Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Risiko AI di perbankan kini menjadi perhatian para pemimpin risiko di industri keuangan. Perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan dan meningkatnya kejahatan siber membuat bank harus mengubah cara mereka mengelola risiko.

Survei ProSight 2026 CRO Outlook menunjukkan, 74% kepala manajemen risiko (CRO) menempatkan risiko siber dan teknologi sebagai lima risiko terbesar. Angka ini menggambarkan tekanan yang terus meningkat di sektor perbankan.

Teknologi baru memang membuka peluang. Namun, di saat yang sama, risiko yang muncul juga semakin kompleks.

Risiko AI di Perbankan Mendorong Lonjakan Penipuan

Salah satu dampak terbesar dari risiko AI di perbankan adalah meningkatnya potensi penipuan. Dalam survei tersebut, kejahatan finansial menjadi risiko terbesar kedua yang dihadapi bank.

Sekitar 32% responden mengaku khawatir AI akan digunakan untuk melakukan penipuan. Teknologi seperti deepfake membuat penipuan semakin sulit dideteksi.

Pelaku kejahatan kini bisa memanfaatkan AI untuk meniru suara atau wajah seseorang. Ini membuka celah baru dalam sistem keamanan bank.

Selain itu, penggunaan agen AI oleh nasabah juga menambah titik rawan baru. Interaksi antara manusia dan mesin menjadi celah yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan.

Di tengah risiko tersebut, bank tetap bergerak cepat mengadopsi AI. Sebanyak 54% bank sudah menggunakan AI dalam operasional mereka.

Bahkan, 48% bank berencana menggunakan AI untuk manajemen risiko dalam dua tahun ke depan.

Penggunaan AI di perbankan mencakup berbagai fungsi. Mulai dari verifikasi nasabah (Know Your Customer), pencegahan pencucian uang, hingga analisis kredit dan kepatuhan regulasi. Namun, langkah ini belum sepenuhnya diimbangi dengan sistem pengawasan yang matang.

Meski adopsi AI meningkat, hanya 12% bank yang merasa memiliki kerangka tata kelola AI yang sangat matang. Banyak bank masih dalam tahap membangun sistem persetujuan dan pengawasan AI. Tujuannya agar penggunaan teknologi ini tetap aman dan terkendali.

Perubahan juga akan semakin besar dengan hadirnya agen AI. Ini adalah sistem AI yang bisa bertindak sendiri tanpa campur tangan manusia. Model ini berpotensi mengubah cara bank berinteraksi dengan nasabah. Namun, risikonya juga lebih sulit dikendalikan.

Untuk menghadapi risiko yang makin kompleks, bank mulai membentuk tim lintas fungsi. Tim ini menggabungkan keahlian di bidang siber, fraud, dan kepatuhan. Fokus utamanya adalah mendeteksi ancaman lebih cepat dan merespons dengan tepat. 

Salah satu langkah yang mulai banyak dilakukan adalah membangun tim khusus untuk mengawasi ancaman dari dalam organisasi atau insider threat. Tim ini menggunakan alat pemantauan dan panduan tindakan untuk mencegah potensi pelanggaran sejak dini.

Risiko AI di perbankan tidak lagi sekadar isu teknologi. Ini sudah menjadi bagian dari strategi bisnis dan pengelolaan risiko.

Artikel ini telah diterbitkan oleh ProSight, dengan judul Cyber Risk and AI Are Reshaping the CRO Agenda. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.