Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Manajemen risiko saat ini menghadapi tantangan besar. Risiko tidak lagi sederhana atau mudah diprediksi, melainkan cepat berubah dan saling terkait. Selama puluhan tahun, pendekatan kuantitatif menjadi andalan dengan keyakinan bahwa risiko harus bisa diukur agar bisa dikelola.

Namun, sejarah menunjukkan keterbatasan pendekatan ini. Kegagalan besar seperti krisis keuangan 1998 dan 2008 membuktikan bahwa model statistik saja tidak cukup untuk memahami risiko secara utuh.

Kecerdasan buatan (AI) kini banyak digunakan dalam manajemen risiko. AI mampu menangani pekerjaan teknis seperti pengolahan data, pemantauan risiko, dan pelaporan secara cepat dan efisien.

Beberapa area yang mulai banyak ditangani AI meliputi:

  • Risiko pasar (volatilitas harga dan suku bunga),
  • Risiko kredit (skor kredit dan riwayat pembayaran),
  • Risiko operasional (deteksi anomali),
  • Keamanan siber (pemantauan ancaman).

Akibatnya, nilai tambah manajer risiko tidak lagi terletak pada pengolahan data, melainkan pada pemahaman dan penafsiran hasilnya.

Manajer risiko tidak cukup hanya menguasai teknik kuantitatif. Mereka perlu:

  • Berpikir kritis,
  • Memahami keterbatasan model AI,
  • Mampu menjelaskan hasil analisis ke pengambil keputusan non-teknis.

Tanpa keterampilan ini, peran manajer risiko berisiko tergeser oleh otomatisasi.

Untuk menghadapi kompleksitas ini, diperlukan metode analisis yang lebih terstruktur. Intelligent Analysis adalah pendekatan yang menggabungkan analisis, pengukuran, dan komunikasi risiko secara berkelanjutan.

Metode ini membantu manajer risiko tidak hanya menerima hasil AI, tetapi juga memahami proses dan asumsi di baliknya.

Teknik Analitik Terstruktur 

Ada empat teknik utama untuk mengurangi bias dan meningkatkan kualitas analisis:

  • Key Intelligence Question (KIQ): Menentukan pertanyaan yang benar sejak awal.
  • Source Collection Plan: Memilih data yang relevan dan tepat.
  • Source Assessment: Menilai keandalan sumber data.
  • Key Assumptions Check (KAC): Menguji asumsi dalam model AI.

Teknik ini membantu memastikan hasil analisis lebih akurat dan dapat dipercaya.

Komunikasi Risiko dengan BLUF

Analisis yang baik harus disampaikan dengan jelas. Pendekatan Bottom Line Up Front (BLUF) menempatkan kesimpulan utama di awal laporan, sehingga pengambil keputusan langsung memahami:

  • Apa risikonya,
  • Seberapa besar tingkat keyakinannya,
  • Apa yang perlu dilakukan.

Di era AI, peran manajer risiko bergeser dari “pengolah angka” menjadi “penerjemah risiko”. Keahlian analisis terstruktur dan komunikasi yang jelas menjadi kunci agar manajer risiko tetap relevan dan bernilai bagi organisasi.

Artikel ini telah diterbitkan oleh PRMIA, dengan judul Structured Risk Analysis, Measurement and Communication: Skills That No Risk Manager can Afford to Ignore.