Artikel

Artikel2021-01-27T19:01:07+07:00

4 Pertanyaan ESG untuk Manajer Risiko

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Dalam beberapa tahun terakhir, masalah lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, and governance/ESG) menjadi makin penting bagi semua bisnis dan pemangku kepentingannya. ESG sendiri merupakan bagian dari strategi pertumbuhan organisasi multinasional. Namun, perusahaan memiliki risiko untuk tidak “menjalankan apa yang dibicarakan” jika tidak menyelaraskan komitmen ESG dengan rencana manajemen risiko korporasi (enterprise risk management/ERM).

Berikut adalah empat pertanyaan penting untuk para profesional risiko dan manajer risiko yang berkaitan dengan ESG.

  1. Apakah organisasi memperhitungkan risiko ESG sebagai risiko inti?

Ketika bekerja dengan risiko ESG, sulit untuk mengetahui bagaimana risiko-risiko ini dapat memengaruhi bisnis secara terperinci. Maka, pendekatan holistik dari berbagai pemangku kepentingan diperlukan dengan menggunakan semua komponen agenda keberlanjutan.

  1. Apakah aspek “S” dan “G” dalam ESG tertangani dengan baik? Apakah organisasi rentan terhadap pencucian sosial atau lingkungan?

Isu-isu sosial dan tata kelola kerap diabaikan demi kepentingan lingkungan. Padahal, aspek sosial dan tata kelola dalam ESG sangat penting bagi izin sosial dan reputasi bisnis di antara konsumen, karyawan yang ada, calon karyawan, serta masyarakat secara keseluruhan.

  1. Apakah kerangka kerja risiko internal organisasi, seperti ERM dan kontrol internal, menjalani tinjauan independen secara berkala?

Perancangan identifikasi risiko yang melibatkan para ahli di bidangnya akan memberikan umpan balik tentang beberapa kesulitan paling kompleks yang dihadapi bisnis. Penggunaan strategi pengambilan keputusan yang telah terbukti mengekang bias bawaan dan kecenderungan untuk melakukan proses groupthink juga dapat membantu menyeimbangkan tantangan kognitif ini.

  1. Bagaimana kewajiban keuangan terhadap ESG memengaruhi bisnis?

Sangat penting untuk memahami bagaimana mengintegrasikan ESG ke dalam prosedur manajemen risiko secara keseluruhan saat membuat dan menetapkan pengaturan asuransi. Selain menurunkan premi, hal ini juga akan menunjukkan kemampuan organisasi untuk secara akurat mengungkapkan kemajuan dalam menyelesaikan risiko terkait ESG. Di samping itu, hal ini juga dapat membantu menarik investor, sumber keuangan, dan kapasitas asuransi.

Artikel ini telah diterbitkan oleh ERMA, dengan judul “4 ESG Questions Risk Managers Must Answer” pada 17 Maret 2023. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Pendekatan Kesehatan Karyawan yang Lebih Bermakna

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Sistem layanan kesehatan dunia berada dalam krisis. Layanan kesehatan kewalahan menghadapi dampak perubahan iklim, krisis keuangan, perang, gangguan geopolitik, hingga pandemi Covid-19. Pada saat yang sama, kekurangan tenaga kerja membuat Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) memprediksi kekurangan 18 juta tenaga kesehatan secara global pada 2030. Di sisi lain, World Economic Forum (WEF) memperingatkan adanya “kemunduran pertama dalam pembangunan manusia dalam beberapa dekade”.

Sebagai pemberi kerja, pengusaha tidak bisa lagi menjauhkan diri dari masalah kesehatan karyawan. Sudah terlalu lama, tunjangan kesehatan karyawan menjadi milik sekelompok kecil profesional di bagian atas organisasi. Health on Demand 2023 melaporkan, 30% dari mereka yang berpenghasilan di atas rata-rata memiliki akses ke layanan konseling kesehatan mental, dibandingkan dengan 22% dari mereka yang berpenghasilan di bawah rata-rata.

Beberapa manfaat yang paling dibutuhkan bagi para pekerja berpenghasilan di bawah rata-rata tersebut adalah

  1. skrining kanker preventif;
  2. aplikasi untuk membantu menemukan perawatan medis kapan pun dan di mana pun;
  3. makanan, transportasi, dan/atau tempat tinggal gratis atau bersubsidi;
  4. aplikasi dan perangkat untuk mengelola kondisi kesehatan secara mandiri; serta
  5. layanan untuk membantu masalah kesehatan mental, sosialisasi, dan pembelajaran yang dihadapi oleh kaum muda.

