Manajemen Risiko Proaktif untuk Meningkatkan Profitabilitas Bisnis Perangkat Lunak
Mengelola risiko secara proaktif semakin penting, terutama bagi industri perangkat lunak dan platform. Studi Risiko 2024 mengungkapkan bahwa risiko kini saling terkait, menciptakan jaringan ancaman yang semakin kompleks. Sebanyak 49% responden di industri ini menyatakan bahwa risiko terkait teknologi disruptif meningkat sejak 2021. Oleh karena itu, penting untuk mengutamakan manajemen risiko yang proaktif agar perusahaan dapat terus berkembang dan meraih profitabilitas.
Pentingnya manajemen risiko semakin meningkat seiring dengan perkembangan regulasi yang ketat. Kasus kebocoran data dan skandal privasi telah mengubah pandangan publik terhadap privasi data, yang mendorong pemerintah dan badan regulasi untuk menerapkan aturan yang lebih ketat. Regulasi seperti General Data Protection Regulation (GDPR) dari Uni Eropa dan California Consumer Privacy Act (CCPA) dari California mengharuskan perusahaan untuk lebih berhati-hati dalam mengelola data pribadi.
Industri perangkat lunak dan platform juga menjadi sasaran utama para peretas karena jumlah data sensitif yang mereka tangani. Oleh karena itu, perusahaan harus mengikuti standar keamanan yang ketat, melakukan penilaian risiko secara rutin, dan menyusun rencana tanggap darurat untuk menghadapi ancaman siber.
Menangani risiko sejak awal pengembangan produk memungkinkan perusahaan untuk mengidentifikasi potensi masalah sebelum menjadi isu besar. Dengan melakukan penilaian risiko secara menyeluruh, organisasi dapat mengidentifikasi kerentanannya dalam hal keamanan, kepatuhan, dan keselamatan pengguna. Pendekatan ini meningkatkan kualitas dan kepuasan pelanggan.
Pendekatan proaktif ini juga mencegah kerugian finansial yang besar, kerusakan reputasi, dan konsekuensi hukum. Dengan memprioritaskan manajemen risiko, perusahaan dapat memastikan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku dan membangun kepercayaan pelanggan yang lebih kuat.
Di pasar yang semakin padat, perusahaan yang memprioritaskan manajemen risiko dapat memperoleh keunggulan kompetitif. Mereka dapat membedakan diri dari pesaing, menarik pelanggan baru, dan mempertahankan yang lama.
Menghadapi risiko sejak awal pengembangan produk adalah jalan menuju profitabilitas. Pendekatan manajemen risiko yang proaktif mengurangi biaya pengembangan dan meningkatkan kualitas layanan pelanggan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Accenture, dengan judul With Great Risk Comes Great Responsibility and Profitability. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
5 Hal yang Dipertimbangkan untuk Risiko dan Keamanan yang Kuat dan Masuk Akal
Keamanan siber terus berkembang. Organisasi harus membangun program manajemen risiko informasi dan keamanan (information risk management and security/IRMS) yang efektif dan dapat dipertahankan. Bisnis kini menghadapi peraturan yang lebih ketat dan audit eksternal. Agar organisasi bisa bertahan dalam tinjauan, bahkan setelah insiden keamanan, ada lima langkah utama yang perlu diperhatikan:
- Selaraskan dengan Profil Risiko Organisasi
Buat profil risiko informasi yang jelas. Dokumentasikan risiko yang dapat diterima dan yang tidak, sesuai dengan kemampuan bisnis dalam mengambil risiko. Program IRMS yang baik menunjukkan kemajuan menuju tujuan keamanan dan memiliki rencana perbaikan yang jelas. - Manfaatkan Analisis Ancaman dan Kerentanannya
Lakukan penilaian rutin terhadap ancaman dan kerentanannya. Pastikan kontrol yang diterapkan mengatasi risiko yang paling mungkin terjadi. Analisis berbasis data akan mendukung keputusan keamanan dan mempermudah pertahanan saat diaudit. - Patuh pada Standar Industri dan Regulasi
Bandingkan kontrol keamanan Anda dengan standar yang diakui seperti ISO 2700x, NIST, atau pedoman industri seperti PCI DSS. Dengan mengikuti standar ini, Anda menunjukkan pendekatan yang matang dan dapat dipertahankan dalam mengelola risiko informasi. - Tetap Terinformasi tentang Peraturan dan Tindakan Hukum
Ikuti perkembangan hukum dan peraturan terkait keamanan informasi. Mengetahui keputusan badan seperti FTC dan SEC akan memberi panduan tentang harapan terkini dalam praktik keamanan, sehingga Anda lebih siap menghadapinya. - Uji dan Tingkatkan Keamanan Secara Rutin
Gunakan alat untuk menguji efektivitas kontrol keamanan secara berkala. Simulasikan serangan dan evaluasi respons untuk memastikan pertahanan Anda tetap kuat seiring berkembangnya ancaman.
