Ekonomi Melambat atau Pemulihan Lambat?
Perlambatan ekonomi atau pemulihan lambat merujuk pada kondisi penurunan ekonomi yang memengaruhi kemampuan pelanggan untuk membeli produk atau layanan. Situasi ini berdampak pada permintaan dan penawaran, yang bisa disebabkan oleh peristiwa global seperti krisis keuangan 2008 atau pandemi COVID-19, maupun peristiwa lokal seperti ketidakstabilan geopolitik atau masalah produktivitas.
Mengapa Perlambatan Ekonomi Merupakan Risiko Besar bagi Bisnis?
Ketidakpastian mengenai berapa lama perlambatan ekonomi akan berlangsung membuat perusahaan cenderung mengambil langkah defensif dengan fokus pada likuiditas, pengendalian biaya, dan manajemen tenaga kerja. Dampak dari perlambatan ekonomi meliputi:
- Pendapatan Terhambat atau Menurun: Ketika konsumsi menurun, pendapatan bisnis bisa terpengaruh karena perubahan kebiasaan belanja konsumen.
- Gangguan Rantai Pasokan: Krisis ekonomi bisa menyebabkan kekurangan bahan baku atau produk, yang mempersulit bisnis untuk memenuhi permintaan.
- Kesulitan Pembiayaan: Arus kas menjadi krusial, sementara akses ke pendanaan baru bisa semakin sulit karena pihak pemberi pinjaman menjadi lebih berhati-hati.
- Kebijakan Pemotongan Biaya: Pengurangan staf sering kali menjadi langkah untuk menghemat biaya, meskipun menjaga motivasi karyawan yang tersisa bisa menjadi tantangan.
- Dampak Globalisasi: Teknologi memungkinkan bisnis beroperasi secara global, sehingga dampak krisis ekonomi di suatu wilayah bisa meluas ke area lain.
Perlambatan ekonomi cenderung berulang setiap dekade. Tren seperti populasi yang menua, perubahan iklim, dan adopsi kecerdasan buatan yang luas bisa memperparah ketidakpastian ekonomi. Misalnya, peningkatan kerja jarak jauh telah memengaruhi sektor properti komersial, yang dapat berdampak negatif pada industri perbankan.
Bagaimana Cara Mitigasi Dampak Perlambatan Ekonomi?
- Meningkatkan Cadangan Kas: Likuiditas yang lebih tinggi bisa membantu bisnis menghadapi penurunan pendapatan dan memungkinkan mereka berinvestasi di area inovasi.
- Perencanaan Tenaga Kerja: Strategi awal yang mencakup penilaian keterampilan bisa mengurangi dampak gangguan tenaga kerja.
- Fokus pada Risiko Terintegrasi: Mengelola risiko yang saling terkait seperti siber, reputasi, dan rantai pasokan bisa membantu mencegah kerugian berantai.
- Diversifikasi: Memperluas basis pemasok dan pelanggan dapat membantu bisnis bertahan dari perubahan ekonomi yang tidak menentu.
Mengantisipasi dan merencanakan perlambatan ekonomi membantu organisasi tetap tangguh dan beradaptasi dengan kondisi yang terus berubah.
Artikel ini telah diterbitkan oleh AON, dengan judul “Economic Slowdown or Slow Recovery” pada 8 November 2023. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
5 Strategi Kunci Menghadapi dan Mengurangi Risiko Rantai Pasokan
Dalam beberapa tahun terakhir, pergeseran politik, bencana alam, dan pandemi telah mengungkapkan kerentanan dalam rantai pasokan global. Di tengah ketidakpastian yang terus berlanjut, perusahaan perlu memikirkan cara untuk mengurangi risiko yang dihadapi, terutama terkait dengan ketergantungan pada pasar tertentu, seperti China.
- Memahami Paparan Risiko Geopolitik
Perusahaan harus melakukan tinjauan menyeluruh terhadap produk dan lokasi pengiriman untuk memahami dampak yang mungkin ditimbulkan oleh kejadian geopolitik. Menunjuk tim yang khusus menangani risiko akan memastikan manajemen risiko yang berkelanjutan.
- Memilih Pemasok Alternatif
Perusahaan perlu menentukan produk mana yang dapat menggunakan pemasok alternatif. Meskipun pemasok di China biasanya menawarkan biaya terendah, mencari pemasok di negara lain seperti India atau Indonesia dapat membantu mendiversifikasi risiko.
- Menilai Pasar Relokasi
Evaluasi pasar baru harus mempertimbangkan biaya operasional, lingkungan bisnis, dan insentif publik. Meskipun reshoring (penempatan kembali) dan otomatisasi sedang berkembang, perusahaan perlu memastikan bahwa keputusan mereka tidak mengunci mereka dalam kesepakatan yang merugikan.
