Artikel

Artikel2021-01-27T19:01:07+07:00

Pendekatan Berbasis Risiko dalam Keamanan Siber: Mengurangi Risiko Gugatan Hukum

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Pandemi dan peraturan General Data Protection Regulation (GDPR) telah meningkatkan risiko litigasi yang disebabkan oleh pelanggaran data dan masalah keamanan siber dalam beberapa tahun terakhir. Serangan siber semakin meningkat dalam jumlah dan kecanggihan seiring dengan meningkatnya ketergantungan bisnis pada teknologi dan kerja jarak jauh menjadi norma. 

Menurut laporan pemerintah Inggris, dua dari lima bisnis di Inggris mengalami serangan siber dalam 12 bulan hingga Maret 2021, dengan biaya rata-rata £13.400 per pelanggaran data untuk perusahaan menengah dan besar.

Jalur litigasi bagi mereka yang mengajukan klaim pelanggaran data melalui pengadilan juga telah berkembang, dengan tindakan kolektif yang mendapatkan momentum di Eropa baru-baru ini. Jumlah tindakan kolektif meningkat sebesar 120 persen antara 2018 dan 2020 seiring dengan munculnya kerangka hukum baru, dengan klaim pelanggaran data terhadap Facebook dan TikTok yang diajukan di Belanda dan terhadap Google dan British Airways di Inggris. Perkembangan ini diperkirakan akan terus berlanjut seiring negara-negara anggota UE mengimplementasikan Direktif Tindakan Perwakilan UE pada akhir 2022.

Sebuah survei terbaru yang dilakukan oleh Alvarez & Marsal dan Legal Business menunjukkan bahwa pengacara perusahaan menyadari perkembangan ini. Faktanya, 85 persen pengacara internal yang diwawancarai mengatakan bahwa pelanggaran data adalah area yang paling mungkin memicu tindakan kolektif atau litigasi kelompok. 

Selain itu, sektor teknologi dan telekomunikasi dianggap sebagai sektor yang paling rentan terhadap klaim semacam itu, diikuti oleh jasa keuangan dan pariwisata. Responden juga mengharapkan pertumbuhan pesat dalam pendanaan litigasi pihak ketiga untuk mendukung peningkatan kasus.

Peningkatan tindakan kolektif yang diperkirakan sangat menonjol mengingat keputusan Mahkamah Agung dalam kasus Lloyd v Google, yang memenangkan perusahaan teknologi tersebut pada November tahun lalu. Kasus penting ini menilai apakah tindakan kelompok perwakilan dapat dilanjutkan terhadap Google atas pelanggaran undang-undang privasi. Meskipun keputusan ini mungkin disambut baik oleh banyak bisnis, itu tidak berarti bahwa pintu untuk tindakan kolektif pelanggaran data telah sepenuhnya tertutup. Faktanya, putusan tersebut mengklarifikasi poin penting tentang tindakan perwakilan dan menunjukkan formulasi klaim lain yang akan berhasil.

Alasan bagi bisnis untuk waspada terhadap risiko litigasi keamanan data mereka adalah skala dan cakupan ancaman yang terus berkembang. Kasus ransomware, khususnya, telah meningkat sejak pandemi, dengan para kriminal memperluas target mereka untuk mencakup perusahaan di sektor-sektor yang beragam seperti manufaktur makanan dan operasi bandara. Di AS, beberapa gugatan tindakan kolektif sudah bermunculan setelah serangan ransomware profil tinggi.

Hubungan dengan pihak ketiga juga memberikan lahan subur bagi serangan siber, dengan peningkatan nyata dalam pelanggaran yang terjadi melalui rantai pasokan perangkat lunak perusahaan. Dan untuk memperburuk keadaan, ada kekhawatiran yang semakin besar tentang potensi dampak keamanan siber akibat konflik di Ukraina.

Meskipun pelanggaran keamanan siber dapat dilihat sebagai hal yang hampir tak terelakkan dalam skenario yang berubah cepat ini, ada langkah-langkah proaktif yang dapat diambil bisnis untuk mengurangi risiko menjadi subjek tindakan kolektif pelanggaran data. Kepatuhan regulasi harus menjadi titik awal bagi setiap bisnis yang ingin meminimalkan ancaman serangan siber dan litigasi kelompok yang mungkin timbul. Namun, memiliki sistem yang sesuai dengan GDPR saja tidak cukup. 

Untuk tetap berada di depan ancaman yang terus berkembang saat ini, perusahaan perlu beralih dari pendekatan formalitas ke pendekatan berbasis risiko di mana investasi dan upaya didefinisikan dan diprioritaskan melalui analisis biaya/manfaat.

Ini berarti melindungi informasi kritis sesuai dengan dampak bisnis – finansial, reputasi, dan kepatuhan – yang mungkin terjadi jika kehilangan kerahasiaan, integritas, atau ketersediaan data konsumen. 

