Eropa di Garis Depan: Mengokohkan Ketahanan Siber Melalui Kolaborasi dan Inovasi
Laporan terbaru menekankan peran penting Eropa dalam memimpin ketahanan siber melalui kolaborasi strategis antara perusahaan asuransi, reasuransi, pialang, dan otoritas publik. Sejak penerapan GDPR pada 2018, permintaan asuransi siber meningkat, terutama karena serangan siber yang semakin kompleks mengancam ekonomi Eropa. Dalam konteks ini, adaptasi bisnis menjadi semakin penting.
Laporan tersebut mengidentifikasi dua tantangan utama: perang dunia maya dan risiko siber sistemik. Untuk menghadapinya, diperlukan pendekatan kolaboratif yang menyeimbangkan risiko dan cakupan asuransi, dengan pertemuan tahunan serta kemitraan publik-swasta sebagai solusi untuk mengelola risiko ini. Dialog berkelanjutan di tingkat Uni Eropa juga dianggap esensial untuk meningkatkan ketahanan siber.
Pendekatan dalam mengelola risiko siber bervariasi antara perusahaan besar dan UKM. Perusahaan besar memiliki lebih banyak sumber daya untuk mengidentifikasi dan mencegah risiko, sementara UKM seringkali kekurangan kesadaran dan sumber daya. Oleh karena itu, inovasi teknologi seperti alat pemindaian dan teknologi pra-pelanggaran sangat penting untuk membantu UKM memperkuat ketahanan siber mereka.
Pentingnya dialog dan kolaborasi antara semua pemangku kepentingan, termasuk penjamin emisi dan manajer risiko, juga ditekankan untuk memperbaiki pemahaman dan inovasi dalam pasar asuransi. Manajemen risiko rantai pasokan digital, penerapan kerangka keamanan seperti “zero trust,” serta mitigasi protokol desktop jauh dan keamanan email menjadi fokus utama untuk mengurangi paparan risiko siber.
Terakhir, dalam menghadapi serangan siber, laporan ini merekomendasikan tindakan cepat seperti isolasi sistem yang terpengaruh, pemberitahuan kepada pemangku kepentingan, dan pelaksanaan rencana respons insiden untuk meminimalisir dampak serta mencegah insiden serupa di masa depan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Ferma dengan judul Cyber Insurance Dialogue – How Europe Can Lead the Way to Cyber Resilience Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Kerapuhan Rantai Pasokan Global dan Pentingnya Pemantauan Risiko Secara Real-Time
Rantai pasokan global saat ini menghadapi tantangan besar dengan terjadinya gangguan di Laut Merah—salah satu rute pelayaran tersibuk dan paling berbahaya di dunia. Gangguan ini tidak hanya sekadar menghambat pergerakan kapal, tetapi juga menjadi tantangan strategis yang mengubah aturan perdagangan global.
Poin-Poin Penting
- Kerentanan Rantai Pasokan Global: Gangguan di Laut Merah menyoroti kerapuhan rantai pasokan global, terutama pada titik-titik penting, yang menyebabkan peningkatan biaya dan tantangan operasional yang lebih besar.
- Dampak Langsung: Dampak jangka pendek termasuk kenaikan harga makanan, gangguan pada sektor ritel akibat waktu pengiriman yang lebih lama, dan peningkatan profitabilitas perusahaan pengiriman.
- Perubahan Jangka Panjang: Potensi perubahan masa depan meliputi adaptasi asuransi maritim, preferensi terhadap angkutan udara untuk barang bernilai tinggi, dan tren nearshoring untuk mengurangi risiko rantai pasokan. Nearshoring adalah strategi bisnis di mana perusahaan memindahkan proses produksi atau operasi bisnisnya ke negara yang lebih dekat secara geografis dengan pasar utamanya, daripada mengalihkannya ke negara yang jauh (offshoring).
- Rekomendasi Strategi Bisnis: Untuk mengatasi gangguan ini, perusahaan harus fokus pada pemantauan rantai pasokan secara real-time, analisis risiko yang komprehensif, dan peningkatan ketahanan rantai pasokan.
Selama ini, rantai pasokan global dianggap sebagai sistem yang andal dan efisien, menghubungkan produsen dan konsumen di seluruh dunia. Namun, krisis di Laut Merah telah mengungkap kerentanannya. Konflik geopolitik yang sedang berlangsung dan ancaman terhadap pengiriman komersial telah memaksa banyak perusahaan pelayaran utama menghentikan perjalanan kapal mereka melalui rute ini dan memilih jalur alternatif yang lebih panjang melalui Tanjung Harapan. Perubahan ini menambah tujuh hingga sepuluh hari pada waktu pengiriman antara Asia dan pasar utama di Barat, yang berdampak signifikan terhadap ekonomi global.
