Pekan Iklim New York: Seruan untuk Bertindak dan Berdampak
Dengan rekor suhu, panas laut, kenaikan permukaan laut, dan penyusutan es di Antarktika yang terus meningkat, Pekan Iklim New York tahun ini diadakan dalam suasana yang penuh keprihatinan. Biaya ketidakpedulian terhadap iklim kini lebih besar daripada biaya untuk bertindak. Tema tahun ini sederhana tapi kuat: “It’s time” (Saatnya).
Bencana terkait iklim semakin sering terjadi, seperti banjir besar di Jerman, dan hujan deras yang menyebabkan banjir bandang di Filipina. Di AS, kebakaran telah menghanguskan lebih dari 5,2 juta hektar dalam setahun terakhir, meningkat 37% dari rata-rata 10 tahun terakhir. Dampak perubahan iklim ini mengubah cara hidup kita, menguji rantai pasokan global, mempengaruhi sistem pangan, dan kesehatan masyarakat.
Kita perlu melampaui mitigasi dan mulai beradaptasi dengan perubahan iklim yang tak terelakkan. Perusahaan harus memahami kerentanannya dan memasukkan langkah adaptasi dalam perencanaan strategis mereka. Dalam laporan Marsh yang akan datang, dibahas bagaimana perusahaan bisa lebih tangguh terhadap dampak fisik dari perubahan iklim.
Pada 22-29 September, Pekan Iklim New York akan dihadiri oleh pemimpin bisnis, politisi, dan tokoh masyarakat dari seluruh dunia. Acara ini mencakup lebih dari 600 sesi, dengan 1000 pemimpin terkemuka yang fokus pada empat tema utama:
- Revolusi Industri Baru
Perubahan menuju ekonomi hijau harus dilakukan dengan cepat, dengan langkah-langkah mitigasi dan transfer risiko yang tepat. - Transisi Energi dan Transportasi
Transportasi, sebagai salah satu penyumbang utama emisi gas rumah kaca, perlu didekarbonisasi dengan dukungan sektor keuangan dan industri asuransi. - Alam, Sistem Pangan, dan Kesehatan
Perubahan iklim adalah krisis kesehatan terbesar saat ini. Melindungi alam sangat penting untuk mengurangi emisi dan menjaga sistem pangan serta kesehatan. - Kepemimpinan dan Pertumbuhan Hijau
Transisi ini membutuhkan solusi yang didanai secara besar-besaran. Industri asuransi memainkan peran penting dalam mendukung proyek hijau melalui pengurangan risiko.
Para eksekutif Marsh McLennan akan berpartisipasi dalam diskusi praktik tentang peran industri asuransi dalam mendukung transisi iklim. Dengan inovasi yang tepat, industri asuransi dapat mempercepat implementasi modal untuk proyek hijau dan membantu menciptakan masa depan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Marsh, dengan judul New York Climate Week: A Call for Action. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Membandingkan Framework MITRE ATT&CK dan NIST Cybersecurity
Dalam dunia keamanan siber, organisasi semakin dihadapkan dengan ancaman yang semakin kompleks. Dua framework populer, yaitu NIST Cybersecurity Framework (CSF) dan MITRE ATT&CK, menawarkan pendekatan yang berbeda untuk membantu perusahaan melindungi sistemnya.
1. NIST Cybersecurity Framework (CSF)
Framework NIST CSF, diperkenalkan pada tahun 2014 oleh National Institute of Standards and Technology (NIST), bertujuan untuk meningkatkan ketahanan siber dengan struktur 5 langkah utama:
- Identify: Mengidentifikasi aset penting dan potensi ancaman.
- Protect: Mengamankan aset dengan perlindungan yang memadai.
- Detect: Mendeteksi insiden atau anomali keamanan.
- Respond: Merespon secara efektif terhadap insiden.
- Recover: Memulihkan operasi setelah serangan.
Framework ini dibagi dalam tiga komponen utama:
- Framework Core: Berisi instruksi dan praktik terbaik.
