Artikel

Artikel2021-01-27T19:01:07+07:00

Mengintegrasikan Risiko Iklim dalam Framework Basel

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Risiko iklim kini tidak hanya terkait dengan naiknya suhu lautan tetapi juga berdampak signifikan pada berbagai jenis risiko tradisional di sektor perbankan, seperti kredit, pasar, dan operasional. Risiko iklim terintegrasi melalui tiga pilar Framework Basel dan dampaknya pada modal minimum, tata kelola, serta transparansi bank.

Kerangka Basel dan Risiko Iklim
Framework Basel, yang dikembangkan oleh Basel Committee on Banking Supervision (BCBS), terdiri dari tiga pilar:

  1. Pilar 1: Persyaratan modal minimum, termasuk manajemen risiko kredit, pasar, dan operasional.
  2. Pilar 2: Proses peninjauan pengawasan, mencakup tata kelola risiko dan kebijakan manajemen.
  3. Pilar 3: Transparansi dan disiplin pasar melalui laporan risiko.

Risiko iklim memengaruhi semua pilar ini dengan memunculkan kebutuhan akan pendekatan baru dalam pengelolaan risiko.

Jenis Risiko Iklim

  1. Risiko Fisik: Dampak langsung dari fenomena seperti banjir atau kenaikan permukaan laut, yang dapat bersifat akut (kejadian mendadak) atau kronis (jangka panjang).
  2. Risiko Transisi: Tantangan dalam beralih ke model bisnis ramah lingkungan, seperti perubahan kebijakan, adopsi teknologi baru, dan perubahan pasar.

Dampak pada Pilar 1

  • Risiko Kredit: Risiko gagal bayar nasabah meningkat akibat perubahan iklim. Bank perlu mengintegrasikan penilaian risiko iklim ke skor kredit internal dan eksternal berbasis ESG.
  • Risiko Pasar: Perubahan kondisi pasar akibat risiko iklim harus dimasukkan ke dalam model stress testing untuk mengevaluasi dampaknya pada portofolio investasi.
  • Risiko Operasional: Risiko hukum dan reputasi dapat muncul akibat kegagalan mematuhi kebijakan keberlanjutan, serta kerusakan aset fisik akibat bencana.

Dampak pada Pilar 2
Bank perlu menyelaraskan tata kelola dengan risiko iklim, termasuk pembentukan komite keberlanjutan dan pengangkatan Chief Sustainability Officer (CSO). Dokumen Risk Appetite harus mencakup pengukuran data seperti emisi karbon dan potensi pemanasan portofolio. Selain itu, analisis skenario risiko iklim perlu dikembangkan untuk memastikan kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan.

Dampak pada Pilar 3
Pilar ini mendorong bank untuk melaporkan risiko keberlanjutan kepada pemangku kepentingan. Standar seperti Task Force on Climate-Related Financial Disclosures (TCFD) dan Global Reporting Initiative (GRI) menjadi panduan dalam pelaporan risiko iklim.

Artikel ini telah diterbitkan oleh PRMIA, dengan judul How will Climate Risk Change The Basel Framework and Bank Risk Management Practices?

By |

Menghadapi Risiko dalam Rantai Pasok Elektronik

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Pandemi COVID-19 dan perubahan geopolitik telah mengekspos kerentanan besar dalam rantai pasok elektronik, khususnya semikonduktor. Dengan dampak seperti kekurangan chip global yang merugikan ekonomi AS sebesar $240 miliar pada 2021, perusahaan elektronik kini menghadapi risiko besar terkait geopolitik, keamanan informasi, ESG, dan keuangan.

Kerentanan Utama dalam Rantai Pasok Elektronik

  1. Ketergantungan Geografis

Rantai pasok elektronik sangat terpusat di Asia Timur, dengan Taiwan, China, dan Korea Selatan menguasai 60% kapasitas fabrikasi semikonduktor global. Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) bahkan memproduksi 90% chip paling canggih di dunia. Ketergantungan ini menciptakan risiko besar akibat potensi gangguan geopolitik, bencana alam, dan pembatasan perdagangan.