Data dari Shanghai Containerized Freight Index (SCFI) menunjukkan lonjakan tarif pengiriman hingga 179 persen sejak pertengahan Desember, yang menekan perusahaan untuk menyeimbangkan antara menyerap biaya yang lebih tinggi atau meneruskannya kepada pelanggan. Situasi ini menekankan perlunya perusahaan untuk mengevaluasi ulang dan memperkuat strategi manajemen risiko rantai pasokan mereka.
Bergantung pada durasi gangguan, berikut beberapa dampak yang mungkin terjadi:
- Risiko Pasokan Makanan dan Kenaikan Harga: Gangguan di Laut Merah memiliki dampak langsung terhadap pasokan makanan global, terutama produk yang mudah rusak. Waktu transit yang lebih lama meningkatkan risiko pembusukan dan pemborosan, yang berujung pada penurunan ketersediaan produk segar dan kenaikan harga.
- Gangguan Ritel: Sektor ritel sangat rentan terhadap gangguan rantai pasokan. Banyak perusahaan ritel bergantung pada arus barang yang lancar dari pabrikan di Asia. Gangguan ini menyebabkan waktu pengiriman yang lebih lama dan berdampak pada siklus ritel, dari pengisian stok hingga peluncuran produk baru.
- Peningkatan Profitabilitas Perusahaan Pengiriman: Di sisi lain, perusahaan pengiriman justru mengalami peningkatan profitabilitas akibat permintaan yang tinggi dan tarif kontainer yang meningkat drastis. Ini menciptakan ketidakseimbangan dalam rantai pasokan, di mana beberapa sektor dapat mengambil keuntungan dari gangguan sementara yang lain kesulitan beradaptasi.
Jika gangguan di Laut Merah berlanjut, kita dapat melihat beberapa dampak jangka panjang seperti:
- Penyesuaian Asuransi Maritim: Gangguan jangka panjang dapat merombak lanskap risiko pengiriman melalui wilayah berbahaya, memberi peluang bagi perusahaan asuransi untuk menawarkan produk yang lebih spesifik untuk menghadapi risiko tersebut.
- Pergeseran ke Angkutan Udara untuk Barang Premium: Mengingat tantangan maritim yang berkepanjangan, angkutan udara dapat menjadi alternatif yang lebih dapat diandalkan untuk barang-barang bernilai tinggi. Meski biaya lebih tinggi, kecepatan dan keandalan angkutan udara menjadikannya pilihan yang menarik bagi produk dengan margin tinggi.
- Penekanan pada Nearshoring: Gangguan berkelanjutan dapat mempercepat tren nearshoring, yaitu memindahkan bisnis manufaktur atau pemasok ke negara-negara tetangga yang lebih dekat dengan pasar konsumen. Strategi ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada rute pengiriman jarak jauh yang berisiko dan untuk mencapai kontrol yang lebih besar atas manajemen rantai pasokan.
Menentukan Arah Terbaik ke Depan
Untuk menghadapi tantangan ini, perusahaan dapat meningkatkan kemampuan manajemen risiko rantai pasokan dengan langkah-langkah berikut:
- Pemantauan Secara Real-Time: Memanfaatkan teknologi canggih dan alat analitik untuk memantau peristiwa global secara real-time. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk segera mendeteksi gangguan dan merespons secara proaktif.
- Fokus pada Analisis Risiko Rantai Pasokan: Menyusun kerangka kerja analisis risiko yang mencakup seluruh rantai pasokan, dari pemasok utama hingga pemasok tingkat bawah, dan mempertimbangkan berbagai faktor risiko seperti ketegangan geopolitik dan volatilitas ekonomi.
- Membangun Ketahanan Rantai Pasokan: Diversifikasi pemasok dan mitra logistik, eksplorasi moda transportasi alternatif, dan investasi dalam pelatihan dan pengembangan karyawan adalah langkah penting dalam menciptakan rantai pasokan yang lebih tangguh.
Krisis di Laut Merah bukan hanya sekadar tantangan sementara, tetapi juga panggilan bagi para pemimpin bisnis untuk mengadaptasi strategi rantai pasokan mereka agar tetap tangguh dan kompetitif di tengah ketidakpastian global yang terus meningkat. Dengan menerapkan pemantauan real-time, analisis risiko yang mendalam, dan membangun ketahanan, perusahaan dapat menghadapi tantangan hari ini dan siap menghadapi gangguan di masa depan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Kearney pada 26 Januari 2024, dengan judul The Fragility Of Global Supply Chains And The Imperative Of Real-Time Risk Monitoring. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Prediksi Manajemen Risiko 2024: Tren Utama dan Strategi Persiapan
Tahun 2023 menjadi titik penting dalam sejarah layanan keuangan, dengan perubahan yang cepat dan kondisi keuangan yang tidak stabil. Terjadinya kegagalan lima bank besar, termasuk Silicon Valley Bank, menandai krisis terbesar dalam 15 tahun terakhir. Namun, ekonomi menunjukkan ketahanan yang luar biasa di tengah ketidakpastian pasar, perubahan geopolitik, dan tekanan inflasi.
