Penulis: Dr. Antonius Alijoyo, ERMCP, CERG
Ketua Umum IRMAPA
Ketua Komite Teknis 03-10: Tata Kelola, Manajemen Risiko, dan Kepatuhan – Badan Standarisasi Nasional (BSN) Indonesia.

ECIIA – ‘European confederation of institutes of internal auditing’, yaitu kolaborasi tujuh institusi auditor internal dari Perancis, Jerman, Itali, Belanda, Spanyol, Swedia dan Inggris termasuk Irlandia, secara teratur mengeluarkan hasil studi tahunan mengenai risiko utama global yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan kelas dunia.

Hasil studi dijadikan rujukan bagi pimpinan eksekutif tertinggi (CEO – Chief Executive Officer), pimpinan eksekutif manajemen risiko (CRO – Chief Risk Officer), dan pimpinan eksekutif audit internal (CAE – Chief Audit Executive) perusahaan multinasional dalam penyusunan strategi berbasis risiko dan ikutannya yaitu program audit internal berbasis risiko.

Studi terakhir mereka yaitu ECIIA ‘Risk Focus 2019’ yang kemudian dirangkum oleh Center for Risk Management Studies (www.crmsindonesia.org), memperkirakan 6 potensi risiko bisnis utama untuk tahun 2019:

Risiko Siber, Risiko Kepatuhan, Risiko Keamanan Informasi, Risiko Lingkungan Kerja, Risiko Pembatasan Perdagangan, Risiko Kegagalan Adopsi Teknologi.

  1. Risiko Siber:
    Tantangan utama memitigasi risiko siber adalah tidak terintegrasinya infrastruktur teknologi informasi yang dibangun oleh suatu organisasi ketika risiko siber masih dianggap belum berbahaya. Dengan berkembang pesatnya risiko siber, infrastruktur teknologi informasi dalam organisasi tersebut tidak akan cukup kuat untuk menanggulanginya.
  2.  Risiko Kepatuhan
    Risiko kepatuhan diyakini semakin berbahaya karena tren regulasi yang saat ini semakin ketat. Selain itu, lembaga penegak hukum mulai bekerja sama secara lintas geografis dan lintas sektoral, serta semakin agresif dalam menganalisis pelanggaran dan menjatuhkan penalti.
  3. Risiko Kemananan Informasi
    Pergerakan data di internet per hari telah mencapai ‘2.5 quintillion bytes’ di tahun 2017, atau setara dengan memutar sebuah video berdurasi 375,000 tahun. Pesatnya aliran data tersebut akan membuat jenis data yang bergerak semakin kompleks, kaya, dan berharga, yang akhirnya menjadi potensi untuk dicuri/tercuri dan/atau disandera.
  4. Risiko Lingkungan Kerja
    Lahirnya berbagai peraturan dan ketentuan baru yang mewajibkan organisasi memberikan laporan transparan mengenai pengelolaan lingkungan kerja dan isu sosial. Pelaporan ini harus merangkum praktik pengelolaan sumber daya manusia, mulai dari kesejahteraan pekerja hingga keberagaman latar belakang dewan direktur.
  5. Risiko Pembatasan Perdagangan
    Terjadinya Brexit, pemberlakuan proteksionisme Amerika Serikat, hingga persaingan impor Amerika Serikat dengan China, membuat situasi perdagangan dunia dinilai semakin kompleks. Kompleksitas tersebut telah merambat pada beberapa mekanisme transaksi lintas negara sehingga menghambat pertumbuhan ekonomi global.
  6. Risiko Kegagalan Adopsi Teknologi
    Sementara kerugian yang dapat dibawa oleh kegagalan adopsi teknologi dalam suatu proyek berskala besar dapat menjadi sangat kritikal, organisasi seringkali mengadopsi teknologi baru tanpa menerapkan analisis yang cukup (misalnya kompatibilitas teknologi dengan lingkungan makro dan mikro dari proyek).

Demikian isi singkat hasil studie ECIIA tahun 2019, mudah-mudahan bermanfaat bagi praktisi dan profesional manajemen risiko Indonesia yang saat ini berkarya di organisasi dengan eksposur global dan/atau regional.

———