  1. Risiko Informasi dan Keamanan

Industri elektronik menjadi target utama serangan siber, seperti ransomware yang menyerang perusahaan besar termasuk Samsung dan NVIDIA pada 2022. Perlindungan data dan IP sangat penting untuk menjaga keunggulan kompetitif.

  1. Risiko Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG)

Produksi elektronik, terutama semikonduktor, menghadapi kritik atas konsumsi air tinggi, polusi, dan pelanggaran hak asasi manusia. Tekanan investor dan regulasi ESG semakin menuntut transparansi dan keberlanjutan.

Strategi untuk Membangun Ketahanan Rantai Pasok

Perusahaan elektronik harus mengambil langkah proaktif untuk mengurangi risiko. Berikut adalah beberapa pendekatan:

  1. Diversifikasi Basis Pemasok

Mengandalkan pemasok alternatif dengan profil risiko berbeda dapat mengurangi kerentanan terhadap gangguan tunggal.

  1. Desain Modular dan Platform

Pendekatan ini memungkinkan penggantian komponen dan pemasok dengan mudah. Contohnya, Tesla memodifikasi perangkat lunaknya agar sesuai dengan chip yang tersedia selama kekurangan chip pada 2021.

  1. Kolaborasi Perencanaan Permintaan

Perencanaan bersama dengan pemasok membantu menyesuaikan produksi dengan fluktuasi pasar, mengurangi risiko inventaris berlebih atau kekurangan.

  1. Evaluasi Dampak Keuangan

Analisis mendalam tentang dampak finansial dari tantangan rantai pasok memungkinkan perusahaan memprioritaskan produk dan pemasok strategis.

Artikel ini telah diterbitkan oleh Kearney, dengan judul Unveiling The Vulnerabilities: Unpacking Risks in The Electronics Supply Chain. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Peningkatan Kematangan Manajemen Risiko Digital

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Pada 16 Juli 2024, sebuah survei yang dilakukan oleh Audit Board mengungkapkan bahwa organisasi kini semakin mengakui pentingnya strategi digital yang canggih untuk melawan ancaman digital. Sekitar 65 persen dari responden melaporkan bahwa mereka telah berada dalam tahap kematangan manajemen risiko digital yang maju. Hal ini mencakup upaya mitigasi yang aktif dan pemantauan risiko digital secara berkelanjutan.

Angka ini meningkat pesat dibandingkan 26 persen pada 2023, berkat beberapa faktor. Salah satunya, 59 persen organisasi menganggap metrik risiko digital mereka sangat efektif, terutama dalam pengambilan keputusan. Selain itu, organisasi dengan kolaborasi antar departemen yang kuat melaporkan manajemen risiko dan pemantauan pihak ketiga lebih efektif. Kematangan manajemen risiko digital berkontribusi pada peningkatan efektivitas di berbagai area.

Integrasi Kerangka Manajemen Risiko Perusahaan

Sekitar 52 persen organisasi mengungkapkan bahwa mereka telah mengintegrasikan manajemen risiko digital ke dalam kerangka manajemen risiko perusahaan (Enterprise Risk Management/ERM). Kelompok ini melaporkan metrik yang lebih efektif, pemantauan pihak ketiga yang lebih maju, dan kolaborasi yang lebih kuat antar fungsi yang bekerja bersama dalam menangani risiko digital.

Laporan tersebut menyatakan, “Mengintegrasikan manajemen risiko digital ke dalam kerangka ERM yang lebih luas dapat meningkatkan strategi manajemen risiko digital secara signifikan.” Integrasi ini memastikan adanya keselarasan di seluruh perusahaan, menghasilkan strategi risiko yang lebih komprehensif dan kohesif. Kolaborasi yang kuat antar departemen sangat penting, karena dapat menghilangkan hambatan antar fungsi dan mendorong pendekatan yang lebih terpadu dalam mengelola risiko digital.

