Regulator Awasi Kredit Swasta di Pinjaman Tradisional
Perusahaan ekuitas swasta (private equity/PE) kini membuat pinjaman dalam skala besar dan mempertahankannya—aktivitas yang biasanya dilakukan oleh bank. Regulator Bank Nasional Amerika Serikat (AS) Michael Hsu membahas struktur dan jangka waktu yang berkembang dari dana PE yang bersifat tertutup. Dia mencatat peningkatan kepemilikan perusahaan-perusahaan asuransi oleh perusahaan-perusahaan PE, yang dapat memberikan pasokan premi yang stabil untuk diinvestasikan, termasuk dalam kredit swasta.
Keterkaitan dengan Bank
Dua anggota Komite Perbankan Senat dari Partai Demokrat AS, Ketua Sherrod Brown dari Ohio dan Jack Reed dari Rhode Island, meminta perhatian regulator utama terhadap potensi risiko yang dapat ditimbulkan oleh kredit swasta terhadap keamanan dan kesehatan sistem perbankan.
“Bank-bank telah terlibat dalam pemberian pinjaman kepada dana-dana kredit swasta, bermitra dengan dana-dana tersebut untuk secara aktif mengatur kesepakatan-kesepakatan kredit swasta, dan telah mulai memindahkan risiko kepada dana-dana kredit swasta melalui instrumen-instrumen keuangan yang eksotis,” tegas mereka. Keterkaitan ini dapat menimbulkan bahaya tersembunyi pada sistem perbankan.
Tekanan pada Peringkat
Sebagai bentuk pinjaman langsung, kredit swasta dapat menjadi keuntungan bagi peminjam yang mengalami kesulitan serta para investor dalam kredit bank sindikasi (broadly syndicated loans/BSL). Umumnya, kredit tersebut memiliki persyaratan yang kuat dan dapat dinegosiasikan dengan cepat dengan pemberi pinjaman yang menuntut pengembalian yang lebih tinggi.
Suku bunga yang naik dengan cepat telah menekan peringkat kredit BSL perusahaan yang memiliki leverage tinggi. Ketika pinjaman dalam portofolio kewajiban pinjaman yang dijaminkan (collateralized loan obligations/CLO) diturunkan peringkatnya, arus kas dapat dialihkan dari investasi ulang atau investor ekuitas. Untuk menghindari hal tersebut, sistem peringatan dini CLO membatasi pinjaman dengan peringkat CCC atau di bawahnya dalam kumpulan agunan.
Daniel Wohlberg, seorang kepala sekolah di Eagle Point Credit Management, mengatakan bahwa alih-alih merambah pasar CLO BSL, kredit swasta membeli pinjaman “pinggiran”. Untuk peminjam, pembayaran bunga agak lebih tinggi, tetapi mereka bisa berurusan langsung dengan satu atau beberapa pemberi pinjaman. Hal ini mempercepat proses pinjaman dan potensi modifikasi pinjaman di kemudian hari.
“Pemberi kredit swasta dapat lebih fleksibel dalam memberikan pinjaman karena peringkat kredit eksplisit biasanya merupakan faktor yang tidak terlalu penting dalam mengevaluasi kredit,” ujar Andrew Berlin, Direktur Riset Kebijakan di Loan Syndications and Trading Association (LSTA).
Penawaran Lebih Besar
Transaksi kredit swasta makin besar. Secara historis, angkanya berada di bawah 500 juta dolar AS, tetapi beberapa tahun lalu melebihi 1 miliar dolar AS, termasuk rekor pinjaman 4,8 miliar dolar AS yang mendukung pembiayaan kembali Vista Equity Partners atas utang Finastra Group Holdings. Pada September, perusahaan Hyland Software menutup pinjaman berjangka swasta senilai 3,4 miliar dolar AS dan kredit bergulir yang tidak termasuk perjanjian pemeliharaan yang memberikan peringatan kredit awal.
Persaingan yang memanas menyebabkan banyak kesepakatan pribadi dengan persyaratan yang lebih longgar. Namun, secara keseluruhan, hanya sekitar 25% dari transaksi kredit swasta yang menggunakan cov-lite, dibandingkan dengan lebih dari 90% BSL. Transaksi yang lebih besar cenderung mengarah pada sindikat pemberi pinjaman yang menyerupai pasar BSL, tetapi tanpa pengawasan regulasi.
Pergerakan Regulasi
Pada September lalu, International Organization of Securities Commissions (IOSCO) berfokus pada empat tema dalam laporan Emerging Risks in Private Finance: transparansi, leverage, integritas pasar, dan penularan risiko ke pasar-pasar publik. Kemudian, pada Desember, Federal Reserve, Lembaga Penjamin Simpanan (Federal Deposit Insurance Corporation/FDIC), dan Pengawas Mata Uang mengeluarkan proposal untuk persyaratan laporan panggilan yang direvisi.
Michael Hsu mengatakan, kerangka kerja analitik Dewan Pengawas Stabilitas Keuangan (Financial Stability Oversight Council/FSOC) memiliki tiga bagian yang berbeda: identifikasi potensi risiko sistemik, penilaian risiko-risiko yang telah diidentifikasi, dan tanggapan terhadap risiko-risiko yang dinilai sebagai ancaman terhadap stabilitas keuangan. FSOC akan menetapkan metrik dan ambang batas yang akan memicu penilaian risiko sistemik.
Pembiayaan kembali di pasar BSL menunjukkan bahwa tren BSL yang berpindah ke kredit swasta mungkin akan berubah. Dalam ekonomi yang kuat dengan penurunan suku bunga, keringanan tekanan keuangan perusahaan dengan leverage dan portofolio kredit swasta akan menguat. Namun, bisa jadi ada masa-masa sulit untuk beberapa pelaku pasar. Hal ini dapat memengaruhi bank, perusahaan asuransi, dan dana pensiun. Terlebih, bank-bank sering kali memberikan sebagian modal kepada pemberi pinjaman kredit swasta yang mereka gunakan untuk menyalurkan pinjaman.