Kesimpulannya, untuk membangun program keamanan informasi yang dapat dipertahankan, penting untuk tidak hanya memenuhi standar industri. Perlu juga dilakukan upaya berkelanjutan dalam melindungi data dan sistem. Penilaian rutin, kepatuhan terhadap pedoman, dan perbaikan terus-menerus akan membantu organisasi Anda menghadapi audit dan peraturan dengan percaya diri.
Artikel ini telah diterbitkan oleh ISACA, dengan judul A More Active Approach to Investment Risk Management. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Pelaporan ESG: Kunci Kesuksesan Berkelanjutan
Pelaporan ESG (Environmental, Social, and Governance) telah berkembang dari sekadar kewajiban menjadi alat strategis untuk membangun ketahanan dan nilai jangka panjang. Selain memenuhi tuntutan regulasi, pelaporan ESG membantu meningkatkan reputasi, menarik investasi, mendorong inovasi, dan membangun kepercayaan di antara para pemangku kepentingan.
Pemimpin bisnis masa kini memahami bahwa pertumbuhan tanpa batas bertentangan dengan prinsip keberlanjutan. Dengan semakin besarnya perhatian pada perubahan iklim, kesenjangan sosial, dan isu tata kelola, perusahaan perlu beralih ke model bisnis yang transparan. Pelaporan ESG yang dulunya sukarela kini menjadi kebutuhan regulasi sekaligus strategi branding.
Tantangan dalam Implementasi ESG
- Kompleksitas Kepatuhan: Regulasi global seperti Corporate Sustainability Reporting Directive (CSRD) Uni Eropa dan aturan pengungkapan iklim AS bisa membingungkan perusahaan.
- Kendala Eksekusi: Sistem data yang terfragmentasi dan proses manual membuat pelaporan ESG sulit dilakukan.
- Risiko Pasar: Pelaporan yang buruk atau kurang transparan dapat merusak reputasi dan kepercayaan investor.
Namun, perusahaan yang mengadopsi praktik ESG dengan baik dapat mengubah risiko menjadi peluang untuk pertumbuhan dan inovasi.
Untuk memaksimalkan manfaat ESG, perusahaan harus mengintegrasikan keberlanjutan dalam strategi inti mereka, termasuk:
- Memahami Double Materiality: Menilai dampak organisasi terhadap masyarakat dan lingkungan, serta bagaimana dampak tersebut memengaruhi kinerja finansial.
- Mengoptimalkan Operasi ESG: Mengembangkan sistem yang terukur, menyederhanakan pengumpulan data, dan mengintegrasikan ESG dalam pengambilan keputusan.
Pendekatan ini dapat meningkatkan efisiensi sumber daya, ketahanan operasional, dan kepercayaan pemangku kepentingan.
Pelaporan ESG yang efektif membutuhkan data berkualitas tinggi yang terharmonisasi. Analitik canggih dapat mengidentifikasi pola, melacak kemajuan, dan mendukung pengambilan keputusan, terutama dalam pengurangan emisi dan manajemen rantai pasok. Keberhasilan bergantung pada integrasi data dengan tata kelola yang kuat dan strategi perubahan yang terarah.
Organisasi yang melihat pelaporan ESG sebagai elemen inti strategi, bukan sekadar kewajiban, akan menjadi pemimpin dalam keberlanjutan. Pendekatan proaktif ini memastikan kepatuhan regulasi, seiring dengan mendorong inovasi, ketahanan, dan kesuksesan jangka panjang di pasar yang semakin sadar akan keberlanjutan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Capgemini, dengan judul Unlock Value with ESG Reporting. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Menghadapi Risiko Siber: Strategi dan Solusi untuk Organisasi Modern
Menurut survei Aon 2023, serangan siber dan pelanggaran data merupakan risiko terbesar yang dihadapi organisasi secara global, dengan tren yang diperkirakan akan berlanjut hingga 2026. Serangan ini tidak hanya menimbulkan kerugian finansial, tetapi juga merusak reputasi dan mengganggu operasi kritis. Serangan ransomware, khususnya, meningkat tajam sebesar 176% pada paruh pertama 2023, memperlihatkan perlunya strategi mitigasi yang lebih canggih.