- Implementation Tiers: Mengukur tingkat kematangan keamanan.
- Framework Profile: Menyelaraskan kebutuhan keamanan organisasi dengan tujuan.
Versi terbaru, CSF 2.0 (2024), lebih memudahkan adopsi bagi organisasi dengan berbagai tingkat keamanan.
2. MITRE ATT&CK
MITRE ATT&CK, dikembangkan pada 2013, lebih berfokus pada taktik dan teknik yang digunakan oleh aktor ancaman. Framework ini menggambarkan proses serangan, mulai dari akses awal, eksekusi, hingga eskalasi hak akses. MITRE ATT&CK mengklasifikasikan:
- Tactics: Tujuan utama serangan.
- Techniques: Cara yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut.
- Mitigations: Langkah pencegahan dan deteksi yang direkomendasikan.
Berbeda dengan NIST CSF, MITRE ATT&CK lebih teknis dan memerlukan pendekatan iteratif seperti uji penetrasi dan pengujian validasi kontrol keamanan.
3. Perbandingan dan Penggunaan Bersama
NIST CSF lebih cocok untuk manajemen tingkat atas dengan pendekatan berbasis risiko, sedangkan MITRE ATT&CK untuk profesional teknis. NIST CSF memfasilitasi manajemen risiko secara keseluruhan, sedangkan MITRE ATT&CK berfokus pada deteksi dan mitigasi ancaman tertentu.
Pendekatan Terintegrasi: Dengan menggabungkan NIST CSF sebagai fondasi program keamanan siber dan MITRE ATT&CK untuk pemahaman mendalam tentang serangan, organisasi dapat membangun infrastruktur keamanan yang adaptif, proaktif, dan reaktif. Integrasi kedua framework ini memungkinkan evaluasi rutin terhadap profil keamanan yang sesuai dengan perkembangan ancaman terbaru.
Dengan perpaduan NIST CSF dan MITRE ATT&CK, perusahaan dapat mencapai ketahanan keamanan yang lebih komprehensif dan adaptif, mengurangi risiko paparan terhadap ancaman siber di masa depan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh ISACA, dengan judul Comparing the MITRE ATT&CK and NIST Cybersecurity Frameworks. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Laporan Risiko untuk Dewan Direksi di Era Disrupsi
Dalam masa ketidakpastian ini, laporan risiko untuk dewan direksi sering kali tidak lagi memadai. Dewan kini cenderung mengharapkan dialog yang lebih mendalam, keterlibatan yang lebih tinggi, serta wawasan ke depan yang didasarkan pada data dan informasi yang relevan. Pendekatan yang berprinsip dapat membantu memenuhi harapan ini.
Pasar global yang terus berubah memaksa dewan perusahaan untuk mempertimbangkan perkembangan tak terduga, baik di tingkat domestik maupun internasional, yang bisa berdampak besar pada strategi dan profil risiko perusahaan. Dalam konteks ini, ada 10 prinsip penting yang dapat memperbaiki pelaporan risiko dan keterlibatan dewan.
- Tautkan Laporan Risiko ke Tujuan Bisnis Utama: Relevansi laporan terjamin ketika risiko dikaitkan dengan rencana bisnis serta inisiatif strategis yang penting.
- Sinkronkan Laporan Dewan dengan Laporan Manajemen: Dengan menyelaraskan laporan ini, proses pelaporan akan menjadi lebih elegan dan sederhana.
- Fokuskan Pelaporan pada Risiko Penting dan Risiko Baru: Kedua kategori ini memberikan konteks untuk memastikan pelaporan risiko mencakup pandangan yang komprehensif dan berorientasi ke depan.
- Laporkan Risiko Harian Secara Selektif: Risiko yang tidak tergolong sebagai risiko perusahaan utama sebaiknya hanya dilaporkan pada status laporan berkala, kecuali jika ada kejadian signifikan yang tak terduga.