Tren Manajemen Risiko di 2024:
- Tekanan di Sektor Perbankan dan Merger & Akuisisi (M&A): Inflasi tinggi dan suku bunga yang meningkat terus menekan bank. Kegagalan bank akan memicu peningkatan aktivitas M&A sebagai solusi untuk memperkuat industri.
- Kredit Korporat dan Default: Dengan banyaknya utang yang jatuh tempo, bank mungkin akan semakin membatasi likuiditas. Investor akan menarik diri setelah mengalami kerugian, memicu peningkatan default dan restrukturisasi utang.
- Kemajuan Teknologi dan Ekonomi: Peningkatan produktivitas akibat kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi akan membantu menghindari resesi. Namun, beberapa sektor mungkin tetap mengalami kondisi seperti resesi.
- Perubahan dalam (Pengangguran) Ketenagakerjaan: Kemajuan teknologi dan deglobalisasi akan meningkatkan pengangguran struktural, yang awalnya dianggap sementara, tetapi berdampak pada masalah sosial yang lebih luas.
- Tantangan Pemodelan Risiko: Meningkatnya kejadian tak terduga akan mengurangi kinerja model risiko keuangan. Pengelolaan model yang kuat dan pemahaman atas batasan model menjadi lebih penting dari sebelumnya.
Strategi Persiapan:
- Penilaian Risiko Berkala: Selalu lakukan penilaian risiko yang cepat dan rutin.
- Gunakan Berbagai Model: Kombinasi berbagai model dapat membantu pengambilan keputusan yang lebih baik.
- Pahami Batasan Model: Pengelolaan model dan pemahaman asumsi sangat krusial.
- Bersiap untuk Bertindak Cepat: Proses pemodelan ulang harus cepat untuk mengatasi risiko operasional.
- Sederhanakan Proses: Manajemen neraca yang terintegrasi akan meningkatkan efisiensi dalam analisis skenario.
2024 bisa menjadi tahun yang penuh tantangan, tetapi dengan persiapan yang tepat, perusahaan dapat memanfaatkan peluang yang ada di tengah ketidakpastian.
Artikel ini telah diterbitkan oleh GARP pada 26 Januari 2024, dengan judul Risk Management Forecast for 2024: Defining Trends and Ways to Prepare. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Perubahan Prioritas dan Risiko yang Bertahan: Temuan Survei CRO 2024
Laporan “Shifting Priorities, Enduring Risks” oleh Risk Management Association (RMA) dan Oliver Wyman, yang dirilis pada November 2023, mengungkapkan tren dan prioritas utama para Chief Risk Officers (CRO) untuk tahun 2024. Berdasarkan survei yang dilakukan pada musim panas 2023, berikut adalah tujuh temuan kunci:
- Fokus pada Risiko Non-Finansial: Sebagian besar waktu CRO dihabiskan untuk mengelola risiko non-finansial seperti risiko siber (58%) dan penipuan/kejahatan finansial (42%). Meskipun risiko finansial seperti kredit dan likuiditas juga penting, perhatian terhadap risiko ini meningkat, terutama setelah krisis likuiditas awal tahun 2023.
- Peningkatan Prioritas Risiko Finansial: Walaupun risiko non-finansial mendominasi, risiko finansial, terutama risiko treasury dan kredit, semakin mendapatkan perhatian. Sekitar 29% CROs kini memprioritaskan risiko treasury, naik dari 17% tahun lalu.
- Perubahan Prioritas: Beberapa prioritas, seperti risiko iklim, menurun karena krisis perbankan regional mengalihkan fokus. Kini, risiko strategis dan teknologi lebih diutamakan, bersama dengan budaya risiko dan model operasional.
- Risiko Digital dan Teknologi: Kecepatan penyebaran risiko dalam dunia digital menjadi perhatian utama. Sekitar sepertiga responden menyebutnya sebagai risiko utama yang muncul. Hal ini menunjukkan bagaimana teknologi dapat mempercepat penyebaran risiko.
- Peningkatan Kemampuan Manajemen Risiko Treasury: Banyak CRO berencana memperbarui kemampuan manajemen risiko treasury mereka, termasuk analisis skenario dan pemantauan risiko likuiditas. Pembaruan ini penting untuk menghadapi risiko yang semakin besar dan cepat dalam lingkungan yang tidak pasti.
