Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

 

Risiko geopolitik kini semakin berkaitan erat dengan stabilitas keuangan global. Ketegangan antarnegara tidak lagi berhenti pada urusan politik, tetapi mulai memengaruhi pasar, perdagangan, harga komoditas, hingga operasional perusahaan.

Kondisi tersebut membuat dunia usaha dan lembaga keuangan menghadapi sumber ketidakpastian baru. Guncangan dari konflik antarnegara bisa menyebar cepat melalui pasar modal, rantai pasok, dan sistem keuangan. Kondisi tersebut bukan lagi gangguan sementara. Dunia usaha perlu melihat ketidakpastian geopolitik sebagai bagian dari lingkungan bisnis yang harus dihadapi dalam jangka panjang.

Risiko Geopolitik dan Stabilitas Keuangan Makin Terikat

Hubungan antara risiko geopolitik dan stabilitas keuangan semakin kuat karena peta kekuatan ekonomi dunia ikut berubah. Dominasi satu kekuatan besar mulai menghadapi persaingan dari sejumlah pusat kekuatan baru.

Persaingan tersebut turut masuk ke kebijakan ekonomi. Negara dapat menggunakan sanksi, tarif impor, serta pembatasan ekspor teknologi sebagai alat untuk menekan negara lain.

Kebijakan semacam itu bisa berdampak langsung pada dunia usaha. Perusahaan yang bergantung pada pasar atau pemasok dari negara tertentu dapat menghadapi kenaikan biaya dan gangguan distribusi.

Perubahan tatanan global tersebut juga mendapat perhatian dari Perdana Menteri Kanada Mark Carney. Dalam pidatonya di Davos, Carney mengatakan, “Dunia sedang berada di tengah keretakan, bukan sekadar transisi.”

Pernyataan tersebut menggambarkan perubahan hubungan antarnegara yang semakin sulit diprediksi. Bagi sektor keuangan, ketidakpastian seperti ini dapat meningkatkan risiko secara cepat.

Salah satu dampak paling cepat terlihat melalui pergerakan investasi. Ketika konflik meningkat, investor dapat menarik dana dari pasar negara berkembang dan memilih aset yang dianggap lebih aman.

Arus modal yang keluar bisa meningkatkan tekanan terhadap pasar keuangan. Nilai tukar, harga saham, dan biaya pendanaan dapat ikut bergerak akibat perubahan sentimen investor.

Gangguan juga bisa muncul dari perdagangan global. Hambatan pada jalur perdagangan penting dapat mengurangi pasokan barang dan bahan baku.

Kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga komoditas. Jika berlangsung lama, tekanan tersebut dapat ikut meningkatkan inflasi di berbagai negara.

Risiko geopolitik juga memiliki sisi lain yang semakin penting, yaitu serangan siber. Konflik antarnegara dapat melibatkan serangan terhadap infrastruktur digital dan sistem operasional perusahaan.

Lembaga keuangan menjadi salah satu sektor yang perlu memberi perhatian besar pada ancaman tersebut. Gangguan sistem dapat menghambat transaksi dan layanan kepada nasabah.

Dunia Usaha Perlu Mengubah Cara Mengelola Risiko

Perubahan kondisi global membuat metode prediksi tradisional semakin sulit diandalkan. Risiko geopolitik dapat berkembang cepat dan menghasilkan dampak yang sulit diperkirakan.

Karena itu, pengelola risiko perlu memetakan berbagai kemungkinan krisis. Perusahaan juga perlu memahami jalur yang dapat membuat sebuah konflik menyebar ke operasional bisnis.

Pemantauan kondisi geopolitik perlu dilakukan secara berkelanjutan. Informasi mengenai kebijakan perdagangan, konflik, sanksi ekonomi, dan perubahan hubungan antarnegara dapat menjadi bahan penting bagi pengambilan keputusan.

Perusahaan juga perlu membangun organisasi yang lebih fleksibel. Kemampuan mengubah rencana bisnis dengan cepat dapat membantu perusahaan menghadapi perubahan situasi.

Bagi lembaga keuangan, kesiapan tersebut menjadi semakin penting. Gangguan pada satu bagian sistem dapat merambat ke pasar, nasabah, dan aktivitas ekonomi yang lebih luas.

Risiko geopolitik kini perlu dipandang sebagai bagian dari risiko bisnis, bukan sekadar isu hubungan internasional. Konflik dan persaingan antarnegara dapat memengaruhi keputusan investasi, perdagangan, teknologi, hingga sistem operasional.

Artikel ini telah diterbitkan oleh PRMIA dengan judul “Navigating Geopolitical Risk: Strategic Resilience for Financial Institutions in an Unstable World”. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.