Manajemen risiko perbankan kini mengalami perubahan besar seiring tekanan teknologi dan regulasi yang makin kuat. Bank tidak lagi hanya fokus pada risiko kredit, tetapi juga harus menghadapi ancaman siber, perubahan iklim, hingga risiko pihak ketiga.
Laporan terbaru McKinsey menunjukkan, fungsi manajemen risiko di bank global tetap stabil dari sisi jumlah tenaga kerja dan biaya. Namun, di balik stabilitas itu, terjadi pergeseran besar dalam cara bank mengelola risiko.
Perubahan Fokus dalam Manajemen Risiko Perbankan
Selama beberapa tahun terakhir, bank mulai mengalihkan perhatian dari risiko kredit ke risiko operasional dan pasar. Hal ini terlihat dari penurunan tenaga kerja di area risiko kredit, yang sebagian digantikan oleh otomatisasi.
Sebaliknya, tim yang menangani risiko operasional justru meningkat cukup signifikan. Risiko seperti serangan siber, kebocoran data, hingga gangguan sistem kini menjadi perhatian utama.
Selain itu, bank juga mulai memperkuat pengawasan terhadap risiko non-keuangan. Ini termasuk risiko terkait teknologi, kepatuhan, hingga lingkungan dan sosial.
Teknologi dan AI Mulai Mendominasi
Peran teknologi dalam manajemen risiko perbankan semakin besar. Sekitar 70 persen bank sudah mulai menggunakan kecerdasan buatan (AI) dalam berbagai fungsi, seperti penilaian kredit dan deteksi penipuan.
Penggunaan AI membantu bank bekerja lebih cepat dan efisien. Proses yang sebelumnya memakan waktu lama kini bisa dilakukan secara otomatis.
Meski begitu, ada beberapa tantangan yang masih dihadapi. Kualitas data yang buruk, masalah privasi, dan risiko penyalahgunaan menjadi hambatan utama dalam penerapan AI.
Regulator di berbagai negara juga meningkatkan pengawasan terhadap bank. Di Eropa, misalnya, bank harus memenuhi standar yang lebih tinggi dalam pengelolaan risiko iklim dan pelaporan data.
Perubahan Cara Kerja dan Organisasi
Untuk menjawab tantangan ini, banyak bank mulai merombak struktur organisasinya. Mereka membangun pusat layanan bersama dan pusat keunggulan untuk meningkatkan efisiensi.
Beberapa bank juga memindahkan sebagian operasional ke luar negeri untuk menekan biaya. Namun, fungsi yang sensitif seperti hubungan dengan regulator tetap dipertahankan di dalam negeri.
Selain itu, bank mulai mengandalkan otomatisasi dan AI untuk menggantikan pekerjaan rutin. Tenaga kerja manusia kemudian dialihkan ke tugas yang membutuhkan analisis dan pengambilan keputusan.
Ke depan, ukuran tim bukan lagi penentu utama keberhasilan. Produktivitas dan efektivitas menjadi faktor yang lebih penting dalam manajemen risiko perbankan.
Bank yang unggul biasanya memiliki sistem yang lebih sederhana, penggunaan teknologi yang optimal, serta pembagian tugas yang jelas. Mereka juga mampu menggabungkan kekuatan teknologi dengan penilaian manusia. Kombinasi ini dinilai penting untuk menghadapi risiko yang semakin kompleks.
Pada akhirnya, perubahan ini mendorong bank untuk tidak hanya mengelola risiko, tetapi juga membangun ketahanan bisnis. Bank yang mampu beradaptasi lebih cepat akan memiliki posisi yang lebih kuat di tengah persaingan yang ketat.
Artikel ini telah diterbitkan oleh McKinsey, dengan judul Global Risk Productivity Survey: Four Themes Shaping Risk Management. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.