Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Strategi menghadapi tarif impor kini jadi perhatian utama pelaku bisnis global. Kenaikan tarif dan kebijakan perdagangan yang berubah cepat membuat banyak perusahaan kesulitan menjaga keuntungan.

Laporan terbaru dari Oliver Wyman menyebutkan, 89% CEO perusahaan besar melihat tarif sebagai risiko serius bagi bisnis mereka. Angka ini naik tajam dibanding tahun sebelumnya. Dampaknya terasa langsung, mulai dari margin keuntungan yang tertekan hingga pengelolaan stok yang makin rumit.

Perusahaan tidak bisa lagi mengandalkan cara lama. Mereka perlu pendekatan baru yang lebih fleksibel dan cepat beradaptasi.

Strategi Menghadapi Tarif Impor dari Sisi Harga

Penyesuaian harga jadi langkah paling cepat untuk merespons kenaikan tarif. Banyak perusahaan kini langsung menaikkan harga atau menambah biaya tambahan ke pelanggan.

Survei menunjukkan, sekitar 76% produsen dan peritel mempercepat kenaikan harga setelah tarif diberlakukan. Waktu respons kini jauh lebih singkat dibanding sebelumnya.

Namun, menaikkan harga tidak bisa dilakukan sembarangan. Perusahaan perlu mempertimbangkan posisi di pasar dan daya beli pelanggan. Jika salah langkah, konsumen bisa beralih ke pesaing.

Karena itu, strategi harga harus terus diperbarui. Tim penjualan dan pemasaran perlu aktif memantau kondisi pasar dan menyesuaikan harga secara berkala.

Beberapa perusahaan bahkan mulai menciptakan model harga baru. Contohnya seperti sistem langganan atau paket layanan untuk menjaga pelanggan tetap loyal.

Mengatur Stok Agar Arus Kas Tetap Aman

Selain harga, pengelolaan stok juga jadi bagian penting dalam strategi menghadapi tarif impor. Dalam banyak industri, persediaan barang bisa menyerap lebih dari 70% arus kas.

Masalah muncul ketika perusahaan menyimpan terlalu banyak stok. Biayanya tinggi, apalagi saat tarif membuat harga barang naik.

Sebaliknya, jika stok terlalu sedikit, perusahaan bisa kehilangan penjualan karena barang tidak tersedia.

Perusahaan perlu menyeimbangkan keduanya. Mereka harus memastikan stok cukup untuk memenuhi permintaan, tapi tetap efisien dari sisi biaya.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain memperbaiki perencanaan permintaan, mengatur ulang jalur distribusi, dan memantau stok secara real-time.

Salah satu perusahaan kimia bahkan berhasil meningkatkan tingkat pemenuhan pesanan hingga 40% dan menurunkan stok 25% dalam waktu sembilan bulan dengan strategi ini.

Mengubah Strategi Pasokan dari China

Banyak perusahaan selama ini bergantung pada China sebagai pusat produksi. Namun tarif tinggi memaksa mereka mencari alternatif.

Ada tiga pilihan utama. Pertama, memindahkan produksi ke negara lain seperti di Asia Tenggara. Biaya tenaga kerja memang lebih murah, tapi produktivitas sering lebih rendah dan waktu pengiriman lebih lama.

Kedua, bekerja sama dengan pemasok lokal di negara baru. Biayanya bisa lebih murah, tapi kemampuan produksi belum tentu setara.

Ketiga, tetap bertahan di China dengan risiko tarif tinggi yang bisa mencapai 45% hingga 60%.

Melihat kondisi ini, banyak perusahaan mulai menggabungkan beberapa pendekatan sekaligus. Produk dengan volume besar dipindahkan ke luar China, sementara produk yang lebih kompleks tetap diproduksi di sana. Langkah ini dinilai lebih fleksibel dan bisa menekan risiko.

Perubahan kebijakan tarif bisa terjadi kapan saja. Perusahaan yang lambat beradaptasi berisiko kehilangan daya saing. Strategi menghadapi tarif impor perlu dijalankan secara bersamaan dari sisi harga, stok, dan pasokan. Ketiganya saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan.

Dalam jangka pendek, perusahaan bisa mulai dengan penyesuaian harga dan efisiensi stok. Dalam jangka panjang, mereka perlu membangun rantai pasok yang lebih kuat dan fleksibel.

Artikel ini telah diterbitkan oleh Oliver Wyman, dengan judul A Three-Part Framework For Tackling Tariff Uncertainty. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.