MR yang yang akan dibangun dan dikembangkan bersandar pada kerangka kerja.  MR diintegrasikan dengan cara dilekatkan pada semua proses tata kelola, proses organisasi, dan proses manajemen, serta dicanangkan untuk dandaran pembangunan dan pengembangan dan proses MR.  Pembahasan singkat ini menunjukkan bahwa filosofi dan penjabarannya MR bukan merupakan bagian terpisah, melainkan bagian terpadu dalam setiap aktivitas organisasi. Namun karena SNI ISO 31000:2018 sebagai standar menjelaskan kedua konsep (dan semua hal lain) “terlalu” singkat, berbagai pihak termasuk para praktisi dan pemikir, diharapkan dapat terus mengembangkan penjelasan berdasarkan pengalaman-pengalaman dan gagasan-gagasan untuk menerangkan dan memudahkan dalam implementasi MR.