Beberapa pemain besar melihat volatilitas sebagai peluang. Daniel J. Ivascyn, Group Chief Investment Officer di PIMCO, mencatat mengenai penurunan kredit yang signifikan di segmen pasar pinjaman dengan leverage. PIMCO melihat bahwa pinjaman swasta pada hari ini dan dalam beberapa tahun ke depan akan memberikan imbal hasil yang menarik, dengan peringatan bahwa pemberi pinjaman modal swasta dapat menyebabkan berkurangnya perlindungan kredit dan penjaminan yang lebih agresif.
Artikel ini telah diterbitkan oleh GARP, dengan judul “Private Credit Moves In on Traditional Loan Channels, and Regulators Are Watching” pada 22 Maret 2024. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Antisipasi Risiko Siber dalam Perlindungan Data
Dengan meningkatnya nilai data sebagai aset, risiko siber kini menjadi ancaman yang nyata. Tidak hanya dari serangan eksternal, seperti malware atau phising, risiko ini juga datang dari dalam, misalnya kelalaian atau kesalahan manusia. Untuk itu, dibutuhkan strategi proaktif untuk menghadapi risiko siber, antara lain, melalui enam langkah berikut.
- Pengembangan Kebijakan Keamanan Siber yang Komprehensif
Kebijakan yang dimaksud harus mencakup aspek keamanan.
- Edukasi dan Pelatihan Pegawai
Pelatihan reguler dimaksudkan untuk menekan risiko internal, khususnya akibat kesalahan manusia.
- Penerapan Teknologi Keamanan Terkini
Teknologi yang digunakan ini harus terus diperbarui agar tetap kompeten menghadapi bentuk ancaman baru yang mungkin berkembang.
- Manajemen Akses dan Identitas
Tindakan yang dapat dilakukan adalah mengadakan otentikasi multifaktor dan mengelola hak akses.
- Analisis Risiko dan Penilaian Keamanan Berkala
Analisis ini diharapkan meliputi evaluasi risiko dan pengujian penetrasi.
- Pembuatan Rencana Tanggap Darurat
Rencana ini harus sebaiknya memuat langkah-langkah pemulihan data dan komunikasi krisis.
Strategi di atas dapat dikembangkan melalui sejumlah implementasi proaktif di dalam perusahaan. Beberapa implementasi yang dimaksud adalah
- audit sistem secara teratur,
- lakukan pembaruan dan pemeliharaan sistem,
- backup data, serta
- lakukan kolaborasi dan berbagi informasi.
Mengantisipasi risiko siber melalui langkah proaktif adalah fondasi perlindungan data. dengan Cara ini membantu dalam melindungi aset berharga sekaligus mempertahankan kepercayaan pelanggan dan mematuhi regulasi yang berlaku.
Artikel ini telah diterbitkan oleh CRMS Indonesia, dengan judul “Mengantisipasi Risiko Siber: Langkah Proaktif dalam Perlindungan Data” pada 29 Februari 2024. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Adaptasi dan Asuransi Hadapi Perubahan Iklim
Kebutuhan adaptasi menjadi topik perdebatan di Konferensi Para Pihak Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim ke-28 atau Conference of Parties (COP28). Namun, penekanan pada adaptasi ini tidak lantas mengurangi pentingnya mitigasi.
Adaptasi yang berhasil dapat membuat masyarakat dan bisnis lebih tahan terhadap dampak iklim di masa depan dan saat ini. Adaptasi juga masuk akal dari sudut pandang ekonomi. Sebuah laporan resmi World Economic Forum pada 2023 pun menyerukan agar bisnis memberikan penekanan yang lebih besar pada adaptasi.
Fokus pada Adaptasi
Dampak perubahan iklim terhadap cuaca menjadi semakin nyata. Analisis menunjukkan bahwa 2023 merupakan tahun terpanas yang pernah tercatat. Frekuensi cuaca ekstrem juga berada dalam tren kenaikan yang stabil. Semua ini berdampak buruk pada kehidupan serta menimbulkan kerusakan ekonomi. Pada 2022 saja, bencana alam menyebabkan kerugian ekonomi sebesar 313 miliar dolar Amerika Serikat (AS).
Risiko perubahan iklim jauh melampaui aset bisnis itu sendiri. Dampak iklim juga muncul terhadap kesehatan, keselamatan, dan mata pencaharian masyarakat di seluruh dunia. Semua pekerja, baik yang bekerja di dalam maupun di luar ruangan, akan makin rentan terhadap gangguan dan potensi cedera akibat peristiwa terkait iklim.
Pada 2030, lebih dari 2% total jam kerja di seluruh dunia diproyeksikan akan hilang setiap tahun karena terlalu panas atau karena pekerja harus bekerja dengan kecepatan yang lebih lambat, menurut International Labour Organization (ILO). Panas yang ekstrem terbukti memperburuk tingkat cedera di lingkungan dalam ruangan. Analisis Marsh pada 2023 menunjukkan. klaim kompensasi pekerja yang berhubungan dengan panas telah meningkat secara signifikan dalam 10 tahun terakhir. Jumlah klaim mencapai puncaknya selama peristiwa El Niño dari 2014 hingga 2016.
Manfaat Adaptasi
Adaptasi tidak hanya menawarkan pengembalian investasi (return of investment/ROI) dalam hal ketahanan bisnis, tetapi juga mendukung dan memungkinkan upaya mitigasi. Contoh upaya adaptasi, antara lain, pengadaan tanaman tahan kekeringan, reboisasi, dan sistem peringatan dini.
Saat ini, makin penting bagi perusahaan untuk memahami dan meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim. Untuk membentuk strategi adaptasi yang efektif, kita perlu melihat jauh melampaui aset yang dimiliki dan memikirkan risiko yang ditimbulkan oleh perubahan iklim di seluruh rantai nilai.