Apa Itu Serangan Siber dan Pelanggaran Data?
- Ancaman Siber: Potensi terjadinya serangan, kerusakan, atau kerugian.
- Serangan Siber: Upaya pelaku jahat untuk mengkompromikan sistem.
- Pelanggaran Data: Hasil dari serangan siber yang berhasil, di mana informasi sensitif terekspos ke pihak tidak berwenang.
Faktor Penyebab dan Dampaknya
Human error menjadi penyebab utama, dengan 74% pelanggaran melibatkan elemen manusia, seperti rekayasa sosial, kesalahan penggunaan, atau kredensial yang dicuri. Selain itu, stres di tempat kerja dan ketakutan terhadap AI meningkatkan risiko kesalahan manusia. Biaya rata-rata pelanggaran data mencapai $4,5 juta, lebih tinggi untuk perusahaan tanpa dukungan AI dan otomatisasi.
Strategi untuk Meningkatkan Ketahanan Siber
- Identifikasi dan Penilaian Risiko
- Kumpulkan data untuk memahami dampak potensial ancaman siber.
- Gunakan temuan untuk mengarahkan keputusan strategis tentang mitigasi atau transfer risiko.
- Mitigasi Risiko
- Evaluasi ancaman yang berkembang dan tingkatkan bukti efektivitas kontrol kepada penjamin asuransi.
- Terapkan standar kontrol keamanan seperti NIST dan CIS.
- Latihan dan pelatihan berkala untuk membangun budaya keamanan siber yang kuat.
- Persiapan dan Pemulihan Insiden
- Rencana tanggap insiden yang matang mempercepat pemulihan.
- Integrasikan respons dengan tujuan bisnis dan proses klaim asuransi.
- Transfer Risiko
- Gunakan asuransi tradisional, asuransi captive, atau alternatif lainnya untuk melindungi neraca keuangan.
Serangan siber dan pelanggaran data adalah tantangan yang terus berkembang. Dengan pendekatan holistik mencakup identifikasi risiko, mitigasi, respons, dan transfer risiko, organisasi dapat meningkatkan ketahanan operasional dan meminimalkan dampak negatif. Upaya ini harus dilengkapi dengan edukasi karyawan dan penerapan teknologi canggih untuk menjaga daya saing di era digital.
Artikel ini telah diterbitkan oleh AON, dengan judul Cyber Attack or Data Breach. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Membangun Ketahanan Digital Melalui Kepercayaan Digital
Di era teknologi yang semakin canggih, organisasi menghadapi tantangan besar dalam mengelola ekosistem digital yang kompleks. Dengan kemunculan teknologi informasi (IT), teknologi operasional (OT), serta perangkat pintar berbasis Internet of Things (IoT), ancaman siber terus berkembang. Ketahanan digital yang menyeluruh menjadi sangat penting untuk menjaga keberlangsungan bisnis di dunia yang saling terhubung ini.
Kepercayaan digital (digital trust) adalah fondasi ekosistem digital yang tangguh. Pendekatan kolaboratif yang mengutamakan kepercayaan dapat mengelola risiko sekaligus membuka peluang inovasi dan efisiensi.
Organisasi modern bergantung pada rantai pasokan yang kompleks, melibatkan banyak pihak. Namun, ini meningkatkan risiko, seperti kompromi rantai pasokan perangkat lunak, yang diprediksi menjadi ancaman besar pada 2030 menurut ENISA. Regulasi seperti NIS2 dan CRA menambah tekanan untuk meningkatkan ketahanan siber.
Strategi Ketahanan Digital
- Pemetaan Ekosistem: Identifikasi ketergantungan dalam ekosistem digital.
- Kolaborasi: Bangun kepercayaan melalui diskusi risiko bersama.
- Berbagi Sumber Daya: Gunakan teknologi seperti blockchain untuk memastikan keamanan kolaborasi.