Laporan Health on Demand juga menyoroti perlunya manajer sumber daya manusia (SDM) dan risiko untuk mengembangkan pemahaman tentang ancaman terbaru terhadap kesehatan karyawan. Ancaman-ancaman tersebut mencakup

  1. masalah lingkungan, seperti suhu ekstrem dan kualitas udara yang buruk;
  2. keraguan dan informasi yang salah tentang vaksin; dan
  3. kejahatan dengan kekerasan.

Masalah Lingkungan

Perubahan iklim dan urbanisasi merupakan ancaman yang semakin besar bagi kesehatan karyawan. Dalam mengatasi penyebab masalah lingkungan ini, perusahaan dapat membantu mengurangi faktor-faktor ini dalam jangka pendek. Sebagai contoh, perusahaan dapat berinvestasi di lingkungan tempat kerja untuk melindungi pekerja dari panas yang ekstrem dan polusi, misalnya dengan memasang sistem pendingin dan instalasi pengolahan udara.

Perusahaan juga harus melakukan penilaian kerentanan berbasis komunitas. Hal ini dapat mengidentifikasi potensi dampak risiko yang mungkin mengancam komunitas tertentu, seperti gempa bumi, angin topan, dan badai.

Keraguan dan Informasi yang Salah tentang Vaksin

Penyebaran rumor dan “berita palsu” tentang vaksin Covid-19 di media sosial telah menyebabkan peningkatan tingkat infeksi serta perpecahan yang lebih besar di masyarakat. Pengusaha berada dalam posisi utama untuk mengatasi masalah ini. Mereka adalah sumber informasi tepercaya dan dapat memberikan pendidikan kesehatan.

Pertama, mereka harus mendengarkan tenaga kerja untuk mendapatkan gambaran tentang hambatan yang menghalangi orang untuk divaksinasi. Kedua, mereka harus merancang program komunikasi yang dapat mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Terakhir, mereka dapat memberikan cuti berbayar bagi karyawan untuk menghadiri pusat vaksinasi.

Kejahatan dengan Kekerasan

Laporan Health on Demand 2023 menemukan bahwa kejahatan dengan kekerasan, termasuk di tempat kerja, menjadi perhatian utama bagi karyawan di seluruh dunia. Perusahaan berada dalam posisi yang unik untuk membantu karyawan yang memiliki kekhawatiran serupa, misalnya dengan

  1. mengembangkan rencana mitigasi krisis yang komprehensif, termasuk penilaian, persiapan, respons, dan pemulihan;
  2. memasang fitur pencegahan;
  3. mendukung kerja jarak jauh (jika memungkinkan);
  4. memfasilitasi tunjangan transportasi, seperti car-pooling atau mengganti biaya transportasi karyawan;
  5. menyediakan tunjangan kesehatan mental yang berkelanjutan;
  6. mendukung transisi solusi kesehatan manusia dan digital.

Melalui strategi manfaat, kita dapat membuat perubahan berbasis nilai untuk memenuhi prioritas perusahaan. Dengan cara ini, perusahaan tidak hanya menunjukkan kepada karyawan bahwa perusahaan mendukung kesejahteraan karyawan, tetapi juga menciptakan lingkungan yang memungkinkan mereka untuk berkembang dengan lebih baik.

Artikel ini telah diterbitkan oleh Mercer, dengan judul “Are You Ready to Take A More Meaningful Approach to Employee Health?” pada 6 April 2023. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

AI Ubah Cara Pandang terhadap Risiko

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Manfaat kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terus berkembang pada masa kini. Namun, sensus Oliver Wyman terhadap 33 lembaga keuangan Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) baru-baru ini melaporkan bahwa dua per tiga dari mereka menggunakan AI sekaligus mengkhawatirkan risiko yang terkait. Risiko ini berhubungan dengan risiko operasional yang membutuhkan kemampuan analitis untuk melaksanakan penilaian kinerja model dan keandalan.

Risiko Regulasi

Sejumlah negara atau lembaga telah meningkatkan fokus mereka melalui peraturan AI. Peraturan ini diajukan di UE, Hong Kong, Jepang, Arab Saudi, Singapura, Inggris, dan AS. Undang-Undang (UU) AI UE Tahun 2021, misalnya, mengusulkan denda hingga 6% dari omset global untuk tata kelola yang tidak memadai.

UU ini memperjelas bahwa pengembang, produsen, dan pengguna bertanggung jawab tidak hanya atas kesalahan dalam AI, tetapi juga atas potensi dampak yang ditimbulkan oleh AI. Dengan kata lain, penggunaan AI berarti bahwa tidak ada lagi persyaratan bagi orang yang dirugikan untuk membuktikan adanya tindakan atau kelalaian yang disengaja.