Industri asuransi memiliki pemahaman mendalam tentang risiko perubahan iklim. Mereka dapat membentuk respons proaktif terhadap risiko-risiko yang menempatkan adaptasi di samping mitigasi. Perusahaan asuransi memiliki keahlian dalam melihat risiko-risiko ini melalui data.
Hal yang paling diperlukan perusahaan adalah kemampuan visibilitas terhadap rantai pasokan. Baik untuk mengukur emisi maupun mengurangi paparan peristiwa risiko fisik, visibilitas rantai pasokan merupakan faktor pendukung yang penting untuk melakukan strategi adaptasi yang efektif. Adaptasi yang berhasil tidak hanya dapat melindungi bisnis dan masyarakat dari dampak buruk perubahan iklim, tetapi juga mendorong inovasi yang dibutuhkan untuk masa depan tanpa emisi karbon.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Marsh, dengan judul “Adaptation & Insurance in A Changing Climate” pada 2 Juli 2024. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Meningkatkan ESG dalam Uji Tuntas Komersial
Faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola menjadi pembeda utama yang mempengaruhi kinerja perusahaan di masa depan. Perubahan perspektif ini memiliki implikasi besar terhadap uji tuntas. Secara tradisional, uji tuntas berfokus pada serangkaian faktor komersial yang terkait dengan nilai, sedangkan penilaian keberlanjutan menekankan kepatuhan dan mitigasi risiko.
Uji tuntas ESG yang efektif membutuhkan metodologi yang kuat yang mempertimbangkan informasi spesifik industri dan wilayah untuk memperkirakan dan memvalidasi sinergi terkait. Dengan menggabungkan kerangka kerja standar dengan pendalaman yang spesifik untuk setiap transaksi, perusahaan dapat melakukan penilaian komprehensif yang menjadi dasar untuk diskusi mengenai strategi keberlanjutan.
Keberlanjutan: Bagian Integral Penilaian Komersial
Perusahaan dan investor memiliki motivasi untuk mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam penilaian komersial. Selain itu, transisi ke model bisnis yang lebih ramah lingkungan dapat mengurangi biaya, baik secara langsung maupun dalam jangka panjang.
Ada banyak persyaratan baru yang harus dipertimbangkan perusahaan ketika mengevaluasi akuisisi dan investasi besar lainnya. Sebagai contoh, mulai 2025, Pedoman Pelaporan Keberlanjutan Perusahaan (Corporate Sustainability Reporting Directive) mengamanatkan pengungkapan sosial dan lingkungan oleh perusahaan-perusahaan besar yang memiliki kehadiran signifikan di Uni Eropa. Selain itu, dua arahan yang diusulkan dari Komisi Eropa memiliki implikasi yang signifikan. Petunjuk tentang Klaim Hijau (Directive on Green Claims) akan mengatur perusahaan dalam mengomunikasikan dampak dan kinerja lingkungan mereka. Selain itu, Petunjuk Uji Tuntas Keberlanjutan Perusahaan (Corporate Sustainability Due Diligence Directive) menguraikan langkah-langkah untuk mengidentifikasi, mencegah, mengurangi, atau menghilangkan dampak negatif dari operasi perusahaan terhadap manusia dan lingkungan.
Untuk menciptakan nilai melalui keberlanjutan, perusahaan membutuhkan data yang lebih baik. Perusahaan-perusahaan publik kini mengungkapkan data keberlanjutan, bahkan sering kali melebihi apa yang diwajibkan oleh peraturan. Di pasar swasta, industri ekuitas swasta baru-baru ini meluncurkan Inisiatif Konvergensi Data ESG (ESG Data Convergence Initiative/EDCI) untuk menstandarkan data keberlanjutan dan membuatnya lebih dapat ditindaklanjuti.
Materialitas Menentukan Prioritas Uji Tuntas ESG
Meskipun perusahaan dapat menciptakan nilai komersial melalui keberlanjutan, prioritasnya berbeda-beda di setiap industri. Beberapa industri, seperti baja, semen, bahan kimia, dan maskapai penerbangan, menghadapi kebutuhan yang mendesak untuk melakukan dekarbonisasi.
Untuk mengidentifikasi dan mengaktifkan pengungkit penciptaan nilai yang relevan, perusahaan perlu menentukan faktor-faktor ESG yang kemungkinan besar akan memengaruhi kinerja keuangannya, membandingkannya dengan perusahaan sejenis, dan memprioritaskan inisiatif perbaikan. Meskipun penilaian komprehensif dapat dilakukan sebagai proyek yang berdiri sendiri, mengintegrasikannya ke dalam uji tuntas komersial akan memberikan dampak yang lebih besar terhadap hasil komersial.
Pendekatan Tiga Langkah
Pendekatan standar untuk uji tuntas ESG terdiri dari tiga langkah yang memberikan perspektif komprehensif tentang kinerja dan peluang penciptaan nilai. Ketiga langkah tersebut dipaparkan sebagai berikut.
- Beri penilaian terhadap faktor material perusahaan. Mulailah dengan menentukan bagaimana kumpulan keuntungan dalam industri perusahaan berkembang untuk menanggapi tren keberlanjutan utama.
- Lakukan perbandingan kompetitif. Selanjutnya, pastikan bagaimana posisi perusahaan jika dibandingkan dengan perusahaan lain untuk mendapatkan keuntungan dari tren ini.
- Pahami risiko terkait ESG spesifik perusahaan dan pengungkit penciptaan nilai. Dapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang risiko terkait ESG yang diidentifikasi dalam penilaian faktor-faktor material.
Pembeli dan Penjual Mendapatkan Wawasan
Baik pembeli maupun penjual dapat menerapkan wawasan (insight) yang diperoleh dari uji tuntas untuk menyelaraskan strategi mereka secara efektif dengan standar yang berkembang dan topik keberlanjutan khusus industri.
