Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Risiko operasional perbankan justru meningkat ketika tekanan dari regulator mulai melonggar. Kondisi ini membuat peran manajemen risiko semakin krusial di tengah perubahan lingkungan bisnis global yang makin kompleks.

Dalam beberapa tahun terakhir, regulator perbankan terlihat mengurangi fokus pada pemeriksaan detail terkait praktik manajemen risiko. Pengawasan kini lebih diarahkan pada risiko keuangan dan pelanggaran hukum. Namun, perubahan ini bukan berarti risiko operasional ikut menurun. Sebaliknya, risiko operasional menjadi semakin rumit dan berdampak luas pada bisnis perbankan.

Risiko Operasional Perbankan 

Risiko operasional perbankan kini berada di titik penting. Banyak perusahaan mulai mempertanyakan nilai fungsi ini, terutama ketika tekanan regulasi berkurang. Ada kekhawatiran bahwa tim risiko akan dipangkas demi efisiensi. Padahal, keputusan tersebut bisa berbahaya.

Risiko operasional merupakan dasar dari banyak risiko lain, termasuk risiko keuangan dan kepatuhan. Tanpa pengelolaan yang baik, dampaknya bisa menjalar ke berbagai aspek bisnis.

Pelajaran dari krisis keuangan global 2007–2008 menunjukkan bahwa kegagalan operasional bisa memicu krisis besar. Kondisi serupa masih relevan hingga sekarang.

Meski regulasi melonggar, dunia justru menjadi lebih berisiko. Laporan Global Risks 2026 dari World Economic Forum menyoroti berbagai ancaman baru yang sebagian besar bersifat operasional.

Beberapa risiko utama yang kini dihadapi perbankan antara lain:

  • Perubahan iklim yang memicu gangguan operasional akibat bencana alam
  • Kecerdasan buatan (AI) yang membawa risiko baru dalam proses bisnis
  • Serangan siber yang semakin canggih dan sulit dideteksi
  • Penipuan digital, termasuk deepfake yang meniru identitas seseorang
  • Ketergantungan pada pihak ketiga, terutama layanan cloud
  • Geopolitik global yang memengaruhi rantai pasok dan stabilitas pasar

Selain itu, potensi pandemi baru juga masih menjadi ancaman. Bill Gates bahkan memperkirakan peluang pandemi dalam empat tahun ke depan mencapai 10–15 persen. Semua faktor ini membuat risiko operasional perbankan semakin sulit diprediksi.

Meski terlihat sebagai tantangan, kondisi ini sebenarnya membuka peluang. Tim risiko kini memiliki lebih banyak waktu untuk fokus pada strategi, bukan hanya memenuhi tuntutan regulator.

Perusahaan bisa mulai beralih dari sekadar dokumentasi menuju efektivitas nyata. Fokusnya bukan lagi “apakah aturan sudah ada”, tetapi “apakah sistem benar-benar bekerja saat krisis”.

Teknologi seperti AI juga mulai dimanfaatkan untuk:

  • Mengidentifikasi risiko baru lebih cepat
  • Menguji efektivitas kontrol internal
  • Memprediksi potensi kerugian
  • Menyusun skenario krisis

Namun, teknologi tidak bisa berjalan sendiri. Tetap dibutuhkan profesional risiko yang berpengalaman untuk mengambil keputusan.

Di tengah perubahan ini, manajemen risiko harus lebih aktif terlibat dalam pengambilan keputusan bisnis. Peran tersebut mencakup:

  • Menguji risiko dari produk atau layanan baru
  • Mengingatkan manajemen jika ada kelemahan kontrol
  • Menentukan batas risiko yang bisa diterima perusahaan
  • Terlibat dalam perencanaan strategi bisnis

Risiko operasional perbankan tidak berkurang meski tekanan regulator menurun. Justru, kompleksitasnya semakin tinggi dan berdampak luas.

Artikel ini telah diterbitkan oleh PRMIA, dengan judul Managing Operational Risk in the New Regulatory Climate. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.