Kerangka kerja berbasis risiko harus mencakup teknologi, proses, dan aspek organisasi yang diperlukan untuk melindungi data pribadi dan mencegahnya jatuh ke tangan yang salah. Jika pelanggaran memang terjadi, pendekatan yang berfokus pada perusahaan ini akan membantu perusahaan merespons dengan cepat, yang sangat penting untuk membatasi kerusakan dan meminimalkan ruang lingkup litigasi kelompok di masa depan. 

Perusahaan harus tetap waspada karena pelanggaran data terus muncul sebagai medan pertempuran baru yang menarik untuk perselisihan. Memasukkan keamanan siber ke dalam manajemen risiko bisnis secara umum adalah cara bagi perusahaan untuk menghadapi tantangan meningkatkan pertahanan siber mereka dan melindungi diri dari klaim tindakan kolektif.

Artikel ini telah diterbitkan oleh Alvarez & Marsal dengan judul As Data Breach Becomes A Battleground for Class Action Litigation, Companies Need to Take A Risk-based Approach to Cybersecurity. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Strategi Dewan Direksi Membangun Kepercayaan dan Integritas dalam Keberlanjutan

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Dalam era yang semakin dipenuhi dengan kekhawatiran akan perubahan iklim dan kerusakan alam, perusahaan menghadapi tekanan yang meningkat dari para pemangku kepentingan untuk bertindak lebih cepat, teliti, dan autentik. Harapan para pemangku kepentingan ini berkembang pesat baik dalam cakupan maupun intensitas, menjadikan tantangan lingkungan sebagai fokus utama untuk membangun kepercayaan mereka.

Risiko yang Mengintai di Balik Keberlanjutan

Dalam upaya memenuhi tuntutan keberlanjutan, perusahaan dihadapkan pada berbagai risiko yang dapat merusak integritas dan kepercayaan, di antaranya:

  1. Komitmen dan Klaim yang Tidak Tercapai atau Tidak Didukung Bukti

Banyak perusahaan membuat janji besar terkait keberlanjutan, namun sering kali gagal dalam pencapaiannya atau tidak memiliki bukti yang mendukung klaim tersebut.

  1. Klaim yang Tidak Berbasis Ilmiah

Beberapa perusahaan bergantung pada kompensasi karbon tanpa dasar ilmiah yang kuat, yang bisa berisiko mengaburkan kenyataan dan mengurangi kepercayaan.

  1. Korupsi dan Penipuan

Investasi dalam iklim dan alam sangat rentan terhadap korupsi dan penipuan, terutama karena pasar ini masih baru muncul dan belum sepenuhnya diawasi.

  1. Kurangnya Pertimbangan terhadap Dampak Sosial dan Komunitas

Tidak jarang perusahaan mengabaikan dampak sosial dan komunitas dalam upaya mereka untuk mencapai tujuan keberlanjutan.

  1. Greenwashing

Komunikasi yang menyesatkan atau mengklaim lebih hijau dari kenyataan sering kali digunakan oleh perusahaan untuk memperbaiki citra mereka tanpa tindakan nyata.

Perusahaan kini semakin terpapar risiko litigasi dan perubahan standar pelaporan. Perubahan legislatif sering kali terlambat, sehingga saat perusahaan mulai menerapkan pelaporan wajib terkait iklim atau alam, kepercayaan komunitas mungkin sudah menurun dan dapat mengakibatkan tindakan hukum. Lebih dari 2.000 kasus litigasi terkait iklim telah diidentifikasi di seluruh dunia, dengan jumlah yang meningkat dua kali lipat sejak 2015.

Peran Krusial Dewan Direksi

Dewan direksi memiliki peran penting dalam membangun dan mempertahankan kepercayaan perusahaan. Mereka harus memahami peran mereka dalam menanamkan integritas melalui empat pilar kepercayaan:

  1. Kemanusiaan: Menunjukkan minat dan rasa ingin tahu yang tulus terhadap kekhawatiran pemangku kepentingan terkait iklim dan alam.
  2. Transparansi: Berdialog secara terbuka tentang tantangan, ketidakpastian, dan kompromi yang diperlukan dalam upaya keberlanjutan.
  3. Kapabilitas: Memastikan bahwa kepemimpinan dan karyawan memiliki keterampilan yang diperlukan untuk memahami dan mengatasi risiko iklim dan alam dengan efektif.
  4. Keandalan: Mempertanggungjawabkan kepemimpinan untuk memenuhi komitmen iklim dan alam secara konsisten dan dapat diandalkan.

Membangun dan mempertahankan kepercayaan yang kuat dapat memberikan nilai yang signifikan bagi bisnis, termasuk meningkatkan loyalitas pelanggan, produktivitas karyawan, penerimaan komunitas, serta memperkuat hubungan dengan investor dan pemasok. Namun, dengan kompleksitas dan taruhannya yang tinggi, kehilangan kepercayaan pemangku kepentingan bisa terjadi dengan mudah. 

Dewan direksi harus terus memantau perubahan harapan pemangku kepentingan dan memastikan integritas dalam komitmen dan klaim perusahaan. Dewan direksi juga perlu mendukung manajemen dalam menanamkan budaya yang selaras dengan tujuan perusahaan dan menerapkan perspektif sistemik saat merespons risiko iklim dan alam.