Risiko Etika dan Reputasi

Risiko AI memperburuk kekhawatiran seputar bias. Untuk memantau keadilan, diperlukan beberapa aspek, yaitu metrik khusus, kelompok yang ditargetkan, ambang batas, dan tindakan yang dihasilkan.

Metrik bias dan kemampuan interpretasi sampai batas tertentu harus dipesan lebih dahulu, tetapi tidak berdasarkan keputusan ad hoc satu orang. Penggunaan standar, kebijakan, dan selera risiko yang dipertimbangkan adalah kuncinya.

Risiko Privasi, Teknologi, dan Data

Model-model yang canggih ini meningkatkan masalah privasi dan keamanan. AI telah meningkatkan akses ke data yang tidak terstruktur, seperti gambar, suara, dan teks.

Untuk memenuhi kompleksitas dan ekspektasi yang terus meningkat dalam pemeliharaan data, penelusuran, dan audit; standar organisasi membutuhkan kualitas data, bias, minimalisasi, privasi, dan keamanan yang dimonitor. Ini adalah masalah yang hanya dapat ditangani dengan pendekatan holistik dan proaktif.

Jika kita menyadari kehadiran AI, pada dasarnya kita tidak berbicara tentang risiko baru, melainkan hanya meningkatkan pendekatan untuk menutup kerentanan yang ada. Ada beberapa peningkatan keterampilan yang dibutuhkan sebab AI membawa potensi pendekatan yang lebih akurat dan adil. Meski begitu, ketika terjadi kesalahan, kesalahan tersebut bisa jadi lebih besar dan cepat.

 

Artikel ini telah diterbitkan oleh Oliver Wyman, dengan judul “How AI is Changing The Way We Think About Risk” pada November 2022. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Pembelajaran dari Gelembung Mata Uang Kripto

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Krisis keuangan dalam beberapa dekade terakhir menjadi pendorong di balik gerakan untuk lebih memahami manfaat relatif dari berbagai ukuran risiko. Pentingnya pemahaman mengenai ukuran-ukuran ini ditekankan pada ranah kelas aset baru, seperti mata uang kripto.

Model-model penetapan harga telah gagal karena tidak memasukkan fenomena gelembung harga. Hal ini, pada gilirannya, menambah keparahan penurunan bagi para investor dan manajer risiko yang salah mengukur potensi eksposur yang merugikan terhadap risiko pasar di ranah ini.

Jenis gelembung harga aset yang dipertimbangkan hanya ada dalam model perdagangan berkelanjutan. Dalam istilah ekonomi, arus kas diskonto yang disesuaikan dengan risiko dan nilai likuidasi yang diharapkan pada suatu jangka waktu tertentu tidak sama dengan harga pasar. Artinya, nilai fundamental aset tersebut tidak sama dengan harga pasarnya.

Gelembung semacam itu muncul ketika investor mencoba mendapatkan keuntungan perdagangan jangka pendek melalui perdagangan dalam jangka waktu yang terbatas. Dalam kondisi ini, keberadaan gelembung tersebut dapat diuji tanpa memperkirakan nilai fundamental aset.

Mata uang kripto secara alami cocok untuk bentuk pengujian karena memiliki arus kas dan nilai fundamental yang sesuai dengan nilai likuidasi mata uang. Situasi ini cukup masuk akal dalam kasus mata uang kripto baru, yang terutama digunakan sebagai alat tukar.

Secara teoritis, jika dibeli untuk disimpan dan digunakan sesuai kebutuhan, permintaan transaksi untuk aset-aset ini seharusnya dibatasi oleh penggunaan mata uang lain yang lebih standar. Namun, ekspektasi ini bertentangan dengan pengalaman historis, seperti pada ekspansi pasar mata uang kripto yang belum pernah terjadi selama satu dekade terakhir.

Artikel ini telah diterbitkan oleh PRMIA, dengan judul “Measuring Risk in New Asset Classes” pada Mei 2023. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Dewan Direksi di Era Geopolitik: Ketahanan sebagai Prioritas Utama

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Risiko geopolitik merupakan salah satu dari tiga isu teratas yang diyakini oleh para CEO untuk ditindaklanjuti pada 2023. Bagi manajemen, keharusan menavigasi risiko geopolitik sudah jelas. Namun, bagi dewan, peta jalannya masih belum jelas. Sebenarnya, apa saja peran dewan direksi, relatif terhadap manajemen, dalam membangun dan mengelola perusahaan yang tangguh?

