Memasuki 2026, dunia usaha di Indonesia menghadapi risiko yang semakin kompleks, mulai dari siber, keberlanjutan, regulasi, reputasi, hingga dampak transformasi digital. Dalam kondisi ini, sistem manajemen risiko saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah bagaimana seluruh karyawan memiliki kesadaran risiko dalam aktivitas sehari-hari.
Budaya risiko mencerminkan cara berpikir dan bersikap individu dalam menghadapi ketidakpastian. Di era pengambilan keputusan yang serba cepat, budaya yang lemah dapat membuat organisasi mengabaikan tanda-tanda awal masalah. Berbagai kajian menunjukkan bahwa kegagalan manajemen risiko lebih sering disebabkan oleh perilaku manusia, bukan kurangnya aturan.
Manajemen risiko juga bukan hanya tanggung jawab pimpinan atau unit khusus. Setiap bagian organisasi memiliki peran, mulai dari operasional, teknologi, hingga pemasaran. Tanpa kesadaran yang merata, sistem risiko hanya akan menjadi dokumen formal.
Di Indonesia, pembangunan budaya risiko masih menghadapi tantangan, seperti hierarki yang kuat dan budaya menghindari konflik. Banyak karyawan enggan menyampaikan risiko karena takut mengganggu target. Ditambah lagi, fokus berlebihan pada hasil jangka pendek sering mendorong pengambilan keputusan yang berisiko.
Langkah-langkah Membangun Budaya Risiko
Untuk menghadapi tantangan 2026, perusahaan perlu membangun budaya risiko secara sistematis dan berkelanjutan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
1. Memberi Contoh dari Pimpinan
Sikap pimpinan menjadi rujukan utama bagi karyawan. Ketika manajemen secara terbuka mempertimbangkan risiko dalam setiap keputusan, hal tersebut akan membentuk pola pikir serupa di seluruh organisasi.
2. Mengaitkan Risiko dengan Aktivitas Harian
Manajemen risiko tidak boleh hanya dibahas dalam laporan tahunan atau rapat formal. Risiko perlu menjadi bagian dari proses perencanaan, evaluasi kinerja, dan pengambilan keputusan sehari-hari.
3. Meningkatkan Literasi Risiko
Pelatihan yang relevan sangat dibutuhkan agar karyawan memahami jenis-jenis risiko yang dihadapi, termasuk risiko digital, kecerdasan buatan, dan isu keberlanjutan. Dengan pemahaman yang baik, karyawan dapat mengambil keputusan secara lebih bijak.
4. Membangun Budaya Berani Bicara
Organisasi perlu menciptakan lingkungan yang aman bagi karyawan untuk menyampaikan kekhawatiran tanpa takut disalahkan. Sistem pelaporan yang adil dan transparan akan membantu mendeteksi masalah sejak dini.
Organisasi dengan budaya risiko yang matang cenderung lebih adaptif dalam menghadapi perubahan. Mereka tidak hanya fokus pada menghindari kerugian, tetapi juga mampu memanfaatkan peluang secara terukur.
Artikel ini telah diterbitkan oleh CRMS, dengan judul Membangun Budaya Risiko di 2026: Mengapa Semua Profesional Punya Peran. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.