- Peningkatan Pengawasan Regulasi: Pengawasan terhadap institusi finansial semakin ketat, terutama pada risiko likuiditas dan modal. Sekitar 54% responden melaporkan peningkatan temuan pengawasan, dengan fokus pada likuiditas, modal, dan risiko pihak ketiga.
- Anggaran Risiko dan Inovasi Teknologi: Meskipun anggaran untuk manajemen risiko sedikit meningkat, banyak CRO diharapkan melakukan lebih banyak dengan sumber daya yang sama atau bahkan kurang. Penggunaan teknologi baru dan inovasi menjadi penting untuk memenuhi tanggung jawab yang berkembang.
Laporan ini memberikan wawasan penting bagi CRO dalam merencanakan prioritas mereka untuk tahun 2024, menekankan pentingnya pengelolaan risiko yang efektif di tengah ketidakpastian ekonomi dan perubahan regulasi.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Oliver Wyman, dengan judul Shifting Priorities, Enduring Risks: The 2024 RMA and Oliver Wyman CRO Outlook Survey. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Bagaimana CEO Bisa Mengatasi Risiko yang Menggabung dalam Bisnis
Dalam lingkungan bisnis yang kompleks saat ini, perusahaan sering menghadapi risiko yang saling terkait dan sulit diprediksi. Ketika beberapa risiko terjadi bersamaan, dampaknya bisa sangat besar dan mengancam kelangsungan organisasi. Risiko yang menggabung sering kali dianggap tidak terduga, padahal banyak dari risiko ini bisa diantisipasi jika pemimpin perusahaan mengambil pendekatan yang tepat.
Jenis-Jenis Risiko yang Menggabung:
- Risiko Terhubung
Risiko dari berbagai sumber yang tampaknya tidak terkait, tetapi sebenarnya saling berhubungan dalam sistem yang lebih besar. Contoh: Invasi Rusia ke Ukraina meningkatkan biaya bahan baku dan kehilangan pasar internasional. - Risiko Kumulatif
Risiko kecil yang, seiring waktu, dapat menimbulkan guncangan besar. Contoh: Beberapa pos media sosial negatif yang menyebar viral, merusak reputasi organisasi, dan menyebabkan pelanggan pergi. - Risiko Baru
Risiko baru yang muncul dari gabungan beberapa risiko yang sudah ada. Contoh: Pandemi COVID-19 mempercepat teknologi dan permintaan tinggi microchip dari penambang kripto, menyebabkan kekurangan chip global.
Cara Mengatasi Risiko yang Menggabung:
- Memperkuat Tata Kelola Risiko
Pastikan program manajemen risiko mencakup risiko yang menggabung. Tim risiko harus memantau kemungkinan gabungan risiko dan mempertimbangkan bagaimana risiko individual bisa membentuk risiko yang lebih besar. - Memvalidasi Persiapan Tim
Pastikan tim siap menghadapi risiko yang menggabung dengan melakukan “premortem” (teknik analisis risiko yang digunakan untuk mengevaluasi potensi masalah sebelum terjadi) untuk menganalisis skenario krisis besar dan bagaimana cara menanganinya. Pertimbangkan faktor-faktor yang bisa menimbulkan perubahan besar dalam jangka panjang. - Pendekatan Perencanaan Horizon
Gunakan pendekatan perencanaan horizon untuk menangani risiko jangka panjang dengan mempertimbangkan tiga tahap: menjaga bisnis inti, mengembangkan bisnis baru, dan menciptakan inovasi. - Investasi Strategis Besar
Lakukan investasi besar untuk mengubah arah organisasi dan mengatasi risiko jangka panjang. Investasi ini harus mengurangi berbagai ancaman, bukan hanya satu risiko.
Dengan meningkatnya ketegangan geopolitik, perubahan teknologi cepat, dan ancaman jangka panjang lainnya, CEO harus memastikan organisasi memantau interaksi antara berbagai risiko dan siap menghadapi krisis yang mungkin terjadi bersamaan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh McKinsey pada 16 Januari 2024 dengan judul How CEOs Can Mitigate Compounding Risks. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
ESG vs CSR: Panduan Menilai Praktik Bisnis untuk Mendukung SDGs
ESG, singkatan dari Environmental, Social, and Governance, adalah konsep yang berkaitan dengan bagaimana perusahaan mengelola dampak lingkungan, sosial, dan tata kelola mereka. ESG tidak terlepas dari Sustainable Development Goals (SDGs) yang diperkenalkan pada tahun 2015. SDGs bertujuan menciptakan dunia yang lebih baik dan layak huni pada tahun 2030 dengan menyeimbangkan kemajuan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan sosial.