Dengan pendekatan yang tepat, perusahaan dapat menghadapi tantangan keberlanjutan dan membangun masa depan yang lebih aman dan dapat dipercaya bagi semua pemangku kepentingan.

Artikel ini telah diterbitkan oleh World Economic Forum, dengan judul The Chairperson’s Guide to Climate Integrity Earning and Enhancing Trust through the Sustainability Transition. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

El Niño Telah Tiba: Apa yang Perlu Diketahui oleh Organisasi dan Profesional Risiko

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

El Niño telah tiba dan diperkirakan menjadi faktor risiko cuaca signifikan sepanjang 2023 hingga 2024. Organisasi dan profesional risiko harus bersiap menghadapi badai ekstrem, kekeringan panjang, dan peristiwa meteorologi yang dapat mempengaruhi operasi dan strategi manajemen risiko.

Apa itu El Niño?

El Niño adalah fenomena iklim alami dengan pemanasan luar biasa air permukaan di Samudra Pasifik bagian timur. Ini mempengaruhi suhu laut dan pola cuaca dari Amerika Utara, Amerika Selatan, hingga Australia, dan terjadi setiap dua hingga tujuh tahun.

Risiko yang Ditimbulkan oleh El Niño

El Niño memiliki dampak luas terhadap iklim global, menciptakan anomali iklim yang mempengaruhi pola cuaca di seluruh dunia. Peristiwa El Niño yang kuat dapat menyebabkan peningkatan curah hujan di beberapa wilayah dan kekeringan di wilayah lain, mempengaruhi pasokan air, pertanian, pengolahan makanan, dan industri lainnya. Kondisi ekstrem ini juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan banjir, yang dapat menyebabkan kerusakan besar pada properti dan infrastruktur serta gangguan rantai pasokan.

Cara Mengurangi Risiko El Niño

  1. Memantau Pola Cuaca: Pantau cuaca di wilayah Anda dan seluruh dunia untuk mengantisipasi potensi risiko.
  2. Mengembangkan Rencana Keberlanjutan Bisnis: Buat dan uji rencana untuk berbagai skenario cuaca ekstrem.
  3. Mendiversifikasi Rantai Pasokan: Evaluasi dan pertimbangkan alternatif dalam jaringan rantai pasokan.
  4. Investasi dalam Infrastruktur: Investasi pada infrastruktur yang dapat menahan cuaca ekstrem.
  5. Edukasi dan Dukungan untuk Karyawan: Informasikan risiko El Niño kepada karyawan dan siapkan dukungan bagi yang terdampak.
  6. Memperbarui Program Asuransi dan Proses Klaim: Tinjau dan perbarui perlindungan asuransi serta diskusikan protokol klaim dengan pihak terkait.

Langkah proaktif sekarang dapat membantu organisasi tetap tangguh menghadapi tantangan cuaca yang mungkin timbul.

Artikel ini telah diterbitkan oleh Marsh pada 26 September 2023, dengan judul El Niño Is Here: What Organizations and Risk Professionals Need to Know. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Mengoptimalkan Manfaat Data untuk AI Generatif

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Untuk memanfaatkan potensi AI generatif secara maksimal dan meningkatkan nilai bisnis, para pemimpin data perlu menerapkan beberapa langkah penting. Berikut adalah tujuh langkah strategis yang dapat diambil:

  1. Fokus pada Nilai
    Pahami di mana letak nilai bisnis dan jenis data apa yang diperlukan untuk mencapainya. Tiga pendekatan utama yang bisa diambil adalah:

Taker: Menggunakan layanan yang sudah ada. Fokus pada penyediaan data berkualitas dan memvalidasi hasil yang dihasilkan oleh model AI.

Shaper: Mengakses model dan menyesuaikannya dengan data internal. Evaluasi dan sesuaikan arsitektur data untuk mendukung hasil yang diinginkan.

Maker: Membangun model dasar sendiri. Membutuhkan strategi pelabelan data yang canggih serta investasi yang signifikan.

  1. Bangun Kemampuan Spesifik dalam Arsitektur Data

Penyimpanan Data Tidak Terstruktur: Kembangkan sistem untuk menangani data tidak terstruktur seperti chat, video, dan kode.

Pra-proses Data: Standarisasi penanganan data untuk meningkatkan kinerja AI. Pastikan data siap digunakan dengan menghapus format yang tidak sesuai dan membersihkan data sensitif.

Database Vektor: Gunakan database vektor untuk menyaring dan mengakses informasi yang relevan secara efisien.

Integrasi Large Language Models (LLM): Pilih kerangka kerja yang tepat untuk menghubungkan model AI dengan sistem data yang ada.

Rekayasa Prompt: Strukturkan pertanyaan untuk mengoptimalkan respons dari model AI, berdasarkan konteks data yang ada.