Banyak organisasi melaporkan bahwa mereka telah memperoleh manfaat dari solusi berbasis cloud untuk membantu mengelola risiko digital dan menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan kemampuan manajemen risiko mereka secara signifikan—terutama dalam mengotomatisasi respons dan meningkatkan deteksi ancaman.

“Lebih dari separuh organisasi besar yang disurvei menggunakan AI untuk meningkatkan produktivitas tim dan memperbaiki deteksi ancaman demi memperkuat posisi mereka dalam manajemen risiko digital,” kata laporan tersebut. “Hampir setengah dari mereka juga menggunakannya dalam pelaporan dan mengotomatisasi rencana tindakan serta respons.”

Namun, penggunaan AI memerlukan keseimbangan antara potensi risiko dan keuntungan. Sebagian besar organisasi (78 persen) melaporkan bahwa mereka telah mengidentifikasi dan melacak AI sebagai risiko teknologi yang sedang berkembang. Selain itu, implementasi kerangka kerja untuk penggunaan AI yang bertanggung jawab juga dianggap sangat penting.

Artikel ini telah diterbitkan oleh IRM, dengan judul Digital Risk Management Maturity Increases. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Mencegah Kegagalan Bank dengan Uji Stres yang Lebih Efektif

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Uji stres perbankan dirancang untuk mengukur ketahanan bank terhadap kondisi ekonomi ekstrem. Namun, metode yang digunakan sekarang sering kali ketinggalan zaman dan terlalu umum. Banyak uji stres gagal mempertimbangkan risiko spesifik, seperti inflasi tinggi atau penurunan nilai properti komersial, terutama di bank regional yang lebih rentan.

Sebagai contoh, bank-bank besar di Amerika Serikat berhasil lolos dari uji stres berat selama 15 tahun terakhir. Tetapi, kegagalan beberapa bank regional pada tahun 2023 menunjukkan bahwa pendekatan ini tidak cukup untuk mengatasi risiko di semua jenis bank.

Solusi: Pendekatan Dinamis dan Personalisasi

Untuk mencegah kegagalan di masa depan, uji stres perlu lebih dinamis. Artinya, skenario yang digunakan harus lebih spesifik untuk setiap bank, berdasarkan ukuran, lokasi, dan model bisnisnya. Hal ini juga harus mencakup bank kecil, yang selama ini jarang dijangkau oleh regulasi ketat.

Contoh Pertanyaan Penting yang Harus Dijawab:

  • Untuk Bank:
    • Risiko apa yang paling relevan dengan bisnis Anda?
    • Bagaimana dampak inflasi dan suku bunga tinggi terhadap operasional Anda?
    • Langkah apa yang bisa diambil untuk mengatasi potensi krisis likuiditas?
  • Untuk Pengawas:
    • Bagaimana memastikan uji stres mencerminkan risiko spesifik bank kecil?
    • Apa saja tanda-tanda awal kegagalan bank yang harus diawasi?

Studi Kasus: Uji Stres Dinamis

Pendekatan dinamis menggunakan data spesifik bank untuk memprediksi dampaknya terhadap skenario ekonomi yang berbeda. Misalnya, dengan teknik machine learning, analisis ini bisa mengidentifikasi kelemahan dalam neraca bank dan memberikan strategi mitigasi yang diperlukan.

Temuan Utama:

  • Bank dengan risiko struktural tinggi tetap rentan, meskipun kondisi ekonomi stabil.
  • Risiko likuiditas meningkat jika simpanan jangka pendek melonjak atau tingkat bunga jangka pendek lebih tinggi dari jangka panjang.
  • Risiko kredit lebih tinggi dalam kondisi resesi, terutama dengan peningkatan pengangguran dan pelebaran penyebaran kredit.