Dalam survei terhadap dewan direksi global, sebagian besar mengatakan bahwa mereka sangat siap untuk menghadapi tantangan yang dekat dengan negara mereka, tetapi tidak siap menghadapi kekuatan berskala lebih besar. Nyatanya, dewan harus segera beradaptasi dengan tatanan global. Mereka membutuhkan perincian yang lebih besar dalam cara memahami, memantau, dan memitigasi risiko geopolitik

Memahami: Keahlian dan Kompetensi

Hal ini dimulai dengan siapa. Dewan yang beragam dengan keahlian dan pengalaman secara aktif terlibat dalam pemecahan masalah. Dewan dapat membentuk tugas komite-komite utama untuk menghadapi risiko geopolitik di berbagai dimensi. Selain itu, dewan dan tim manajemen harus memiliki pembagian tanggung jawab yang jelas dalam hal memimpin pengelolaan risiko geopolitik. Biasanya, dewan direksi berfokus pada penyediaan arah dan strategi yang jelas.

Dengan adanya siapa, pertanyaan selanjutnya adalah informasi apa yang harus diberikan kepada dewan untuk mengedukasi anggota.

Meskipun keragaman pandangan harus dipertahankan, dewan juga harus mempertahankan pendidikan yang selaras dan berkelanjutan. Paparan terhadap beragam perspektif diperlukan untuk menavigasi dunia yang multipolar.

Dalam hal kapan, risiko geopolitik tidak mengikuti kalender kuartalan. Sebaliknya, dewan direksi harus meningkatkan kemampuan untuk mengambil keputusan setidaknya setiap bulan untuk meninjau perkembangan sesuai kebutuhan.

Dimensi yang kurang dihargai dalam meningkatkan kemampuan dewan adalah tempat (di mana). Dewan harus mempertimbangkan pengadaan pertemuan di berbagai pasar, termasuk pasar-pasar utama yang sedang berkembang. Hal ini tidak hanya akan memperdalam pemahaman, tetapi juga memberi sinyal secara eksternal dan internal mengenai komitmen organisasi terhadap suatu pasar.

Terakhir, bagaimana caranya. Faktanya, risiko geopolitik melintasi semua tim, seperti komunikasi, keuangan, dan teknologi.

Memantau: Kerangka Kerja yang Relevan

Meningkatkan pemahaman dewan direksi merupakan hal yang mendasar. Pemahaman tersebut kemudian perlu disalurkan ke dalam pemantauan berkelanjutan melalui kerangka kerja yang memfokuskan pikiran dewan direksi.

Salah satu kerangka kerja tersebut adalah dasbor risiko geopolitik yang meninjau pasar secara berjenjang. Pasar dengan tingkat yang lebih tinggi adalah pasar yang mendorong organisasi menavigasi kepentingan antar negara yang bersaing secara tajam. Pasar tingkat bawah memiliki risiko lokal, seperti ketidakstabilan politik.

Meskipun beberapa pertimbangan dewan direksi terhadap pasar tertentu dapat ditindaklanjuti, dewan direksi juga harus menyisakan ruang untuk ditinjau dan didiskusikan. Hal ini akan memastikan bahwa dewan memberikan manfaat bagi manajemen.

Kerangka kerja lain yang dapat dimanfaatkan oleh dewan adalah kerangka kerja “angsa hitam, badak abu-abu, dan lapisan perak” (black swans, gray rhinos, and silver linings) untuk menilai dan mengelompokkan skenario geopolitik utama. Angsa hitam adalah risiko yang tidak diketahui dengan dampak tinggi, sedangkan badak abu-abu adalah risiko yang dapat diperkirakan dengan dampak tinggi. Di sisi lain, lapisan perak mewakili area peluang di tengah gejolak geopolitik.

Mitigasi: Pengembangan dan Penerapan Kontrol Risiko

Beberapa lembaga menerapkan pengendalian yang mencakup

  1. memastikan tim manajemen membangun ketahanan dalam rantai pasokan,
  2. meninjau kebijakan asuransi,
  3. mengalibrasi ulang struktur perusahaan dan teknologi,
  4. berinvestasi dalam urusan publik dan regulasi, serta
  5. memikirkan cara terbaik untuk melibatkan dan mempertahankan komitmen kolega terhadap perusahaan di tengah kekuatan sentrifugal nasionalisme.

Salah satu kontrol utama adalah dewan memastikan bahwa organisasi telah mendefinisikan dengan jelas aktivitas dan entitasnya di pasar yang sensitif secara geopolitik. Selain itu, dewan dapat menugaskan pengembangan compact tambahan. Pengembangan compact tersebut membantu menciptakan keselarasan dan dukungan internal yang penting dalam mengelola risiko geopolitik. Pada akhirnya, dewan memang memiliki peran kunci dalam melakukan pengawasan untuk meningkatkan kemampuan manajemen.