  1. Fokus pada Siklus Hidup Data untuk Menjamin Kualitas

Data Sumber: Tingkatkan kualitas data dengan memperhatikan masalah seperti bias dan memastikan metadata yang baik.

Pra-proses: Konsistensikan data dan pastikan sesuai dengan standar yang ditetapkan. Deteksi dan normalisasi data yang tidak sesuai.

Prompt: Evaluasi dan ukur kualitas prompt yang digunakan.

Output dari LLM: Implementasikan prosedur pemerintahan untuk menilai dan memperbaiki hasil yang dihasilkan model.

  1. Lindungi Data Sensitif dan Siap Menghadapi Regulasi Baru

Risiko Keamanan: Prioritaskan perlindungan terhadap data proprietary dan informasi pribadi.

Akses ke Data Informasi Identifikasi Personal: Atur sistem perlindungan untuk data pribadi dan pastikan data sensitif dihapus sebelum digunakan oleh model.

Regulasi: Pantau peraturan terbaru, seperti GDPR dan AI Act, untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi yang berkembang.

  1. Bangun Talenta Rekayasa Data
    Fokus pada keterampilan yang relevan dengan AI generatif, seperti integrasi data dan pengelolaan model. Pertimbangkan pelatihan khusus untuk meningkatkan produktivitas dan keterampilan teknis.
  2. Manfaatkan Generative AI untuk Mengelola Data
    Gunakan AI generatif untuk mempercepat dan meningkatkan proses di seluruh rantai nilai data. Identifikasi area di mana AI dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas.
  3. Pantau Secara Patuh dan Intervensi dengan Cepat
    Investasikan dalam pengukuran kinerja dan keuangan. Pantau implementasi secara dekat untuk mengidentifikasi dan memperbaiki masalah dengan cepat. Gunakan data untuk membuat keputusan yang cepat dan strategis.

Dengan mengikuti langkah-langkah ini, perusahaan dapat memanfaatkan AI generatif secara efektif dan meningkatkan nilai bisnis mereka melalui pengelolaan data yang strategis dan terencana.

Artikel ini telah diterbitkan oleh McKinsey pada 15 September 2023, dengan judul The Data Dividend: Fueling Generative AI. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Menangani Kepercayaan, Risiko, dan Keamanan dalam Model AI

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Model dan aplikasi kecerdasan buatan (AI) sering dianggap otomatis dapat diandalkan, dipercaya, adil, dan aman, tetapi kenyataannya tidak selalu demikian. Meskipun canggih, model AI memerlukan pengelolaan yang hati-hati. Untuk memastikan AI berfungsi dengan baik, penerapan AI TRiSM—seperangkat solusi untuk secara proaktif mengidentifikasi dan mengurangi risiko terkait AI—merupakan langkah yang penting.

Dengan munculnya Generative AI, banyak organisasi mulai mengeksplorasi teknologi ini melalui proyek pilot. Namun, risiko sering kali baru dipertimbangkan setelah model atau aplikasi AI diterapkan. Program manajemen kepercayaan, risiko, dan keamanan AI (TRiSM) membantu menerapkan tata kelola yang diperlukan sejak awal, memastikan bahwa sistem AI patuh pada standar, adil, andal, dan menjaga privasi data.

Pilar-Pilar Utama AI TRiSM

  1. Penjelasan dan Monitoring Model: Menjamin bahwa model AI dapat dijelaskan dan dipantau secara efektif.
  2. ModelOps: Mengintegrasikan manajemen risiko ke dalam operasi model AI untuk memastikan kepatuhan dan keadilan.
  3. Keamanan Aplikasi AI: Menjamin bahwa aplikasi AI aman dari ancaman.
  4. Privasi: Melindungi data pribadi dan sensitif dari kebocoran.

Mengelola Risiko dalam Model AI

  1. Kesulitan Menjelaskan AI: Menjelaskan cara kerja model AI kepada pengguna dan konsumen tidak selalu mudah. Penting untuk menguraikan cara kerja model, kekuatan dan kelemahan, perilaku yang mungkin, serta potensi bias. Menampilkan dataset dan metode pemilihan data dapat membantu mengidentifikasi potensi bias.
  2. Akses Luas terhadap Alat Generatif AI: Alat seperti ChatGPT membawa risiko baru yang tidak bisa diatasi dengan kontrol konvensional. Risiko ini meningkat pada aplikasi AI generatif yang di-host di cloud.
  3. Risiko Kerahasiaan Data dari Alat Pihak Ketiga: Integrasi model dan alat AI dari penyedia pihak ketiga dapat menambah risiko. Penggunaan data besar dari model pihak ketiga dapat membuka akses ke data rahasia dan menimbulkan konsekuensi regulasi, komersial, dan reputasi.
  4. Kebutuhan Pemantauan Konstan: Model dan aplikasi AI memerlukan pemantauan yang konsisten. Proses manajemen risiko harus diintegrasikan dalam operasi model AI (ModelOps) untuk memastikan kepatuhan, keadilan, dan etika.
  5. Deteksi dan Penghentian Serangan Berbahaya: Serangan jahat terhadap AI bisa menyebabkan kerugian finansial, reputasi, dan data. Penting untuk menerapkan kontrol dan praktik khusus untuk menguji dan meningkatkan ketahanan alur kerja AI.
  6. Regulasi yang Akan Datang: Regulasi seperti Undang-Undang AI dan kerangka regulasi lainnya menetapkan standar untuk mengelola risiko aplikasi AI. Mematuhi regulasi ini akan membantu memastikan kepatuhan dan menghindari masalah hukum di masa depan.