- Definisikan Tanggung Jawab Pengelolaan Risiko: Dewan ingin mengetahui bahwa ada pihak yang bertanggung jawab atas risiko-risiko utama.
- Libatkan Penanggung Jawab Risiko dalam Pelaporan Langsung: Ketika pelaporan dilakukan, penanggung jawab risiko sebaiknya juga menyampaikan tantangan yang mereka hadapi dalam konteks yang sama.
- Laporkan Dampak Perubahan Lingkungan Eksternal pada Asumsi Strategis: Termasuk wawasan dari analisis geopolitik dan skenario, sehingga dapat memberikan peringatan dini.
- Berikan Wawasan tentang Proses Manajemen Risiko yang Efektif: Dewan perlu memahami bagaimana manajemen mengidentifikasi, mengukur, dan mengawasi risiko perusahaan.
- Perhatikan Preferensi Dewan: Banyak anggota dewan menginginkan pelaporan dalam bahasa sederhana, presentasi singkat, lebih banyak wawasan, dan dialog yang interaktif.
- Tingkatkan Laporan Risiko secara Berkelanjutan: Prinsip-prinsip ini sebaiknya diterapkan sambil terus meminta umpan balik dari dewan.
Prinsip-prinsip ini bertujuan untuk memberi panduan yang kuat bagi dewan dan manajemen dalam meningkatkan pelaporan risiko. Meskipun tidak ada pendekatan yang seragam, laporan risiko sebaiknya mencakup tinjauan perkembangan yang berkelanjutan, fokus pada hasil praktis, serta wawasan yang tepat waktu sesuai perubahan pasar dan perkembangan yang tidak terduga.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Protiviti, dengan judul Board Risk Reporting in Disruptive Times. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Standar Pelaporan ESG Global: Mendorong Bisnis yang Berkelanjutan di Indonesia
Dalam dunia bisnis modern, keberlanjutan dan tanggung jawab sosial kini menjadi pilar utama selain keuntungan finansial. Untuk mendukung hal ini, banyak perusahaan mulai mengadopsi Environmental, Social, and Governance (ESG) sebagai kerangka kerja untuk mengukur kinerja mereka dalam aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan. Standar pelaporan ESG global menjadi sangat penting karena membantu perusahaan mengelola dan melaporkan dampak keberlanjutan secara konsisten dan transparan.
Apa Itu Standar Pelaporan ESG Global?
Standar pelaporan ESG global adalah pedoman yang dirancang untuk membantu perusahaan melaporkan kinerja keberlanjutan mereka. Standar seperti Global Reporting Initiative (GRI), Sustainability Accounting Standards Board (SASB), dan Task Force on Climate-related Financial Disclosures (TCFD) membantu perusahaan mengkomunikasikan upaya mereka dalam menangani risiko dan peluang keberlanjutan kepada pemangku kepentingan. Di Indonesia, ini semakin relevan karena sektor energi, manufaktur, dan keuangan terus beradaptasi dengan standar global untuk mematuhi regulasi lokal dan ekspektasi internasional.
Mengapa Penting Bagi Perusahaan?
- Meningkatkan Daya Saing: Perusahaan yang melaporkan ESG secara transparan memiliki keunggulan di pasar global, terutama karena banyak investor yang mempertimbangkan kriteria ESG dalam keputusan investasi mereka. Ini membantu menarik investor dan membangun reputasi yang positif.
- Memitigasi Risiko: Pelaporan ESG membantu perusahaan mengelola risiko yang terkait dengan dampak lingkungan dan sosial, seperti potensi boikot konsumen atau sanksi regulasi. Dengan standar yang tepat, perusahaan dapat meminimalkan risiko dan mengelola tantangan keberlanjutan lebih efektif.
- Memenuhi Harapan Pemangku Kepentingan: Konsumen saat ini semakin memilih produk yang ramah lingkungan dan sosial. Melalui pelaporan ESG, perusahaan dapat menunjukkan komitmen mereka terhadap keberlanjutan, membangun loyalitas pelanggan, dan memperkuat merek mereka.