SDGs merupakan pengembangan dari Millennium Development Goals (MDGs) yang dimulai pada tahun 2000 dan fokus pada pengentasan kemiskinan dan kelaparan. SDGs menetapkan 17 tujuan dibandingkan 8 tujuan MDGs, melibatkan semua negara, dan menekankan peran sektor swasta dalam mendukung pencapaian tujuan-tujuan ini.
Walaupun kesadaran akan SDGs semakin meningkat, banyak perusahaan masih ragu tentang manfaat ESG untuk bisnis mereka. Pertanyaannya, apakah fokus pada isu lingkungan dan sosial benar-benar bermanfaat secara finansial?
Secara umum, ESG mengaitkan faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola dalam strategi bisnis untuk menciptakan nilai. Berbagai lembaga memberikan definisi berbeda, tetapi inti pesannya sama. MSCI, misalnya, melihat ESG sebagai bagian dari keputusan investasi yang mempertimbangkan faktor-faktor non-finansial selain aspek keuangan.
International Finance Corporation (IFC) menjelaskan ESG sebagai faktor-faktor yang diperhatikan perusahaan dalam operasional mereka serta oleh investor saat menilai risiko dan peluang. Sustainalytics mendefinisikan ESG sebagai cara perusahaan menangani nilai-nilai dasar yang berlaku di masyarakat, khususnya dalam pasar modal.
ESG sering dibandingkan dengan Corporate Social Responsibility (CSR). Meski keduanya berfokus pada kesejahteraan, ada beberapa perbedaan penting. CSR lebih menekankan pada hubungan perusahaan dengan pihak luar, sementara ESG lebih menguji praktik perusahaan dalam isu-isu lingkungan, sosial, dan tata kelola. CSR sering dikelola secara internal, sedangkan ESG lebih sering didasarkan pada regulasi dan standar internasional.
CSR adalah pandangan internal perusahaan tentang bagaimana mereka ingin berinteraksi dengan lingkungan sekitar, sementara ESG adalah pandangan eksternal tentang bagaimana perusahaan dinilai berdasarkan praktik mereka di tiga area utama: lingkungan, sosial, dan tata kelola.
Artikel ini telah diterbitkan oleh CRMS Indonesia dengan judul Mengenal ESG – Bagian 1: Latar Belakang dan Pengertian ESG. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
AI dan Otomatisasi untuk Keamanan Siber
Dengan meningkatnya ancaman siber, tim keamanan saat ini menghadapi realitas operasional yang baru. Transformasi digital yang dipercepat oleh pandemi telah meningkatkan jumlah pekerja jarak jauh, pengguna cloud, dan penyedia cloud. Semua sistem ini terintegrasi dalam ekosistem mitra yang luas, serta sejumlah perangkat edge yang mengirimkan data Internet of Things (IoT) ke cloud. Semua koneksi ini memperluas permukaan serangan organisasi, yang membuka peluang bagi peretas untuk mengeksploitasi celah keamanan.
Berbagai vektor ancaman baru muncul, dari pemasok yang tidak sengaja membocorkan informasi hingga karyawan yang tidak puas. Peretas menggunakan teknik seperti phishing, pencurian data, penolakan layanan, malware, dan ransomware untuk mengganggu layanan bisnis dan konsumen. Beberapa pelaku ancaman bahkan menggunakan AI musuh untuk melancarkan serangan yang lebih efisien. Biaya serangan siber semakin tinggi, dengan rata-rata biaya pelanggaran data mencapai $4,24 juta pada tahun 2021.
Mengadopsi otomatisasi berbasis AI dapat membantu tim keamanan siber meningkatkan wawasan, produktivitas, dan efisiensi skala. Kenyataan ini memaksa banyak eksekutif untuk menyadari bahwa operasi digital modern mendatangkan nilai tetapi juga menciptakan kerentanan baru. Profesional keamanan siber harus mengadopsi pendekatan yang lebih preventif dan proaktif dalam melindungi operasi bisnis inti mereka.
Untuk mempersiapkan tim mereka agar sukses, mereka perlu menggabungkan berbagai set data dan alat keamanan, sambil mengatasi kekurangan keterampilan di sumber daya keamanan siber mereka. Penelitian kami menunjukkan bahwa organisasi terkemuka sedang mengejar pendekatan maju dalam manajemen ancaman, dengan mengadopsi otomatisasi berbasis AI untuk meningkatkan wawasan, produktivitas, dan efisiensi skala.