Dengan memahami dan menerapkan AI TRiSM, organisasi dapat mengelola risiko dengan lebih baik dan memanfaatkan potensi AI secara lebih efektif.

Artikel ini telah diterbitkan oleh Gartner pada 5 September 2023, dengan judul Tackling Trust, Risk and Security in AI Models. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Inovasi Industri Asuransi dalam Menghadapi Cuaca Ekstrem

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Frekuensi kejadian cuaca ekstrem yang semakin meningkat memaksa beberapa perusahaan asuransi untuk mengurangi cakupan yang dapat mereka tawarkan. Di Amerika Serikat, negara bagian Florida dan California sering menjadi sorotan media. Namun, dampak cuaca ekstrem ini tidak hanya terbatas pada komunitas pesisir, melainkan juga mencakup badai konvektif berat, hurikan, banjir, dan kebakaran hutan di seluruh dunia.

Tingginya biaya kerugian memaksa perusahaan asuransi untuk menyeimbangkan kebutuhan menjaga modal agar dapat membayar klaim pemegang polis dengan meningkatnya permintaan akan cakupan risiko tersebut. Kesenjangan perlindungan, yaitu perbedaan antara total kerugian ekonomi dan apa yang ditanggung oleh produk asuransi, sering kali mencapai angka yang signifikan.

Berdasarkan laporan Aon 2023 tentang Cuaca, Iklim, dan Bencana, bencana alam menyebabkan kerugian ekonomi global sekitar $313 miliar pada tahun 2022. Namun, kurang dari separuh dari jumlah ini ($132 miliar) yang diasuransikan, menciptakan kesenjangan perlindungan asuransi sebesar 58%. 

Nadine Moore, Direktur Utama BCG, mengungkapkan bahwa kesenjangan perlindungan ini tidak hanya meningkatkan kerentanan dan penderitaan individu, tetapi juga merupakan indikator kunci ketahanan ekonomi dan sosial. Oleh karena itu, mengurangi kesenjangan ini adalah hal yang sangat penting.

Strategi Inovatif untuk Mengatasi Kesenjangan Perlindungan

  1. Pemodelan Risiko Canggih: Industri asuransi memiliki sejarah panjang dalam pemodelan risiko dan bekerja sama dengan regulator untuk menciptakan produk yang adil dan efektif. Dengan kemajuan AI, industri ini dapat berinovasi lebih cepat dalam menciptakan solusi untuk risiko iklim.
  2. Penyebaran Beban: Obligasi bencana dan sekuritas yang terkait dengan asuransi adalah metode untuk memindahkan risiko kepada investor. Pasar ini dapat diperluas untuk mengisi kesenjangan dengan cara baru, mungkin dengan dukungan modal pemerintah. Asuransi parametrik—yang pembayaran klaimnya dipicu oleh parameter yang telah disepakati sebelumnya—adalah contoh lain dalam manajemen risiko yang memungkinkan pembayaran klaim lebih cepat saat bencana terjadi.
  3. Kemitraan Publik-Swasta: Struktur asuransi yang bergantung pada dana publik, seperti Flood Re di Inggris dan program reasuransi terorisme di AS, dapat dievaluasi untuk kemungkinan diperluas ke area lain untuk mendukung kesenjangan cakupan.
  4. Program Dukungan Pemerintah Baru: Di beberapa wilayah, industri perlu menemukan keseimbangan risiko dan imbal hasil yang sesuai. Pemerintah mungkin perlu mempertimbangkan alternatif baru ketika asuransi menjadi semakin mahal. Bencana terbaru merupakan panggilan untuk tindakan bagi perusahaan asuransi untuk bekerja sama dengan pemerintah dalam membangun program baru yang melengkapi produk asuransi yang ada.
  5. Pengurangan Risiko Jangka Panjang: Regulator bangunan dan perencana kota juga memiliki peran penting dalam memastikan standar bangunan baru membatasi kerusakan. Misalnya, desain dan konstruksi atap dapat menjadi mekanisme efektif dalam mengurangi kerusakan akibat angin atau kebakaran. Teknik-teknik ini memerlukan waktu untuk diterapkan dan mungkin memerlukan dukungan pendanaan.

Dengan mengadopsi strategi-strategi ini, industri asuransi dapat beradaptasi dengan tantangan cuaca ekstrem dan memperkecil kesenjangan perlindungan yang ada.