Tantangan Implementasi
Walaupun manfaatnya besar, tantangan dalam pelaporan ESG juga tidak sedikit. Banyak perusahaan harus berurusan dengan kompleksitas pengumpulan data lintas departemen, kurangnya pemahaman tentang ESG, dan biaya implementasi yang tinggi. Namun, investasi ini penting untuk kelangsungan bisnis jangka panjang dan kepatuhan terhadap regulasi yang terus berkembang.
Perusahaan di Indonesia dapat mulai dengan memilih standar yang sesuai dengan industri mereka dan secara bertahap membangun sistem pelaporan ESG yang efektif. Pemerintah dan otoritas lokal diharapkan dapat memberikan panduan lebih jelas untuk memperkuat keberlanjutan di Indonesia dalam rantai pasokan global.
Di era bisnis yang semakin peduli keberlanjutan, perusahaan yang menerapkan dan melaporkan ESG dengan baik akan memiliki posisi unggul di pasar. Standar pelaporan ESG global menyediakan alat penting untuk memastikan bahwa perusahaan tidak hanya memenuhi kewajiban, tetapi juga meraih manfaat dari peningkatan kepercayaan dan loyalitas dari pemangku kepentingan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh CRMS Indonesia, dengan judul “Standar Pelaporan ESG Global: Mengapa Penting?”. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Mengadopsi Generative AI dalam Manajemen Risiko Kredit
Industri risiko kredit mulai mengadopsi teknologi generative AI. Namun, bagaimana penerapannya dapat dilakukan secara aman dan dalam skala besar?
Teknologi generative AI mulai populer setelah OpenAI merilis beta ChatGPT pada akhir 2022, yang dengan cepat menarik 100 juta pengguna dalam waktu dua bulan. Dalam dunia finansial yang cenderung konservatif, adopsi generative AI mulai terlihat, termasuk di bidang risiko kredit. Survei McKinsey terhadap eksekutif risiko kredit dari 24 institusi keuangan mengungkapkan bahwa 20% institusi sudah menerapkan generative AI, sementara 60% lainnya berencana melakukannya dalam setahun ke depan.
Penerapan Generative AI di Risiko Kredit
Teknologi generative AI dapat diterapkan di seluruh siklus kredit, dari analisis profil kredit hingga pembuatan laporan. Contohnya, AI ini mampu menggabungkan dan menganalisis data yang tidak terstruktur, serta menghasilkan laporan dan komunikasi yang dipersonalisasi untuk pelanggan. Beberapa kegunaan spesifik meliputi:
- Proses Kredit: Generative AI dapat menganalisis dokumen, mengidentifikasi pelanggaran kebijakan, dan menyusun memo kredit untuk ditinjau oleh petugas kredit.
- Monitoring Portofolio: Membantu manajer portofolio dalam pembuatan laporan kinerja dan mengidentifikasi risiko melalui analisis data real-time.
- Bantuan Pelanggan: Generative AI dapat mengirimkan komunikasi personal kepada pelanggan yang menghadapi masalah kredit atau memberikan opsi restrukturisasi.
Saat ini, sebagian besar penggunaan AI di sektor kredit berfokus pada pemantauan portofolio dan proses pengajuan kredit.
Meski menjanjikan, penerapan generative AI di risiko kredit menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait dengan risiko dan tata kelola. Tantangan utama termasuk keadilan algoritma, pelanggaran privasi, dan dampak ESG seperti emisi karbon. Selain itu, terbatasnya sumber daya manusia dengan keahlian AI dan kesulitan mendefinisikan kasus penggunaan menjadi kendala tambahan.
Membangun Ekosistem Generative AI yang Efektif
Untuk memaksimalkan potensi AI, institusi keuangan harus mengembangkan praktik standar dalam penerapannya. Delapan praktik utama yang dibutuhkan mencakup:
- Roadmap AI yang selaras dengan strategi bisnis.