- Memastikan Pemantauan Pemasok Baru
Perusahaan harus memastikan pemasok baru memenuhi kewajiban kontrak mereka. Hal ini penting agar strategi de-risking (mengurangi risiko) tidak terganggu oleh pemasok yang hanya mengandalkan komponen dari China.
- Mengoptimalkan Inventaris dan Arus Kas
Untuk menghadapi ketidakpastian, banyak perusahaan yang membangun inventaris. Namun, hal ini dapat berdampak buruk pada kesehatan keuangan jangka panjang. Perusahaan perlu mengembangkan pemasok alternatif dan menyesuaikan campuran inventaris untuk menghindari masalah stok.
Dengan menerapkan strategi-strategi ini, perusahaan dapat mengurangi risiko yang dihadapi sekaligus membangun ketahanan yang lebih baik dalam rantai pasokan mereka.
Artikel ini telah diterbitkan oleh OliverWyman, dengan judul “5 Key Strategies To Navigate And Reduce Supply Chain Risk”. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Mengoptimalkan Jaringan Manufaktur untuk Mengurangi Biaya dan Emisi Karbon
Dalam menghadapi perubahan dan tuntutan global, perusahaan manufaktur saat ini perlu mengoptimalkan jaringan pabrik dan distribusi mereka untuk tetap kompetitif. Tidak hanya harus menjaga efisiensi energi, tetapi juga semakin penting bagi mereka untuk memprioritaskan keberlanjutan dan ketahanan dalam operasional mereka, di samping fokus pada biaya, tingkat layanan, dan pertumbuhan.
Berikut adalah aspek-aspek utama yang perlu diperhatikan:
- Biaya
Optimalisasi biaya adalah langkah penting bagi produsen dalam memenuhi permintaan pasar saat ini dan masa depan. Ini mencakup alokasi produk ke pabrik yang tepat, memaksimalkan skala ekonomi, dan mengurangi biaya logistik dengan menempatkan fasilitas dekat bahan baku atau pelanggan. - Tingkat Layanan
Mempertahankan tingkat layanan yang memadai sangat penting untuk menjamin waktu pengiriman yang cepat dan andal. Misalnya, industri semen sering menggunakan jaringan desentralisasi agar dekat dengan pelanggan, sementara farmasi dan otomotif mungkin memiliki jaringan lebih terpusat. - Pertumbuhan
Perusahaan juga berupaya membuka peluang baru dengan inovasi produk dan ekspansi pasar. Namun, inisiatif ini kerap membutuhkan penyesuaian jaringan manufaktur agar mampu mengimbangi permintaan baru. - Keberlanjutan
Dorongan untuk keberlanjutan berasal dari konsumen dan regulasi pemerintah, seperti EU Green Deal dan Corporate Sustainability Reporting Directive. Produsen harus lebih transparan dalam rantai pasokan mereka dan menyesuaikan dengan persyaratan dekarbonisasi yang terus berkembang. - Ketahanan
Ketahanan rantai pasokan menghadapi tantangan seperti bencana alam dan ketidakstabilan geopolitik. Produsen dapat meningkatkan ketahanan dengan diversifikasi pemasok, menambah mitra distribusi, atau memindahkan gudang lebih dekat ke pasar.
Optimalisasi jaringan membutuhkan pendekatan berbasis data dan fakta untuk memastikan transparansi dan menetapkan jalur menuju net zero. Perusahaan perlu melakukan tinjauan menyeluruh terhadap jaringan mereka dan menentukan potensi perbaikan EBITDA. EBITDA adalah singkatan dari “Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization,” yang dalam bahasa Indonesia berarti “Pendapatan Sebelum Bunga, Pajak, Depresiasi, dan Amortisasi.” Langkah-langkah ini mencakup membangun pabrik baru, mempertimbangkan perubahan peraturan regional, dan mengalokasikan modal untuk dekarbonisasi.
Optimalisasi jaringan manufaktur adalah langkah strategis jangka panjang yang melibatkan pengelolaan biaya, keberlanjutan, dan ketahanan. Perusahaan yang berhasil melakukan optimalisasi ini akan mendapatkan manfaat finansial sekaligus berkontribusi pada kesehatan planet di masa depan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh BCG, dengan judul “Reducing Costs and Carbon in Manufacturing Networks” pada 7 Oktober 2024. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Menghadapi Lima Tekanan dalam Transformasi Manajemen Risiko
Di tengah perubahan dunia yang terus bergerak, peran manajemen risiko dalam organisasi juga berkembang. Tak hanya berfokus pada mitigasi ancaman, kini manajemen risiko semakin strategis dengan tujuan mendukung pertumbuhan dan daya saing perusahaan. Fungsi ini membantu organisasi menghadapi ketidakpastian sekaligus membangun kepercayaan di kalangan pemangku kepentingan.