Artikel ini telah diterbitkan oleh BCG pada 10 Oktober 2023, dengan judul How Insurers Can Innovate in Response to Extreme Weather Events. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Mengelola Risiko Pencucian Uang dalam Pembayaran Digital

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Seiring dengan meningkatnya penggunaan pembayaran digital, penyedia layanan pembayaran digital atau Payment Service Providers (PSP) menjadi pemain penting dalam ekosistem keuangan global. Namun, sektor ini masih dianggap sebagai titik lemah dalam menangani risiko sistemik, menjaga anti-pencucian uang atau Anti-Money Laundering (AML), dan memerangi pendanaan terorisme atau Counter Financing of Terrorism (CFT).

PSP digital menghadapi berbagai tantangan. Mereka harus berurusan dengan lanskap regulasi yang lebih terfragmentasi dibandingkan dengan lembaga keuangan tradisional seperti bank. Akibatnya, PSP digital menjadi target yang lebih rentan bagi para kriminal yang mampu memanfaatkan “arbitrase regulasi” (regulatory arbitrage). Tantangan lainnya adalah menangani transaksi volume tinggi dengan waktu putar cepat, mendeteksi “money mules” yang canggih secara digital, dan mengelola risiko pembayaran terkait cryptocurrency.

Dengan meningkatnya pengawasan global, PSP digital perlu memperkuat langkah-langkah AML/CFT mereka. Selain menghadapi risiko finansial dan reputasi, PSP digital juga berisiko “de-risked” oleh bank dan lembaga keuangan lain. Ini berarti bank bisa menghentikan kerja sama dengan PSP yang dianggap tidak mematuhi aturan atau berisiko tinggi.

Tiga Langkah untuk Meningkatkan Keamanan PSP Digital

  1. Pendekatan Monitoring Berbasis Risiko dengan Analitik

PSP digital dapat memanfaatkan analitik canggih, seperti mesin pembelajaran (machine learning), untuk beralih dari pendekatan berbasis aturan ke pendekatan berbasis risiko dalam pemantauan transaksi. Ini akan membantu mengoptimalkan alokasi sumber daya PSP untuk kasus berisiko tinggi sambil meminimalkan volume kasus positif palsu.

  1. Otomatisasi Skala Besar untuk Efisiensi

Volume dan skala operasi digital membuat kontrol manual tradisional kurang efektif. PSP digital perlu mempertimbangkan otomatisasi alur kerja end-to-end dan manajemen kasus, termasuk solusi digital untuk “kenali pelanggan Anda” (Know Your Customer) dan penilaian risiko, serta ekstraksi dan pemrosesan data untuk menggabungkan sumber informasi yang berbeda.

  1. Kontrol yang Terintegrasi dalam Perjalanan Pelanggan

PSP digital harus memasukkan kontrol AML/CFT dalam desain pengalaman pelanggan mereka. Ini termasuk mengatur ulang kontrol untuk mengurangi pelanggan yang pergi dan mempercepat proses, meningkatkan pengumpulan data dengan cara yang lebih efisien, dan menggunakan data eksternal untuk memeriksa informasi pelanggan dengan lebih baik.

Penting untuk memulai peningkatan ini dengan penilaian risiko yang komprehensif. Dengan demikian, PSP digital dapat memahami di mana letak tantangan mereka dan ekspektasi regulasi spesifik yang perlu mereka penuhi.

Artikel ini telah diterbitkan oleh Oliver Wyman, dengan judul Managing Money Laundering Risks in Digital Payments. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Analisis Skenario Terkait Iklim: Mengukur Ketahanan Perusahaan

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Di tengah perubahan iklim yang semakin nyata, perusahaan di seluruh dunia kini dihadapkan pada tantangan baru: bagaimana menilai dan melaporkan ketahanan mereka terhadap risiko iklim. Proses ini tidak hanya penting bagi perusahaan itu sendiri, tetapi juga bagi investor yang ingin memahami dampak jangka panjang dari perubahan iklim terhadap bisnis. Analisis skenario terkait iklim, yang merupakan alat utama dalam proses ini, memainkan peran kunci dalam menggambarkan bagaimana perusahaan dapat bertahan dan berkembang di tengah ketidakpastian iklim.

Analisis skenario terkait iklim adalah pendekatan yang memungkinkan perusahaan dan investor untuk mengeksplorasi kemungkinan dampak dari peristiwa terkait iklim terhadap model bisnis, strategi, dan kinerja keuangan perusahaan. Proses ini bisa sangat kompleks, melibatkan segalanya dari narasi deskriptif hingga model kuantitatif yang mendetail.

Perusahaan sekarang diwajibkan untuk melaporkan ketahanan iklim mereka menggunakan analisis skenario. Pendekatan yang diusulkan oleh International Sustainability Standards Board (ISSB) bertujuan memberikan dukungan praktis kepada perusahaan, memudahkan mereka untuk menyajikan informasi yang sangat dibutuhkan oleh para investor.

Untuk memenuhi persyaratan pelaporan, perusahaan harus menggunakan analisis skenario dalam menilai ketahanan iklim mereka. ISSB membedakan antara analisis skenario—yang melihat potensi dampak dari risiko iklim—dan penilaian ketahanan—yang mengevaluasi implikasi bagi strategi perusahaan dan kapasitasnya untuk merespons.