- Proses Pembangunan Alat AI yang mendukung eksperimen yang aman.
- Teknologi Gen AI-Ready untuk memproses data tak terstruktur.
- Model Dasar Berstandar Enterprise untuk mendukung kustomisasi.
- Alat Otomatisasi Pendukung untuk manajemen model.
- Model Tata Kelola dan Talenta yang mencakup pengembangan lintas fungsi.
- Arsitektur Solusi Modular untuk memungkinkan pengembangan paralel.
- Perpustakaan Solusi Generative AI untuk aplikasi lintas bisnis.
Melalui pendekatan ekosistem ini, institusi keuangan diharapkan dapat meningkatkan efisiensi, akurasi, dan personalisasi layanan di bidang risiko kredit.
Artikel ini telah diterbitkan oleh McKinsey, dengan judul “Embracing generative AI in credit risk” pada 1 Juli 2024. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Transformasi Uji Stres Pascakrisis: Membangun Ketahanan Bank di Tengah Guncangan Ekonomi
Ketika krisis keuangan global melanda pada 2007-2009, uji stres—analisis untuk mengukur ketahanan bank terhadap kejutan ekonomi—telah dikenal dalam dunia perbankan. Namun, krisis ini mengungkap kelemahan mendasar dalam pendekatan lama, terutama dalam mengantisipasi dampak peristiwa dengan probabilitas rendah namun dampak tinggi.
Latar Belakang dan Perubahan Regulasi
Meski ekonomi global telah melalui resesi-resesi sebelumnya, krisis finansial global mengungkap perlunya perbaikan dalam praktik pengelolaan modal bank. Di Amerika Serikat, Supervisory Capital Assessment Programme (SCAP) pada 2009 menandai dimulainya evaluasi simultan atas 19 bank besar. Ini berkembang menjadi Comprehensive Capital Analysis and Review (CCAR), yang mewajibkan bank untuk mengajukan skenario stres mereka, sekaligus menyimulasikan kondisi ekonomi ekstrem. Tujuan utama uji stres ini adalah mengurangi “miopia bencana”—sikap abai terhadap potensi krisis—dan mendorong stabilitas finansial yang lebih tangguh.
Pendekatan Pemodelan dalam Uji Stres
Pendekatan kuantitatif menjadi andalan dalam uji stres, terutama melalui dua metode populer:
- Vector Autoregression (VAR): Model VAR memperkirakan berbagai hasil ekonomi menggunakan simulasi Monte Carlo yang melibatkan variabel-variabel makroekonomi, seperti PDB dan tingkat pengangguran. VAR memungkinkan perhitungan probabilitas untuk berbagai skenario stres, membantu bank meramalkan risiko default berdasarkan kondisi ekonomi yang memburuk.
- Copula: Model copula menggunakan distribusi gabungan untuk menilai hubungan antara variabel makroekonomi dan tingkat gagal bayar kredit. Dengan membangun korelasi statistik antara variabel ekonomi dan tingkat default, model ini memungkinkan proyeksi yang lebih terukur atas kemungkinan gagal bayar di bawah skenario stres.
Tantangan Uji Stres Masa Kini
Salah satu tantangan terbesar dalam uji stres adalah mengintegrasikan data dari berbagai sistem warisan dan sumber data berbeda yang seringkali tersebar, tidak terkonsolidasi, atau bahkan hilang. Ini membutuhkan investasi dalam arsitektur teknologi serta tim khusus yang menjaga kualitas dan konsistensi data. Tantangan lain adalah menjaga tenaga kerja ahli dalam kuantitatif dan kolaborasi lintas tim untuk validasi serta tata kelola model.
Krisis keuangan global telah menjadi titik balik dalam uji stres perbankan, memacu penggunaan model-model canggih yang mampu mendeteksi kelemahan sistem perbankan. Namun, tantangan masih ada, terutama dalam memastikan uji stres dapat menangkap skenario tak terduga di masa depan. Waktu yang akan menentukan seberapa baik ketahanan bank dalam menghadapi krisis selanjutnya.