Survei Chief Risk Officer (CRO) 2023 dari KPMG yang melibatkan 390 eksekutif risiko di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa fungsi risiko akan mengalami transformasi besar dalam lima tahun ke depan. Berikut lima tekanan utama yang mendorong transformasi ini:
- De-Risking di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
De-risking membantu mengurangi eksposur terhadap sektor berisiko tinggi, terutama di masa ketidakstabilan ekonomi dan politik. Strategi ini dilakukan dengan memindahkan investasi ke pasar yang lebih aman dan memperketat kepatuhan. - Penyesuaian dengan Pertumbuhan Strategis
Organisasi yang adaptif pada peluang pasar dan teknologi baru perlu menyelaraskan manajemen risiko dengan strategi bisnis, dengan dukungan penuh dari para eksekutif untuk mencapai tujuan. - Kepatuhan Regulasi yang Semakin Ketat
Regulasi global yang terus berkembang menuntut pendekatan manajemen risiko yang proaktif, membantu organisasi untuk patuh sekaligus mendukung pertumbuhan cerdas. - Efektivitas dan Efisiensi Risiko melalui Teknologi
Teknologi AI dan analitik data menjadi pendorong utama dalam meningkatkan efektivitas manajemen risiko, dengan fokus pada pelatihan, kebijakan, dan akuntabilitas yang lebih baik. - Penghematan Biaya
Biaya manajemen risiko yang terus meningkat mendorong organisasi mencari efisiensi, misalnya melalui outsourcing dan otomatisasi proses, tanpa mengorbankan kontrol risiko.
Dengan peran strategis mencakup efisiensi, kepatuhan, dan pertumbuhan, organisasi yang berhasil mengintegrasikan manajemen risiko akan memperoleh keunggulan kompetitif berkelanjutan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh ERMA, dengan judul Five Mounting Pressures Propelling Risk Transformation. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Strategi Efektif dalam Manajemen Risiko Siber: Mengapa Kuantifikasi Risiko Sangat Penting
Dalam era digital saat ini, organisasi dihadapkan pada tantangan besar dalam mengidentifikasi dan mengelola risiko siber. Dengan semakin terhubungnya bisnis dan ketergantungan pada teknologi pihak ketiga, perlindungan terhadap aset digital menjadi semakin kompleks. Untuk menghadapi tantangan ini, pemimpin di sektor bisnis dan keamanan harus secara proaktif mengelola risiko siber agar dapat mencapai tujuan strategis mereka.
Tantangan dalam Manajemen Risiko Tradisional
Banyak organisasi masih mengandalkan kerangka kerja tata kelola, risiko, dan kepatuhan atau governance, risk, and compliance (GRC) yang kurang efektif dalam mengumpulkan dan menganalisis data dari berbagai sumber. Hal ini sering kali mengakibatkan pemahaman yang terbatas tentang posisi risiko mereka, sehingga menghambat pengambilan keputusan yang tepat.
Metode tradisional yang bergantung pada metrik kualitatif tidak menyediakan data objektif dan terukur yang diperlukan untuk penilaian risiko yang akurat. Akibatnya, fokus perusahaan cenderung pada kepatuhan daripada pemahaman mengenai risiko siber.
Para pemimpin keamanan sering kali menghadapi tantangan utama dalam mengelola risiko siber, seperti mengidentifikasi risiko siber yang paling signifikan dan memahami potensi dampak finansial yang mungkin timbul akibat risiko tersebut. Selain itu, mereka perlu memastikan bahwa strategi keamanan siber yang diterapkan selaras dengan lanskap ancaman yang ada saat ini. Penting juga bagi mereka untuk dapat menunjukkan pengembalian investasi keamanan kepada pemangku kepentingan dan menentukan alokasi anggaran keamanan yang tepat untuk mencapai dampak maksimum.
Untuk mengatasi tantangan ini secara efektif, organisasi perlu mengadopsi program manajemen risiko siber yang strategis dengan mengintegrasikan Kuantifikasi Risiko Siber atau cyber risk quantification (CRQ). CRQ adalah pendekatan analitis yang mengumpulkan dan menganalisis data dari berbagai sumber untuk memberikan pandangan komprehensif mengenai risiko siber. Dengan menghasilkan estimasi probabilistik tentang dampak finansial dari peristiwa siber, CRQ membantu bisnis menyelaraskan strategi mereka dengan profil risiko yang ada.