Jenis analisis yang tepat akan berbeda untuk setiap perusahaan, tergantung pada paparan risiko iklim yang mereka hadapi dan sumber daya yang tersedia. Saat melakukan analisis, perusahaan harus mempertimbangkan semua informasi yang rasional dan mendukung yang ada pada tanggal pelaporan, tanpa biaya atau usaha yang berlebihan. Ini berarti analisis skenario bisa melibatkan deskripsi naratif sederhana atau data kuantitatif yang lebih mendalam, dengan harapan bahwa pengungkapan akan menjadi semakin baik seiring waktu.

Perusahaan juga diminta untuk menjelaskan bagaimana mereka menggunakan analisis skenario untuk mengidentifikasi risiko terkait iklim, yang dapat menciptakan umpan balik yang berguna dalam proses penilaian.

Dampak dari Analisis Skenario

Penting bagi perusahaan untuk memulai proses ini segera, karena analisis skenario untuk penilaian ketahanan iklim adalah proses berulang yang mungkin memerlukan beberapa siklus perencanaan. Setiap siklus bisa berlangsung lebih dari satu tahun. Survei tentang Pelaporan Keberlanjutan menunjukkan bahwa hanya 13 persen dari 250 perusahaan terbesar di dunia yang mencakup pemodelan dampak perubahan iklim dalam laporan mereka.

Perusahaan perlu mengevaluasi informasi yang tersedia dan rasional yang mereka miliki untuk melakukan analisis skenario. Sebagai contoh, perusahaan dengan paparan risiko iklim yang lebih rendah mungkin menggunakan metode analisis yang lebih sederhana dibandingkan dengan perusahaan yang menghadapi risiko signifikan yang dapat mengancam kelayakan model bisnis mereka di masa depan.

Langkah-Langkah untuk Manajemen

  1. Pelajari Panduan: Baca panduan ISSB untuk memahami persyaratan analisis skenario. 
  2. Evaluasi Sumber Daya: Tinjau pengetahuan dan sumber daya yang tersedia di seluruh fungsi perusahaan untuk melakukan analisis skenario dan menilai ketahanan perusahaan.
  3. Inventarisasi Paparan: Catat paparan risiko iklim perusahaan dan definisikan apa yang dimaksud dengan ‘informasi rasional dan mendukung’.
  4. Tentukan Tingkat Analisis: Sesuaikan tingkat analisis skenario dengan kebutuhan perusahaan Anda dan rencanakan bagaimana meningkatkan pengungkapan seiring waktu.
  5. Evaluasi Sistem: Pastikan sistem, proses, dan kontrol yang ada memadai untuk menyajikan pengungkapan yang akurat mengenai penilaian ketahanan perusahaan.

Perusahaan diharapkan untuk menyajikan hasil analisis mereka setiap tahun, meskipun analisis skenario merupakan bagian dari siklus perencanaan multi-tahun.

Artikel ini telah diterbitkan oleh KPMG, dengan judul Using Climate-related Scenario Analysis. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Investasi Berkelanjutan: Mengelola Risiko Keanekaragaman Hayati dalam Portofolio

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Keanekaragaman hayati, yang mencakup berbagai bentuk kehidupan di bumi dan interaksinya, semakin menjadi perhatian utama bagi para investor. Sebelumnya hanya dianggap sebagai isu pinggiran, kini keanekaragaman hayati telah menjadi topik penting dalam strategi keberlanjutan bagi banyak investor institusional.

Mengapa Keanekaragaman Hayati Penting?

Penurunan keanekaragaman hayati membawa berbagai risiko bagi bisnis. Penurunan populasi spesies, deforestasi, dan degradasi habitat alami dapat mempengaruhi pendapatan perusahaan yang bergantung pada ekosistem tersebut. Selain itu, investasi di perusahaan yang berdampak negatif pada alam juga bisa menimbulkan risiko reputasi dan hukum.

Statistik Keanekaragaman Hayati

  • 69%: Rata-rata penurunan populasi spesies sejak 1970 (WWF 2022).
  • 4:1: Ayam melebihi jumlah manusia (FAO 2020).
  • 420 juta hektar: Hutan yang hilang sejak 1990 (FAO 2020).
  • 61%: Institusi keuangan tidak memiliki kebijakan tentang deforestasi (Global Canopy 2023).
  • >50%: Peningkatan kalori tanaman dari 2010 hingga 2050 (WRI 2018).
  • 1/3: Makanan yang terbuang (WFP 2020).

Mengukur risiko yang terkait dengan keanekaragaman hayati lebih sulit dibandingkan dengan perubahan iklim. Banyak metrik yang perlu diukur, seperti tingkat deforestasi, penggunaan air, dan kualitas air.

