Pada Sabtu, 18 April 2026, webinar bertajuk “Project Risk Management & Prevention and Detection of Project Management Fraud” diselenggarakan secara daring melalui Zoom pukul 09.00–12.00 WIB.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara IAMI Wilayah Banten, IRMAPA, dan ACFE Indonesia Chapter #111.
Acara dipandu oleh MC Vierina Clyde dan menghadirkan Robi Barmawanto selaku CEO and Advisory Partner KAP Kanaka Puradiredja, Suhartono (Nexia KPS) sebagai moderator. Webinar ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Victor Riwu Kaho selaku perwakilan pengurus IRMAPA dan Sekretaris Jenderal Asosiasi GRC serta Marizal Chaidir selaku Director of Membership ACFE Indonesia Chapter.
Dalam sambutannya, perwakilan DPW IAMI Banten, Muh. Arief Efendi, menyampaikan bahwa webinar diselenggarakan sebagai bagian dari pengembangan kompetensi dan ruang belajar bagi para praktisi. Ia juga menyoroti pentingnya pemahaman mengenai project risk management dan fraud prevention dalam pengelolaan proyek.
Joko H. Wibowo dari IRMAPA menyoroti perkembangan digitalisasi dan pemanfaatan AI yang memengaruhi dinamika risiko dalam organisasi. Menurutnya, organisasi perlu memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi risiko sejak dini melalui penerapan manajemen risiko.
Sementara itu, perwakilan ACFE Indonesia Chapter, Agustian Fardianto, menyampaikan pentingnya penguatan pengendalian, tata kelola, dan budaya organisasi dalam pencegahan fraud. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas profesi dalam memperkuat integritas organisasi.
Opening speech disampaikan oleh Linus M. Setiadi selaku Ketua II DPP IAMI. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa pengelolaan proyek tidak hanya berkaitan dengan pencapaian target, tetapi juga identifikasi risiko dan penguatan integritas dalam pelaksanaan proyek. Ia juga menyoroti pentingnya professional development dan pembelajaran lintas asosiasi profesi.
Victor Riwu Kaho: Project Risk Management dan Penguatan Tata Kelola Proyek
Victor Riwu Kaho menjelaskan bahwa risiko proyek dapat muncul sejak tahap awal project value chain. Oleh karena itu, identifikasi risiko perlu dilakukan sejak tahap pembentukan proyek agar potensi kegagalan dapat diantisipasi lebih dini. Ia juga menjelaskan bahwa risiko yang tidak tertangani dengan baik dapat berkembang menjadi fraud exposure. Aspek procurement, cost estimation, change control, reporting, dan tahap awal perencanaan proyek menjadi bagian yang perlu mendapatkan perhatian dalam pengelolaan risiko proyek.
Victor menjelaskan bahwa buruknya manajemen risiko dan dan tekanan operasional dapat membuka peluang fraud. Karena itu, organisasi perlu melakukan identifikasi risiko, monitoring, dan penguatan sistem pengendalian secara berkelanjutan.
Di akhir sesi, Victor menyampaikan bahwa keberhasilan proyek bukan berarti menghilangkan seluruh risiko, melainkan menunjukkan kemampuan organisasi dalam mengelola uncertainty melalui pendekatan manajemen risiko.
Marizal Chaidir: Fraud Prevention, Detection, dan Deterrence
Marizal Chaidir menjelaskan bahwa project management fraud dapat terjadi sepanjang project life cycle, mulai dari tahap perencanaan hingga penyelesaian proyek. Fraud tersebut dapat berupa manipulasi tender, mark-up biaya, penyalahgunaan vendor, dan penyalahgunaan dana proyek.
Menurut Marizal, fraud dipengaruhi oleh pressure, opportunity, dan rationalization. Oleh karena itu, pengelolaan fraud perlu dilakukan melalui fraud risk management (FRM) yang sistematis dan proaktif. Ia juga menjelaskan pentingnya prevention, detection, dan deterrence dalam organisasi. Pendekatan tersebut mencakup penguatan budaya organisasi, pengawasan, komunikasi anti-fraud, dan peningkatan awareness dalam organisasi.
Marizal menambahkan bahwa pengelolaan fraud melibatkan board of directors (BOD), manajemen, internal audit, risk management, dan seluruh karyawan sebagai bagian dari pertahanan organisasi terhadap fraud.
Setelah pemaparan materi selesai dilakukan oleh kedua narasumber, webinar diakhiri dengan sesi diskusi dan tanya jawab.