Program yang mengadopsi CRQ memungkinkan organisasi untuk:
- Mengukur dan mengelola risiko sebelum mempengaruhi operasi bisnis.
- Membenarkan investasi dalam keamanan siber berdasarkan penilaian risiko yang akurat.
- Meningkatkan proses pengambilan keputusan dengan menyediakan wawasan yang relevan dalam istilah bisnis.
Beralih dari GRC ke Manajemen Risiko Terintegrasi (IRM)
Walaupun alat GRC biasanya berfokus pada pelacakan kepatuhan, mereka tidak efektif dalam mengukur risiko dalam istilah moneter. Untuk itu, transisi menuju Manajemen Risiko Terintegrasi atau Integrated Risk Management (IRM) diperlukan dengan penekanan pada kuantifikasi statistik risiko. Dengan mengadopsi CRQ, organisasi dapat mematangkan program manajemen risiko mereka dan membuat keputusan yang lebih tepat yang sejalan dengan tujuan bisnis.
Manfaat Menerapkan CRQ
Organisasi yang menerapkan CRQ dapat meraih berbagai manfaat, antara lain:
- Meningkatkan Ketahanan Siber: Pengukuran eksposur risiko yang akurat memungkinkan tindakan mitigasi yang tepat waktu.
- Pengambilan Keputusan yang Terkoordinasi: Wawasan yang disajikan dalam bahasa bisnis menyelaraskan keamanan siber dengan tujuan keseluruhan perusahaan.
- Pengeluaran yang Lebih Efisien: Peningkatan akurasi data dapat meningkatkan efektivitas kontrol dan alokasi sumber daya.
- Pengurangan Biaya Asuransi Siber: CRQ menyediakan data yang diperlukan untuk bernegosiasi mengenai syarat asuransi yang lebih baik dan mengurangi biaya yang tidak perlu.
Memahami dan mengkuantifikasi risiko siber sangat penting bagi keberhasilan organisasi modern. Dengan menerapkan CRQ, bisnis dapat menghubungkan ancaman siber dengan pengambilan keputusan strategis, yang pada gilirannya meningkatkan ketahanan dan efisiensi operasional. Para pemimpin keamanan siber harus mendorong pendekatan terintegrasi ini, sehingga organisasi dapat dengan lebih baik menghadapi kompleksitas lanskap digital saat ini.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Booz Allen, dengan judul “Transforming Your Cyber Risk Management Program”. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Memaksimalkan Nilai Cloud: Peran Penting Risiko dan Kontrol
Survei EMEA Cloud Business terbaru dari PwC menunjukkan bahwa perusahaan yang memanfaatkan teknologi cloud secara optimal atau “cloud-powered” meraih pertumbuhan pendapatan, peningkatan produktivitas, respons yang lebih cepat terhadap ancaman siber, dan pemulihan lebih tangguh dari insiden. Keunggulan ini tercapai karena perusahaan-perusahaan tersebut mengutamakan kerangka kerja tata kelola cloud dan kontrol internal mereka.
Perusahaan yang sukses dalam transformasi cloud biasanya memiliki pendekatan matang dengan melibatkan berbagai fungsi bisnis, menerapkan praktik kontrol cloud terbaik, membangun hubungan erat antar eksekutif, dan memanfaatkan otomatisasi serta AI secara efektif. Langkah-langkah ini membantu mereka meraih nilai berkelanjutan dari teknologi cloud.
Namun, jika risiko dan kontrol cloud diabaikan, perusahaan dapat menghadapi ancaman siber, gangguan operasional, pelanggaran regulasi, serta pembengkakan anggaran. Organisasi yang mengembangkan kerangka kerja risiko tradisional dalam perjalanan cloud mereka mampu mengurangi waktu pengelolaan kepatuhan, memperluas cakupan kontrol, dan merespons kebutuhan bisnis dengan lebih baik.
6 Alasan Mengapa Risiko dan Kontrol Cloud Sangat Penting
- Tata Kelola yang Matang Memberikan Keunggulan: Tata kelola cloud yang kuat berdampak langsung pada efisiensi operasional dan peningkatan pendapatan.
- Kolaborasi Eksekutif: Eksekutif perlu bekerja sama sejak awal untuk mengelola risiko cloud secara efektif.
- Multi-Cloud Menambah Kompleksitas: Infrastruktur multi-cloud membutuhkan pendekatan kontrol yang lebih mendalam.
- Kemitraan antara CIO dan Pemimpin Keamanan: Hubungan ini sangat penting untuk menjaga keamanan data dan kelangsungan operasional.