AI untuk Keamanan Siber Semakin Populer
Sebagian besar eksekutif, baik secara global maupun di berbagai industri, saat ini mengadopsi atau mempertimbangkan penggunaan AI sebagai alat keamanan. Sekitar 64% responden telah menerapkan AI untuk kemampuan keamanan, sementara 29% masih mengevaluasi penerapannya. Hanya 7% responden yang tidak mempertimbangkan penggunaan AI untuk keamanan siber.
Sebanyak 64% yang saat ini menjalankan, menerapkan, atau mengoptimalkan solusi AI keamanan sebagai “Pengadopsi AI”. Mereka melaporkan bahwa aplikasi AI telah memberikan dampak positif yang signifikan terhadap hasil keamanan mereka. Ini termasuk kemampuan untuk menangani ancaman tingkat 1 dengan lebih efektif, mendeteksi serangan dan ancaman zero-day, serta mengurangi positif palsu dan gangguan yang memerlukan inspeksi analis manusia.
Keuntungan AI: Pengadopsi AI Meningkatkan Kinerja
Pengadopsi AI berhasil memadukan sistem AI dengan kecerdasan manusia untuk memperluas visibilitas mereka di lanskap digital yang berkembang pesat dari aplikasi dan titik akhir. Sekitar 35% menyebut penemuan titik akhir dan manajemen aset sebagai salah satu penggunaan utama AI mereka saat ini, dengan rencana untuk meningkatkan penggunaannya menjadi hampir 50% dalam 3 tahun ke depan.
Menghadapi kekurangan tenaga ahli, organisasi juga beralih ke AI untuk meningkatkan produktivitas sumber daya mereka yang terbebani. AI dan otomatisasi membantu tim mengelola volume dan kecepatan ancaman keamanan yang sangat besar. Sekitar 34% Pengadopsi AI mengatakan deteksi ancaman adalah salah satu penggunaan utama AI mereka saat ini, membantu mereka memperoleh efisiensi dari deteksi anomali secara real-time. Mereka juga menilai deteksi dan respons otomatis serta intelijen ancaman sebagai aplikasi penting, dengan rencana untuk meningkatkan penggunaan AI dalam kemampuan ini dalam 3 tahun ke depan.
Peluang AI dan Otomatisasi
Pengadopsi AI yang berkinerja tinggi menunjukkan potensi AI untuk mengubah operasi pertahanan siber. Penggunaan AI mereka membantu memperkuat keamanan jaringan dengan memantau 95% komunikasi jaringan dan 90% perangkat titik akhir untuk aktivitas dan kerentanannya. Mereka memperkirakan bahwa AI membantu mereka mendeteksi ancaman 30% lebih cepat, serta meningkatkan waktu respons terhadap insiden dan investigasi. Mereka juga mengalami peningkatan pengembalian investasi keamanan sebesar 40%.
Artikel ini telah diterbitkan oleh IBM, dengan judul AI and Automation for Cybersecurity. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Strategi Mengelola Risiko Kredit di Era Penurunan Ekonomi
Resesi global terbaru memberikan dampak yang berbeda di berbagai industri, sektor, dan wilayah. Sektor properti residensial menyusut, sedangkan sektor energi dan kesehatan tetap kuat. Penurunan ekonomi saat ini berbeda dari yang sebelumnya, dan hal ini membuat manajer risiko kredit perlu memantau indikator ekonomi global dan dampaknya dengan lebih rinci.
Di tahun mendatang, risiko kredit akan sangat dipengaruhi oleh faktor politik, seperti hasil pemilu, perkembangan perang di Ukraina, hubungan AS-Tiongkok, kemungkinan terjadinya peristiwa tak terduga, kinerja perusahaan, dan kebijakan moneter.
Para pemberi pinjaman akan menghadapi tekanan yang berbeda tergantung pada jenis portofolio mereka. Untuk mengurangi tekanan ini, mereka perlu lebih fokus pada layanan pinjaman di segmen yang paling terkena dampak penurunan ekonomi. Bagi bank, ini berarti memantau portofolio komersial dan konsumen dengan lebih detail dan bertindak cepat jika ada tanda-tanda masalah.
Bagi perusahaan non-keuangan yang memberikan kredit, seperti piutang dagang, diperlukan penjaminan dan pemantauan yang lebih ketat. Risiko kredit perdagangan menjadi tantangan bagi lembaga keuangan yang memberikan pinjaman berbasis aset atau menjamin sekuritisasi, terutama dengan piutang sebagai jaminan. Oleh karena itu, lembaga-lembaga ini harus membantu pelanggan korporat mereka mengidentifikasi dan mengatasi risiko kredit dalam portofolio piutang mereka.