Dengan uji stres yang lebih proaktif, bank dan pengawas dapat:

  1. Mengidentifikasi risiko lebih awal untuk menghindari krisis.
  2. Merancang langkah mitigasi yang sesuai dengan risiko spesifik.
  3. Meningkatkan ketahanan terhadap guncangan ekonomi.

Pendekatan uji stres yang lebih personal dan dinamis dapat membantu bank dan pengawasnya menghadapi ketidakpastian pasar. Dengan ini, sistem keuangan menjadi lebih stabil, dan risiko kegagalan bank di masa depan dapat diminimalkan.

Artikel ini telah diterbitkan oleh GARP, dengan judul The Stress Testing Road Ahead: How to Prevent Future Bank Failures. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Mengurangi Risiko Penipuan Internal di Sektor Perbankan

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Penipuan, terutama yang dilakukan oleh karyawan internal, tetap menjadi tantangan besar dalam sektor perbankan dan berisiko mengancam profitabilitas dan kelangsungan hidup bank. Skandal-skandal perbankan sebelumnya menunjukkan pentingnya pengelolaan risiko penipuan yang tepat. Penipuan dianggap sebagai risiko tinggi dengan kemungkinan rendah, tapi banyak bank gagal mengalokasikan sumber daya yang cukup untuk mencegahnya.

Untuk mengatasi penipuan, bank perlu membangun kerangka manajemen risiko yang komprehensif, yang meliputi:

  1. Mendirikan Struktur Tata Kelola: Unit anti-penipuan yang khusus harus mengawasi semua aktivitas yang terkait dengan penipuan, mempromosikan perilaku etis, dan memastikan tata kelola perusahaan yang efektif.
  2. Mengembangkan Strategi Anti-Penipuan: Strategi ini harus fokus pada pencegahan, deteksi, respons, dan pemantauan, dengan alokasi sumber daya berdasarkan profil risiko penipuan bank.
  3. Pemantauan Risiko Secara Berkala: Analisis data secara teratur untuk melacak tren penipuan dan mengevaluasi efektivitas pengendalian. Harapannya, pendekatan ini beradaptasi dengan faktor risiko internal dan eksternal.

Pandemi COVID-19 meningkatkan tantangan ini, karena gangguan ekonomi dan rantai pasokan meningkatkan potensi penipuan oleh karyawan. Oleh karena itu, bank harus memperbaiki struktur tata kelola, komunikasi, dan memanfaatkan teknologi untuk mendeteksi penipuan.

Meskipun ada upaya terbaik, penipuan masih bisa terjadi jika strategi tidak dijalankan dengan jelas dan efektif. Skandal besar sebelumnya menunjukkan pentingnya transparansi dan pengawasan yang cukup.

Penipuan internal mengancam stabilitas finansial bank, sehingga dibutuhkan kerangka manajemen risiko yang dinamis dan berkelanjutan. Selain itu, kepemimpinan yang kuat dan transparansi juga dibutuhkan untuk mencegah penipuan dan menjaga kelangsungan hidup bank.

Artikel ini telah diterbitkan oleh PRMIA, dengan judul Fraud: The Gift That Keeps on Giving.

By |

Strategi Manajer Aset dalam Mengelola Risiko dengan Lebih Aktif

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Seiring dengan meningkatnya tekanan regulasi di seluruh dunia, manajer aset dan perusahaan dana pensiun dituntut untuk lebih proaktif dalam mengelola risiko investasi. Regulasi yang semakin ketat di Amerika Serikat dan Eropa bertujuan untuk melindungi investor dan mengurangi intervensi pemerintah. Namun, tantangan besar muncul bagi manajer aset yang harus menjaga efisiensi di departemen risiko yang terbatas sumber daya.

