Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Perlambatan ekonomi kini menjadi salah satu risiko terbesar bagi perusahaan di seluruh dunia. Pada 2025, risiko ini menempati peringkat ketiga secara global dan diperkirakan naik menjadi peringkat kedua pada 2028.

Di tengah perang dagang, inflasi yang tinggi, serta konflik geopolitik, dunia usaha dituntut untuk lebih siap menghadapi ketidakpastian. Tanpa persiapan yang matang, banyak perusahaan berisiko goyah bahkan mengalami kerugian besar.

Mengapa Perlambatan Ekonomi Berbahaya?

Saat ekonomi melambat, dampaknya langsung terasa di berbagai sektor. Daya beli masyarakat menurun, penjualan ikut melemah, dan modal usaha semakin sulit diperoleh. Di sisi lain, biaya pinjaman justru makin mahal.

Kondisi ini membuat keuntungan perusahaan tertekan. Tidak sedikit pelaku usaha yang kebingungan menentukan langkah, karena strategi yang dulu berhasil sering kali tidak lagi relevan dalam situasi yang penuh ketidakpastian.

Penyebab Perlambatan Ekonomi Saat Ini

Melemahnya ekonomi global dipicu oleh berbagai faktor, antara lain:

  • Ketegangan perdagangan antarnegara
  • Kebijakan ekonomi yang sering berubah
  • Inflasi yang terus meningkat
  • Tingginya utang negara
  • Ancaman resesi

Masalah-masalah ini juga berdampak pada rantai pasok dan membuat biaya produksi perusahaan semakin tinggi.

Dampak bagi Masyarakat dan Perusahaan

Perlambatan ekonomi tidak hanya dirasakan oleh perusahaan, tetapi juga oleh masyarakat.

Banyak orang memilih mengurangi belanja dan lebih banyak menabung karena khawatir terhadap masa depan. Akibatnya, perputaran uang di masyarakat menjadi lambat dan aktivitas ekonomi ikut menurun.

Bagi dunia usaha, dampak yang sering muncul antara lain:

  • Pendapatan perusahaan menurun
  • Risiko pemutusan hubungan kerja meningkat
  • Keterlibatan pemerintah semakin besar
  • Kerugian bisnis bertambah

Survei menunjukkan bahwa lebih dari setengah perusahaan pernah mengalami kerugian akibat perlambatan ekonomi. Namun, hanya sebagian kecil yang benar-benar memiliki persiapan matang.

Strategi Menghadapi Perlambatan Ekonomi

Agar tetap bertahan di tengah kondisi sulit, perusahaan perlu mengambil langkah-langkah strategis.

1. Menjaga Kekuatan Keuangan

Memiliki cadangan dana yang cukup sangat penting. Uang tunai membantu perusahaan bertahan saat pendapatan menurun sekaligus membuka peluang untuk berinvestasi ketika situasi membaik.

2. Mengelola Karyawan Secara Bijak

Perusahaan perlu memastikan karyawannya memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan bisnis. Pelatihan, pengembangan, dan penempatan ulang tenaga kerja menjadi langkah penting untuk menjaga produktivitas.

3. Mengoptimalkan Perlindungan Asuransi

Asuransi yang tepat dapat melindungi perusahaan dari risiko kerugian besar dan membantu menjaga stabilitas keuangan.

4. Rutin Mengevaluasi Risiko

Perusahaan perlu secara rutin memantau kondisi ekonomi, melakukan simulasi krisis, dan menyiapkan rencana cadangan agar lebih siap menghadapi perubahan.

5. Memperkuat Rantai Pasok

Ketergantungan pada satu pemasok atau satu wilayah sangat berisiko. Diversifikasi pemasok dan pasar dapat membantu mengurangi gangguan produksi.

6. Memanfaatkan Teknologi Digital

Penggunaan teknologi seperti AI, otomatisasi, dan analisis data dapat meningkatkan efisiensi, menekan biaya, dan mempercepat pengambilan keputusan.

Dalam beberapa tahun ke depan, pertumbuhan ekonomi diperkirakan masih berjalan lambat, sementara inflasi dan suku bunga tetap tinggi. Ketidakpastian global juga belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.

Perusahaan yang siap secara keuangan, fleksibel dalam mengelola sumber daya manusia, cermat membaca risiko, dan terbuka terhadap teknologi, akan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang.

Artikel ini telah diterbitkan oleh AON, dengan judul Why Economic Slowdown is an Ongoing Risk for Organizations. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.