Artikel ini telah diterbitkan oleh PRMIA, dengan judul “Global Financial Crisis: The Turning Point For Stress Testing” pada Agustus 2024.
Ekonomi Melambat atau Pemulihan Lambat?
Perlambatan ekonomi atau pemulihan lambat merujuk pada kondisi penurunan ekonomi yang memengaruhi kemampuan pelanggan untuk membeli produk atau layanan. Situasi ini berdampak pada permintaan dan penawaran, yang bisa disebabkan oleh peristiwa global seperti krisis keuangan 2008 atau pandemi COVID-19, maupun peristiwa lokal seperti ketidakstabilan geopolitik atau masalah produktivitas.
Mengapa Perlambatan Ekonomi Merupakan Risiko Besar bagi Bisnis?
Ketidakpastian mengenai berapa lama perlambatan ekonomi akan berlangsung membuat perusahaan cenderung mengambil langkah defensif dengan fokus pada likuiditas, pengendalian biaya, dan manajemen tenaga kerja. Dampak dari perlambatan ekonomi meliputi:
- Pendapatan Terhambat atau Menurun: Ketika konsumsi menurun, pendapatan bisnis bisa terpengaruh karena perubahan kebiasaan belanja konsumen.
- Gangguan Rantai Pasokan: Krisis ekonomi bisa menyebabkan kekurangan bahan baku atau produk, yang mempersulit bisnis untuk memenuhi permintaan.
- Kesulitan Pembiayaan: Arus kas menjadi krusial, sementara akses ke pendanaan baru bisa semakin sulit karena pihak pemberi pinjaman menjadi lebih berhati-hati.
- Kebijakan Pemotongan Biaya: Pengurangan staf sering kali menjadi langkah untuk menghemat biaya, meskipun menjaga motivasi karyawan yang tersisa bisa menjadi tantangan.
- Dampak Globalisasi: Teknologi memungkinkan bisnis beroperasi secara global, sehingga dampak krisis ekonomi di suatu wilayah bisa meluas ke area lain.
Perlambatan ekonomi cenderung berulang setiap dekade. Tren seperti populasi yang menua, perubahan iklim, dan adopsi kecerdasan buatan yang luas bisa memperparah ketidakpastian ekonomi. Misalnya, peningkatan kerja jarak jauh telah memengaruhi sektor properti komersial, yang dapat berdampak negatif pada industri perbankan.
Bagaimana Cara Mitigasi Dampak Perlambatan Ekonomi?
- Meningkatkan Cadangan Kas: Likuiditas yang lebih tinggi bisa membantu bisnis menghadapi penurunan pendapatan dan memungkinkan mereka berinvestasi di area inovasi.
- Perencanaan Tenaga Kerja: Strategi awal yang mencakup penilaian keterampilan bisa mengurangi dampak gangguan tenaga kerja.
- Fokus pada Risiko Terintegrasi: Mengelola risiko yang saling terkait seperti siber, reputasi, dan rantai pasokan bisa membantu mencegah kerugian berantai.
- Diversifikasi: Memperluas basis pemasok dan pelanggan dapat membantu bisnis bertahan dari perubahan ekonomi yang tidak menentu.
Mengantisipasi dan merencanakan perlambatan ekonomi membantu organisasi tetap tangguh dan beradaptasi dengan kondisi yang terus berubah.
Artikel ini telah diterbitkan oleh AON, dengan judul “Economic Slowdown or Slow Recovery” pada 8 November 2023. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
5 Strategi Kunci Menghadapi dan Mengurangi Risiko Rantai Pasokan
Dalam beberapa tahun terakhir, pergeseran politik, bencana alam, dan pandemi telah mengungkapkan kerentanan dalam rantai pasokan global. Di tengah ketidakpastian yang terus berlanjut, perusahaan perlu memikirkan cara untuk mengurangi risiko yang dihadapi, terutama terkait dengan ketergantungan pada pasar tertentu, seperti China.