Selama pandemi, pemberi pinjaman fokus pada memenuhi permintaan yang meningkat karena suku bunga rendah dan tingginya permintaan perumahan. Mereka menambah staf dan berinvestasi dalam proses dan teknologi. Kini, dengan berakhirnya bantuan pemerintah akibat COVID-19, suku bunga meningkat, dan inflasi tinggi, pasar perumahan mendingin dan volume pinjaman turun drastis. Kondisi ini memerlukan pergeseran fokus dari pemberian pinjaman baru ke layanan dan mitigasi kerugian.
Tren Pasca-Pandemi yang Mempengaruhi Layanan Pinjaman
Pergeseran fokus ke layanan dalam rantai nilai pinjaman mengharuskan perusahaan layanan pinjaman mempertimbangkan pengaruh eksternal berikut:
- Kondisi Ekonomi yang Berubah
Berakhirnya penangguhan kredit akibat pandemi bersamaan dengan kenaikan suku bunga untuk mengendalikan inflasi dapat meningkatkan risiko pinjaman bermasalah, keterlambatan pembayaran, dan penyitaan. Pertumbuhan portofolio selama pandemi mungkin diikuti oleh peningkatan risiko dalam penurunan ekonomi. Perusahaan layanan pinjaman mungkin harus menurunkan nilai buku transaksi dan membangun cadangan kerugian, yang mempengaruhi laporan laba rugi mereka.
- Permintaan Pengalaman Pelanggan yang Lebih Baik
Selama pandemi, pemberi pinjaman fokus pada pengalaman pelanggan dalam pemberian pinjaman. Namun, pengalaman layanan sering kali buruk. Sekarang, pelanggan menuntut transparansi, personalisasi, dan transaksi yang mulus. Perusahaan fintech menawarkan platform berbasis cloud yang efisien dan patuh regulasi, menggantikan metode lama.
- Pengawasan Regulasi yang Meningkat
Banyak regulator global kini lebih fokus pada perlakuan adil terhadap peminjam, dengan perhatian pada pengelolaan keluhan, penagihan, penangguhan kredit, dan mitigasi kerugian. Regulator terbaru telah mengeluarkan pedoman yang menyoroti area di mana pengawasan diperketat.
Fungsi manajemen risiko kredit korporat kini fokus pada memperbaiki cara kerja mereka dan menyesuaikan dengan kondisi terkini. Institusi yang memberikan pinjaman dengan jaminan piutang perlu bekerja sama dengan peminjam mereka untuk memastikan piutang dapat ditagih dengan baik. Kerja sama ini penting agar perusahaan dan lembaga keuangan bisa memaksimalkan hasil dan siap menghadapi risiko kredit yang lebih besar di masa depan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh Protiviti, dengan judul Managing Credit Risk in a Differentiated Downturn. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Dampak Konflik Timur Tengah Terhadap Ekonomi
Konflik di Gaza dan Israel menyebabkan penderitaan besar dan berpotensi berdampak luas pada ekonomi Timur Tengah dan Afrika Utara. Ekonomi kawasan ini sudah diprediksi melambat, dari 5,6% pada 2022 menjadi 2% pada 2023. Dampak konflik bergantung pada durasi dan intensitasnya. Meskipun dampak ekonomi terbesar dirasakan oleh Israel dan wilayah Palestina, negara tetangga seperti Mesir, Yordania, dan Lebanon juga merasakan efek negatif, terutama pada sektor pariwisata yang vital.
Harga energi dan pasar keuangan relatif stabil meskipun mengalami fluktuasi awal. Harga minyak sempat naik, tetapi kini kembali ke level sebelum konflik, sementara harga gas alam turun setelah lonjakan awal. Yield obligasi pemerintah meningkat, tetapi dampak keseluruhannya masih terbatas.
Ketidakpastian terkait konflik dapat menurunkan kepercayaan konsumen dan perusahaan, yang berdampak pada pengeluaran dan investasi. Krisis ini juga bisa memperburuk kerentanan ekonomi, terutama bagi negara dengan utang tinggi. Negara-negara rentan seperti Somalia, Sudan, dan Yaman mungkin mengalami penurunan bantuan internasional.
Jika konflik meluas, dampaknya bisa merambat ke negara-negara seperti Irak, Iran, dan Suriah. Produksi minyak dan gas yang terganggu juga bisa memengaruhi pasar global. Meski begitu, negara-negara penghasil minyak di kawasan ini memiliki kapasitas cadangan untuk menanggulangi lonjakan harga.
IMF berencana untuk memperbarui proyeksi ekonomi kawasan dan siap memberikan dukungan melalui kebijakan, bantuan teknis, dan pembiayaan. Negara-negara yang mendapatkan dukungan IMF seperti Mesir, Yordania, dan Maroko dapat memanfaatkan program ini untuk mengatasi dampak krisis. Reformasi struktural yang tepat juga penting untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang dan ketahanan ekonomi.