Artikel ini telah diterbitkan oleh McKinsey & Company, dengan judul “Geopolitical Resilience: The New Board Imperative” pada 8 Agustus 2023. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Transformasi Manajer Aset dengan AI Generatif

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

AI Generatif (Generative AI/GenAI) memiliki potensi untuk mentransformasi industri manajemen aset. Model yang mendasarinya menyerap informasi dalam jumlah besar, kemudian dilatih untuk memahami konteks dan makna. Jika diterapkan dalam skala besar, GenAI siap meningkatkan dan mendisrupsi manajemen aset.

GenAI memiliki potensi dampak yang signifikan, yaitu sebagai berikut.

  1. Peningkatan Efisiensi Operasional

Terdapat potensi peningkatan efisiensi operasi sebesar 10—15% jika AI ditanamkan dalam skala besar. GenAI juga dapat digunakan untuk membantu mempercepat pekerjaan di departemen-departemen seperti pemasaran, keuangan, dan sumber daya manusia (SDM).

  1. Personalisasi dalam Skala Besar

GenAI memungkinkan kemampuan untuk menawarkan apa yang dibutuhkan oleh setiap pelanggan. Di masa depan, GenAI juga dapat membantu tenaga penjual melakukan persiapan pertemuan, mengirim catatan dalam bentuk ringkasan kepada tim manajemen, dan secara rutin mengakses mesin rekomendasi yang kuat.

  1. Peracikan Pengetahuan

Sistem pengetahuan yang didukung oleh GenAI dapat “memahami” maksud dari sebuah pertanyaan. Organisasi-organisasi mulai menggunakan pengetahuan dengan GenAI. Diperkirakan, tren ini akan terus berlanjut.

  1. Akselerator Penelitian

Dalam waktu dekat, asisten peneliti yang diaktifkan GenAI akan membantu perusahaan-perusahaan kecil untuk menyamakan kedudukan dengan menciptakan pasukan analis riset “sintetis” dengan biaya marjinal yang rendah.

  1. Demokratisasi Pengkodean

GenAI dapat meningkatkan pengembangan perangkat lunak, memungkinkan demokratisasi yang lebih besar dalam pengembangan kode, dan mengurangi ketergantungan pada sumber daya luar negeri.

Mulai dari Mana?

Mengingat betapa cepatnya GenAI berkembang, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memahaminya dari dasar, termasuk Dewan, C-level, dan staf. Organisasi yang menginvestasikan waktu lebih awal akan memosisikan diri secara efektif dalam hal penavigasian GenAI.

Secara khusus, organisasi perlu menjawab tiga pertanyaan berikut.

  1. Di mana GenAI akan menjadi sumber keunggulan kompetitif (yang dikelola secara internal)?

Peran tim-tim dalam organisasi perlu ditinjau kembali. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih dalam sejak dini akan membantu membentuk fokus organisasi.

  1. Aplikasi/kasus penggunaan mana yang harus segera dimulai untuk memaksimalkan pembelajaran dan dampak di seluruh organisasi?

GenAI merupakan hal baru bagi hampir semua orang, jadi menemukan kecocokan yang tepat di organisasi akan membutuhkan waktu. Eksperimen pun dirancang untuk menyeimbangkan dampak dan pembelajaran.

  1. Bagaimana cara mengelola keamanan dan kepatuhan sambil menghindari risiko dan jebakan yang dapat merusak bisnis?

Ada beberapa pertanyaan seputar keakuratan konten yang dibuat GenAI, asal-usul data, dan kontrol kualitas. Organisasi perlu memikirkan persyaratan peraturan untuk jenis data tertentu.

GenAI dapat menjadi terobosan positif bagi para manajer aset di saat yang kritis bagi industri ini. Sebagai hal yang mendesak, manajer aset membutuhkan strategi GenAI yang berwawasan ke depan.

Artikel ini telah diterbitkan oleh Boston Consulting Group, dengan judul “How Asset Managers Can Transform with Generative AI” pada 31 Juli 2023. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Revolusi Fintech di India: Menggunakan Analitik dan Teknologi untuk Mengelola Risiko

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

India tengah mengalami revolusi finansial dan digital yang luar biasa. Dari kota-kota besar hingga pelosok desa, transaksi digital kini menjadi hal biasa, bahkan bagi bisnis kecil di daerah terpencil. Semua ini dimungkinkan berkat munculnya ribuan startup yang menjembatani kesenjangan layanan finansial di seluruh negeri, dengan menggunakan model bisnis dan teknologi yang inovatif.

Namun, di balik pertumbuhan pesat ini, terdapat tantangan besar yang harus dihadapi oleh perusahaan fintech. Risiko-risiko ini dapat dibagi menjadi beberapa kategori utama:

Risiko Finansial dan Operasional

Model bisnis disruptif memang membawa banyak inovasi, tetapi juga meningkatkan risiko finansial dan operasional. Risiko kredit, likuiditas, pasar, dan infrastruktur cloud menjadi perhatian utama. Jika tidak dikelola dengan baik, risiko ini dapat mengancam stabilitas finansial perusahaan.