- Evaluasi dari Sisi Pembeli Menunjukkan Risiko dan Imbalan
Calon pembeli harus memastikan bahwa mereka menyadari risiko dan peluang terkait ESG yang terkait dengan target akuisisi potensial. Pada tahap awal, mereka dapat menggunakan data yang tersedia untuk umum untuk penilaian materialitas. Seiring dengan berjalannya uji tuntas, mereka dapat menggunakan data yang tersedia dari target untuk menyelidiki lebih dalam mengenai materialitas dan mengevaluasi sinergi serta dampak langsung.
- Penilaian dari Sisi Penjual Mendukung Penilaian
Bagi penjual, uji tuntas ESG dapat memberikan informasi penting untuk ekuitas yang disajikan kepada calon pembeli. Penjual harus mengidentifikasi apakah ESG memiliki sisi positif atau negatif yang signifikan bagi bisnis. Mereka harus mengintegrasikan strategi keberlanjutan ke dalam proses penjualan.
Keberlanjutan merupakan pertimbangan penting untuk menciptakan nilai. Oleh karena itu, keputusan penggabungan dan pengambilalihan (mergers and acquisitions/M&A) dan investasi harus mempertimbangkan hubungan integral antara komitmen perusahaan terhadap praktik berkelanjutan dan kekuatan komersialnya. Maka, mengintegrasikan ESG ke dalam agenda uji tuntas komersial sangat penting untuk memenuhi keharusan ini.
Artikel ini telah diterbitkan oleh BCG, dengan judul “Elevating ESG in Commercial Due Diligence” pada 27 Februari 2024. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
6 Panduan CRMS dari OJK
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mewujudkan dukungan nyata terhadap pengembangan keuangan berkelanjutan di Indonesia. Salah satu langkah yang diambil adalah menyusun Panduan Climate Risk Management & Scenario Analysis (CRMS).
CRMS diketahui sebagai kerangka terpadu yang mencakup aspek tata kelola, strategi, manajemen risiko, dan pengungkapan. Tujuan dari seluruh aspek tersebut adalah untuk menilai ketahanan model bisnis dan strategi bank dalam menghadapi perubahan iklim baik dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang.
OJK merilis enam edisi Panduan CRMS. Tiap-tiap edisi atau buku tersebut menghadirkan kesatuan yang utuh dan saling mendukung. Buku pertama Panduan CRMS merupakan kerangka manajemen risiko iklim. Buku ini didukung dengan lima edisi lainnya, yang masing-masing membahas
- panduan teknis pengukuran risiko iklim,
- metodologi perhitungan emisi karbon,
- data pendukung potensi risiko fisik Indonesia,
- data pendukung proyeksi makro ekonomi Indonesia, serta
- kertas kerja pelaporan dampak risiko iklim dan emisi karbon dari perbankan kepada OJK.
Berikut adalah judul keenam buku Panduan CRMS beserta tautan resmi untuk mendapatkannya.
- Buku 1: Panduan Umum CRMS OJK 2024
- Buku 2: Panduan Teknis CRMS OJK 2024
- Buku 3: Metode Perhitungan Emisi Karbon CRMS OJK 2024
- Buku 4: Data Makroekonomi CRMS OJK 2024
- Buku 5: Data Bencana CRMS OJK 2024
- Buku 6: Kertas Kerja CRMS OJK 2024
Penyusunan Panduan CRMS dilakukan dengan memperhatikan common practice dan standar internasional dengan konteks Indonesia dan kepentingan nasional. Standardisasi yang didukung sumber data dan referensi dalam Panduan CRMS diharapkan dapat membantu bank untuk mengukur dampak iklim pada kinerja dan keberlanjutan bisnis. Secara umum, Panduan CRMS bersifat living document atau akan diperbarui secara berkala, sesuai dengan global policies direction, praktik terbaik di industri keuangan, dan tuntutan pemangku kepentingan (stakeholder).
Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut, berikut kontak pihak OJK yang dapat dihubungi.
- Sdr. Yudhisti Ramadiantio (yudhisti.r@ojk.go.id)
- Sdr. Jehan Firrizqi Ananda (jehan.firrizqi@ojk.go.id)
- Sdri. Silvia Adhiarahmawati (silvia.adhia@ojk.go.id)
Artikel ini telah diterbitkan oleh OJK, dengan judul “Climate Risk Management & Scenario Analysis (CRMS) 2024” pada 5 Maret 2024. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Kerentanan Risiko Rantai Pasokan Energi Terbarukan
Di tengah dorongan untuk mendapatkan 80% energi dunia dari energi terbarukan pada 2035, industri ini menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam hal rantai pasokan. Sebagai contoh, ketergantungan yang berlebihan pada satu negara untuk komponen-komponen penting, seperti polisilikon, telah meningkatkan ketegangan geopolitik dan membahayakan rantai pasokan.
Yang menambah kerumitan adalah ketidakpastian finansial yang mengganggu usaha energi terbarukan. Tekanan inflasi pun memicu gelombang pembatalan proyek. Selain itu, lonjakan pesat dalam integrasi energi terbarukan membebani jaringan listrik. Diperkirakan, kapasitas energi terbarukan global akan memunculkan permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi operator jaringan listrik, yaitu mencapai 2,5 kali lipat dari tingkat saat ini pada 2030. Secara keseluruhan, semua hal tersebut membutuhkan strategi manajemen risiko rantai pasokan yang mampu memitigasi dampak dan probabilitas potensi gangguan.
Penilaian Risiko Rantai Nilai Energi Terbarukan
Terdapat risiko pada faktor-faktor utama yang berkontribusi terhadap industri energi terbarukan, yang dijelaskan sebagai berikut.
- Geopolitik
Ketergantungan pada satu negara dan ketegangan geopolitik antarnegara menimbulkan risiko yang signifikan karena 60% teknologi energi bersih yang diproduksi secara massal di dunia dipasok dari satu negara.