- Penyesuaian dengan Regulasi yang Berkembang: Mengikuti perkembangan regulasi terbaru membantu perusahaan terhindar dari risiko kepatuhan.
- Peran Generative AI (GenAI): Adopsi GenAI mendorong penggunaan cloud lebih jauh, tapi membutuhkan tata kelola yang lebih kuat.
Langkah Praktis untuk Tata Kelola Cloud yang Efektif
Organisasi dapat mengambil langkah-langkah berikut:
- Mengadopsi model tanggung jawab bersama dengan penyedia layanan cloud atau cloud service providers (CSP) untuk memahami kontrol yang dikelola oleh CSP dan yang menjadi tanggung jawab organisasi.
- Menerapkan enkripsi data serta prosedur keamanan yang kuat, termasuk sistem manajemen akses yang mengatur akses pengguna ke cloud.
- Menginvestasikan pelatihan karyawan untuk mendukung transisi cloud secara lancar.
Dalam transformasi cloud, risiko dan kontrol cloud adalah elemen penting yang harus diintegrasikan sejak awal. Organisasi yang mengadopsi pendekatan kolaboratif dan menyeluruh dapat memaksimalkan potensi cloud sambil menjaga keamanan dan kepatuhan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh PwC, dengan judul “Maximising cloud value: The essential role of risk and controls”. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Budaya Ketahanan Siber di Industri Manufaktur
Transformasi digital meningkat pesat di sektor manufaktur, terlebih dengan adanya investasi berkelanjutan dalam inovasi dan teknologi baru, seperti robotika, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) generatif, komputasi Cloud, dan industrial internet of things (IIoT).
Meningkatnya konektivitas dalam ekosistem manufaktur telah memperluas paparan sektor tersebut, menjadikannya sektor yang paling banyak menjadi sasaran serangan siber. Gangguan yang dialami mencapai 25,7%, dengan ransomware mencakup 71%. Hal ini cukup berbahaya karena gangguan sepanjang proses manufaktur dapat memberikan dampak berjenjang di seluruh sistem.
Di antara risiko signifikan yang dihadapi organisasi manufaktur, rekayasa sosial dan phishing menduduki peringkat kedua sebagai ancaman siber paling menonjol. Berikutnya, serangan rantai pasokan menempati posisi ketiga.
Menurut Global Cybersecurity Outlook 2024, sebanyak 54% organisasi tidak memiliki visibilitas memadai terhadap kerentanan rantai pasokan. Selain itu, 41% organisasi melaporkan bahwa serangan tersebut berasal dari pihak ketiga.
Tantangan Sektor Manufaktur
Beberapa aspek memengaruhi proses menuju ketangguhan sektor manufaktur atas gangguan siber. Secara umum, aspek-aspek tersebut terbagi sebagai berikut.
- Budaya dan sumber daya yang berbeda
- Kurangnya kolaborasi pada strategi konvergensi information technology/operational technology (IT/OT) menghambat digitalisasi lingkungan industri yang aman.
- Sejumlah organisasi memiliki karyawan yang memegang banyak jabatan dan melakukan berbagai tugas sehingga mengabaikan pentingnya pemisahan tugas dan risiko terkait.
- Tata kelola keamanan siber terfragmentasi.
- Kekurangan talenta keamanan siber pada sektor ini mencapai hampir 4 juta.
- Peningkatan konektivitas dan sistem lama
- Sistem OT dan kontrol industri lama menimbulkan kerentanan yang signifikan karena desain yang ketinggalan zaman dan manajemen akses terbatas.
- Teknologi yang baru menghadirkan peluang dan tantangan terhadap keamanan siber.
- Ketergantungan pada perangkat lunak masih berjalan untuk mengoptimalkan proses, efisiensi, dan kualitas produk.
- Kepekaan operasional
- Toleransi waktu henti (downtime) yang terbatas membuat perusahaan manufaktur menjadi target utama serangan ransomware.
- Seiring dengan makin banyaknya fasilitas manufaktur yang mengadopsi proses berbasis data, cakupan risikonya pun melampaui rantai pasokan tradisional.
- Digitalisasi yang cepat mendorong kebutuhan akan keahlian baru dalam domain internal.
- Penyelarasan strategi dengan prioritas bisnis
- Tujuan bisnis jangka pendek masih lebih diutamakan daripada investasi dalam langkah-langkah ketahanan jangka panjang.
- Dinamika pasar sektor manufaktur terus berubah.
- Meningkatnya ketegangan geopolitik.
- Lanskap regulasi yang luas dan kompleks
- Regulasi menimbulkan tantangan yang signifikan bagi sektor manufaktur.