Kerangka Kepercayaan Digital
Kerangka ini melibatkan:
- Keamanan dan keandalan
- Akuntabilitas dan pengawasan
- Penggunaan inklusif, etis, dan bertanggung jawab
Untuk mencapainya, organisasi harus menerapkan dimensi seperti transparansi, privasi, interoperabilitas, dan auditabilitas.
Pertanyaan untuk Memulai
- Bagaimana kepercayaan digital memperkuat ketahanan ekosistem Anda?
- Apa harapan pelanggan terkait kepercayaan digital?
- Bagaimana kepercayaan digital dapat menjadi keunggulan kompetitif?
Membangun ekosistem digital yang tangguh membutuhkan kolaborasi, strategi jangka panjang, dan kepercayaan. Dengan pendekatan ini, organisasi tak hanya bertahan di tengah ancaman, tetapi juga tumbuh lebih kuat. Ketahanan digital kini menjadi kebutuhan utama di dunia yang semakin terhubung.
Artikel ini telah diterbitkan oleh KPMG, dengan judul The Path to Collective Cyber Resilience. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Mengelola Risiko dengan “Mata Uang Bersama” di Industri Energi
Industri energi global tengah menghadapi tantangan besar dalam mengalokasikan sumber daya keuangan yang terus meningkat. Dengan volatilitas pasar yang stabil pada 2023, perusahaan energi besar mencatatkan cadangan kas lebih dari $250 miliar. Namun, keputusan investasi strategis kini menjadi lebih kompleks karena perlunya menyesuaikan risiko dan imbal hasil di tengah transisi energi yang masif.
Pentingnya “Mata Uang Bersama” untuk Risiko
Keputusan investasi seringkali hanya menilai hasil ekonomi, tanpa mempertimbangkan risiko secara holistik. Sebuah pendekatan yang disebut “mata uang bersama” menawarkan solusi. Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat mengevaluasi semua aktivitas dan keputusan investasi menggunakan satu metrik risiko yang seragam, menciptakan pandangan menyeluruh terhadap profil risiko dan pengembalian mereka.
Misalnya, sebuah perusahaan energi Eropa mampu meningkatkan investasi pada perjanjian pembelian tenaga hijau hingga tiga kali lipat setelah menggunakan kerangka mata uang bersama ini. Pendekatan ini memungkinkan mereka mempertimbangkan risiko lingkungan dan pasar secara lebih strategis.
Menghadapi Tantangan Pembiayaan
Kenaikan suku bunga global memperumit pembiayaan jangka panjang, terutama untuk proyek dekarbonisasi seperti pembangunan ladang angin lepas pantai yang memakan waktu lebih dari satu dekade. Dalam lingkungan ini, keputusan investasi saat ini akan sangat menentukan jejak karbon masa depan industri energi.
Selain itu, risiko pembiayaan kembali menjadi perhatian utama, terutama di tengah lingkungan suku bunga tinggi. Banyak perusahaan energi mulai mengadopsi perspektif sebagai debitur daripada sekadar memenuhi harapan pemegang saham, dengan memperhatikan dampak keputusan investasi pada peringkat kredit mereka.
Empat Langkah Membangun Kerangka Mata Uang Bersama
Untuk menerapkan sistem ini secara berkelanjutan, perusahaan energi dapat mengikuti langkah-langkah berikut:
- Pilih Metrik yang Tepat: Identifikasi metrik yang digunakan lembaga pemeringkat kredit untuk menilai organisasi.
- Libatkan Seluruh Bisnis: Terjemahkan metrik yang ada ke dalam mata uang bersama dengan mempertimbangkan risiko unik setiap segmen.
- Evaluasi Risiko Utama: Termasuk risiko pasar, likuiditas, kredit, dan risiko non-finansial.
- Integrasi ke Perencanaan Strategis: Gunakan kerangka kerja ini untuk pengambilan keputusan investasi dan alokasi modal di seluruh bisnis.
Mengambil Pelajaran dari Sektor Keuangan
Sektor keuangan telah lama menggunakan konsep “modal ekonomi” untuk mengelola risiko. Pendekatan ini memungkinkan bank mengevaluasi efisiensi pemanfaatan sumber daya mereka secara menyeluruh. Kini, perusahaan energi juga perlu bergerak ke arah yang sama untuk memastikan kelangsungan bisnis jangka panjang, terutama di tengah transisi menuju energi bersih.