- Operasional
Harga bahan baku yang berfluktuasi, meningkat dua kali lipat antara 2020 dan 2022. Permintaan yang lebih tinggi juga membebani distribusi jaringan. Kesulitan menemukan talenta yang terspesialisasi turut memperparah kendala ekspansi energi terbarukan.
- Lingkungan, sosial, dan perusahaan (environmental, social, and governance/ESG)
Penambangan dan produksi bahan mentah memiliki risiko pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Misalnya, pada 2021, Amerika Serikat (AS) melarang produk dari Xinjiang, Tiongkok, akibat laporan adanya kerja paksa.
- Peraturan dan kepatuhan
Keterbatasan visibilitas terhadap dampak pertambangan menghambat upaya pencegahan dan mitigasi bahaya, sedangkan kebijakan energi yang kurang optimal menimbulkan tantangan tambahan.
- Keamanan informasi
Di Amerika Utara, perusahaan energi menghadapi jumlah serangan siber tertinggi, mencapai 20% dari semua serangan. Selain itu, pembangkit listrik tenaga surya dan turbin angin dikendalikan dari jarak jauh oleh sistem komputer terpusat sehingga lebih rentan terhadap kejahatan siber.
- Keuangan
Karena berbagai faktor, risiko kebangkrutan membayangi industri energi terbarukan. Selain itu, subsidi besar untuk teknologi energi terbarukan pun dapat berubah seiring dengan pergantian pemerintahan.
- Geografis
Aset energi terbarukan menghadapi risiko yang signifikan dari bencana alam.
Membuat Rantai Pasokan Energi Terbarukan Lebih Tangguh
Perusahaan yang berpikiran maju memahami risiko untuk mendapatkan gambaran besar tentang rantai pasokan dengan mengidentifikasi kerentanan geo-konsentrasi. Berikut adalah beberapa pendekatan yang dapat dilakukan oleh para pemimpin.
- Mengamankan kontrak dengan pemasok yang tepat
Secara proaktif, perusahaan harus menegosiasikan dan mengamankan kontrak dengan pemasok yang mengelola risiko rantai pasokan. Hal ini akan memastikan pasokan stabil dan hubungan menjadi lebih kuat.
- Memindai tren pasar untuk mengetahui kemajuan teknologi dan produk pengganti
Perusahaan perlu memantau tren pasar dengan waspada, dengan melibatkan analisis proaktif dan pandangan strategis ke depan. Pendekatan proaktif ini memungkinkan pengambilan keputusan yang gesit sehingga perusahaan dapat memanfaatkan peluang baru sekaligus memitigasi risiko.
- Melakukan audit kualitas pabrik
Selain memverifikasi kepatuhan terhadap standar, audit juga memberikan wawasan yang berharga tentang efisiensi proses, ketahanan rantai pasokan, dan area potensial untuk perbaikan.
- Membangun kemitraan strategis dengan produsen peralatan asli (original equipment manufacturer/OEM)
Dengan menyelaraskan tujuan, memanfaatkan kekuatan yang saling melengkapi, dan membina komunikasi yang terbuka, perusahaan dapat membuka sinergi, mempercepat inovasi, dan memitigasi risiko di seluruh rantai pasokan.
- Menanamkan kemampuan manajemen risiko ke dalam operasi sehari-hari.
Perusahaan-perusahaan terkemuka berfokus pada inisiatif strategis yang membangun ketahanan ke dalam fungsi-fungsi bisnis. Memiliki manajemen risiko sebagai bagian dari budaya organisasi adalah fondasi untuk membangun ketahanan rantai pasokan jangka panjang yang berkelanjutan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Kearney, dengan judul “Unveiling The Vulnerabilities: Unpacking Risks in The Renewable Energy Supply Chain” pada 24 Mei 2024. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
AI dalam Sektor Asuransi sebagai Katalisator Perubahan
Sektor asuransi dibangun untuk mengelola risiko dan meramalkan masa depan. Saat ini, sejumlah teknologi baru mulai menawarkan sejumlah manfaat potensial untuk menerima perubahan. Teknologi-teknologi inilah yang kemudian memungkinkan prediksi yang tepat, mengelola interaksi pelanggan, dan memperluas layanan yang dipersonalisasi.
Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) bukanlah hal baru di dunia asuransi. Model AI dapat mensimulasikan skenario masa depan, meningkatkan akurasi estimasi risiko, dan mendorong penetapan harga yang lebih baik. Mereka juga dapat mengidentifikasi klaim palsu dengan lebih efektif.
Di sisi lain, ketergantungan pada sistem lama menjadi tantangan tersendiri. Meskipun teknologi saat ini memberikan dukungan dan stabilitas, sistem yang sama dapat menghambat perusahaan. Dengan adanya raksasa teknologi yang berniat mengganggu pasar asuransi, jelaslah bahwa produk asuransi tradisional harus berjuang untuk mengimbangi gaya hidup pelanggan.
AI berkembang dengan cepat. Namun, hal ini tidak menghalangi perusahaan asuransi untuk memilihnya sebagai teknologi yang dapat membantu mencapai ambisi. Tingkat kepercayaan terhadap AI terbilang signifikan. Sekitar 58 persen CEO di bidang asuransi merasa yakin akan mencapai pengembalian investasi dalam waktu 5 tahun.
Salah satu alasan cepatnya adopsi AI adalah banyaknya kasus penggunaan. Adopsi AI juga diuntungkan dengan kemudahan penggunaan dan aksesibilitas. Terlebih, tenaga kerja asuransi sudah terbiasa menggunakan aplikasi dengan kode rendah atau tanpa kode. Sebagai contoh, chatbot dan asisten virtual berbasis AI yang menyederhanakan pertanyaan pelanggan dan pemrosesan klaim serta memberikan respons yang cepat dan ramah selama 24 jam sehari.
Risiko Asuransi dan Teknologi
Sebagai penyeimbang dari potensi besar AI, penelitian KPMG mengungkapkan bahwa para CEO sangat menyadari rintangan yang ada. Masalah etika pengambilan keputusan AI dan ketiadaan regulasi yang kuat adalah kekhawatiran yang paling menonjol.