Risiko Regulasi dan Kepatuhan

Dengan pertumbuhan jumlah pelanggan dan volume transaksi, risiko ketidakpatuhan terhadap undang-undang dan peraturan seperti anti pencucian uang dan know-your-customer (KYC) semakin meningkat. Di negara berkembang seperti India, di mana regulasi digital masih dalam tahap evolusi, risiko ini menjadi semakin kompleks.

Risiko Teknologi dan Keamanan Siber

Inovasi teknologi membawa serta kerentanan terhadap pelanggaran data, peretasan, dan kegagalan sistem. Perusahaan fintech harus selalu waspada terhadap ancaman-ancaman ini untuk melindungi data dan sistem mereka.

Risiko Reputasi dan Hukum

Tindakan dari regulator dan badan hukum dapat berdampak besar pada reputasi dan operasional perusahaan. Kerugian reputasi dan risiko hukum akibat tindakan ini bisa sangat merusak.

Risiko Strategis dan Keberlanjutan Bisnis

Kompetisi yang ketat, kejenuhan pasar, dan keusangan teknologi merupakan tantangan besar. Perusahaan harus memiliki strategi yang kuat untuk menghadapi risiko-risiko ini dan memastikan keberlanjutan bisnis mereka.

Pemimpin industri fintech menunjukkan bahwa pertumbuhan yang berkelanjutan dan manajemen risiko yang efektif hanya mungkin dengan pendekatan berbasis data dan teknologi yang proaktif. Berikut adalah beberapa langkah penting dalam manajemen risiko:

Network Graph Analytics (NGA)

NGA sangat efektif dalam mendeteksi koneksi antara entitas untuk mengidentifikasi kelompok yang terlibat dalam aktivitas ilegal. Dengan analisis ini, perusahaan dapat mengidentifikasi node penting dan pola dalam jaringan yang berpotensi berbahaya.

Analisis Data Tidak Terstruktur

Algoritma analisis digunakan untuk mengolah data tidak terstruktur seperti dokumen KYC, audio, teks, dan gambar. Hal ini membantu dalam penilaian risiko dan investigasi penipuan.

Pencegahan Spoofing Perangkat

Dengan menggunakan sistem manajemen perangkat dan keamanan aplikasi, perusahaan dapat mendeteksi dan mencegah spoofing perangkat, yang sering digunakan untuk melakukan penipuan atau akses tidak sah.

Pemantauan Ancaman Secara Real-time

Menggunakan alat seperti SIEM, AI/ML, dan NTA, perusahaan dapat mendeteksi dan merespons ancaman keamanan secara real-time, mencegah kerusakan yang lebih besar.

Di tengah pertumbuhan pesat industri fintech di India, penting bagi perusahaan untuk mengadopsi teknologi modern untuk mengelola risiko dan mencegah penipuan. Dengan analitik data, algoritma machine learning, dan alat inovatif lainnya, perusahaan fintech dapat tetap berada di depan potensi risiko dan memberikan pengalaman yang aman bagi pelanggan mereka. 

Artikel ini telah diterbitkan oleh Alvarez and Marsal, dengan judul “Leveraging Analytics and Technology to Mitigate Risks in The Fintech Industry” pada 21 Februari 2023. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Tingkatkan ESG dalam 5 Langkah

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, and governance/ESG)  kini telah menjadi perhatian sebagian besar perusahaan. Isu-isu terkait ESG juga menjadi prioritas bagi pemerintah dan legislator. Pertemuan World Economic Forum (WEF) juga membahas agenda tersebut di Davos pada Mei 2022 lalu.

Banyak usaha yang berkomitmen untuk terlibat dalam isu-isu ESG. Namun, bagaimana mereka dapat melakukan perbaikan yang berarti (dan terukur) dalam ketiga bidang ESG?

Untuk memberikan pandangan yang jelas, Marsh baru-baru ini meluncurkan alat Pemeringkatan Risiko ESG yang inovatif. Penilaian mandiri yang gratis ini memberikan peringkat kuantitatif terhadap kinerja ESG organisasi berdasarkan 10 standar dan kerangka kerja internasional. Hal ini mencakup aspek yang ditetapkan oleh Global Reporting Initiative (GRI), Sustainability Accounting Standards Board (SASB), Task Force on Climate-related Financial Disclosures (TCFD), dan WEF.

Secara sederhana, beginilah cara kerja alat ini.