Untuk menghadapi tantangan ini, berikut langkah-langkah yang dapat diambil oleh manajer aset dalam mengelola risiko secara lebih aktif tanpa menambah biaya operasional:

  1. Penilaian Diri dan Penentuan Sasaran
    Lakukan analisis waktu untuk mengevaluasi alokasi sumber daya di tim risiko. Ini membantu mengidentifikasi area yang membutuhkan perbaikan dan memastikan sumber daya dialokasikan dengan lebih efisien.
  2. Kolaborasi dan Pembagian Sumber Daya Analis
    Tingkatkan kolaborasi antar tim dan manfaatkan sumber daya analis untuk mengawasi berbagai kelas aset, bukan hanya satu jenis aset tertentu.
  3. Alihkan Tugas ke Departemen Lain
    Pertimbangkan untuk memindahkan beberapa tugas risiko ke departemen lain yang lebih relevan, seperti tim produk atau tim portofolio, untuk meningkatkan fokus tim risiko pada tugas utama.
  4. Optimalkan Penggunaan Data dan Teknologi
    Gunakan teknologi, seperti AI, untuk mengotomatisasi pengelolaan data dan pemantauan pasar secara real-time. AI juga dapat memberikan peringatan dini mengenai penyimpangan portofolio dan risiko baru.
  5. Sentralisasi Teknologi Informasi
    Untuk menghindari inefisiensi akibat tim teknologi yang terpisah-pisah, perusahaan harus mempertimbangkan untuk sentralisasi tim TI global yang bertanggung jawab atas platform teknologi risiko. Ini akan memastikan bahwa sistem yang digunakan sudah terintegrasi dengan baik dan sesuai dengan tujuan strategis perusahaan.

Dengan langkah-langkah ini, manajer aset dapat menghadapi ketatnya regulasi dengan lebih efisien, sambil memastikan kerangka kerja risiko yang tangguh dan responsif terhadap perubahan pasar.

Artikel ini telah diterbitkan oleh Kearney, dengan judul A More Active Approach to investment Risk Management. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Panduan Praktis untuk Pemimpin Fungsional Menyusun Rencana Masa Depan

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Dalam dunia bisnis yang cepat berubah, perencanaan skenario menjadi alat penting untuk mengungkap ketidakpastian, risiko, dan peluang. Dengan memahami skenario masa depan, organisasi dapat meningkatkan kesiapan menghadapi perubahan dan menjaga fokus pada inisiatif strategis.

Apa Itu Perencanaan Skenario?
Skenario adalah gambaran kemungkinan masa depan yang tidak hanya mencakup yang paling mungkin terjadi, tetapi juga skenario yang tidak terduga. Ini membantu pemimpin fungsional berpikir melampaui skenario sehari-hari dan mempersiapkan organisasi menghadapi berbagai kemungkinan.

Langkah-Langkah Membuat Perencanaan Skenario

  1. Tentukan Fokus dan Cakupan
    • Identifikasi keputusan atau isu strategis yang ingin dieksplorasi.
    • Libatkan pemangku kepentingan utama dan tetapkan peran serta ekspektasi mereka.
  2. Kumpulkan Wawasan Luas
    • Dapatkan perspektif dari konsumen, pakar industri, hingga profesional di luar industri untuk memunculkan ide baru.
  3. Prioritaskan Faktor Pendorong Masa Depan
    • Buat daftar 20–30 faktor pendorong yang dapat memengaruhi industri.
    • Gunakan matriks kemungkinan-dampak untuk menyaring 4–5 faktor utama.
  4. Bangun dan Hubungkan Skenario ke Strategi
    • Kembangkan skenario dengan dua faktor utama sebagai dasar.
    • Analisis bagaimana skenario ini memengaruhi inisiatif strategis organisasi.