Lebih dari 72 persen CEO setuju bahwa regulasi AI harus sejajar dengan ketatnya peraturan komitmen iklim. Mark Longworth, Kepala Penasihat Asuransi Global di KPMG International dan Mitra di KPMG di Inggris menyebutkan, “Diperlukan kerangka kerja regulasi yang kuat untuk AI yang sebanding dengan risikonya. Regulasi seharusnya tidak menghambat inovasi tetapi melindungi penggunaan.”
Keamanan siber merupakan perhatian utama lainnya bagi 85 persen CEO. Laporan teknologi global KPMG menyoroti bahwa 63 persen responden setuju atau sangat setuju bahwa meningkatkan keamanan siber dan privasi akan membantu mereka memberikan pengalaman pelanggan yang memenangkan loyalitas. Manajemen dan integrasi data yang lebih baik merupakan manfaat utama, sebagaimana disebutkan oleh 42 persen responden.
Manusia adalah Inti Inovasi
Meskipun teknologi membentuk dunia, manusia adalah penggerak perubahan yang sebenarnya. Ketika perusahaan asuransi mencari cara terbaik untuk memanfaatkan teknologi baru, salah satu fokusnya adalah manajemen talenta.
Membingkai AI sebagai rekan kerja, bukan sebagai teknologi baru, dapat membantu menghilangkan rasa takut akan kemungkinan kehilangan peran. Mengintegrasikan peran AI bersama dengan kolega manusia akan memungkinkan fungsi asuransi mengelola tugas-tugas kompleks dengan lebih baik. Bagaimanapun, inovasi adalah perjalanan yang membutuhkan upaya berkelanjutan, investasi, dan kemauan untuk merangkul perubahan di semua tingkat organisasi. Meskipun ada risiko pada gelombang teknologi, risiko terbesar adalah kehilangan kesempatan untuk membentuk apa yang mungkin terjadi.
Praktik-Praktik Terbaik
Perusahaan-perusahaan KPMG telah membangun praktik-praktik terbaik ke dalam berbagai alat yang dirancang untuk mendapatkan hasil maksimal dari AI. Maka, berikut adalah rekomendasi KPMG.
- Gerak cepat untuk menghemat lebih cepat
Hal yang terpenting dilakukan perusahaan adalah membangun kepercayaan internal dan eksternal terhadap AI.
- Lakukan peningkatan untuk mempercepat pengiriman
Jika rencana transformasi perusahaan sudah berumur hingga 3 tahun, rencana tersebut perlu diperbarui agar dapat tetap mengendalikan biaya dan mengelola risiko.
- Bayangkan pencapaian nilai
Bayangkan dan upayakan perusahaan di masa depan dengan kemampuan mengurangi biaya dan memberikan nilai dengan bantuan AI.
Artikel ini telah diterbitkan oleh KPMG, dengan judul “AI in Insurance: A Catalyst for Change” pada 6 September 2024. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Memperkuat Ketahanan Rantai Pasokan Energi
Meskipun masalah pandemi Covid-19 telah terpecahkan, tantangan rantai pasokan tetap menjadi masalah utama perusahaan energi. Survei CFO Grant Thornton untuk kuartal keempat 2023 memang menunjukkan kekhawatiran rantai pasokan mengalami penurunan di semua industri. Namun sayangnya, situasi politik yang bergejolak di Timur Tengah mengancam tantangan rantai pasokan energi. Kondisi ini berlangsung setidaknya sampai resolusi damai tercapai.
Masalah-Masalah Perusahaan Energi
Perusahaan energi hilir, tengah, dan hulu memiliki sejumlah masalah yang sama. Pertama, mereka mengalami kesulitan mendapatkan pekerja yang terspesialisasi dan kompetitif. Perusahaan kerap menggunakan agen sementara untuk mengisi pekerjaan. Namun, banyak dari pekerja sementara tersebut berhenti sebelum menyelesaikan pelatihan karena pekerjaan yang diberikan tergolong sulit. Kini, perusahaan-perusahaan mulai berkreasi dengan struktur gaji dan mengembangkan hubungan dengan sekolah-sekolah kejuruan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja khusus.
Kedua, mereka kesulitan mengelola regulasi dengan tuntutan environmental, social, and governance (ESG) yang baru. Perusahaan dapat mengalami goncangan peraturan, tergantung siapa yang berkuasa di pemerintahan. Perubahan dalam lingkungan peraturan dapat membuat perkiraan jangka panjang menjadi sulit bagi perusahaan di semua tahap aliran energi.
Ketiga, keamanan siber dan keamanan fisik membutuhkan dana yang signifikan karena perusahaan terus-menerus menghadapi ancaman serangan. Saat ini, sebagian besar pemimpin perusahaan telah memahami dasar-dasar keamanan siber. Ada beberapa hal yang perlu dimiliki para pemimpin, yaitu
- kesepakatan puncak perusahaan untuk memprioritaskan keamanan siber,
- kontrol teknologi informasi (TI) yang kuat,
- protokol pelatihan untuk para karyawan, dan
- rencana yang matang mengenai cara-cara menangani serangan siber.
Menjaga Keamanan Rantai Pasokan Energi
Beberapa perusahaan energi melakukan investasi besar dalam keamanan fisik, dengan peningkatan seperti pagar pengaman dan penghalang beton. Solusi teknologi seperti pengawasan video dan kontrol akses berkode kunci juga makin populer.
Regulator di tingkat negara bagian dan federal Amerika Serikat (AS) juga telah memberlakukan kebijakan untuk memperkuat perlindungan aset energi. Sementara itu, para pemimpin perusahaan hilir, tengah, dan hulu memantau serta mengevaluasi risiko-risiko ini dengan cermat. Di sisi lain, pihak ketiga dapat menimbulkan risiko yang tidak diinginkan dan signifikan bagi perusahaan tengah (midstream).
