Pada Rabu, 11 Maret 2026, Webinar RISKHub “Anticipating Emerging Risks and Building Resilience in A Volatile Environment” diselenggarakan oleh Indonesia Risk Management Professional Association (IRMAPA) bersama Enterprise Risk Management Academy (ERMA).

Acara yang didukung oleh Marsh, LSP MKS, CRMS, dan WAY Academy ini digelar secara daring melalui Zoom pada pukul 14.00–16.00 WIB. 

Kegiatan ini menjadi upaya bersama dalam memperkuat pemahaman terhadap dinamika risiko global serta meningkatkan ketahanan organisasi di tengah lingkungan yang makin tidak pasti. Perubahan geopolitik, volatilitas ekonomi, ancaman siber, hingga dinamika regulasi terjadi secara bersamaan dan berlangsung dengan cepat sehingga organisasi dituntut untuk mampu mengantisipasi dan menavigasi risiko secara lebih proaktif

Dengan dipandu oleh MC Tasha Christina, acara dibuka dengan pengantar dari moderator Stefiani Norimarna selaku Program Division Member IRMAPA. Kegiatan selanjutnya adalah pemaparan materi oleh tiga narasumber. Dua narasumber pertama datang dari Strategic Risk Consulting di Marsh Asia, yaitu Zihramna Afdi selaku senior consultant dan Ihza Rizkia Fitri selaku risk consultant. Narasumber ketiga adalah Ibrahim Kholilul Rohman, Senior Research Associate di IFG Progress sekaligus dosen Universitas Indonesia. 

Zihramna Afdi & Ihza Rizkia Fitri: Global Risk Outlook 2026 dan Strategi Membangun Resilience

Dalam paparannya, Zihramna Afdi menjelaskan bahwa lanskap risiko global mengalami pergeseran yang signifikan, ditandai dengan meningkatnya geoeconomic confrontation sebagai risiko utama yang berdampak pada strategi bisnis, rantai pasok, serta kepercayaan investasi. Selain itu, risiko seperti misinformasi, polarisasi sosial, perubahan iklim, dan ancaman siber tetap menjadi tekanan yang bersifat persisten.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa risiko tidak lagi dapat dikelola secara terpisah. Oleh karena itu, organisasi perlu mengintegrasikan manajemen risiko ke dalam strategi inti, termasuk melalui penguatan governance atau pengambilan keputusan yang berbasis risiko.

Ihza Rizkia Fitri menekankan pentingnya membangun resilience sebagai fondasi utama organisasi. Menurutnya, bahwa organisasi yang mampu mengelola risiko dengan baik cenderung lebih stabil serta memiliki tingkat kepercayaan yang lebih tinggi dari pasar.

Dirinya juga menambahkan bahwa pengelolaan risiko perlu mencakup seluruh siklus, mulai dari enterprise risk management hingga business continuity management dan crisis management, serta didukung oleh kemampuan risk sensing untuk mengantisipasi potensi risiko sejak dini.

Ibrahim Kholilul Rohman: Hasil Annual Risk Survey dan Lanskap Risiko Indonesia

Ibrahim Kholilul Rohman memaparkan hasil Annual Risk Survey: Corporate Context Indonesia 2025 yang disusun melalui kolaborasi antara IRMAPA, IFG Progress, dan IPB University. Dia menjelaskan bahwa lanskap risiko di Indonesia dapat dipetakan ke dalam lima pilar utama, yaitu geopolitik, makroekonomi, sosial, lingkungan, serta internal organisasi.

Hasil survei menunjukkan bahwa risiko siber menjadi risiko paling kritis dengan tingkat probabilitas dan dampak yang tinggi di berbagai sektor. Ibrahim juga menyoroti perbedaan karakteristik risiko antarsektor. Sektor keuangan cenderung lebih sensitif terhadap risiko sistemik, sementara sektor riil lebih menghadapi tekanan operasional seperti biaya produksi dan gangguan rantai pasok.

Lebih lanjut, Ibrahim menekankan bahwa pergeseran paradigma terjadi dalam pengelolaan risiko, dari pendekatan defensif menuju pendekatan proaktif dan adaptif. Dalam konteks ini, manajemen risiko tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat mitigasi, tetapi juga sebagai elemen strategis yang menjaga keberlanjutan organisasi.

Webinar ditutup dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung secara interaktif antara narasumber dan peserta.