Artikel ini telah diterbitkan oleh IMF Blog, dengan judul Middle East Conflict Risks Reshaping the Region’s Economies. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.
Pentingnya Pemodelan Risiko bagi Para CEO
Pemodelan risiko dan menghitung risiko bukanlah hal baru bagi para profesional. Namun, sekarang hal ini menjadi semakin penting saat perusahaan mencoba mengantisipasi risiko dan bertindak dengan percaya diri.
Perubahan dalam Manajemen Risiko Saat Ini
Dulu, manajemen risiko dianggap sebagai bagian dari tata kelola yang baik. Namun, dengan tekanan dari regulator dan investor yang semakin besar, serta risiko yang semakin terhubung, manajemen risiko kini menjadi perhatian utama para pemimpin perusahaan. Mereka tidak hanya ingin mengurangi risiko, tetapi juga ingin memanfaatkan risiko untuk meningkatkan keuntungan. Para pemimpin perlu memahami bagaimana strategi mereka terkait isu-isu penting seperti perubahan iklim, keamanan siber, keuangan, dan risiko bisnis lainnya bisa dihitung dan dikelola.
Model Lorenz: Menemukan Keteraturan dalam Ketidakpastian
Model Lorenz adalah cara matematis untuk menggambarkan kekacauan yang menunjukkan ada keteraturan dalam ketidakpastian. Setiap risiko saat ini bisa berdampak besar pada bisnis, tetapi hubungan antara berbagai risiko tersebut yang menyebabkan dampak yang lebih luas.
Tiga Perubahan Penting dalam Pemodelan Risiko
- Strategi dan Manajemen Risiko yang Terhubung: Sekarang, pelanggan dan pemangku kepentingan mengharapkan CEO dan tim pemimpin untuk memahami risiko melalui perhitungan yang jelas, bukan hanya berdasarkan intuisi.
- Data yang Meningkat untuk Menghitung Risiko: Jumlah dan jenis data yang tersedia untuk menghitung risiko sangat banyak. Data dari perangkat seperti sensor IoT membantu memperkaya perhitungan risiko di seluruh rantai nilai.
- Hubungan Antar Risiko yang Mengubah Pemodelan: Keterhubungan risiko mengubah kompleksitas pemodelan. Contohnya, invasi Ukraina menunjukkan bagaimana risiko geopolitik terhubung dengan rantai pasokan, pasar keuangan, serangan siber, dan lainnya.
Contoh Risiko Iklim
Risiko iklim mempengaruhi model bisnis perusahaan dan memiliki dampak berlapis-lapis yang harus dipahami oleh perusahaan. Perusahaan harus melihat seluruh area dampak dalam bisnis dan rantai nilai mereka.
Menghitung Risiko untuk Mendapatkan Wawasan
Pemodelan risiko untuk mendapatkan wawasan dimulai dengan membuat model keuangan yang dapat dipercaya, yang mencerminkan strategi, model bisnis, dan faktor-faktor risiko perusahaan. Ribuan input dari berbagai aspek dianalisis untuk mengukur risiko yang sebenarnya. Contohnya, PwC membantu perusahaan pupuk global untuk menilai dampak risiko perubahan iklim pada operasi mereka, dari analisis skenario risiko fisik hingga risiko pajak karbon.
Peran Pemimpin Perusahaan dalam Pemodelan Risiko
Ada dua area di mana pemimpin perusahaan harus terlibat:
- Budaya: Pemodelan risiko harus dekat dengan pengambilan keputusan. Seluruh tim pemimpin harus memahami perhitungan risiko di area strategis seperti merger dan akuisisi, perubahan iklim, atau perubahan model bisnis.
- Kapabilitas: Investasi dalam keahlian dan kapabilitas baru diperlukan untuk memodelkan risiko secara efektif. Model harus mencerminkan bisnis dan industrinya dengan akurat, membutuhkan sumber daya dengan pengetahuan mendalam tentang industri serta ahli dalam pemodelan.
Para CEO perlu menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang risiko seperti perubahan iklim, keamanan siber, geopolitik, kesehatan, dan lainnya. Dengan cara kuantitatif untuk menilai risiko, para pemimpin dapat membuat keputusan yang lebih baik dan lebih terinformasi. Wawasan dan transparansi yang lebih besar memberdayakan pemimpin dan tim lintas fungsi, memperkuat budaya risiko yang diinginkan, dan membangun kepercayaan dengan pemangku kepentingan.
Artikel ini telah diterbitkan oleh PwC, dengan judul Modelling Risk for C-suite Insight. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.