Mengelola Kontrak dan Analisis Data
Banyaknya variabel yang terkait dengan biaya midstream membuat penentuan harga menjadi sulit. Itulah mengapa perusahaan berinvestasi dalam perangkat lunak dan kemampuan manajemen kontrak untuk membantu menentukan harga layanan secara kompetitif. Penetapan harga dapat dibuat berjenjang berdasarkan volume, sedangkan model penetapan harga bersifat dinamis. Perusahaan midstream harus menggunakan teknologi yang memungkinkan mereka untuk memahami margin sepenuhnya.
Sementara itu, perusahaan energi hulu menghadapi sejumlah hambatan besar saat berusaha mendorong pertumbuhan berikut.
- Harga diperkirakan tetap tidak stabil untuk material baja karbon dan baja tahan karat yang dibutuhkan perusahaan hulu.
- Kapasitas midstream dan penyimpanan mungkin terbatas sehingga tidak masuk akal untuk mengekstraksi produk yang tidak dapat mereka kirimkan.
- Teknologi dan inovasi menghadirkan jawaban potensial untuk masalah material serta masalah di tempat kerja.
Masa Depan yang Menjanjikan
Kepentingan energi surya tampaknya memiliki masa depan yang menjanjikan, bahkan ketika perusahaan-perusahaan hulu, tengah, dan hilir telah membuktikan ketangguhan mereka selama beberapa tahun terakhir.
Di hampir semua kasus, perusahaan-perusahaan energi menemukan bahwa transformasi teknologi memberikan hasil yang baik terkait produktivitas dan efisiensi. Ketika perusahaan-perusahaan tersebut mengelola tenaga kerja, regulasi, keamanan siber, dan masalah utama lainnya, para pemimpin cenderung akan mempertahankan ketahanan di seluruh bidang operasi.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Grant Thornton, dengan judul “Strengthen Resilience of Energy Supply Chains” pada 21 Februari 2024. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Navigasi ESG untuk Lembaga Keuangan
Lanskap peraturan ESG mengalami transisi yang dinamis. Arahan-arahan utama ditetapkan untuk menciptakan transparansi dan akuntabilitas. Hal ini mendorong perusahaan untuk secara ketat menangani dampak lingkungan dan sosial.
Dalam proyek-proyek mitigasi iklim, kesenjangan investasi akan mencapai 2 triliun dolar Amerika Serikat (AS) per tahun pada 2030. Untuk mendapatkan pendanaan yang diperlukan, ada beberapa tantangan besar. Namun, kuncinya terletak pada pengalihan dana secara strategis dengan mengalokasikan sumber daya untuk solusi dekarbonisasi, mitigasi, dan adaptasi. Maka, ESG bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan. Terlepas dari tekanan keuangan yang dihadapi bank, terdapat peningkatan permintaan akan produk ramah lingkungan dari pelanggan, bisnis, dan investor.
Janji-Janji Menjadi Solusi
Konferensi Para Pihak Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim atau Conference of Parties (COP) ke-28—dikenal dengan nama COP28—mengalami pergeseran transformatif. Mereka beralih dari janji-janji menuju pendekatan yang berorientasi pada solusi. Transisi ini menekankan perlunya kemitraan strategis serta menyoroti relevansi sektor minyak dan gas.
Pertemuan selanjutnya di Davos memberi fokus pada harapan dan urgensi. Tantangan utama terletak pada pembukaan modal swasta untuk proyek-proyek infrastruktur yang luas. Sektor jasa keuangan memiliki peran besar dalam transisi dari ekonomi cokelat ke ekonomi hijau. Apalagi, perekonomian menunjukkan ketahanan yang tak terduga pada 2023, melampaui proyeksi awal. Namun demikian, ada catatan kehati-hatian karena separuh dunia berpartisipasi dalam pemilihan umum tahun ini. Tentu, hasil pemungutan suara memiliki potensi signifikan untuk mempengaruhi lanskap politik dan ekonomi selama dekade berikutnya.
Di Davos, keunggulan AI generatif (GenAI) mendominasi banyak percakapan. Dari perspektif ESG, GenAI dapat memainkan peran utama dengan mempercepat pengumpulan data, simulasi, dan produksi untuk memenuhi persyaratan peraturan yang terus berkembang.
Implikasi bagi Lembaga Keuangan
Lanskap ESG adalah lanskap yang luas dengan peluang bagi semua orang. Setidaknya terdapat empat keharusan tematik untuk membantu lembaga keuangan dalam menangkap peluang tersebut.
- Tentukan ambisi yang jelas
Lembaga keuangan perlu mendefinisikan dan memiliki target terukur untuk ESG. Dengan demikian, insentif untuk penyelarasan yang lebih besar antara lembaga keuangan individu dan ambisi ESG nasional dapat terbentuk.
- Tingkatkan kemampuan yang tepat
Kegiatan mengelola dan mengakses data akan menjadi makin penting karena regulator terus menerapkan persyaratan pengungkapan yang ketat. Pada saat yang sama, bank perlu mengintegrasikan ESG ke dalam evaluasi risiko dan kredit untuk memastikan keputusan pemberian pinjaman yang tahan terhadap perubahan iklim.
- Dorong kelincahan dan inovasi produk
Seiring dengan meningkatnya permintaan produk ESG secara global, lembaga keuangan membutuhkan produk inovatif di seluruh sisi bisnis utang dan aset untuk menangkap peluang pasar dan melayani basis konsumen.
Puncak Perubahan
Layanan keuangan memiliki peluang besar untuk mendorong dan menavigasi transisi yang sedang berlangsung. Terdapat kebutuhan mendesak bagi mereka untuk secara proaktif mendukung berbagai sektor, termasuk nasabah ritel, usaha kecil, korporasi, dan program infrastruktur berskala besar. Dalam lingkungan dengan pertumbuhan rendah pada 2024, pemanfaatan peluang ESG adalah cara yang nyata untuk mendorong pertumbuhan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Kearney, dengan judul “Navigating the ESG Landscape for Financial Institutions” pada 1 Februari 2024. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Mata Uang Kripto: Ancaman Makro Sistem Keuangan Global?