- Memahami Paparan Risiko Geopolitik
Perusahaan harus melakukan tinjauan menyeluruh terhadap produk dan lokasi pengiriman untuk memahami dampak yang mungkin ditimbulkan oleh kejadian geopolitik. Menunjuk tim yang khusus menangani risiko akan memastikan manajemen risiko yang berkelanjutan.
- Memilih Pemasok Alternatif
Perusahaan perlu menentukan produk mana yang dapat menggunakan pemasok alternatif. Meskipun pemasok di China biasanya menawarkan biaya terendah, mencari pemasok di negara lain seperti India atau Indonesia dapat membantu mendiversifikasi risiko.
- Menilai Pasar Relokasi
Evaluasi pasar baru harus mempertimbangkan biaya operasional, lingkungan bisnis, dan insentif publik. Meskipun reshoring (penempatan kembali) dan otomatisasi sedang berkembang, perusahaan perlu memastikan bahwa keputusan mereka tidak mengunci mereka dalam kesepakatan yang merugikan.
- Memastikan Pemantauan Pemasok Baru
Perusahaan harus memastikan pemasok baru memenuhi kewajiban kontrak mereka. Hal ini penting agar strategi de-risking (mengurangi risiko) tidak terganggu oleh pemasok yang hanya mengandalkan komponen dari China.
- Mengoptimalkan Inventaris dan Arus Kas
Untuk menghadapi ketidakpastian, banyak perusahaan yang membangun inventaris. Namun, hal ini dapat berdampak buruk pada kesehatan keuangan jangka panjang. Perusahaan perlu mengembangkan pemasok alternatif dan menyesuaikan campuran inventaris untuk menghindari masalah stok.
Dengan menerapkan strategi-strategi ini, perusahaan dapat mengurangi risiko yang dihadapi sekaligus membangun ketahanan yang lebih baik dalam rantai pasokan mereka.
Artikel ini telah diterbitkan oleh OliverWyman, dengan judul “5 Key Strategies To Navigate And Reduce Supply Chain Risk”. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Mengoptimalkan Jaringan Manufaktur untuk Mengurangi Biaya dan Emisi Karbon
Dalam menghadapi perubahan dan tuntutan global, perusahaan manufaktur saat ini perlu mengoptimalkan jaringan pabrik dan distribusi mereka untuk tetap kompetitif. Tidak hanya harus menjaga efisiensi energi, tetapi juga semakin penting bagi mereka untuk memprioritaskan keberlanjutan dan ketahanan dalam operasional mereka, di samping fokus pada biaya, tingkat layanan, dan pertumbuhan.
Berikut adalah aspek-aspek utama yang perlu diperhatikan:
- Biaya
Optimalisasi biaya adalah langkah penting bagi produsen dalam memenuhi permintaan pasar saat ini dan masa depan. Ini mencakup alokasi produk ke pabrik yang tepat, memaksimalkan skala ekonomi, dan mengurangi biaya logistik dengan menempatkan fasilitas dekat bahan baku atau pelanggan. - Tingkat Layanan
Mempertahankan tingkat layanan yang memadai sangat penting untuk menjamin waktu pengiriman yang cepat dan andal. Misalnya, industri semen sering menggunakan jaringan desentralisasi agar dekat dengan pelanggan, sementara farmasi dan otomotif mungkin memiliki jaringan lebih terpusat. - Pertumbuhan
Perusahaan juga berupaya membuka peluang baru dengan inovasi produk dan ekspansi pasar. Namun, inisiatif ini kerap membutuhkan penyesuaian jaringan manufaktur agar mampu mengimbangi permintaan baru. - Keberlanjutan
Dorongan untuk keberlanjutan berasal dari konsumen dan regulasi pemerintah, seperti EU Green Deal dan Corporate Sustainability Reporting Directive. Produsen harus lebih transparan dalam rantai pasokan mereka dan menyesuaikan dengan persyaratan dekarbonisasi yang terus berkembang. - Ketahanan
Ketahanan rantai pasokan menghadapi tantangan seperti bencana alam dan ketidakstabilan geopolitik. Produsen dapat meningkatkan ketahanan dengan diversifikasi pemasok, menambah mitra distribusi, atau memindahkan gudang lebih dekat ke pasar.