Dengan “mata uang bersama” sebagai alat strategis, perusahaan energi dapat membuat keputusan investasi yang lebih cerdas, memastikan keselarasan antara risiko, pengembalian, dan keberlanjutan. Di tengah tekanan dari pemegang saham dan tantangan transisi energi, pendekatan ini dapat menjadi kunci kesuksesan jangka panjang.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Oliver Wyman, dengan judul Why Energy Businesses Need A Common Currency Of Risk. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Bagaimana Artificial Intelligence (AI) Membantu Pengelolaan Dana Organisasi Nirlaba?
Organisasi nirlaba bertujuan memberi dampak positif bagi masyarakat dengan mengelola dana publik secara bertanggung jawab. Tantangan utama yang dihadapi adalah memastikan dana digunakan sesuai tujuan, yang membutuhkan manajemen risiko yang efektif.
Peran AI dalam Mengelola Dana
Teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) membantu organisasi nirlaba dengan:
- Otomatisasi Pembukuan: Mempermudah pencatatan keuangan secara real-time, mengurangi risiko kesalahan administrasi.
- Analisis Tren: AI dapat memprediksi pendapatan donasi dan alokasi dana sosial lebih efektif.
- Deteksi Penyalahgunaan Dana: Algoritma AI memantau transaksi keuangan untuk mencegah penyalahgunaan.
- Pemantauan Proyek: Mengawasi progres proyek sosial dan menganalisis dampak kegiatan.
- Hubungan Donatur: Chatbots mempermudah komunikasi dan menjaga keterlibatan donatur.
Kendala Digitalisasi
Meski potensial, adopsi AI di organisasi nirlaba sering terkendala:
- Kurangnya Literasi Digital: Banyak pengurus adalah generasi tua atau sukarelawan tanpa keahlian teknologi.
- Infrastruktur Terbatas: Keterbatasan akses internet di beberapa wilayah.
Menurut survei NetChange, hanya 11% organisasi nirlaba yang aktif menggunakan teknologi digital. Untuk mengatasi ini, peningkatan kapasitas SDM dan infrastruktur menjadi prioritas.
Penggunaan AI meningkatkan transparansi, efisiensi, dan kepercayaan masyarakat terhadap organisasi nirlaba. Dengan pengelolaan dana yang lebih baik, organisasi dapat menyalurkan bantuan secara tepat sasaran dan memperbesar dampak sosial.
Artikel ini telah diterbitkan oleh CRMS, dengan judul Bagaimana Artificial Intelligence (AI) Mengidentifikasi Risiko Pengelolaan Dana Organisasi Nirlaba?. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Mengukur Risiko Geopolitik: Apa, Bagaimana, Seberapa Besar, dan Seberapa Mungkin
Mengelola risiko geopolitik adalah keahlian yang semakin penting bagi manajer risiko. Dalam dunia yang penuh dengan tantangan global, pemahaman mendalam tentang definisi, klasifikasi, serta cara pengukuran risiko ini menjadi kunci. Artikel ini membahas konsep dasar risiko geopolitik, bagaimana mengukur dan mengelolanya, serta memberikan contoh nyata dari konflik Israel-Hamas.
Apa Itu Risiko Geopolitik?
Risiko geopolitik mengacu pada pengaruh hubungan kekuatan antarnegara yang dipengaruhi oleh faktor geografis. Menurut Encyclopedia Britannica, geopolitik melibatkan analisis hubungan kekuatan berdasarkan faktor geografis. Risiko ini mencakup peristiwa yang dapat berdampak negatif terhadap ekonomi global, populasi, atau sumber daya alam.
Jenis Risiko Geopolitik
- Risiko Jangka Pendek dan Menengah: Dipengaruhi oleh tren global, seperti krisis utang negara berkembang pada 1980-an atau pandemi COVID-19.
- Risiko Berulang vs. Satu Kali: Ada risiko yang bersifat berkelanjutan (misalnya, ketegangan geopolitik di Timur Tengah) dan risiko yang tiba-tiba (misalnya, serangan mendadak).
Cara Mengukur Risiko Geopolitik
Mengukur risiko geopolitik melibatkan skenario probabilistik. Donald Rumsfeld menggambarkan ini sebagai “hal yang diketahui, hal yang tidak diketahui, dan hal yang kita tidak tahu bahwa kita tidak tahu.”
Pendekatan Utama
- Pendekatan Kuantitatif
- Membuat indeks risiko, seperti Geopolitical Risk Indicator (BGPRI) dari BlackRock, yang menghitung frekuensi penyebutan risiko dalam laporan keuangan.