- Keamanan siber diidentifikasi sebagai risiko utama.
Prinsip Panduan Keamanan Siber
Ketiga prinsip panduan bertujuan untuk mendukung para pemimpin manufaktur dan rantai pasokan dalam membangun strategi untuk menghadirkan budaya keamanan siber. Prinsip-prinsip ini dirumuskan setelah penelitian dan konsultasi yang mendalam dengan para pemimpin industri serta badan-badan standar dan regulasi.
- Jadikan ketahanan siber sebagai kebutuhan bisnis
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan berdasarkan prinsip ini adalah investasi dalam pendidikan dan pelatihan, pelatihan berkesinambungan dan menyeluruh, anggaran dan sumber daya yang aman, penetapan tata kelola keamanan siber, serta penciptaan insentif.
- Dorong ketahanan siber berdasarkan desain
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan berdasarkan prinsip ini adalah penyertaan keamanan siber dalam proses bisnis, peningkatan aset operasional, identifikasi proses kritis, perancangam keamanan di sekitar tujuan dan hasil bisnis, serta persiapan memulihkan diri dari setiap serangan siber.
- Melibatkan dan mengelola ekosistem
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan berdasarkan prinsip ini adalah identifikasi pemangku kepentingan utama, penyelarasan dengan dasar-dasar keamanan siber, pengawasan yang konsisten, serta proses belajar yang terus berjalan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh World Economic Forum, dengan judul “Building a Culture of Cyber Resilience in Manufacturing” pada Mei 2024. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Capai Ketangguhan Melalui ESG
Sebanyak 99% perusahaan S&P 500[1] melaporkan informasi terkait lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, and governance/ESG). Hampir semuanya mengacu pada setidaknya satu kerangka kerja atau standar pelaporan ESG.
Perusahaan-perusahaan dengan kinerja ESG yang tinggi memiliki margin operasi 4,7x lipat lebih tinggi daripada perusahaan dengan kinerja ESG sedang. Namun, meskipun tanda kemajuan telah terlihat, banyak perusahaan yang kesulitan dalam mengukur kemajuan tersebut. Hal ini mungkin disebabkan karena perusahaan lebih cepat merespons motivasi yang bersifat hukuman (yang disebut juga sebagai stick atau “tongkat”) dibandingkan penghargaan (yang disebut juga sebagai carrot atau “wortel”).
Data yang Tepat, Keputusan yang Tepat
Secara umum, perusahaan yang merespons “wortel”, seperti insentif, penghematan biaya, dan loyalitas pelanggan cenderung memiliki intervensi yang tertanam lebih dalam di seluruh organisasi. Mereka akan menggunakan data untuk mendorong keputusan bisnis dengan keberlanjutan sebagai inti strategi.
Strategi ESG dan keberlanjutan yang kuat dapat menghasilkan kinerja bisnis yang lebih baik dalam beberapa cara sebagai berikut.
- Optimalisasi biaya dengan mengurangi konsumsi energi, pengelolaan limbah dan air, serta meningkatkan efisiensi operasional
- Pemodelan skenario, pengelolaan risiko kritis, dan tindakan yang memungkinkan kelangsungan bisnis di seluruh rantai pasokan
- Transformasi berbasis data
- Persiapan ulang untuk data dan analitik
Aliran data, visibilitas data, dan kekuatan analitik adalah kunci dari transformasi berbasis data ini. Kemampuan untuk mengukur jejak karbon di seluruh proses dan produk serta transparansi juga menjadi komponen penting. Dengan mengumpulkan dan menganalisis data tentang berbagai aspek operasi perusahaan, pemimpin dapat mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan.
Perubahan dan Penciptaan Ulang
Manusia adalah inti dari semua perubahan. Dengan menanamkan keberlanjutan ke dalam setiap peran, perusahaan akan memastikan bahwa hal tersebut terkait dengan agenda sumber daya manusia (SDM) dan menghilangkan silo. Perusahaan dapat membangun hubungan yang lebih kuat dengan para pemangku kepentingan, termasuk pelanggan, karyawan, dan investor.
Menanamkan keberlanjutan dan inti digital juga menjadi dasar bagi total enterprise reinvention, yaitu pergeseran paradigma dari perusahaan yang hanya berfokus pada pelaporan menjadi perusahaan yang berkelanjutan dan digerakkan oleh kinerja.