Optimalisasi jaringan membutuhkan pendekatan berbasis data dan fakta untuk memastikan transparansi dan menetapkan jalur menuju net zero. Perusahaan perlu melakukan tinjauan menyeluruh terhadap jaringan mereka dan menentukan potensi perbaikan EBITDA. EBITDA adalah singkatan dari “Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization,” yang dalam bahasa Indonesia berarti “Pendapatan Sebelum Bunga, Pajak, Depresiasi, dan Amortisasi.” Langkah-langkah ini mencakup membangun pabrik baru, mempertimbangkan perubahan peraturan regional, dan mengalokasikan modal untuk dekarbonisasi.
Optimalisasi jaringan manufaktur adalah langkah strategis jangka panjang yang melibatkan pengelolaan biaya, keberlanjutan, dan ketahanan. Perusahaan yang berhasil melakukan optimalisasi ini akan mendapatkan manfaat finansial sekaligus berkontribusi pada kesehatan planet di masa depan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh BCG, dengan judul “Reducing Costs and Carbon in Manufacturing Networks” pada 7 Oktober 2024. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Menghadapi Lima Tekanan dalam Transformasi Manajemen Risiko
Di tengah perubahan dunia yang terus bergerak, peran manajemen risiko dalam organisasi juga berkembang. Tak hanya berfokus pada mitigasi ancaman, kini manajemen risiko semakin strategis dengan tujuan mendukung pertumbuhan dan daya saing perusahaan. Fungsi ini membantu organisasi menghadapi ketidakpastian sekaligus membangun kepercayaan di kalangan pemangku kepentingan.
Survei Chief Risk Officer (CRO) 2023 dari KPMG yang melibatkan 390 eksekutif risiko di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa fungsi risiko akan mengalami transformasi besar dalam lima tahun ke depan. Berikut lima tekanan utama yang mendorong transformasi ini:
- De-Risking di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
De-risking membantu mengurangi eksposur terhadap sektor berisiko tinggi, terutama di masa ketidakstabilan ekonomi dan politik. Strategi ini dilakukan dengan memindahkan investasi ke pasar yang lebih aman dan memperketat kepatuhan. - Penyesuaian dengan Pertumbuhan Strategis
Organisasi yang adaptif pada peluang pasar dan teknologi baru perlu menyelaraskan manajemen risiko dengan strategi bisnis, dengan dukungan penuh dari para eksekutif untuk mencapai tujuan. - Kepatuhan Regulasi yang Semakin Ketat
Regulasi global yang terus berkembang menuntut pendekatan manajemen risiko yang proaktif, membantu organisasi untuk patuh sekaligus mendukung pertumbuhan cerdas. - Efektivitas dan Efisiensi Risiko melalui Teknologi
Teknologi AI dan analitik data menjadi pendorong utama dalam meningkatkan efektivitas manajemen risiko, dengan fokus pada pelatihan, kebijakan, dan akuntabilitas yang lebih baik. - Penghematan Biaya
Biaya manajemen risiko yang terus meningkat mendorong organisasi mencari efisiensi, misalnya melalui outsourcing dan otomatisasi proses, tanpa mengorbankan kontrol risiko.
Dengan peran strategis mencakup efisiensi, kepatuhan, dan pertumbuhan, organisasi yang berhasil mengintegrasikan manajemen risiko akan memperoleh keunggulan kompetitif berkelanjutan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh ERMA, dengan judul Five Mounting Pressures Propelling Risk Transformation. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.