Tantangan dan Cara Mengatasinya

  • Menghindari Sekat Antar Departemen
    Libatkan berbagai fungsi dan ahli eksternal untuk menciptakan skenario yang lebih holistik.
  • Tidak Hanya Fokus pada Skenario Kemungkinan Tinggi
    Pertimbangkan skenario berdampak besar yang mungkin jarang terjadi, namun bisa mengubah strategi secara drastis.
  • Buat Proses Pemantauan
    Tetapkan indikator awal dan peristiwa pemicu untuk mendeteksi jika skenario mulai terwujud.

Artikel ini telah diterbitkan oleh Gartner, dengan judul What Functional Leaders Should Know About Scenario Planning. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Pelaporan ESG: Kunci Kesuksesan Berkelanjutan

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Pelaporan ESG (Environmental, Social, and Governance) telah berkembang dari sekadar kewajiban menjadi alat strategis untuk membangun ketahanan dan nilai jangka panjang. Selain memenuhi tuntutan regulasi, pelaporan ESG membantu meningkatkan reputasi, menarik investasi, mendorong inovasi, dan membangun kepercayaan di antara para pemangku kepentingan.

Pemimpin bisnis masa kini memahami bahwa pertumbuhan tanpa batas bertentangan dengan prinsip keberlanjutan. Dengan semakin besarnya perhatian pada perubahan iklim, kesenjangan sosial, dan isu tata kelola, perusahaan perlu beralih ke model bisnis yang transparan. Pelaporan ESG yang dulunya sukarela kini menjadi kebutuhan regulasi sekaligus strategi branding.

Tantangan dalam Implementasi ESG

  1. Kompleksitas Kepatuhan: Regulasi global seperti Corporate Sustainability Reporting Directive (CSRD) Uni Eropa dan aturan pengungkapan iklim AS bisa membingungkan perusahaan.
  2. Kendala Eksekusi: Sistem data yang terfragmentasi dan proses manual membuat pelaporan ESG sulit dilakukan.
  3. Risiko Pasar: Pelaporan yang buruk atau kurang transparan dapat merusak reputasi dan kepercayaan investor.

Namun, perusahaan yang mengadopsi praktik ESG dengan baik dapat mengubah risiko menjadi peluang untuk pertumbuhan dan inovasi.

Untuk memaksimalkan manfaat ESG, perusahaan harus mengintegrasikan keberlanjutan dalam strategi inti mereka, termasuk:

  • Memahami Double Materiality: Menilai dampak organisasi terhadap masyarakat dan lingkungan, serta bagaimana dampak tersebut memengaruhi kinerja finansial.
  • Mengoptimalkan Operasi ESG: Mengembangkan sistem yang terukur, menyederhanakan pengumpulan data, dan mengintegrasikan ESG dalam pengambilan keputusan.

Pendekatan ini dapat meningkatkan efisiensi sumber daya, ketahanan operasional, dan kepercayaan pemangku kepentingan.

Pelaporan ESG yang efektif membutuhkan data berkualitas tinggi yang terharmonisasi. Analitik canggih dapat mengidentifikasi pola, melacak kemajuan, dan mendukung pengambilan keputusan, terutama dalam pengurangan emisi dan manajemen rantai pasok. Keberhasilan bergantung pada integrasi data dengan tata kelola yang kuat dan strategi perubahan yang terarah.

Organisasi yang melihat pelaporan ESG sebagai elemen inti strategi, bukan sekadar kewajiban, akan menjadi pemimpin dalam keberlanjutan. Pendekatan proaktif ini memastikan kepatuhan regulasi, seiring dengan mendorong inovasi, ketahanan, dan kesuksesan jangka panjang di pasar yang semakin sadar akan keberlanjutan.

