Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Risiko harga komoditas mulai menekan banyak perusahaan di seluruh dunia. Kenaikan harga bahan baku dan kelangkaan material membuat biaya produksi sulit dikendalikan.

Laporan terbaru dari Aon menyebutkan, risiko harga komoditas menempati posisi keenam dalam daftar risiko global pada 2025. Posisi ini diperkirakan akan naik ke peringkat keempat pada 2028.

Kondisi ini menunjukkan tekanan belum akan mereda dalam waktu dekat.

Risiko Harga Komoditas Dipicu Banyak Faktor

Risiko harga komoditas dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan. Ketegangan geopolitik menjadi salah satu pemicu utama yang mengganggu rantai pasok global.

Selain itu, cuaca ekstrem juga ikut memperparah situasi. Banjir, kekeringan, dan badai membuat produksi bahan baku terganggu.

Kekurangan tenaga kerja di sejumlah sektor ikut memperlambat distribusi. Akibatnya, pasokan tersendat dan harga naik.

Di sisi lain, kebijakan tarif perdagangan membuat biaya impor bahan baku semakin mahal. Dampaknya langsung terasa pada sektor manufaktur dan konstruksi.

Kenaikan risiko harga komoditas tidak hanya terjadi di satu sektor. Industri energi, misalnya, sempat mengalami lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik dan pemangkasan produksi.

Sementara itu, sektor logam dan mineral menghadapi tantangan berbeda. Kelangkaan bahan seperti tembaga dan rare earth membuat biaya produksi energi terbarukan ikut naik.

Di sektor pangan, harga komoditas masih bergerak tidak stabil. Gangguan rantai pasok dan perubahan cuaca membuat pasokan sulit diprediksi.

Kondisi ini membuat banyak perusahaan harus menyesuaikan strategi agar tetap bertahan.

Survei global menunjukkan hampir setengah perusahaan pernah mengalami kerugian akibat risiko ini dalam 12 bulan terakhir. Angkanya mencapai 47 persen.

Meski begitu, sekitar 60 persen perusahaan mengaku sudah memiliki rencana untuk menghadapi risiko tersebut.

Masalahnya, hanya sebagian kecil yang benar-benar menghitung dampak finansialnya secara detail. Artinya, masih banyak perusahaan yang belum siap menghadapi gejolak pasar.

Strategi Menghadapi Risiko Harga Komoditas

Perusahaan mulai mencari cara untuk mengurangi dampak risiko harga komoditas. Salah satu langkah yang banyak dilakukan adalah diversifikasi pemasok.

Dengan tidak bergantung pada satu sumber, risiko gangguan pasokan bisa ditekan.

Selain itu, beberapa perusahaan mulai menggunakan instrumen lindung nilai atau hedging. Cara ini membantu menjaga biaya tetap stabil meski harga pasar berfluktuasi.

Pemanfaatan data dan analisis juga semakin penting. Dengan pemantauan real-time, perusahaan bisa mengambil keputusan lebih cepat saat risiko muncul.

Di sisi lain, solusi asuransi dan transfer risiko mulai dilirik. Meski tidak langsung menutup risiko harga, pendekatan ini bisa mengurangi dampak kerugian lanjutan.

Risiko harga komoditas diperkirakan tetap menjadi tantangan besar dalam beberapa tahun ke depan. Perubahan iklim, konflik global, dan ketidakpastian ekonomi masih akan memengaruhi pasar.

Perusahaan yang mampu beradaptasi lebih cepat punya peluang lebih besar untuk bertahan. Sementara yang lambat merespons berisiko tertinggal di tengah persaingan yang makin ketat.

Situasi ini membuat manajemen risiko tidak lagi jadi pilihan, tetapi kebutuhan utama bagi dunia usaha.

Artikel ini telah diterbitkan oleh AON, dengan judul Commodity Price Risk and Material Scarcity: An Escalating and Complex Risk. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.