Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Banyak organisasi hari ini merasa sudah “go digital”. Sistem baru dibeli, platform canggih dipasang, data dikumpulkan, AI mulai dicoba. Tapi di balik itu, hasilnya sering tidak sebanding dengan investasi.

Transformasi berjalan lambat, manfaatnya tidak terasa, bahkan ada yang berhenti di tengah jalan. Jika ditelusuri, penyebab utamanya sering kali bukan teknologi—melainkan kesenjangan kompetensi.

Ketika Teknologi Lebih Siap dari Organisasi

Transformasi digital menuntut kemampuan memahami data, mengelola teknologi, dan mengambil keputusan berbasis informasi. Tanpa kompetensi ini, sistem yang sudah dibangun justru memunculkan risiko:

  • Teknologi tidak dimanfaatkan optimal
  • Penggunaan tidak konsisten antar unit
  • Biaya besar tanpa dampak strategis

Akhirnya, transformasi digital berhenti sebagai proyek IT, bukan perubahan cara kerja.

Kesenjangan Kompetensi sebagai Risiko Investasi

Dari sudut pandang manajemen risiko, kesenjangan kompetensi adalah risiko terhadap nilai investasi digital. Teknologi seharusnya meningkatkan efisiensi dan kualitas keputusan. Namun tanpa kapabilitas yang memadai, manfaat itu tidak tercapai.

Risiko yang muncul antara lain:

  • ROI inisiatif digital rendah
  • Ketergantungan tinggi pada vendor dan konsultan
  • Lemahnya kontrol dan oversight sistem
  • Keputusan berbasis data terlambat atau tidak akurat

Di titik ini, kompetensi menjadi faktor penentu: menciptakan nilai atau justru menambah risiko baru.

Dampak ke Tata Kelola dan Kepatuhan

Transformasi digital juga membawa implikasi besar pada tata kelola. Ketika pemahaman digital tidak merata, risiko tata kelola meningkat.

Gejalanya terlihat dari keputusan teknologi tanpa pemahaman risiko, lemahnya pengawasan data dan keamanan siber, hingga ketidaksiapan menghadapi regulasi berbasis teknologi. Sistem terlihat modern, tetapi tata kelolanya rapuh.

Risiko Keberlanjutan Transformasi

Transformasi digital bukan agenda sekali jalan. Tanpa pembangunan kompetensi internal, organisasi akan terus bergantung pada pihak eksternal.

Dalam jangka panjang, ini menciptakan risiko keberlanjutan. Begitu proyek selesai atau dukungan konsultan berkurang, transformasi kehilangan momentum dan berhenti berkembang.

Tanggung Jawab Manajemen Puncak

Risiko transformasi digital tidak bisa diserahkan sepenuhnya ke fungsi IT. Manajemen puncak perlu memastikan bahwa strategi digital selaras dengan kesiapan kapabilitas organisasi.

Pertanyaannya bukan hanya soal teknologi yang dipilih, tetapi apakah organisasi benar-benar mampu mengelola, mengendalikan, dan memanfaatkannya secara berkelanjutan.

Tanpa itu, transformasi digital hanya menjadi simbol modernisasi, bukan sumber keunggulan kompetitif.

Transformasi digital memang menjanjikan percepatan kinerja. Namun tanpa kompetensi yang memadai, kebijakan ini menjadi risiko strategis, operasional, dan tata kelola sekaligus.

Pada akhirnya, keberhasilan transformasi digital tidak ditentukan oleh kecanggihan sistem, tetapi oleh kesiapan manusia yang mengelolanya.

Artikel ini telah diterbitkan oleh CRMS Indonesia, dengan judul Ketika Transformasi Digital Tertahan oleh Kesenjangan Kompetensi. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.