- Pendekatan text-mining untuk menganalisis berita dan artikel.
- Pendekatan Naratif
- Membangun skenario berdasarkan wawasan ahli, seperti yang dilakukan McKinsey.
- Survei opini pakar, seperti Global Risk Perceptions Survey dari World Economic Forum.
Alat Pengukuran
- Matriks risiko yang mencakup:
- Narasi Latar Belakang
- Jangka Waktu (pendek, menengah, panjang)
- Indikator Risiko
- Kemungkinan Terjadinya
- Dampak Risiko
Mengelola Risiko Geopolitik
Manajemen risiko geopolitik membutuhkan:
- Pemahaman Sejarah: Peristiwa sejarah dan budaya suatu wilayah membantu memahami motivasi aktor utama.
- Kapasitas untuk Mengantisipasi: Mengembangkan skenario terbaik, kemungkinan besar, dan terburuk untuk mempersiapkan respons yang fleksibel.
Faktor Tak Terduga
Risiko sering kali berkembang perlahan sebelum memuncak. Analisis berkelanjutan diperlukan untuk memantau tanda-tanda awal perubahan risiko.
Studi Kasus: Konflik Israel-Hamas
Apa: Konflik ini melibatkan aktor regional seperti Iran dan Qatar, serta global seperti Amerika Serikat. Iran memainkan peran penting melalui dukungannya terhadap kelompok seperti Hamas.
Bagaimana: Dampak makroekonomi termasuk lonjakan harga minyak dan gangguan rantai pasok global. Dampak mikroekonomi mencakup peningkatan biaya logistik dan hilangnya akses pasar.
Seberapa Besar: Gangguan pengiriman di Laut Merah telah meningkatkan biaya pengiriman, tetapi pasar minyak tetap relatif stabil karena pasokan yang cukup.
Seberapa Mungkin: Eskalasi konflik besar memiliki risiko rendah (10–20%), tetapi resolusi damai tetap tidak pasti.
Tahun 2024 diprediksi penuh gejolak, dengan risiko geopolitik seperti ketegangan di Timur Tengah dan siklus pemilu global. Ketahanan dan perencanaan kontingensi menjadi elemen kunci dalam menghadapi risiko yang berkembang perlahan dan yang muncul tiba-tiba.
Dengan pemahaman yang tepat, pemangku kepentingan dapat mengidentifikasi risiko geopolitik lebih awal dan merespons dengan strategi yang tepat.
Artikel ini telah diterbitkan oleh PRMIA, dengan judul Measuring Geopolitical Risk: The What, How, How Much and How Likely.
Mengapa Kebijakan Wajib Kembali ke Kantor Berisiko Tinggi?
Kebijakan wajib kembali ke kantor (Return-to-Office/RTO) semakin banyak diterapkan oleh organisasi. Namun, riset menunjukkan bahwa kebijakan ini memiliki lebih banyak risiko daripada manfaat, terutama bagi retensi karyawan dan keseimbangan kerja-kehidupan (work-life balance).
Risiko dan Konflik Return-to-Office
Dalam 12 bulan terakhir, 63% pemimpin SDM melaporkan peningkatan ekspektasi untuk kembali ke kantor. Namun, 74% menyatakan kebijakan ini menimbulkan konflik dalam kepemimpinan.
Dampak Negatif
- Ketidakseimbangan Kerja-Kehidupan: Salah satu dari lima alasan utama karyawan berhenti bekerja.
- Turunnya Loyalitas: Karyawan di organisasi dengan kebijakan RTO melaporkan niat bertahan yang lebih rendah dibandingkan organisasi tanpa kebijakan serupa.
Siapa yang Paling Berisiko?
- Karyawan berkinerja tinggi, perempuan, dan milenial adalah kelompok yang paling rentan.
- Mereka menganggap RTO sebagai bentuk ketidakpercayaan dari manajemen, terutama jika performa mereka tetap tinggi selama bekerja jarak jauh.
Manfaat RTO: Ada, Tapi Terbatas
Beberapa manfaat RTO antara lain:
- Pengawasan Lebih Dekat: Karyawan cenderung bekerja lebih giat saat di kantor.
- Kolaborasi Langsung: Kedekatan fisik mempermudah kerja sama antar tim.