  1. Buat garis dasar

Langkah pertama untuk meningkatkan peringkat risiko ESG perusahaan adalah dengan menetapkan dasar yang jelas mengenai kinerja saat ini. Dengan menggunakan jawaban kuesioner komprehensif, alat Marsh menghasilkan kartu skor Peringkat Risiko ESG yang mengukur kredensial perusahaan berdasarkan serangkaian standar internasional dan kerangka kerja lain yang diakui. Kartu skor tersebut mencakup penilaian individu pada 18 tema ESG.

  1. Gunakan daftar risiko untuk memberi informasi kepada pemangku kepentingan

Wawasan kartu skor Peringkat Risiko ESG memungkinkan perusahaan membuat daftar risiko ESG formal. Daftar risiko harus menyoroti risiko-risiko terkait ESG, seperti potensi gangguan di masa depan terhadap rantai pasokan. Daftar risiko menjadi cara formal untuk memberikan informasi dan memberikan saran kepada pimpinan dan kelompok pemangku kepentingan lainnya.

  1. Ukur dan buat model

Langkah selanjutnya adalah menggunakan data kuantitatif untuk memberikan analisis yang lebih mendalam mengenai paparan perusahaan terhadap risiko ESG. Hal ini memerlukan pengukuran dan penentuan prioritas terhadap potensi risiko yang dapat ditimbulkan oleh isu-isu terkait ESG terhadap bisnis dan rantai pasokannya.

  1. Lakukan pelaporan, adaptasi, dan ketahanan

Pelaporan ESG yang teratur dibutuhkan untuk memuaskan pemangku kepentingan internal dan eksternal. Namun, penting untuk digarisbawahi bahwa alat pemeringkatan risiko dari Marsh bukanlah laporan satu kali atau lencana pencapaian yang sederhana. Laporan ini membuat serangkaian rekomendasi ESG yang spesifik, yang memberikan saran untuk meningkatkan pengendalian, pelaporan, dan ketahanan ESG.

  1. Kurangi risiko ESG

Manfaat yang didapat dari pendekatan ini adalah pengurangan biaya pengalihan risiko yang tersisa dan tidak dapat dimitigasi melalui polis asuransi. Namun, dampak positif terbesar dari alat Pemeringkatan Risiko ESG dari Marsh adalah terbantunya perusahaan dalam meningkatkan kinerja (dan peringkat) ESG dari waktu ke waktu.

Secara umum, kartu skor ini dirancang sebagai pendorong tindakan dan cara untuk memulai proses pengukuran ESG yang berkelanjutan di setiap perusahaan.

Artikel ini telah diterbitkan oleh Marsh, dengan judul “5 Ways Risk Managers Can Improve Their Company’s ESG Rating” pada 14 Juli 2022. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Persiapan Perusahaan Asuransi di Inggris Menghadapi Dampak Inflasi Klaim

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Perusahaan asuransi umum di Inggris menghadapi masalah kenaikan biaya klaim yang terjadi karena inflasi. Pada bulan Juni 2023, PRA (Pengatur Prudensial Otoritas) menerbitkan surat kepada Kepala Aktuaris yang memberikan umpan balik tentang tanggapan perusahaan asuransi umum terhadap surat mereka pada Oktober 2022 yang berfokus pada dampak inflasi klaim. Surat tersebut menyoroti ketidakpastian yang muncul dari lingkungan inflasi saat ini.

Inflasi klaim adalah tantangan teknis yang memengaruhi semua perusahaan asuransi umum, meskipun tidak secara seragam. PRA telah mengidentifikasi sejumlah area di dalam pemodelan, manajemen modal, dan tata kelola yang memerlukan pertimbangan lebih lanjut oleh perusahaan. Penting untuk mempertanyakan dengan hati-hati asumsi tentang dampak inflasi klaim terhadap cadangan, modal, pemodelan risiko, penetapan harga, dan perencanaan bisnis.

Langkah pertama adalah mengidentifikasi pendorong inflasi klaim untuk masing-masing perusahaan, yang akan berbeda dari tingkat inflasi umum dan bervariasi menurut geografi dan produk. Perusahaan tidak dapat hanya mengandalkan data historis dan seharusnya menilai teknik pemodelan yang ada untuk menentukan apakah masih dapat diandalkan. Diperlukan pandangan holistik tentang inflasi, menggabungkan klaim, cadangan, pemodelan modal, dan fungsi underwriting/pemaketan serta memasukkan siklus perencanaan bisnis.

Di tengah lingkungan inflasi yang tinggi yang masih berlangsung, diperlukan pandangan konsisten tentang inflasi — baik perkiraan terbaik maupun sejumlah skenario masa depan — untuk menginformasikan keputusan di seluruh bisnis seperti underwriting, cadangan, pemodelan modal, perencanaan bisnis, dan pembelian reasuransi.