Untuk menyeimbangkan pendekatan “wortel” dan “tongkat” dalam pengukuran ESG, berikut adalah tindakan yang berbeda dalam jangka pendek, menengah, dan jangka panjang:
- Jangka pendek (6—12 bulan)
- Mendefinisikan arti keberlanjutan bagi perusahaan dengan fokus pada persyaratan peraturan, materialitas, dan manajemen risiko
- Menetapkan model data yang kuat untuk metrik keberlanjutan
- Membawa lensa risiko dan peluang ESG ke dalam perencanaan strategis
- Jangka menengah (1—2 tahun)
- Otomatisasi alur kerja ESG secara menyeluruh
- Mengintegrasikan keberlanjutan dalam pengambilan keputusan Perusahaan
- Jangka panjang (3-5 tahun)
- Mengulangi strategi dan narasi seputar nilai
- Berinovasi pada model bisnis
- Bertahan di tempat
Pada kenyataannya, perusahaan harus bersikap seimbang antara menanggapi peraturan yang keras dan memenuhi permintaan pemangku kepentingan. Dengan demikian, perusahaan dapat menikmati “wortel” terbaik: mengetahui bahwa mereka melakukan hal yang benar bagi planet dan keuntungan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Accenture, dengan judul “Measuring Up: Achieving Resilience Through ESG” pada 19 September 2023. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Dampak Perubahan Iklim pada Kesehatan Tenaga Kerja
Perubahan iklim meningkatkan risiko dan biaya kesehatan bagi masyarakat dan bisnis di seluruh dunia. Dampak kesehatan dapat berkisar dari ringan hingga berat, akut hingga kronis.
Ketahanan bisnis bergantung pada kesehatan dan kesejahteraan karyawan. Ketika manusia berkembang, begitu pula organisasi dan masyarakat. Konsekuensi dari perusahaan yang mengabaikan risiko ini sangat signifikan, bahkan berpotensi mencakup biaya reputasi, produktivitas, dan ekonomi.
Mengapa Perusahaan Harus Peduli?
Dampak dari insiden kesehatan terkait iklim sudah sangat luas. Global Risks Report 2024 menyebutkan bahwa cuaca ekstrem merupakan risiko utama yang paling mungkin menimbulkan krisis material dalam skala global tahun ini. Di Amerika Serikat (AS), misalnya, suhu panas yang tinggi menyebabkan kerugian sebesar 100 miliar dolar AS per tahun. Paparan panas di India, sementara itu, menyebabkan hilangnya 490 miliar jam kerja potensial pada 2022.
Ketegangan bisnis akibat bahaya iklim ini dapat mencakup
- lonjakan kebutuhan dan biaya perawatan kesehatan,
- kerapuhan infrastruktur,
- peningkatan risiko kesehatan dan keselamatan,
- kehilangan produktivitas akibat ketidakhadiran pekerja, serta
- risiko reputasi, hukum, dan peraturan.
Apa yang Dapat Dilakukan Pemberi Kerja?
Secara umum, ada dua jenis tindakan yang diperlukan. Pertama, reaktif, yaitu mendukung kesejahteraan karyawan dalam menghadapi peristiwa iklim. Kedua, preventif, yaitu membantu mengurangi dampak perubahan iklim sehingga diperlukan tindakan reaktif.
Dengan bertindak lebih awal, organisasi memiliki peluang untuk meminimalkan bahaya dan ketidakadilan kesehatan serta mencegah perubahan drastis di masa depan. Pemantauan risiko terkait iklim terhadap kesehatan fisik dan mental dapat dilakukan dengan cara, antara lain,
- memahami akses kesehatan dan mempertimbangkan model digital untuk mengatasi tantangan selama krisis;
- memitigasi risiko melalui pelatihan dan perubahan pada lokasi kerja, jadwal, praktik, dan peralatan;
- memastikan panduan dan dukungan bagi para pekerja yang terkena dampak;
- meningkatkan faktor penentu sosial-ekonomi kesehatan; dan
- berinvestasi dalam langkah-langkah ketahanan.
Organisasi dapat menggunakan solusi asuransi inovatif dan layanan manajemen risiko untuk membantu melindungi tenaga kerja dari risiko terkait iklim.
Melindungi Tenaga Kerja
Perubahan iklim memberikan ancaman kesehatan global terbesar pada abad ke-21. Selain mengurangi jejak karbon, perusahaan harus melakukan investasi dalam hal ketahanan tenaga kerja.