Menurut Kristalina Georgieva, Direktur Pelaksana International Monetary Fund (IMF), mata uang kripto perlu diatur karena menimbulkan risiko terhadap stabilitas keuangan. “Tantangannya adalah adopsi aset kripto yang tinggi dapat merusak stabilitas keuangan makro.” Pendapat serupa pernah disampaikan oleh mantan calon Presiden Amerika Serikat (AS), Hillary Clinton, yang menyebutkan bahwa mata uang kripto dapat melemahkan peran dolar AS. Sementara itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa Turki “berperang” dengan mata uang digital. Di sisi lain, Xi Jinping, Presiden Tiongkok, mengeluh bahwa bitcoin tidak dapat diawasi oleh negara.
Bitcoin diciptakan pada 2008 sebagai tanggapan terhadap sistem keuangan global yang hampir runtuh. Pada masa-masa kelam 2007 dan 2008, terdapat kekhawatiran yang meluas mengenai apa yang akan terjadi jika orang-orang kehilangan akses ke rekening bank dan broker. Oleh karena itu, muncullah sistem keuangan alternatif.
Di sisi lain, kripto dikaitkan dengan banyak penipuan dan digunakan oleh para penjahat, mulai dari penyerang ransomware, teroris, hingga perdagangan seks, obat-obatan terlarang, dan perjudian. Ini adalah risiko mikro yang harus ditimbang dengan keuntungan makro.
Jadi, apakah bencana keuangan global yang disebabkan oleh inovasi dalam mata uang kripto merupakan jenis peristiwa “ekstrem yang masuk akal” yang seharusnya ada dalam stress test dan analisis skenario? Atau, apakah yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu mata uang kripto menawarkan jalan keluar dari bencana keuangan tradisional?
Mengurai Pasar Kripto
Mula-mula, ada baiknya kita membedakan aset digital yang membentuk ekonomi kripto dengan mata uang kripto transaksi murni. Meskipun mata uang kripto sangat tidak stabil dalam hal harga koin dalam dolar AS, ekonomi kripto telah tumbuh dengan stabil dan tenang. Inovasi terus bermunculan, dan penggunaan pelanggan terus bertambah.
Jika seluruh ekonomi kripto jatuh dan menjadi tidak berharga, nilai ekonomi sebesar 2 triliun dolar AS akan hilang. Meskipun kehancuran total dari ekonomi kripto tidak akan berarti apa-apa, hal ini akan serupa dengan hilangnya kekayaan pada saat krisis internet tahun 2000, ketika ekonomi global masih jauh lebih kecil.
Risiko makro pertama yang disebutkan oleh Georgieva dari IMF adalah bahwa ketersediaan mata uang kripto mengurangi pengaruh tindakan moneter bank sentral. Jika bank sentral melakukan pengetatan dengan menaikkan suku bunga dan menjual aset, mata uang kripto memungkinkan masyarakat untuk terus meminjam dan membelanjakan uangnya, sambil menggunakan mata uang tradisional untuk mendapatkan suku bunga yang tinggi dan membeli aset dengan harga yang lebih murah dari bank sentral.
Sebelum memikirkan konsekuensi potensial, pertimbangkan pula interaksi dengan kekhawatiran makro kedua Georgieva: campur tangan kripto terhadap manajemen aliran modal. Di negara-negara yang memberlakukan kontrol modal yang ketat, hal ini sudah sering terjadi.
Sebagian besar token kripto tidak ditujukan untuk adopsi massal. Namun, token kripto berfungsi untuk mengatur aktivitas ekonomi di antara kelompok yang terdiri atas beberapa ratus atau beberapa ribu orang. Token kripto adalah aset lokal yang diterima secara sukarela oleh individu. Nilai layanan ekonomi riil yang mereka hasilkan dapat melambung tinggi atau jatuh, tetapi tidak akan mempengaruhi apa pun di luar jaringan lokal.
Ancaman Terbesar terhadap Stabilitas
Mata uang kripto dapat mengikis kemampuan pemerintah untuk mengumpulkan pajak. Tanpa kemampuan ini, pemerintah terpaksa bergantung pada pajak bruto untuk hal-hal seperti kekayaan, upah, pendapatan, atau impor. Berkurangnya pendapatan membuat utang pemerintah berisiko. Hal ini dapat memaksa pemotongan pengeluaran yang mengganggu perekonomian.
Skenario pendapatan pemerintah terancam terjadi jika beberapa sektor beralih ke model mata uang kripto. Ketika sebuah organisasi kripto mengizinkan pertukaran, ia kehilangan keuntungan dari algoritma yang dirancang menggunakan teori permainan dan kriptografi.
Sekarang, bayangkan sebuah dunia dengan mata uang nasional yang tidak dapat dikonversi. Bayangkan pula sebuah dunia kripto dengan ratusan mata uang kripto untuk tujuan khusus, dengan kemampuan yang terbatas untuk menukarkan satu token dengan token lainnya, atau token apa pun dengan uang tunai tradisional.
Hal yang kita bayangkan itu bisa terjadi, tetapi dalam beberapa dekade. Dalam risiko, hal yang paling penting adalah leverage.
Kesimpulan
Saat ini terjadi perubahan opini pasar tentang kemungkinan bahwa sebagian besar ekonomi akan beralih dari uang tradisional. Pergeseran sentimen semacam ini cenderung berkelanjutan. Makin banyak investor yang menyukai aset kripto dibandingkan sekuritas tradisional, makin goyah sekuritas tradisional tersebut dan sistem keuangan tradisional, makin mempercepat perubahan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Global Association of Risk Professionals (GARP), dengan judul “Do Cryptocurrencies Pose a Macro Threat to the Global Financial System?” pada 23 Februari 2024. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.