- Kenyamanan bagi Manajer: Manajer merasa lebih akrab dengan tim dan lebih mudah memantau pekerjaan.
Namun, manfaat ini tidak sebanding dengan dampak negatif pada retensi dan keterlibatan karyawan.
Pendekatan Fleksibel Lebih Efektif
Model kerja hybrid yang fleksibel menghasilkan hasil yang lebih positif daripada pendekatan seragam.
Rekomendasi:
- Fokus pada Aktivitas Tertentu: Dorong kehadiran untuk kegiatan tertentu seperti sesi brainstorming atau acara khusus.
- Libatkan Karyawan: Beri mereka ruang untuk ikut membentuk kebijakan kerja hybrid.
- Jelaskan Alasan: Kebijakan dengan alasan yang jelas meningkatkan keterlibatan dan loyalitas karyawan.
Pendekatan wajib kembali ke kantor dapat merusak strategi talenta jangka panjang. Fleksibilitas dan keterlibatan karyawan adalah kunci untuk mencapai keseimbangan antara produktivitas dan kesejahteraan kerja.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Gartner, dengan judul The Data Is In: Return-to-Office Mandates Aren’t Worth the Talent Risks. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Manajemen Risiko Alam: Mengukur Ketergantungan dan Dampak Kehilangan Keanekaragaman Hayati
Kesadaran akan pentingnya pengelolaan risiko terkait alam semakin meningkat, terutama setelah disepakatinya Global Biodiversity Framework (GBF) oleh PBB pada Desember 2022. GBF, yang merupakan versi keanekaragaman hayati dari Paris Agreement, memberikan panduan untuk melindungi alam dan mengatasi kehilangan keanekaragaman hayati.
GBF menetapkan target ambisius untuk dicapai pada 2030, di antaranya:
- Melindungi 30% daratan, lautan, dan perairan global (30 by 30).
- Mengurangi subsidi merugikan lingkungan hingga USD 500 miliar per tahun.
- Memangkas setengah dari limbah makanan global.
Langkah ini mendorong lahirnya Taskforce on Nature-related Financial Disclosures (TNFD), yang mirip dengan Taskforce on Climate-related Financial Disclosures (TCFD). TNFD bertujuan membantu perusahaan memahami dan melaporkan risiko terkait alam, dengan harapan dapat diintegrasikan ke dalam standar akuntansi internasional.
Laporan World Economic Forum mengungkapkan bahwa lebih dari setengah PDB global bergantung pada aset alam dan layanan ekosistem, baik secara langsung maupun melalui rantai pasok. Ketergantungan ini membuat bisnis rentan terhadap risiko kehilangan alam.
Bank Dunia menemukan bahwa kerusakan pada kehutanan, penyerbukan, dan perikanan dapat secara signifikan mengurangi PDB di wilayah dengan populasi besar. Misalnya:
- Industri di Brasil dan Malaysia menunjukkan ketergantungan tinggi pada layanan ekosistem.
- Sektor pertahanan dan administrasi publik di Inggris sangat bergantung pada stabilisasi ekosistem.
Mengelola Risiko Keanekaragaman Hayati
Beberapa lembaga keuangan telah memulai analisis ketergantungan mereka pada alam, termasuk:
- Norinchukin Bank: Menganalisis sektor industri yang bergantung pada layanan ekosistem spesifik.
- TD Bank: Melakukan analisis mendalam untuk klien agrikulturnya.
- Robeco: Mengevaluasi eksposur investasi terhadap sektor yang berdampak tinggi pada keanekaragaman hayati.
Alat dan Kerangka Kerja
Kerangka kerja seperti ENCORE dan TNFD’s LEAP membantu perusahaan:
- Mengidentifikasi ketergantungan pada alam.
- Mengevaluasi dampak dan risiko terkait alam.
- Merencanakan respons dan melaporkan risiko.
Dengan lebih dari separuh ekonomi dunia bergantung pada alam, risiko kehilangan keanekaragaman hayati tidak bisa diabaikan. Lembaga keuangan perlu memahami hubungan portofolio mereka dengan alam untuk memitigasi dampak negatif. Dengan mengadopsi pendekatan seperti TNFD, organisasi dapat mengambil langkah proaktif untuk mengelola risiko alam dan memastikan keberlanjutan jangka panjang.
Artikel ini telah diterbitkan oleh GARP, dengan judul Nature Risk Measurement Is Evolving. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.