Konferensi Keanekaragaman Hayati PBB (COP 15) tahun lalu menghasilkan Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global dengan tujuan jangka panjang hingga 2050 dan target 2030. Salah satu targetnya adalah aturan “30 by ‘30”, yang mencakup perlindungan 30% dari planet ini dan pemulihan efektif 30% ekosistem yang terdegradasi pada tahun 2030.

Investor mulai mengadopsi pendekatan yang lebih intens untuk memahami dampak keanekaragaman hayati pada portofolio mereka. Mereka menggunakan panduan seperti Task Force on Nature-Related Financial Disclosures (TNFD) yang menawarkan panduan pelaporan risiko terkait alam.

Untuk mengurangi dampak negatif pada keanekaragaman hayati, beberapa investor menggunakan filter eksklusi. Ada juga strategi dan produk yang muncul yang membantu investor mencapai dampak positif pada keanekaragaman hayati. Misalnya, di pasar yang terdaftar, ada dana khusus yang menggunakan metrik seperti kebijakan penggunaan air dan deforestasi.

Di Australia, fokus pada risiko keanekaragaman hayati telah mendorong munculnya solusi baru. Pasar kredit alam dan pasar keanekaragaman hayati mulai berkembang, membuka peluang dan lapisan pendapatan tambahan bagi bisnis.

Risiko keanekaragaman hayati adalah tantangan kompleks yang tidak bisa diabaikan. Investor harus mulai mempertimbangkan bagaimana portofolio mereka berinteraksi dengan keanekaragaman hayati dan mencari solusi untuk mengurangi dampak negatif serta menciptakan dampak positif.

Artikel ini telah diterbitkan oleh Mercer, dengan judul Biodiversity Risk Evolves on The Investment Landscape. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |

Laporan Risiko AICM 2023: Profesional Kredit Tangguh dalam Masa Gejolak

Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Di tengah gejolak ekonomi yang tak menentu, para profesional kredit tetap menjadi pilar utama yang menjaga stabilitas keuangan organisasi mereka. Mereka memiliki peran krusial dalam mengelola risiko, memastikan pembayaran atas penjualan dan layanan yang diberikan tetap berjalan lancar. Dengan memanfaatkan informasi dan pengalaman unik, mereka mampu memberikan gambaran jelas tentang dampak kondisi ekonomi terhadap pelanggan mereka. Meskipun tingkat penjualan sering menjadi indikator optimis, profesional kredit lebih mengandalkan pemantauan tren dan perilaku nasabah untuk memahami kesehatan finansial pelanggan dengan lebih akurat.

Profesional kredit terus menganalisis tren terkini dan historis untuk memprediksi perkembangan masa depan. Analisis ini memungkinkan mereka untuk membuat keputusan tepat dalam menghadapi tekanan yang meningkat. Hasil survei terhadap hampir 100 anggota AICM (Australian Institute of Credit Management) menunjukkan bahwa meskipun hanya 5% yang melihat penurunan kinerja koleksi, proporsi peningkatan pada tahun 2022 jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2021. Investasi dalam profesional kredit yang berpengalaman dan terlatih terbukti menghasilkan kinerja yang lebih baik, dengan penurunan kinerja yang jauh lebih sedikit.

Survei menunjukkan bahwa meskipun terjadi penurunan kinerja yang minimal, jumlah perusahaan yang mengalami kebangkrutan meningkat sebesar 43% pada tahun 2021, sejalan dengan kenaikan suku bunga. Data dari laporan tahunan Kantor Pajak Australia 2021-2022 menunjukkan peningkatan total utang, terutama utang bisnis, yang terus meningkat selama periode COVID-19. Ini menunjukkan bahwa meskipun kebangkrutan pribadi tetap stabil, kebangkrutan perusahaan meningkat seiring dengan tekanan biaya dan suku bunga.

Anggota AICM tetap optimis terhadap masa depan kinerja penagihan mereka, dengan hanya 34% yang memperkirakan penurunan dan 25% mengharapkan perbaikan. Namun, mereka juga memperkirakan peningkatan tingkat kebangkrutan, dengan 98% anggota memperkirakan tingkat kebangkrutan akan tetap atau meningkat. Tekanan suku bunga dan inflasi menjadi faktor risiko utama, dengan sikap lebih keras dari Kantor Pajak Australia terhadap penegakan hukum juga menjadi perhatian.

Di tengah ketidakpastian ekonomi, para profesional kredit tetap berperan penting dalam menjaga kesehatan finansial organisasi mereka. Meskipun menghadapi berbagai tantangan, mereka memiliki keterampilan dan sumber daya untuk memitigasi risiko dan mencapai hasil yang optimal. 

Seperti yang disampaikan oleh Blair Chapman dari Deloitte Access Economics, “menentukan kondisi ekonomi saat ini sudah cukup sulit, apalagi memperkirakan masa depan.” Namun, dengan pemahaman yang mendalam tentang pelanggan dan kondisi ekonomi, para profesional kredit akan terus menjadi tulang punggung yang menjaga stabilitas keuangan dalam masa-masa sulit.

Artikel ini telah diterbitkan oleh AICM, dengan judul AICM 2023 Risk Report. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.

By |
Go to Top