Legislasi dan peraturan yang tepat seharusnya diberlakukan untuk melindungi pekerja dari masalah yang mengancam kesehatan, seperti cuaca panas ekstrem. Perusahaan sebaiknya mengambil langkah-langkah untuk melindungi pekerja dari sejumlah ancaman penyakit.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Marsh, dengan judul “How Climate Change Is Impacting The Health Of Your Workforce” pada 4 Agustus 2024. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
2 Kunci Sukses Manajemen Risiko Pemasok
Fungsi pengadaan memainkan peran penting dalam manajemen risiko rantai pasokan. Aktivitas utamanya terdiri atas kegiatan memilih vendor, mencari sumber input perusahaan, dan mengelola rantai pasokan hulu. Keseluruhan langkah tersebut secara langsung memengaruhi eksposur risiko perusahaan dan melibatkan kekuatan-kekuatan global utama, termasuk ketegangan geopolitik, perubahan iklim, ketidakpastian ekonomi, dan kesetaraan sosial.
Fungsi pengadaan yang efektif berkolaborasi erat dengan manajemen risiko dan unit bisnis perusahaan. Membangun transparansi, memprioritaskan risiko, mengembangkan algoritma prediksi waktu nyata (real time), dan mengintegrasikan manajemen risiko ke dalam perusahaan menjadi aspek penting untuk proposisi nilai pengadaan.
Kolaborasi dan Alat Bantu Digital
Saat ini, perusahaan harus bergerak secara agresif untuk mengatasi risiko rantai pasokan. Membangun ketahanan membutuhkan penyebaran orang dan teknologi yang terintegrasi. Untuk mencapai hal ini, tim pengadaan dan manajemen risiko harus menyelaraskan tujuan dan strategi serta berkolaborasi dalam penilaian risiko dan langkah-langkah mitigasi. Para profesional pengadaan juga harus terlibat dengan rekan-rekan di unit bisnis, termasuk pimpinan produk dan proyek serta kepala departemen.
Di samping itu, mendeteksi dan memitigasi risiko pemasok memerlukan penataan, pemrosesan, dan analisis data yang sangat berharga bagi alat bantu digital berkemampuan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Alat bantu AI tradisional mendukung manajemen risiko pemasok melalui penataan dan pengayaan data awal, analisis prediktif, pemantauan pasokan waktu nyata, dan penentuan strategi pengoptimalan rantai pasokan.
AI tradisional juga menganalisis data dari berbagai sumber, termasuk dari artikel berita dan laporan keuangan. AI generatif memang belum digunakan untuk menganalisis data mentah, tetapi dapat membantu evaluasi pemasok dan penilaian risiko dengan mengotomatiskan pembuatan dokumen.
Empat Tantangan Utama
Hal-hal di atas menjadi kunci untuk mengatasi empat tantangan utama manajemen risiko rantai pasokan sebagai berikut.
- Membangun Transparansi di Seluruh Subtingkatan
Berbagai opsi perangkat lunak yang diperkaya dengan AI dapat membantu mengumpulkan data. Perusahaan harus memastikan bahwa data tersedia untuk dianalisis dengan cara mengumpulkannya secara terstruktur.
- Memprioritaskan Risiko untuk Pelacakan
Perusahaan menghadapi risiko di tingkat pemasok, industri, dan geografis, mulai dari kebangkrutan, bencana alam, dan ketidakseimbangan penawaran-permintaan. Maka, perusahaan harus mengidentifikasi risiko yang menimbulkan ancaman signifikan terhadap kinerja bisnis. Alat bantu digital dapat membantu proses ini dan memberikan dasar pemikiran untuk pemilihan risiko yang diprioritaskan.
- Algoritma Khusus untuk Prediksi Risiko
Pendekatan yang efektif bagi perusahaan diperlukan untuk mengidentifikasi faktor input paling relevan untuk risiko spesifik mereka. Alat bantu digital, termasuk AI, dapat membantu menghitung algoritma risiko untuk diterapkan pada data yang paling relevan dan menyediakan antarmuka pengguna serta kemampuan agregasi yang diperlukan.
- Menanamkan Fungsi Manajemen Risiko dalam Organisasi
Manajemen risiko pemasok membutuhkan berbagai sumber daya dan keterampilan. Meskipun semua unit perusahaan membutuhkan kemampuan ini, sering kali kemampuan tersebut tidak sepenuhnya dikembangkan. Maka, untuk menutup kesenjangan kapabilitas, fungsi manajemen risiko harus diintegrasikan dengan bisnis secara keseluruhan.
Rantai pasokan saat ini bersifat global dan kompleks. Akibatnya, fungsi pengadaan harus menghadapi tantangan untuk mendeteksi dan memitigasi risiko. Dengan berkolaborasi secara efektif dan memanfaatkan AI serta perangkat digital, fungsi pengadaan dapat memenuhi proposisi nilai dan meningkatkan ketahanan terhadap gangguan rantai pasokan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh BCG, dengan judul “Two Keys to Success in Supplier Risk Management” pada 25 September 2023. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.