Artikel ini telah diterbitkan oleh Capgemini, dengan judul Unlock Value with ESG Reporting. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Turbulensi Udara Meningkat: Dampak Perubahan Iklim terhadap Risiko Penerbangan

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Beberapa insiden turbulensi udara yang menonjol baru-baru ini menyoroti peningkatan risiko iklim jangka panjang yang memengaruhi penerbangan. Pada 21 Mei, sebuah penerbangan Singapore Airlines dari London Heathrow menuju Singapore Changi mengalami turbulensi hebat, yang menyebabkan pesawat Boeing 777 turun sekitar 178 kaki dalam 4,6 detik. Penerbangan tersebut dialihkan ke Thailand, menyebabkan 104 cedera, termasuk seorang penumpang berusia 73 tahun asal Inggris yang meninggal dunia. Penumpang dirawat di rumah sakit Bangkok dengan berbagai cedera, termasuk cedera pada sumsum tulang belakang, kepala, dan otot.

Pada 22 Juni, penerbangan Korean Air menuju Taiwan juga terpaksa kembali dan melakukan pendaratan darurat setelah pesawat turun tajam sekitar 25.000 kaki dalam lima menit. Pada 8 Agustus, penerbangan Korean Air lainnya mengalami turbulensi yang melukai 14 orang.

Insiden-insiden ini lebih dari sekadar kejadian kebetulan. Turbulensi udara didefinisikan secara umum sebagai pertemuan udara dengan suhu, tekanan, atau kecepatan yang berbeda. Salah satu studi menunjukkan bahwa turbulensi udara jelas (Clear-Air Turbulence / CAT), yang terjadi di langit cerah, telah meningkat secara signifikan. Di atas Atlantik Utara, salah satu rute penerbangan tersibuk di dunia, durasi tahunan total turbulensi parah meningkat 55% dari 1979 hingga 2020.

Mengapa Turbulensi Udara Meningkat?

Menurut John Wadhams, direktur pelaksana global aviation & space di WTW, “Peningkatan turbulensi CAT yang parah sangat terkait dengan perubahan iklim.” Turbulensi jenis ini, yang terjadi tanpa petunjuk visual seperti awan, terutama disebabkan oleh perbedaan kecepatan angin di aliran jet — perubahan cepat dalam kecepatan angin dengan ketinggian. “Proyeksi menunjukkan bahwa kejadian CAT yang parah bisa meningkat tiga kali lipat pada tahun 2100 jika tren pemanasan global saat ini berlanjut,” katanya.

Wadhams menjelaskan bahwa perubahan iklim meningkatkan kontras suhu antara massa udara hangat dan dingin di atmosfer atas, yang menyebabkan perbedaan angin yang lebih kuat dan aliran jet yang kurang stabil, sehingga lebih mudah menghasilkan turbulensi.

Wadhams juga mengungkapkan bahwa industri penerbangan sedang memperbarui model prediksi turbulensi dengan algoritma yang lebih akurat. Asosiasi Pengangkutan Udara Internasional (The International Air Transport Association – IATA) telah meluncurkan program ‘Turbulence Aware’ untuk mengintegrasikan pengamatan turbulensi secara langsung ke dalam operasi penerbangan secara real-time.

Mark Prosser, meteorolog dari University of Reading yang memimpin studi CAT, mengatakan, “Maskapai perlu mengelola turbulensi yang meningkat ini karena menelan biaya industri sekitar $150 hingga $500 juta setiap tahunnya hanya di AS.” Setiap menit tambahan yang dihabiskan dalam turbulensi menambah keausan pada pesawat serta meningkatkan risiko cedera pada penumpang dan kru.

Nelson, seorang pramugari dan presiden Asosiasi Pramugari, menekankan bahwa transisi ke bahan bakar berkelanjutan harus dipercepat untuk mengatasi krisis iklim, sementara regulasi juga perlu diubah.

Wadhams menambahkan bahwa banyak maskapai mendorong penumpang untuk selalu mengenakan sabuk pengaman selama penerbangan meskipun tanda sabuk pengaman telah dimatikan, dan banyak maskapai juga menyertakan instruksi keselamatan baru untuk meningkatkan kesadaran penumpang dan kru tentang potensi cedera akibat turbulensi.