Konsistensi dalam penilaian asumsi dan teknik pemodelan akan menjadi kunci, dengan harapan bahwa perusahaan dapat menjelaskan dan membenarkan ketidaksesuaian asumsi yang terjadi. Ini adalah hal yang penting dalam memenuhi harapan pengawasan dari PRA terhadap pendekatan perusahaan terhadap inflasi klaim.

Artikel ini telah diterbitkan oleh KPMG, dengan judul Re-thinking The Impact of Claims Inflation. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Transisi dan Implikasi Material Tanpa Limbah pada Rantai Pasokan Global

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Material merupakan faktor pendukung yang sangat penting dalam transisi menuju nol karbon. Pada praktiknya, teknologi dekarbonisasi membutuhkan lebih banyak bahan fisik jika dibandingkan dengan teknologi konvensional selama fase konstruksi. Sebagai contoh, kendaraan listrik baterai (battery electric vehicles/BEV) memiliki berat 15 hingga 20 persen lebih besar daripada kendaraan mesin pembakaran internal (internal-combustion engine/ICE). Akibatnya, kemampuan rantai pasokan bahan global dapat mengimbangi sumber permintaan yang baru akan menjadi penentu penting tingkat dekarbonisasi global.

Dengan lintasan dekarbonisasi saat ini yang cenderung menuju 2,4°C, pasokan mineral dan logam yang tertanam dalam teknologi rendah karbon utama akan menghadapi kekurangan pada 2030. Sementara itu, beberapa bahan seperti nikel mungkin akan mengalami kekurangan yang tidak terlalu besar, sedangkan disprosium mengalami kekurangan hingga 70 persen dari permintaan. Jika tindakan mitigasi tidak dilakukan, kekurangan tersebut akan menghambat kecepatan dekarbonisasi global serta menyebabkan lonjakan harga dan volatilitas seluruh bahan.

Maka, tindakan yang selaras pada penawaran, permintaan, inovasi, dan kebijakan diperlukan untuk menyeimbangkan persamaan dan menjaga kecepatan transisi. Tindakan-tindakan tersebut terbagi ke dalam beberapa bidang sebagai berikut.

  1. Pasokan

Investasi di bidang pertambangan, pemurnian, dan peleburan perlu ditingkatkan menjadi sekitar 3 hingga 4 triliun dolar Amerika Serikat (AS) pada 2030 (sekitar 300 hingga 400 miliar dolar AS per tahun). Kapasitas tenaga kerja perlu ditingkatkan sebanyak 300.000 hingga 600.000 khusus pertambangan. Sebesar 200 hingga 500 gigawatt energi tambahan rendah karbon perlu beroperasi pada 2030 untuk menggerakkan aset-aset tersebut. Peningkatan skala akan membutuhkan perizinan yang lancar, penyebaran infrastruktur yang tepat waktu, ketersediaan peralatan, dan sumber daya air yang memadai.

  1. Permintaan

Industri hilir perlu mengubah pola permintaan ke arah teknologi yang telah terbukti tidak terlalu intensif dalam penggunaan bahan baku.

  1. Inovasi

Investasi dalam inovasi bahan dan teknologi terobosan harus diperkuat. Di sisi permintaan, hal ini melibatkan eksplorasi opsi substitusi material untuk material yang terbatas dalam jangka panjang. Di sisi penawaran, investor dapat berfokus pada praktik daur ulang yang lebih baik untuk material baru.

  1. Kebijakan

Kebijakan baru dapat memfasilitasi peningkatan pasokan, seperti menyederhanakan perizinan untuk pengembangan aset baru dan memungkinkan pergeseran permintaan ke arah teknologi alternatif.

Meskipun masih ada ketidakpastian tentang bagaimana transisi material akan berjalan, pemerintah dan perusahaan dapat merencanakan tindakan strategis. Sebagai langkah pertama untuk mengurangi risiko dan memanfaatkan peluang besar yang dihadirkan oleh transisi material, pemerintah dan perusahaan perlu mempertahankan atau memperkuat pemahaman tentang perubahan dinamika rantai pasokan material global. Bagi pemerintah, hal ini dapat membantu menyoroti keamanan pasokan dan menjaga daya saing jangka panjang industri lokal. Sementara itu, perusahaan dapat memperoleh wawasan tentang kemungkinan posisi mereka sebagai pemimpin industri pada tahun-tahun mendatang.

Artikel ini telah diterbitkan oleh McKinsey & Company, dengan judul “The Net-Zero Materials Transition: Implications for Global Supply Chains” pada 5 Juli 2023. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |
Go to Top