Risiko Budaya dan Risiko Orang semakin menjadi perhatian utama dalam industri keuangan global. Risiko yang muncul dari perilaku, keputusan, dan nilai budaya di dalam organisasi terbukti memicu kerugian besar dalam beberapa tahun terakhir. Para ahli menilai, penguatan tata kelola, etika kepemimpinan, serta manajemen risiko yang proaktif menjadi kunci untuk mencegah kegagalan serupa terulang.
Risiko Budaya dan Risiko Orang di Industri Keuangan
Lembaga keuangan adalah industri yang sangat teregulasi dan bergerak cepat. Di dalamnya, faktor manusia dan budaya perusahaan ikut menentukan apakah operasional berjalan stabil atau justru memicu masalah serius. Kasus perilaku tidak etis, keputusan buruk, hingga kepemimpinan yang lemah bisa menurunkan kepercayaan publik dan mengundang sanksi regulator.
Konsep risiko budaya merujuk pada bagaimana nilai dan norma internal dapat menggagalkan tujuan organisasi. Edgar H. Schein, pakar psikologi organisasi, menyebut bahwa pemimpin harus aktif mengelola budaya perusahaan. Sebab, jika tidak, budaya yang akan mengendalikan organisasi.
Pandemi COVID-19 tahun 2020 memperlihatkan tantangan budaya semakin jelas. Perpindahan mendadak ke kerja jarak jauh, percepatan penggunaan AI, dan meningkatnya beban kepatuhan membuat banyak bank tampak memiliki kelemahan budaya dan pengawasan. Para ahli juga melihat perilaku buruk dan bias lebih mudah muncul dalam pola kerja hybrid.
Data dari ORX menunjukkan sejumlah kerugian besar pada 2023, antara lain:
- Kegagalan pemrosesan transaksi yang menyebabkan kerugian hampir €8 miliar.
- 36.811 kasus fraud eksternal, dipicu penipuan media sosial, kejahatan terorganisasi, dan celah keamanan aplikasi.
- Kerugian €3,2 miliar akibat pelanggaran kepatuhan dan perilaku bisnis yang salah.
Keterkaitan antara Risiko Budaya dan Risiko Orang terlihat jelas: minimnya pelatihan, akuntabilitas yang lemah, dan perilaku tidak etis sering menjadi pemicu kegagalan operasional.
Tren kegagalan bank seperti First Republic, Silicon Valley Bank, dan Signature Bank pada 2023 memperlihatkan bahwa risiko budaya dapat memperburuk situasi eksternal. Tingginya dana simpanan tanpa jaminan di tengah inflasi serta strategi investasi yang tidak menyesuaikan kenaikan suku bunga menjadi contoh kegagalan tata kelola dan pengawasan risiko.
Regulator menegaskan perlunya kesadaran risiko yang lebih kuat. Setidaknya, terdapat lima tren risiko yang perlu mendapat perhatian serius pada 2024, yakni:
-
- Keamanan siber
- Risiko geopolitik
- Quantum computing
- Risiko rantai pasok dan vendor
- Artificial intelligence
Semua tren ini berkaitan dengan kemampuan organisasi membangun budaya yang adaptif dan mengutamakan integritas.
Kerangka Penguatan Risiko Budaya dan Risiko Orang
Untuk menjaga stabilitas jangka panjang, lembaga keuangan disarankan menerapkan kerangka manajemen khusus Risiko Budaya dan Risiko Orang. Ada empat tujuan utama:
- Membangun tata kelola dan akuntabilitas pemangku kepentingan.
- Menetapkan ukuran risiko dan sistem monitoring.
- Mengukur kedalaman penerapan budaya dalam organisasi.
- Menyiapkan protokol kesiapsiagaan krisis.
Pendekatan ini diharapkan tidak hanya melindungi institusi dari kerugian reputasi dan finansial, tetapi juga memperkuat ekosistem keuangan secara keseluruhan.
Kesehatan lembaga keuangan sangat dipengaruhi oleh bagaimana mereka mengelola budaya dan risiko SDM. Pelanggaran etika, kurangnya pengawasan, dan perilaku menyimpang telah menyebabkan kerugian miliaran.
Dengan tata kelola yang lebih proaktif, kepemimpinan yang bertanggung jawab, serta sistem pengukuran yang konsisten, industri keuangan dapat mengurangi risiko tersebut dan membangun ketahanan organisasi yang lebih kuat.
Artikel ini telah diterbitkan oleh PRMIA, dengan judul Building Organizational Resiliency: Managing Culture and People Risk in Financial Institutions.