Sebagai contoh, Korean Air pada Agustus memutuskan untuk menghentikan penyajian mie instan Shin Ramyun (untuk penumpang kelas ekonomi) sebagai bagian dari langkah keselamatan proaktif untuk mencegah kecelakaan terbakar.

Perubahan ini, meskipun tampak kecil, dapat diharapkan akan lebih banyak terjadi seiring dengan meningkatnya gangguan yang disebabkan oleh iklim. Manajer risiko penerbangan akan terus mencari cara untuk menjaga perjalanan tetap aman dan lancar di tengah perubahan iklim yang semakin intensif.

Artikel ini telah diterbitkan oleh Strategic Risk Global, dengan judul Risk briefing: Why is Air Turbulence Getting Worse – and What Does it Mean for Aviation Risk?. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Mengelola Risiko AI dalam Sektor Keuangan

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Artificial Intelligence (AI) telah membawa transformasi besar dalam sektor keuangan, menawarkan peluang inovasi dan efisiensi. Namun, implementasi AI juga menghadirkan berbagai risiko yang perlu dikelola oleh para pemimpin teknologi seperti CIO (Chief Information Officer) dan CISO (Chief Information Security Officer). Berikut beberapa strategi utama dalam manajemen risiko AI di sektor keuangan:

  1. Membangun Kerangka Kerja Tata Kelola AI
  • Bentuk tim lintas fungsi yang melibatkan IT, hukum, kepatuhan, dan manajemen risiko.
  • Tentukan peran dan tanggung jawab yang jelas dalam pengawasan AI.
  • Kembangkan kebijakan untuk pengembangan dan pemantauan AI, dengan dukungan dari level manajemen puncak.
  1. Evaluasi Risiko AI
  • Identifikasi risiko potensial dari setiap aplikasi AI.
  • Prioritaskan risiko berdasarkan dampak bisnis dan lakukan penilaian ulang secara berkala.
  1. Tata Kelola Data yang Kuat
  • Pastikan kualitas, integritas, dan relevansi data untuk model AI.
  • Terapkan kontrol akses data yang ketat, enkripsi, serta audit penggunaan data.
  1. Transparansi dan Penjelasan AI
  • Investasikan pada teknik AI yang dapat dijelaskan untuk mendokumentasikan proses pengambilan keputusan.
  • Berikan penjelasan yang jelas atas output AI kepada pemangku kepentingan.
  1. Kepatuhan Regulasi
  • Selalu perbarui informasi mengenai peraturan AI dan implementasikan proses untuk mematuhi ketentuan yang berlaku.
  1. Pengelolaan Bakat dan Pelatihan AI
  • Rekrut dan pertahankan spesialis AI, serta berikan pelatihan berkelanjutan bagi karyawan terkait teknologi AI dan risikonya.
  1. Contoh Penerapan AI dalam Manajemen Risiko Keuangan
  • Penilaian Risiko Kredit: Menggunakan data yang beragam untuk penilaian kredit, tapi tetap mengutamakan transparansi dan pemantauan kinerja model.
  • Deteksi Penipuan: Algoritma AI membantu mendeteksi penipuan dalam transaksi, tapi harus ada pengelolaan false positive yang efektif.
  • Kepatuhan Anti-Pencucian Uang: AI memperkuat pemantauan transaksi dengan memastikan kepatuhan terhadap peraturan dan memprioritaskan peringatan untuk investigasi lebih lanjut.

Implementasi AI yang bertanggung jawab membantu lembaga keuangan memanfaatkan potensi teknologi ini sambil menjaga kepatuhan dan keamanan. CIO dan CISO yang proaktif dalam mengelola risiko AI akan mendukung kesuksesan perusahaan mereka di tengah evolusi teknologi yang cepat.

Artikel ini telah diterbitkan oleh ISACA, dengan judul AI and Risk Management: A Strategic Guide for CIOs and CISOs in Financial Services. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |
Go to Top